cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
KANTOR PENYULINGAN DAN DISTRIBUSI PENJUALAN AIR BERSIH DI MUARA ANGKE JAKARTA UTARA Jo Angelica Cahaya Fissichella; Budi Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22594

Abstract

Having been a difficult problem to overtake for years, the crises of clear water in Jakarta is reaching a depressing level. The area of North Jakarta is one of the case in which the need of clear water is very high, especially the Muara Angke district due to its dominating roles as domestic fish market and port. The Government has tried to improve the situation by facilitating clear water system so as to provide the source to support the district, however it is not as easy as it is thought. People are still forced to buy clear water in high prices only for them to survive, or to collect rain water for their usages of cooking, drinking and bathing. It is indeed not a good solution because the hygiene of rain water is not guaranteed. New interventions are needed to solve or simply to fix such a problem, and distillation engineering may be one of the improvement. Keywords:  crises; clean water; distillation; Muara Angke Abstrak Krisis akan air bersih sudah mencapai tahap yang sangat memprihatinkan, hal tersebut sudah lama menjadi permasalahan yang sulit untuk ditangani. Kawasan Jakarta Utara merupakan salah satu Kawasan dengan tingkat kekurangan air bersih yang sangat tinggi. Terutama Kawasan Muara Angke, didominasi oleh pasar ikan dan pelabuhan sehingga menyebabkan Kawasan Muara Angke sangat kesulitan air bersih. Pemerintah sudah mengupayakan untuk membuat saluran air bersih menjadi sumber air yang dapat menolong Kawasan tersebut, namun ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Masyarakat diharuskan untuk membeli air dengan harga yang mahal hanya untuk bertahan hidup, atau menampung air hujan yang akan dipakai untuk memasak, minum, dan mandi. Tentu hal ini tidak baik karena kebersihan air hujan yang ditampung sangat tidak terjamin. Maka diperlukan sebuah intervensi baru yang dapat membantu menyelesaikan atau memperbaiki permasalahan ini. Adanya penghasil air bersih yang berkelanjutan melalui metode penyulingan air mungkin menjadi hal yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah krisis air bersih.
METODE KESEHARIAN DALAM PENATAAN KEMBALI KAMPUNG NELAYAN KAMAL MUARA, JAKARTA UTARA, SEBAGAI KAMPUNG WISATA Michelia Giovanni Kurniawan; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22595

Abstract

Kamal Muara Village is a densely populated fishing village located in Kamal Muara Village, Penjaringan District, North Jakarta. This village is one of the villages that was originally intended as a tourist village or better known as Kampung Pelangi. However, the existence of this village as a tourist village did not last long due to the lack of tourist objects in this village. This study aims to dig deeper into the design methods that are appropriate for the realignment of Kampung Kamal Muara as a tourist village. This study used a qualitative research method, namely observing the daily lives of the residents of Kamal Muara village. Observations were made by looking at and mapping the daily life of the population including the spaces for their activities. The use of everyday methods in creating new spaces can improve the spatial quality of the kampung while still being rooted in the everyday life of its inhabitants. In addition, the addition of new programs related to tourism can also attract visitors from outside the area to come so that it will indirectly provide positive synergies for the area. Keywords:  Everydayness; fishermen; jakarta; kamal muara; urban acupuncture; village   Abstrak Kampung Kamal Muara merupakan kampung nelayan padat penduduk yang terletak di Kelurahan Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Kampung ini merupakan salah satu kampung yang awalnya ditujukan sebagai kampung wisata atau yang lebih dikenal sebagai Kampung Pelangi. Namun demikian, keberadaan kampung ini sebagai kampung wisata nyatanya tidak bertahan lama karena kurangnya objek wisata yang terdapat pada kampung ini. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam metode perancangan yang sesuai dalam penataan kembali Kampung Kamal Muara sebagai kampung wisata. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu pengamatan terhadap keseharian penduduk kampung Kamal Muara. Pengamatan dilakukan dengan melihat dan melakukan pemetaan terhadap keseharian penduduk termasuk ruang – ruang kegiatannya. Penggunaan metode keseharian dalam menciptakan ruang baru, dapat memperbaiki kualitas spasial dari kampung tersebut dengan tetap berakar pada keseharian penduduknya. Selain itu, penambahan program baru terkait wisata juga dapat menarik pengunjung dari luar kawasan untuk datang sehingga secara tidak langsung akan memberikan sinergi positif bagi kawasan tersebut.
MEMERDEKAKAN LAPANGAN MERDEKA BARU DI KOTA MEDAN Thierry Henry; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22596

