cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PUSAT EKONOMI KREATIF SENEN: MENGHIDUPKAN KAWASAN PERDAGANGAN DI SENEN Jovan Kendrix; Agnatasya Listianti Mustaram
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22204

Abstract

Senen is an area known as the center of economy, trade, and a bustling youth gathering place in its time. But after the monetary crisis that caused riots, many traders who lived in Senen area decided to move. The degradation that occurred caused the Senen area, which was previously called as the Senen Triangle and was the center of trade. But now less than optimal and only relied on a few places that were busy with buying and selling activities. With the narrative architecture method, the Senen area which was previously degraded due to the monetary crisis can again become a trading center, which can improve the economy of the Senen community. One way is by utilizing UMKM around the Senen area to be used as an adaptive creative economy in order to adapt to modern era. Senen Creative Economy Center is expected to be a solution to improve the economy, especially the creative economy such as UMKM. In addition to improving the economy for the surrounding community, the Senen Creative Economy Center is also expected to be a gateway to introduce a glimpse of the Senen area. With the Creative Economy Center, this area is expected to adapt to the times and can restore and restore the Senen area as an economic place and gathering place. Keywords:  Creative Economy; Degradation; Urban Acupuncture Abstrak Senen adalah kawasan yang lekat dengan pusat perekonomian, perdagangan, dan juga tempat berkumpul anak muda yang ramai pada masanya. Namun setelah terjadinya krisis moneter yang menyebabkan adanya kerusuhan menyebabkan banyak pedagang yang tinggal di daerah Senen memutuskan untuk pindah. Degradasi yang terjadi menyebabkan kawasan Senen yang sebelumnya dijadikan sebagai Segitiga Senen dan merupakan pusat perdagangan menjadi kurang maksimal dan hanya bertumpu dibeberapa tempat saja yang ramai dengan kegiatan jual beli. Dengan metode narrative architecture, Kawasan Senen yang sebelumnya mengalami degradasi akibat krisis moneter dapat kembali menjadi pusat perdagangan, yang dapat meningkatkan perkonomian masyarakat Senen. Salah satu caranya dengan memanfaatkan UMKM yang ada disekitar kawasan Senen untuk dijadikan sebagai ekonomi kreatif yang adaptif agar dapat beradaptasi dengan era modern sekarang ini. Tujuan dari Pusat Ekonomi Kreatif Senen yaitu dapat menjadi solusi untuk meningkatkan perekonomian terutama ekonomi kreatif seperti UMKM. Selain untuk meningkatkan ekonomi untuk masyarakat sekitar Pusat Ekonomi Kreatif Senen juga diharapkan dapat menjadi gerbang untuk memperkenalkan sekilas kawasan Senen. Dengan adanya Pusat Ekonomi Kreatif, kawasan ini diharapkan dapat beradaptasi dengan zaman dan dapat mengembalikan serta memulihkan kawasan Senen sebagai tempat ekonomi dan tempat berkumpul.
UPPERSIDE STORY OF KALI ANYAR: PEMULIHAN LINGKUNGAN HIDUP PADA KAWASAN HUNIAN PADAT KALI ANYAR Jeremy James; Agnatasya Listianti Mustaram
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22207

