cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
RUANG KREATIVITAS SAMPAH PLASTIK DI KAPUK BERPOTENSI MEMBANGUN KARYA DAN KREASI Maxi Milleneum Marlim; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22229

Abstract

The problem of waste in Indonesia is still something that is quite serious to be repaired and handled by the community, because of the excessive amount of waste that accumulates and is not resolved. The pile of garbage makes the city area degraded. Because the final garbage shelters are full, temporary garbage shelters have sprung up. According to the data taken, most of the waste is plastic waste which is very difficult to decompose. Plastic is a material that is often used continuously by humans until now. Plastic materials can endanger natural life, damage ecosystems and inhibit the development of living things. The existence of plastic waste can hinder the future development of the city. Likewise, the health condition of the area is also crowded and dirty. Therefore, solutions and unique strategies are needed to reduce the waste problem, and human awareness is needed in the future. Awareness by providing training and teaching about plastic waste and its positive impact in its processing. Especially increasing the awareness of residents in increasing their creativity to get interesting ideas that can give new characteristics to the Kapuk, Cengkareng. The creativity obtained by the residents has the aim of increasing the future development of a cleaner and more well-maintained city from plastic waste, and can make progress in the field of education and the local economy. Keywords: Creativity; Ideas; Plastic; Plastic Waste Abstrak Permasalahan mengenai sampah di Indonesia masih menjadi suatu hal yang cukup serius untuk diperbaiki dan ditangani oleh masyarakat, karena sampah yang ditumpuk dan tidak teratasi memiliki jumlah yang berlebihan. Tumpukkan sampah tersebut membuat kawasan kota mengalami degradasi. Karena tempat penampungan sampah sudah penuh, sehingga bermunculan tempat pembuangan sampah sementara. Menurut data yang diambil kebanyakan sampah yang menumpuk tersebut adalah sampah plastik yang sangat sulit diuraikan. Plastik adalah material yang sering digunakan terus-menerus oleh manusia hingga saat ini. Material plastik dapat membahayakan kehidupan alam, merusak ekosistem dan menghambat perkembangan makhluk hidup. Keberadaan sampah plastik dapat menghambat perkembangan kota untuk kedepannya. Begitu juga dengan kondisi kesehatan kawasan tersebut pun semakin kumuh dan kotor. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah solusi dan strategi yang menarik untuk menangani masalah sampah tersebut, serta dibutuhkan kesadaran manusia dimasa yang akan datang. Kesadaran dengan memberikan pelatihan dan pengajaran mengenai sampah plastik serta dampak positif dalam pengolahannya. Terutama meningkatkan kesadaran warga dalam meningkatkan kreativitasnya untuk memperoleh ide-ide menarik yang dapat memberikan karakteristik baru kawasan Kapuk, Cengkareng. Kreativitas yang diperoleh warga memiliki tujuan untuk meningkatkan perkembangan kota kedepannya yang lebih bersih dan terawat dari sampah plastik, serta dapat memberikan kemajuan dalam bidang pendidikan dan perekonomian setempat.
ARSITEKTUR KAMPUNG BAGI PEMULIHAN KEHIDUPAN SOSIAL-EKONOMI KAMPUNG KERANG MELALUI INTERVENSI WISATA BLUSUKAN DAN INDUSTRI MIKRO Sera Joanne Abigail; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22230

