cover
Contact Name
Brury Eko Saputra
Contact Email
brury@sttaletheia.ac.id
Phone
+62341-426617
Journal Mail Official
brury@sttaletheia.ac.id
Editorial Address
Jl. Argopuro No.28-34, Lawang, Kec. Lawang, Malang, Jawa Timur 65211
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
ISSN : 27232786     EISSN : 27232794     DOI : https://doi.org/10.47596/sg.v1i2
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi di bidang Teologi Biblika dan Praktika. Focus dan Scope penelitian SOLA GRATIA adalah: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Pastoral 3. Teologi Kontemporer
Articles 161 Documents
Roh Kudus: Pribadi Ketiga dari Allah Trinitas─ Api Penginjilan Bagi Bangsa-bangsa Kamadjaja, Djumailah; Sulistiyo, Ferdiand; Grace Wong, Fingfing Keren
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 2 (2024): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v4i2.235

Abstract

Abstract:The doctrine of the Trinity states that God is Father, Son, and Holy Spirit, three persons in one essence. The Holy Spirit is the third person of the Trinity, and as a divine person, the Holy Spirit has personality, will, and feelings. The typology of the Holy Spirit as ‘fire’ is closely related to evangelism because the Holy Spirit gives power and courage to Christ’s disciples to preach the Gospel of the Kingdom of God. However, there are still differences in understanding of the work of the Holy Spirit in contemporary evangelism, which can cause its effectiveness to decrease. To overcome this problem, the author uses library research methods to obtain data about the Holy Spirit and the Fire of Evangelism. Through the data analysis process, it was discovered that the work of the Holy Spirit is a driving force for evangelism by empowering God’s people so that the Gospel spreads to the ends of the earth. The work of the Holy Spirit in evangelisation is essential for the Church to fulfil its mission of bearing witness to Christ and making disciples of all nations for Christ. The role of the Holy Spirit as the Fire of Evangelism is very important because it highlights the transformative power of the Holy Spirit in the lives of believers. The Holy Spirit empowers believers to live out their faith and bear witness to Christ, even in the face of persecution and opposition. The Holy Spirit is the primary agent of evangelism, guiding and directing the Church in world evangelisation. Abstrak: Doktrin Trinitas menyatakan bahwa Allah adalah Bapa, Putra, dan Roh Kudus, tiga pribadi dalam satu hakikat. Roh Kudus adalah pribadi ketiga dari Trinitas, dan sebagai pribadi ilahi, Roh Kudus memiliki kepribadian, kehendak, dan perasaan. Tipologi Roh Kudus sebagai 'api' erat kaitannya dengan penginjilan, karena Roh Kudus memberikan kuasa dan keberanian kepada murid-murid Kristus untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah. Namun demikian, masih terdapat perbedaan pemahaman tentang pekerjaan Roh Kudus dalam penginjilan masa kini yang dapat menyebabkan efektivitasnya menurun. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan untuk memperoleh data tentang Roh Kudus dan Api Penginjilan. Melalui proses analisis data ditemukan bahwa pekerjaan Roh Kudus menjadi penggerak penginjilan dengan memberdayakan umat Tuhan sehingga Injil tersebar sampai ke ujung bumi. Pekerjaan Roh Kudus dalam penginjilan sangat penting bagi Gereja untuk memenuhi misinya memberikan kesaksian tentang Kristus dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Peran Roh Kudus sebagai Api Penginjilan sangat penting karena menyoroti kuasa transformatif Roh Kudus dalam kehidupan orang-orang percaya. Roh Kudus memberdayakan orang-orang percaya untuk menghidupi iman mereka dan memberikan kesaksian tentang Kristus, bahkan ketika menghadapi penganiayaan dan perlawanan. Roh Kudus adalah agen utama penginjilan, membimbing dan mengarahkan Gereja dalam penginjilan sedunia.
Tinjauan Etis-Pedagogis Terhadap Peran Guru Dalam Mendidik Anak Sekolah Minggu Di GKJ Salatiga Utara Kristania, Cindy Uzia; Ludji, Irene; Buke, Nimali Fidelis
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2024): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i1.254

