cover
Contact Name
I Made Gami Sandi Untara
Contact Email
gamisandi@gmail.com
Phone
+62362-21289
Journal Mail Official
gamisandi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pulau Menjangan No 27, Banyuning, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng – Bali 81119
Location
Kab. buleleng,
Bali
INDONESIA
Vidya Darśan : Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu
ISSN : -     EISSN : 27155447     DOI : -
Vidya Darśan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu merupakan jurnal ilmiah yang fokus publikasi ilmiahnya pada bidang ilmu Filsafat. Segala pemikiran ilmiah dalam jurnal diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang ilmu Filsafat dan Filsafat Hindu. Jurnal Vidya Darśan terbit setahun dua kali yakni edisi Mei dan November. Dikelola dan dikembangkan oleh Program Studi Filsafat Hindu STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja.
Articles 92 Documents
Komparasi Filsafat Cinta Mahatma Gandhi Dengan Erich Fromm Dilla Sasmita
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/vidyadarsan.v4i2.2996

Abstract

Abstrack Cinta memberikan keindahan dan juga kepedihan ibarat dua mata pisau. Dalam konteks filosofis cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, cinta kasih, belas kasih, dan juga kasih sayang. Lalu apa itu cinta? Dengan apa dan bagaimana kita mengetahui itu cinta? Apa arti sesungguhnya cinta itu? Biasanya cinta didahului dengan rasa ketertarikan dan kekaguman, baik itu karena sifat, fisik,kemampuan atau materi, tetapi apakah itu sudah bisa dikatakan cinta yang sebenarnya? Kata cinta keluar dari semua kata manusia, dari tingkah laku, keadaan, perasaan bahkan suatu kisah yang terjadi. Tidak asing lagi dengan kisah atau legenda-legenda yang menggambarkan cinta, seperti kisah Romeo dan Juliet di Barat, Qais dan Laila di Timur, Galuh dan Ratna di Indonesia, Roro Mendut dan Pronocitro di pulau Jawa, bahkan ada dalam kisah radha krishna mencerminkan bahwa cinta bukanlah perkara parsial seorang anggota bangsa, tetapi perkara universal yang selalu dirasa oleh individu setiap benua. Dari gambaran sederhana bukti atau kenyataan yang terjadi Erich Fromm dan Mahatma Gandhi memiliki pandangan mengenai apa dan bagaimana cinta itu? Berasal dari lapangan yang berbeda tetapi dipertemukan dalam satu hal yang berkesinambungan yaitu tentang cinta. Erich Fromm berpandangan cinta itu selayaknya seni , bagaimana cara mencintai atau seni mencintai dan Mahatma Gandhi berpandangan bahwa cinta itu anti akan kekerasan,siksaan dan rasa sakit yang ditimbulkan. Dari kedua pandangan tokoh filsuf ini kita akan tau lebih apa itu cinta dan terhindar dari kegagalan cinta. Keywords: Filsafat, Cinta, Mahatma Gandhi, Erich Fromm.
Kajian Filosofis Tradisi Nawur Pelebuh Bagi Krama Tri Datu Di Desa Adat Buleleng Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng Ketut Sudiartha; Ida Bagus Putu Eka Suadnyana; Ayu Veronika Somawati
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/vidyadarsan.v4i2.3243