Abstract

The Cilincing Coastal Area in the past served as one of the centers of tourism and trade, as well as a fishing port in Jakarta. Since the growth of the industrial area, the socio-economic conditions of the people on the Cilincing coast have experienced degradation, which is marked by high poverty rates, the emergence of slum settlements, and low education. This phenomenon also occurred in Kampung Kerang, a fisherman village in Kalibaru, Cilincing, North Jakarta. The existence of industrial areas causes a fluctuating flow of urbanization and urges the activities of fishermen who are still left in this area. This study aims to design an architectural project for socio-economic improvement in Kampung Kerang, especially fishermen who still depend on marine products. Through the Urban Acupuncture concept, 'Bale Kijing' Architecture seeks to embrace local wealth in the form of traditional salted fish and mussel processing industries, as well as ‘blusukan’ tourism as a potential for regional economic recovery. This research is using descriptive qualitative method through the study of literature studies from various sources. Architectural processes are bridged by ‘everydayness’ methods. Through observation and mapping of physical characters and daily activities in Kampung Kerang, data were obtained regarding the tendency of architectural characters and patterns of social interaction in Kampung Kerang, then translated into the architectural form of 'Bale Kijing'. Through this approach, it is hoped that a form of architectural intervention can be created that is close to everyday life, and involves the active participation of the community. Keywords:  ‘Blusukan’; ‘Kijing’; Salted-Fish; Urban Acupuncture; Village Abstrak Kawasan Pesisir Cilincing di masa lampau berperan sebagai salah satu pusat pariwisata dan perdagangan, serta pelabuhan ikan di Jakarta. Semenjak pertumbuhan kawasan industri, kondisi sosial-ekonomi masyarakat di pesisir Cilincing mengalami degradasi yang ditandai dengan tingginya angka kemiskinan, munculnya permukiman kumuh, dan rendahnya pendidikan. Fenomena tersebut juga terjadi di Kampung Kerang, salah satu kampung nelayan di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. Keberadaan area industri menyebabkan arus urbanisasi yang fluktuatif serta mendesak aktivitas nelayan yang masih tersisa di kawasan ini. Penelitian bertujuan untuk merancang proyek arsitektur bagi peningkatan sosial-ekonomi masyarakat miskin di Kampung Kerang, khususnya nelayan yang masih bergantung pada hasil laut. Melalui konsep Urban Acupuncture, Arsitektur ‘Bale Kijing’ berusaha merangkul kekayaan lokal berupa industri tradisional pengolahan ikan asin dan kijing, serta wisata blusukan kampung sebagai potensi pemulihan ekonomi kawasan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pengkajian terhadap studi literatur dari berbagai sumber. Proses berarsitektur dijembatani oleh metode keseharian. Melalui observasi dan pemetaan terhadap karakter fisik dan aktivitas keseharian di Kampung Kerang, didapatkan data mengenai kecenderungan karakter arsitektur dan pola interaksi sosial di Kampung Kerang yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk arsitektur ‘Bale Kijing’. Melalui pendekatan ini diharapkan dapat tercipta suatu bentuk intervensi arsitektur yang dekat dengan keseharian, serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
PENGOLAHAN RUANG AKTIVITAS WARGA DENGAN METODE PROGRAM DI KOTA BAMBU UTARA Clara Djohan; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22231

Abstract

North Kota Bambu required a good planning, an environment also influences the behaviour of the people in it. However, often an environment is porrly plannedm resulting in an environment with a building density that is too high, resulting in lacks quality Urban Open Public Space, one of which is North Kota Bambu. Meanwhile, the existence of open space is needed to meet the needs of the surrounding community, as one of the essential needs that accomodates and provides for the needs and tendecies of existing activities in an evironment. North Kota Bambu has a density level that is too dense, resulting in an unhealthy environment. The existence of openness, triggers a healthy environment. To achieve this, the research method used is qualitative data collection and literature study related to the criteria for a healthy environment and the factors that affect the quality of an environment, and the importance of openness to the environment. For the design method,   the program method will be used, which is a method that looks at the tendency of the need for related problems and creates an appropriate program as a form of solving related problem. The result of this study are in the form of design that can blend in with the environment of North Kota Bambu, the formation of open spaces, and the formation of program that can help improve the quality of life by looking at the trend of activities of the people of North kota Bambu. The result of this study are expected to be a solution to the problem of the lack of open space which plays a role in the low quality of life in North Kota Bambu. Keywords: Density; Environment; Oppenness; Public Space; Quality Abstrak Kota Bambu Utara membutuhkan perencanaan yang baik, suatu lingkungan turut memengaruhi perilaku masyarakat didalamnya. Tetapi, seringkali suatu lingkungan direncanakan dengan tidak baik, menghasilkan lingkungan dengan kepadatan bangunan yang terlalu tinggi sehingga kekurangan Urban Open Public Space yang berkualitas, salah satunya Kota Bambu Utara. Adanya ruang terbuka sangatlah dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar, sebagai salah satu kebutuhan esensial yang menampung dan menyediakan kebutuhan dan kecenderungan aktivitas yang ada pada suatu lingkungan. Adanya keterbukaan, memicu terjadinya lingkungan yang sehat. Untuk mencapai hal tersebut, maka metode penelitian yang digunakan adalah pengumpulan data secara kualitatif dan studi literatur terkait dengan kriteria lingkungan yang sehat serta faktor - faktor yang memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan suatu lingkungan, dan pentingnya keterbukaan pada lingkungan . Untuk metode desain akan menggunakan metode program, yaitu metode yang melihat akan kecenderungan akan kebutuhan permasalahan terkait dan memunculkan program yang sesuai sebagai bentuk penyelesaian akan permasalahan terkait. Hasil dari penelitian ini berupa desain bangunan yang dapat berbaur dengan lingkungan Kota Bambu Utara, pembentukan ruang terbuka, serta pembentukan program yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup dengan melihat kecenderungan aktivitas masyarakat Kota Bambu Utara. Hasil dari penelitian ini diharapkan menjadi solusi atas permasalahan kurangnya ruang terbuka yang berperan dalam rendahnya kualitas hidup di Kota Bambu Utara.
MENGHIDUPKAN KEMBALI RUANG SOSIAL PINANGSIA Elizabeth Henry Putri Kosasih; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22232

