cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 364 Documents
DARI KEBOSANAN JADI KETERGANTUNGAN? STUDI PADA REMAJA PENGGUNA MEDIA SOSIAL Christabella, Wynona; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7731

Abstract

This study aims to examine the relationship between phubbing behavior and boredom proneness among adolescents. Phubbing refers to ignoring social interactions due to excessive focus on smartphone use, while boredom proneness indicates a tendency to feel bored easily. The participants in this study were 419 adolescents aged 14-17 years who actively used social media for at least two hours per day. The sampling technique used was purposive sampling. Data were collected using the Generic Scale of Phubbing (GSP) and the Boredom Proneness Scale-Short Form (BPS-SF). Data analysis was conducted using Spearman’s rho non-parametric correlation due to the non-normal distribution of one variable. The results revealed a significant positive correlation between phubbing behavior and boredom proneness (r = 0.444, p < 0.05), meaning that the higher the level of boredom proneness, the more likely adolescents are to engage in phubbing behavior. These findings highlight the importance of preventive measures, such as digital literacy education and boredom management training, to help adolescents use technology in a more balanced and adaptive way. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara perilaku phubbing dan kecenderungan kebosanan pada remaja. Phubbing adalah perilaku mengabaikan interaksi sosial secara langsung karena terlalu fokus pada penggunaan smartphone, sementara kebosanan (boredom proneness) merujuk pada kecenderungan individu untuk merasa bosan dengan cepat. Partisipan penelitian ini adalah 419 remaja berusia 14-17 tahun yang aktif menggunakan media sosial minimal dua jam per hari. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Generic Scale of Phubbing (GSP) dan Boredom Proneness Scale-Short Form (BPS-SF). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi non-parametrik Spearman’s rho, karena salah satu variabel tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara perilaku phubbing dan kebosanan (r = 0.444, p < 0.05), yang berarti semakin tinggi kecenderungan kebosanan, semakin tinggi pula kecenderungan perilaku phubbing pada remaja. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya upaya pencegahan, seperti edukasi literasi digital dan pelatihan manajemen kebosanan, untuk membantu remaja menggunakan teknologi secara lebih seimbang dan adaptif.
PERANAN MODAL PSIKOLOGIS TERHADAP SUBJECTIVE WELL BEING PADA AFFILIATE DEWASA AWAL WILAYAH JAKARTA Choirut Nisa, Riri; Yunithree Suparman, Meiske
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7737

Abstract

The increasing role of digital marketing in Indonesia has led to the emergence of the affiliate marketing profession, which is widely embraced by young adults familiar with digital technology. However, unstable and performance-based working conditions can impact their subjective well-being. This study aims to explore the influence of psychological capital on subjective well-being among young adult affiliates in Jakarta. A quantitative approach with purposive sampling was used, involving 283 affiliates aged 18 to 25 years. The instruments used were the PCQ-12 to assess psychological capital, and SWLS and PANAS to measure subjective well-being. The results showed a significant negative relationship between psychological capital and subjective well-being. Most participants were categorized as moderate in both variables. These findings suggest that external factors, such as income instability and work pressure, have a greater impact on affiliates' subjective well-being than psychological capital. ABSTRAK Peningkatan peran pemasaran digital di Indonesia telah memunculkan profesi affiliate marketing, yang banyak diminati oleh dewasa awal yang familiar dengan teknologi digital. Namun, kondisi kerja yang tidak stabil dan berbasis kinerja dapat memengaruhi kesejahteraan subjektif mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh modal psikologis terhadap kesejahteraan subjektif pada affiliator dewasa awal di Jakarta. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan purposive sampling, melibatkan 283 affiliator berusia 18 hingga 25 tahun. Alat ukur yang digunakan adalah PCQ-12 untuk menilai modal psikologis, serta SWLS dan PANAS untuk mengukur kesejahteraan subjektif. Hasil penelitian menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara modal psikologis dan kesejahteraan subjektif. Sebagian besar peserta berada pada kategori sedang untuk kedua variabel tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor eksternal, seperti ketidakstabilan pendapatan dan tekanan pekerjaan, lebih berpengaruh terhadap kesejahteraan subjektif affiliator dibandingkan modal psikologis.
STRATEGI EDUKATIF DALAM MENINGKATKAN KESADARAN PENGUATAN IDENTITAS BUDAYA MELALUI PELESTARIAN BAHASA SUNDA DI ERA DIGITAL Duanty, Kinta; Nur Shadrina, Dhaifin; Choirut Nisa, Riri; Zahra Ningtyas, Dinda; Fatimah Zahra, Shalika; Tji Beng, Jap
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7760

