cover
Contact Name
Tonni Limbong
Contact Email
tonni.budidarma@gmial.com
Phone
+6281267058001
Journal Mail Official
alexander_naununu@ust.ac.id
Editorial Address
Jl. Setiabudi No. 479 F Tanjungsari, Medan, Provinsi Sumatera Utara, 20132
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Logos
ISSN : 14125943     EISSN : 27767485     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Logos memuat artikel hasil penelitian tentang ilmu Filsafat dan Teologi yang dikaji secara empiris dan sesuai kaidah ilmiah sebagai refleksi kritis yang sistematis atas iman khususnya iman Katolik dengan fokus kajian Teologi, Filsafat, Kajian Sosial, Naluri dan Iman, Teknologi pada Teologi dan Filsafat, Pendidikan Agama dan kepercayaan tentang kebenaran pokok-pokok iman Katolik dalam terang wahyu Ilahi, yaitu tradisi dan Kitab Suci, selanjutnya mengenai pelaksanaan iman dalam hidup sehari-hari.
Articles 230 Documents
DIALOG ANTARA TEOLOGI DAN FILSAFAT Perspektif Teologi Sistematik Sunarko, Adrianus
LOGOS Vol 17 No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v17i2.806

Abstract

Pengalaman mengajar teologi selama beberapa tahun menunjukkan adanya kesulitan yang dihadapi banyak mahasiswa dalam melihat relasi antara filsafat dan teologi. Susah payah mempelajari filsafat seringkali dikeluhkan karena tidak dilihat kaitan dan gunanya untuk teologi. Filsafat kadang bahkan dilihat sebagai sesuatu yang mempersulit orang untuk masuk dalam refleksi teologis. Dalam artikel ini berusaha ditunjukkan, bahwa dialog antara filsafat dan teologi sudah memiliki sejarah yang panjang. Melalui contoh-contoh yang konkret hendak diperlihatkan, bahwa bagi teologi dialog dengan filsafat dapat menghasilkan buah yang positif. Untuk itu baik filsafat maupun teologi perlu dijalankan secara konsisten, sesuai dengan prinsip-prinsip metodologis masingmasing ilmu.
DISKURSUS AGAMA DALAM RUANG PUBLIK MENURUT JÜRGEN HABERMAS Gunawan, Leo Agung Srie; Bangun, Nathanio Chris Maranatha
LOGOS Vol 16 No 2 (2019): Juni 2019
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v16i2.1028

Abstract

Today, the role of religions still exists in the public sphere. Habermas sees that religious citizens tend to give their aspirations in the public sphere in a destructive way. As a result, A religion is considered the cause of crime. Actually, It has a various positive benefits to be brought into the public sphere. Therefore, they can convey aspirations in a more appropriate way, namely through a religious discourse. The religious discourse is an act of discourse, that is a discussion with arguments to reach a rational consensus of the best arguments, in the realm of religion. It involves the religious, the secular, and the citizens. It also faces several challenges such as religious fundamentalism, religious privatization, and political religiofication, but it is very relevant to Indonesia, which has many religions and belief streams. Particularly, it is important to see how the relationship between religion and state in Indonesia in order to should be realized.
RECAPITULATIO SIMPUL KRISTOLOGI IRENEUS DARI LYON DALAM ADVERSUS HAERESES Situmorang, Sihol; Purba, Angelo Bonardo
LOGOS Vol 16 No 2 (2019): Juni 2019
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v16i2.1029

Abstract

Gereja mengimani Yesus Kristus sungguh Allah dan sungguh manusia. Untuk sampai pada perumusan pokok iman ini, Gereja dihadapkan pada dua aliran yang bertolak belakang. Pertama, aliran yang menekankan kemanusiaan Yesus dengan menolak ketuhanan-Nya. Kedua, aliran yang mengagungkan ketuhanan-Nya dengan memungkiri kemanusiaan-Nya. Dalam konteks polemik dengan aliran sesat tersebut, Ireneus membela iman Gereja. Ia merumuskan iman akan Yesus Kristus dengan kata recapitulatio. Menurut Ireneus, tujuan kehadiran Yesus di dunia ini adalah untuk mempersatukan semua ciptaan ke dalam diri-Nya dan mengangkat manusia menjadi Anak Allah. Artinya, kristologi Ireneus adalah soteriologi
“ORDINARIS WILAYAH” DALAM GEREJA LATIN Purba, Asrot
LOGOS Vol 17 No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v17i1.1039