Abstract

The strategic location of the area makes Pinangsia a center of shopping and trade. The rapid physical development of the city can be seen in the Pinangsia Region, which is why many social spaces are lost. This makes the development process and the lives of city residents increasingly uncertain. The physical condition of the city that can lead to environmental quality degradation. To find out what factors influence the fading of social space in an area, urban acupuncture methods are applied to identify and analyze the site in terms of history and the degradation that occurred. By using the daily design method, the application of this method is applied by reading the social space formed in society so that it can direct the architecture to become an inclusive one. This is done with a participatory approach, namely conducting field surveys and seeking stories from sources. The Pinangsia area is one of the areas experiencing degradation in terms of physical structure and social space. To rebuild the lost layers of the area, a third architectural platform is needed to restore the social space that has begun to fade in accordance with the development of the City of Jakarta. The space that we want to present is a third place where it can be a gathering point for the surrounding community and can be a generator for the Pinangsia Region. The container from this third place will be supported by community hub and transit hub programs. By presenting Pinangsia Connect, dynamic spaces can be accessed by all residents, and connected to the surrounding environment. By presenting a third place in this area as well, it is hoped that it can revive the social space that has long faded and re-attract the local community. Keywords: Daily Life; Degredation; Third Place; Urban Acupuncture Abstrak Letak kawasan yang strategis membuat Pinangsia menjadi  salah satu pusat pertokoan dan perdagangan. Pesatnya pembangunan fisik kota dapat terlihat pada Kawasan Pinangsia, yang mengakibatkan mengapa banyak ruang sosial menjadi hilang. Hal ini membuat proses pembangunan dan kehidupan warga kota menjadi semakin tidak menentu. Kondisi fisik kota yang berantakan mengakibatkan terjadinya degradasi kualitas lingkungan. Untuk mengetahui faktor apa yang mempengaruhi pudarnya ruang sosial suatu kawasan, diterapkan metode urban akupuntur untuk mengidentifikasi dan menganalisis tapak dari segi sejarah dan degradasi yang terjadi. Dengan menggunakan metode desain keseharian, penerapan metode ini diterapkan dengan membaca ruang sosial yang terbentuk dalam masyarakat sehingga dapat mengarahkan arsitektur menjadi suatu yang inklusif. Hal ini dilakukan dengan pendekatan partisipatif, yakni melakukan survey lapangan dan mencari cerita dari narasumber. Kawasan Pinangsia merupakan salah satu kawasan yang mengalami degradasi secara struktur fisik dan ruang sosial. Untuk membangun kembali lapisan yang hilang dari kawasan ini dibutuhkan wadah arsitektur third place untuk mengembalikan ruang sosial yang mulai pudar sesuai dengan perkembangan Kota Jakarta. Ruang yang ingin dihadirkan adalah sebuah third place dimana dapat menjadi titik kumpul bagi masyarakat sekitar dan dapat menjadi generator bagi Kawasan Pinangsia. Wadah dari third place ini akan didukung dengan program community hub dan transit hub. Dengan menghadirkan Pinangsia Connect, ruang dinamis dapat diakses oleh semua penghuni, dan terhubung dengan lingkungan sekitar. Dengan menghadirkan third place pada kawasan ini juga, diharapkan dapat menghidupkan kembali ruang sosial yang sudah lama pudar dan kembali menarik masyarakat setempat.
PERANCANGAN SARANA REKREASI BUDAYA BETAWI DALAM MEMBANGKITKAN KEMBALI KAWASAN JALAN JAKSA Benedictus Leonardus Tamin; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22233