Abstract

Abstrak Tradisi Nawur Pelebuh dilaksanakan khusus bagi Krama Tri Datu sehingga masih banyak masyarakat yang belum memahami terkait pelaksanaan serta makna filosofis dari tradisi Nawur Pelebuh. Berdasarkan latar belakang tersebut, terdapat tiga permasalahan yang akan dibahas antara lain: (1) Apa landasan tradisi Nawur Pelebuh bagi Krama Tri Datu di Desa Adat Buleleng Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng, (2) Bagaimana bentuk pelaksanaan tradisi Nawur Pelebuh bagi Krama Tri Datu di Desa Adat Buleleng Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng, (3) Apa makna filosofis tradisi Nawur Pelebuh bagi Krama Tri Datu di Desa Adat Buleleng Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng? Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah: metode observasi, metode wawancara, dan metode kepustakaan. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan metode analisis deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian dan analisis data menunjukan: (1) Dasar pelaksanaan tradisi Nawur Pelebuh dapat dilihat dari segi landasan historis, landasan religius, dan landasan sosial kemasyarakatan. (2) Bentuk tradisi Nawur Pelebuh terdiri dari waktu dan tempat pelaksanaan tradisi, sarana tradisi, tahapan awal, tahapan inti, serta tahapan akhir. (3) Makna filosofis yang terkandung dalam tradisi Nawur Pelebuh ini yaitu makna keharmonisan, makna kebersamaan, makna etika, dan makna pelestarian budaya. Kata Kunci: Tradisi Nawur Pelebuh, Filosofis
TARI REJANG SANG HYANG IINAN DI DESA ADAT PUJUNGAN KECAMATAN PUPUAN KABUPATEN TABANAN Ni Wayan Selina Dewi; I Wayan Gata; I Wayan Kary Arta
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/darsan.v5i1.3727

Abstract

The sang hyang iinan rejang dance is one of the sacred dances of Pujungan village and is one of the inheritances passed down from generation to generation that must be carried out. This dance is performed every Pujawali Kapat which is held once a year. The people of Pujungan Village believe that the rejang sang hyang iinan dance has a very deep meaning for the community. Based on this background, there are several problem formulations in this research, including: 1) What is the basis of the rejang sang hyang iinan dance in the Pujungan Traditional Village? 2) What is the process of implementing the sang hyang iinan rejang dance in the Pujungan Traditional Village? 3) What is the meaning and function of the sang hyang iinan rejang dance in Pujungan Village? Several theories that researchers use to study the problem and also provide direction and foundation, namely: 1) Religious Theory is used to dissect the formulation of the first problem regarding the basis for implementing the rejang sang hyang iinan dance in the Pujungan Traditional Village. 2) Structural functional theory is used to dissect the formulation of the second problem regarding the process of implementing the rejang sang hyang iinan dance in the Pujungan Traditional Village. 3) The Theory of Meaning is used to dissect the formulation of the third problem regarding the meaning and function of the rejang sang hyang iinan dance in the Pujungan Traditional Village. The results of the research and data analysis show: (1) The basis for the implementation of the Rejang sang hyang iinan dance is seen from the perspective of a historical basis, a religious basis. The process of performing the Rejang sang hyang iinan dance is carried out at the pujawali kapat in Pujungan Village using facilities in the form of the sang hyang iinan. (2) The function of the sang hyang iinan rejang dance can be seen in terms of religious function, social function and cultural preservation function. (3) The philosophical meaning contained in the sang hyang iinan rejang dance is the aesthetic meaning, the meaning of Hindu religious education, and the ethical meaning.
MAKNA DAN IMPLEMENTASI TRI KAYA PARISUDHA DALAM PENCAPAIAN KESUCIAN SPIRITUAL Gede Adi Tiana
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/darsan.v5i1.3570

