cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 41 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 4 (2024)" : 41 Documents clear
PERBEDAAN PERILAKU ASERTIF PADA SISWA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN TERHADAP KEKERASAN SEKSUAL AMNESTITO, ZAFHIRA ALAYDA; JATI, SRI NUGROHO; VIDYASTUTI, VIDYASTUTI
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4098

Abstract

Children are vulnerable to sexual violence as they are often perceived as weak or helpless. Research conducted by Bolen & Scannapieco (2001) indicates that 20% to 33% of girls and 10% to 16% of boys will become victims of sexual violence before the age of 18. In Kubu Raya Regency, 74 cases of violence against children and adolescents were recorded in 2021, with the majority involving sexual violence experienced by children aged 6-12 years. This study employed a quantitative experimental design with purposive sampling, involving children aged 9-12 years who attended elementary school. A total of 10 boys and 10 girls participated in the study. The purpose of this research was to examine the differences in assertive behavior between male and female students in response to sexual violence. Based on the Mann-Whitney test results, there was a significant difference in the statistical scores between the group of boys and the group of girls regarding sexual violence. ABSTRAKAnak-anak rentan terhadap kekerasan seksual karena dianggap lemah atau tidak berdaya. Data penelitian yang dilakukan oleh Bolen & Scannapieco (2001) menunjukkan bahwa 20% hingga 33% anak perempuan dan 10% hingga 16% anak laki-laki akan menjadi korban kekerasan seksual sebelum usia 18 tahun. Di Kabupaten Kubu Raya tercatat pada tahun 2021 terdapat 74 kasus kekerasan terhadap anak dan remaja, dengan mayoritas kasus berupa kekerasan seksual yang dialami oleh anak-anak usia 6-12 tahun. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen kuantitatif yaitu purposive sampling, dengan subjek anak-anak berusia 9-12 tahun, dan bersekolah di SD. Sebanyak 10 anak laki-laki dan 10 anak perempuan berpartisipasi dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan perilaku asertif pada siswa laki-laki dan perempuan terhadap kekerasan seksual. Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney terdapat perbedaan signifikan antara skor statistik kelompok anak laki-laki dan kelompok anak perempuan terhadap kekerasan seksual.
HUBUNGAN RESILIENSI DENGAN STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA YANG BEKERJA PARUH WAKTU LIMIN, RAINY OSTANIA; AGUSTINA, AGUSTINA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4099

Abstract

Various reasons and factors underlie students’ decision to work, making it increasingly common for students to study while working. Students tend to choose part-time jobs due to the flexibility of work schedules. However, balancing these dual roles is not easy. Many students struggle to allocate time between work and study, often failing to determine priorities, which creates challenges such as academic stress. One way to prevent academic stress is by developing resilience, which reflects an individual’s ability to endure and recover from difficulties. The more resilient an individual is, the greater their ability to overcome challenges. A quantitative non-experimental research method was employed, using non-probability sampling and purposive sampling techniques. The study utilized the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) and the Perceptions Stress Scale (PAS) as measurement tools. A total of 109 part-time working students participated in this research. The results showed a significant negative relationship between resilience and academic stress. ABSTRAKBerbagai alasan dan faktor yang melatarbelakangi mahasiswa bekerja sehingga mahasiswa yang kuliah sambil bekerja saat ini sudah menjadi hal yang umum. Mahasiswa cenderung Iebih memilih bekerja paruh waktu karena jadwal kerja yang lebih fleksibel. Namun, untuk melakukan peran ganda tersebut bukanlah hal yang mudah. Banyak mahasiswa yang sulit membagi waktu antara pekerjaan dengan kuliah dan tidak tahu kegiatan apa yang perlu diprioritaskan sehingga menimbulkan hambatan pada mahasiswa itu sendiri, seperti stres akademik. Salah satu cara mencegah stres akademik adalah dengan menjadi individu yang resilien. Resiliensi merupakan gambaran ketahanan individu ketika mengalami kesulitan. Semakin resilien seorang individu, maka semakin besar kemungkinan individu tersebut dapat mengatasi kesulitannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif non-eksperimental dengan teknik non-probability sampling dan purposive sampIing yang menggunakan alat ukur The Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) dan The Perceptions Stress Scale (PAS). Partisipan yang terkumpul dalam penelitian ini sebanyak 109 partisipan.Hasil penelitian ini terdapat hubungan negatif antara resiliensi dengan stres akademik.
PENGARUH SELF COMPASSION DAN CITRA TUBUH TERHADAP PURCHASE PREFERENCE SKINCARE ORGANIK PADA GRUP WA SNSTIC.ID SARI, NIMAS PUTRI FITRIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4101

