cover
Contact Name
M. Arifki Zaianro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
m.arifkiz@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Imam Bonjol Gang Sultan Anom Perumahan Sultan Anom Residence Blok D No 1
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
MAHESA : Malahayati Health Student Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 2746198X     EISSN : 27463486     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MAHESA : Malahayati Health Student Journal, dengan nomor ISSN 2746-198X (Cetak) dan ISSN 2746-3486 (Online) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh DIII Keperawatan Universitas Malahayati Lampung. MAHESA : Malahayati Health Student Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan. MAHESA : Malahayati Health Student Journal telah menggunakan Open Journal System dimana penulis, editor dan reviewer bisa memantau proses naskah secara online. Dalam satu tahun MAHESA : Malahayati Health Student Journal terbit sebanyak 4 kali yaitu pada bulan Maret, Juni, September, Desember.
Articles 1,781 Documents
Efektivitas Pemberian Jus Timun (Cucumis Sativus) terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Ibu Hamil dengan Hipertensi Fase 1 di Desa Kutagandok Wilayah Kerja Puskesmas Kutamukti Karawang Tahun 2024 Riza Faulina; Regita Septiany
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i9.20430

Abstract

ABSTRACT pregnant mothers including pharmacological and non-pharmacological approaches. Natural resources like cucumbers, proven to lower high blood pressure, can serve as non-pharmacological treatments. The aim of this study is to find out how effective the administration of Cucumis sativus juice is against the decrease in blood pressure in pregnant women with phase 1 hypertension in the village. I will give the work area of public health center, which I will prove to be 2024. The study used a quasi-experimental method with 30 respondents divided into intervention groups who were given 100 grams or 150 ml of cucumber juice therapy in the morning 15–30 minutes before meals for 7 days and the control group who were not given cucumber juice treatment. The result of the statistical analysis is a p value of0,001. If this indicates a p-value of 0.05, then H1 is accepted in the sense that there is a significant difference between systolic and diastolic blood pressure before and after the administration of cucumber juice therapy. Cucumber juice contains potassium, postasium, magnesium, and phosphorus, helping the body maintain a balance of salts, sodium, and fluids in the body. Potassium ions are the main component of the intracellular fluid due to the vasodilating properties of the blood vessels. This causes an increase in the concentration of intra-cellular fluids and a tendency to pull fluids from the extra-cellular part, resulting in a decrease in blood pressure. Keywords: Hypertension, Cucumber Juice, Pregnant Women.  ABSTRAK Hipertensi dalam kehamilan dapat membahayakan ibu dan janin, pengobatan hipertensi ibu hamil termasukfarmakologi dan non farmakologi. pengobatan non farmakologi dapat menggunakan sumber daya alam seperti mentimun, yang bisa dikonsumsi sebagai minuman yang telah terbukti menurunkan tekanan darah tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana efektivitas pemberian jus timun (cucumis sativus) terhadap penurunantekanan darah pada ibu hamil dengan hipertensi fase 1 di desa kutagandok wilayah kerja puskesmas kutamukti karawang tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan 30 responden yang terbagi ataskelompok intervensi yang diberikan terapi jus mentimun 100 gr atau 150 ml pada pagi hari 15-30 menit sebelum makan selama 7 hari dan kelompok kontrol yang tidak diberikan terapi jus mentimun, Hasil penelitian didapatkan nilai p sebesar 0,001 ini menunjukkan nilai p0,05 maka H1 diterima dalam arti terdapat pengaruh ada perbedaan yangsignifikan antara tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah pemberian terapi jus mentimun. Jus mentimun mengandung kalium, postassium, magnesium, dan fosfor, membantu tubuh menjaga keseimbangan garam, natrium, dan cairan dalam tubuh. Ion kalium adalah komponen utama cairan intraseluler karena sifat vasodilatasipembuluh darah. Ini menyebabkan peningkatan konsentrasi cairan intraseluler dan kecenderungan untuk menarik cairan dari bagian ekstraseluler, yang mengakibatkan penurunan tekanan darah. Kata Kunci: Hipertensi, Jus Mentimun, Ibu Hamil.
Efektivitas Rekam Medis Elektronik dalam Menunjang Kinerja di Instalasi Rekam Medis RSUD Provinsi NTB Sukriani Sukriani; Menap Menap
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i9.21790