Abstract

Merdeka Square in Medan City, the capital city of North Sumatra Province, with an area of 48,877 square meters has experienced a degradation pattern of space use or function conversion. Initially the Merdeka field was a Green Open Space (RTH) for the city of Medan as well as the lungs of the city and the heart of the city of Medan. In addition to the decline in the function of space, there is also a loss of image due to the development being carried out without regard to the main function and role of the field, which is an issue of significance that will be raised so that it can have a positive impact on the surrounding community of the area. So it is necessary to develop Merdeka Square by returning Green Open Spaces (RTH) which have passed local regulations, developing programs that can restore lost historical and cultural values in the area. Urban Acupuncture can be the answer to the problems that exist on Merdeka Square, with minimal changes but can have a big impact on Merdeka Square itself. The method used for the design is "form follow function", with this method the building is planned in a form that follows its function as a museum in which there are various activities including the museum itself, food court, retail and multifunction hall which can be used when there are events or events as well as performing arts by the public freely. The results of this design can be a future reference or description of the Merdeka Square area so that it can revive and develop for the better according to the function of green open space for the city of Medan. Keywords:  Conversion of functions; green open space; museum; the merdeka square; urban acupuncture Abstrak Lapangan Merdeka di Kota Medan, ibu Kota Provinsi Sumatera Utara, dengan luas 48.877 m² telah mengalami degradasi pola penggunaan ruang atau alih fungsi. Awalnya lapangan Merdeka ini merupakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Medan sekaligus merupakan paru-paru Kota serta jantung dari Kota Medan. Selain telah terjadi penurunan fungsi ruang juga hilangnya citra akibat pembangunan yang dilakukan tanpa memperhatikan fungsi dan peran utama dari lapangan tersebut menjadi isu signifikansi yang akan diangkat agar dapat memberikan dampak positif untuk masyarakat sekitar. Sehingga perlu dilakukan pengembangan Lapangan Merdeka dengan mengembalikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang di mana sudah melewati regulasi peraturan daerah setempat, mengembangkan program yang dapat mengembalikan nilai histori serta budaya yang hilang dikawasan tersebut. Urban Acupuncture dapat menjadi jawaban untuk permasalahan yang ada di lapangan Merdeka, dengan minimnya perubahan tetapi dapat berdampak besar bagi Lapangan Merdeka itu sendiri. Metode yang digunakan untuk perancangan adalah “form follow function”, dengan metode ini direncanakan bangunan dengan bentuk yang mengikuti fungsinya sebagai museum yang di dalamnya terdapat berbagai kegiatan diantaranya museum itu sendiri, foodcourt, retail serta multifunction hall yang dapat digunakan ketika ada event atau acara serta pergelaran seni oleh masyarakat secara bebas. Hasil dari perancangan ini dapat menjadi acuan atau gambaran kedepannya dari kawasan Lapangan Merdeka sehingga bisa hidup kembali dan berkembang menjadi lebih baik sesuai dengan fungsi RTH untuk Kota Medan.
POHON URBAN BLORA: RUANG REHAT UNTUK KOMUTER DI JALAN BLORA Juan Valentino Lumanauw; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22597