Abstract

The concept of self-compassion has previously been widely applied in life, especially in mental health management, but outside of mental health management, it turns out that the concept of self-compassion can be a predictor in improving people's behavior and concern for healthy living. One of the concerns for healthy living is the behavior of caring for the body, in general, the behavior of caring for the body will begin with a perception of body image that is formed based on beauty standards in the social environment of society. This study aims to find out the effect of self-compassion and body image on the purchase preference of organic skincare. Respondents in the study consisted of 138 people, which were then subjected to analysis tests using multiple linear regression. Based on the results of the analysis, it was found that there was a significant relationship between self-compassion and self-image which influenced the purchase preference of organic skincare. The update in this study included the variable of self-compassion which was previously rarely involved in measuring purchasing decisions and the use of skincare. With this study, it is hoped that other studies will emerge related to the effect of self-compassion on the development of healthy living behavior, in addition, this study can also be an educational material for skincare users in choosing and buying skincare products appropriately based on the needs of the body image problems they are facing. ABSTRAKKonsep self compassion sebelumnya sudah banyak diterapkan dalam kehidupan terutama dalam pengelolaan kesehatan mental, namun diluar pengelolaan kesehatan mental ternyata konsep self compassion dapat menjadi prediktor dalam meningkatkan perilaku dan kepedulian masyarakat dalam hidup sehat. Salah satu kepedulian hidup sehat yaitu perilaku merawat tubuh, dalam perilaku merawat tubuh umumnya akan diawali adanya persepsi terhadap citra tubuh yang terbentuk atas estándar kecantikan dalam lingkungan sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu pengaruh self compassion dan citra tubuh terhadap purchase preference skincare organik. Responden dalam penelitian terdiri dari 138 orang, yang selanjutnya dilakukan uji analisa menggunakan regresi linier berganda. Berdasarkan hasil analisa didapatkan bawahsannya ditemukan adanya hubungan signifikan antara self compassion dan citra diri yang memberikan pengaruh terhdap purchase preference skincare organik. Pembaruan dalam penelitian ini yang memasukkan variabel self compassion yang sebelumnya jarang dilibatkan dalam pengukuran keputusan pembelian dan penggunaan skincare. Dengan adanya penelitian ini diharapkan akan munculnya penelitian lain berkaitan dengan pengaruh self compassion terhadap pembangunan perilaku hidup sehat, selain itu penelitian ini juga bisa menjadi bahan edukasi kepada pengguna skincare dalam memilih dan membeli produk skincare secara tepat berdasarkan pada kebutuhan permasalahan citra tubuh yang sedang dihadapi.
PENGEMBANGAN PROFESIONAL GURU DI SEKOLAH DASAR INDONESIA DALAM KONTEKS KEBIJAKAN NASIONAL ANGGRAHENI, IKA; HADI, SYAMSUL; PRISTIANI, RISKA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4102