Abstract

ABSTRACT Digital transformation in the healthcare sector is one of the government's steps to improve service quality, one of which is through the implementation of Electronic Medical Records (EMR) in various healthcare facilities. EMR is an innovative solution to support work efficiency, speed of information access, and accuracy of medical data recording. The NTB Provincial Hospital, as a provincial referral hospital, has implemented the EMR system since December 2023. However, the effectiveness of its implementation still needs to be assessed determine its actual impact in improving the performance of the Medical Records Installation. This study aims to evaluate the extent to which the EMR system supports the effectiveness of medical records installations in terms of accelerating administrative services, accurately recording patient information, facilitating data access between service units, and saving time and money. Furthermore, this study also aims to identify various obstacles encountered during the implementation process. This research used a descriptive qualitative method with a case study approach, conducted at the Medical Records Installation of the NTB Provincial Hospital in June 2025. The research informants consisted of 10 people consisting of medical records officers, installation heads and RME system technicians selected through purposive sampling techniques. Data collection techniques were carried out through semi-structured interviews and analyzed using thematic analysis techniques. The use of EMR was deemed quite effective in accelerating patient data recording and retrieval, improving the accuracy of medical information, and streamlining coordination between units. However, the implementation of the EMR system still faces several challenges, such as limited technological infrastructure, suboptimal integration of the EMR system with other platforms, and minimal training provided to staff. Improving managerial support, strengthening human resource training, and developing a more integrated system are factors worthy of attention to ensure the sustainability of EMR implementation as expected. Keywords: Medical Records Installation, Performance, Electronic Medical Records (EMR).  ABSTRAK Transformasi digital dalam sektor kesehatan menjadi salah satu langkah pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan, salah satunya melalui implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) di berbagai fasilitas layanan kesehatan. RME sebagai solusi inovatif dalam mendukung efisiensi kerja, kecepatan akses informasi, serta akurasi pencatatan data medis. RSUD Provinsi NTB, sebagai rumah sakit rujukan tingkat provinsi, telah mengimplementasikan sistem RME sejak Desember 2023. Namun, pelaksanaannya masih perlu dikaji untuk memastikan bagaimana dampaknya secara menyeluruh terhadap peningkatan kinerja di Instalasi Rekam Medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana sistem RME menunjang efektivitas kerja instalasi rekam medis dalam hal percepatan layanan administrasi, ketepatan pencatatan informasi pasien, kemudahan akses data antarunit pelayanan, serta efisiensi waktu dan biaya. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan mengidentifikasi berbagai faktor kendala yang dihadapi selama proses implementasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, dilaksanakan di Instalasi Rekam Medis RSUD Provinsi NTB pada Juni 2025. Informan penelitian berjumlah 10 orang yang terdiri dari petugas rekam medis, kepala instalasi dan teknisi sistem RME yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur dan dianalisis menggunakan teknik thematic analysis.Penggunaan RME dinilai cukup efektif dalam mempercepat pencatatan dan pencarian data pasien, meningkatkan akurasi informasi medis, serta memperlancar koordinasi antarunit. Namun demikian, penerapan sistem RME masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, belum optimalnya integrasi sistem RME dengan platform lain, serta minimnya pelatihan yang diberikan kepada petugas. Peningkatan dukungan manajerial, peningkatan pelatihan sumber daya manusia dan pengembangan sistem yang lebih terintegrasi menjadi faktor yang patut diperhatikan guna menjamin keberlanjutan implementasi RME sesuai yang diharapkan. Kata Kunci: Instalasi Rekam Medis, Kinerja, Rekam Medis Elektronik (RME).
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Penulisan E-Resep Obat di Puskesmas Se-Kabupaten Lombok Timur Normala Candra Puspita; Menap Menap; Sabar Setiawan
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i9.24729