Abstract

Kali Anyar, Tambora sub-district has the nickname as the most densely populated area in Southeast Asia. Starting from the problems that occurred in the Kali Anyar sub-district, Tambora sub-district, namely as a result of its density many problems occurred such as many narrow alleys, poor sanitation, lack of water catchment areas, no recreational facilities, and no children's playground. As a result of the continued density in this area, land is very limited, so there are some facilities and infrastructure that cannot be accommodated, and in this area there is a degradation of environmental quality. In this study, the method used is a daily method as well as narrative, while for the design method, in this study using a participatory method, and also applying some principles of urban acupuncture. This architectural project aims to provide facilities that can improve the quality of the environment in the Kali Anyar sub-district area by creating a second layer, so that activities that cannot occur/are carried out in the first layer can be realized in the second layer, so as to overcome the degradation that occurs. Keywords: Daily, Degradation, Participatory, Second Layer City, Urban Acupuncture Abstrak Kelurahan Kali Anyar, kecamatan Tambora memiliki julukan sebagai kawasan terpadat se Asia Tenggara. Bermula dari permasalahan yang terjadi pada kelurahan Kali Anyar, kecamatan Tambora, yaitu akibat dari kepadatannya banyak permasalahan yang terjadi seperti banyak terdapat gang-gang sempit, sanitasi yang kurang baik, minimnya daerah resapan air, tidak adanya sarana rekreasi, tidak adanya tempat bermain anak. Akibat dari kepadatan yang terus terjadi pada kawasan ini, lahan menjadi sangat terbatas, sehingga ada beberapa sarana maupun prasarana yang tidak dapat ditampung, dan pada kawasan ini terjadi degradasi kualitas lingkungan hidup. Dalam penelitian ini, metode yang dipakai merupakan metode keseharian dan juga narasi, sedangkan untuk metode perancangannya, dalam penelitian ini menggunakan metode partisipatif, dan juga menerapkan beberapa prinsip akupunktur kota. Proyek arsitektur ini bertujuan untuk memberikan ketersediaan fasilitas yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan hidup pada kawasan  kelurahan Kali Anyar dengan membuat lapisan kedua, sehingga aktivitas yang tidak dapat terjadi/dilakukan pada lapisan pertama dapat diwujudkan pada lapisan kedua, sehingga dapat mengatasi degradasi yang terjadi.
RUMAH POHON TAMBORA: PERBAIKAN KUALITAS UDARA MELALUI FILTRASI POLUSI UDARA PERKOTAAN DI KAWASAN TAMBORA Evan Dylan; Agnatasya Listianti Mustaram
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22208

Abstract

Air is a very important element for life on this earth. The oxygen that humans and animals need to breathe and plants' carbon dioxide for photosynthesis also comes from the air. But the current situation is very bad. According to WHO, more than 90% of the world's population, air pollution is estimated to cause 4.2 million premature deaths in 2016, of which 91% are dominated by low- and middle-income countries, including Southeast Asia and the Western Pacific (WHO, 2018). With the decline in air quality in big cities, this is becoming a serious problem for city dwellers, the air that we live with every day will be unfriendly and can cause serious illness. By analyzing the efforts of nature and humans in terms of reducing air pollution, I used this method to be applied to the Tambora Tree House to reduce air pollution levels to the maximum. Seeing the large area affected by air pollution, it is not possible to immediately try to clean the existing air, so the Tambora Tree House aims to be an example and the beginning of a cleaning air process in urban areas that can be felt directly by the community around the site by carrying out activities and feeling the air flow out from the site. Keywords:  Air; Air Quality; Air Pollution; Clean Air; Health; Respiratory Abstrak Udara adalah unsur yang cukup penting bagi kehidupan mahluk hidup di bumi ini. Oksigen merupakan unsur yang diperlukan manusia dan juga hewan untuk bernapas dan karbon dioksida yang diperlukan tumbuhan untuk melakukan fotosintesis juga berasal dari udara. Tetapi keadaan di perkotaan saat ini sangat-lah memprihatinkan. Menurut WHO ada lebih dari 90% populasi di dunia telah menghirup udara beracun, Polusi udara yang terjadi diperkirakan telah menyebabkan 4,2 juta kematian prematur di dunia pada tahun 2016, di mana 91%-nya didominasi oleh negara dengan berpenghasilan rendah hingga menengah, termasuk Asia Tenggara dan Pasifik Barat (WHO, 2018). Dengan penurunan kualitas udara yang ada di kota-kota besar, ini merupakan hal yang cukup serius bagi penghuni kota, udara yang sehari hari Bersama dengan kita semakin tidak bersahabat dan dapat mengakibatkan penyakit yang serius. Dengan menganalisis upaya alam dan manusia dalam hal menurunkan tingkat polusi udara saya menggunakan metode tersebut untuk diterapkan dalam Rumah Pohon Tambora agar dapat menurunkan tingkat polusi udara dengan maksimal. Melihat besarnya wilayah yang menjadi dampak polusi udara maka Rumah Pohon Tambora bertujuan untuk menjadi contoh dan awal mula proses pengembalian udara bersih di perkotaan yang dapat di rasakan langsung oleh masyarakat sekitar tapak dengan beraktifitas dan merasakan aliran udara yang keluar dari tapak.
MEMBANGUN RASA TOLERANSI PADA KAWASAN GLODOK MELALUI GROUND ZERO ORION PLAZA Clement Clement; Agnatasya Listianti Mustaram
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22211