Abstract

Jalan Jaksa is a place where a long history was created. This road is located in Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng, Central Jakarta. Jalan Jaksa started from the phenomenon of backpacker tourists who joined Jalan Jaksa at the end of 1960. Around that time, Jalan Jaksa began to be known internationally with foreign backpacker tourists. This makes local residents see positive business opportunities, so residents start turning their homes into accommodation facilities for backpackers. In addition, this place is an entry for foreign culture that tourists bring when they come or stay on Jalan Jaksa. Currently, the area is experiencing significant degradation, such as social degradation, which can be seen from the decline in tourist visitors to the Jalan Jaksa area due to the disappearance of street vendors, as well as the disappearance of Betawi culture. Then mental degradation which has an impact on people who provide accommodation services, because tourists rarely rent anymore. This has had a huge impact on the economy as well as spatial planning which has caused physical degradation on Jalan Jaksa, which has led to many buildings being rented and sold on that road. Betawi culture is starting to disappear, causing ondel-ondel to be often used to performed for money, this shows that one of our cultures is experiencing a degradation of meaning. The method used is observation which aims to see the activities directly on Jalan Jaksa and contextual methods in order to strengthen the relationship between the site and the surrounding environment. This project aims to heal the Way of the Jaksa by reviving the Betawi culture on Jalan Jaksa, this is because culture is something that gives identity to the community, but if there is a degradation of meaning then the identity will slowly disappear. Through architectural projects as cultural places, programs that are combined with technology, road networks that are conceptualized to connect the site with the surrounding environment, as well as reviving Betawi culture, it is hoped that the problem points on Jalan Jaksa and its surroundings can be healed and have a symbiotic relationship. Keywords:  culture; degradation; symbiosis; technology Abstrak Jalan Jaksa merupakan tempat di mana sejarah yang panjang tercipta. Jalan ini  berada di Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Jalan Jaksa dimulai dari fenomena turis backpacker yang bergabung dengan Jalan Jaksa pada akhir tahun 1960. Sekitar waktu itu, Jalan Jaksa mulai dikenal secara internasional dengan turis backpacker asing. Hal ini membuat warga setempat melihat peluang bisnis yang positif, sehingga warga mulai mengubah rumah mereka menjadi fasilitas akomodasi bagi para backpacker. Selain itu tempat ini menjadi masuknya budaya luar yang dibawa turis saat datang maupun menetap di Jalan Jaksa. Saat ini kawasan tersebut mengalami degradasi yang cukup signifikan seperti degradasi sosial yang dapat dilihat dari turunnya pengunjung turis pada kawasan Jalan Jaksa ini yang diakibatkan hilangnya pedagang kaki lima, dan mulai menurunnya budaya Betawi. Kemudian  degradasi mental yang berdampak bagi masyarakat yang memberikan jasa akomodasi, dikarenakan jarang turis menyewa lagi. Hal ini sangat berdampak pada ekonomi serta tata ruang yang menyebabkan degradasi fisik pada Jalan Jaksa yang membuat bangunan pada jalan tersebut mulai banyak disewa dan dijual. Budaya Betawi yang mulai menghilang menyebabkan ondel-ondel sering digunakan untuk mengamen.  Hal ini menunjukkan bahwa salah satu budaya kita mengalami degradasi makna. Metode yang digunakan adalah observasi yang bertujuan untuk melihat aktivitas secara langsung pada Jalan Jaksa dan metode  kontekstual agar dapat memperkuat hubungan tapak dan lingkungan sekitar. Proyek ini bertujuan untuk menyembuhkan dan menciptakan hubungan simbiosis di Jalan Jaksa melalui budaya Betawi. Hubungan simbiosis ini terbentuk dari kerja sama melalui program yang terhubung dan kerja sama agar bisa bersama-sama berkembang. Budaya memberikan identitas pada masyarakat atau komunitas, namun jika terjadi degradasi makna maka identitas akan hilang perlahan-lahan. Melalui proyek arsitektur sebagai tempat budaya, program yang digabung dengan teknologi, jaringan jalan yang dikonsepkan untuk menghubungkan tapak dengan lingkungan sekitar, serta membangkitkan budaya Betawi kembali, diharapkan titik masalah pada Jalan Jaksa serta sekitarnya dapat disembuhkan dan memiliki hubungan simbiosis.
INOVASI URBAN DI KAMPUNG TAHU TEMPE MELALUI EKSPANSI POTENSI PRODUK OLAHAN TEMPE DAN TAHU Stevans Niuvianto; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22234

