cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
LOKA KREATIVITAS DAN RITEL KERAMIK HIAS SEBAGAI URBAN ACUPUNCTURE DI RAWASARI DENGAN KONSEP THIRD PLACE Ellisa Ellisa; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21706

Abstract

One of the tourism icons of the ornamental ceramics trade in Jakarta, which has existed since the 1970s in the Rawasari area, Cempaka Putih, Central Jakarta, was evicted in 2008 and removed the identity of the Rawasari area and its local economic platform. Now, Rawasari is only known as a mixed business and residential area that has lost its identity and tourism value. This research aims to restore the degradation that occurred in Rawasari, create a continuing identity, and accommodate intermediary spaces to revive the area. The methods used in this research are (a) Issues identification and problems; (b) Site investigation; (c) Zoning design and proposed program; (d) Appropriate use of design concept and its application to the selected site; (e) Formation of mass compositions; (f) The final design product in the form of exterior and interior designs, as well as the details. The research findings obtained as a result of this design indicator are creative workshop buildings and decorative ceramic retail as a small-scale intervention point with the application of urban acupuncture, CMA theory, and the third place concept. Keywords : Ceramics; CMA theory; Rawasari; third place; urban acupuncture Abstrak Salah satu ikon pariwisata perdagangan keramik hias di Jakarta yang telah ada sejak tahun 1970-an di kawasan Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat telah digusur pada tahun 2008 dan menghilangkan identitas kawasan Rawasari serta wadah perekonomian penduduk setempat. Kini, kawasan Rawasari hanya dikenal sebagai kawasan bisnis campuran dan pemukiman yang telah kehilangan ciri khas kawasan dan nilai wisatanya. Tujuan penelitian dilakukan adalah untuk memulihkan degradasi yang terjadi di Rawasari, mewujudkan identitas kawasan yang bekerlanjutan, serta mengakomodasi ruang perantara untuk menghidupkan kawasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah (a) Identifikasi isu dan masalah pada kawasan; (b) Investigasi tapak; (c) Perancangan zoning dan usulan konsep program ruang;  (d) Penggunaan konsep perancangan yang tepat dan penerapannya pada tapak terpilih; (e) Pembentukan gubahan massa; (f) Produk akhir rancangan berupa desain eksterior dan interior, serta detail-detailnya. Temuan penelitian yang didapatkan sebagai hasil dari indikator perancangan ini berupa bangunan loka kreativitas dan ritel keramik hias sebagai sebuah titik intervensi skala kecil dengan penerapan urban acupuncture, teori CMA, dan konsep third place.
SENEN ART HUB: MENGEMBALIKAN CITRA PUSAT HIBURAN DI KAWASAN SENEN Vanesa Marcella; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21707

