cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENERAPAN METODE ARSITEKTUR NARATIF DALAM PERANCANGAN RUANG EKSPRESI SENI DI KAWASAN SENEN Maria Angelia; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21733

Abstract

Senen was once the heart of the city, so many people from various groups stopped at Senen including artists, activists, and more. Senen has given birth to famous Indonesian artists. However, because of being displaced by time, the glory of Senen slowly faded. The government has tried various things, from puppet shows at Bharata Purwa, to free dancing lessons at the Kebangkitan Nasional Museum. However, the efforts made have not been successful. Until now, art in Senen is still fading even though the Senen area has potential. Hopefully, this project can become a generator in the Senen area as well as a place where artists can express themselves again, Urban Acupuncture is also applied to revive community activities, especially those related to art in the surrounding area. Urban Acupuncture aims to improve neglected areas of the city structure, by reintroducing and adapting them to the environmental context. The design method used is Narrative Architecture. Starting from identifying issues related to the Senen area, then making observations directly or from data from various sources. The proposed program are an interactive art gallery, mural workshop, exhibition space, and rental studio. Each program has background issues, both internal and external to the site, namely the oblivion of Senen as an art area at that time, a lot of vandalism around the site, many people who work as mural artists, and the function of the Senen area as a business area has not been maximized. Keywords:  Art; Interactive Gallery; Narrative Architecture; Senen; Urban Acupuncture Abstrak Kawasan Senen pernah menjadi jantung kota, sehingga banyak masyarakat dari berbagai golongan yang singgah di Senen termasuk para seniman, aktivis, dan sebagainya. Senen telah melahirkan seniman-seniman ternama Indonesia. Namun karena tergusur oleh waktu, perlahan kejayaan Senen meredup. Pemerintah telah mengupayakan berbagai hal, mulai dari pertunjukan wayang orang Bharata Purwa, hingga kursus menari gratis di Museum Kebangkitan Nasional. Namun upaya-upaya yang dilakukan belum berhasil. Hingga saat ini seni di Senen masih meredup padahal daerah Senen memiliki potensi. Yang diharapkan dari proyek ini adalah, proyek ini dapat menjadi generator di Kawasan Senen sekaligus wadah dimana seniman dapat kembali mengekspresikan dirinya, Urban Accupuncture juga diterapkan untuk membangkitkan kembali aktivitas masyarakat terutama terkait seni pada daerah sekitar. Urban Accupuncuture bertujuan memperbaiki area-area terbengkalai pada struktur kota, dengan memperkenalkan kembali dan menyesuaikannya dengan konteks lingkungan. Metode perancangan yang digunakan adalah metode naratif, dimulai dari mengidentifikasi isu terkait Kawasan Senen, kemudian melakukan observasi secara langsung maupun dari data-data dari berbagai sumber. Program yang diusulkan adalah galeri seni interaktif, lokakarya mural, ruang pameran, serta studio sewa. Masing-masing program memiliki latar belakang isu baik internal maupun eksternal dari tapak, yaitu terlupakannya Senen sebagai Kawasan seni pada masanya, banyaknya vandalisme di sekitar tapak, banyaknya masyarakat yang bermata pencaharian sebagai seniman mural, serta belum maksimalnya fungsi Kawasan Senen sebagai daerah bisnis.
RUANG PUBLIK YANG MEREPRESENTASIKAN KARAKTER KANAL SEBAGAI UPAYA MENGHIDUPKAN KAWASAN GUNUNG SAHARI Cynthia Eliza Sony; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21734