Abstract

Teacher professional development in primary schools in Indonesia is a crucial component in the efforts to enhance educational quality. This research focuses on evaluating the effectiveness of the Continuing Professional Development (CPD) program whick aimed at enhancing pedagogical and professional competencies of teachers. The methodology used is qualitative research with a literature study approach involving data collection to understand and study theories from relevant literature.  In addition, policy analysis and interviews with various stakeholders in the education sector. The results of this study show that the CPD policy significantly impacts teaching practices and teachers' learning experiences, though challenges in its implementation include resource limitations and systematic support. The implications for improving education quality are significant, with improvements in teaching abilities and teachers' adaptation to innovative learning methods. This study proposes that educational policies should focus more on high-quality training and collaborative approaches between teachers and local governments to ensure effective implementation of professional development programs. ABSTRAKPengembangan profesional guru sekolah dasar di Indonesia merupakan komponen krusial dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. Fokus penelitian ini adalah mengevaluasi efektivitas Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang bertujuan meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional guru. Metodologi yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur melibatkan pengumpulan data untuk memahami dan mempelajari teori-teori dari literatur yang relevan. Selain itu dilakukan juga analisis kebijakan dan wawancara dengan berbagai pemangku kepentingan di sektor pendidikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan PKB memiliki dampak yang signifikan terhadap praktik pengajaran dan pengalaman belajar guru, meskipun terdapat tantangan dalam penerapannya yang mencakup keterbatasan sumber daya dan dukungan sistematis. Implikasinya terhadap peningkatan mutu pendidikan adalah signifikan, dengan peningkatan kemampuan mengajar dan adaptasi guru terhadap metode pembelajaran inovatif. Penelitian ini mengusulkan bahwa kebijakan pendidikan harus lebih menekankan pada pelatihan berkualitas tinggi dan pendekatan kolaboratif antara guru dan pemerintah daerah untuk memastikan implementasi yang efektif dari program pengembangan profesional.
PERAN IBADAH DALAM PEMBENTUKAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS REMAJA ASTUTI, RAHAYU FUJI; NURFADILLAH, RIZKY; RAHMAD, AULIA; GEA, NISCA NADYA PERMATA; QOLBI, RIDWAN HAMID; SYAHPUTRA , DENI
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4103

Abstract

This study aims to determine the role of worship in the formation of psychological well-being of adolescents in class 9 Integrated 2, Smp Muhammadiyah 01 Medan. The research method used in this research is qualitative research, where qualitative research is research conducted on natural object conditions with a case study method. This data analysis is carried out circularly by starting with data collection, data presentation and conclusions. Researchers used data collection instruments in the form of observations and interviews. The results show that the routine activities at the research location can form psychologically prosperous students through dhuha prayer worship, recitation of asmaul husna and recitation of hadith. In conclusion, worship plays an important role in overcoming adolescent psychological well-being. This worship is made to improve faith as an effort to get closer to Allah Swt and improve mental health. With regular worship, they can certainly prosper their psychology in the midst of turbulent adolescent development. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ibadah dalam pembentukan kesejahteraan psikologis remaja di kelas 9 Terpadu 2, Smp Muhammadiyah 01 Medan. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dimana penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan pada kondisi obyek yang bersifat alamiah dengan metode studi kasus. Analisis data ini dilakukan secara sirkuler dengan diawali melakukan pengumpulan data, penyajian data dan kesimpulan. Peneliti menggunakan instrumen pengumpulan data berupa observasi dan wawancara. Hasil menunjukkan bahwa kegiatan rutinan yang ada di lokasi penelitian dapat membentuk peserta didik yang sejahtera psikologis melalui ibadah sholat dhuha, pembacaan asmaul husna dan pembacaan hadis. Kesimpulannya ibadah memainkan peranan yang penting dalam mengatasi kesejahteraan psikologis remaja. Ibadah ini dibuat untuk memperbaiki keimanan sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan memperbaiki kesehatan mental. Dengan ibadah rutin yang dilakukan tentu dapat mensejahterakan psikologis mereka ditengah perkembangan remaja yang bergejolak.
KONFLIK BATIN KURT PADA TOKOH AKU DALAM CERPEN KOMPAS SUATU HARI, KAMU AKAN MENGERTI KARYA RAISA KAMILA PRIKUSUMA, ATHAYA RIDHA; PAMUNGKAS, ONOK YAYANG; WIBOWO, IQBALVA DEMAS; HAMZAH, HAMZAH; PURNOMO, WESLEY
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4124