Abstract

ABSTRACT Conventional prescription systems face significant limitations regarding handwriting illegibility and interpretation errors that delay healthcare services. This study aims to analyze policy, facility, workload, and interest factors influencing electronic prescription writing in Community Health Centers across East Lombok Regency. The research method employs a descriptive quantitative approach with cross-sectional design involving 93 medical personnel through online surveys. Data analysis uses Path Analysis with Partial Least Square-based Structural Equation Modeling. Results show interest as the strongest predictor of e-prescription writing (β=0.601; p0.001) with 92.5% adoption rate. Workload has dominant influence on interest (β=0.489; p0.001) and significantly affects e-prescription writing both directly (β=0.296; p=0.014) and indirectly through interest mediation (β=0.294; p0.001). Policy significantly influences interest (β=0.289; p=0.001) and e-prescription writing (β=0.281; p=0.002) with interest mediation effect (β=0.174; p=0.006). Facilities only directly influence e-prescription writing (β=0.227; p=0.023). The model explains 59.3% variance in e-prescription writing. Recommendations include prioritizing workload management, policy strengthening, technological facility improvement, and continuous interest enhancement programs. Keywords: Electronic Prescription, Facilities, Interest, Policy, Workload. ABSTRAK Sistem peresepan konvensional menghadapi keterbatasan signifikan terkait ketidakjelasan tulisan dan kesalahan interpretasi yang memperlambat pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor kebijakan, fasilitas, beban kerja, dan minat yang mempengaruhi penulisan resep elektronik di Puskesmas se-Kabupaten Lombok Timur. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional terhadap 93 tenaga medis melalui survei daring. Analisis data menggunakan Path Analysis dengan Structural Equation Modelingberbasis Partial Least Square. Hasil menunjukkan minat merupakan prediktor terkuat penulisan e-resep (β=0,601; p0,001) dengan tingkat adopsi 92,5%. Beban kerja memiliki pengaruh dominan terhadap minat (β=0,489; p0,001) dan berpengaruh signifikan terhadap penulisan e-resep secara langsung (β=0,296; p=0,014) maupun tidak langsung melalui mediasi minat (β=0,294; p0,001). Kebijakan berpengaruh signifikan terhadap minat (β=0,289; p=0,001) dan penulisan e-resep (β=0,281; p=0,002) dengan efek mediasi minat (β=0,174; p=0,006). Fasilitas hanya berpengaruh langsung terhadap penulisan e-resep (β=0,227; p=0,023). Model menjelaskan 59,3% varians penulisan e-resep. Disarankan prioritas pengelolaan beban kerja, penguatan kebijakan, peningkatan fasilitas teknologi, dan program peningkatan minat berkelanjutan. Kata Kunci: Beban Kerja, Fasilitas, Kebijakan, Minat, Resep Elektronik.
Motivasi dan Dukungan Keluarga sebagai Determinan Utama Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien TB-HIV Tresna Dwi Andarbeni; Eli Indawati
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i9.24630

Abstract

ABSTRACT Pulmonary tuberculosis remains a major global health threat with high morbidity and mortality, including in Indonesia, where hundreds of thousands of cases and TB-HIV coinfections continue to occur. The complexity of therapy, social stigma, and psychological factors worsen poor treatment adherence, highlighting the need for interventions based on knowledge, motivation, and social support. This study aimed to identify factors influencing medication adherence among TB-HIV patients. This study employed a quantitative analytic observational design with a cross-sectional approach, involving 16 TB-HIV patients at Pasar Rebo General Hospital from November to December 2025. Research instruments included a modified MMAS-8 and questionnaires based on motivational theory and social support. The results showed that most respondents were male, aged 40–50 years, had a senior high school education, good knowledge (62.5%), high motivation (56.3%), and strong family support (62.5%). Medication adherence was generally moderate to high (93.7%), although 6.3% of respondents remained non-adherent. Bivariate analysis revealed strong and significant positive correlations between knowledge (ρ=0.740; p=0.001), motivation (ρ=0.817; p=0.000), and family support (ρ=0.707; p=0.002) with medication adherence. Motivation was the most dominant factor influencing medication adherence among TB-HIV patients. Therefore, healthcare providers are encouraged to integrate family-based approaches and continuous education, families are expected to provide active support, and policymakers should strengthen community-based interventions to reduce stigma and improve TB-HIV treatment success. Keywords: Pulmonary Tuberculosis, TB-HIV Coinfection, Medication Adherence, Motivation, Family Support.  ABSTRAK Tuberkulosis paru masih menjadi ancaman kesehatan global utama dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi, termasuk di Indonesia, di mana ratusan ribu kasus serta koinfeksi TB-HIV terus terjadi. Kompleksitas terapi, stigma sosial, dan faktor psikologis memperburuk rendahnya kepatuhan pengobatan, sehingga menegaskan perlunya intervensi berbasis pengetahuan, motivasi, dan dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan minum obat pada pasien TB-HIV. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 16 pasien TB-HIV di RSUD Pasar Rebo pada bulan November hingga Desember 2025. Instrumen penelitian meliputi MMAS-8 yang dimodifikasi serta kuesioner berdasarkan teori motivasi dan dukungan sosial. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki, berusia 40–50 tahun, berpendidikan SMA, memiliki pengetahuan baik (62,5%), motivasi tinggi (56,3%), dan dukungan keluarga kuat (62,5%). Tingkat kepatuhan minum obat umumnya sedang hingga tinggi (93,7%), meskipun masih terdapat 6,3% responden yang tidak patuh. Analisis bivariat menunjukkan hubungan positif yang kuat dan signifikan antara pengetahuan (ρ=0,740; p=0,001), motivasi (ρ=0,817; p=0,000), dan dukungan keluarga (ρ=0,707; p=0,002) dengan kepatuhan minum obat. Motivasi merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi kepatuhan minum obat pada pasien TB-HIV. Oleh karena itu, tenaga kesehatan disarankan mengintegrasikan pendekatan berbasis keluarga dan edukasi berkelanjutan, keluarga diharapkan memberikan dukungan aktif, serta pembuat kebijakan perlu memperkuat intervensi berbasis komunitas untuk mengurangi stigma dan meningkatkan keberhasilan pengobatan TB-HIV. Kata Kunci: Tuberkulosis Paru, Koinfeksi TB-HIV, Kepatuhan Minum Obat, Motivasi, Dukungan Keluarga.
The Effectiveness of Audiovisual-Based Health Education on Anxiety Levels Among Families of ICU Patients: an Analysis Using Roy’s Adaptation Model Anis Windari; Fery Agusman; Anny Rosiana M
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i9.24478