Abstract

Abstract: This research aims to describe and analyze the role of teachers in educating Sunday school children at GKJ North Salatiga from an ethical-pedagogical perspective. This research uses a qualitative approach. Qualitative data was collected through semi-structured interviews and participant observation. The theory used in the analysis is based on ethical studies from Reinhold Niebuhr and pedagogical studies from Thomas Groome. The research results show that education for children is essential, and the church needs to participate in it. The efforts made by GKJ North Salatiga in educating Sunday school children include instilling Christian values or giving the example of Jesus. Jesus' example is also an example of ethical behavior offered by Niebuhr. The ethical values contained in the research are respecting others, giving appreciation, love, forgiveness, helping, sharing, caring, fairness, justice, and humility. In pedagogical studies, it was found that teachers not only taught the example of Jesus through theory, but it was also reflected in the lives of Sunday school teachers. Teachers also use various creative teaching methods and media in the learning process. Creative teaching supports children to understand God's word better. Teachers at GKJ North Salatiga also manage the Sunday school well and in a structured manner. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran guru dalam mendidik anak sekolah Minggu di GKJ Salatiga Utara ditinjau dari perspektif etis-pedagogis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data-data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi partisipatif. Teori yang digunakan dalam analisis adalah kajian etis dari Reinhold Niebuhr dan pedagogis dari Thomas Groome. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan untuk anak-anak adalah hal yang penting, dan gereja perlu untuk ambil bagian di dalamnya. Upaya yang dilakukan GKJ Salatiga Utara dalam mendidik anak-anak sekolah Minggu, adalah dengan menanamkan nilai-nilai kristiani atau keteladanan Yesus. Keteladanan Yesus juga merupakan contoh perilaku etis yang ditawarkan oleh Niebuhr. Adapun nilai-nilai etis yang ditemukan dalam penelitian, yaitu, menghargai sesama, memberikan apresiasi, kasih, pengampunan, menolong, berbagi, peduli, adil, kesetaraan dan rendah hati. Dalam kajian pedagogis, ditemukan bahwa guru tidak hanya mengajarkan keteladanan Yesus melalui teori, tetapi juga dicerminkan dalam kehidupan guru sekolah Minggu. Dalam proses pembelajaran, guru juga menggunakan berbagai metode dan media mengajar yang kreatif. Pengajar yang kreatif mendukung anak-anak untuk lebih memahami firman Tuhan. Guru di GKJ Salatiga Utara juga mengelola sekolah Minggu dengan baik dan terstruktur.
Pertobatan Sejati Menghasilkan Transformasi Moral Dalam Kehidupan Daud: Studi Refleksi Mazmur 51 Nggebu, Sostenis
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2024): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i1.264

Abstract

Abstract: The problem of this article is that repentance brought about a moral transformation in the life of King David. The text of Psalm 51 describes that King David fell into sin, but then he realized himself, repented and was sanctified by God. The method used to language this article is the study of passages.  The results show that Psalm 51 shows a deep spiritual need for God's people of all ages. Those who have fallen into self-conscious sin confess with all their hearts to God for the forgiveness that brings about moral renewal in their lives. The forgiveness experienced by David has been expressed in the form of a poem about the relationship of the prayer paradigm for forgiveness, whose meaning is actual. After receiving God's forgiveness, David regained a harmonious relationship with God, which brought about a moral renewal in his life. The same situation applies to the life of believers. Everyone who confesses his sins will be forgiven to experience the peace of Jesus Christ. Living in holiness is the moral standard required of every follower of Jesus Christ. Abstrak: Problem dari artikel ini tentang pertobatan yang mendatangkan transformasi moral dalam kehidupan Raja Daud. Dalam teks Mazmur 51, digambarkan bahwa Raja Daud yang jatuh dalam dosa, tetapi kemudian ia sadar diri, bertobat dari dosanya sehingga dikuduskan Allah. Metode yang digunakan untuk membahasa artikel ini adalah studi perikop. Hasilnya, menunjukkan bahwa Mazmur 51 memperlihatkan kebutuhan rohani yang mendalam bagi umat Allah dari segala zaman. Orang-orang yang telah jatuh dalam dosa sadar diri untuk mengaku dengan segenap hati kepada Allah demi pengampuan yang mendatangkan pembaruan moral di dalam kehidupan mereka. Pengampunan yang dialami Daud telah diungkapkan dalam bentuk puisi tentang hubungan paradigma doa untuk pengampunan, yang maknanya bersifat aktual. Daud dapat meraih kembali hubungan yang harmonis dengan Allah setelah memperoleh pengampunan Allah yang mendatangkan pembaruan moral dalam hidupnya. Situasi yang sama berlaku juga dalam kehidupan orang percaya. Setiap orang yang mengaku dosanya akan diampuni untuk mengalami damai sejahtera dari Yesus Kristus. Hidup dalam kekudusan menjadi standar moral yang dituntut dari tiap pengikut Yesus Kristus.
Metode Konseling Yesus Dalam Lukas 24:13-35 Dan Aplikasinya Bagi Pemimpin Gereja Pantekosta di Indonesia Yesus Harapan Pasti Surabaya Gulo, Tongoni; Manno, Daud; Marini, Roberth Ruland
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 2 (2024): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v4i2.241