Abstract

This study aims to analyze the inner conflict experienced by Kurt, the character "Aku" in the short story Sebuah Hari, Kamu Akan Mengerti by Raisa Kamila. This study uses a literary psychology approach to understand the inner dynamics of the main character, especially the internal conflict reflected in behavior, dialogue, and narrative. The research data in the form of short story texts were analyzed using qualitative descriptive methods to reveal aspects of inner conflict including the conflict between hopes, fears, and reality faced by Kurt. The results of the study indicate that Kurt's inner conflict arises due to feelings of being pressured by social expectations, past trauma, and longing for acceptance. Kurt experiences a dilemma between his desire to express his identity and his fear of rejection from his surroundings. In addition, the narrative of the short story describes how Kurt's inner struggle regarding his personal relationships with those closest to him influences important decisions in his life. This inner conflict culminates in an introspective dialogue that describes Kurt's desire to make peace with himself. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis konflik batin yang dialami oleh Kurt, tokoh "Aku" dalam cerpen Suatu Hari, Kamu Akan Mengerti karya Raisa Kamila. Kajian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra untuk memahami dinamika batin tokoh utama, khususnya konflik internal yang tercermin dalam perilaku, dialog, dan narasi. Data penelitian berupa teks cerpen yang dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif untuk mengungkap aspek-aspek konflik batin yang meliputi pertentangan antara harapan, ketakutan, dan kenyataan yang dihadapi oleh Kurt. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik batin Kurt muncul akibat perasaan tertekan oleh ekspektasi sosial, trauma masa lalu, dan kerinduan terhadap penerimaan. Kurt mengalami dilema antara keinginannya untuk mengekspresikan jati diri dan ketakutannya akan penolakan dari lingkungan sekitar. Selain itu, narasi cerpen menggambarkan bagaimana pergulatan batin Kurt terkait hubungan personalnya dengan orang-orang terdekat memengaruhi keputusan-keputusan penting dalam hidupnya. Konflik batin ini memuncak pada dialog introspektif yang menggambarkan keinginan Kurt untuk berdamai dengan dirinya sendiri
GAMBARAN TOXIC RELATIONSHIP BAGI DEWASA AWAL YANG BERPACARAN CHI, GABRIEL; DARIYO, AGOES
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4172

Abstract

This research aims to describe the experience of toxic relationships in young adults who are currently in a dating relationship. In an era that is increasingly open to relationship issues, toxic relationships are one of the problems that individuals often face, especially in early adulthood who are looking for identity and emotional stability. The method used in this research is a qualitative approach with interview techniques. This research involved five sources aged between 20 and 25 years, who had experience in dating relationships that were considered toxic. The research results showed that the signs of a toxic relationship experienced by the interviewee included excessive control, poor communication, emotional violence, and inequality in the relationship. In addition, most interviewees expressed difficulty in getting out of the relationship because of feelings of emotional dependence, fear of rejection, and uncertainty about the future. It is hoped that this research can provide a deeper understanding of the dynamics of toxic relationships among young adults. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana pengalaman toxic relationship pada dewasa awal yang sedang menjalani hubungan pacaran. Dalam era yang semakin terbuka terhadap isu-isu hubungan, toxic relationship menjadi salah satu masalah yang sering dihadapi oleh individu, terutama pada usia dewasa awal yang sedang mencari identitas dan stabilitas emosional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara. Penelitian ini melibatkan lima orang narasumber yang berusia antara 20 hingga 25 tahun, yang memiliki pengalaman dalam menjalin hubungan pacaran yang dianggap toxic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanda-tanda toxic relationship yang dialami oleh narasumber meliputi kontrol berlebihan, komunikasi yang buruk, kekerasan emosional, serta ketidaksetaraan dalam hubungan. Selain itu, sebagian besar narasumber mengungkapkan adanya kesulitan dalam keluar dari hubungan tersebut karena rasa ketergantungan emosional, rasa takut terhadap penolakan, dan ketidakpastian akan masa depan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih dalam tentang dinamika toxic relationship di kalangan dewasa awal.
GAMBARAN COLLEGE ADJUSTMENT PADA MAHASISWA: STUDI DESKRIPTIF DI PERGURUAN TINGGI YANG MENERAPKAN HYBRID LEARNING SASONGKO, SHABRINA NUR AULIA; HASTUTI, RAHMAH
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4174

