cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 364 Documents
HUBUNGAN SELF-ESTEEM DENGAN RESILIENSI PADA DEWASA AWAL KORBAN KEKERASAN DALAM PACARAN Putri, Latifah Liwanti; Soetikno, Naomi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.7919

Abstract

Many victims of dating violence feel worthless, fear abandonment, and blame themselves for situations beyond their control, all of which lead to low self-esteem. Resilience, on the other hand, is a measure of an individual’s ability to cope with stress or difficulties. Individuals with high resilience are better able to reinterpret their experiences of violence as valuable life lessons and avoid lingering trauma. This study aims to analyze the relationship between self- esteem and resilience in young adults who have experienced dating violence. The research method used was a quantitative correlational method with a purposive sampling technique for 305 respondents aged 20–40 years who had a history of dating violence. The instruments used included the Rosenberg Self-Esteem (RSES) and the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). The study was conducted online, and data collection was carried out by distributing an online questionnaire using Google Forms distributed through social media such as Instagram, WhatsApp, and Line. The reliability test showed a Cronbach’s Alpha value of 0.839 for self-esteem and 0.968 for resilience. The Kolmogorov-Smirnov normality test yielded a p value > 0.000, so the analysis was continued using the Spearman correlation test. The results of the analysis showed a significant positive relationship between self-esteem and resilience (p = 0.417; p < 0.000), which indicates that individuals with high levels of self-esteem tend to have high levels of resilience as well. This finding confirms that the experience of being a victim of dating violence has an impact on self-improvement and the ability to trust others. ABSTRAK Banyak korban kekerasan dalam pacaran merasa tidak berharga, takut ditinggalkan, dan menyalahkan diri sendiri atas situasi yang sebenarnya berada di luar kendali mereka, yang semuanya mengarah pada rendahnya self-esteem. Di sisi lain, resiliensi merupakan tolak ukur kemampuan individu dalam mengatasi tekanan atau kesulitan yang dihadapi. Individu yang memiliki resiliensi tinggi lebih mampu memaknai ulang pengalaman kekerasan yang dialaminya sebagai pembelajaran hidup yang berharga dan tidak larut dalam trauma berkepanjangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-esteem dengan resiliensi pada dewasa awal yang mengalami korban kekerasan dalam pacaran. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling terhadap 305 responden berusia 20–40 tahun yang memiliki riwayat korban kekerasan dalam pacaran. Instrumen yang digunakan meliputi Rosenberg Self-Esteem (RSES) dan Connor-Davidson Resilience Scale (CD- RISC). Penelitian dilakukan secara online, dan pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner online menggunakan Google Form yang disebarkan melalui media sosial berupa Instagram, Whatsapp, dan Line. Uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,839 pada self-esteem dan 0,968 pada resiliensi. Uji normalitas Kolmogrov-Smirnov menghasilkan nilai p > 0,000, sehingga analisis dilanjutkan menggunakan uji kolerasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara self-esteem dengan resiliensi (p = 0,417; p < 0,000), yang mengindikasikan bahwa individu dengan tingkat self-esteem tinggi cenderung memiliki tingkat resiliensi yang tinggi pula. Temuan ini menegaskan bahwa pengalaman korban kekerasan dalam pacaran berdampak pada peningkatan diri dan kemampuan mempercayai orang lain.
HUBUNGAN CYBERBULLYING DENGAN SELF-REGULATION PADA REMAJA PENGGUNA MEDIA SOSIAL Syafitri, Syalaisya Novi; Soetikno, Naomi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.7922

Abstract

This study aims to examine the relationship between the experience of being a victim of cyberbullying and self-regulation skills in late adolescent social media users. A quantitative correlational approach was used, involving 310 adolescents aged 18–21 who actively use social media for more than 4 hours per day. Data in this study were collected online using the Cyberbullying Victimization Scale (9 items) to measure victimization experiences and the Short Self-Regulation Questionnaire (40 items) to measure self-regulation. The results of the Pearson Product Moment correlation analysis showed a strong and significant positive relationship (r = 0.690; p < 0.001), meaning that the more frequently adolescents experience cyberbullying as victims, the higher their level of self-regulation. The distribution of categorizations supports this finding, with 67.7% of respondents at high victimization levels and 68.4% at high self-regulation levels. No significant differences were found based on gender. These findings indicate that repeated exposure to cyberbullying can trigger increased self-regulation as an adaptive and protective mechanism in late adolescents. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara pengalaman menjadi korban cyberbullying dengan kemampuan self-regulation pada remaja akhir pengguna media sosial. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan dengan melibatkan 310 remaja berusia 18–21 tahun yang aktif menggunakan media sosial lebih dari 4 jam per hari. Data pada penelitian ini dikumpulkan secara daring menggunakan Cyberbullying Victimization Scale (9 item) untuk mengukur pengalaman sebagai korban dan Short Self-Regulation Questionnaire (40 item) untuk mengukur self-regulation. Hasil analisis korelasi Pearson Product Moment menunjukkan hubungan positif yang kuat dan signifikan (r = 0,690; p < 0,001), artinya semakin sering remaja mengalami cyberbullying sebagai korban, semakin tinggi tingkat self-regulation yang dimilikinya. Distribusi kategorisasi memperkuat temuan ini, dengan 67,7% responden berada pada tingkat victimization tinggi dan 68,4% pada self-regulation tinggi. Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan berdasarkan jenis kelamin. Temuan ini mengindikasikan bahwa paparan berulang terhadap cyberbullying dapat memicu peningkatan self-regulation sebagai mekanisme adaptasi dan perlindungan diri pada remaja akhir.
JENIS KELAMIN DAN ADAPTABILITAS KARIER: BUKTI EMPIRIS PADA MAHASISWA JABODETABEK DI ERA DINAMIKA DUNIA KERJA Sri Rahayu, Yohana; Gunawan, William
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.7988