Abstract

ABSTRACT The Intensive Care Unit (ICU) is a hospital unit equipped with specialized staff and medical equipment to care for patients in critical and life-threatening conditions. This situation often causes family members of ICU patients to experience stress, fear, and anxiety regarding the patient’s condition. Anxiety experienced by ICU patients’ families can have both physical and psychological impacts. Interventions are needed to help families adapt and manage this anxiety, one of which is audiovisual-based health education. This study to determine the effectiveness of audiovisual-based health education in reducing anxiety among families of ICU patients using Roy’s Adaptation Model.This study was quasi-experimental with a two-group pretest-posttest control group approach. The research was conducted from December 2024 to January 2025 at RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. The population consisted of 65 family members of patients admitted to the ICU. Using purposive sampling, 55 respondents were selected, divided into an intervention group (28 respondents) and a control group (27 respondents). The intervention used audiovisual media in the form of a video accessed through smartphones. The instruments included video, smartphone (belonging to the family), and the Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) questionnaire. Data were analyzed using an independent sample t-test. This study has obtained an Ethical Clearance Certificate with number 69/KEPK/RSLH/VIII/2024. The independent sample t-test analysis showed a p-value of 0.017 (p 0.05). Audiovisual-based health education is effective in reducing anxiety among families of ICU patients using Roy’s Adaptation Model. It is recommended that hospitals provide audiovisual-based health education as part of a family support program in the ICU. Keywords: Anxiety, Audiovisual, Family, ICU, Roy’s Adaptation Model.
Strategi Penanganan Overcrowding di Ruang Gawat Darurat : Scoping Review Ahmad Bahri; Al- Afik
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i9.24823

Abstract

ABSTRACT Overcrowding in an Emergency Department (ED) is a global crisis that can lead to errors in triage and result in increased patient mortality. An integrated overcrowding management strategy can be used to address and resolve the density issues that occur. This study aims to map and analyze strategies that are effectively used to handle overcrowding in EDs. The research method used is a Scoping Review with the Population-Concept-Context (PCC) framework. Articles were accessed from four databases, namely Scopus, PubMed, Wiley, and Springer, published between 2021-2026. The study results indicate that there are three strategies that can be used: training healthcare personnel, utilizing digital systems and technology, and integrated room management. Three strategies have been proven effective in addressing overcrowding, but in their implementation, they must be carried out continuously and involve all units within a hospital.  Keywords: Overcrowding, Emergency Department, Strategy, Management.  ABSTRAK Overcrowding di ruang Gawat Darurat adalah sebuah krisis global yang dapat  menyebabkan kesalahan dalam melakukan triase dan berdampak pada meningkatnya mortalitas pasien. Strategi penanganan overcrowding yang terintegrasi dapat digunakan untuk mengurai dan mengatasi masalah kepadatan yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan menganalisis strategi yang efektif digunakan dalam menangani overcrowding di ruang gawat darurat. Metode penelitian yang dilakukan yaitu Scoping Review dengan kerangka kerja Population-Concept-Context(PCC). Artikel di akses dari empat database yaitu Scopus, Pubmed, Wiley dan Springer yang dipublikasikan pada tahun 2021-2026. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga strategi yang dapat digunakan yaitu pelatihan tenaga kesehatan, penggunaan sistem dan teknologi digital dan managemen ruangan terintegrasi. Ketiga strategi ini terbukti efektif dalam mengatasi overcrowding namun dalam pelaksanaanya harus dilakukan secara berkesinambungan dan melibatkan seluruh unit yang ada di sebuah rumah sakit. Kata Kunci: Overcrowding, Unit Gawat Darurat, Strategi, Penanganan.
Pengaruh Tingkat Kepuasan Penggunaan Rekam Medis Elektronik dan Beban Kerja Terhadap Risiko Burnout pada Dokter di Rumah Sakit Tipe C Kabupaten Pesawaran Hasyim Adhafizh Sofyan; T.A Larasati; Anisa Nuraisa Jausal
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i9.24715