Abstract

This study aims to describe the college student adjustment in the context of hybrid learning in higher education. Hybrid learning combines face-to-face and online learning, adaptation challenges for students, particularly after the COVID-19 pandemic. The study employs a qualitative descriptive method with purposive sampling, involving 125 students from various cohorts at a university in West Jakarta. Data analysis was conducted using MAXQDA 2020 software to explore four aspects of adjustment: academic adjustment, social adjustment, personal-emotional adjustment, and goal commitment-institutional attachment. The findings reveal that hybrid learning positively impacts students' learning motivation and social interactions but also presents challenges such as boredom, stress, and time management difficulties. This research provides valuable insights into factors influencing student adjustment in a hybrid learning system. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran college student adjustment (penyesuaian diri mahasiswa) dalam proses pembelajaran hybrid learning di perguruan tinggi. Hybrid learning menggabungkan pembelajaran tatap muka dan daring, memberikan tantangan adaptasi bagi mahasiswa, terutama setelah pandemi coronavirus disease (covid-19). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan purposive sampling, melibatkan 125 mahasiswa dari berbagai angkatan di salah satu Universitas di Jakarta Barat. Analisis data dilakukan menggunakan software MAXQDA 2020 dan mengidentifikasi empat aspek penyesuaian diri sebagai temuan penelitian yaitu: penyesuaian akademik, penyesuaian sosial, penyesuaian personal emosional, dan kelekatan terhadap universitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hybrid learning memiliki dampak positif terhadap motivasi belajar dan interaksi sosial mahasiswa, namun juga memunculkan tantangan berupa kebosanan, stres, dan kesulitan dalam mengatur waktu dalam penerapan sistem hybrid learning.
PERBEDAAN SELF-ESTEEM PADA MAHASISWA YANG MERANTAU DI JAKARTA DITINJAU DARI JENIS KELAMIN AMALIA, RIZKY; AGUSTINA, AGUSTINA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4175

Abstract

This study aims to examine the differences in self-esteem among students who have migrated to Jakarta based on gender. Gender is often considered a factor that influences self-esteem. However, previous studies have shown diverse findings, making this gap important to explore further. This research employs a quantitative research method, with the target participants being active students aged 18-25 years who have migrated to Jakarta. After data collection through a Google Form survey, a sample of 171 participants was obtained, consisting of 132 female participants and 39 male participants. Data collection was carried out using purposive sampling. The analysis results showed that (p = 0.576 > 0.05), indicating that there is no significant difference in self-esteem among students who have migrated to Jakarta when viewed based on gender. However, there was a slight difference in the mean scores between male and female students, with the average score for male students being higher (M = 3.7333) compared to female students (M = 3.6523). Nevertheless, due to the t-value of 0.560, this mean difference is not strong enough to be considered statistically significant. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan self-esteem pada mahasiswa yang merantau di Jakarta berdasarkan jenis kelamin. Jenis kelamin sering kali dianggap sebagai faktor yang memengaruhi variabel self-esteem. Namun, hasil dari penelitian sebelumnya menunjukkan temuan yang beragam, sehingga kesenjangan ini penting untuk dibahas lebih lanjut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan target partisipan yaitu mahasiswa aktif berusia 18-25 tahun yang merantau di Jakarta. Setelah data dikumpulkan melalui penyebaran menggunakan google form, didapatkan sampel berjumlah 171 orang dengan jumlah partisipan perempuan sebanyak 132 orang dan partisipan laki-laki sebanyak 39 orang. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa (p = 0,576 > 0,05), sehingga hasil temuan dari penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada self-esteem mahasiswa yang merantau di Jakarta apabila ditinjau berdasarkan jenis kelamin. Meskipun begitu terdapat sedikit perbedaan pada hasil rata-rata antara mahasiswa laki-laki dengan mahasiswa perempuan, dimana rata-rata mahasiswa laki-laki lebih besar (M = 3.7333) dibandingkan rata-rata mahasiswa perempuan (M = 3,6523). Namun karena nilai t = 0,560, sehingga perbedaan rata-rata tersebut tidak cukup kuat untuk dianggap signifikan.
GAMBARAN PENGGUNAAN ABUSIVE LANGUAGE DAN HATE SPEECH PADA SISWA SEKOLAH DASAR YANG DITIRUKAN DARI MEDIA SOSIAL JAMIL, AZIZAH NURUL; HASTUTI, RAHMAH
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4176