Abstract

Located in Johar Baru, precisely in Kampung Rawa , there is a local and existing potential in the form of tempeh and tofu producers. The existing tofu and tempeh producers have been running between generations spanning decades. Tempe and tofu are fermented foods that are widely consumed by Indonesians, which have begun to spread internationally. The purpose of this report is to understand how the expansion of the potential of tofu and tempeh in the urban conditions of Kampung Rawa, Johar Baru could be done in the constraints of its existing conditions. Urban acupuncture is carried out at locations that face contradictions, where there is a coexistence between the old and the new, traffic problems from modern life, and other urban problems. Through the design methods of shape grammar, delicious architecture and gestalt, a space is created that is in harmony with its surroundings and also follows the program. Through production and culinary programs with open public spaces, The possibility of expansion of the potential of tempe and tofu in the Kampung Tahu Tempe can be carried out through the Recesses of the Tofu Tempe Village. Where an integrated area is created, which is more flexible and also invites visitors to the location. Instead of working individually, existing producers can work collectively to create a more effective and efficient work system. Tofu and tempeh products in Tahu Tempe Village can also improve the economy of Johar Baru, expand and improve existing conditions for the residents of Tofu Tempe Village. Keywords: Production and Tourism Space; Settlement Empowerment; Tempeh and Tofu; Urban Innovation Abstrak Berlokasi di Johar Baru tepatnya di Kampung Rawa, terdapat potensi lokal berupa produsen-produsen tempe dan tahu. Produsen tahu dan tempe yang ada sudah berjalan turun temurun yang mencakup berpuluh-puluh tahun. Tempe dan tahu adalah salah satu makanan fermentasi yang luas dikonsumsi oleh warga Indonesia, yang sudah mulai meluas secara internasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami cara dilakukannya upaya ekspansi potensi tahu dan tempe di kondisi ruang urban Kampung Rawa, Johar Baru dan penyegaran guna meningkatkan kondisi kehidupan dan potensi yang ada. Urban acupuncture dilakukan di titik ruang yang menghadapi kontradiksi, dimana terdapat koeksistensi antara yang lama dan baru, masalah lalu lintas dari kehidupan modern, dan permasalahan urban lainnya. Di Kampung Rawa, titik ini memiliki potensi kekayaan yaitu produsen tempe dan tahu yang ada. Melalui metode desain shape grammar, delicious architecture dan gestalt, dihadirkan ruang dengan program baru yang tetap selaras dengan kondisi yang ada. Melalui program produksi dan kuliner dengan ruang publik terbuka diharapkan ruang dapat menjadi ruang kumpul untuk penghuni sekitar dan membawa wisatawan ke lokasi melalui program produksi dan wisata kuliner. Kemungkinan dilakukannya ekspansi akan potensi tempe dan tahu di Kampung Tahu Tempe dapat dilaksanakan melalui Relung Kampung Tahu Tempe. Diciptakan suatu kawasan yang terintegrasi; lebih leluasa; mengundang pengunjung ke lokasi; dan ruang untuk produsen bekerja secara kolektif menciptakan sistem kerja yang lebih efektif dan efisien. Produk tahu dan tempe di Kampung Tahu Tempe juga dapat meningkatkan ekonomi Johar Baru, memperluas dan meningkatkan kondisi yang ada bagi penduduk Kampung Tahu Tempe.
PENERAPAN METODE KESEHARIAN UNTUK MENGHIDUPKAN KEMBALI KAWASAN PIK PENGGILINGAN MELALUI FUNGSI PUSAT OLAHRAGA DAN REKREASI SEBAGAI ATTRACTOR Claresta Gemma Tjong; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22236