Abstract

According to Senen’s history, in 1930 Senen is known as a shopping and entertainment center. Back then, there are a group of teenager and artists who like to gather around in Senen and it became the pioneer of the largest art ecosystem in Jakarta. However, now Senen's condition has decreased in the mental (historical) aspect. The image of the entertainment center and arts ecosystem are vanished, as well as the unorganized condition of the area. The purpose of this research is to create  a space for artists' and community center. Senen has a big potential to bring back the memory as an entertainment center. In order to create an art and cultural tourism destination in Senen, art exhibitions and performances are the main attraction in this project. The used methods are a) Identification of problems in the related area; b) Area investigation; c) Site analysis; d) Use of design concepts; e) Zoning and program; f) The concept of mass composition and its formation; g) The final result such as exterior & interior design.The findings of this research are design indicators as an idea to restore the image of the entertainment center in Senen by applying urban acupuncture theory, logic of space, contextual concepts and Betawi culture in building. Keywords: Art; Artist; Degradation; History; Image; Senen Abstrak Dalam sejarah, kawasan Senen pada tahun 1930 menjadi pusat perbelanjaan serta pusat hiburan. Dilatar belakangi oleh kumpulan anak muda dan seniman yang gemar berkumpul di sekitar Senen menjadi cikal bakal ekosistem seni terbesar di Jakarta. Namun, sekarang kondisi Senen mengalami degradasi dalam aspek mental(history). Citra pusat hiburan dan ekosistem seni yang hilang, serta potensi kawasan Senen yang kurang dimanfaatkan. Tujuan penelitian ini adalah menciptakan ruang ekspresi seniman dan wadah masyarakat khususnya remaja untuk mengenalkan potensi kawasan Senen sebagai pusat hiburan dalam menikmati pameran dan pertunjukkan seni terbuka agar mengembalikan citra pusat hiburan di kawasan Senen. Metode perancangan dengan urban acupuncture, logic of space, konsep kontekstual dan kebudayaan Betawi menghasilkan tahapan a)Identifikasi masalah pada kawasan terkait; b) Investigasi kawasan; c)Analisis tapak; d) Penggunaan konsep perancangan; e) Zoning dan program ruang; f) Konsep gubahan massa dan pembentukannya; g) Hasil akhir berupa desain eskterior & interior. Temuan penelitian yang didapatkan sebagai hasil dari perancangan ini sebagai upaya pengembalian citra pusat hiburan di Senen dengan penerapan teori urban acupuncture, logic of space, konsep kontekstual dan kebudayaan Betawi.
MENGHIDUPKAN KEMBALI KAWASAN STASIUN KAMPUNG BANDAN, JAKARTA UTARA DENGAN KONSEP KAWASAN BERORIENTASI TRANSIT Clara Aurellia Djaja; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21708

Abstract

The loss of image, existence, and mobility of Kampung Bandan Station, which has existed since the Dutch era, occurs due to the following: the difficulty of access to achievement; the surrounding environment being surrounded by slums caused by large-scale urbanization, in which these slums are also the cause of disasters such as floods and fires; the condition of the area that is not visible from the road and highways; as well as the vulnerability of criminal cases that can occur due to narrow, quiet, and dark areas. The purpose of this study is to revive the image, existence, and mobility of the Kampung Bandan Station area which was previously degraded to become alive again and have a positive effect on the surrounding environment. This research using the Urban Acupuncture and Deconstruction methods which obtained several research indicators; 1) Everydayness of the area around Kampung Bandan Station; 2) Implementation of Transit Oriented Development (TOD); 3) Building with Deconstruction method; 4) Application of the concept of sustainable design. The results of this project are presented as design indicators by developing a location that can improve the quality of life of the neighborhood while restoring the image, existence, and mobility of the Kampung Bandan Station area. Keywords:  Jakarta; Kampung Bandan Station; Poverty; Slums Abstrak Hilangnya citra, eksistensi, dan mobilitas Stasiun Kampung Bandan yang telah ada sejak zaman Belanda, dikarenakan sulitnya akses pencapaian; lingkungan sekitarnya yang dikelilingi oleh pemukiman kumuh yang disebabkan karena urbanisasi secara besar – besaran yang mana pemukiman kumuh ini juga menjadi penyebab terjadinya bencana seperti banjir dan kebakaran; kondisi kawasan yang tidak terlihat dari jalan raya; serta rawannya kasus kriminalitas yang dapat terjadi akibat area sempit, sepi, dan gelap. Tujuan dari penelitian ini adalah menghidupkan kembali citra, eksistensi, serta mobilitas kawasan Stasiun Kampung Bandan yang sebelumnya mengalami degradasi menjadi hidup kembali dan memberikan efek positif terhadap lingkungan di sekitarnya. Penelitian ini metode perancangan yang digunakan adalah deconstruction dengan beberapa aspek yaitu; 1) Everydayness kawasan sekitar Stasiun Kampung Bandan; 2) Penerapan Transit Oriented Development (TOD); 3) Bangunan dengan metode Deconstruction; 4) Penerapan konsep desain sustainability. Temuan dari proyek ini berupa indikator perancangan dengan diciptakannya sebuah tempat yang dapat mengembalikan citra, eksistensi, dan mobilitas di kawasan Stasiun Kampung Bandan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya.
PENATAAN KEMBALI PASAR BARANG ANTIK DI JALAN SURABAYA MELALUI PENDEKATAN SHOPPING BEHAVIOR GENERASI MILENIAL Lisa Natalia; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21709

