Logos
Jurnal Logos memuat artikel hasil penelitian tentang ilmu Filsafat dan Teologi yang dikaji secara empiris dan sesuai kaidah ilmiah sebagai refleksi kritis yang sistematis atas iman khususnya iman Katolik dengan fokus kajian Teologi, Filsafat, Kajian Sosial, Naluri dan Iman, Teknologi pada Teologi dan Filsafat, Pendidikan Agama dan kepercayaan tentang kebenaran pokok-pokok iman Katolik dalam terang wahyu Ilahi, yaitu tradisi dan Kitab Suci, selanjutnya mengenai pelaksanaan iman dalam hidup sehari-hari.
Articles
230 Documents
THE HOLINESS OF THE CHURCH IN TAVARD’S THOUGHT
Sipayung, Kornelus
LOGOS Vol 8 No 1 (2011): Januari 2011
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v8i1.268
Gereja yang dilukiskan oleh Konsili Vatikan II diyakini sebagai kudus karena pendirinya kudus ada-Nya. Kekudusan Gereja persisnya ada karena pendirinya sungguh kudus yakni Yesus Kristus yang diutus oleh Bapa untuk memanifestasikan kekudusan di dunia seraya bekerja sama dengan seluruh ciptaan. Kekudusan selalu inisiatif Allah, pemberian gratis yang menuntut jawaban dari pihak manusia. Untuk mengerti maksud kekudusan Gereja G.H. Tavard mulai menerangkan relasi antara Gereja dengan Kristus yang dimungkinkan oleh kekuatan Roh Kudus. Setiap orang beriman dipanggil ke kekudusan, ikut berpartisipasi sesuai dengan karisma yang diperoleh dari Roh Kudus untuk mengaplikasikan keutamaan teologal, iman harapan dan kasih. Kekudusan diraih melalui bentuk bervariasi dari hidup menurut rahmat dan talenta yang diterima dari Roh Kudus.
PEDULI EKOLOGI ALA FRANSISKUS ASISI
Stanislaus, Surip
LOGOS Vol 18 No 2 (2021): Juli 2021
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v18i2.1317
Kepedulian Fransiskus terhadap sesama manusia, sesama makhluk ciptaan dan lingkungan alam berakar pada relasinya dengan Allah Pencipta. Ia melihat dirinya, segala makhluk dan lingkungan alam sebagai sama-sama atau sesama ciptaan yang berasal dari satu asal, yaitu Allah Pencipta semesta alam. Oleh karena itu, semua makhluk ciptaan dipandang, diperlakukan dan dicintainya sebagai saudara dan saudari. Mengapa Fransiskus bersikap demikian? Ia memandang alam semesta dan segala isinya bukan terutama dari segi kegunaannya demi pemenuhan kebutuhan dan peningkatan mutu hidup manusia, tetapi lebih pada nilai yang ada dalam dirinya sendiri dan arti simbolis sakramentalnya. Keberadaan setiap makhluk bukan saja karena bermanfaat bagi manusia, tetapi juga karena memiliki nilai dalam dirinya sendiri dan menjadi tanda yang menghadirkan Allah. Setiap makhluk pun memiliki kesamaan, yakni sama-sama sebagai ciptaan Allah, sehingga semuanya sederajat dan Fransiskus menyapanya dengan sebutan saudara-saudari. Madah Gita Sang Surya yang digubah dua bulan menjelang kematiannya, menyingkapkan kedekatan yang begitu mendalam Fransiskus dengan alam dan segala makhluk ciptaan.
BERPOLITIK LEWAT PARTAI POLITIK : Ulasan Etis atas Suatu Bentuk Manifestasi Politik
Sakti, Philips Rusihan
LOGOS Vol 2 No 1 (2003): Januari 2003
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v2i1.345
Aristotle said that human being is a zoon politikon (commonly understood as "social being"). How does his/her political dimension express itself in real life within society? Since political dimension has something to do with society as a whole, thus anyone actually has a political attitude and already acts politically as far as his/her attitude and doing affect society. In this sense, being active in a political party or the party itself can be considered as a manifestation of human nature as political being, precisely because the party has society as its orientation. Political Ethic first of all wants to search and determine fundamental norms and principles of managing a society and governing a state. Every political party and government then must observe these norms and principles. They are principle of equality, principle of freedom, principle of solidarity and principle of utility. These four principles have to be followed by the state, while performing the principle of subsidiary. Furthermore the state has a duty and responsibility to accomplish social welfare and guarantee social justice. So, what is the task of political party? On one hand, maintaining all the fundamental principles and state's duties above mentioned, it has to control and influence the actual government, if it isn't part of this. On the other, it must preserve all those ethical norms while performing the state's governance, in case it holds the government or takes part of it.
