Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika (p-ISSN: 2798-2904 & e-ISSN: 2798-2798) mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang pendidikan matematika yang belum pernah dipublikasikan. Penulis dapat berasal dari berbagai level, seperti mahasiswa (S1, S2, S3), guru, dosen, praktisi, maupun pemerhati pendidikan matematika. Plusminus terbit tiga kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Maret, Juli, dan November. Penerbit Plusminus adalah Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia.
Articles
15 Documents
Search results for
, issue
"Vol 1, No 2 (2021)"
:
15 Documents
clear
Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis dan Self-Confidence Siswa antara Model TPS dan PBL
Alpia Nadia Lesi;
Reni Nuraeni
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.1260
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis. Terdapat aspek penting lain juga yaitu self-confidence (kepercayaan diri), menjadi salah satu sikap yang mendapatkan perhatian.Model pembelajaran yang diduga dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis dan Self-cofidence pada siswa adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dan Problem Based Learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis dan self-confidence antara siswa yang mendapatkan model TPSdan PBL. Metode penelitiannya adalah kuasi eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas X MAN 2 Garut. Sampel penelitian sebanyak dua kelas yaitu kelas X MIA-1 sebanyak 29 siswa dan kelas X MIA-3 sebanyak 31 siswa.Instrumen penelitian berupa tes uraian kemampuan pemecahan masalahdan angket self-confidence.Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pencapaian dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang mendapatkan model TPS danPBL. Interpretasiself-confidencesiswa model TPS dan PBL berada pada kategori cukup. This research is motivated by the low ability to solve mathematical problems. There is also another important aspect, namely self-confidence, which is one of the attitudes that get attention. The learning model that is supposed to be used to improve students' mathematical problem-solving skills and self-confidence is the Think Pair Share and Problem Based Learning cooperative learning model. This study aims to determine the differences in mathematical problem-solving abilities and self-confidence between students who received the TPS and PBL models. The research method is quasi-experimental with the entire population of class X MAN 2 Garut. The research sample consisted of two classes, namely class X MIA-1 as many as 29 students and class X MIA-3 as many as 31 students. The research instrument is a description of the problem-solving ability test and a self-confidence questionnaire. The results of the analysis showed that there was no difference in the achievement and improvement of mathematical problem-solving abilities between students who received the TPS and PBL models. The students' self-confidence interpretation of the TPS and PBL models is in the sufficient category.
Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Geometri Ruang pada Pembelajaran Daring dengan Model Discovery learning
Retno Wulandari;
Suwarto Suwarto;
Novaliyosi Novaliyosi
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.1224
Online learning atau yang disebut pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang membutuhkan jaringan internet dengan memanfaatkan aplikasi sepertimedia social, google classroom, google meet, zoom. Proses pembelajaran yang menitikberatkan peserta didik untuk dapat menyelesaikan pemecahan masalah, guna mengembangkan pengetahuan dan keterampilan merupakan model pembelajaran discovery learning. Penelitian ini bermaksud untuk menganalisis proses pembelajaran yang dilakukan secara daring dengan model pembelajaran discovery learnig. Kesimpulan yang didapat adalah penggunaan belajar secara daring masih mengalami kendala, seperti jaringan internet yang tidak stabil, kesulitan siswa dalam bergabung dengan google meet, kurang disiplin siswa dalam mengaktifkan kamera. Walaupun memiliki kendala dalam pembelajaran daring namun model pembelajaran discovery learning dapat diterapkan dengan baik, hal ini terlihat dari hasil pekerjaan siswa dalam menjawab soal dengan baik. Online learning or what is called online learning is learning that requires an internet network by utilizing applications such as social media, google classroom, google meet, zoom. The learning process that focuses on students being able to solve problem-solving, to develop knowledge and skills is a discovery learning model. This study intends to analyze the online learning process using the discovery learning model. The conclusion obtained is that the use of online learning is still experiencing problems, such as unstable internet networks, difficulties for students in joining google meet, lack of student discipline in activating the camera. Although it has obstacles in online learning, the discovery learning model can be applied well, this can be seen from the results of students' work in answering questions well.