Abstract

On Jalan Surabaya, there are rows of stalls which are the center of famous antiques since 1960. The prestige of this market is quite respected because it has managed to penetrate the tourists, officials, celebrities or foreign and domestic coverage. As a result, the regional income was quite high. However, since the bombings that occurred in 2003 to 2016 in Jakarta, the number of these groups has decreased. Plus, the style of goods is getting more modern and shopping trends are starting to develop online, which makes the current generation, namely the millennial generation, more accustomed to things that are modern and in accordance with today's times. Antique enthusiasts have become few, as well as the continuity of the market's memory which is fading. This degradation is not the first. In the past, this market was more shabby, but was immediately brought under control by Governor Ali Sadikin. Thanks to this, the prestige of the market and Jalan Surabaya became famous through word of mouth promotion. This strategy that the author is trying to borrow is to revive the antiques market, by using a design approach based on millennial shopping behavior, so that the current antique market gets the focus of new visitors. Not only that, the everydayness design method also enhances the design. By adhering to local regulations, Menteng's visions and missions and the everyday culture of Jalan Surabaya, making the antiques market a better market, recreational facility and gathering space for the public, especially the millennial generation, in an effort to provide urban acupuncture. Keywords: Antiques; Menteng; Millennials; Urban Acupuncture Abstrak Di Jalan Surabaya, terdapat deretan kios yang merupakan pusat barang antik yang terkenal sejak 1960. Pamor pasar ini cukup disegani karena berhasil menembus kalangan turis, pejabat, selebriti ataupun liputan luar dan dalam negeri. Dengan demikian, pemasukan dana daerah saat itu cukup meningkat. Namun, sejak pengeboman yang terjadi pada 2003 hingga 2016 di Jakarta, kalangan tersebut menurun kedatangannya. Ditambah juga, gaya barang semakin modern dan tren belanja mulai berkembang secara online, yang membuat generasi saat ini yaitu generasi milenial, lebih terbiasa dengan hal yang bersifat modern dan sesuai dengan zaman sekarang. Peminat barang antik menjadi sedikit, begitu juga dengan keberlangsungan memori pasar yang semkain memudar. Degradasi ini bukan yang pertama. Dulunya pasar ini pernah lebih kumuh, namun segera ditertibkan oleh Gubernur Ali Sadikin. Berkat hal itu, pamor pasar dan Jalan Surabaya menjadi terkenal lewat promosi mulut ke mulut. Strategi ini yang coba penulis pinjam guna meramaikan kembali pasar barang antik, dengan cara menggunakan pendekatan desain berbasis perilaku belanja milenial, supaya pasar antik yang sekarang mendapat fokus kalangan pengunjung yang baru. Tidak hanya itu, metode desain keseharian juga turut menyempurkan rancangan. Dengan mengikuti batasan peraturan setempat, visi-misi Menteng dan budaya sehari-hari Jalan Surabaya, membuat pasar barang antik menjadi pasar, sarana rekreasi dan ruang berkumpul yang lebih baik bagi publik, terutama generasi milenial, dalam upaya memberi penyembuhan urban akupunktur.
REDESAIN PASAR MODERN SANTA MENJADI PASAR BERKELANJUTAN YANG INKLUSIF DI PETOGOGAN, JAKARTA SELATAN Michelle Britney Chen; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21710

