cover
Contact Name
Tonni Limbong
Contact Email
tonni.budidarma@gmial.com
Phone
+6281267058001
Journal Mail Official
alexander_naununu@ust.ac.id
Editorial Address
Jl. Setiabudi No. 479 F Tanjungsari, Medan, Provinsi Sumatera Utara, 20132
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Logos
ISSN : 14125943     EISSN : 27767485     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Logos memuat artikel hasil penelitian tentang ilmu Filsafat dan Teologi yang dikaji secara empiris dan sesuai kaidah ilmiah sebagai refleksi kritis yang sistematis atas iman khususnya iman Katolik dengan fokus kajian Teologi, Filsafat, Kajian Sosial, Naluri dan Iman, Teknologi pada Teologi dan Filsafat, Pendidikan Agama dan kepercayaan tentang kebenaran pokok-pokok iman Katolik dalam terang wahyu Ilahi, yaitu tradisi dan Kitab Suci, selanjutnya mengenai pelaksanaan iman dalam hidup sehari-hari.
Articles 230 Documents
ALLAH PENCIPTA HADIR DI SINI BERSAMA CIPTAANNYA : Refleksi Ekologis Kontekstual Nadeak, Largus
LOGOS Vol 15 No 2 (2018): Juni 2018
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v15i2.321

Abstract

“Berpikir global dan bertindak lokal!” merupakan seruan ekologis yang perluditidaklanjuti dan direalisasikan. Dalam hidup nyata setiap hari di tempatnyadan di waktu sekarang umat Kristen bersama dengan masyarakat dipanggilberpartisipasi memelihara karya Allah yang nyata di bumi dan isinya.Kekayaan dan keindahan bumi sangat terbuka untuk kegiatan bisnispariwisata. Badan Pelaksanaan Otorita Danau Toba (BPODT) sedangmerancang Danau Toba sebagai belahan bumi yang indah menjadi tujuanpariwisata. Masyarakat Batak-Toba yang mayoritas tinggal di sekitar DanauToba memiliki budaya dan tradisi religius. Suku Batak-Toba memiliki kisahpenciptaan yang sangat khas, dan nilai yang ada dalam kisah penciptaantersebut tersebar di tata budaya dan tindakan religi yang bermuatan kelestarian kekayaan alam. Masyarakat sekitar Danau Toba dipanggil agar giat berperan memelihara lingkungan serta melestarikan budaya dan tradisi religi yang sungguh bermakna bagi banyak orang. Kegiatan pengembangan ekonomi pariwisata seharusnya menghargai nilai budaya dan kekayaan religi yang ada, serta mendukung masyarakat setempat dan orang yang berkunjung untuk mengalami dan mengungkapkan bahwa Allah hadir sini bersama ciptaan-Nya.
ASKETISME DALAM TRADISI MONASTIK KRISTEN Situmorang, Sihol
LOGOS Vol 15 No 2 (2018): Juni 2018
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v15i2.322

Abstract

Askese, yang secara sederhana dimengerti sebagai matiraga, termasuk unsur essensial dalam tradisi monastik kristen. Dengan penyangkalan diri, puasa, hidup bertarak dan meninggalkan dunia ramai menuju tempat yang sunyi dan sepi, para petapa dan para rahib ingin mengejar kesempurnaan hidup seturut Injil dengan mengutamakan hidup doa dan kontemplasi. Tradisi monastik muncul sebagai bentuk protes atas kendurnya penghayatan nilai-nilai kekristenan khususnya ketika Agama Kristen mendapat kebebasan terlebih lagi pada saat menjadi agama negara. Dalam upaya mengejar keserupaan dengan Kristus, askese badani sangat ditekankan, kendati bukan menjadi unsur yang paling utama. Askese merupakan medium atau sarana, dan bukan tujuan. Pemahaman mengenai askese berkembang dengan semakin ditekankannya nilai interior atau batiniah, yang meliputi iman, kerendahan dan kesatuan hati, kesabaran, ketaatan, pelayanan, kerja keras, ugahari, doa dan kontemplasi.
KRITIK SOSIAL : Nabi Israel-Yehuda Stanislaus, Surip
LOGOS Vol 15 No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v15i1.335

