cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 390 Documents
KONTRIBUSI KEMANDIRIAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR DALAM KESIAPAN KERJA MAHASISWA TINGKAT AKHIR Harto, Ivania Rachel; Sahrani, Riana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8971

Abstract

The increasing competitiveness of the job market and the high unemployment rate among young adults, including university graduates, require final-year students to develop adequate work readiness before transitioning into the professional world. One important factor in shaping this readiness is the ability to make career decisions, which must be supported by autonomy and responsibility toward chosen career paths. This study employed a quantitative approach with purposive sampling, and the data were analyzed using multiple regression. A total of 301 final-year students from public and private universities participated in the study. The instruments used included the autonomy dimension of the Basic Psychological Need Satisfaction and Frustration Scale (BPNSNF), the Career Decision-Making Difficulties Questionnaire (CDDQ), and the Work Readiness Scale (WRS). The findings indicate that autonomy and career decision-making ability positively contribute to work readiness, accounting for 65.4 percent of the variance. The study also revealed gender differences, where male students demonstrated higher levels of career decision-making ability and work readiness compared to female students. ABSTRAK Persaingan dunia kerja yang semakin ketat serta tingginya tingkat pengangguran pada kelompok usia muda, termasuk lulusan perguruan tinggi, menuntut mahasiswa semester akhir memiliki kesiapan kerja yang optimal sebelum memasuki fase transisi menuju dunia profesional. Salah satu faktor awal yang diperlukan dalam proses kesiapan tersebut adalah kemampuan dalam mengambil keputusan karir. Kemampuan ini perlu dibangun melalui sikap mandiri dan tanggung jawab terhadap pilihan karir yang ditetapkan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling, dan analisis dilakukan dengan regresi berganda. Partisipan terdiri dari 301 mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan swasta. Alat ukur penelitian mencakup dimensi autonomy dari Basic Psychological Need Satisfaction and Frustration Scale (BPNSNF), Career Decision-Making Difficulties Questionnaire (CDDQ), serta Work Readiness Scale (WRS). Hasil analisis menunjukkan bahwa kemandirian dan pengambilan keputusan karir berkontribusi positif terhadap kesiapan kerja dengan nilai kontribusi sebesar 65,4%. Penelitian ini juga menemukan adanya perbedaan berdasarkan jenis kelamin, di mana mahasiswa laki-laki menunjukkan tingkat pengambilan keputusan karir dan kesiapan kerja yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa perempuan.  
STUDI KUALITATIF : STRATEGI KOMUNIKASI PASANGAN MENIKAH DALAM MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN JARAK JAUH Setiawan, Anjelly Catrina; Suparman, Meiske Yunithree
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8972

Abstract

The increasing prevalence of long-distance marriages (LDMs) due to the demands of professional mobility and technological advancements requires couples to develop complex communication strategies to maintain healthy relationships. This study focuses on analyzing the communication strategies employed by married couples in LDMs and their implications for relationship quality in the digital era. Using a qualitative phenomenological approach, data were extracted through in-depth interviews with four LDM couples to understand the dynamics of their interactions. The study findings revealed that each couple adopted adaptive communication strategies according to their emotional needs, with assurance, openness, and conflict management as dominant pillars. Digital media has proven to play a significant role as an emotional bridge, but its effectiveness depends heavily on the couple's ability to minimize misunderstandings due to the absence of non-verbal cues. It is concluded that the success of LDMs is not solely determined by technological sophistication, but rather by the couple's maturity in building trust, commitment, and a solid support system. Integration between wise use of technology and quality interpersonal interactions is key to maintaining the stability and harmony of long-distance marriages. ABSTRAK Fenomena pernikahan jarak jauh (Long Distance Marriage/LDM) yang semakin marak akibat tuntutan mobilitas profesional dan perkembangan teknologi mengharuskan pasangan mengembangkan strategi komunikasi yang kompleks demi mempertahankan hubungan yang sehat. Penelitian ini berfokus pada analisis strategi komunikasi yang diterapkan pasangan suami istri dalam menjalani LDM serta implikasinya terhadap kualitas hubungan di era digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, data digali melalui wawancara mendalam terhadap empat pasangan LDM untuk memahami dinamika interaksi mereka. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa setiap pasangan mengadopsi strategi komunikasi yang adaptif sesuai kebutuhan emosional, di mana dimensi assurance (pemberian jaminan), keterbukaan, dan manajemen konflik menjadi pilar dominan. Media digital terbukti berperan signifikan sebagai jembatan emosional, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kemampuan pasangan meminimalisir kesalahpahaman akibat absennya isyarat non-verbal. Disimpulkan bahwa keberhasilan LDM tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kematangan pasangan dalam membangun kepercayaan, komitmen, serta sistem dukungan yang solid. Integrasi antara pemanfaatan teknologi yang bijak dan kualitas interaksi interpersonal menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas dan keharmonisan rumah tangga jarak jauh.  
SKRINING KESEHATAN MENTAL PADA IBU RUMAH TANGGA DI DESA ROBOABA, KECAMATAN SABU BARAT, KABUPATEN SABU RAIJUA Ramadhani, Sakila Novirdia; Anakaka, Dian L.; Pello, Shela C.; Keraf, Abdi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8973