Abstract

Gunung Sahari area in Central Jakarta is known for its large road which acts as a link between many areas in Jakarta. Although many vehicles pass by every day, Gunung Sahari itself is not the destination of choice for many people, even though this area was a memorable place of entertainment for Jakarta residents in the past. Nowadays Gunung Sahari area lack of visitors and the image of the area is starting to dim, making this location only a road that is passed by, not to be visited. As a response, a public space is designed to present a new memory for the area in order to revive Gunung Sahari area. The design of this public space borrows the definition and the characteristic from the word 'canal', which originated from the history of Gunung Sahari area’s development. A canal functions as transportation route, irrigation, flood control, and tourist destination, which obviously became the character of Gunung Sahari area in the past. In this context, the designed public space will act as a transit point as well as a place of recreation for residents who circulate around the area to unwind and fulfill their daily needs through a variety of accommodated programs. The building is designed with an open concept to merge indoors and outdoors so that visitors can enjoy the greenery surrounding the site which also contributes a green space for the area. In addition, there are many communal spaces with flexible arrangements that allow space to grow over time. Keywords: Canal; Public Space; Recreation Abstrak Kawasan Gunung Sahari di Jakarta Pusat dikenal dengan jalan besarnya yang berperan sebagai penghubung banyak wilayah di Jakarta. Meski banyak dilalui kendaraan setiap harinya Gunung Sahari sendiri bukan menjadi pilihan destinasi banyak orang, padahal kawasan ini pernah menjadi tempat hiburan warga Jakarta yang cukup berkesan di masa lampau. Kini kawasan Gunung Sahari sudah sepi pengunjung dan citra kawasan yang mulai redup membuat lokasi ini sebatas menjadi jalan yang dilewati bukan untuk disinggahi. Sebagai respon, dirancang sebuah ruang publik untuk menghadirkan memori baru terhadap kawasan agar dapat menghidupkan kembali kawasan Gunung Sahari. Perancangan ruang publik ini meminjam definisi dan karakteristik dari kata ‘kanal’, yang merupakan awal mula dari sejarah perkembangan kawasan Gunung Sahari. Kanal memiliki fungsi sebagai jalur transportasi, irigasi, pengendali banjir, dan tujuan wisata, yang tentunya menjadi karakter kawasan Gunung Sahari di masa lampau. Dalam konteks tersebut, ruang publik yang dirancang akan berperan sebagai titik transit sekaligus tempat rekreasi bagi warga yang bersirkulasi di sekitar kawasan untuk melepas penat dan memenuhi kebutuhan sehari-hari melalui variasi program yang diwadahi. Rancangan bangunan dibuat dengan konsep terbuka untuk meleburkan ruang dalam dengan luar agar pengunjung dapat menikmati penghijauan disekeliling tapak yang juga menjadi sumbangan ruang hijau bagi kawasan. Selain itu disediakan banyak ruang komunal dengan penataan yang fleksibel memungkinkan ruang untuk tumbuh seiring berjalannya waktu.
PENATAAN ULANG SITU CIPONDOH MENGGUNAKAN MITOS ULAR BERMAHKOTA DAN BUAYA PUTIH Bryan Juan Susanto; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21735