Abstract

Kata “Ordinaris Wilayah” sering digunakan dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1983. Siapakah yang dimaksud dengan istilah ini? Berdasarkan Kanon 134 KHK 1983, subyek yang termasuk Ordinaris Wilayah adalah Paus untuk seluruh Gereja, para pemimpin Gereja-gereja partikular, para pemimpin sementara Gereja-gereja partikular pada saat takhta Gereja partikular tersebut terhalang dan takhta lowong dan Vikaris Jenderal serta Vikaris Episkopal. Tulisan ini hendak menampilkan profil dari figur-figur di atas. Para Ordinaris Wilayah tersebut dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok, yakni: Ordinaris Wilayah Asli, Ordinaris Wilayah Sementara dan Ordinaris Wilayah Perwakilan.Ordinaris Wilayah Asli mencakup para pemimpin Gereja-gereja partikular, yang terdiri dari Uskup Diosesan, Vikaris Apostolik, Prefek Apostolik, Abas Teritorial dan Administrator dari wilayah gerejawi administrasi apostolik yang didirikan secara permanen. Ordinaris Wilayah Sementara terdiri dari Administrator Diosesan, Administrator Apostolik yang memimpin keuskupan pada saat takhta lowong dan para pemimpin sementara keuskupan pada saat takhta terhalang dan takhta lowong.Subyek Ordinaris Wilayah Perwakilan terdiri dari Vikaris Jenderal dan Vikaris Episkopal, menurut kompetensinya masing-masing
PENDIDIKAN TENAGA PASTORAL YANG INTEGRAL DAN KONTEKSTUAL DI INDONESIA Gunawan, Leo Agung Srie; Sihombing, Kaisar Octavianus
LOGOS Vol 17 No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v17i1.1040

Abstract

As Christians, it is our duty to tell the world the truth. The truth is not totally an abstract concept. By the existence of Jesus in time and space, we are able to know God himself empirically according to our sensibilities as human being. In short, proclaiming Jesus’ life is proclaiming the truth itself. Nowadays, this duty requires more effort in order to spread the spirituality of Jesus to more people. Progressive development in many ways and stuff bring more obstacles than before. Those who involve themselves in ecclesiastical services should improve their skills due to many challenges among plethora misleading teaching and misconception about what the truth is. In this case, church takes important part in educating and formatting certain people – they could be either priests, religious men or women, or lay people – through its ecclesiastical studies. As for progress, there are at least four fundamental elements we should to care about in order to build better and updated ecclesiastical education.
PLATONIC DIALOGUE AND GADAMERIAN HERMENEUTICS Joni, Albertus
LOGOS Vol 18 No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v18i1.1173

Abstract

This paper will elaborate the different Platonic elements of dialogue as philosophical basis for Gadamerian hermeneutical structures. The intersubjective cross-examination found in Plato’s Dialogue shows that the real meaning comes from the real encounters between speakers; or in Gadamer’s term: encounters between text and the reader. For Gadamer, it is always important in this pursuit of meaning and truth that we examine our own prejudice. Cross-examining our own claim of truth and belief is an essential element in Gadamer’s hermeneutics. I argue that we can see how the Platonic model of dialogue is easily aligned with the Gadamerian positive approach towards ‘traditions.’ There is a constant dialogue at work in interpretation, a dialogue between the past and the present, between different traditions and points of view. Dialogue is an important keyword for both Plato and Gadamer in their efforts to their existential quest of wisdom.
JOHN HICK: ALLAH ADALAH MISTERI, LALU UNTUK APA BERDIALOG? Samosir, Leonardus
LOGOS Vol 18 No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v18i1.1174

Abstract

Allah adalah misteri. Dengan dasar ini, John Hick membawa kristianitas untuk merefleksikan ulang pemahaman akan dirinya sendiri, relasinya dengan agama lain, dan menunjukkan perlunya dialog dalam usaha menggapai Allah di dalam hidup.
BERPARTISIPASI AKTIF BERINTERKULTURASI DI KENISCAYAAN MULTI KULTUR : Implementasi Ratio Formationis Ordinis Fratrum Capocinorum di Indonesia Nadeak, Largus
LOGOS Vol 18 No 2 (2021): Juli 2021
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v18i2.1321