Abstract

Tolerance is a form of mutual respect between human differences from all aspects such as ethnicity, religion, and race. Tolerance will grow by respecting each other and being able to accept differences. The Ground Zero Orion Plaza project is a re-design project of Plaza Orion as a public space with the aim of being a forum for tolerance from heterogeneous communities in the Glodok-Pancoran area which is known as the Chinatown center in Jakarta. Seeing from the historical and cultural aspects, it can be traced that there have been several disputes that contain elements of intolerance in this area, causing degradation in terms of the quality of space to humans in the form of physical, mental, and social degradation. Until now, Orion Plaza and its surroundings have become protected areas every time there is an action movement from the community for fear that what has happened in the past will happen again. This Ground Zero Orion Plaza project is a project that tries to design a space with a neutral concept that can be a place of tolerance and social interaction between equal groups of people so that they have a vision to be a protector of the region from things that smell of intolerance in the present and in the future. Building a space that can foster a sense of tolerance requires a public space that can be used by anyone from any background so that by designing a community and cultural space it can become the result in this design. Keywords: Degradation; Neutral; Public area; Social interactions; Tolerance Abstrak Toleransi merupakan sebuah wujud sikap yang saling menghormati antar perbedaan manusia dari segala aspek seperti suku,agama,dan ras . Rasa toleransi akan tumbuh dengan cara saling menghormati satu sama lain dan mampu menerima perbedaan. Proyek Ground Zero Orion Plaza merupakan sebuah proyek re-desain dari Plaza orion sebagai ruang publik dengan tujuan dapat menjadi wadah toleransi dari masyarakat yang heterogen pada kawasan Glodok-Pancoran yang dikenal sebagai pusat pecinan di Jakarta. Melihat dari aspek Sejarah serta budaya dapat ditelusuri pernah terjadinya beberapa persitiwa perselisihan yang mengandung unsur intoleransi pada daerah ini sehingga menimbulkan adanya degradasi dari segi kualitas ruang hinga manusia dalam bentuk degradasi fisik, mental, dan sosial. Hingga saat ini Plaza orion dan sekitar menjadi kawasan yang dilindungi setiap adanya sebuah gerakan aksi dari masyarakat dengan alasan takut hal yang dahulu pernah terjadi dapat terulang lagi. Projek Ground Zero Orion Plaza ini merupakan proyek yang bertujuan membentuk sebuah ruang yang berkonsep netral yang dapat menjadi wadah toleransi dan interaksi sosial dari antar kalangan masyarakat yang setara sehingga mempunyai visi dapat menjadi pelindung kawasan dari hal yang berbau intoleransi di masa kini dan yang akan datang. Membangun sebuah ruang yang dapat menumbuhkan rasa toleransi dibutuhkan sebuah ruang publik yang dapat digunakan oleh siapa pun dari latar belakang manapun sehingga dengan merancang sebuah ruang untuk komunitas dan budaya dapat menjadi hasil pada peracangan ini.
PENGALAMAN RUANG REKREASI PESISIR SAMPUR DI KOJA SEBAGAI AKUPUNKTUR PERKOTAAN Reynalda Samil; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22212

