cover
Contact Name
Rika Puspita Sari MZ
Contact Email
rika_puspita@um-palembang.ac.id
Phone
+6282281007455
Journal Mail Official
jurnalediblefpump@gmail.com
Editorial Address
Jl. A. Yani 13 Ulu Palembang telp (0711)511731 email : edible@um-palembang.ac.id http://jurnal.um-palembang.ac.id/edible
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Edible : Jedb
ISSN : 23014199     EISSN : 24432113     DOI : https://doi.org/10.32502/jedb.v9i1
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Edible discusess the relust of agricultural research in the field of food science and technology. Jurnal ini membahas tentang hasil-hasil penelitian pertanian di bidang ilmu dan teknologi pangan, Seperti : Pasca Panen,Pengolahan Pangan, Rekayasa Pangan, Gizi Pangan , Mikrobiologi Pangan Serta Pangan lainnya yang belum disebutkan. Merupakan hasil dari penelitian dosen Fakultas Pertanian UM Palembang dan penulis dari luar Universitas Muhammadiyah Palembang.
Articles 106 Documents
PERAN PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN TANAMAN PANGAN DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN Muchsiri, Mukhtarudin
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.488

Abstract

Tanaman pangan mencakup tujuh komoditas unggulan meliputi padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kcang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar (Dirjen TPKP, 2010). Hasil produksi pertanian termasuk produksi tanaman pangan cepat mengalami kerusakan (pherisable) dan bersifat musiman, maka perlu upaya untuk meningkatkan umur simpan sekaligus meningkatkan nilai ekonominya dengan dilakukan pengolahan. Pengolahan hasil tanaman pangan diselenggarakan dengan menerapkan prinsip-prinsip GMP (Good Manufacturing Practices) dan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point). Tugas pembinaan pengolahan dan pemasaran menjadi tanggungjawab Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Tugas pengawasan oleh Lembaga Pengawas Mutu dan Keamanan Pangan yang disebut Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat dan Daerah. Kebijakan tentang Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan telah terbentuk yakni Permentan No. 58/Permentan/OT.140/8/2007 tentang Sistem Standardisasi Nasional di Bidang Pertanian, ditindaklanjuti Permentan No. 381/Kpts/Ot.140/10/ 2005 tentang Pedoman Sertifikasi Kontrol Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewan dan Permentan No.35/Permentan/OT.140/7/2008 tentang Persyaratan dan Penerapan Cara Pengolahan Hasil Pertanian Asal Tumbuhan serta Permentan No 44/Permentan/OT.140/10/2009 tentang Pedoman Penanganan Pasca Panen Hasil Pertanian Asal Tumbuhan. Semua regulasi teknis diatas merupakan Persyaratan Dasar Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan berdasarkan Sistem HACCP, yang harus diterapkan secara benar dan maksimal.
KARAKTERISTIK KIMIA DAN FISIK KENTANG SELAMA PENYIMPANAN DALAM KONDISI TERANG Murtado, A.D.
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.521

Abstract

Bertujuan untuk: 1) menganalisis sifat kimia dan fisik kentang selama masa penyimpanan dalam kemasan pada kondisi terang, 2) mengetahui jenis kemasan yang baik untuk masa penyimpanan, mengetahui umur simpan kentang dalam jenis kemasan pada kondisi terang.Kentang yang digunakan adalah jenis kentang kuning dengan bobot 150 gr ± 5gr. Kentang setelah dilakukan pembersihan melalui pencucian dan di keringkan dengan di lap, kemudian kentang dimasukan dalam kemasan kantong polyetilen, kantong polybag dan karung goni.Selanjutnya disimpan dalam kondisi terang. Pengamatan dilakukan pada awal penyimpanan (0 hari penyimpanan), umur 5 hari penyimpanan, 10 hari penyimpanan, 25 hari penyimpnan dan 20 hari penyimpanan. Pengamatan meliputi kadar air, kadar pati, kadar gula dan susut bobot kentang.Dilaksanakan di laboratorium kimia Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang dan laboratorium Balai Penelitian dan Pengambangan Industri Palembang. Diperoleh bahwa selama masa penyimpanan 20 hari terjadi penurunan kadar air, akadar pati dan kadar gula. Kemasan polyetilen menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding kemasana polybag dan kemasan karung goni.Akan tetapi kemasan polybag mampu mengurangi susut bobot terbaik disbanding kemasan polyetilen dan karung goni.
SUBSTITUSI JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus Jacq.) SEBAGAI PENGGANTI IKAN PADA PEMBUATAN GETAS Irawan, Piter; Suyatno, Suyatno
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 6, No 1 (2017): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v6i1.629