Abstract

ABSTRACT The implementation of Electronic Medical Records (EMR) is part of the digital transformation of healthcare services aimed at improving efficiency and quality of care. However, in practice, EMR use may increase physicians’ administrative workload and potentially contribute to burnout. Type C hospitals in Pesawaran Regency have implemented EMR, yet evaluations of user satisfaction and its association with workload and burnout risk among physicians remain limited. This quantitative cross-sectional study was conducted from October to December 2025 at RSUD Pesawaran and RSU Gladish Medical Center Pesawaran. A total of 64 physicians were included using total sampling. EMR satisfaction was assessed using the End User Computing Satisfaction (EUCS) questionnaire, workload was measured using the RAW NASA-TLX, and burnout risk was evaluated using the Maslach Burnout Inventory–Human Services Survey (MBI-HSS). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test. Most respondents reported being satisfied with EMR use (65.6%). The majority of physicians experienced moderate (39.1%) to high (37.5%) workload. Burnout risk was predominantly categorized as mild (65.6%) and moderate (34.4%), with no cases of severe burnout identified. Bivariate analysis showed no significant association between EMR satisfaction and burnout risk (p=0.177), nor between workload and burnout risk (p=0.374). EMR satisfaction and workload were not significantly associated with burnout risk among physicians in Type C hospitals in Pesawaran Regency. Keywords: Electronic Medical Records, Workload, Burnout, Physicians.  ABSTRAK Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) merupakan bagian dari transformasi digital pelayanan kesehatan yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan mutu layanan. Namun, penggunaan RME berpotensi menambah beban kerja administratif dokter dan memengaruhi risiko burnout. Di rumah sakit tipe C Kabupaten Pesawaran, evaluasi terkait kepuasan penggunaan RME serta hubungannya dengan beban kerja dan risiko burnout pada dokter masih terbatas. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional yang dilaksanakan pada Oktober–Desember 2025 di RSUD Pesawaran dan RSU Gladish Medical Center Pesawaran. Sampel penelitian melibatkan 64 dokter yang diambil dengan teknik total sampling. Kepuasan penggunaan RME diukur menggunakan kuesioner End User Computing Satisfaction(EUCS), beban kerja menggunakan RAW NASA-TLX, dan risiko burnout menggunakan Maslach Burnout Inventory Human Services Survei (MBI-HSS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Sebagian besar responden menyatakan puas terhadap penggunaan RME (65,6%). Beban kerja dokter paling banyak berada pada kategori sedang (39,1%) dan berat (37,5%). Risiko burnout mayoritas berada pada kategori ringan (65,6%) dan sedang (34,4%). Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kepuasan penggunaan RME dengan risiko burnout (p=0,177) maupun antara beban kerja dengan risiko burnout (p=0,374). Tingkat kepuasan penggunaan RME dan beban kerja tidak berhubungan secara signifikan dengan risiko burnout pada dokter di rumah sakit tipe C Kabupaten Pesawaran. Kata Kunci:  Rekam Medis Elektronik, Beban Kerja, Burnout, Dokter.
Tren Global dan Perkembangan Penelitian tentang Dampak Kekerasan Seksual Terhadap Praktik Keperawatan Kesehatan Mental (Depresi, Kecemasan, PTSD) pada Mahasiswa: Studi Bibliometrik Abdul Salam; Shanti Wardaningsih; Titih Huriah
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i9.24535