Abstract

The Sundanese language, as part of Indonesia's cultural identity, has experienced a decline in the number of speakers, especially among the younger generation due to the influence of globalization, the dominance of Indonesian and foreign languages, and changes in communication patterns in the digital age. This study aims to examine the preservation strategies for the Sundanese language through digital technology and to identify the obstacles encountered in the process. This study uses a scoping review method based on the PRISMA framework. The researcher collected six scholarly articles through Google Scholar using the PCC (population, concept, context) criteria, then conducted selection, data extraction, and analysis based on the relevance of the topic of Sundanese language preservation in the digital era. The results show the use of digital technology through social media (Instagram, TikTok, YouTube), learning sites such as learningsundanese.com, voice-based dictionary applications, and augmented reality media. Social media is used to disseminate creative content such as Rebo Nyunda and Sundanese language parodies, while websites and applications provide interactive learning. However, obstacles such as limited ideas, technical issues, low public interest, and the perception that digitization may diminish cultural value are encountered. Several ways to preserve the Sundanese language in the digital age include: (a) developing digital content that is engaging and culturally appropriate for Sundanese, (b) developing user-friendly media for independent use, and (c) using media that makes language learning more enjoyable. Collaboration between the government, educators, and digital creators, along with the promotion of digital literacy and cultural pride among the younger generation, has proven effective in supporting the preservation of regional languages. ABSTRAK Bahasa Sunda sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia mengalami penurunan jumlah penutur, terutama di kalangan generasi muda akibat pengaruh globalisasi, dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing, serta perubahan pola komunikasi di era digital. Penelitian ini bertujuan mengkaji strategi pelestarian Bahasa Sunda melalui teknologi digital dan mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam proses tersebut. Penelitian ini menggunakan metode scoping review berdasarkan kerangka PRISMA. Peneliti mengumpulkan enam literatur ilmiah melalui Google Scholar menggunakan kriteria PCC (population, concept, context), kemudian melakukan seleksi, ekstraksi data, dan analisis berdasarkan kesesuaian topik pelestarian Bahasa Sunda di era digital. Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan teknologi digital melalui media sosial (Instagram, TikTok, YouTube), situs pembelajaran seperti learningsundanese.com, aplikasi kamus berbasis suara, serta media augmented reality. Media sosial digunakan untuk menyebarkan konten kreatif seperti Rebo Nyunda dan parodi Bahasa Sunda, sementara situs dan aplikasi menyediakan pembelajaran interaktif. Namun, terdapat hambatan seperti keterbatasan ide, masalah teknis, rendahnya minat masyarakat, dan anggapan bahwa digitalisasi dapat mengurangi nilai budaya. Beberapa cara pelestarian bahasa Sunda di era digital antara lain: (a) pengembangan konten digital yang menarik dan sesuai budaya Sunda, (b) pengembangan media yang mudah digunakan secara mandiri, dan (c) penggunaan media yang menyenangkan dalam pembelajaran bahasa. Kolaborasi antara pemerintah, pendidik, dan kreator digital, serta peningkatan literasi digital dan kebanggaan budaya di kalangan generasi muda terbukti efektif mendukung pelestarian bahasa daerah.
MANAJEMEN WAKTU DAN DINAMIKA STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA KEBIDANAN TAHUN PERTAMA Hardjito, Koekoeh
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.7762