Abstract

Abstract:The counselling service at the Pentecostal Church in Indonesia, “Jesus Harapan Pasti” Surabaya, is not running well, is not systematic, has no basis, and does not have a conceptual method, so that requires the right method like Jesus in recovering two of His disciples who were hopeless and headed towards Emmaus in Luke 24:13-35. Jesus applied several methods in His ministry to solve the disciples’ problems. The method in Luke 24:13-35 is used and applied in counselling services at GPdI YHP Surabaya considering the heterogeneity of problems faced by the congregation. Therefore, this research is useful in answering the question, “How is the application of Jesus’ counselling method according to Luke 24:13-35 for the Pentecostal Church in Indonesia Jesus Harapan Pasti Surabaya?” In order to obtain accurate research results, this research uses descriptive qualitative research methods through open interview techniques with participants. The research results obtained by researchers were that there were many problem counsellors found in the GPdI YHP Surabaya congregation, while the leaders who had conducted counselling management, regular and directed treatment. Through the application of Jesus’ counselling method in Luke 24:13-35, leaders at GPdI YHP will obtain an organized, structured and focused counselling method in dealing with the complex problems of the church. Abstrak:Pelayanan konseling di Gereja Pantekosta di Indonesia “Yesus Harapan Pasti” Surabaya tidak berjalan dengan baik, tidak sistematis, tidak berdasar, dan tidak memiliki metode yang terkonsep sehingga memerlukan metode yang tepat seperti halnya Yesus dalam memulihkan dua orang murid-Nya yang putus asa dan menuju Emaus pada Lukas 24:13-35. Yesus menerapkan beberapa metode dalam pelayanan-Nya untuk menyelesaikan permasalahan para murid. Metode dalam Lukas 24:13-35 digunakan dan diterapkan dalam pelayanan konseling di GPdI YHP Surabaya mengingat heterogenitas permasalahan yang dihadapi jemaat.  Oleh karena itu, penelitian ini berguna menjawab pertanyaan “bagaimana implementasi metode konseling Yesus menurut Lukas 24:13-35 bagi Gereja Pantekosta di Indonesia Yesus harapan Pasti Surabaya?” Guna memperoleh hasil penelitian yang akurat, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif melalui teknik wawancara (interview) kepada partisipan secara terbuka. Hasil penelitian diperoleh peneliti, yakni terdapat banyak konseli yang bermasalah ditemukan di jemaat GPdI YHP Surabaya, sementara para pemimpin yang pernah melakukan sesi konseling terbatas pada kebutuhan jemaat dan berjalan apa adanya tanpa manajemen konseling yang baik, penanganan yang teratur dan terarah. Melalui penerapan metode konseling Yesus dalam Lukas 24:13-35, maka para pemimpin di GPdI YHP akan memperoleh metode konseling yang terorganisir, terstruktur dan terarah dalam menangani kompleksitas masalah warga gereja.
Peran Guru PAK Dalam Permuridan: Sebuah Konfirmasi Pertumbuhan Kerohanian Siswa Wahyudi, Untung; Nata Jaya, Andry Pratama; Tumengkol, Really Pellita
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2024): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i1.267