Abstract

Urban acupuncture is a method to improve urban areas that have degraded. The decline or degradation has occurred in Koja, North Jakarta since 1994, when the Sampur Beach area and Koja Shops disappeared. Activities and attractions that occur experience degradation of movement. The memories are still attached to the residents, it can be seen from the residents who are still conveying their sadness through online platforms. Now, people's recreation areas in Koja are minimal, since Sampur coastal tourism has been abolished. The urban acupuncture method was used to restore the memory of the residents of Koja into a more relevant form, namely a recreational trip to the memory of the coast of Sampur. The writing method used is to find primary and secondary data in the literature and survey the daily activities of local residents. The daily activities of residents in the past such as bathing, bathing at the beach, socializing, sunbathing and so on, as well as current activities were adapted into programs in buildings. The proposed program then uses the narration method and spatial experience so that the memory of the narrative to be conveyed can be felt by visitors. The proposed intervention, which is a recreational trip, is expected to restore local recreation and the movement of local residents. Keywords:  urban acupuncture; memory; recreational site; narration Abstrak Akupunktur perkotaan adalah sebuah metode untuk memperbaiki kawasan kota yang memiliki degradasi. Penurunan atau degradasi terjadi di Koja, Jakarta Utara sejak tahun 1994, ketika kawasan Pantai Sampur dan Pertokoan Koja hilang. Aktivitas dan atraksi yang terjadi mengalami degradasi pergerakannya. Memori dan kenangan masih melekat pada warganya, terlihat dari warga yang masih menyampaikan kesedihannya melalui platform online. Kini, tempat rekreasi warga di Koja sangat minim, semenjak wisata pesisir Sampur ditiadakan. Metode akupunktur perkotaan digunakan untuk mengembalikan memori warga Koja ke dalam bentuk yang lebih relevan, yaitu sebuah perjalanan rekreasi memori pesisir Sampur. Metode penulisan yang digunakan adalah dengan mencari data primer dan sekunder secara literatur dan survei aktivitas keseharian warga sekitar. Kegiatan sehari-hari warga pada masa lampau seperti berendam, mandi di pantai, bersosialisasi, berjemur dan sebagainya, serta kegiatan masa sekarang diadaptasikan ke dalam program dalam bangunan. Program yang diusulkan kemudian menggunakan metode narasi dan pengalaman spasial agar memori narasi yang ingin disampaikan dapat dirasakan pengunjung.  Usulan intervensi yang merupakan sebuah perjalanan rekreasi ini diharapkan dapat mengembalikan rekreasi lokal dan pergerakan warga sekitar.
TRAVEL HUB SUNDA KELAPA: MENGEMBALIKAN KARAKTERISTIK PELABUHAN SUNDA KELAPA Nicholas Nathanael
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22213

Abstract

Uncontrolled urbanization leads to the homogenization of the urban environment and the loss of personality from an area. The uncontrolled urbanization process makes different areas look and feel similar to the point where it is hard or even impossible to separate between one and another. One of these areas is the Sunda Kelapa harbor which once played an integral role in Jakarta as the main trading spot but is now mostly forgotten. This research is done using qualitative methods to find the characteristics of the site in order to incorporate it in the project to bring back the site’s characteristics. The design method used in this project is “redefine” to transform the site to further benefit the surrounding area while the building’s form is used to tell a narrative story about Sunda Kelapa’s character as a maritime-based area by utilizing the presence of ships and harbor. This project is located there to revitalize the area as a travel hub that can bring back the lost personality and essence from the site to maximize its hidden potential. With the strong potential to attract customers from around the area and a deep and rich history, this project can further encourage bigger change to happen around the area and kickstart the development of said area that has a potential to be transformed into a strong transit-oriented spot and bring Sunda Kelapa back to relevancy. Keywords: Personality; Revitalization; Sunda Kelapa; Travel Hub; Urban Acupunctur Abstrak Urbanisasi kota yang tidak terkontrol menjadi homogen dan kepribadiannya mulai memudar. Proses urbanisasi yang tidak terkontrol membuat karakteristik kota menjadi sama, di mana antara satu kota dengan yang lain hanya terdapat sedikit, bahkan tidak ada perbedaan diantara mereka. Salah satu lokasi yang kehilangan karakteristiknya adalah Pelabuhan Sunda Kelapa yang dulunya merupakan lokasi yang menjadi pusat perdagangan dengan peran yang penting untuk kehidupan di Jakarta yang sekarang dilupakan. Metode penelitian dilakukan secara kualitatif dengan mencari unsur dan karakteristik dari tapak terpilih agar dapat dikorporasikan di dalam proyek untuk menghadirkan kembali karakteristik yang hilang. Metode perancangan menggunakan proses redefining  dengan mengolah kembali tapak yang belum dimanfaatkan secara maksimal agar menjadi suatu proyek yang dapat menguntungkan daerah urban yang lebih luas dan proses pembentukan bangunan sendiri menggunakan metode narasi yang menceritakan karakteristik dari Sunda Kelapa yang berbasis maritim dengan menghadirkan elemen perkapalan dan pelabuhan.. Proyek akan mengambil tapak di lokasi tersebut dengan tujuan untuk merevitalisasi tapak menjadi suatu travel hub yang dapat menjadikan Sunda Kelapa sebagai pusat yang menghubungkan titik-titik sekitar serta mengembalikan karakteristik dan sejarah dari lokasi tersebut agar potensi tapak dapat dimanfaatkan sebagai titik transit dan ruang publik yang menghubungkan daerah yang lebih luas, membuat Sunda Kelapa menjadi relevan kembali di kehidupan sehari-hari.
KONSEP RUMAH SUSUN MIKRO DI KAMPUNG TANAH MERAH, JAKARTA UTARA Hendry Vincent Wijaya; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22214