Abstract

Kehidupan semi-nomaden di padang gurun membentuk bangsa Israel peka terhadap keadilan sosial. Kepedulian terhadap keadilan sosial itu berangsur-angsur luntur bersamaan dengan menetapnya bangsa itu di tanah Kanaan. Salah satu penyebabnya adalah kerakusan tuan-tuan tanah dan penyalahgunaan kuasa para penguasa yang mau meraup keuntungan pribadi. Akibatnya terjadi kekerasan dan penindasan terhadap orang-orang lemah, terbentang jurang antara orang kayamiskin dan ketidakadilan sosial. Kenyataan inilah yang mendorong para nabi Israel melontarkan kritik sosial bagi bangsanya. Berpedoman pada masyarakat perjanjian (Ul 12-26) Nabi Amos mencelapemanipulasian perkara pengadilan dengan uang suap untuk memeras orang miskin. Nabi Yesaya mengkritik para pemimpin Yerusalem dan penduduknya yang sudah menjadi sundal atau kehilangan keadilan dan kebenaran. Nabi Mikha mengecam para penguasa Yehuda yang membenci keadilan dan nabi-nabi palsunya yang menyesatkan. Nabi Zefanya mencela penduduk Yehuda yang berlaku tidak adil, para pemimpin dan hakim-hakim yang tidak membela rakyat dan para imam yang mencemarkan ibadat. Nabi Yeremia mengritik bahwa  kepercayaan kepada TUHAN yang tinggal bersama umat-Nya di Bait- Nya adalah sia-sia bila tidak dibarengi pertobatan dan tindak keadilan. Nabi Yehezkiel mengecam para pemimpin Yehuda yang memeras dan membiarkan rakyatnya tersesat serta menuduhkan kejahatan sosial dan keagamaan pada rakyatnya. Nabi Obaja mengutuk kejahatan bangsa Edom yang bertindak kejam dan merampas tanah dari sisa-sisa penduduk Yehuda buangan serta memperbudak mereka. Nabi Zakharia menuduh dan mengingatkan bahwa pertobatan tidak cukup dengan menyelesaikan pembangunan kembali Bait Allah saja, tetapi harus dibarengi dengan hidup dalam kebenaran, kebaikan dan keadilan. Nabi Yoel mengecam dan menubuatkan hukuman terhadap musuh-musuh Israel (Tirus, Sidon dan Filistin) atas kejahatan mereka yang merampas tanah dan perkakas Bait Allah serta memperjualbelikan bangsa Israel sebagai budak.
MENCINTAI KELUARGA : Mengahayati Keadilan dan Belas Kasih Nadeak, Largus
LOGOS Vol 14 No 2 (2017): Juni 2017
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v14i2.336

Abstract

Tantangan, masalah, dan krisis dalam keluarga dengan bervariasi jenis sudah  lama terjadi dan akan berlanjut. Aturan yang sudah dirumuskan dalam masyarakat dan dalam umat Gereja bisa membantu keluarga, tetapi cenderung menghukum keluarga yang bersalah, sehingga kurang membantu keluarga untuk memperbarui diri. Paus Fransiskus dalam Bulla Misericordiae Vultus (Wajah Kerahiman) dan Anjuran Apostolik Paska Sinode Amoris Laetitia (Kegembiraan Cinta) mengajak umat agar setiap keluarga bergegas menghayati kekudusan sakramental perkawinan dalam kehidupan real, sehingga bergembira saling mencintai dengan keadilan dan belas kasih. Daya belas kasih ilahi yang hidup dalam keluarga sakramental akan bangun kalau keluarga memaafkan kekurangan dan meneguhkan kebaikan sehingga nyata dialami suka cita yang bisa mengatasi tantangan dan masalah. Dengan membaca dan mendengar Sabda Allah, keluarga mendapat inspirasi dari pengalaman keluarga beriman untuk menghayati keterlibatan Allah. Dengan berdoa bersama di keluarga dibantu media yang tersedia dewasa ini, serta kreatif menggunakan waktu secara bersama dalam kesibukan harian akan mendatangkan berkat baru untuk keluarga.
TOKOH PANUTAN-KHARISMATIS DALAM KEBHINEKAAN Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol 14 No 2 (2017): Juni 2017
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v14i2.340

Abstract

Isu kebhinekaan atau keberagaman akhir-akhir ini diserukan kembali oleh orang-orang yang dianggap tokoh atau menokohkan diri dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pengangkatan kembali isu-isu tersebut bisa dimaklumi karena akhir-akhir ini tindakan-tindakan yang mengarah pada radikalisme muncul di berbagai tempat di Indonesia. Artinya, terdapatnya kelompok masyarakat yang anti kebhinekaan (tidak terang-terangan) itu pernah muncul pada masa-masa sebelumnya tetapi frekuensinya tidak sebanyak yang terjadi pada akhir-akhir ini. Bukan tidak mungkin gerakan-gerakan tersembunyi seperti itu membahayakan keutuhan negara. Tokoh panutan-kharismatis yang mengedepankan kebhinekaan demi keutuhan negara selalu dibutuhkan agar masyarakat Indonesia terbebas dari kekacauan yang disebabkan oleh sara (suku, agama dan ras).
DAMPAK POSITIF HARI KAUM MUDA SEDUNIA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN DAMPAK POSITIF ITU (bagian kedua dari dua tulisan) Simanullang, Gonti
LOGOS Vol 11 No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v11i1.341