Abstract

Mental health is an essential factor influencing an individual's quality of life, including that of housewives who carry dual roles within the family and the community. Workload, economic pressure, and limited social support can increase the risk of mental health problems in this population. This study aims to describe the mental health condition of housewives in Roboaba Village, West Sabu District, Sabu Raijua Regency, with a specific focus on Daigama Hamlet. This research employed a quantitative descriptive design involving 87 housewives as respondents. The instrument used was the Self-Reporting Questionnaire (SRQ-29), developed by the World Health Organization (WHO), widely applied as a screening tool for mental health disorders. Data were analyzed using univariate methods and presented in frequency distributions and percentages. The results revealed that 58 respondents (66.7%) were indicated to have mental health problems, while 29 respondents (33.3%) showed no signs of such disorders. Based on the SRQ-29 dimensions, the most frequently reported symptoms were somatic symptoms (79.3%), followed by anxiety symptoms (64.4%), cognitive symptoms (62.1%), decreased energy (55.2%), trauma symptoms (54.0%), risk behaviors (54.0%), and depressive symptoms (48.3%). These findings indicate that housewives in Roboaba Village are highly vulnerable to mental health problems. Therefore, preventive and curative efforts are necessary, including increasing awareness of mental health, providing counseling services, and strengthening social support from families and the community. ABSTRAK Kesehatan mental merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi kualitas hidup individu, termasuk ibu rumah tangga yang memiliki peran ganda dalam keluarga dan masyarakat. Beban peran, tekanan ekonomi, serta kurangnya dukungan sosial dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan mental pada ibu rumah tangga di Desa Roboaba, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, dengan fokus lokasi di Dusun Daigama. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 87 ibu rumah tangga. Instrumen yang digunakan adalah Self-Reporting Questionnaire (SRQ-29) yang dikembangkan oleh WHO dan telah digunakan secara luas untuk skrining gangguan kesehatan mental. Analisis data dilakukan secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden terindikasi memiliki masalah kesehatan mental, yaitu sebanyak 58 orang (66,7%), sedangkan 29 orang (33,3%) tidak menunjukkan indikasi gangguan kesehatan mental . Berdasarkan aspek SRQ-29, gejala yang paling banyak ditemukan adalah gejala somatik sebanyak 69 orang (79,3%), diikuti oleh gejala kecemasan 56 orang (64,4%), gejala kognitif 54 orang (62,1%), gejala penurunan energi 48 orang (55,2%), gejala trauma 47 orang (54,0%), perilaku berisiko 47 orang (54,0%), dan gejala depresi 42 orang (48,3%) . Ini menunjukkan bahwa ibu rumah tangga di Desa Roboaba berada pada kondisi yang rentan terhadap gangguan kesehatan mental. Oleh karena itu, diperlukan perhatian dan intervensi melalui peningkatan kesadaran tentang kesehatan mental, penyediaan layanan konseling, serta dukungan sosial dari keluarga dan masyarakat.      
DISONEKSI DIGITAL SEBAGAI STRATEGI REGULASI DIRI TERHADAP KEBUTUHAN UMPAN BALIK PADA MAHASISWA PENGGUNA MEDIA SOSIAL Ompusunggu, Carine
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9148