Abstract

There are many urbanisation phenomenon in Indonesia, especially in Jakarta, that create issues of population density which have led to the emergence of large-scale settlements in big cities in the form of ‘kampung’. The aim of this project is to provide a solution to the problem of overcrowding and alternative settlements in the village in the form of micro- architecture. Kampung Tanah Merah, Koja, North Jakarta was chosen, because it has a population density, one of the highest in Jakarta. The qualitative method used by the author in this study, by observing the daily phenomena of residents. Urban acupuncture is used as a design method in this study by looking at the daily lives and behavior of local residents. Urban acupuncture methods use small-scale interventions to transform a larger urban context. The results of this study are in the form of micro housings, and other village supporting facilities. Micro housings are used by using modular units with container materials. In addition to the fulfillment of housing, the building will also be equipped with fulfillment for work and recreation, through facilities such as promenade, open space, warteg corner area and UMKM stalls. From this program, the building can support the village community to support life, work, and recreation so that the 'life, work, and fun' aspects are fulfilled in the village area. This project can answer the problems that exist in the area, so it is hoped that it can revive Kampung Tanah Merah and its surroundings. Keywords: housing; tanah merah village; micro; flats Abstrak Fenomena urbanisasi banyak terjadi di Indonesia, terutama di Jakarta, membuat isu kepadatan penduduk yang menyebabkan munculnya permasalahan pemukiman kumuh di kota-kota besar dalam wujud perkampungan. Tujuan dari proyek ini adalah untuk memberikan alternatif solusi terhadap masalah kepadatan penduduk dan pemukiman kumuh di kampung dalam bentuk mikro arsitektur. Kampung Tanah Merah, Koja, Jakarta Utara dipilih, karena memiliki tingkat kepadatan penduduk, salah satu yang tertinggi di Jakarta. Metode kualitatif digunakan penulis dalam penelitian ini, dengan mengamati fenomena keseharian warga. Urban acupuncture dipakai sebagai metode perancangan dalam penelitian ini dengan melihat keseharian dan perilaku warga sekitar. Metode urban acupuncture menggunakan intervensi skala kecil untuk mengubah konteks perkotaan yang lebih besar. Hasil pada penelitian ini adalah berupa hunian mikro, dan fasilitas penunjang kampung lainnya. Kebaruan hunian mikro yang dipakai menggunakan unit-unit modular dengan material peti kemas. Selain pemenuhan terhadap hunian, bangunan juga akan dilengkapi dengan pemenuhan akan pekerjaan, dan rekreasi, melalui fasilitas seperti promenade, open space, area warteg corner dan warung UMKM. Dari program tersebut, bangunan dapat mendukung masyarakat kampung untuk menunjang kehidupan, pekerjaan, dan rekreasi sehingga terpenuhinya aspek ‘life, work, n fun’ pada area kampung. Proyek ini dapat menjawab permasalahan yang ada pada kawasan, sehingga diharapkan dapat menghidupkan kembali Kampung Tanah Merah dan sekitarnya.
“SPECTACLE GALLERY” MUARA BARU Wendy Wennas; F. Tatang H. Pangestu2
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22215