Abstract

ABSTRACT Sexual violence has emerged as a critical global concern within higher education institutions due to its profound and persistent effects on students’ mental health. Despite the rapid growth of empirical studies examining the relationship between sexual violence and psychological outcomes, the literature remains fragmented across disciplines, limiting a coherent understanding of the intellectual structure and research trajectories of this field. This study aims to systematically map the scientific landscape and evolution of research on the mental health impacts of sexual violence among university students using a bibliometric approach. A total of 571 peer-reviewed articles indexed in Scopus and published between 2015 and 2025 were analyzed. Descriptive and network-based analyses were conducted using VOSviewer to examine publication trends, conceptual structures, thematic clusters, and the temporal evolution of research foci. The results demonstrate a substantial increase in scholarly output over the past decade, with depression, anxiety, and post-traumatic stress disorder (PTSD) consistently identified as the most prevalent psychological outcomes. Keyword co-occurrence analysis revealed five dominant thematic clusters, highlighting the interconnected roles of sexual violence, individual vulnerability, social victimization, institutional contexts of higher education, and psychological responses. These findings position sexual violence as a key determinant of students’ mental health and emphasize the need for more integrative, interdisciplinary research frameworks alongside evidence-informed and institutionally responsive campus policies. Keywords: Sexual Violence, Mental Health, Depression, Anxiety, PTSD.  ABSTRAK Kekerasan seksual merupakan isu global yang serius di lingkungan pendidikan tinggi karena dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan mental mahasiswa. Meskipun penelitian mengenai kekerasan seksual dan gangguan psikologis telah berkembang pesat, kajian tersebut masih tersebar dan terfragmentasi lintas disiplin, sehingga pemahaman komprehensif mengenai arah dan struktur penelitian belum sepenuhnya terbentuk. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan lanskap ilmiah dan perkembangan penelitian terkait dampak kekerasan seksual terhadap kesehatan mental mahasiswa melalui pendekatan bibliometrik. Studi ini menganalisis 571 artikel ilmiah yang diindeks Scopus dan dipublikasikan pada periode 2015–2025. Analisis dilakukan secara deskriptif dan eksploratif menggunakan VOSviewer untuk mengidentifikasi tren publikasi, struktur konseptual, klaster tematik, serta evolusi fokus penelitian. Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan jumlah publikasi dalam beberapa tahun terakhir, dengan depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma sebagai dampak psikologis yang paling dominan. Pemetaan jaringan kata kunci mengungkap lima klaster utama yang mencerminkan keterkaitan antara kekerasan seksual, karakteristik individu, viktimisasi sosial, konteks pendidikan tinggi, dan respons psikologis. Studi ini menegaskan bahwa kekerasan seksual merupakan determinan penting kesehatan mental mahasiswa dan menyoroti perlunya pendekatan penelitian yang lebih integratif serta kebijakan kampus yang responsif terhadap isu tersebut. Kata Kunci: Kekerasan Seksual, Kesehatan Mental, Depresi, Kecemasan, PTSD.
Hubungan Pendidikan dan Tingkat Pengetahuan yang Menyebabkan Pemberian MP-ASI Sebelum Bayi Berusia 6 Bulan di Puskesmas Distrik Pelebaga Lili Farlikhatun; Emma Emmy Yoku
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i9.22073