Abstract

Blora Street is a road in the Menteng area, Central Jakarta. This street is famous for its shops which are lined up along Jalan Sudirman. However, due to a change in the configuration of the Jalan Blora area, the movements that occur are also changing, and this causes the area to no longer be as busy as it used to be. For this reason, an architectural approach by means of urban acupuncture is used to try to revive an area that is increasingly losing its hustle and bustle. This project is located on one of the vacant lands in the Blora street shopping strip. This project proposes the construction of a break room to meet the community's need for open space as well as a transit space for the community to take a short break from work and the commuting lifestyle they always do. This project aims to provide a space for people to "breathe" in the middle of Jakarta with a lifestyle that is driven by time. The project was designed using the third place method to consider the mobility and possibilities of the new attractor and its relation to the upcoming TOD master plan project in the area. With the results of the project being a form of solution to provide a new attractor for human movement in the area. Keywords:  commuter; Blora street; stopover; rest Abstrak Jalan Blora merupakan jalan yang berada di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Jalanan ini terkenal dengan pertokoannya yang berjejer di sepanjang Jalan Sudirman. Namun karena adanya perubahan konfigurasi Kawasan Jalan Blora, maka pergerakan yang terjadi pun kian berubah, dan mengakibatkan Kawasan tersebut tidak lagi ramai layaknya waktu dahulu. Untuk itu pendekatan arsitektur dengan cara akupuntur urban digunakan untuk mencoba menghidupkan Kembali Kawasan yang semakin lama semakin hilang keramaiannya. Proyek ini berlokasi di salah satu lahan kosong yang ada di strip pertokoan jalan Blora. Proyek ini mengusulkan pembangunan ruang rehat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan ruang terbuka serta ruang singgah bagi masyarakat untuk istirahat sejenak dari pekerjaan serta gaya hidup komuter yang selalu mereka lakukan. Proyek ini bertujuan untuk memberikan sebuah ruang bagi masyarakat untuk “bernafas” di tengah kota Jakarta dengan gaya hidup yang terpacu oleh waktu. Proyek di desain menggunakan metode tempat ketiga untuk mempertimbangkan pergerakan dan kemungkinan atraktor yang baru serta keterkaitannya dengan proyek masterplan TOD yang akan datang di daerah tersebut. Dengan hasil proyek menjadi salah satu bentuk solusi untuk memberikan atraktor baru bagi pergerakan manusia di daerah tersebut.
RUANG EKONOMI BERBASIS AGRIKULTUR DAN PENGOLAHAN AIR KOTOR DENGAN MENGGUNAKAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR ALAMI PADA KAMPUNG APUNG Dewi Nathania Herijanto; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22598

Abstract

Located in rice fields, Kampung Apung was the same as other villages in that it was on the ground and not floating. However, due to changes in topography, time and urban needs, there has been considerable development into an industrial and warehousing area in the surroundings of the Apung village so that the village becomes hollow and sinks. Changes in the area into industry and warehousing have resulted in the area experiencing a shortage of infiltration areas. The sinking of the village interrupts the daily activities of the residents, disrupts the economy and social life of the residents. Local interventions are presented through Urban Acupuncture using everyday methods and typology. The choice of this method is expected to cure the issue of degradation that occurs in the Kampung Apung. The program presented is in the form of structuring Floating Villages into vertical villages and making creative economic activities in villages with an agricultural base that is equipped with dirty water treatment. It is hoped that the presence of this additional program can increase the economy of the residents of the Kampung Apung so that it can have a positive impact on the Apung village. Keywords:  Economic space; agriculture; natural water treatment plant Abstrak Berada pada lahan persawahan di Kapuk, Jakarta Barat, Kampung Apung awalnya sama seperti kampung lainnya yang berada di atas tanah dan tidak terapung. Tetapi karena perubahan topografi, zaman dan, kebutuhan kota, terjadi pembangunan yang cukup besar menjadi kawasan industri dan pergudangan pada lingkungan sekitar kampung Apung sehingga kampung menjadi cekungan dan tenggelam. Perubahan fungsi kawasan menjadi perindustrian dan pergudangan mengakibatkan kawasan mengalami kekurangan area resapan. Tenggelamnya kampung mengganggu aktivitas keseharian warga, perekonomian, dan sosial warga. Intervensi lokal dihadirkan melalui Urban Acupuncture dengan menggunakan metode keseharian dan tipologi. Pemilihan metode ini diharapkan dapat menyembuhkan isu degradasi yang terjadi pada kampung Apung. Program yang dihadirkan berupa penataan Kampung Apung menjadi kampung vertikal dan pembuatan kegiatan ekonomi kreatif pada kampung dengan basis agrikultur yang dilengkapi dengan pengolahan air kotor. Diharapkan dengan hadirnya program tambahan ini dapat menaikkan perekonomian warga kampung Apung sehingga dapat memberi dampak positif bagi kampung Apung.
RENGHUB: MEMPERBARUI BANGUNAN MATI FUNGSI DI AREA MRT LEBAK BULUS GRAB Ayala Jayanegara Widjanarko; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22599