Abstract

The development of the city of Jakarta began in the seafront area, which later developed into the city center as a port. For example, the Sunda Kelapa Harbor, has been used since the time of Tarumanegara and is often contested to control trade. Now coastal areas are starting to be abandoned because they continue to experience disasters. Close to the port, in the Muara Baru area, there is a mosque that has sunk due to an old embankment that collapsed by the tidal flood and is now a blind witness that Jakarta will sink. In the past, the area was active; there were many fishing activities and routine recitations. Now the area is limited by a new 4 meter high embankment and the availability of facilities and infrastructure is also insufficient. Because of this, the identity of the area becomes negative and continues to experience physical, social, and mental degradation. So the aim of this project is to provide awareness and innovation to the issue, using the concept of "Spectacle Gallery", i.e., architecture becomes the gallery itself. From the memory of the area to the initial issue of flooding to drowning and the solution of floating houses. Not only that, it aims to revive the area with a positive identity by exhibiting the work of the community from various village points in the area. As a liaison between humans and the surrounding environment, as well as humans with other humans, in accordance with the design theme, namely "Urban Acupuncture". Keywords:  Degradation; Muara Baru; Urban Acupuncture Abstrak Perkembangan Kota Jakarta dimulai pada daerah pinggir laut, yang kemudian berkembang menjadi pusat kota sebagai pelabuhan. Contohnya Pelabuhan Sunda Kelapa, telah dipakai sejak zaman Tarumanegara dan sering diperebutkan untuk mengendalikan perdagangan. Sekarang daerah pesisir mulai ditinggalkan karena terus mengalami bencana. Dekat dengan pelabuhan, di kawasan Muara Baru, terdapat sebuah Masjid yang sudah tenggelam akibat tanggul lama yang runtuh oleh banjir rob dan sekarang menjadi saksi buta Jakarta akan tenggelam. Dahulu wilayah tersebut aktif, terdapat banyak aktivitas nelayan dan pengajian rutin, sekarang wilayah tersebut dibatasi oleh tanggul baru setinggi 4 meter dan keberadaan sarana dan prasarana juga tidak mencukupi. Karena hal tersebut, identitas kawasan menjadi negatif dan terus mengalami degradasi fisik, sosial, dan mental. Sehingga tujuan dari proyek ini adalah memberikan kesadaran dan inovasi terhadap isu, menggunakan konsep “Spectacle Gallery” yaitu arsitektur menjadi galeri itu sendiri. Dari memori kawasan terhadap isu awal banjir hingga tenggelam dan solusi rumah apung. Tidak hanya itu, hal ini bertujuan untuk menghidupkan kembali kawasan dengan identitas positif, dengan memamerkan hasil karya masyarakat dari berbagai titik kampung pada kawasan. Sebagai penghubung manusia dengan lingkungan di sekitarnya, serta manusia dengan manusia lainnya, sesuai dengan tema perancangan yaitu “Urban Acupuncture”.
MENGUBAH FENOMENA BANJIR MENJADI SEBUAH PEMBERIAN Christofer Rendi; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22222