Kemampuan Koneksi Matematis Melalui Model Pembelajaran Connecting, Organizing, Reflecting, and Extending dan Means Ends Analysis
Nuri Dwi Indriani;
Mega Achdisty Noordyana
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.1266
Kemampuan koneksi matematis siswarendah. Upaya meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa diantaranya dengan menerapkan model pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa seperti Connecting, Organizing, Reflecting, and Extending (CORE) dan Means Ends Analysis (MEA). Penelitian bertujuan mengkaji perbedaan peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa antara yang mendapatkan model pembelajaran CORE dengan MEA. Metode penelitian adalah kuasi eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas XI salah satu SMA Negeri di Garut. Sampel penelitian yaitu kelas XI MIPA 4 dan XI MIPA 5. Teknik pengumpulan data menggunakan tes uraian kemampuan koneksi matematis siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa antara yang mendapatkan model pembelajaran CORE dengan MEA, dengan kualitas peningkatan berinterpretasi sedang. Model pembelajaran CORE lebih baik dalam meningkatkan kemampuan koneksi matematis.The students' mathematical connection ability is low. Efforts to improve students' mathematical connection skills include applying learning models that emphasize student activity such as Connecting, Organizing, Reflecting, and Extending (CORE) and Means Ends Analysis (MEA). This study aims to examine the differences in the improvement of students' mathematical connection skills between those who received the CORE learning model and the MEA. The research method is quasi-experimental with a population of all students of class XI one of the Public SMA in Garut. The research sample is class XI MIPA 4 and XI MIPA 5. The data collection technique uses a description test of mathematical connection abilities and student attitude questionnaires. The results showed that there were differences in the improvement of students' mathematical connection skills between those who received the CORE and MEA learning models, with moderate improvement in interpreting quality. The CORE learning model is better at improving mathematical connection skills.
Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis ditinjau dari Self-Confidence Siswa pada Materi Aljabar dengan Menggunakan Pembelajaran Daring
Rd. Rina Rosmawati;
Teni Sritresna
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.1261
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah kemampuan dalam memahami konsep matematis pada materi aljabar dengan menggunakan pembelajaran daring di Kecamatan Malangbong. Sumber data diambil 6 orang untuk meneliti self-confidence siswa dan 3 sampel di ambil berdasarkan teknik purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan menentukan kriteria-kriteria tertentu yaitu berdasarkan kategori self-confidence tinggi, sedang, dan rendah. Analisis data pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis studi kasus. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VII dan VIII yang sudah mempelajari materi aljabar. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan angket, tes tertulis, dan wawancara yang dibutuhkan untuk memperoleh data pendukung. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa siswa dengan self-confidence tinggi lebih baik di bandingkan dengan self confidence sedang atau rendah dalam memahami konsep matematis. This study aims to determine how the ability to understand mathematical concepts in algebraic material using online learning in Malangbong District. 6 people are taken to examine students’ self-confidence. And 3 samples were taken based on the purposive sampling technique, namely the sampling technique by determining certain criteria, namely based on the high, medium, and low self-confidence categories. Data analysis in this study used a qualitative method with a case study analysis approach. Sources of data used in this study are students of class VII and VIII who have studied algebraic material. The data collection technique used in this study is to use a self-confidence questionnaire, a written test, and interviews needed to obtain supporting data. From the results of this study, it was found that students with high self-confidence were better than those with moderate or low self-confidence in understanding mathematical concepts.
Bahasa Matematis dalam Penentuan Waktu Siang - Malam menurut Tradisi Sunda
Dedi Muhtadi;
Rochmad Rochmad;
Isnarto Isnarto
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.1221
Tasikmalaya merupakan wilayah Tatar Sunda yang julukannya sebagai: “Sang Mutiara Priangan Timur”, memiliki peran penting di Provinsi Jawa Barat Selatan. Peran ini sangat berpengaruh terhadap potensi masyarakat, termasuk di bidang kebudayaan. Namun seiring dengan perkembangan zaman, budaya tersebut kurang dikenal oleh generasi muda saat ini. Tujuan dari penelitian adalah untuk melestarikan budaya masyarakat Sunda khususnya di Tasikmalaya agar budaya tersebut tetap terjaga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi yang bersumber dari studi literatur, observasi lapangan dan wawancara dengan seorang ahli budaya Sunda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat bahasa matematis dalam penentuan waktu sehari semalam yang digunakan oleh masyarakat Sunda di Tasikmalaya dan hal itu dapat menjadi sebagai titik tolak untuk acuan dalam pembelajaran matematika. Tasikmalaya is a Sundanese region whose nickname is: "The Pearl of East Priangan", an important role in South West Java Province. This role is very influential on the potential of the community, including in the field of culture. But along with the times, this culture is less well known by today's young generation. The purpose of this research is for the culture of the Sundanese people, especially in Tasikmalaya so that the culture is maintained. This study uses a qualitative approach with an ethnographic approach derived from literature studies, field observations and interviews with a Sundanese cultural expert. The results of the study indicate that there is a mathematical language in the right time of day and night that is used by the Sundanese people in Tasikmalaya and it can be a starting point to be used as a reference in learning mathematics.
Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa dengan Model Think Pair Share dan Problem Based Learning
Ine Lestari;
Irena Puji Luritawaty
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.1267
Kemampuan pemahaman konsep matematis masih rendah. Perlu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, diantaranya menggunakan model pembelajaran Think Pair Share dan Problem Based Learning. Penelitian dilakukan untuk mengetahui peningkatan dan kualitas peningkatan kemampuan pemahaman matematis siswa dengan kedua model pembelajaran tersebut. Metode penelitian adalah kuasi eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas VII salah satu SMP Negeri di Garut. Sampel dipilih secara acak yaitu kelas VII-G sebagai kelas eksperimen I dan kelas VII-H sebagai kelas eksperimen II. Instrumen berupa tes uraian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan dan kualitas peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Think Pair Share lebih baik daripada Problem Based Learning. Model pembelajaran Think Pair Share lebih direkomendasikan untuk diterapkan dalam meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis. The ability to understand mathematical concepts is still low. Efforts are needed to overcome these problems, including using the Think Pair Share and Problem Based Learning learning models. The research was conducted to determine the improvement and quality of the improvement in students' mathematical understanding abilities with the two learning models. The research method is quasi-experimental with a population of all seventh-grade students of one of the public junior high schools in Garut. Samples were chosen randomly, namely class VII-G as experimental class I and class VII-H as experimental class II. The instrument is a description test. The results showed that the improvement and quality of the improvement in the ability to understand mathematical concepts of students who received the Think Pair Share learning model was better than Problem Based Learning. Think Pair Share learning model is more recommended to be applied in improving the ability to understand mathematical concepts.
Perbandingan Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa melalui Mood-Understand-Recall-Digest-Expand-Review dan Discovery Learning
Devi Silviana;
Dian Mardiani
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.1262
Dalam pembelajaran matematika pemahaman merupakan hal yang sangat penting dan merupakan langkah dasar dalam proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kemampuan dan peningkatan pemahaman matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Mood–Understand-Recall-Digest-Expand-Review (MURDER) dan yang mendapatkan model pembelajaran Discovery Learning. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen di SMP Negeri 1 Cisurupan kelas VII dengan sampel dua kelas, yaitu kelas VII F sebagai kelas eksperimen dengan menggunakan MURDER dan kelas VII G dengan menggunakan Discovery Learning, serta materi yang diajarkan mengenai bangun datar segi empat. Analisis data dilakukan dengan uji normalitas dan statistic non parametric. Berdasarkan hasil analisis, kemampuan pemahaman matematis siswa antara yang mendapatkan model pembelajaran MURDER lebih baik dari pada siswa yang mendapatkan model pembelajaran Discovery Learning. Peningkatan pemahaman matematis siswa terhadap model pembelajaran MURDER dengan model pembelajaran Discovery Learning yaitu tinggi – sedang. Students’ mathematical understanding is still low, so it is needed model learning that helps students to be active and creative in learning; including the Mood–Understand-Recall-Digest-Expand-Review (MURDER) learning model with the Discovery Learning learning model. The purpose of this study is to determine the ability and increase of mathematical understanding of students who get the MURDER learning model and those who get the Discovery Learning learning model. This research is a quasi-experimental study in Cisurupan State Middle 1 class VII with a sample of two classes, namely class VII F as an experimental class using MURDER and VII G classes using the model Discovery Learning, as well as the material taught about rectangular flat builds. Data analysis was performed with normality tests and non parametric statistics. Based on the results of the analysis, the ability of students' mathematical understanding between those who get the learning model MURDER is better than students who get the Discovery Learning learning model. Increasing students' mathematical understanding of the MURDER learning model with the Discovery Learning model, which is high - medium.
Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP pada Topik Penyajian Data di Pondok Pesantren
Ai Purnamasari;
Ekasatya Aldila Afriansyah
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.1257
Siswa tidak mempunyai keberanian untuk bertanya ketika menemukan masalah yang sulit, karna itu kemampuan komunikasi matematis siswa sangat penting untuk dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh keterangan lebih lanjut tentang kemampuan komunikasi matematis siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Subjek penelititan ini adalah 4 siswa kelas VII di Pondok Pesantren At-Taufik Ciucing. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, wawancara, dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan kondisi akhir dari kemampuan komunikasi matematis siswa, yaitu: indikator pertama sebesar 81,25% artinya sebagian kecil siswa tidak dapat merepresentasikan permasalahan yang dihadapi; indikator kedua sebesar 62,75% artinya sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam hal menjelaskan ide permasalahan secara lisan ataupun tulisan; indikator ketiga sebesar 93,75% artinya hampir semua siswa dapat melukiskan permasalahan pada suatu gambar/diagram; dan indikator keempat sebesar 62,5% artinya sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam hal ini. Students do not dare to ask questions when they find difficult problems, therefore students' mathematical communication skills are very important to have. This study aims to obtain further information about students' mathematical communication skills. The research method used is qualitative research. The subjects of this research were 4 students of class VII at Pondok Pesantren At-Taufik Ciucing. Data collection techniques used are tests, interviews, and observation. Data analysis techniques used are data reduction, data presentation, and concluding. The results of this study indicate the final conditions of students' mathematical communication skills, namely: the first indicator is 81.25%, meaning that a small number of students cannot represent the problems they face; the second indicator of 62.75% means that most students have difficulty in explaining problem ideas orally or in writing; the third indicator of 93.75% means that almost all students can describe the problem on a picture/diagram; the fourth indicator of 62.5% means that most students have difficulty in this matter.
Peningkatan Kemampuan Representasi Matematis Siswa dengan Pembelajaran Berbasis Masalah Melalui Pendekatan Konstekstual dan Matematika Realistik
Anggia Suci Nur Aisyah;
Sukanto Sukandar Madio
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.1268
Kemampuan representasi matematis masih rendah. Tujuan penelitian yaitu mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan representasi matematis antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran berbasis masalah melalui pendekatan kontekstual dan matematika realistik. Metode penelitian yaitu kuasi eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas VIII salah satu SMP swasta di Kadungora. Sampel yaitu kelas VIII-A dan kelas VIII-C. Data diperoleh melalui tes uraian kemampuan representasi matematis. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan representasi matematis siswa antara yang mendapatkan model pembelajaran berbasis masalah melalui pendekatan kontekstual dan matematika realistic.Kualitas peningkatan kemampuan representasi matematis berinterpretasi sedang. Pendekatan kontekstual dan pendekatan matematika realistik, keduanya dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan representasi matematika.Mathematical representation ability is still low. The purpose of this research is to find out the difference in increasing mathematical representation skills between students who get problem-based learning models through contextual approaches and realistic mathematics. The research method is quasi-experimental with a population of all eighth-grade students of a private junior high school in Kadungora. The samples are class VIII-A and class VIII-C. The data was obtained through a description test of the mathematical representation ability. The results showed that there was no difference in the improvement of students' mathematical representation abilities between those who received problem-based learning models through contextual approaches and realistic mathematics. The quality of improving the ability to interpret mathematical representation is moderate. Contextual approach and realistic mathematical approach, both can be used to improve mathematical representation ability.
Kemampuan Representasi Matematis Siswa Melalui Model Problem Based Learning dan Probing Prompting Learning
Suwanti Suwanti;
Iyam Maryati
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.1263
Kemampuan representasi matematis siswa rendah. Upaya meningkatkan kemampuan representasi matematis diantanya melakukan inovasi model pembelajaran. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan dan kualitas peningkatan kemampuan representasi matematis antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran problem based learning dengan probing prompting learning, beserta respon sikap siswa. Metode penelitian adalah kuasi eksperimen. Populasi adalah seluruh siswa kelas VIII salah satu SMP swasta di Garut tahun ajaran 2018/2019, sampelnya yaitu kelas VIII-A dan VIII-B. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kemampuan representasi matematis antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran problem based learning dengan probing prompting learning, kualitas peningkatan kemampuan representasi matematis siswa kedua kelas berinterpretasi sedang, dan sikap siswa berinterpretasi baik. Model pembelajaran problem based learning dengan probing prompting learning dapat digunakan dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan representasi matematis. The students' mathematical representation ability is low. Efforts to improve mathematical representation skills include innovating learning models. The purpose of the study was to analyze the differences and quality of improvement in mathematical representation skills between students who received the problem-based learning model with probing prompting learning, along with student attitude responses. The research method is quasi-experimental. The population is all class VIII students of one of the private junior high schools in Garut for the 2018/2019 academic year, the samples are class VIII-A and VIII-B. The results showed that there were differences in the ability of mathematical representation between students who received the problem-based learning model with probing prompting learning, the quality of improving the mathematical representation ability of students in both classes had moderate interpretation, and students' attitudes had good interpretations. A problem-based learning model with probing prompting learning can be used in learning to improve mathematical representation abilities.