Abstract

This study aims to determine the effect of substitution of white oyster mushroom (Pleurotus ostreatus Jacq.) As a substitute for fish in the manufacture of getas round. This research has been conducted in laboratory Faculty of Agriculture, University of Muhammadiyah Palembang in April 2016 until the month of February 2017. This study uses a randomized block design (RAK) are arranged in a nonfactorial with oyster mushroom substitution factor of five levels of treatment factors and repeated four times. The parameters observed in this study, for chemical analysis is the concentration of protein and moisture content. As for organoleptic tests include color, flavor, and aroma to test hedonic as well as the level of crispness with a ranking test on spherical brittle already fried. Substitution of white oyster mushroom (Pleurotus ostreatus Jacq.) Instead of fish highly significant effect on levels of protein and moisture content getas round. The protein content and the water content is highest at treatment P5 (oyster mushroom 90% and 10% starch) with an average value of 7.57% and 6.02%. While the protein content and low water levels in treatment P1 (oyster mushroom 10% and 90% starch) with an average value of 3.67% and 3.91%. The highest preference level value to the colors found in P1 treatment with an average value of 3.90 (criterion rather liked). Rated highest preference level of the flavor, aroma and crispiness level contained in P2 treatment with an average value of 4.10 (criteria like) and 3.95 (criterion rather liked) and 0.79 (crispy criteria once). To obtain a good getas round preferred by the panelists are advised to use the treatment P2 (white oyster mushroom 30% and 70% starch). For further research is recommended in the manufacture of ductile using other types of fungi that exist in Indonesia.
MEMPELAJARI SIFAT FISIKA KIMIA BAKSO JAMUR DENGAN PERSENTASE JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus Jacq) DAN TEPUNG TAPIOKA Handayani, Suarmi; Dasir, Dasir; Yani, Ade Vera
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2016): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v5i1.634

Abstract

Bakso dengan bahan dasar jamur tiram putih juga menjadi alternatif bahan pangan bagi para vegetarian yang ingin menikmati olahan pangan dalam bentuk bakso. Jamur tiram putih sebagai substitusi daging sapi menjadi salah satu alasan memilih bakso untuk dikembangkan dengan bahan utama jamur tiram. Kualitas bakso ditentukan oleh bahan baku serta tepung yang digunakan dan perbandingannya di dalam adonan. Faktor lain yang mempengaruhi kualitas bakso yaitu bahan tambahan yang digunakan serta cara memasaknya. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “mempelajari sifat fisika kimia bakso jamur dengan persentase jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus Jacq) dan tepung tapioka”. Perlakuan persentase jamur tiram putih, persentase tepung tapioka dan interaksinya berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein dan kadar air bakso jamur. Interaksi perlakuan J3T1 (jamur tiram putih 80% dan tepung tapioka 50%) mempunyai kadar protein tertinggi dengan nilai rata-rata 10,07%. Interaksi perlakuan J3T3 (jamur tiram putih 80% dan tepung tapioka 20%) mempunyai kadar air teringgi dengan nilai rata-rata 78,580%. Data uji organoleptik uji pembanding jamak persentase jamur tiram putih dan persentase tepung tapioka terhadap rasa dan warna bakso jamur, diperoleh bahwa perlakuan J2T2 mempunyai rasa dan warna yang berbeda tidak nyata dengan bakso komersil dengan nilai rata-rata terendah yaitu 35,00% dan 25,00%. Interaksi perlakuan J1T1 (jamur tiram putih 50% dan tepung tapioka 50%) mempunyai tingkat kekenyalan tertinggi dengan nilai rata-rata 3,20 (kriteria kenyal).
MEMPELAJARI BERBAGAI SUHU AWAL PEREBUSAN TERHADAP KEHILANGAN PROTEIN DAGING SAPI BAGIAN HAS DALAM Sari, Dian Novita; Murtado, A.D.; Muchsiri, Mukhtarudin
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2016): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v5i1.639