Abstract

ABSTRACT A preliminary study at the Pelebaga District Health Center in November 2024 showed that out of 150 infants aged 0-6 months, 95 infants (63%) received exclusive breastfeeding, while 55 infants (37%) had been given early complementary feeding. A survey on November 13, 2024 found that out of 10 mothers, 7 (70%) had given complementary feeding before the baby was 6 months old. This shows that the practice of early complementary feeding is still high. In fact, exclusive breastfeeding is the best nutrition for infants up to 6 months old without additional food or drink, except for medicines, vitamins, or minerals. After 6 months, complementary feeding is given gradually. To determine the relationship between education and level of knowledge that causes complementary feeding before the baby is 6 months old at the Pelebaga District Health Center in 2024. This study uses a quantitative method with an observational design and a cross-sectional approach, which measures independent and dependent variables simultaneously. Shows that mothers with Poor Knowledge mostly Provide Complementary Feeding as many as 9 respondents (15%) and Do Not Provide Complementary Feeding as many as 1 respondent (1.7%). While mothers with Good Knowledge mostly Do Not Provide Complementary Feeding as many as 47 respondents (78.3%) and those who Provide Complementary Feeding as many as 3 respondents (5%). The results of the statistical test obtained a P-Value .001 (p 0.05) which means that there is a relationship between knowledge and the provision of complementary feeding to infants under 6 months of age at the Pelebaga District Health Center. The OR value = 30,850, shows that mothers with poor knowledge have a 30,850 times greater tendency to provide complementary feeding to infants under 6 months of age compared to mothers with good knowledge. The OR value = 30,850, shows that mothers with poor knowledge have a 30,850 times greater tendency to provide complementary feeding to infants under 6 months of age compared to mothers with good knowledge. Pelebaga District Health Center is expected to improve routine education on the importance of exclusive breastfeeding and the risks of early complementary feeding, as well as provide lactation consultation services and guidance on providing complementary feeding that is appropriate for the baby's age. Keywords: Education, Knowledge, Providing Complementary Feeding Before the Baby is 6 Months Old.ABSTRAK Studi pendahuluan di Puskesmas Distrik Pelebaga pada November 2024 menunjukkan dari 150 bayi usia 0-6 bulan, 95 bayi (63%) mendapatkan ASI eksklusif, sedangkan 55 bayi (37%) telah diberikan MP-ASI dini. Survei pada 13 November 2024 menemukan dari 10 ibu, 7 (70%) telah memberikan MP-ASI sebelum bayi berusia 6 bulan. Hal ini menunjukkan masih tingginya praktik MP-ASI dini. Padahal, ASI eksklusif adalah nutrisi terbaik untuk bayi hingga usia 6 bulan tanpa tambahan makanan atau minuman lain, kecuali obat, vitamin, atau mineral. Setelah 6 bulan, pemberian MP-ASI dilakukan secara bertahap. Mengetahui hubungan pendidikan dan tingkat pengetahuan yang menyebabkan pemberian MP-ASI sebelum bayi berusia 6 bulan di Puskesmas Distrik Pelebaga tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain observasional dan pendekatan cross-sectional, yang mengukur variabel independen dan dependen secara bersamaan. Menunjukkan bahwa ibu yang memiliki Pengetahuan Kurang mayoritas Memberikan Mp-ASI sebanyak 9 responden (15%) dan Tidak Memberikan Mp-ASI sebanyak 1 responden (1.7%). Sedangkan ibu dengan Pengetahuan Baik mayoritas Tidak Memberikan Mp-ASI sebanyak 47 responden (78.3%) dan yang Memberikan Mp-ASI sebanyak 3 responden (5%). Hasil uji statistik didapatkan nilai P-Value .001 (p 0,05 ) yang artinya terdapat adanya hubungan antara pengetahuan dengan pemberian MP-ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan di Puskesmas Distrik Pelebaga. Nilai OR = 30.850, menunjukkan bahwa ibu yang berpengetahuan kurang memiliki kecenderungan 30.850 kali lebih besar memberikan MP-ASI pada  bayi  usia  kurang dari 6 bulan dibandingkan dengan ibu yang berpengetahuan baik. Nilai OR = 30.850, menunjukkan bahwa ibu yang berpengetahuan kurang memiliki kecenderungan 30.850 kali lebih besar memberikan MP-ASI pada  bayi  usia  kurang dari 6 bulan dibandingkan dengan ibu yang berpengetahuan baik. Puskesmas Distrik Pelebaga diharapkan meningkatkan edukasi rutin tentang pentingnya ASI eksklusif dan risiko MP-ASI dini, serta menyediakan layanan konsultasi laktasi dan panduan pemberian MP-ASI yang sesuai usia bayi. Kata Kunci: Pendidikan, Pengetahuan, Pemberian MPASI Sebelum Bayi Berusia 6 Bulan.
Gambaran Pemanfaatan Tanaman Obat Tradisional oleh Masyarakat untuk Perawatan Luka di Desa Genteng Kecamatan Sukasari Kabupaten Sumedang Anri Anri; Sri Mulyati Rahayu
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i9.24151