Abstract

The digital transformation experience happened to Santa Modern Market, it is a block Q neighborhood market in Petogogan, Kebayoran Baru, South Jakarta has degraded since 2016, marked by the closure of several kiosks by business actors due to the decreasing number of visitors. The cause of degradation is defined in several aspects, namely; 1. Social Aspect (FOMO, digital transformation, social talk), 2. Memory aspect (Loss of inclusiveness for the elderly), 3. Physical aspect (entrance placement and circulation to chaotic sites), 4. Systematic Aspect (Indication of gentrification). The purpose of re-designing Santa Modern Market is to maintain the identity of Santa Modern Market as a local market in the Q block area, conducting new activity programs along with its program spaces to support the development of digitalization and market sustainability, as well as facilities that can attract the attention of newcomers outside the local market and maintain inclusiveness for all beings so the results of the design execution can restore the glory of Santa Modern Market as an inclusively sustainable Mixed Commercial Space by using the Pragmatic Perspective Method to overcome the degradation phenomenon of Pasar Santa. Keywords:  Digital Transformation; Inclusive; Mixed Commercial Space; Santa Modern Market; Sustainable Abstrak Pengalaman transformasi digital dialami oleh Pasar Modern Santa yang merupakan Pasar lingkungan blok Q di Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mengalami degradasi sejak tahun 2016, ditandai penutupan sejumlah kios oleh pelaku usaha karena pengunjung yang terus berkurang. Penyebab degradasi diuraikan menjadi beberapa aspek, yaitu ; 1. Aspek Sosial (FOMO, transformasi digital, latah sosial), 2. Aspek Memori (Kehilangan inklusifitas bagi kaum lansia), 3. Aspek Fisik (Penataan entrance masuk dan sirkulasi menuju tapak semrawut), 4. Aspek Sistematik (Indikasi Gentrifikasi). Tujuan mendesain kembali Pasar Modern Santa adalah mempertahankan identitas Pasar Modern Santa sebagai pasar lingkungan blok Q, penambahan fungsi program ruang aktivitas yang mendukung perkembangan digitalisasi dan keberlanjutan pasar, serta fasilitas yang mampu menarik perhatian pendatang di luar lingkungan pasar dan inklusif terhadap seluruh kalangan. Sehingga dapat mengembalikan Kembali kejayaan Pasar Modern Santa sebagai Mixed Commercial Space berkelanjutan yang inklusif. Menggunakan Metode Perspektif Pragmatik dalam mengatasi fenomena degradasi Pasar Santa.
STRATEGI PROGRAM PASAR GEMBRONG JATINEGARA SEBAGAI PUSAT PERBELANJAAN MAINAN DAN WADAH KOMUNITAS SENIMAN JABODETABEK Desyanti Batami; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21711

Abstract

Pasar Gembrong Jatinegara has been established since 1960 and has only been known as a cheap toy shopping center since the 1998 riots. The location of Pasar Gembrong Jatinegara was moved due to the becakayu toll construction project. This development requires the Pasar Gembrong Jatinegara and several residents' houses to be evicted. As a result of this eviction, many traders have switched professions. This has caused the loss of the name Pasar Gembrong Jatinegara as a cheap toy shopping center in Jakarta. The government has tried to restore the bustle of the Pasar Gembrong Jatinegara in a new place, but to no avail. Therefore, this journal was created to provide a program strategy for Pasar Gembrong Jatinegara in order to develop its activity program to be more varied and interesting for all ages and to change the facade of the building to be more modern but still simple by using the indirect borrowing design method in the book Peta Metode Desain by Agustinus Sutanto. Produce a series of complex programs that will be applied to the Pasar Gembrong Jatinegara building. Keywords:  Jatinegara; Toys; Pasar Gembrong Jatinegara; Evictions; Becakayu Toll Road Abstrak Pasar Gembrong Jatinegara telah berdiri sejak 1960 dan baru dikenal sebagai pusat perbelanjaan mainan murah sejak kerusuhan tahun 1998. Lokasi Pasar Gembrong Jatinegara dipindahkan karena adanya proyek pembangunan tol becakayu. pembangunan ini mengharuskan Pasar Gembrong Jatinegara dan beberapa rumah warga untuk digusur. Akibat penggusuran ini banyak pedagang yang beralih profesi. Hal ini menyebabkan hilangnya nama Pasar Gembrong Jatinegara sebagai pusat perbelanjaan mainan murah di Jakarta. Pemerintah telah berupaya untuk mengembalikan keramaian pasar gembrong di tempat baru, namun tak kunjung membuahkan hasil. Oleh sebab itu, jurnal ini dibuat untuk memberikan strategi program untuk Pasar Gembrong Jatinegara agar mengembangkan program aktivitasnya menjadi lebih bervariasi dan menarik untuk seluruh kalangan usia dan mengubah fasade bangunan menjadi lebih modern tetapi tetap sederhana dengan menggunakan metode perancangan indirect borrowing pada buku Peta Metode Desain karya Agustinus Sutanto. Menghasilkan sebuah rangkaian program kompleks yang akan diterapkan pada bangunan Pasar Gembrong Jatinegara.
RE-IMAGINE PRINSEN PARK: MENGEMBALIKAN MEMORI MELALUI RUANG SENI PERTUNJUKAN Callista Chrysilla; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21712