SEKSUALITAS MANUSIA SEBAGAI REALITAS DAN PANGGILAN KEPADA CINTA KASIH : Refleksi atas Hakekat Seksualitas Manusia
Moa, Antonius
LOGOS Vol 3 No 1 (2004): Januari 2004
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v3i1.390
Experience - both in practical and theoretical sphere - teaches and reminds us that sexuality is a reality inseperable from humanity. It is a human reality. Such a conviction rises a consequence of a deeper understanding that the whole being and existence of human being can only be understood, realized and lived within and through the reality of human sexuality itself, namely being male or female. None is neutral. As human being, he or she must be female or male. As such - being female or male - he/she is an image of God who are love. This implies that sexuality as a human reality is a call towards love.
PASTORAL "BLUSUKAN" AS A MANIFESTATION OF INCARNATION THEOLOGY: IN THE CONTEXT OF PURWOKERTO DIOCESE
Setyawan, Antonius Ary
LOGOS Vol 14 No 1 (2017): Januari 2017
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v14i1.406
The term incarnation is used to illustrate how God humbled Godself by tranforming Himself into a human being like the believers so they can comprehend the Kingdom of God. As Cristians, we are invited to actualize the Kingdom of God in our everyday life. We are called also to promote the Kingdom of God to all creatures especially those who are poor, hungry, and suffering. “Blusukanâ€1 as an activity conducted by a priest to go around and come in to the place that is rarely visited or not most people preferred to come is a way to realize the theology of incarnation. With this way, a priest as a shepherd meet the people and get to know them in their real situation. As Jesus - Son of God - who came among the people to save them in the incarnation, the presence of the priests through “blusukan†pastoral strategy become the spirituality of diocesan priest that was expected to answer the needs of the people so that they also experienced the salvation.
MELANGKAH KE DALAM DUNIA MISTIKNYA WILIAM JAMES
Maurenis, Andreas
LOGOS Vol 13 No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v13i2.874
Mystical experience has become a new discourse and has been resounded in the midst of our world which has lost the feel of its religiosity due to modernism and secularism. Though modernism gives advance in human life but it is undeniable that somehow it affects to the very core of human thirst for a deepest spiritual growth and improvment. So, in this part William James has become one of the most known philosophers in nineteen century and in the same time as a psychologist who tries to bring back the mystcal experience as a vessel for every individual to find the true meaning of their spirituality need. James is going to re-present this encountered-experience with the transcendent reality into the midst of human being’s world day to day. By deepest reflection of knowledge, James tries to understand the mystical experience by giving the comparison of mystical experience with some psychology aspect. In other hand, he favors to let people know how the rasionalism deals with this kind of spiritual encounters. And he explains too, how the mystical experience comes to human’s life. Further, James also gives the understanding of mysticalexperience as far as it useful for the personal growth and the growth of social relationship in human being’s life. Â
SANTO PAULUS Sang Misionaris Agung
Hariprabowo, Yacobus
LOGOS Vol 7 No 1 (2009): Januari 2009
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v7i1.263
The Apostle Paul has always had a special fascination for missionaries. Through the years several monographs on Paul’ significance for the Christian mission have been written by missionaries and missiologists. The missionary dimension of Paul’ theology has not always been recognized. For many years he was primarily regarded as the creator of dogmatic system. With the rise of the history-of-religions school he was viewed pre-eminently as a mystic. Later still the emphasis shifted to the ecclesiastical Paul. Only very gradually did biblical scholars discover that Paul was first and foremost to be understood, also in his letters, as a great missionary.
MELACAK PERAN AGAMA DALAM RUANG PUBLIK
Gora, Redemptus B.