Abstract

Permasalahan moral belakangan ini banyak bermunculan, khususnya di kalangan remaja. Hal ini memerlukan pertimbangan yang luar biasa mengenai pentingnya kualitas moral. Ketika orang tidak bertindak etis, mereka akan mendapat banyak masalah. Dalam pelajaran agama Hindu terdapat gagasan-gagasan yang berhubungan dengan kualitas mendalam atau Susila. Ajaran Susila tentang Tri Kaya Parisudha merupakan bagian dari Kerangka Tri Dasar Agama Hindu. Kerangka ini terdiri dari tiga bagian: (1) pemikiran yang baik, yang disebut Manacika Parisudha; (2) mengungkapkan hal-hal baik yang disebut Wacika Parisudha; dan (3) berkelakuan baik yang disebut Kayika Parisudha. Penggunaan ajaran Tri Kaya Parisudha dalam kehidupan sehari-hari sangat tepat untuk memahami pelajaran agama Hindu secara lebih mendalam. Latihan dunia lain adalah cara yang dapat meningkatkan perhatian, pengakuan terhadap diri sendiri dan orang lain, dan secara umum kepuasan hidup. Memang benar, perwujudan agama adalah dunia lain, namun dunia lain itu sendiri bukanlah agama. Agama Hindu pada dasarnya mengajarkan bahwa setiap perkataan dan aktivitas manusia dimulai dari jiwa. Pada dasarnya, pengendalian jiwa telah menjadi komitmen manusia. Tri Kaya Parisudha artinya pikiran seseorang harus selalu terkendali agar terhindar dari perilaku buruk dan penyakit. Cara yang paling umum untuk mencapai kebajikan dunia lain dalam situasi ini adalah dengan memahami pelajaran agama Hindu secara umum, salah satunya adalah dengan memahami pentingnya dan melaksanakan pelajaran Tri Kaya Parisudha. Terlaksananya hikmah Tri Kaya Parisudha selama menunaikan kebajikan dunia lain hendaknya dapat dilakukan dengan memohon mendekatkan diri kepada Tuhan, sehingga dapat terus menerapkan hikmah yang datang dari-Nya.
EKSISTENSI TRADISI NAMPAH PENYU DALAM PIODALAN AGUNG DI PURA MAS PANYETI DESA ADAT BANJAR TEGAL KECAMATAN BULELENG KABUPATEN BULELENG Kadek Rudi Sanjaya; I Made Gami Sandi Untara; ida Bagus Putu Eka Suadnyana
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/darsan.v5i1.3725

Abstract

ABSTRAK Tradisi Nampah Penyu yang dilakukan oleh masyarakat Desa Adat Banjar Tegal pada umumnya adalah wujud rasa bhakti dan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan tradisi Nampah yaitu membangun kekuatan diri untuk mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sehingga dengan demikian secara tegas dapat menghindar dari kesalahan yang dapat membawa kita pada kehidupan adharma. Berdasarkan latar belakang tersebut, terdapat tiga permasalahan yang akan dibahas antara lain: (1) Apa landasan tradisi Nampah Penyu dalam Upacara Piodalan Agung di Pura Mas Panyeti di Desa Adat Banjar Tegal Kecamatan Buleleng, (2) Bagaimana bentuk pelaksanaan dalam tradisi Nampah Penyu dalam Upacara Piodalan Agung di Pura Mas Panyeti di Desa Adat Banjar Tegal Kecamatan Buleleng, (3) Apa Implikasi yang terkandung dalam tradisi Nampah Penyu dalam Upacara Piodalan Agung di Pura Mas Panyeti di Desa Adat Banjar Tegal Kecamatan Buleleng. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah: metode observasi, metode wawancara, dan metode kepustakaan. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan metode analisis deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian dan analisis data menunjukan: (1) Dasar pelaksanaan tradisi Nampah Penyu dapat dilihat dari segi landasan historis dan landasan religius, (2) Bentuk tradisi Nampah Penyu terdiri dari waktu dan tempat pelaksanaan tradisi, sarana tradisi, tahap awal, tahap pelaksanaan, serta tahap akhir. (3) Implikasi yang terkandung dalam tradisi Nampah Penyu ini yaitu Implikasi Sradha dan Bhakti, Implikasi Sikap Solidaritas dan Implikasi Pelestarian Budaya. Kata Kunci: Tradisi Nampah Penyu, Eksistensi.
Implementasi Ajaran tata Susila Dalam Agama Hindu Di Panti Asuhan Narayan Seva Nia Pratami; Tina Septiana; I Made Hartaka
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/darsan.v5i1.3582