Abstract

The construction of the flyover and Lebak Bulus Grab MRT Station, along the Jakarta-Bogor street, South Jakarta, has had an impact in the form of the death of trade and other activities (the Friday market area, football community, and the Lebak Bulus bus transit area), especially around the station area. MRT. Physical deterioration and activity on these sections must be injected with activity in the hope of being able to restore the dynamics of life, such as building Renghub. Aims to update the function of a dead building. The method used is descriptive qualitative by making direct observations in the field. Data can be obtained by utilizing what is already there (secondary data) and searching for new data (primary data). The results achieved are in the form of interaction activities between MRT users and other means of transportation, which are accommodated in a building with the characteristics of the past, Lebak Bulus and Friday markets. The results achieved still require development in other sectors which in the end can synergize with Renghub, and be able to restore environmental dynamics to the way they were before. Keywords: MRT; mass rapid transit;  death of activities; deterioration; update the function Abstrak Pembangunan jalan layang dan Stasiun MRT Lebak Bulus Grab, di sepanjang jalan Jakarta-Bogor Lebak Bulus, Jakarta Selatan, memberikan dampak dalam bentuk matinya aktivitas perdagangan dan aktivitas lain (area pasar jumat, komunitas bola, dan area transit bus Lebak Bulus) khususnya di sekitar area stasiun MRT. Disebabkan terjadinya degradasi fisik dan aktivitas pada ruas tersebut maka harus disuntikan program dengan harapan mampu mengembalikan dinamika kehidupan, seperti membangun Renghub. Bertujuan untuk memperbaiki fungsi bangunan yang sudah mati. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menyandingkan antara data dan konsep Urban Acupuncture. Data dapat diperoleh dengan melakukan pengamatan di lapangan secara langsung, apa yang sudah ada (data sekunder) dan pencarian data baru (data primer). Hasil yang dicapai dalam bentuk aktivitas interaksi antar pengguna MRT dan alat transportasi lain, yang ditampung dalam sebuah bangunan dengan karakter masa lalu Lebak Bulus dan Pasar Jumat dengan memasukan konsep arsitektur berkelanjutan. Untuk mencapai hasil yang sempurna masih diperlukan pengembangan pada sektor-sektor lain yang pada akhirnya dapat bersinergi dengan Renghub, dan mampu mengembalikan dinamika lingkungan yang berkembang.  
PENERAPAN METODE ADAPTIVE REUSE DALAM PROYEK REVITALISASI BANGUNAN SCHEEPSWEERVEN Kevin Soekanda; Irene Syona Darmady
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22600