Abstract

Cipondoh sub-district is often hit by floods, which are caused by various things such as the amount of waste, lack of public green open space, and high density. One of the buildings that has been affected by some of these problems is Situ Cipondoh. Water tourism areas, which have been frequented by people from time immemorial, are starting to be affected by land degradation and water cleanliness. Therefore, by designing an architectural response in the form of providing a culinary trade area and shops and rearranging the design of Situ Cipondoh, the design of Situ Cipondoh will strengthen public awareness of environmental cleanliness from waste and also the availability of public green open spaces. The design of Situ Cipondoh uses a narrative design method using myths in order to remind the surrounding community to continue to protect the environment of Situ Cipondoh, namely the snake with the crown and the white crocodile. How to apply it by designing compositions with the shapes of snakes or crocodiles. This method of using myths can help the purpose of reorganizing Situ Cipondoh, which reminds people to continue to protect the environment of Situ Cipondoh. The proposed program also addresses and deals with the myths of the crowned serpent and the white crocodile. Solving these problems is done through rearrangement, design strategies through design methods. The mass compositions created finally have the essence of a snake and have a crocodile facade so that people can remind themselves of the importance of maintaining cleanliness in the Situ Cipondoh area. Keywords:  Situ Cipondoh; Snake; Crocodile; Design; Environment Abstrak Kecamatan Cipondoh sering dilanda oleh banjir, yang disebabkan oleh berbagai hal seperti banyaknya limbah, kurangnya ruang terbuka hijau publik, dan kepadatan yang tinggi. Salah satu bangunan yang sudah terdampak oleh beberapa masalah tersebut adalah Situ Cipondoh. Area wisata air yang dari dahulu kala sering dikunjungi orang, mulai terkena degradasi secara lahan, dan kebersihan air. Maka itu dengan mendesain sebuah respon arsitektur berupa pemberian area perdagangan kuliner maupun pertokoan serta penataan ulang desain dari Situ Cipondoh, maka desain Situ Cipondoh akan memperkuat kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dari limbah dan juga tersedianya ruang terbuka hijau publik. Desain Situ Cipondoh ini mengambil metode desain narasi dengan menggunakan mitos agar dapat mengingatkan kembali kepada masyarakat sekitar untuk terus menjaga lingkungan Situ Cipondoh yaitu ular bermahkota dan buaya putih. Cara penerapannya dengan mendesain gubahan dengan bentuk-bentuk dari ular atau buaya. Metode menggunakan mitos ini dapat membantu tujuan penataan ulang Situ Cipondoh, dimana mengingatkan kembali kepada masyarakat untuk terus menjaga lingkungan Situ Cipondoh. Program yang diusulkan juga menjawab dan berhubungan dengan mitos ular bermahkota dan buaya putih. Penyelesaian masalah tersebut dilakukan melalui penataan letak ulang, strategi desain melalui metode desain. Gubahan yang tercipta akhirnya memiliki esensi ular dan memiliki fasad buaya agar orang dapat mengingatkan dirinya tentang pentingnya menjaga kebersihan di kawasan Situ Cipondoh.
TEMPAT PENGOLAHAN PERIKANAN ADAPTIF DI PASAR IKAN MUARA ANGKE, JAKARTA Christopher Julio Kurniawan; James Erich D. Rilatupa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21739