Abstract

ABSTRACT The increasing intensity of social media use among university students has amplified the need for digital feedback, which often leads to psychological pressure, digital fatigue, and a tendency to withdraw temporarily from online environments. This self-regulatory response is reflected in digital disconnection behaviors, which function as a strategy to maintain psychological balance amid constant digital engagement. This study aims to examine the relationship between the need for social media feedback and digital disconnection behaviors among university students. This research employed a quantitative correlational design. A total of 255 university students participated as respondents through purposive sampling. Data were collected using online questionnaires measuring the need for social media feedback and digital disconnection behaviors. Data analysis was conducted using Spearman’s correlation test alongside a linearity assessment to identify the directional pattern between the variables. The results indicate a significant positive relationship (r = 0,305; p < 0,01) between the need for social media feedback and digital disconnection. Higher levels of digital feedback seeking were associated with a stronger tendency to engage in disconnection as a means of reducing psychological distress and restoring self-control. The relationship between the variables demonstrated a stable and linear pattern. In conclusion, the need for social media feedback plays a substantial role in shaping digital disconnection tendencies among university students. These findings highlight the importance of digital literacy, self-regulation skills, and healthier social media usage strategies in supporting student well-being within increasingly connected digital environments. ABSTRAK Penggunaan media sosial yang intensif pada mahasiswa sering kali memunculkan kebutuhan tinggi akan umpan balik digital, yang dapat menimbulkan tekanan psikologis dan kelelahan digital sehingga mendorong individu untuk mengambil jarak dari aktivitas daring. Salah satu strategi yang muncul adalah perilaku disoneksi digital sebagai bentuk regulasi diri terhadap potensi dampak negatif penggunaan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebutuhan umpan balik media sosial dengan perilaku disoneksi digital pada mahasiswa pengguna media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 255 mahasiswa pengguna media sosial berpartisipasi sebagai responden melalui metode purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner daring yang terdiri dari skala kebutuhan umpan balik media sosial dan skala perilaku disoneksi digital. Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman serta uji linearitas untuk melihat pola keterkaitan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif (r = 0,305; p < 0,01) yang signifikan antara kebutuhan umpan balik media sosial dan perilaku disoneksi digital. Maka, semakin tinggi kebutuhan individu untuk memperoleh validasi dan respons digital, semakin besar kecenderungan mereka untuk melakukan disoneksi sebagai upaya mengurangi tekanan dan memulihkan kendali diri. Pola hubungan yang ditemukan bersifat linear dan stabil. Kesimpulannya, kebutuhan umpan balik media sosial berperan dalam membentuk kecenderungan mahasiswa untuk melakukan digital disoneksi. Implikasi penelitian menekankan pentingnya literasi digital, kemampuan regulasi diri, serta strategi penggunaan media sosial yang lebih sehat bagi mahasiswa di era konektivitas digital yang semakin intensif.
GAMBARAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA REMAJA YANG BERMAIN GAME ONLINE FREE FIRE DI KOTA KUPANG Namah, Cindy Trivena; Pello, Shela Christine; Aipipidely, Diana; Mage, Mernon Y. C.
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.7706

Abstract

Emotional intelligence is an individual’s ability to understand personal emotions and the emotions of others, regulate and direct oneself, maintain motivation, and build interpersonal relationships. This study aims to describe the emotional intelligence of adolescents who play the online game Free Fire in Kupang City. The study involved six adolescent participants selected through purposive sampling and snowball techniques based on predetermined criteria. The research employed a qualitative method with a phenomenological approach. Data were collected using semi-structured interviews and analyzed using an interactive analysis technique. Data validity was ensured through member checking and an audit trail. The findings indicate that adolescents who play Free Fire demonstrate the emergence of various aspects of emotional intelligence during gameplay. Participants were able to recognize the emotions that surfaced, manage their reactions when facing stressful situations, and maintain motivation to improve their playing skills. Empathy toward teammates appeared in several situations, although not consistently across all participants. Social skills were reflected in the communication and cooperation established during play. ABSTRAK Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam memahami perasaan diri sendiri dan orang lain, mengendalikan dan mengarahkan diri sendiri, memotivasi diri, dan menjalin hubungan dengan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran kecerdasan emsoional pada remaja yang bermain game online free fire di Kota Kupang. Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah 6 orang remaja, yang diperoleh melalui teknik purposive sampling dan snowball dengan kriteria yang sudah ditetapkan. Metode yang digunakan untuk mengkaji data dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara semi tersruktur. Data yang diperoleh kemudian akan diolah dengan menggunakan teknik analisis interaktif. Uji keabsahan data dilakukan melalui member check dan audit trail. Hasil dari penelitian menujukkan bahwa remaja yang bermain game online free fire memperlihatkan munculnya aspek-aspek kecerdasan emosional dalam aktivitas bermain. Partisipan mampu mengenali emosi yang muncul, mengelola reaksi saat menghadapi situasi menekan, serta menunjukkan motivasi untuk meningkatkan kemampuan bermain. Empati terhadap rekan tim muncul dalam beberapa situasi, meskipun tidak terjadi pada seluruh paertisipan. Keterampilan sosial terlihat melaui komunikasi dan kerja sama yang terbentuk selama bermain.  
BENTENG KARAKTER: SINERGI IMAN DAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Bine, Yermianti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.7774