Abstract

Kota Tua is one of the famous historical tourist attraction in Jakarta and one of the most visited tourist destination in Jakarta.  This area is always crowded by tourist and made this area one of the most favourable area on weekend or on a public holiday.  However, on the corner side of Kota Tua there is a degradated area. This area is called Galangan Kapal Batavia ( Batavia ship warf ) which was built by a Dutch Colonial as a Shipwarf complex. On this area there is a degradated building that is called Scheepsweerven. The degradation that was discovered on this building are caused by age and function degradation. Hence to face this problem, the writer uses the Urban Acupuncture approach follows by adaptive reuse method as a strategy to revitalize the building. This method is also supported by “New inside Old Outside” concept that gives a plot twist effect to the visitor’s space experiences. The goal of this project is to change people perception  about    “The old structure is boring”.  The Programme that is used on the site is a flexible programme such as Contemporary art gallery and a creative art space. These programme was created based on the surrounding’s area rigid building characteristic. The final aim for this project is  to keep the authenticity of the building and to make this building a point of interest for the tourist. Keywords:  adaptive reuse; Kota Tua; New Inside Old Outside; Revitalization; Scheepsweerven Abstrak Kawasan Kota Tua merupakan salah satu tempat wisata bersejarah di Jakarta yang sangat terkenal dan merupakan salah satu destinasi wisata yang sering dikunjungi oleh turis lokal maupun mancanegara yang datang ke Kota Jakarta. Kawasan ini sangat diminati wisatawan sehingga menjadikan kawasan ini menjadi kawasan wisata sejarah yang ramai, baik saat libur maupun saat hari biasa. Namun, pada tepian kawasan Kota Tua terdapat sebuah area yang sepi dan terdegradasi.  Kawasan tersebut adalah kawasan Galangan Kapal Batavia yang pada zaman kolonial Belanda merupakan sebuah kompleks galangan kapal.  Pada kawasan tersebut ditemukan sebuah bangunan terdegradasi yang disebut dengan Scheepsweerven. Degradasi yang ditemukan pada bangunan ini berupa degradasi fisik dan fungsi pada bangunan.  Menanggapi masalah degradasi tersebut, digunakanlah pendekatan Urban Acupucture dengan metode perancangan adaptive re-use untuk merevitalisasi dan menjaga Bangunan Scheepsweerven agar tetap terjaga. Metode tersebut juga didukung dengan konsep “New Inside Old Outside” yang memberikan kesan “plot twist” pada pengunjung dengan harapan agar dapat mengubah persepsi pengunjung mengenai  “Bangunan tua itu membosankan”.  Berdasarkan konsep dan karakteristik bangunan pada kawasan sekitar yang berkarakter tetap, maka program yang digunakan pada ketiga tapak  adalah program yang bersifat fleksibel dan dapat mendukung area promenade, seperti program galeri seni kontemporer pada Bangunan Scheepsweerven.  Dengan tujuan akhir untuk menjaga keutuhan dan keaslian bangunan dari Bangunan Scheepsweerven dan agar bangunan ini dapat diminati oleh wisatawan yang berkunjung.
FASILITAS KEMATIAN KONTEMPORER: TERRAMASI, GALERI KEMATIAN, DAN KONSELING DUKA DI PIK - JAKARTA UTARA Cynthia Anggita; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22602

Abstract

Death is something that can’t be avoided. Everyone will face death and will end up in the cemetery. In general, the funeral is done only by being buried. The longer the burial space needed, the wider it will be. Cemetery land, especially in big cities like Jakarta, is starting to decrease. The stigma that arises in Indonesian society towards cemeteries tends to be negative because they are considered scary and haunted, so the cemetery area is an area to avoid. Apart from that, it isn’t easy for families who have been left behind by loved ones, the grief experienced is very deep and lasts a long time. Therefore, the Contemporary Death Facilities: Terramation, Gallery of Death, and Grief Counseling at PIK - North Jakarta is designed to answer the need for burial grounds and funeral rooms. The terramation facility can be said to be unique because it uses the Human Composting method which is the leading technology without destroying the environment. As a method of composting the body/human body using organic materials. Turning bodies into nutrient-rich soil to fertilize nearby urban gardens or forests. Meanwhile, an ordinary burial turns out to poison the surrounding land. As well as equipped with a memorial garden and public garden. To reduce the spooky and haunted impression of this facility, deepen the space with the help of natural and artificial lighting systems, to create the impression of a comfortable, friendly and pleasant space both in the circulation area and in each room. Providing gallery facilities about death to provide education to the surrounding community about various matters regarding death to terramation burial methods. Grief counseling facilities are also provided to heal emotional wounds caused by the loss of a loved one. Keywords:  death; facility; gallery of death; grief counseling; terramation   Abstrak Kematian merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Setiap orang akan menghadapi kematian dan akan berakhir di pemakaman. Pada umumnya pemakaman dilakukan hanya dengan dikubur saja. Semakin lama lahan pemakaman yang dibutuhkan semakin luas. Lahan pemakaman terutama di kota besar seperti Jakarta mulai berkurang. Timbul stigma masyarakat Indonesia terhadap tempat pemakaman pun cenderung negatif kerena dianggap seram dan angker, sehingga area pemakaman menjadi area yang dihindari. Selain itu bagi keluarga yang ditinggalkan oleh orang yang dicintai tidaklah mudah, duka yang dialami sangat mendalam dan dengan waktu yang lama. Oleh karena itu, Fasilitas Kematian Kontemporer: Terramasi, Galeri Kematian, dan Konseling Duka di PIK - Jakarta Utara ini di desain untuk menjawab kebutuhan akan lahan pemakaman berserta ruang dukanya. Fasilitas terramasi dapat dikatakan unik kerena menggunakan metode human composting yang merupakan teknologi terdepan tanpa merusak lingkungan. Sebagai metode pengomposan jasad/tubuh manusia dengan menggunakan bahan dasar organik. Mengubah tubuh menjadi tanah yang kaya akan nutrisi untuk menyuburkan kebun atau hutan kota terdekat. Sedangkan pemakaman biasa ternyata meracuni tanah disekitarnya. Serta dilengkapi dengan taman memorial dan taman publik. Untuk mengurangi kesan seram dan angker pada fasilitas ini adalah pendalam ruang dengan bantuan sistem pencahayaan alami dan buatan, untuk menciptakan kesan ruang yang nyaman, bersahabat dan menyenangkan baik area sirkulasi maupun pada setiap ruangnya. Menyediakan fasilitas galeri tentang kematian untuk memberikan edukasi kepada masyarakat disekitarnya tentang berbagai hal mengenai kematian hingga metode pemakaman terramasi. Disediakan juga fasilitas konseling duka untuk memulihkan luka emosional akibat kehilangan orang yang dicintai.
MENGHIDUPKAN KEMBALI LOKASARI SESUAI DENGAN KESEJAMANAN MELALUI METODE AKUPUNKTUR URBAN DAN PERSEPSI SPASIAL Devita Garcia; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22603