Abstract

Mempelajari Berbagai Suhu Awal Perebusan terhadap Kehilangan Protein Daging Sapi Bagian Has Dalam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu awal perebusan yang mampu memperkecil kehilangan protein dan sifat indrawi daging, dan untuk optimalisasi perebusan. Penelitian ini dilaksanakan dilaboratorium Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang pada bulan Oktober 2013 sampai dengan bulan April 2014. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara non fakorial dengan faktor perlakuan dengan faktor perlakuan berbagai suhu awal perebusan daging sapi yang terdiri dari empat faktor perlakuan dan diulang sebanyak empat kali. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah untuk analisis kimia dilakukan analisis kadar protein pada daging mentah dan daging sapi bagian has dalam yang sudah direbus. Analisis fisik dilakukan uji residu pada air rebusan dan susut daging setelah perebusan pada daging sapi bagian has dalam. Sedangkan uji organoleptik meliputi warna, aroma dan penampakan total dengan menggunakan uji hedonik. Perlakuan suhu awal perebusan daging berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein, kehilangan kadar protein, residu air rebusan, susut volume dan susut berat daging sapi has dalam rebus. Kadar protein tertinggi terdapat pada perlakuan D4 (suhu awal perebusan 1000C) dengan nilai rata-rata 14,54%, Kehilangan Kadar Protein tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 22,08% Residu air rebusan tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 1,38%. Susut volume tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 65,461%. Susut berat tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 48,696%. Uji organoleptik terhadap warna, aroma dan penampakan total pada perlakuan D4 (suhu awal perebusan 1000C) mempunyai tingkat kesukaan tertinggi terhadap warna, aroma dan penampakan total daging sapi dibanding perlakuan D1, D2, D3, Untuk mendapatkan daging sapi rebus yang baik penulis menyarankan sebaiknya menggunakan perlakuan D4 (suhu awal perebusan 1000C).
JENIS DAN LAMA PENYIMPANAN DINGIN TERHADAP KARAKTERISTIK SURIMI DARI IKAN PATIN (P. hypophthalamus ) Tridarmawan, Hidayat
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 7, No 1 (2018): Edible: Jurnal Penelitian Ilmu dan Teknologi Pangan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v7i1.1654

Abstract

ABSTRACT This study aims to determine the best surimi shelf life of catfish and to know the quality of catfish surimi. The chemical characteristics of catfish preserved in cold storage consisted of 11.47-11.80% protein content, moisture content of 70.67-75.94%, pH 6.83-7.18 and EMC (Expressible Moisture Content) 28 , 28-32.07%. The organoleptic characteristics of catfish surimi consisted by the prefered degree of the colors of 1,6-3, the prefered degree of the aroma of 2.55-3.2 and the prefered degree of texture -3.41 ? 3.41. The storage of catfish surimi in freezer storage for 3 days is the best storage treatment with chemical characteristics consisted of 11,77% protein value, moisture content 72,67%, pH 6,94 and EMC 29,04; Organoleptic characteristics consisted of the preferred degree of color 2.6 by preferred criteria, and for texture -0.71 by preferred criteria. During 9 days cold storage surimi catfish produced decreased quality indicated by the occurrence of decreased levels of protein, increase in water content, pH, and EMC
Analisis Kadar Polifenol dan Aktivitas Antioksidan Yang Terdapat Pada Ekstrak Buah : Studi Kepustakaan Febriana, Elma; Tamrin, Tamrin RH; Faradillah, Fitri
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 8, No 1 (2019): Edible : Jurnal Penelitian Ilmu dan Teknologi Pangan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v8i1.3446