Abstract

DKI Jakarta is predicted to sink in 2050 which causes frequent tidal floods. The area of North Jakarta which borders the sea has a major impact on sea level rise.The Fish Market in Muara Angke is located in Penjaringan,Jakarta.The Notrch,which is the place for processing the fishery sector,often gets tidal floods that cannot be predicted when it will come.Whereas in Muara Angke almost the majority of the population works in the fishery sector and this area has great potential for development.In addition,the Muara Angke area is famous for processing fisheries into processed products,especially dried fish,but the process still uses conventional methods,namely relying on direct sunlight.The author will use the Urban Acupuncture approach to identify problems in architectural design in an effort to create Fish Market buildings and fish processing places that are able to adapt to the environment and pay attention to the locality of the existing area with structural design,use of sustainable technology and material selection and design programs which can support the sustainability of trade and services to increase the role of the fish market in the Muara Angke area so that in the future it can develop and be able to adapt to areas that often occur during floods.ebb and flow of sea water.The method used is to study literature studies,collect data with electronic media sources to understand the project and the author also conducts field surveys to collect data that becomes the design guideline. Keywords: Adaptive Architecture; Fish Market; Fish Processing; Localicm; Urban Acupuncture Abstrak DKI Jakarta di prediksi akan tenggelam pada tahun 2050 yang menyebabkan sering kali terjadinya banjir pasang surut air laut.Daerah Jakarta Utara yang berbatasan dengan laut ini mempunyai dampak yang besar terhadap kenaikan permukaan air laut tersebut.Pasar Ikan di Muara Angke terletak pada Kecamatan Penjaringan,Jakarta Utara yang merupakan tempat pengolahan sektor perikanan ini sering kali mendapatkan banjir pasang surut air laut yang tidak dapat diprediksi kapan datangnya.Padahal di Muara Angke hampir mayoritas penduduknya bekerja dalam sektor perikanan dan kawasan ini mempunyai potensi besar dalam perkembangannya. Selain itu Kawasan Muara Angke terkenal dengan tempat pengolahan perikanan menjadi produk olahan terutama ikan kering,namun prosesnya masih menggunakan cara konvensional yaitu mengandalkan sinar matahari langsung.Banjir telah menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan menyebabkan kondisi Pasar Ikan yang di gunakan sebagai fasilitas masyarakat untuk berjualan menjadi terganggu.Penulis akan menggunakan pendekatan Akupuntur Perkotaan untuk mengidentifikasi masalah-masalah pada perancangan arsitektur dalam upaya menciptakan bangunan Pasar Ikan dan tempat pengolahan perikanan yang mampu beradaptasi pada lingkungan dan memperhatikan lokalitas kawasan yang ada dengan rancangan struktur,penggunaan teknologi berkelanjutan dan pemilihan material serta merancang program-program yang dapat mendukung keberlangsungan perdagangan dan jasa untuk meningkatkan peran pasar ikan di Kawasan Muara Angke ini agar kedepannya dapat berkembang dan dapat beradaptasi dengan kawasan yang sering terjadi banjir pasang surut air laut.Metode yang digunakan adalah dengan mempelajari studi literatur,pengumpulan data dengan sumber media elektronik untuk memahami proyek serta penulis juga melakukan survey lapangan untuk pengumpulan data yang menjadi pedoman perancangan.
PERANCANGAN ‘ACTIVE MOBILITY HUB’ SEBAGAI DAMPAK MENINGKATNYA KEPADATAN KENDARAAN BERMOTOR DI AREA SEKITAR STASIUN KERETA API MEDAN Gilbert Kholin; James Erich D. Rilatupa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21740

Abstract

The increase in vehicle density has become an increasingly concerning problem in regards to the degradation of our environment. Therefore, the design of an Active Mobility Hub that centralizes various public transportations at a main transit point in one of the most densely populated areas in Medan, especially with emphasis on the use of bicycles and pedestrians, aims to reduce the need for locals to use personal vehicles as much as possible.. The method used for designing is qualitative, comparative, primary and secondary in nature, in which the author will collect various informations to be analyzed and synthesized using selected indicators in order to produce a design that will answer the research questions and obtain results necessary for research objectives. The resulting design is located around Medan’s Train Station area, precisely on Jalan Jawa, which has a very high level of vehicle density. Some of the programs that will be provided in this Active Mobility Hub are Hub Area, Bicycle Supporting Facilities, Park, Charge and Walk Center, Integrated Transit Station, Service Area, and Operational Area. The design method used to produce the final building composition is a metaphorical method, in which the shape of the final building is formed from the exploration of the basic shape of a bicycle to represent the emphasis on the use of bicycles, as well as the mobility aspect of the building's function as an Active Mobility Hub. Design engineering aspects in the building are also presented through the application of Pivoting Walls, Dome Hatch, etc. Through this design, it is expected that the high amount of vehicle density around the area of Medan’s Train Station could be significantly reduced, and to reduce the traffic jam in that area as well. Keywords:  Bicycle; Medan’s Train Station; Transit Hub; Vehicle Density Abstrak Kepadatan kendaraan bermotor yang semakin meningkat telah menjadi sebuah masalah degradasi lingkungan yang semakin memprihatinkan. Oleh karena itu, perancangan Active Mobility Hub yang mengumpulkan berbagai kendaraan umum pada sebuah titik transit di salah satu area dengan kepadatan paling tinggi di Kota Medan, serta dengan penekanan lebih terhadap penggunaan sepeda dan pejalan kaki, bertujuan untuk mengurangi keperluan bagi masyarakat sekitar untuk menggunakan kendaraan pribadi. Metode yang digunakan dalam perancangan ini adalah metode kualitatif, metode komparatif, dan metode pengumpulan data primer dan sekunder, dimana berbagai informasi akan dikumpulkan untuk dianalisis dan disintesakan menggunakan indikator-indikator yang terpilih supaya dapat menghasilkan sebuah hasil perancangan yang akan menjawab pertanyaan riset dan mendapatkan hasil dari tujuan riset. Hasil perancangan yang dimaksud mempunyai tapak yang terletak di sekitar daerah Stasiun Kereta Api Medan, tepatnya di Jalan Jawa, dengan tingkat kepadatan kendaraan yang sangat tinggi. Beberapa program yang disediakan pada perancangan ini adalah seperti Hub Area, Bicycle Supporting Facilities, Park, Charge and Walk Centre, Integrated Transit Station, Area Servis, dan Area Operasional. Metode desain yang digunakan untuk menghasilkan gubahan akhir adalah metode metafora, dimana bentuk bangunan yang dihasilkan merupakan eksplorasi desain dari bentuk dasar sebuah sepeda untuk merepresentasikan penekanan tujuan terhadap penggunaan sepeda, dan juga aspek mobilitas dari fungsi bangunan sebagai sebuah Active Mobility Hub. Aspek rekayasa desain di bangunan juga dihadirkan melalui adanya penerapan Pivoting Walls, Dome Hatch, dll. Melalui perancangan tersebut, diharapkan bahwa masalah kepadatan kendaraan yang tinggi pada daerah Stasiun Kereta Api Medan tersebut dapat berkurang secara signifikan, sekaligus dapat mengurangi kemacetan di daerah tersebut.
RESPON ARSITEKTUR TERHADAP DEGRADASI LAHAN PERTANIAN KAWASAN KEMBANGAN MELALUI PERTANIAN PERKOTAAN VERTIKAL Fatin Nurlia Sari Dewi; James Erich D. Rilatupa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21741