Abstract

Taman Hiburan Rakyat (THR) or Folk Entertainment Park Lokasari, a commercial complex located in Mangga Besar, West Jakarta, is one of the most popular entertainment places in the past. Starting from its past as Prinsen Park, an amusement and theater center, consequently became Lokasari Square with its various nightclubs that make it active 24 hours, this place was infamous for its entertainment and bad image from society. As time went by, a degradation in its functions and spaces happened at THR Lokasari. The spaces that were used to accommodate social activities have gone, and slowly this complex became dull and left out. Therefore, THR Lokasari will receive an intervention through urban acupuncture approach to accomplish a 24-hour social and economic place as a rejuvenation to the area. With a view to minimalizing the intervention, the former structures will remain, yet some additions and improvements will be applied to the space functions. The implementation will be an addition of a green park and culinary street as green and social open spaces, which will also improve Lokasari Square as a shopping and entertainment center. The intervention will be focused on the most active area in the complex which is divided into three zones, namely Prinsen “Park”, Old Lokasari, and Neo Lokasari, each with a different spatial experience to achieve visitors’ positive spatial perception. This intervention is expected to make THR Lokasari a place that provides society’s needs, thus receiving a new positive image.    Keywords:  entertainment; identity; social Abstrak Taman Hiburan Rakyat (THR) Lokasari, sebuah kompleks perniagaan yang berlokasi di Mangga Besar, Jakarta Barat, merupakan salah satu tempat hiburan yang populer di masa lalu. Berangkat dari masa lalunya sebagai Prinsen Park, pusat seni sandiwara dan teater, kemudian Lokasari Square dengan ragam klub malam yang membuatnya aktif 24 jam, tempat ini menjadi terkenal akan hiburannya dan menuai citra buruk dari masyarakat. Seiring berjalannya waktu, THR Lokasari mengalami degradasi fungsi dan fisik. Ruang-ruang untuk menaungi kegiatan sosial masyarakat telah hilang, dan perlahan-lahan kompleks ini menjadi kian sepi dan ditinggalkan. Untuk itu, THR Lokasari akan menerima intervensi melalui pendekatan akupunktur urban untuk menjadi tempat sosial dan ekonomi yang aktif selama 24 jam sebagai upaya membarui kembali kawasan. Dengan tujuan untuk meminimalkan intervensi, struktur yang sudah ada tetap dipertahankan, namun dilakukan penambahan maupun perbaikan fungsi ruang. Penerapannya dilakukan dengan menambahkan taman hijau dan jalan kuliner khusus pejalan kaki sebagai ruang terbuka hijau dan sosial, yang juga akan turut memperbaiki Lokasari Square sebagai sebuah pusat perbelanjaan dan hiburan. Intervensi difokuskan pada area teraktif kompleks yang dibagi menjadi tiga zona, yaitu Prinsen “Park”, Old Lokasari, dan Neo Lokasari, masing-masing dengan pengalaman ruang yang berbeda untuk membentuk persepsi spasial pengunjung yang positif. Intervensi ini diharapkan dapat menjadikan THR Lokasari sebagai tempat yang mampu menyediakan kebutuhan masyarakat sekitar dan memiliki citra baru yang positif.
STRATEGI PENERAPAN KONSEP ADAPTIVE REUSE PADA BANGUNAN BERSEJARAH OLYMPIA PLAZA MEDAN Sally Tanaka; Agnatasya Listianti Mustaram
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22604