Abstract

Polifenol adalah salah satu kategori terbesar dari fitokimia yang paling banyak penyebarannya diantara berbagai jenis tanaman dan buah-buahan. Polifenol juga dapat menghambat, mencegah, mengurangi oksidasi oleh radikal bebas sehingga baik untuk kesehatan. Analisis kadar polifenol dimulai dari proses preparasi sampel yang meliputi ekstrasi sampel padat dan ekstraksi sampel cair. Jenis pelarut yang umum digunakan saat pengekstrakan yaitu etanol, metanol, dan aseton. Selanjutnya analisis kadar polifenol menggunakan metode analisis folin ciocalteau. Hasil review menunjukkan Ekstrak buah bisbul matang (Diospyros blancoi A. DC.) yang diekstrak menggunakan pelarut etanol memiliki kadar  dan rendemen polifenol yang tertinggi dari beberapa ekstrak buah yang dilaporkan dalam review ini. Sedangkan ekstrak buah anggur hijau (Vitis vinifera Linn. Var. Chinsiang) yang diekstrak menggunakan pelarut etanol memiliki kadar  dan rendemen polifenol yang terendah. Aktivitas antioksidan yang tertinggi ditunjukkan oleh sampel ekstrak  buah naga Merah (Hylocereus polyrhizus (f.a.c weber) britton & rose) dibandingkan sampel lain dalam review ini. Sedangkan aktivitas antioksidan yang terendah ditunjukkan oleh sampel ekstrak buah Semangka (Citrullus lanatus) dibandingkan sampel lain dalam review ini. 
NILAI PROTEIN PEMPEK DARI JENIS OLAHAN DAGING IKAN PATIN (Pangasius pangasius) DAN PERBANDINGAN TEPUNG TAPIOKA Nasir, Alhanan; Dasir, Dasir; Patimah, Siti
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 9, No 1 (2020): Edible: Jurnal Penelitian Ilmu dan Teknologi Pangan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v9i1.3451

Abstract

Pempek merupakan salah satu pangan yang berbahan nabati dan hewani, pempek mempunyai berbagai bentuk seperti pempek adaan, pempek lenjer, pempek pistel, pempek kulit, dan pempek panggang. Ikan patin (Pangasius pangasius) adalah salah satu jenis ikan air tawar yang mudah dibudidayakan sehingga ketersediaan ikan patin terus meningkat. Ikan patin dapat dijadikan sebagai bahan baku pembutan pempek dengan dijadikan produk olahan surimi ikan patin. Tepung tapioka merupakan bahan tambahan tepung yang terbuat dari pati singkong yang ditambahkan dalam pembuatan pempek dengan perbandingan yang berbeda akan menghasilkan pempek dengan kadarprotein juga berbeda. Perlakuan jenis olahan daging ikan patin yang berbeda dengan perbandingan tepung tapioka akan menghasilkan pempek dengan kadar protein serta sensoris warna dan rasa yang berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan Faktorial menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor jenis olahan daging ikan patin dan faktor tepung tapioka yang membentuk enam kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak tiga kali.Jenis olahan daging ikan patin berpengaruh sangat nyata, perbandingan tepung tapioka berpengaruh nyata dan interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap kadar protein pempek. Kadar protein tertinggi terdapat pada perlakuan I1T3dengan nilai rata-rata 14,11% dan kadar protein terendah pada perlakuan I2T1 dengan nilai rata-rata 9,44%.
PEMANFAATAN PATI GANYONG SEBAGAI SUBSTITUSI TEPUNG TAPIOKA PADA PEMBUATAN PEMPEK IKAN GABUS (Channa striata) Muchsiri, Mukhtarudin; Sylviana, Sylviana; Martensyah, Rendi
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 10, No 1 (2021): Edible : Jurnal Penelitian Ilmu dan Teknologi Pangan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v10i1.3641