Abstract

Floods are familiar to the people of Jakarta. The definition of the flood itself is a condition where the volume of air gathers so much that it overflows. Every year there is land subsidence of approximately six centimeters caused by several factors, namely groundwater extraction, construction loads such as buildings in Jakarta, natural consolidation of alluvium soil, and tectonic soil subsidence. The alternatives applied are inadequate to deal with the flood phenomenon. It is time to try another alternative: changing our view of the flood phenomenon as something that is not harmful and can produce something. One alternative that is used to change the view that floods are harmful is to use floods as a spectacle, and air installations to introduce floods to the public. After flooding becomes a phenomenon that can be exploited, people can disseminate knowledge about how to use flooding to become a beneficial phenomenon. Keywords: Flood; Harmful; Point of View; Water Abstrak Banjir sudah tidak asing didengar oleh masyarakat-masyarakat Jakarta. Pengertian banjir sendiri merupakan kondisi dimana volume air berjumlah banyak sehingga meluap. Setiap tahun terjadi penurunan tanah sekitar kurang lebih enam sentimeter yang disebabkan oleh beberapa faktor yakni pengambilan air tanah, beban konstruksi seperti bangunan-bangunan yang ada di Jakarta, dan pergerakan tanah tiap tahunnya. Alternatif-alternatif yang diterapkan kurang cukup untuk menangani fenomena banjir. Sudah saatnya untuk mencoba alternatif lain yakni dengan mengubah pandangan kita terhadap fenomena banjir sebagai suatu fenomena yang tidak merugikan, dan dapat membuahkan sesuatu. Salah satu alternatif yang digunakan untuk mengubah pandangan bahwa banjir merugikan adalah memanfaatkan banjir menjadi sebuah tontonan, dan instalasi-instalasi air untuk mengenalkan banjir kepada masyarakat. Setelah banjir menjadi fenomena yang dapat dimanfaatkan, masyarakat dapat menyebarluaskan pengetahuan akan memanfaatkan banjir menjadi fenomena yang menguntungkan.
PENGGUNAAN KEMBALI BANGKAI BUS TRANSJAKARTA SEBAGAI MODUL PASAR PESING KONENG Kristopher Henrico Ali; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22228

Abstract

Pesing Koneng Market is a wild market that has been operating in the Pesing area for a long time. In the past, the Pesing market managed to attract visitors from remote areas of Batavia. However, seeing its development which has given rise to various problems,  Urban Acupuncture strategy is needed to respond the degradation that occurs. Like a hermit crab changing its shell, the Pesing Koneng market that grows beyond its "shell" needs to find a new home for itself. Where the search for a new home or relocation strategy not only improves the market itself, but also affects the surroundings. Inspired by how the market community creatively reuses existing resources, this project seeks to bring these characteristics to a new site. Pesing Koneng market relocation site is close to the existing market. Where the site is a home of abandoned Transjakarta buses. By transfering the characteristics of the market, the reuse of abandoned transjakarta bus is done by breaking down the elements of the bus and using it as space, facilities, and entertainment in the market. This creates a different and unique market atmosphere in order to increase public interest in traditional markets. Keywords:  Market; Relocation; Reuse; Transjakarta Abstrak Pasar Pesing Koneng merupakan pasar liar yang sudah lama beroperasi di daerah pesing. Dahulu, pasar Pesing berhasil menarik pengunjung dari pelosok Batavia. Namun melihat perkembangannya yang memunculkan beragam masalah, diperlukan strategi Urban Acupuncture untuk merespon degradasi yang terjadi. Seperti kelomang yang mengganti cangkangnya, pasar Pesing Koneng yang tumbuh melebihi “cangkang”-nya perlu mencari rumah baru bagi dirinya. Di mana pencarian rumah baru atau strategi relokasi ini tidak hanya memperbaiki pasar itu sendiri, tetapi juga berpengaruh pada sekitarnya. Terinspirasi dari bagaimana masyarakat pasar secara kreatif menggunakan kembali sumber daya yang ada, proyek ini berusaha untuk membawa ciri khas tersebut pada tapak yang baru. Tapak relokasi pasar Pesing Koneng berada dekat dengan pasar eksisting. Di mana tapak tersebut merupakan rumah bagi bangkai bus Transjakarta yang terlantar. Dengan turut memindahkan karakteristik pasar, penggunaan kembali bangkai bus transjakarta dilakukan dengan memecah elemen bus dan menggunakannya sebagai ruang, fasilitas, hingga hiburan dalam pasar. Hal ini menciptakan suasana pasar yang berbeda dan unik demi meningkatkan minat masyarakat terhadap pasar tradisional.

Page 87 of 134 | Total Record : 1332