Abstract

ABSTRACT The transition from secondary education to higher education is a critical phase that requires students to adapt to independent learning systems and greater academic responsibilities. In midwifery education, academic demands are particularly complex as students must master theoretical knowledge while preparing for clinical practice. This study aims to analyze the relationship between time management ability and academic stress levels among first-year midwifery students. The study employed a quantitative approach with a correlational design. The population consisted of all first-year students, with a total of 69 respondents selected randomly. Data were collected using validated and reliable questionnaires on time management and academic stress. Data analysis used the Spearman Rho correlation test. The results showed that most students had good time management skills and experienced low levels of academic stress. The Spearman Rho test produced a correlation coefficient of –0.248 with a significance value of 0.040, indicating a significant negative relationship between time management ability and academic stress. The findings indicate that the better students manage their time, the lower their academic stress levels. This study highlights the importance of time management as a crucial factor in helping students cope with academic demands during the early phase of midwifery education and as a preventive coping mechanism against academic stress. ABSTRAK Peralihan dari pendidikan menengah ke perguruan tinggi merupakan fase kritis yang menuntut mahasiswa untuk menyesuaikan diri terhadap sistem belajar mandiri dan tanggung jawab akademik yang lebih tinggi. Dalam konteks pendidikan kebidanan, tuntutan akademik bersifat kompleks karena mahasiswa harus mempelajari teori sekaligus mempersiapkan diri untuk praktik klinik kebidanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kemampuan manajemen waktu dengan tingkat stres akademik pada mahasiswa kebidanan tahun pertama. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi terdiri dari seluruh mahasiswa tahun pertama, dan sampel penelitian berjumlah 69 responden yang dipilih secara acak. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner manajemen waktu dan kuesioner stres akademik yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki kemampuan manajemen waktu dalam kategori baik dan mengalami stres akademik pada tingkat rendah. Hasil uji Spearman Rho menunjukkan nilai korelasi –0,248 dengan signifikansi 0,040, yang berarti terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kemampuan manajemen waktu dan tingkat stres akademik. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin baik mahasiswa mengelola waktu, semakin rendah tingkat stres akademik yang mereka alami. Penelitian ini menegaskan bahwa kemampuan manajemen waktu merupakan faktor penting yang membantu mahasiswa dalam menghadapi tuntutan akademik pada fase awal pendidikan kebidanan, serta berperan sebagai strategi koping preventif terhadap stres akademik.
GAYA KETERIKATAN PADA MASA DEWASA AWAL: ANALISIS PERBEDAAN BERDASARKAN USIA Kamila, Nadia Nashwa; Tumanggor, Raja Oloan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7863

Abstract

ABSTRACT This study confirms a significant relationship between self-control and online game addiction with aggressive behavior among vocational high school students in Nogosari District, showing that higher self-control reduces aggression, while online game addiction increases it. This study focuses on determining whether there are differences in attachment-related anxiety and attachment-related avoidance levels based on the 18–25 age group. A total of 455 participants were selected using judgment sampling techniques and completed the Experiences in Close Relationships–Revised (ECR-R) instrument online. The data were analyzed in several stages, namely descriptive tests, Kolmogorov–Smirnov normality tests, and principal analysis using the Kruskal–Wallis test because the data were not normally distributed. The results showed significant differences in both attachment dimensions based on age. The mean rank pattern illustrates that certain age groups have higher levels of anxiety or avoidance tendencies compared to other age groups, indicating that attachment styles in early adulthood are dynamic and influenced by developmental experiences at each age. These findings conclude that age plays a role in differentiating how individuals build close relationships, and provide an important basis for the development of counseling services and mentoring programs tailored to the needs of each age group in early adulthood. ABSTRAK Masa dewasa awal ditandai oleh meningkatnya tuntutan hidup dan kebutuhan membangun hubungan dekat yang stabil, sehingga gaya keterikatan menjadi penting dalam membentuk kedekatan emosional. Namun, meskipun pengalaman dewasa dapat memengaruhi pola keterikatan, penelitian yang membahas variasinya pada kelompok usia berbeda dalam rentang dewasa awal masih terbatas. Penelitian ini berfokus untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat attachment-related anxiety dan attachment-related avoidance berdasarkan kelompok usia 18–25 tahun. Sebanyak 455 partisipan dipilih menggunakan teknik judgment sampling dan mengisi instrumen The Experiences in Close Relationships–Revised (ECR-R) secara daring. Data dianalisis melalui beberapa tahap, yaitu uji deskriptif, uji normalitas Kolmogorov–Smirnov, dan analisis utama menggunakan uji Kruskal–Wallis karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada kedua dimensi keterikatan berdasarkan usia. Pola mean rank menggambarkan bahwa kelompok usia tertentu memiliki tingkat kecemasan atau kecenderungan menghindar yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya, yang menunjukkan bahwa gaya keterikatan pada dewasa awal bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh pengalaman perkembangan pada tiap usia. Temuan ini menyimpulkan bahwa usia berperan dalam membedakan cara individu membangun hubungan dekat, serta memberikan dasar penting bagi pengembangan layanan konseling dan program pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap kelompok usia di masa dewasa awal.
HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KOMUNIKASI INTERPERSONAL HUBUNGAN PACARAN PADA DEWASA AWAL Ikishima, Faura Irva; Agustina, Agustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.7918