Abstract

Olympia Plaza is one of the historic buildings located in the Central Market area of ​​Medan City, where this area is a vital trading area because it is not far from the city center (<1 km). Olympia Plaza itself was known as the most complete mall of its time (1980), so it is only natural that this place is crowded with visitors and is a favorite mall for all people. This of course also makes Olympia have a big impact and influence on the Central Market area. However, Olympia's glory days are slowly fading after a decade or so due to the shopping center located right next to it as well as the discontinuation of self-service operations and the multiple occurrences of fires within the plaza. As a result of the degradation of Olympia Plaza, the Central Market Area experienced 'paralysis' where this area still exists but is felt differently due to reduced movement in the area. Therefore, this study aims to revive and preserve historical buildings through the concept of adaptive reuse. The method used in this project is using the heritage future method and the contextual method as a basic design guideline. The condition of the existing buildings that need to be repaired and maintained is also analyzed to obtain a design synthesis that will become part of the concept and strategy for implementing adaptive reuse in the Olympia Plaza Medan building. In conclusion, this research is expected to provide an overview to the public about the importance of efforts to maintain and preserve historic buildings as the identity of a city, where one example is the Olympia Plaza Medan building. Keywords: adaptive reuse; historical building; preservation Abstrak Olympia Plaza merupakan salah satu bangunan bersejarah yang terletak di kawasan Pusat Pasar Kota Medan, dimana kawasan ini merupakan sebuah kawasan perdagangan yang vital karena letaknya yang tidak berjauhan dari pusat kota (<1 km). Olympia Plaza sendiri terkenal sebagai mal paling lengkap pada masanya (1980), sehingga sangat wajar tempat tersebut ramai dikunjungi dan sebagai mal favorit semua kalangan. Hal ini tentu juga membuat Olympia memiliki dampak dan pengaruh yang besar pada kawasan Pusat Pasar. Akan tetapi, masa-masa kejayaan Olympia perlahan memudar setelah menginjaki selama kurang lebih satu dekade yang disebabkan oleh pusat perbelanjaan yang terletak persis di sampingnya dan juga karena adanya pemberhentian operasi swalayan serta beberapa kali terjadinya kebakaran di dalam plaza tersebut. Akibat terdegradasinya Olympia Plaza, Kawasan Pusat Pasar mengalami 'kelumpuhan' dimana kawasan ini masih tetap ada tetapi dirasakan berbeda karena pergerakan atau movement yang berkurang pada kawasan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menghidupkan kembali serta melestarikan bangunan bersejarah melalui konsep adaptive reuse. Adapun metode yang digunakan dalam proyek ini yaitu menggunakan metode heritage future dan metode kontekstual sebagai pedoman dasar perancangan. Kondisi bangunan eksisting yang perlu diperbaiki dan dipertahankan juga dianalisis agar mendapatkan sebuah sintesis desain yang akan menjadi bagian dari konsep dan strategi penerapan adaptive reuse pada bangunan Olympia Plaza Medan. Kesimpulannya, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa pentingnya upaya untuk mempertahankan dan melestarikan bangunan bersejarah sebagai identitas sebuah kota, dimana salah satu contohnya yaitu bangunan Olympia Plaza Medan.

Page 94 of 134 | Total Record : 1332