Abstract

Kembangan has a history as an area where the majority of the people's livelihoods are farmers. Kembangan District is one of the sub-districts located in West Jakarta. The current phenomenon is the development of the Kembangan area causing the issue of the agricultural land crisis. The conversion of agricultural green land into other functions continues to occur along with the development of the city. Degradation of agricultural land will have an impact on the loss of the identity of the Kembangan area as an agricultural area and if it continues to increase it can cause food security problems in an area. The method used in this study is a descriptive method by looking at the current facts regarding the degradation of agricultural land in the Kembangan sub-district. The limitation of the research with a city acupuncture approach is that it takes a radius of 3000 meters from the selected area. The design method takes the symbiotic architectural method by analyzing the continuity of history and the needs of current program activities first. The symbiotic architectural method is used to incorporate agricultural programs into urban activities. The aim of this paper is to find an urban agricultural design that adapts to the characteristics of the city. The formation of mass composition takes the metaphorical exploration method of leaf chloroplast geometry. The conclusion obtained from the results of this study is that one way to develop the agricultural industry to maintain food security in the midst of the land crisis is through vertical urban agriculture that adapts architectural engineering technology. Keywords: metaphor architecture; symbiotic architecture; agricultural land degradation; food security Abstrak Kawasan Kembangan memiliki sejarah sebagai kawasan yang mayoritas mata pencaharian masyarakatnya adalah sebagai petani. Kecamatan Kembangan merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Jakarta Barat. Fenomena yang terjadi saat ini adalah perkembangan kawasan Kembangan menyebabkan isu krisis lahan pertanian. Alih fungsi lahan hijau pertanian menjadi fungsi lain terus terjadi seiring perkembangan kota. Degradasi lahan pertanian akan berdampak pada hilangnya identitas kawasan Kembangan sebagai kawasan pertanian dan apabila terus meningkat dapat menyebabkan permasalahan ketahanan pangan suatu kawasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif dengan melihat fakta yang terjadi saat ini terkait degrasi lahan pertanian di kecamatan Kembangan. Batasan penelitian dengan pendekatan akupuntur kota mengambil radius 3000 meter kawasan terpilih. Metode desain mengambil metode aritektur simbiosis dengan menganalisis kesinambungan sejarah dan kebutuhan aktivitas program saat ini terlebih dahulu. Metode arsitektur simbiosis digunakan untuk memasukan program pertanian ke dalam aktivitas kota. Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah untuk menemukan desain pertanian perkotaan yang menyesuaikan karakteristik kota. Pembentukan gubahan massa mengambil metode metafora eksplorasi geometri bentuk kloroplas daun. Kesimpulan yang didapatkan dari hasil penelitian ini adalah salah satu cara mengembangkan industri pertanian untuk menjaga ketahanan pangan ditengah isu krisis lahan melalui pertanian perkotaan vertikal yang mengadaptasi rekayasa teknologi arsitektur.
KANTOR STARTUP INCUBATOR UNTUK MEMBANTU PERUSAHAAN STARTUP SERTA UMKM YANG TERDAMPAK PANDEMI COVID-19 DI JELAMBAR, JAKARTA BARAT Raynaldi Ariano Harliman; James Erich D. Rilatupa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21748