Abstract

ABSTRACT Romantic relationships in early adulthood require emotional regulation skills and effective communication to maintain relationship quality. Emotional intelligence is one of the key factors that shapes how individuals understand themselves, respond to their partners, and engage in healthy interactions. This study aims to examine the relationship between emotional intelligence and interpersonal communication among early adults who are currently in a romantic relationship. Using a quantitative approach, the study involved 190 participants aged 18–25 years selected through purposive sampling. The research employed emotional intelligence and interpersonal communication scales, and the data were analyzed using SPSS. Normality testing indicated that the data were normally distributed, allowing the use of Pearson correlation for hypothesis testing. The results showed a significant positive relationship between emotional intelligence and interpersonal communication (r = 0.619, p < 0.01), indicating that individuals with higher emotional intelligence tend to communicate more effectively in their dating relationships. Additional analyses revealed that interpersonal communication differed significantly based on relationship duration (p = 0.024) and expectations toward partners (p = 0.045), whereas emotional intelligence did not differ across these categories. These findings suggest that emotional regulation, partner understanding, and relational expectations contribute to variations in romantic communication quality during early adulthood. ABSTRAK Hubungan romantis pada dewasa awal membutuhkan kemampuan pengelolaan emosi dan komunikasi yang efektif untuk mempertahankan kualitas hubungan. Kecerdasan emosional menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi cara individu memahami diri, merespons pasangan, serta membangun interaksi yang sehat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kecerdasan emosional dan komunikasi interpersonal pada dewasa awal yang sedang menjalin hubungan pacaran. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan melibatkan 190 partisipan berusia 18–25 tahun yang dipilih melalui purposive sampling. Instrumen penelitian terdiri dari skala kecerdasan emosional dan skala komunikasi interpersonal, dan pengolahan data dilakukan menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosional dan komunikasi interpersonal (r = 0.619, p < 0.01), yang berarti bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional individu, semakin baik komunikasi interpersonal yang ditampilkan dalam hubungan pacaran. Uji beda juga menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal berbeda signifikan berdasarkan durasi hubungan (p = 0.024) dan harapan terhadap pasangan (p = 0.045), sementara kecerdasan emosional tidak menunjukkan perbedaan pada kedua kategori tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan mengelola emosi, memahami pasangan, serta ekspektasi dalam hubungan memiliki keterkaitan dengan kualitas komunikasi romantis pada dewasa awal.
PENGARUH INTERPERSONAL TRUST TERHADAP SELF-DISCLOSURE PADA DEWASA AWAL PENGGUNA SECOND ACCOUNT INSTAGRAM Banun, Jihan Soraya; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.5930

Abstract

The phenomenon of using a second Instagram account among young adults offers a more private and authentic space for expression than a primary account, which often triggers self-disclosure behavior. This study focuses on analyzing the influence of interpersonal trust on the intensity of self-disclosure among users of these second accounts. Through a quantitative approach with a simple linear regression method, data was collected online from 415 young adult participants using the Interpersonal Trust Scale and the Revised Self-Disclosure Scale (RSDS). The research findings indicate that interpersonal trust has a significant positive influence on self-disclosure, with a contribution of 4% (R2 = 0.040). This indicates that the higher an individual's level of trust in others, the greater their motivation to disclose themselves on the second account. It is concluded that although interpersonal trust is not the sole main determinant because the majority of the variance is influenced by other external factors, this variable still plays a crucial role in facilitating individuals' courage to share personal and emotional information in a more controlled digital environment. ABSTRAK Fenomena penggunaan second account Instagram di kalangan dewasa awal menawarkan ruang ekspresi yang lebih privat dan otentik dibandingkan akun utama, yang sering kali memicu perilaku pengungkapan diri (self-disclosure). Penelitian ini berfokus untuk menganalisis pengaruh interpersonal trust terhadap intensitas self-disclosure pada pengguna akun kedua tersebut. Melalui pendekatan kuantitatif dengan metode regresi linear sederhana, data dikumpulkan secara daring dari 415 partisipan dewasa awal menggunakan Skala Interpersonal Trust dan Revised Self-Disclosure Scale (RSDS). Temuan penelitian menunjukkan bahwa interpersonal trust memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap self-disclosure, dengan kontribusi pengaruh sebesar 4% (R2 = 0,040$). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat kepercayaan individu terhadap orang lain, semakin besar pula dorongan mereka untuk membuka diri di akun kedua. Disimpulkan bahwa meskipun interpersonal trust bukan satu-satunya determinan utama karena mayoritas variansi dipengaruhi faktor eksternal lain, variabel ini tetap memegang peran krusial dalam memfasilitasi keberanian individu untuk berbagi informasi pribadi dan emosional di lingkungan digital yang lebih terkontrol.    
EFEKTIVITAS INTERVENSI COUNTING BLESSING UNTUK MENINGKATKAN KEBAHAGIAAN DI TEMPAT KERJA Dian Nafis, Fawwazaidan; Rejeki, Asri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.7640