Abstract

Manusia merupakan makhluk yang memiliki ciri khas, terutama dalam hal kemampuan intelektual dan sosial yang mampu untuk berpikir secara kompleks, memproses informasi, merenungkan berbagai konsep dan mampu membuat keputusan berdasarkan pemikiran dan pertimbangan. Selain itu memungkinkan manusia untuk berbagi ide, pengetahuan, dan emosi dengan orang lain. Ajaran Tata Susila berkaitan dengan tattwa (filsafat), susila (etika) dan upacara (ritual), yang erat hubungannya dan saling mengisi satu sama lain. Tata Susila dalam ajaran agama hindu berasal dari bahasa Sanskerta yang memiliki arti tingkah laku baik dan benar. Perbuatan yang baik atau tingkah laku yang baik terkandung dalam kata susila. Tata susila sebagai konsep etika dan moral membahas mengenai apa yang dianggap benar dan salah dalam tindakan dan perilaku manusia serta mejadi dasar bagi individu dan keompok untuk membuat keputusan dalam menghadapi situasi moral di kehidupan sehari-hari. Tujuan tata susila diantaranya dapat membina hubungan yang selaras dan menjaga keharmonisan hubungan yang rukun antar masyarakat dengan makhluk hidup di sekitarnya, dimana agama sebagai dasar dari tata susila berdasarkan ajaran agama hindu.
KAJIAN FILOSOFI TRADISI MEGÉBÉG-GÉBÉGAN GODÉL DALAM UPACARA BHUTA YAJÑA DI DESA ADAT DHARMAJATI TUKADMUNGGA KECAMATAN BULELENG KABUPATEN BULELENG Ketut Sriwahyuni; I Wayan Gata; I Putu Ariasa Darmawan
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/darsan.v5i1.3726

Abstract

The Megébég-gébégan godél tradition is a tradition that is carried out by grabbing or pulling the godél's head. This tradition is carried out once a year, namely one day before the Nyepi holiday. Looking at this background, the problem can be formulated as follows: 1) What is the basis of the megébég-gébégan godél tradition in the Dharmajati Tukadmungga Traditional Village, Buleleng District, Buleleng Regency? 2) What is the Megébég-gébégan godél traditional system in the Dharmajati Tukadmungga Traditional Village, Buleleng District, Buleleng Regency? 3) What is the meaning of the philosophy of the Megébég-gébégan godél tradition in the Dharmajati Tukadmungga Traditional Village, Buleleng District, Buleleng Regency? The theories used include: 1) Religious theory, 2) Structural functional theory, and 3) Symbol theory. The methods used to collect data are: observation method, interview method, and document study method. The results obtained from this research are: 1) The Megébég-gébégan godél tradition is based on a historical basis, a mythological basis, a religious basis, and a social basis. 2) This traditional system is: (1) The place of implementation is at the great intersection (catus pata) and The implementation time is once a year, the day before the Nyepi holiday, (2) The means of implementing the tradition are godél and using banten, the implementers of the megébég-gébégan godél tradition are: the Dharmajati Tukadmungga Traditional Village Community, Jro Mangku Kahyangan Tiga, and Sarati Banten. The process of carrying out the bhuta yajña ceremony begins with mepepade, prayers at Pura Dalem, followed by the tawur grand senga and the megébég-gébégan godél tradition, 3) The meanings contained in the Megébég-gébégan godél tradition are: the meaning of philosophy, the meaning of Tri Hita Karana, the meaning of togetherness, ethical meaning, meaning, and significance of cultural preservation Keywords: Megébég-gébégan Godél Tradition, Philosophical Studies
RAGAM PERSOALAN PENDIDIKAN DI INDONESIA DALAM TINJAUAN KRITIS FILSAFAT PENDIDIKAN Gede Agus Siswadi
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/darsan.v5i1.2937