Abstract

A covid-19 pandemic that has been going since the last 2 years has made startup companies and SME that haven’t prepared to face crisis such as this collapse. It happened because the lack of place that gives education for them. This pandemic also indirectly  require us to live along with it. Therefore, a new room configuration that can give safety and comfort for the users while goin to a public space is needed and on this case an office space. To get around this, so a ‘startup incubator’ is made with the reason to give hope for startup companies and SME in Jelambar, Grogol Petamburan. This study is using trans programming as it’s method to produce a design concept of a place for education which in this case a ‘startup incubator’. The design was done by using the habit and behaviour of millennial generation which the majority of them creates the startup companies and SME as reference. In the future, this place can be the place for the new companies to maximize their potential. Keywords:  covid-19; millennial generation; startup; SME Abstrak Pandemi covid-19 yang sudah melanda 2 tahun terakhir telah membuat perusahaan-perusahaan ‘startup’ maupun UMKM yang tidak siap menghadapi krisis seperti ini kolaps. Hal ini terjadi karena kurangnya wadah edukasi bagi pelaku usaha ‘startup’ maupun UMKM di kawasan Jelambar, Grogol Petamburan. Pandemi ini juga secara tidak langsung mengharuskan kita untuk hidup berdampingan dengan virus tersebut, karena itu dibutuhkan sebuah konfigurasi ruang baru yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengguna ketika berada di ruang publik dalam hal ini bangunan kantor. Untuk menyiasati keadaan ini, maka dibuatlah sebuah ‘startup incubator’ yang memiliki tujuan utama untuk memberikan harapan bagi pelaku usaha ‘startup’ serta UMKM di kawasan Jelambar, Grogol Petamburan. Studi ini menggunakan metode trans-programming untuk menghasilkan sebuah konsep perancangan wadah edukatif yang berupa ‘startup incubator’. Perancangan dilakukan dengan menggunakan kebutuhan dan perilaku generasi Y atau milenial yang mayoritas merupakan pelaku usaha ‘startup’ sebagai acuan. Wadah ini kedepannya mampu menjadi sarana bagi perusahaan-perusahaan baru untuk memaksimalkan potensi mereka.
PERANCANGAN FASILITAS INTERAKSI SOSIAL SEBAGAI PENYELESAIAN KONFLIK RUANG JALAN DI PERMUKIMAN MATRAMAN Alexandra Clarissa Alverina; Himaladin Himaladin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21749