Abstract

Happiness in the workplace is an important factor in improving employees' well-being and productivity. However, at PT X, some employees still feel unhappy, which may affect their performance. This study aims to evaluate the effectiveness of the positive psychology intervention Counting Blessing in increasing employee happiness. Using a pre-experimental design with a quantitative approach, the study involved three employees of PT X who participated in the intervention program for two weeks. Data were collected through questionnaires measuring aspects of job satisfaction, engagement, and affective organizational commitment using the SHAW Scale instrument. Data analysis was conducted using paired sample t-test and N-Gain score. The results showed a Sig. (2-tailed) value of 0.01, indicating a significant difference in employee happiness after the intervention (p < 0.05). Additionally, the N-Gain test showed an increase in happiness with an average score of 0.679 (67.859%) in the "moderate" category. These findings support previous research showing that happiness at the workplace can increase productivity and employee engagement. This study concludes that the Counting Blessing intervention is effective in improving employee happiness, and these findings can serve as a basis for developing further intervention programs to enhance employee well-being in other organizations. ABSTRAK Kebahagiaan di tempat kerja merupakan faktor penting dalam meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas karyawan. Namun, di PT X, masih terdapat karyawan yang merasa kurang bahagia, yang berpotensi mengurangi kinerja mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi psikologi positif Counting Blessing dalam meningkatkan kebahagiaan karyawan. Menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan kuantitatif, penelitian ini melibatkan tiga karyawan PT X yang mengikuti program intervensi selama dua minggu. Data dikumpulkan melalui kuisioner yang mengukur aspek kepuasan kerja, keterlibatan, dan komitmen afektif organisasi menggunakan instrumen SHAW Scale. Analisis data dilakukan dengan uji paired sample t-test dan N-Gain score. Hasil penelitian menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,01, yang mengindikasikan perbedaan signifikan dalam kebahagiaan karyawan setelah intervensi (p < 0,05). Selain itu, uji N-Gain menunjukkan peningkatan kebahagiaan dengan skor rata-rata 0,679 (67,859%) dalam kategori "sedang". Temuan ini mendukung penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kebahagiaan di tempat kerja dapat meningkatkan produktivitas dan keterlibatan karyawan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa intervensi Counting Blessing efektif dalam meningkatkan kebahagiaan karyawan, dan temuan ini dapat dijadikan dasar untuk mengembangkan program intervensi lebih lanjut guna meningkatkan kesejahteraan karyawan di perusahaan lain.
PELATIHAN GOAL SETTING “GOAL GETTER” UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA baroroh, Ema Zati; amalia, Kiki; Asri Azzahra, Mia; Putri, Santi Ramadhani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.7705