Abstract

Humans in their lives need education to develop all the competencies they have. So that the role of education is very vital in human life. Education is also often referred to as a human effort to free oneself from ignorance. However, behind the important role of education, there are actually various educational problems that have hindered various aspects of human development. This research seeks to look at various problems in education through qualitative methods with a phenomenological approach. The results of this study indicate that there is still capitalism in education, then the practice of dehumanization, education which should be a humanist institution but there is a phenomenon of violence in education. Policies in education are also changing which indicates where the direction of education in Indonesia is becoming unclear. Elitism and castelism in education also occur, which causes unequal access to education. Furthermore, education requires philosophy to solve various problems in education that cannot be solved by educational science. The importance of learning in the 21st century to use technology in education. Keywords: Dishumanization, Capitalism, Castanization, Educational Philosophy.
EKSISTENSI RUMAH ADAT SAKA RORAS DESA CEMPAGA KECAMATAN BANJAR KABUPATEN BULELENG Ni Kadek Yuni Ariningsih; I Made Gami Sandi Untara; I Made Hartaka
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/darsan.v5i1.3628

Abstract

Rumah adat saka roras adalah rumah adat yang terletak di Desa Cempaga Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng. Rumah adat saka roras merupakan rumah yang disakralkan oleh masyarakat Desa Cempaga. Adapun rumusan masalah penelitian ini terdiri dari: 1) Apa Landasan adanya rumah adat saka roras? 2) apa fungsi rumah adat saka roras, 3) apa makna filosofi dari rumah adat saka roras? Landasan teori yang di gunakan peneliti dalam menganalisis masalah yaitu: 1) Teori Religi 2) Teori struktural fungsional 3) Teori Hermeneutika. Jenis riset ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan mendeskripsikan objek yang di teliti. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah: metode observasi, metode wawancara, metode kepustakaan dan metode dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian di analisis dengan metode analisis deskriftif dengan menggunakan teknik reduksi data, penyajian data dan penyimpulan. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Pembangunan rumah adat saka roras dilandasi oleh adanya cerita turun temurun yang hingga saat ini menjadi sejarah, landasan sosioreligius, landasan estetis dan landasan religi. 2) Fungsi rumah adat saka roras adalah: fungsi religi yang digunakan untuk melaksanakan pemujaan terhadap Tuhan dan leluhur, fungsi sosial yaitu untuk meningkatkan solidaritas dan kebersamaan masyarakat dan krama Desa Cempaga, sebagai pelestarian budaya untuk mempertahankan dan melestarikan adat dan budaya. 3) Makna filosofi yang terdapat dalam rumah adat saka roras yaitu makna keharmonisan untuk meningkatkan keharmonisan antara Tuhan, manusia atau keluarga yang menempati rumah adat saka roras, dan lingkungan sekitar hal ini didapat dari fungsi kompleks. Makna simbolik yaitu adanya tempat atau ruang yang disimbolkan sebagai tempat pemujaan Tuhan. Kata kunci: Eksistensi, saka roras, filosofi
KONSEP KETUHANAN HINDU SEBAGAI PEMBANGUN SRADHA DAN BHAKTI UMAT HINDU Mery Sundari
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/darsan.v5i1.2997

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan sradha dan bhakti umat hindu melalui pemahaman konsep ketuhanan hindu dengan meode penelitian kualitatif. Konsep Hindu tentang Tuhan melibatkan pemahaman bahwa Tuhan ada dalam berbagai bentuk dewa dan dewi. Agar manusia mempunyai sradha dan bhakti kuat untuk menyadari Tuhan, manusia dapat memahami tuhan dengan pengetahuan yang dalam terkait identitas manusia, yaitu Atman. Agama Hindu mengajarkan penganutnya empat cara untuk memahami dan melayani Tuhan, yaitu catur marga yoga. Manusia terikat dengan tanggung jawab di kehidupan ini. Jika berbuat baik, maka kebaikan yang didapatkan, begitu juga sebaliknya, dalam hindu itu disebut dengan karma. Karma yang menentukan manusia menyatu dengan Brahman, maka jika masih ada kekurangan untuk moksa maka manusia akan punarbawa. Untuk memutus punarbhawa, manusia harus melaksakanan dengan tekun ajaran agama hindu untuk mencapai moksha.

Page 9 of 10 | Total Record : 92