Abstract

PIK Penggilingan is a small and medium enterprise area, initially known as a shopping tourism area, before the recent degradation occurred in some spots. Tends to be more active from evening to night, PIK Penggilingan becomes an unproductive area, especially in the afternoon. The lack of green spaces and recreation facilities for the citizens to socialize, gather, and relax makes them, especially the blue-collar workers, feel stressed. Both of these things create many problems, such as an unhealthy lifestyle and environment. Through the application of urban acupuncture, new programs are injected as a medicine, that combined with everydayness method for the currently sick area, beneficial to improve the city's quality in a small-scale intervention. The pattern of everydayness that tends to be unhealthy is formed in the area which is the main reference for determining the right program for this project. Through urban acupuncture and everydayness of this area, sports activities are applied to become a bridge as well as a medicine to the area, thus developing and creating a healthy lifestyle and environment for the citizens. Sports activities are able to have a role in improving the welfare of the citizen, along with accommodating social interactions among them. Therefore, PIK Penggilingan area which was dim and unattractive to the surroundings, can gradually thrive and become a viable sports tourism area. Keywords:  Social Space; Sport and Recreation; Urban Acupuncture Abstrak Kawasan PIK Penggilingan merupakan kawasan industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang pada awalnya dikenal sebagai kawasan wisata belanja, sebelum mengalami degradasi di berbagai titik seperti sekarang.  Cenderung aktif pada sore hingga malam hari, PIK Penggilingan menjadi kawasan yang tidak produktif pada siang hari. Minimnya ruang hijau serta fasilitas rekreasi bagi masyarakat untuk bersosialisasi, berkumpul, maupun relaksasi diri membuat masyarakat, khususnya pekerja pabrik menjadi stres. Kedua hal ini menyebabkan banyak masalah yang timbul, seperti pola hidup masyarakat dan lingkungan yang tidak sehat. Melalui penerapan urban Akupunktur, “program” baru disuntikkan sebagai obat bagi kawasan yang sedang sakit. Dengan cara menggabungkan metode keseharian dan metode urban akupunktur pada kawasan ditujukan untuk meningkatkan kualitas kota menjadi lebih baik dalam intervensi skala kecil. Pola keseharian masyarakat yang cenderung tidak sehat terbentuk dalam kawasan menjadi acuan utama untuk menentukan program yang tepat bagi proyek ini. Dengan begitu, kegiatan olahraga kawasan yang diterapkan dengan metode urban Akupunktur dan keseharian dapat menjadi jembatan sekaligus obat bagi kawasan ini, sehingga dapat berkembang dan menciptakan pola hidup sehat bagi kawasan serta masyarakat setempat. Adanya kegiatan olahraga dapat berperan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mewadahi terbentuknya interaksi sosial di kalangan masyarakat. Dengan begitu, kawasan PIK Penggilingan yang semula redup dan tidak diminati orang, perlahan dapat berkembang dan menjadi kawasan wisata olahraga yang hidup.
PENERAPAN METODE FENOMENOLOGI BIOINSPIRED PADA DESAIN FASILITAS REKREASI KASUAL MULTISENSORI ALAM INDONESIA DI JALAN JAKSA, JAKARTA PUSAT Tiffany Karin Gunawan; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22237