Abstract

Abstract: Although it can be said that all Christian students in Indonesia receive relatively the same Christian Religious Education (PAK) at school, the spiritual growth experienced by each student can be different. Poor spiritual growth will make students vulnerable to various problems during their developmental period. Therefore, the PAK learning strategy at school determines whether students can experience good spiritual growth. The research found that, based on the theological foundation of PAK in Indonesia, the right strategy to facilitate students' spiritual growth is the discipleship process. This article explains the importance of the discipleship process in PAK and how it can be done. The article, which uses the literature study research method, also finds that PAK teachers have several roles that must be fulfilled to become facilitators in this discipleship process. By carrying out these roles, PAK teachers can guide students in achieving their spiritual growth as disciples of Christ. Abstrak: Sekalipun dapat dikatakan bahwa seluruh siswa beragama Kristen di Indonesia mendapatkan Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang relatif sama di sekolah, pertumbuhan rohani yang dialami setiap siswa dapat berbeda. Pertumbuhan rohani yang tidak baik akan mengakibatkan siswa rentan dalam menghadapi berbagai masalah dalam masa perkembangannya. Karenanya, strategi pembelajaran PAK di sekolah sangat menentukan apakah siswa dapat mengalami pertumbuhan rohani yang baik atau tidak. Hasil penelitian menemukan bahwa sesuai dengan landasan teologis PAK di Indonesia, strategi yang tepat untuk memfasilitasi pertumbuhan rohani siswa adalah proses pemuridan. Artikel ini bermaksud memaparkan pentingnya proses pemuridan dalam PAK tersebut dan bagaimana agar hal tersebut dapat dilakukan. Artikel yang menggunakan metode penelitian studi pustaka ini juga menemukan bahwa guru PAK mempunyai beberapa peran yang harus dijalankan agar mereka dapat menjadi fasilitator dalam proses pemuridan ini. Dengan melaksanakan peran-peran tersebut guru PAK akan dapat membimbing siswa dalam mencapai pertumbuhan rohaninya sebagai seorang murid Kristus.
Tinjauan Teologis Merespons Series Film In The Name Of God: A Holy Betrayal: Anti-Kristus Berdasarkan 2 Yohanes 1:7-11 Hia, Lurusman Jaya; Wijaya, Hendi
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 2 (2024): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v4i2.230

Abstract

Abstract:Antichrist is a deceiver who is very close to Christians, so as Christians, it is important to criticise those who play God based on the Christian faith through the Book of 2 John 1:7-11. The purpose of the study is to respond to the four sects that play God promising salvation for believers in the film In The Name Of God: A Holy Betrayal. This study uses the research method of exegesis study with the meaning of the four layers of the Bible namely Historia (Sarkic), Theoria (Noetic), Moral (Psychic), Anagogic and film analysis approach. Through this study, it can be concluded that the film In the Name of God: A Holy Betrayal has become part of the Antichrist. Thus the church needs to be vigilant and fight against those who are against God by rejecting them to be able to contribute to the impact of society and truly live as believers in Jesus Christ. AbstrakAntikristus adalah penyesat yang sangat dekat dengan orang Kristen, sehingga sebagai orang Kristen mengangkat kritik terhadap oknum-oknum yang playing God menjadi penting untuk dilakukan berdasarkan iman Kristen melalui Kitab 2 Yohanes 1:7-11. Tujuan dari penelitian adalah untuk menanggapi empat sekte yang berperan sebagai Tuhan yang menjanjikan keselamatan bagi orang percaya dalam film In The Name Of God: A Holy Betrayal. Kajian ini menggunakan metode penelitian studi eksegesis dengan makna empat lapisan Alkitab yakni Historia (Sarkic), Theoria (Noetic), Moral (Psychic), Anagogic dan pendekatan analisis film. Melalui kajian ini dapat disimpulkan bahwa film In the Name of God: A Holy Betrayal telah menjadi bagian dari antikristus. Dengan demikian gereja perlu waspada dan melawan oknum-oknum yang melawan Allah dengan menolak mereka untuk dapat berkontribusi memberikan dampak bagi masyarakat dan benar-benar hidup sebagai orang percaya kepada Yesus Kristus.
Menyalakan Kembali Pelita Injil Yesus Kristus Di Era Pasca-Kebenaran Berdasarkan Matius 5:14-16 Tatanegara, Kondang Sri; suhadi, suhadi; Sukarno, Mahattama Banteng
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2024): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i1.274