Abstract

This study aims to formulate a holistic character development model through the integration of Christian faith and educational psychology in Christian Religious Education. The study is based on the need for a more systematic approach to character formation in response to moral challenges and the weakening of Christian values among students. This research employed a qualitative literature review by examining books, journal articles, and relevant academic sources on character education, Christian Religious Education, and educational psychology. The data were analyzed thematically to identify key concepts, relationships among ideas, and their implications for character formation. The findings show that the integration of Christian faith and educational psychology strengthens character development through five main dimensions: spiritual, moral, cognitive, affective, and social development. This integration also reinforces the role of Christian Religious Education teachers as facilitators who not only teach faith-based values but also accompany students’ psychological and personal growth. In conclusion, the synergy between Christian faith and educational psychology provides a conceptual foundation for holistic character development in Christian Religious Education. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan merumuskan model pembinaan karakter holistik melalui integrasi iman Kristen dan psikologi pendidikan dalam Pendidikan Agama Kristen. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan pendekatan pembentukan karakter yang lebih sistematis di tengah tantangan moral dan melemahnya nilai-nilai Kristen pada peserta didik. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka terhadap buku, artikel jurnal, dan sumber akademik relevan yang membahas pendidikan karakter, Pendidikan Agama Kristen, dan psikologi pendidikan. Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi konsep-konsep utama, hubungan antargagasan, serta implikasinya bagi pembinaan karakter. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi iman Kristen dan psikologi pendidikan memperkuat pembinaan karakter melalui lima dimensi utama, yaitu perkembangan spiritual, moral, kognitif, afektif, dan sosial. Integrasi ini juga menegaskan peran guru Pendidikan Agama Kristen sebagai fasilitator yang tidak hanya mengajarkan nilai-nilai iman, tetapi juga mendampingi pertumbuhan psikologis dan personal peserta didik. Dengan demikian, sinergi antara iman Kristen dan psikologi pendidikan memberikan landasan konseptual bagi pembinaan karakter yang holistik dalam Pendidikan Agama Kristen.
GAMBARAN KULINER BETAWI DALAM MEMPERKUAT JATI DIRI BANGSA Jauharah, Hasna; Sutiawan, Sutiawan; Najmah Khairiyyah, Syarifah; Ansika Cecilia, Fausta; Rahmad Endarto, Urip; Tiatri, Sri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8066

Abstract

This study analyzes the role of traditional Betawi food in strengthening the national identity of Indonesia through a social and cultural approach. Traditional Betawi food not only fulfills physical needs but also serves as a symbol of identity, solidarity, and the inheritance of national values. This research uses a descriptive qualitative method with a narrative approach based on a literature review. The findings reveal that traditional Betawi food reflects cultural acculturation that embodies the values of togetherness, openness, and mutual cooperation. These dishes carry historical, social, and spiritual meanings that contribute to the formation of collective identity. In addition to being local culturales symbols, traditional Betawi food also functions as an educational tool and instrument of cultural diplomacy. Therefore, its preservation is not only about maintaining regional flavors but also reinforcing awareness of the national values that shape the character of the Indonesian nation. ABSTRAK Penelitian ini menganalisis peran makanan tradisional Betawi dalam memperkuat jati diri bangsa Indonesia melalui pendekatan sosial dan budaya. Makanan tradisional Betawi tidak hanya memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga berfungsi sebagai simbol identitas, solidaritas, dan warisan nilai kebangsaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan naratif berbasis studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan tradisional Betawi mencerminkan akulturasi budaya yang menggambarkan nilai kebersamaan, keterbukaan, dan gotong royong. Hidangan-hidangan tersebut mengandung makna historis, sosial, dan spiritual yang berkontribusi pada pembentukan identitas kolektif masyarakat. Selain sebagai simbol budaya lokal, makanan tradisional Betawi juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan diplomasi budaya. Oleh karena itu, pelestariannya tidak hanya menjaga cita rasa khas daerah, tetapi juga memperkuat kesadaran terhadap nilai-nilai kebangsaan yang membentuk karakter bangsa Indonesia.
PERAYAAN HARI BESAR NASIONAL SEBAGAI SARANA MEMPERKUAT TOLERANSI DAN SOLIDARITAS: PERSPEKTIF LITERATUR Veren, Karissa; Gaby Sie, Madeline; Aprillia, Aginta; Zahra, Maryam; Afsyari, Belva; Tiatri, Sri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8075