Abstract

Umbi ganyong merupakan salah satu bahan pangan yang dapat diolah menjadi tepung pati ganyong dan berpotensi sebagai substitusi tepung tapioka dalam pembuatan pempek ikan gabus karena memiliki karakteristik yang hampir sama. Selain itu, tepung pati ganyong  dapat dijadikan bahan baku pangan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi rasio pati ganyong yang dapat digunakan sebagai substitusi tepung tapioka , serta pengaruhnya terhadap sifat kimia, fisik dan sensori  pempek ikan gabus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) non Faktorial dan diulang sebanyak 4 kali. Parameter yang diamati meliputi kadar air, kadar protein, kekenyalan dan uji organoleptik. Kadar air, kadar protein dan tingkat kekenyalan tertinggi terdapat pada perlakuan G5(Pati Ganyong 100% : Tapioka 0%),  dengan nilai rata-rata secara berturut –turut yaitu 59.29 %, 8.48 %, dan 410.15 gF. Kadar air,kadar protein dan tingkat kekenyalan terendah terdapat pada perlakuan G5(Pati Ganyong 100% : Tapioka 0%), dengan nilai rata-rata secara berturut–turut yaitu 51.13 %, 7.77 % dan 280.30 gF. Tingkat kesukaan terhadap aroma, rasa dan warna pempek ikan gabus dengan perbandingan tepung pati ganyong dan tapioka pada skala 1-5  mendapat skor tertinggi yang terdapat pada perlakuan G5 (Pati Ganyong 100% : Tapioka 0%),, masing-masing dengan skor 3.39, 3.38 dan 4.04. Sementara itu, skor terendah baik dari segi aroma, rasa dan warna pempek ikan gabus adalah perlakuan G5(Pati Ganyong 100% : Tapioka 0%),, masing-masing dengan skor 2.78, 2.52 dan 2.96. 
MEMPELAJARI CITARASA CUKO PEMPEK BUBUK DENGAN PENAMBAHAN ASAM SITRAT Farliansyah, Farliansyah; Suyatno, Suyatno; Alhanannasir, Alhanannasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 3, No 1 (2014): EDIBLE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v3i1.148

Abstract

This research aims to study the effect of the addition of citric acid powder to taste cuko pempek and get the best treatment . This research was conducted in the laboratory of the Faculty of Agriculture, University of Muhammadiyah Palembang in July 2013 to December 2013. This study used a randomized block design (RBD ) are arranged in non- factor factorial with the addition of citric acid treatment consisting of five levels of treatment and repeated four times. Parameters observed in this study is the chemical analysis includes analysis of citric acid and pH levels , for the physical test is soluble viscosity and velocity , while for organoleptic test includes flavor, color and aroma cuko pempek powder by using multiple comparison test. Lowest levels of citric acid present in the A1 treatment (addition of citric acid 3g) with an average value of 0.469% , the highest pH found in the A1 treatment (addition of citric acid 3g) with an average value of 5.70. The rate was highest viscosity at A5 treatment (addition of citric acid 15g) with an average value of 2,271 cPs and speed pempek vinegar powder dissolves. Velocity is highest late in the A1 treatment (addition of citric acid 3 g) with an average value of 6.29 seconds. Test multiple comparison test sensory adding citric acid to the taste, color and aroma cuko pempek powder , found that treatment A1 has the taste, color and aroma of different unreal with cuko pempek comparator (cuko pempek standard) with the lowest average value of 28.45, 37.9%, 32.76%, which is almost the same as cuko pempek comparator (cuko pempek standard). cuko pempek To obtain powder authors suggest you should use the A1 treatment is the treatment of the addition of 3g of citric acid in powder 1000g pempek cuko materials.

Page 5 of 11 | Total Record : 106