Abstract

Abstract: Misinformation and "false" truths have threatened the harmony of religious and cultural communities. In the context of Christianity, they are also a threat to the building of the faith of the disciples of Jesus Christ, both cognitively, affectively, and psychometrically. The researcher sees the need to rekindle the lamp of the Gospel of Jesus Christ through two research questions, among others: first, why is it important to "rekindle the lamp of the Gospel of Jesus Christ in the post-truth era," and second, how to "rekindle the lamp of the Gospel of Jesus Christ in the post-truth era." Using Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis paradigm on Matthew 5:14-16 in dialogue with a postcolonial perspective, the researcher sees that re-lighting the Gospel of Jesus Christ is important. In addition, this research concludes with an alternative conceptual practical guideline on how to rekindle the Gospel of Jesus Christ. Abstrak: Misinformasi dan kebenaran "palsu" telah menjadi ancaman bagi keharmonisan dalam masyarakat agama dan budaya. Dalam konteks kekristenan, kedua hal tersebut juga menjadi ancaman dalam membangun iman para murid Yesus Kristus, baik secara kognitif, afektif, pun psikomotorik. Melalui dua pertanyaan penelitian, antara lain: pertama, mengapa "Menyalakan Kembali Pelita Injil Yesus Kristus di Era Pasca-Kebenaran" adalah penting dilakukan pada masa kini? dan kedua, bagaimana "Menyalakan Kembali Pelita Injil Yesus Kristus Di Era Pasca-Kebenaran?" peneliti memandang perlu menyalakan kembali pelita Injil Yesus Kristus. Dengan mempergunakan paradigma Analisis Wacana Kritis dari Norman Fairclough terhadap Matius 5:14-16 yang dialogkan dengan perspektif pasca kolonial, peneliti melihat bahwa tindakan menalakan pelita kembali Injil Yesus Kristus adalah penting dilakukan. Selain itu, penelitian ini diakhiri dengan alternatif pedoman praktis secara konseptual bagaimana meyalakan pelita kembali Injil Yesus Kristus.
“Lawan” Orang Yehuda Dan Benyamin: Sebuah Tinjauan Terhadap Teks Ezra 4:1-3 Wijaya, Jonathan
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 2 (2024): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v4i2.223

Abstract

Abstract:Inevitably, the author of the book of Ezra did not write without a reason or agenda. Because it is clear that the writing of the book of Ezra is historiographic, this means that the writer of the book of Ezra had a purpose when he wrote and identified the people who wanted to help the tribes of Judah and Benjamin (from the land of exile) in the process of building the Temple of God as "opponents". So, why did the book's writer of Ezra identify them as “opponents”? With the steps of investigating the Old Testament by focusing on investigating the term "opponent" by paying attention to the historical context and context of the text, to produce a clear identity of the term "opponent", the author will show that the aim of the author of the book of Ezra was to invite his readers to a holy life. Means not being polluted by those who worship other than YHWH. Moreover, our writer Ezra wants to show that their bid to build the Temple had a plan to thwart the construction. To achieve this, the author will divide this article into four parts. First, the author will explain the historical context of Ezra 4:1–4. Second, the author will explain the textual context of Ezra 4:1–4. Third, the author will present the interpreter's view regarding Ezra 4:1–4. Finally, the author will conclude that the people of Judah and Benjamin did not want to blend in and involve them ("opponents") in the construction to maintain their holiness and the Temple of God. In addition, the identity of the “opponents” of the people of Judah and Benjamin is proven by the delay in constructing the Temple, approximately 20 years (cf. Ezra 3:3; 4:4–24). AbstrakTidak dapat dielakkan, penulis kitab Ezra tidak menulis tanpa ada alasan dan agendanya. Sebab nyata tulisan kitab Ezra bersifat historiografi. Itu berarti bahwa penulis kitab Ezra memiliki tujuan ketika ia menulis maupun mengidentifikasi orang-orang yang ingin membantu suku Yehuda dan Benyamin (dari tanah pembuangan) dalam proses pembangunan Bait Allah sebagai “lawan”. Lantas, apa alasan penulis kitab Ezra mengidentifikasi mereka sebagai “lawan”? Dengan langkah-langkah penyelidikan Perjanjian Lama dengan fokus pada penyelidikan istilah “lawan” dengan memperhatikan konteks historis dan konteks teks, sehingga dihasilkan identitas yang jelas dari istilah “lawan”, penulis akan menunjukkan bahwa tujuan penulis kitab Ezra adalah untuk mengajak pembacanya untuk hidup kudus yang berarti tidak tercemar dengan mereka yang menyembah selain YHWH. Selain itu, penulis kita Ezra ingin menunjukkan bahwa tawaran mereka untuk membangun Bait Allah memiliki suatu rencana untuk menggagalkan pembangunan itu sendiri. Untuk mencapai hal tersebut, penulis akan membagi tulisan ini menjadi empat bagian. Pertama, penulis akan memaparkan konteks historis Ezra 4:1–4. Kedua, penulis akan memaparkan konteks tekstual dari Ezra 4:1–4. Ketiga, penulis akan menyampaikan pandangan penafsir mengenai Ezra 4:1–4. Terakhir, penulis akan memberikan kesimpulan bahwa orang Yehuda dan Benyamin tidak ingin membaur dan melibatkan mereka (“lawan”) di dalam pembangunan tersebut untuk menjaga kekudusan mereka, serta Bait Allah. Selain itu, identitas “lawan” orang Yehuda dan Benyamin terbukti dengan terhambatnya pembangunan Bait Suci, kurang lebih 20 tahun (lih. Ezra 3:3; 4:4–24).
Keteladanan Yesus Melalui Doa Berdasarkan Injil Matius 14:23 Dan Relevansinya Bagi Pemimpin Jemaat Di Era Society 5.0 Bendris Tazuno; Sariyanto Sariyanto
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2024): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i1.272