Abstract

Indonesia is a country rich in cultural, linguistic, and religious diversity. This diversity can be both a strength and a source of conflict if not managed properly. National holiday celebrations go beyond mere ceremonial functions; they serve as collective spaces that facilitate social interactions across different identities. This study aims to explore how national holiday celebrations contribute to strengthening tolerance and solidarity among citizens in a multicultural society. A systematic literature review was conducted on scholarly articles published between 2020 and 2025 that met the inclusion criteria. The findings indicate that participation in national holiday celebrations fosters shared spaces that enhance the values of mutual cooperation, appreciation of differences, and social cohesion. Based on the distress intolerance theory, the study shows that active involvement in social activities helps reduce emotional tension arising from differences and strengthens individuals' capacity to tolerate diversity. This theory is relevant to the Indonesian context, as the social interactions created in national celebrations can reduce tensions between groups and strengthen tolerance towards differences, which is essential for maintaining social cohesion in a pluralistic society. This study makes a significant contribution to the existing literature by filling a gap in research on national holiday celebrations as a means of strengthening social solidarity, using a systematic literature review approach to examine its social contributions in Indonesia. ABSTRAK Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman budaya, bahasa, dan agama. Keberagaman ini dapat menjadi kekuatan maupun sumber konflik jika tidak dikelola dengan tepat. Perayaan hari besar nasional lebih dari sekadar seremonial; ia berfungsi sebagai ruang kolektif yang memfasilitasi interaksi sosial antaridentitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana perayaan hari besar nasional dapat berkontribusi dalam memperkuat toleransi dan solidaritas antarwarga di masyarakat multikultural. Sistematic literature review dilakukan terhadap artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2025 yang memenuhi kriteria inklusi. Hasilnya menunjukkan bahwa partisipasi dalam perayaan hari besar nasional memperkuat ruang bersama yang meningkatkan nilai gotong royong, penghargaan terhadap perbedaan, dan kohesi sosial. Berdasarkan teori distress intolerance, penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan aktif dalam aktivitas sosial membantu mengurangi ketegangan emosional yang timbul akibat perbedaan, serta meningkatkan kapasitas individu untuk mentoleransi keberagaman. Teori ini relevan dengan konteks Indonesia, karena interaksi sosial yang tercipta dalam perayaan nasional dapat mengurangi ketegangan antar kelompok dan memperkuat toleransi terhadap perbedaan, yang esensial dalam menjaga kohesi sosial di masyarakat yang majemuk. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur yang ada, dengan mengisi celah penelitian mengenai perayaan hari besar nasional sebagai sarana penguatan solidaritas sosial, menggunakan pendekatan systematic literature review untuk mengkaji kontribusi sosialnya di Indonesia.
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DAN SELF-ESTEEM PADA MAHASISWA KESEPIAN DI ERA DIGITAL Nichlah, Naila Hullatun; Agustina, Agustina; Uranus, Hanna Christina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8102