Abstract

Urban Strip Jalan Jaksa is located in the center of the capital city of Indonesia, a country rich in its nature, diversity and culture. However the urban environment of Jalan Jaksa doesn’t reflect Indonesia's natural wealth, but is designed as a “concrete forest” that negatively affects human psychological condition. Few of the factors causing it is the the highly polluted urban environment, the lack of green open space facilities, and the lack of psychological-emotional space that can give color to the daily lives of city residents. With this issue, the design of casual recreation was injected into Jalan Jaksa which has a shortage of recreational facilities and green open spaces in its area. Using bioinspired phenomenological method as the design approach with the theme of tropical rain forests as one of Indonesia's unique nature. The combination of these two methods aims to bring a psychological-emotional space in the middle of an urban environment to help improve the quality of life and have a good impact on the psychological state of the residents of the Jalan Jaksa area, while alse providing a unique local experience, spatial experience as if being in a tropical rainforest of Indonesia. Elements of tropical rain forest are dissected and grouped into biomimicry, biomorphism, and bioutilization which are part of bioinspired which are divided according to the 4 layers of tropical rain forest. The extracted Bioinspired characteristics are then grouped into the five senses to produce a person's multisensory experience in each layer of the tropical rainforest. Keywords:  Bioinspired Phenomenology; Casual Leisure; Indonesia Tropical Rainforest; Multisensory Nature; Urban Livability Abstrak Strip kota Jalan Jaksa berlokasi di Jakarta Pusat, ibukota negara Indonesia yang kaya akan alam, diversitas dan budayanya. Namun sayangnya lingkungan perkotaan Jalan Jaksa tidak mencerminkan kekayaan alam Indonesia, melainkan dirancang sebagai “hutan beton” yang mempengaruhi kondisi psikologi manusia secara negatif. Salah satu penyebabnya adalah kondisi lingkungan perkotaan yang berpolusi tinggi, kurangnya fasilitas ruang terbuka hijau, dan kurangnya ruang psikologis-emosional yang dapat memberi warna pada kehidupan sehari-hari warga kota. Dengan isu ini, perancangan rekreasi kasual disuntikkan ke dalam Jalan Jaksa yang memiliki kekurangan fasilitas rekreasi dan ruang terbuka hijau pada kawasannya. Metode fenomenologi bioinspired dengan tema hutan hujan tropis sebagai salah satu alam khas Indonesia digunakan sebagai pendekatan metode perancangannya. Kombinasi kedua metode ini bertujuan untuk menghadirkan ruang psikologis-emosional di tengah lingkungan perkotaan yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup dan memberi dampak positif bagi keadaan psikologis warga sekitar Jalan Jaksa, sekaligus memberi pengalaman lokal yang unik, pengalaman spasial seakan berada di hutan hujan tropis Indonesia. Unsur hutan hujan tropis dibedah dan dikelompokkan ke dalam biomimicry, biomorphism, dan bioutilization yang merupakan bagian dari bioinspired yang dibagi menurut 4 lapisan hutan hujan tropis. Karakteristik Bioinspired yang telah diekstrak kemudian dikelompokkan ke dalam pancaindra untuk menghasilkan pengalaman multisensori seseorang pada setiap lapisan hutan hujan tropis.
PENDEKATAN SPACE SYNTAX DAN ARSITEKTUR KESEHARIAN SEBAGAI STRATEGI AKUPUNKTUR KOTA DI KAWASAN MUARA ANGKE Selina Sunardi; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22240

Abstract

Muara Angke has great fishery and tourism potential, however, there are still many Muara Angke residents who have a low economy and lack of empowerment. The environment of Muara Angke also seems shabby because of the large amount of unprocessed waste scattered in this area. Clean water crisis also occurs where coastal residents find it difficult to meet their daily water needs. Urban acupuncture is an approach to provide urban spatial planning solutions in order to have a significant improvement impact in a short time. This study is needed to determine the appropriate urban acupuncture points, one of which is the space syntax and everday architecture method in determining the appropriate program for the Muara Angke. So that the design can determine the right program and point to achieve an increase in regional productivity along with improving the environmental quality of the Muara Angke. The data collection method is done by descriptive analysis and the method used in the design is the space syntax and everyday architecture method. This approach aims to read the area, determine the program, and space configuration in the design. Fish processing facilities program at the main point can increase economic productivity. Aligned with the water filtration module and the waste sorting post at the secondary point, that solves the clean water crisis and improves waste management in the area. Thus, the space syntax and everyday architecture approach in design can be a regeneration point for Muara Angke. Keywords: Everyday Architecture; Muara Angke; Urban Acupuncture; Space Syntax Abstrak Muara Angke memiliki potensi perikanan dan wisata yang besar namun, masih banyak warga Muara Angke yang berekonomi rendah dan kurang pemberdayaan. Lingkungan Muara Angke pun terkesan kumuh karena banyaknya sampah tanpa pengolahan yang tersebar di kawasan ini. Krisis air bersih juga terjadi dimana warga pesisir kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Akupunktur kota merupakan sebuah pendekatan untuk memberikan solusi penataan ruang kota agar mendapat dampak perbaikan secara signifikan dalam waktu yang singkat. Studi ini menentukan titik akupunktur kota yang tepat salah satunya dengan metode space syntax dan arsitektur keseharian dalam menentukan program yang sesuai untuk Kawasan Muara Angke. Agar perancangan dapat mementukan program dan titik yang tepat guna mencapai peningkatan produktivitas kawasan sejalan dengan peningkatan kualitas lingkungan Kawasan Muara Angke. Metode pengumpulan data dilakukan dengan analisis deskriptif dan metode yang digunakan pada perancangan adalah metode space syntax dan arsitektur keseharian. Pendekatan ini bertujuan untuk membaca kawasan, menentukan program, dan konfigurasi ruang pada rancangan. Program fasilitas pengolahan hasil laut pada titik utama dapat meningkatkan produktivitas ekonomi. Selaras dengan modul filtrasi air dan pos pemilahan sampah pada titik sekunder menyelesaikan masalah krisis air bersih dan memperbaiki manajemen limbah pada kawasan. Sehingga, pendekatan space syntax dan arsitektur keseharian dalam perancangan dapat menjadi titik regenerasi bagi Kawasan Muara Angke.
SENIOR LIVING SEBAGAI REKONSTRUKSI KEHIDUPAN LANSIA DI PENJARINGAN Evelyn Augustine Tjitra; F. Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22241