Abstract

Abstract: The rapid development of technology and the fast pace of change in society have transformed human lifestyles and are hard to avoid. Consequently, this also impacts the spiritual lives of spiritual leaders. If not handled properly, it can disrupt the focus and priorities of Christian leaders, who often get caught up in busyness and lose time for prayer. This creates challenges in building a strong personal relationship with God through prayer, which serves as a solid foundation for leading and serving the congregation. This research aims to identify the importance of cultivating a close relationship with God through prayer for Christian leaders amidst the rapidly changing and challenging times. Additionally, it seeks to provide a comprehensive understanding of Jesus' prayer life as exemplified in Matthew 14:23 and explain its practical implications for church leaders in the era of Society 5.0. This research utilizes qualitative research with a descriptive approach in a specific, natural context. The findings indicate that a church leader must commit to cultivating prayer, live a life of simplicity in communication with God, and submit oneself to Him. Abstrak: Perkembangan teknologi ataupun kemajuan zaman yang pesat telah mengubah pola kehidupan manusia dan sulit dihindari. Sehingga hal itu juga berdampak kepada kehidupan rohani pemimpin rohani. Bila tidak disikapi dengan baik, maka dapat mengganggu fokus dan prioritas para pemimpin Kristen, yang sering kali terjebak dalam kesibukan dan kehilangan waktu untuk berdoa. Hal ini menimbulkan tantangan dalam membangun hubungan pribadi yang kuat dengan Allah melalui doa. Sebagai dasar yang kokoh dalam memimpin dan melayani jemaat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pentingnya menjalin hubungan erat dengan Allah melalui doa bagi pemimpin Kristen di tengah perkembangan zaman yang cepat berubah dan penuh tantangan saat ini. Selain itu, untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang teladan kehidupan doa Yesus berdasarkan Mat. 14:23, dan menerangkan implikasi praktisnya bagi pemimpin jemaat di era Society 5.0. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan pendekatan deskripsi, pada suatu konteks khusus yang alamiah. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa seorang pemimpin jemaat harus memiliki komitmen dalam membangun doa, memiliki kesederhanaan hidup dalam berkomunikasi dengan Allah, dan menundukkan diri kepada-Nya.
Eksplorasi Pertumbuhan Spiritual Dan Perkembangan Manusia Pada Anak-anak Dan Remaja: Perspektif Teologi Megawaty, Titin; Herman, Samuel
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 2 (2024): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v4i2.234

Abstract

Abstract:This article integrates theological perspectives with insights from human development experts to understand the processes of growth and development in individuals. Specifically, it focuses on the phases from childhood to adolescence, which are crucial in shaping one's personality and beliefs. The research explores the roles of parents, church communities, and educators in guiding children towards healthy spiritual growth. Additionally, it analyses how Jesus, as an example of spiritual growth and development, inspires the current generation. The implications outlined in this study highlight the importance of understanding morals, religious education, and spiritual identity formation during adolescence, as efforts to help individuals find meaning in life. Abstrak:Artikel ini menyatukan perspektif teologi dan pandangan ahli perkembangan manusia dalam memahami proses pertumbuhan dan perkembangan individu. Terutama, artikel ini menitikberatkan pada fase anak-anak hingga remaja, yang memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian dan keyakinan seseorang. Penelitian ini mengeksplorasi peran orang tua, komunitas gereja, dan pendidik dalam membimbing anak-anak menuju pertumbuhan rohani yang sehat. Selain itu, penelitian juga menganalisis bagaimana Yesus sebagai contoh dalam pertumbuhan dan perkembangan rohani memberikan inspirasi bagi generasi saat ini. Implikasi yang diuraikan dalam penelitian ini menunjukkan pentingnya pemahaman mengenai moral, pendidikan agama, dan pembentukan identitas rohani pada masa remaja, sebagai upaya untuk membantu individu menemukan makna dalam hidup.