Abstract

Basically, entertainment is needed by humans to maintain their lives and everyone has their own way of getting entertainment, such as visiting entertainment places. However, with the growth of today's entertainment venues, such as malls and cafes, the once famous entertainment place have now become forgotten. One of them is Prinsen Park, or what is now known as Lokasari. Prinsen Park is an amusement park that was popular around 1900-1985, but is now experiencing a shift in function and memory into a shopping area known as the Taman Hiburan Rakyat Lokasari (THR Lokasari). THR Lokasari is also known of its nightlife and a negative image, so it is in stark contrast to the image of Prinsen Park, which used to be an entertainment place and a famous performing arts venue. In order to eliminate the negative image of THR Lokasari and restore its collective memory, THR Lokasari is redesigned through urban acupuncture while finding traces of the past. With programs that provide education about the history of Prinsen Park along with the arts at that time, people can reminisce about the past or gain new knowledge. In addition, this project can also meet the need for a third space in the area that uses performing arts and the circus as a medium for socializing. All in all, this project is expected to be able to restore a fading memory and bring back Lokasari’s positive image. Keywords:  Lokasari; Memory; Performing Arts; Prinsen Park; Urban Acupuncture Abstrak Pada dasarnya, hiburan sangat diperlukan manusia demi mempertahankan kehidupannya dan setiap orang pun memiliki caranya sendiri untuk mendapatkan hiburan, salah satunya adalah mengunjungi tempat hiburan. Namun dengan pertumbuhan tempat hiburan sekarang, seperti mal dan juga kafe-kafe, tempat hiburan yang dulunya terkenal, kini menjadi terlupakan. Salah satunya adalah Prinsen Park, atau yang sekarang disebut sebagai Lokasari. Prinsen Park merupakan taman hiburan yang populer pada sekitar tahun 1900-1985, namun kini mengalami pergeseran fungsi dan memori menjadi kawasan perbelanjaan yang disebut sebagai Taman Hiburan Rakyat Lokasari (THR Lokasari). THR Lokasari juga identik dengan hiburan malam dan citra negatif, sehingga sangatlah bertolak belakang dengan citra Prinsen Park, yang dulunya merupakan taman hiburan dan tempat seni pertunjukkan yang tenar. Demi menghilangkan citra negatif dari THR Lokasari dan mengembalikan memori kolektifnya, maka THR Lokasari dirancang ulang dengan urban acupuncture, serta menggali jejak-jejak yang lampau. Dengan program-program yang memberikan edukasi mengenai sejarah Prinsen Park beserta dengan kesenian pada masa itu, masyarakat dapat bernostalgia terhadap masa lalu ataupun menambah pengetahuan baru. Selain itu, proyek ini juga dapat memenuhi kebutuhan akan ruang ketiga di kawasan yang menggunakan seni pertunjukkan dan sirkus sebagai media untuk bersosialisasi.
SENEN SHOPPERTAINTMENT: PENGEMBALIAN IDENTITAS DAN POPULARITAS SENEN SEBAGAI PUSAT PERDAGANGAN JAKARTA Christabelle Graciella Irene; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21713