Abstract

Bagia kedua tulisan ini meliputi dampak positif Hari Kaum MudaSedunia (HKMS) dan faktor-faktor yang menyebabkan dampak positifitu. HMKS memberi dampak baik kepada peserta maupun bukanpeserta. Kesaksian peserta mengenai dampak itu meliputi maknaeksperiensial kekatolikan, host families yang ramah, pengalaman iman,pengalaman akan persaudaraan dan kebersamaan. Dampak positiflainnya adalah keraguan menjadi kepastian, dan evaluasi positif darikomunitas Yahudi. Sedangkan faktor-faktor yang menimbulkandampak positif itu adalah pemimpin Gereja, host families, prosesi dengansalib dan ikon Bunda Maria, anthem, katekese, sakramen rekonsiliasi,dan adorasi Sakramen Mahakudus.
FORMALISME KEHIDUPAN BERAGAMA (Studi Kasus Gereja Katolik Keuskupan Purwokerto) Suraji, Robertus
LOGOS Vol 14 No 1 (2017): Januari 2017
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v14i1.407

Abstract

Indonesia is a nation that seems religious. Place of worship was flooded with a lot ofpeople. Events and holy days of religius became a national event. In the other hand,some times the religious comprehention was halted at the places of worship that wasit. In the national and society life easily we can find people to do things that arecontrary to religious values. Human rights violations and corruption becomes difficultto eradicate. Moral degradation occurs from the level of family, community, societyand state officials. Within communities also repeatedly occurred certain group usereligion as an instrument of legitimacy to the acts of violence driven by a belief in theirown truth as the only truth, and the loss of a sense of respect for those who areconsidered different. Hence people are not so concerned with the behavior that iscontrary to what religion had been teaches, even assume it was not related to faith. Onthe other hand there are people who are aware of the true situation but are powerless,or do not have enough courage to reject it. This is the situation called formalism ofReligious Life. The cause of religious formalism that may arise from the internalreligious teachings, not only from the social structure of society but also of a culturethat is built in this community. The impact of these religious formalism can happen ona personal level, both the social structure and the culture of the society. Therefore, tocounter religious formalism is not enough left to religious leaders, but also thereshould be a joint motion to change the structure and culture of Indonesian society.
BUDAYA-BUDAYA YANG BERPENGARUH TERHADAP TEOLOGI KRISTEN Ara, Alvonsus
LOGOS Vol 12 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v12i1.860

Abstract

Setiap wawasan teologi kristiani tumbuh dan berkembang sesuai dengan pola pikir dan situasi sosial-politik yang hidup dalam konteks budaya dan zamannya. Apabila wawasan teologi didalami, maka patut ditegaskan bahwa pertumbuhan dan perkembangan teologi kristen sangat dipengaruhi oleh budaya Yahudi, budaya Yunani, budaya Romawi dan budaya kristiani sendiri. Oleh karena itu, pada bagian ini akan dipaparkan secara khusus kekayaan dari masing-masing budaya yang sangatmenentukan isi teologi kristiani.
“KELUARGA YANG RAPUH” MENDIDIK MORAL ANAK DI DALAM BUDAYA POSTMODERNISME Moa, Antonius
LOGOS Vol 12 No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v12i2.864

Abstract

Nowdays, family as the union of persons are in fragile condition and in crisis. These things are happening as the effect of a strong cultural changing: from modernity to a fragile culture called postmodernity. What to do? How families handle this crisis? As the main actor in the mission and responsibility for children's moral educations, families are facing great challenges. To be able to do this mission and face this problem, families have to renew themselves continuously, find and create a model for their moral education for their children which comes from realities faced in particular time. It means, the families must know their reality because each family has different reality. Another  invitation is to find way to integrate the values from modern and post-modern culture. Whith this solution hopefuly the crisis in the families will be lessen or solve in proper way. 
PERJANJIAN BARU DAN TEOLOGI Ara, Alfonsus
LOGOS Vol 12 No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v12i2.865

Abstract

Perjanjian Baru bukanlah cabang dari teologi, tetapi sebagai akar, sumber, landasan dan otoritas tertinggi dalam berteologi. Berangkat dari penegasan ini, maka disimpulkan bahwa: pertama, sesungguhnya penulis Kitab Suci Perjanjian Baru tidak berteologi (teologi ilmiah). Mereka hanya menulis dan meneruskan (laporan, rencana) Wahyu Allah yang terpenuhi dalam diri Yesus Kristus (teologi dasar); kedua, Perjanjian Baru adalah inti dari Wahyu Allah sendiri, bukan bagian dari teologi.

Page 11 of 23 | Total Record : 230