Abstract

Low learning motivation is a common challenge for students, especially those with busy schedules at school and in Islamic boarding schools (pesantren). This study aims to test the effectiveness of the "Goal Getter" goal-setting training in enhancing students' learning motivation in pesantren. Using a one-group pre-test post-test pre-experimental design, the study involved seven eighth-grade students at SMPI X. Learning motivation was measured using a Learning Motivation Scale, covering indicators of drive, commitment, initiative, and optimism. The Wilcoxon Signed-Rank test showed a significant increase in learning motivation after the intervention (Z = .043, p < .05). Qualitative findings from observations and worksheets revealed increased enthusiasm, self-confidence, and active participation from the students. The training consisted of two sessions, including motivational material, dream tree visualization, goal setting using the SMART method, and reflective discussions. The interactive approach helped students set more focused and meaningful goals. The results of this study demonstrate that "Goal Getter" is effective in enhancing intrinsic motivation, particularly for students with high activity loads in pesantren, and provides practical contributions to the development of learning motivation interventions. ABSTRAK Rendahnya motivasi belajar sering menjadi tantangan bagi siswa, terutama mereka yang memiliki jadwal padat di sekolah dan pesantren. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas pelatihan goal setting "Goal Getter" dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pesantren. Menggunakan desain pra-eksperimental one group pre-test post-test, penelitian ini melibatkan tujuh siswa kelas VIII SMPI X. Motivasi belajar diukur dengan Skala Motivasi Belajar yang mencakup indikator dorongan, komitmen, inisiatif, dan optimisme. Uji Wilcoxon Signed-Rank menunjukkan peningkatan signifikan motivasi belajar setelah pelatihan (Z = .043, p < .05). Temuan kualitatif dari observasi dan lembar kerja mengungkapkan peningkatan antusiasme, kepercayaan diri, dan partisipasi aktif siswa. Pelatihan terdiri dari dua sesi yang mencakup materi motivasi, visualisasi pohon impian, penyusunan tujuan dengan metode SMART, dan diskusi reflektif. Pendekatan interaktif membantu siswa menetapkan tujuan yang lebih terarah dan bermakna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa "Goal Getter" efektif meningkatkan motivasi intrinsik, terutama bagi siswa dengan aktivitas tinggi di pesantren, dan memberikan kontribusi praktis dalam pengembangan intervensi motivasi belajar.
ARAH DAN TUJUAN: STUDI TENTANG PERBEDAAN PERENCANAAN KARIER MAHASISWA DAN MAHASISWI DI PULAU JAWA Aprilia, Yohana Faora; Gunawan, William
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.7883

Abstract

Career planning is crucial for students facing job market volatility, but this process is often influenced by social constructs related to gender roles, particularly in the demographic context of Java. This study aims to analyze the comparative level of career planning between male and female students to validate the assumption of gender inequality. Using a quantitative approach utilizing secondary data from the Building an Independent Young Generation (MGMM) study, this study involved the participation of 1,516 students spread across all provinces in Java. Measurements were conducted using the Career Planning Scale instrument and then analyzed using an independent sample t-test. The research findings showed a statistically significant difference with a p value of 0.004, where the male student group had an average score (M = 29.1) that was slightly superior to the female student group (M = 28.4). However, the effect size analysis yielded a value of 0.155, indicating that the difference has a weak practical impact, considering that both groups are in the very high career planning category. This study concludes that gender is not a dominant factor determining career readiness, so career development strategies in higher education should be inclusive and focus on strengthening students' self-efficacy and practical experience. ABSTRAK Perencanaan karier yang matang menjadi kebutuhan krusial bagi mahasiswa dalam menghadapi volatilitas pasar kerja, namun sering kali proses ini dipengaruhi oleh konstruksi sosial terkait peran gender, terutama dalam konteks demografi Pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komparasi tingkat perencanaan karier antara mahasiswa laki-laki dan perempuan guna memvalidasi asumsi ketimpangan gender tersebut. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder dari studi Membangun Generasi Muda Mandiri (MGMM), penelitian ini melibatkan partisipasi sebanyak 1.516 mahasiswa yang tersebar di seluruh provinsi di Pulau Jawa. Pengukuran dilakukan menggunakan instrumen Career Planning Scale yang kemudian dianalisis menggunakan uji independent sample t-test. Temuan riset menunjukkan adanya perbedaan statistik yang signifikan dengan nilai p = 0.004, di mana kelompok mahasiswa laki-laki memiliki rata-rata skor (M = 29,1) yang sedikit lebih unggul dibandingkan mahasiswa perempuan (M = 28,4). Walaupun demikian, analisis effect size menghasilkan nilai 0,155, yang mengindikasikan bahwa perbedaan tersebut memiliki dampak praktis yang lemah, mengingat kedua kelompok sama-sama berada pada kategori perencanaan karier yang sangat tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gender bukanlah faktor dominan yang menentukan kesiapan karier, sehingga strategi pengembangan karier di perguruan tinggi sebaiknya bersifat inklusif dan berfokus pada penguatan efikasi diri serta pengalaman praktis mahasiswa.