Abstract

The use of abusive language and hate speech among elementary school students is influenced by the widespread presence of social media. Social media, as a source of information and entertainment, has become an inseparable part of children’s lives, but also brings negative impacts, including the imitation of abusive language and hate speech. This research aims to describe the use of abusive language and hate speech by elementary school students who are influenced by the rise of social media. Social media as a source of information and entertainment has become an inseparable part of children's lives, but it also has negative impacts, including imitation of harsh language and hate speech. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data was collected through in-depth interviews, observations, and content analysis of student interactions, both directly in the school environment and on social media platforms. The research results show that elementary school students tend to imitate abusive language and hate speech they encounter on social media without fully understanding its meaning and impact. The main factors that influence this behavior include the duration of social media use, lack of supervision from parents, and minimal understanding of digital communication ethics. The impact of using this language can be seen in disrupting social relationships between students, increasing verbal conflicts, and decreasing politeness values ??in daily interactions. This research recommends increasing supervision of elementary school children in their use of social media. The role of parents and educators is the most important thing in providing their students with an understanding of how to wisely use social media to prevent behavior that imitates negative language from social media. Apart from that, strengthening regulations regarding social media access for children needs to be done. ABSTRAKPenggunaan abusive language dan hate speech oleh siswa sekolah dasar dipengaruhi oleh maraknya media sosial. Media sosial sebagai salah satu sumber informasi dan hiburan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak, tetapi juga membawa dampak negatif, termasuk peniruan bahasa kasar dan ujaran kebencian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran penggunaan abusive language dan hate speech oleh siswa sekolah dasar yang dipengaruhi oleh maraknya media sosial. Media sosial sebagai salah satu sumber informasi dan hiburan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak, tetapi juga membawa dampak negatif, termasuk peniruan bahasa kasar dan ujaran kebencian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis konten dari interaksi siswa, baik secara langsung di lingkungan sekolah maupun di platform media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa sekolah dasar cenderung menirukan abusive language dan hate speech yang mereka temui di media sosial tanpa memahami sepenuhnya makna dan dampaknya. Faktor utama yang memengaruhi perilaku ini meliputi durasi penggunaan media sosial, kurangnya pengawasan dari orang tua, dan minimnya pemahaman tentang etika komunikasi digital. Dampak penggunaan bahasa tersebut terlihat pada terganggunya hubungan sosial antar siswa, meningkatnya konflik verbal, serta penurunan nilai-nilai kesopanan dalam interaksi sehari-hari. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan pengawasan terhadap anak-anak sekolah dasar dalam penggunaan media sosial. Peran orang tua dan para pendidik menjadi hal yang paling penting dalam memberikan pemahaman terhadap anak didiknya tentang cara bijak menggunakan media sosial guna mencegah perilaku meniru bahasa negatif dari media sosial. Selain itu penguatan regulasi terkait akses media sosial untuk anak-anak perlu dilakukan.