Abstract

of the district consist of residential area in which each sector is gateless and the houses are located directly on the edge of a local road. The high building density of the district create less space for the community to interact and carry out activities resulting these activities to be carried out on the streets. This sequence of activities create conflict with the function of the road resulting road degradation. This degradation happened due to the overloading activities that disturbs the actual function of the road as a transportation network. As a response in solving this conflict, a separation and allocation of people’s interaction and activities with the function of road were conducted therefore hinders these two sets of activities from causing a conflict. By raising this issue, this project offers a solution by building a social space facility in five different places in Asam Gede, Matraman which work as both central and sectoral solution as a form of Urban Acupuncture solution. By using Programmatic Density methods as the architectural design approach, this project serves as third place which combines both existing and new activities as the activity programme.  These social space nodes work as a forum for community activities whether it’s intentional or unintentional. Keywords:  Facility; Matraman; Road; Social Interaction;  Spatial Road Conflict; Road Degradation; Social Space Abstrak Matraman merupakan kawasan dengan kepadatan penduduk dan bangunan yang tinggi. Delapan puluh lima persen dari kawasan Matraman merupakan area dengan fungsi hunian dengan tipe hunian tanpa portal perumahan, sehingga rumah-rumah terletak langsung di tepi jalan lokal. Padatnya bangunan membuat minimnya ruang bagi masyarakat untuk berinetraksi dan beraktivitas sehingga aktivitas tersebut dilakukan pada jalan-jalan lokal. Bertemunya aktivitas interaksi masyarakat dan fungsi jalan sebagai jaringan kendaraan menimbulkan konflik yang menyebabkan degradasi ruang jalan. Degradasi ruang jalan ini terjadi karena overloading activities yang menghambat fungsi jalan sebenarnya sebagai jaringan transportasi. Oleh karena itu, sebagai respon penyelesaian konflik dilakukan pemisahan dan alokasi aktivitas interaksi masyarakat dengan fungsi jalan sehingga kedua rangkaian aktivitas tersebut tidak menyebabkan konflik. Dengan mengangkat isu ini, proyek ini menawarkan respon penyelesaian dengan membuat fasilitas area sosial (social space) pada lima titik di area Asam Gede, Matraman yang bekerja sebagai area penyelesaian pusat maupun sektoral sebagai bentuk solusi Urban Akupuntur. Pendekatan perancangan arsitektur menggunakan metode Programmatic Density sebagai tempat ketiga yang menggabungkan rangkaian kegiatan eksisting maupun tambahan yang ada sebagai program kegiatan tempat aktivitas ketiga. Titik-titik social space ini menjadi wadah aktivitas masyarakat baik yang bersifat terencana (intentional) dan tidak terencana (unintentional).
PERANCANGAN TEATER PADA KAWASAN MARUNDA UNTUK MENGATASI PERMASALAHAN LINGKUNGAN YANG MENGALAMI INDUSTRIALISASI Stephanie Calista Indriyanthi; Himaladin Himaladin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21750