Abstract

Senen has been degraded as a trading center, where Senen in the 80s was a trading center in Jakarta which was very developed, crowded, famous, and a destination for many people to shop for because of the completeness and diversity of its merchandise now decreased in popularity, became a slum area and lost its identity. Seeing these issues, the desain project aims to restore the identity and popularity of Senen as a trading center in Jakarta by using urban acupuncture and datascape, where the desain is planned through scientific data and research related to Senen, and current trends/phenomena by creating Senen Shoppertaintment, which is a combination of entertainment and shopping based on the current trade trend, namely live shopping, where digitally Senen, shops, and products can be marketed and sold, which is useful for attracting visitors to come to Senen with something new and interesting and liven back Senen as Jakarta's trading center. Keywords:  Senen; Shoppertaintment; Trading Center;  Urban Acupuncture Abstrak Kawasan Senen mengalami degradasi sebagai pusat perdagangan, dimana Senen pada tahun 80-an pernah menjadi pusat perdagangan di Jakarta yang sangat maju, ramai, terkenal dan dituju banyak orang untuk berbelanja karena kelengkapan dan keberagaman barang dagangannya. Namun demikian, saat ini kawasan Pasar Senen mengalami penurunan popularitas dan menjadi kawasan yang kumuh serta kehilangan identitasnya. Melihat isu tersebut, proyek perancangan bertujuan untuk mengembalikan identitas dan popularitas Senen sebagai pusat perdagangan Jakarta dengan menggunakan urban acupuncture dan datascape, dimana perancangan direncanakan melalui data dan penelitian ilmiah terkait kawasan Senen, dan tren/ fenomena saat ini dengan membuat sebuah proyek Senen Shoppertaintment yang merupakan gabungan antara hiburan dan shopping ditinjau dari tren dagang saat ini yaitu live shopping, dimana secara digital Senen, toko, dan produk bisa dipasarkan dan dijual, yang berguna untuk menarik pengunjung untuk datang ke Senen dengan sesuatu yang baru dan menarik serta menghidupkan kawasan Senen sebagai pusat perdagangan Jakarta kembali.
SENEN HALL: REVITALISASI GEDUNG GRAND THEATRE SENEN Robin Surya Pratama; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21714

Abstract

Grand Theater Senen (GTS) is one of the first cinemas in Jakarta. Now the cinema is no longer tied to a single building, which reduces the relevance of a theater building and causes degradation in the use of this building. The misuse of the building as a blue film screening venue, prostitution and drug sales were the reasons for its closure in 2017. It is located at Simpang Lima Senen, one of the busiest crossroads in Jakarta. Inheriting the unique Art Deco style in its design, GTS which has been around for a long time since the 1970s is a silent witness to developments and tangible evidence of changes in Senen. However, after the fifth year, there has been no follow-up or plan from the government or related parties to revitalize the Grand Theater Senen building. Through an adaptive reuse approach, the Grand Theater Senen building is promoted to complement the spatial, social, programmatic and demographic structures of Senen. Carrying this old building into a modern office with a touch of Art Deco architectural characteristics, it becomes the basic design basis which is further developed as the main feature of the building, which is combined and matched with modern architectural styles, so as to create a harmonious design that combines old and new elements. Continuing the collective memory of Senen as a form of identification of the true identity of the Senen area. Keywords: Grand Theatre Senen; Revitalization; Adaptive Reuse; Art Deco; Senen Abstrak Grand Theater Senen (GTS) merupakan salah satu gedung bioskop pertama di Jakarta. Kini bioskop tidak lagi terikat dengan sebuah gedung tunggal, yang menyebabkan relevansi sebuah gedung theater berkurang dan meyebabkan degradasi dalam penggunaan bangunan ini. Penyalahgunaan gedung sebagai tempat pemutaran film biru, prostitusi dan penjualan narkoba menjadi alasan penutupannya di tahun 2017. Terletak di Simpang Lima Senen, salah satu persimpangan jalan tersibuk di Jakarta. Mewarisi gaya Art Deco yang unik dalam desainnya, GTS yang telah berdiri lama sejak tahun 1970-an menjadi saksi bisu perkembangan serta bukti nyata perubahan di Senen.Namun, setelah tahun kelima, belum ada tindak lanjut atau rencana dari pemerintah atau pihak terkait untuk merevitalisasi gedung Grand Theater Senen. Melalui pendekatan adaptif reuse, gedung Grand Theater Senen dipromosikan untuk melengkapi struktur spasial, sosial, program dan demografi Senen. Mengusung bangunan tua ini menjadi sebuah perkantoran modern dengan sentuhan ciri khas arsitektur Art Deco, menjadi landasan dasar desain yang dikembangkan lebih lanjut sebagai ciri utama bangunan, yang dipadukan dan dicocokkan dengan gaya arsitektur modern, sehingga tercipta desain yang harmonis yang memadukan unsur lama dan baru. Melanjutkan memori kolektif Senen sebagai bentuk identifikasi jati diri kawasan Senen yang sebenarnya.
KEMBALINYA PUSAT HIBURAN KEBUDAYAAN DI THR LOKASARI, JAKARTA BARAT Paramitha Mauina Hartanto; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21715