LOGOS Vol 16 No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v16i1.562
Pemikiran Jurgen Habermas tentang masyarakat postsekular harus dimengerti juga dalam kaitannya dengan kebangkitan agama. Dalam masyarakat sekular, lewat proses modernisasi, agama didomestifikasi. Kini dalam zaman postsekular agama bukannya lenyap, sebaliknya justeru menunjukkan potensi semantiknya. Melihat peristiwa itu, Jurgen Habermas meyakini bahwa peran agama dalam ruang publik suatu negara hukum demokratis perlu diperhitungkan. Agama tidak cukup dipandang sebagai artefak kebudayaan yang usang. Penulis berusaha menguraikan bagaimana Habermas menimbang eksistensi dan peran agama itu dalam ruang publik
MERAYAKAN Å abbÄt, HARI SABAT, TAHUN SABAT & TAHUN YOBEL Inspirasi Biblis Peduli Ekologi
Stanislaus, Surip
LOGOS Vol 16 No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v16i1.563
Ilmu pengetahuan dan teknologi di satu sisi telah memajukan perababan dan memberi kenyamanan hidup manusia. Di sisi lain keduanya telah menyulut dan memicu kerakusan manusia untuk mengeksploitasi alam dan melahirkan krisis ekologi. Masalah ekologis ini merupakan dampak negatif dari penggunaan ilmu dan teknologi yang tidak tepat guna. Merayakan Hari Sabat, Tahun Sabat dan Tahun Yobel sebagaimana telah dipraktekkan bangsa Israel dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk peduli ekologi. Å abbÄt Allah (Kej 2:1-3) yang menjadi mahkota dari karya penciptaan dalam Kej 1:1-2:4a dan perkembangan selanjutnya dalam Kel 20:8-11 bukan semata-mata untuk keperluan-Nya sendiri, tetapi sebagai model bagi manusia yang harus menahan diri dari kerjanya dan membatasi diri dari sepak terjang kehidupannya. Dengan merayakan Å¡abbÄt manusia bukan saja beristirahat dari kerja tetapi juga beristirahat untuk menikmati sukacita atas segala pemberian Allah dan beribadat kepada-Nya. Norma-norma tentang Hari Sabat, Tahun Sabat dan Tahun Yobel menyajikan pengistirahatan, pembebasan dan pemulihan dari tindakan-tindakan yang eksploitatif baik terhadap tanah, orang dan budak maupun binatang, sehingga orang yang merayakannya dapat terinspirasi untuk peduli ekologi
BELAS KASIH & KEADILAN ALLAH (Kel 34:5-7)
Stanislaus, Surip;
Saragih, Arie R. Oktavianus
LOGOS Vol 17 No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54367/logos.v17i2.805
Belaskasih Allah sering dimengerti keliru terutama dalam hubungannya dengan keadilan-Nya. Kalau Allah tetap menghukum setiap kesalahan manusia, lalu di mana belaskasih-Nya? Pewahyuan nama Allah dalam Kel 34:57 mengungkapkan bahwa hakikat Allah adalah belaskasih sekaligus adil. Belaskasih Allah secara eksplisit nyata dalam ungkapan “penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa.†Dalam belaskasih itu Allah serentak menyatakan diri-Nya sebagai yang “tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.†Tindakan Allah yang tetap menghukum orang yang bersalah adalah perwujudan keadilan-Nya. Belaskasih Allah tidak meniadakan keadilan-Nya. Allah dikatakan adil kalau Ia mengganjar orang yang benar dan menghukum orang yang salah. Ganjaran Allah itu tercurah dalam berkat dan hukuman-Nya dalam kutuk/kemalangan. Namun bagi bangsa Israel, hukuman Allah sering kali bukan semata hukuman demi hukuman, melainkan hukuman itu bertujuan untuk mendidik, menegur dan menyucikan mereka. Dalam hal ini hukuman menjadi sarana karya penyelamatan Allah sehingga tak bertentangan dengan belaskasih-Nya. Oleh karena itu, belaskasih Allah jangan disalahgunakan untuk kompromi terhadap dosa dan melanggar etos Kristiani. Kita harus mengajarkan belaskasih Allah tanpa meniadakan keadilan-Nya, agar belaskasih Allah itu tidak ditafsirkan sebagai pembiaran dan kesempatan bagi manusia untuk berbuat apa saja. Belaskasih Allah harus dipandang sebagai undangan dan kesempatan bagi manusia untuk bertobat demi keselamatannya.