Abstract

The welfare of the elderly is still very neglected, especially in Penjaringan which is a sub-district in North Jakarta with the largest elderly population in the capital. The degradation of the quality elderly life in Penjaringan has a fairly high urgency, especially in maintaining the mental health of the seniors. The absence of activities or busyness in their daily lives creates a passive lifestyle from the lack of activities, participation and social interactions needed on a daily basis. The elderly in Penjaringan who lack the opportunity or forum for activities show that their quality of life is getting worse and leads to a decline in the psychological condition or mental health of the elderly. To help the elderly achieve a prosperous life, this project uses an urban acupuncture approach with a method that analyzes and observes the daily life of the elderly in Penjaringan, seeks to improve the quality of life of the elderly and provide welfare with programs that focus on mental health and active participation of the elderly. The project's local intervention in Penjaringan is to create a residential and social environment that supports the principle of the elderly as dignified human beings with an active aging approach. The intervention starts from improving the lifestyle of the elderly who were previously not ideal and passive, then providing a forum for channeling hobbies and activities in individual and social activities to build and support the elderly to achieve a prosperous life. Keywords:  Active; Quality of Life; Elderly; Social Abstrak Kesejahteraan lansia masih sangat kurang diperhatikan terutama di Penjaringan yang merupakan sebuah kecamatan di Jakarta Utara dengan populasi lanjut usia terbanyak di Ibukota. Degradasi kualitas hidup lansia di Penjaringan memiliki urgensi yang cukup tinggi dalam menjaga kesehatan mental para senior tersebut. Tidak adanya kegiatan atau kesibukan dalam kesehariannya menciptakan gaya hidup pasif dari kurangnya kegiatan, partisipasi serta interaksi sosial yang dibutuhkan sehari-hari. Lansia di Penjaringan yang kurang memiliki kesempatan atau wadah untuk beraktivitas menunjukkan kualitas hidup yang semakin memburuk dan berujung pada penurunan kondisi psikologis atau kesehatan mental lansia tersebut. Untuk membantu para lansia mencapai kesejahteraan hidup, proyek ini melalui pendekatan urban acupuncture dengan metode yang menganalisis dan mengamati keseharian lansia di Penjaringan, berusaha meningkatkan kualitas hidup lansia serta memberikan kesejahteraan dengan program yang berfokus pada kesehatan mental dan pastisipasi aktif lansia. Intervensi lokal proyek dalam Penjaringan yaitu menciptakan lingkungan tempat tinggal dan sosial yang mendukung prinsip lansia sebagai manusia yang bermartabat dengan pendekatan active ageing. Intervensi tersebut dimulai dari perbaikan pola hidup lansia yang sebelumnya belum ideal dan pasif, kemudian memberikan wadah untuk menyalurkan hobi serta aktivitas dalam kegiatan individu maupun sosial untuk membangun dan mendukung lansia mencapai kesejahteraan hidup.

Page 88 of 134 | Total Record : 1332