Abstract

ABSTRACT The use of traditional medicinal plants for wound care remains common among communities, particularly in rural areas where local wisdom is strongly preserved. This practice has the potential to support promotive and preventive health efforts when supported by scientific evidence. This study aimed to describe the utilization of traditional medicinal plants for wound care among the community in Genteng Village, Sukasari District, Sumedang Regency. A descriptive quantitative approach was employed, involving 60 respondents selected through purposive sampling with the criterion of having previously used traditional medicinal plants for wound treatment. Data were collected using a structured questionnaire covering the types of plants used, methods of preparation and application, duration of use, sources of knowledge, and community perceptions regarding effectiveness. Data were analyzed descriptively using frequency and percentage distributions. The results showed that the most commonly used plants were Ageratum conyzoides (billygoat weed), Piper betle (betel leaf), and banana sap. The predominant method of application was crushing or pounding the plant material and applying it directly to the wound, with a typical duration of use of 5–10 minutes. Most respondents obtained their knowledge from family traditions and personal experience and believed that traditional medicinal plants were effective in accelerating the healing of minor wounds. In conclusion, the utilization of traditional medicinal plants remains a primary choice for minor wound care in the community and has significant potential to be integrated into culturally based health education. The findings of this study may serve as a foundation for nurses and healthcare professionals in developing holistic and context-appropriate community nursing interventions. Keywords: Traditional Medicinal Plants, Wound Care, Local Wisdom, Community Nursing, Health Promotion.  ABSTRAK Pemanfaatan tanaman obat tradisional dalam perawatan luka masih banyak dilakukan oleh masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan yang memiliki kedekatan dengan kearifan lokal. Praktik ini berpotensi mendukung upaya promotif dan preventif kesehatan apabila didukung oleh data ilmiah yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pemanfaatan tanaman obat tradisional oleh masyarakat dalam perawatan luka di Desa Genteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 50 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling, dengan kriteria pernah menggunakan tanaman obat tradisional untuk merawat luka. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang mencakup jenis tanaman yang digunakan, cara pengolahan dan penggunaan, durasi pemakaian, sumber pengetahuan, serta persepsi masyarakat terhadap efektivitasnya. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman yang paling banyak digunakan adalah babadotan (Ageratum conyzoides), daun sirih (Piper betle), dan getah pisang. Cara penggunaan yang dominan adalah dengan menghaluskan atau menumbuk tanaman kemudian ditempelkan langsung pada luka, dengan durasi penggunaan umumnya 5–10 menit. Mayoritas responden memperoleh pengetahuan dari keluarga dan pengalaman turun-temurun serta meyakini bahwa tanaman obat tradisional efektif dalam mempercepat penyembuhan luka ringan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan tanaman obat tradisional masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam perawatan luka ringan dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari edukasi kesehatan berbasis budaya lokal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perawat dan tenaga kesehatan dalam merancang promosi kesehatan dan pendekatan asuhan keperawatan yang holistik dan kontekstual di tingkat komunitas Kata Kunci: Tanaman Obat Tradisional, Perawatan Luka, Kearifan Lokal, Keperawatan Komunitas, Promosi Kesehatan.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026) Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026) Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026) Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026) Vol 6, No 5 (2026): Volume 6 Nomor 5 (2026) Vol 6, No 4 (2026): Volume 6 Nomor 4 (2026) Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026) Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 Nomor 2 (2026) Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 (2026) Vol 5, No 12 (2025): Volume 5 Nomor 12 (2025) Vol 5, No 11 (2025): Volume 5 Nomor 11 (2025) Vol 5, No 10 (2025): Volume 5 Nomor 10 (2025) Vol 5, No 9 (2025): Volume 5 Nomor 9 (2025) Vol 5, No 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 (2025) Vol 5, No 7 (2025): Volume 5 Nomor 7 (2025) Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025) Vol 5, No 5 (2025): Volume 5 Nomor 5 (2025) Vol 5, No 4 (2025): Volume 5 Nomor 4 (2025) Vol 5, No 3 (2025): Volume 5 Nomor 3 (2025) Vol 5, No 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 (2025) Vol 5, No 1 (2025): Volume 5 Nomor 1 (2025) Vol 4, No 12 (2024): Volume 4 Nomor 12 (2024) Vol 4, No 11 (2024): Volume 4 Nomor 11 (2024) Vol 4, No 10 (2024): Volume 4 Nomor 10 (2024) Vol 4, No 9 (2024): Volume 4 Nomor 9 (2024) Vol 4, No 8 (2024): Volume 4 Nomor 8 (2024) Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024) Vol 4, No 6 (2024): Volume 4 Nomor 6 (2024) Vol 4, No 5 (2024): Volume 4 Nomor 5 (2024) Vol 4, No 4 (2024): Volume 4 Nomor 4 (2024) Vol 4, No 3 (2024): Volume 4 Nomor 3 (2024) Vol 4, No 2 (2024): Volume 4 Nomor 2 (2024) Vol 4, No 1 (2024): Volume 4 Nomor 1 (2024) Vol 3, No 12 (2023): Volume 3 Nomor 12 (2023) Vol 3, No 11 (2023): Volume 3 Nomor 11 (2023) Vol 3, No 10 (2023): Volume 3 Nomor 10 (2023) Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023) Vol 3, No 8 (2023): Volume 3 Nomor 8 (2023) Vol 3, No 7 (2023): Volume 3 Nomor 7 (2023) Vol 3, No 6 (2023): Volume 3 Nomor 6 (2023) Vol 3, No 5 (2023): Volume 3 Nomor 5 (2023) Vol 3, No 4 (2023): Volume 3 Nomor 4 (2023) Vol 3, No 3 (2023): Volume 3 Nomor 3 (2023) Vol 3, No 2 (2023): Volume 3 Nomor 2 (2023) Vol 3, No 1 (2023): Volume 3 Nomor 1 (2023) Vol 2, No 4 (2022): Volume 2 Nomor 4 (2022) Vol 2, No 3 (2022): Volume 2 Nomor 3 (2022) Vol 2, No 2 (2022): Volume 2 Nomor 2 (2022) Vol 2, No 1 (2022): Volume 2 Nomor 1 (2022) Volume 1 Nomor 4 Desember 2021 Volume 1 Nomor 3 September 2021 Volume 1 Nomor 2 Juni 2021 Volume 1 Nomor 1 Maret 2021 More Issue