Abstract

Kemajuan teknologi komunikasi memudahkan manusia untuk mengenal satu bumi serta memelihara keragaman budaya dan agama yang ada di dalamnya agar kebersamaan bersaudara hidup dalam damai. Keragaman budaya (multikultur) sangat khas di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keniscayaan multikultur bisa menjadi ancaman kebersamaan kalau ada kelompok primordial sempit dan kelompok radikalisme destruktif yang ingin mengkoloni satu budaya dan masyarakat penghayatnya demi kepentingan politis dan kuasa. Sebaliknya keniscayaan multikultur akan menjadi rahmat indah “bepelangi” kalau masyarakat berpartisipasi aktif berinterkulturasi. Budaya perjumpaan akan bertumbuh sehingga setiap budaya memiliki jati nilai dan masyarakat penghayatnya memiliki jati diri. Ordo Kapusin penyebar kharisma persaudaraan dengan kesadaran tinggi mengajak semua saudara untuk aktif berpartisipasi berinterkulturasi secara internasional dan terutama secara nasional dan lokal. Usaha berinterkulturasi diwajibkan untuk dijabarkan dalam kurikulum dan program pendidikan di setiap daerah agar para saudara menjadi berkharisma dengan menggali kearifan lokal yang bersintese dengan nilai universal yang dihayati dan diserukan oleh Fransiskus dari Assisi penghayat Injil Tuhan Yesus Kristus.
BELAS KASIH SEBAGAI FONDASI PASTORAL GEREJA : Suatu Uraian Teologis Moral atas Permenungan Paus Fransiskus dalam Bulla Misericordiae Vultus Moa, Antonius; Cholma, Thery
LOGOS Vol 18 No 2 (2021): Juli 2021
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v18i2.1322

Abstract

Sebagai komunitas umat beriman Kristiani, Gereja pertama-tama mesti meng­artikan belas kasih sebagai panggilan untuk bertindak serta berupaya untuk melakukan setiap pelayanan pastoral. Pelayanan pastoral belas kasih merupakan bagian hakiki dari jati diri serta panggilan Gereja di dunia yang dapat diungkapkan lewat sikap berbela rasa dan memperjuang­kan nilai-nilai keadilan. Dengan senantiasa mengutamakan pelayanan pastoral yang berbelas kasih, Gereja dapat menjadi tanda dan sarana cinta kasih Allah yang berakar pada hakikat dan identitasnya sebagai tubuh Kristus dan umat Allah. Belas kasih itulah yang seharusnya menjiwai segala reksa pastoral Gereja, menjadi fondasi bagi setiap karya pastoral Gereja itu sendiri.
KLERIKUS DILARANG BERPOLITIK PRAKTIS Promosi Agar Klerikus Aktif Berpolitik Kepedulian Sosial Nadeak, Largus
LOGOS Vol 12 No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v12i2.1467

Abstract

Setiap umat Kaktolik otomatis anggota masyarakat satu negara. Setiap umat Katolik baik para klerikus dan awam dipanggil untuk terlibat aktif berpolitik. Kegiatan politik merupakan seni mengatur dan mengurus negara yang mencakup penetapan bentuk, semua kebijakan/tindakan demi kesejahteraan masyarakat, dan mempertanggungjawabkannya. Umat awam diharapkan terlibat dalam politik praktis dan politik kepedulian sosial. Para klerikus dilarang berpolitik praktis tetapi harus telibat aktif dalam politik kepedulian sosial. Larangan ini jelas disebut dalam KHK 1983, kan. 287, 2, para klerikus “Jangan turut ambil bagian aktif dalam partai-partai politik dan dalam kepemimpinan serikat-serikat buruh, kecuali jika menurut penilaian otoritas gerejawi yang berwenang hal itu untuk melindungi hak-hak Gereja atau memajukan kesejahteraan umum.” Anggota klerikus yang berusaha terlibat dalam politik praktis tanpa disetujuai oleh pimpinannya, bukan hanya melawan KHK tetapi melawan kesadaran pilihan sebagai anggota klerikus. Umat awam hendaknya mendukung para klerikus untuk tetap bangga dalam panggilan sebagai anggota klerikus dalam menggunakan pengaruhnya politis kepedulian sosialnya dalam memperjuangkan hak-hak Gereja dan kesejahteraan umum masyarakat secara keseluruhan

Page 10 of 23 | Total Record : 230