Abstract

The phenomenon of degradation does not only occur in humans, but can also occur in an area. Degradation both functionally and morally occurred in the Lokasari THR area, Taman Sari District, West Jakarta. The degradation that occurs is that the area that was once known as the center of cultural entertainment in Batavia is now inversely becoming an area that is rarely touched and contains nightlife so it is considered dangerous. The aim of the project is to deal with existing degradation by turning Lokasari back into a positive cultural entertainment area and providing a place for local people to gather. It is hoped that the project will also be useful as a city magnet, a place for recreation from daily activities, and again to experience the beautiful memories they once had in the Lokasari THR area. This research uses borrowed design methods to get space programs and typology design methods to get the shape of the mass composition. From the existing background, the Lok(Art-H)sari Cultural Center is now present and is intended to revive cultural elements in the Lokasari area. The project will be a place where people can also gather, interact, and have fun. The cultural center will bring back various programs that have become Lokasari's memories by including additions and adding a touch of modern adjustments to give an interesting impression. The memory of the culture that is very attached to the area is used as a "magnet" to revive the interaction of the community and make it an inclusive entertainment center so that it can be enjoyed by all groups of people. Keywords:  Area Degradation; Cultural Center; Lokasari; Recreaction Abstrak Fenomena degradasi tidak hanya terjadi pada manusia, namun juga dapat terjadi pada sebuah kawasan. Degradasi baik secara fungsi dan moral terjadi di Kawasan THR Lokasari, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Degradasi yang terjadi ialah kawasan yang dulunya dikenal sebagai pusat hiburan kebudayaan di Batavia, kini berbanding terbalik menjadi kawasan yang jarang terjamah dan berisi hiburan malam sehingga dianggap berbahaya. Tujuan dari proyek adalah untuk menghadapi degradasi yang ada dengan mengembalikan Lokasari menjadi kawasan hiburan kebudayaan yang positif dan menyediakan tempat bagi masyarakat sekitar untuk berkumpul. Diharapkan proyek juga bermanfaat sebagai magnet kota, tempat berekreasi dari aktivitas sehari-hari, dan kembali merasakan memori indah yang pernah mereka miliki pada kawasan THR Lokasari. Penelitian menggunakan metode desain meminjam untuk mendapatkan program ruang serta metode desain tipologi untuk mendapatkan bentuk dari gubahan massa. Berdasarkan latar belakang yang ada, Pusat Kebudayaan Lok(Art-H)sari kini hadir dan dimaksudkan untuk menghidupkan kembali unsur kebudayaan di kawasan Lokasari. Proyek akan menjadi tempat di mana masyarakat juga dapat berkumpul, berinteraksi, dan berekreasi. Pusat kebudayaan akan mengangkat kembali berbagai program yang pernah menjadi kenangan Lokasari dengan disertakan penambahan dan memasukkan sentuhan penyesuaian masa kini agar memberi kesan menarik. Kenangan akan budaya yang sangat melekat dengan kawasan digunakan sebagai “magnet” untuk menghidupkan interaksi para masyarakat dan menjadikan pusat hiburan yang inklusif sehingga dapat dinikmati oleh seluruh golongan masyarakat.

Page 76 of 134 | Total Record : 1332