Abstract

The high use of social media in the digital era has the potential to increase loneliness. This condition is often experienced by university students who are in the stage of emerging adulthood, a transitional phase marked by various developmental demands. Loneliness in this phase is often associated with decreased self-esteem, which can lead to dissatisfaction with oneself and affect several aspects of students' lives. One external factor known to influence self-esteem is social support. Social support provides a sense of being valued, accepted, and acknowledged by the surrounding environment, which can strengthen positive self-evaluation. This study aims to examine whether there is a relationship between social support and self-esteem among university students who are vulnerable to low self-esteem due to developmental demands and loneliness. This study uses a quantitative approach with correlation analysis to test the relationship between the two variables. A total of 262 participants were recruited using non-probability sampling techniques. The results show that social support has a small positive relationship with self-esteem among lonely students in the digital era. These findings indicate that the higher the social support received by students, the higher their self-esteem tends to be. Therefore, social support is proven to be a contributing factor to self-esteem among students experiencing loneliness in the digital era. ABSTRAK Penggunaan media sosial yang tinggi di era digital berpotensi meningkatkan kesepian. Kondisi ini sering dialami oleh mahasiswa yang berada pada tahap emerging adulthood, yaitu fase peralihan yang ditandai dengan berbagai tuntutan perkembangan. Kesepian pada fase ini sering dikaitkan dengan penurunan self-esteem, yang dapat menyebabkan ketidakpuasan terhadap diri sendiri dan berdampak pada berbagai aspek kehidupan mahasiswa. Salah satu faktor eksternal yang diketahui dapat memengaruhi self-esteem adalah dukungan sosial. Dukungan sosial memberikan rasa dihargai, diterima, dan diperhatikan oleh lingkungan sekitar, yang dapat memperkuat evaluasi diri yang positif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah terdapat hubungan antara dukungan sosial dan self-esteem pada mahasiswa yang rentan mengalami penurunan self-esteem akibat tuntutan perkembangan dan kesepian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan uji korelasi untuk menguji hubungan antar kedua variabel. Sebanyak 262 partisipan diikutsertakan melalui teknik non-probability sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki hubungan positif yang kecil dengan self-esteem pada mahasiswa yang mengalami kesepian di era digital. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima mahasiswa, semakin tinggi pula tingkat self-esteem yang mereka miliki. Dengan demikian, dukungan sosial terbukti menjadi faktor yang dapat berkontribusi terhadap self-esteem mahasiswa yang mengalami kesepian di era digital.
FORGIVENESS ORANGTUA DALAM MENYIKAPI PERISTIWA KEHAMILAN REMAJA DI LUAR NIKAH DI NUSA TENGGARA TIMUR Indriyanti Putri Claudia, Monika; Aipipidely, Diana; Artati, Mardian; Ch, R Pasifikus; Wijaya, Wijaya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8254

Abstract

This study aims to understand the process of parental forgiveness toward teenage daughters who experience out-of-wedlock pregnancy in East Nusa Tenggara (NTT), Indonesia. This region is known for its patriarchal culture that highly values family honor, making teenage pregnancy a heavily stigmatized social issue. While many studies have examined the impact of teenage pregnancy, few have explored how parents, particularly in the local cultural context, process their emotions and forgive their children. Using a qualitative approach with Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), this study involved five parents who were interviewed to explore their experiences. The findings reveal five key stages in the forgiveness process: (1) early detection of pregnancy through parental intuition, (2) initial emotional reactions such as anger and disappointment, (3) transition toward unconditional love and protective actions, (4) social and spiritual support that strengthens acceptance, and (5) varying attitudes toward the male counterpart involved. This study fills a gap in the literature regarding the emotional dynamics of parents facing teenage pregnancy in Eastern Indonesia and provides insights for culturally sensitive counseling practices in handling similar cases. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses pemaafan orangtua terhadap anak remaja yang hamil di luar nikah di Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Daerah ini dikenal dengan budaya patriarkal yang sangat menjunjung tinggi kehormatan keluarga, sehingga kehamilan remaja menjadi masalah sosial yang sangat distigmatisasi. Meskipun banyak penelitian yang meneliti dampak kehamilan remaja, belum banyak yang membahas bagaimana orangtua, khususnya dalam konteks budaya lokal, memproses perasaan mereka dan memberi maaf kepada anak mereka. Dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode Analisis Fenomenologi Interpretatif (IPA), penelitian ini melibatkan lima orangtua yang diwawancarai untuk menggali pengalaman mereka. Hasil penelitian menunjukkan lima tahap penting dalam proses pemaafan: (1) deteksi awal kehamilan melalui intuisi orangtua, (2) reaksi emosional awal seperti marah dan kecewa, (3) transisi menuju kasih sayang tanpa syarat dan tindakan perlindungan, (4) dukungan sosial dan spiritual yang memperkuat penerimaan, dan (5) sikap yang bervariasi terhadap pihak laki-laki yang terlibat. Penelitian ini mengisi kekosongan literatur mengenai dinamika emosional orangtua dalam menghadapi kehamilan remaja di Indonesia Timur, serta memberikan wawasan bagi praktik konseling yang lebih sensitif terhadap budaya dalam menangani kasus serupa.