Abstract

Marunda is one of the urban villages in North Jakarta that is currently undergoing industrialization. This happens because of the very good potential of Marunda in the export-import sector due to its proximity to the Java Sea. This incident caused Marunda to experience degradation, especially physically and socially, which triggered Marunda to experience a loss of regional identity. Marunda used to be an ordinary residential area, has now turned into a dense industrial area, so that human needs especially in the entertainment sector in the Marunda area are gradually being forgotten and replaced by an industrial environment that forces people to work continuously. Therefore, we need a place or area that can accommodate all the entertainment activities of the Marunda community outside of the daily industrial activities. This project offers a response to solving problems in Marunda by creating an entertainment area in the form of a theater and developing an area around the site that is focused on the commercial and residential sectors as a form of Urban Acupuncture solutions. The architectural method approach used is the Mixed Programming method, which aims to combine all the programs that are not owned by Marunda into one design area. This project will be a place of entertainment for the people of Marunda and can be a magnet to revive the Marunda area. Keywords:  environmental problems; industrialization; Marunda; theater Abstrak Marunda merupakan salah satu kelurahan di Jakarta Utara yang saat ini sedang mengalami industrialisasi. Hal ini terjadi melihat potensi dari Marunda yang sangat baik dalam bidang eksport - importdikarenakan letaknya yang berdekatan dengan Laut Jawa. Dengan terjadinya peristiwa ini menyebabkan Marunda mengalami degradasi, khususnya dalam fisik maupun sosial yang memicu Marunda mengalami kehilangan identitas kawasan. Marunda yang dulunya merupakan area perumahan biasa sekarang berubah menjadi area industri yang padat, sehingga kebutuhan manusia khususnya dalam bidang hiburan pada area Marunda sedikit demi sedikit mulai terlupakan dan digantikan menjadi lingkungan industri yang memaksa masyarakatnya untuk terus menerus bekerja. Oleh karena itu dibutuhkannya suatu tempat atau area yang bisa menampung seluruh aktivitas hiburan masyarakat Marunda di luar aktivitas Industri yang setiap hari. Proyek ini menawarkan respon untuk menyelesaikan masalah pada Marunda dengan memunculkan area hiburan berupa teater dan melakukan pengembangan area sekitaran tapak yang difokuskan dalam sektor komersial dan hunian sebagai bentuk solusi Urban Akupuntur. Pendekatan metode arsitektur yang digunakan merupakan metode Mixed Programming yang bertujuan untuk menggabungkan semua program - program yang belum dimiliki pada Marunda masuk ke dalam satu area perancangan. Proyek ini akan menjadi tempat hiburan untuk masyarakat Marunda dan dapat menjadi magnet penarik untuk meramaikan kembali kawasan Marunda. 
HUNIAN PALIATIF YANG BERKUALITAS DI LINGKUNGAN RUMAH SAKIT DHARMAIS Vanessa Maria Liemdra; Himaladin Himaladin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21751

Abstract

Dharmais Cancer Hospital is surrounded by many residences that have been converted into temporary shelters that do not meet standards and an environment that does not support the needs of its residents, most of whom are cancer survivors. However, a place to live is urgently needed by cancer patients at Dharmais Cancer Hospital because many are undergoing long-term treatment and are from out of town. To get the relationship between the role of the environment and emotional problems of cancer sufferers through architecture, data collection was carried out using qualitative methods. Therefore, through everydayness design methods and healing environments, palliative housing projects can be produced. This project aims to provide an ideal resting space for cancer patients by presenting a functional space within the elongated core to support the treatment process and accommodate emotional issues from an architectural point of view. The function presented also aims to provide support to the patient's family so that the patient has a quality end of life and is psychologically and spiritually ready. Keywords: cancer; healing architecture; palliative; residence Abstrak Rumah Sakit Kanker Dharmais dikelilingi banyak hunian yang dialihfungsikan menjadi rumah singgah sementara yang tidak memenuhi standar dan lingkungan yang kurang mendukung kebutuhan penghuni yang kebanyakan adalah para penderita kanker. Akan tetapi hunian sangat dibutuhkan oleh pasien penderita kanker Rumah Sakit Kanker Dharmais karena banyak yang menjalani pengobatan jangka panjang dan berasal dari luar kota.  Untuk mendapatkan keterhubungan peran lingkungan dan masalah emosional penderita kanker melalui arsitektur dilakukan pengumpulan data dengan metode kualitatif. Maka dari itu, keseharian dan healing environment dapat dihasilkan proyek hunian paliatif. Proyek ini bertujuan untuk menghadirkan ruang beristirahat yang ideal bagi para pasien kanker dengan menghadirkan fungsi – fungsi ruang di dalam core memanjang untuk mendukung proses perawatan dan mewadahi permasalah emosional dari sudut arsitektur. Fungsi yang juga dihadirkan bertujuan untuk memberikan dukungan bagi keluarga pasien sehingga penderita akan memiliki akhir hidup yang berkualitas dan siap secara psikologis dan spiritual.

Page 78 of 134 | Total Record : 1332