Abstract

Career adaptability refers to an individual's capacity to proactively cope with and adjust to challenges in career development. This study aims to examine gender differences in career adaptability among undergraduate students in the Greater Jakarta area (Jabodetabek). Despite the region's high labor market dynamics, research on students' adaptive readiness remains limited. Moreover, the use of the Career Adapt-Abilities Scale–Short Form (CAAS-SF) within the Indonesian context is still rare, highlighting a methodological gap addressed in this study. A total of 507 undergraduate students from various public and private universities participated in this study, which is part of the "Membangun Generasi Muda Mandiri" (MGMM) research program. A quantitative comparative approach was employed using the CAAS-SF with a 6-point Likert scale. The results of the independent samples t-test showed no significant difference in career adaptability between male and female students (p = 0.165). Overall, the students demonstrated a high level of career adaptability, reflected across all four dimensions: concern, control, curiosity, and confidence. These findings suggest that gender is not a primary determinant of students' career adaptability. Practically, this study provides an empirical foundation for developing inclusive and gender-equitable career services in higher education institutions, particularly in metropolitan areas like Jabodetabek, by focusing on strengthening adaptability dimensions rather than differentiating interventions by gender. ABSTRAK Adaptabilitas karier adalah kemampuan individu untuk menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap tantangan dalam perkembangan karier secara proaktif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan adaptabilitas karier berdasarkan jenis kelamin pada mahasiswa S1 di wilayah Jabodetabek. Kawasan ini memiliki dinamika pasar kerja yang tinggi, namun penelitian mengenai kesiapan adaptif mahasiswa masih terbatas. Penggunaan Career Adapt-Abilities Scale–Short Form (CAAS-SF) dalam konteks Indonesia juga belum banyak dilakukan, sehingga studi ini mengisi celah metodologis yang ada. Sebanyak 507 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta terlibat dalam penelitian ini, yang merupakan bagian dari program Membangun Generasi Muda Mandiri (MGMM). Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif komparatif dengan instrumen CAAS-SF skala Likert 6 poin. Hasil uji independent samples t-test menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan adaptabilitas karier antara mahasiswa laki-laki dan perempuan (p = 0,165). Tingkat adaptabilitas karier mahasiswa secara keseluruhan tinggi, termasuk pada keempat dimensinya: concern, control, curiosity, dan confidence. Hasil ini menunjukkan bahwa jenis kelamin bukan penentu utama dalam perbedaan adaptabilitas karier mahasiswa. Secara praktis, temuan ini menjadi dasar pengembangan layanan karier yang setara dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa di wilayah metropolitan, tanpa membedakan berdasarkan jenis kelamin.
PERAN MEDIA SOSIAL DALAM MEMBENTUK CINTA TANAH AIR GEN Z MELALUI KONTEN KEBERAGAMAN BUDAYA INDONESIA Nathashia, Kyara; Aulia, Nazwa Rahma; Aulia, Shafira Anggun; Putri, Latifah Liwanti; Rahmadani, Putri Alifia; Tiatri, Sri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8018

Abstract

Cultural diversity in Indonesia is one of the nation's most distinctive characteristics and serves as a source of national pride, reflected through the expression of nationalism among its people. In this technological era, social media plays a significant role in shaping individuals' sense of national pride by exposing them to viral content that highlights Indonesia's cultural diversity, thereby forming a national identity for each individual. For Generation Z, the process of forming a national identity is not only shaped by direct interaction, but also influenced by digital communication that takes place on social media. This study aims to explore the role of social media in shaping nationalism among Generation Z individuals through various types of viral content related to Indonesia's cultural diversity. This study used a scoping review method as the main approach. The results of the scoping review show that research on nationalism and love for the homeland in the digital age remains an important focus in the fields of education, culture, and communication. Through active participation in social media, Generation Z can help preserve Indonesia's diverse culture and strengthen the spirit of nationalism that reflects the value of Bhinneka Tunggal Ika (unity in diversity) within the realm of social media. ABSTRAK Keberagaman budaya di Indonesia merupakan salah satu ciri khas bangsa yang perlu dibanggakan oleh masyarakat Indonesia, yaitu dengan menunjukkan rasa cinta tanah air. Di era yang serba teknologi, peran media sosial akan memberikan banyak dampak terhadap individu dalam membentuk rasa cinta tanah air melalui perasaan bangga ketika melihat banyak konten viral yang berisikan keberagaman budaya Indonesia, hingga terbentuk identitas nasional bagi setiap individu. Bagi Gen Z, proses pembentukan identitas nasional tidak hanya terbentuk dari interaksi langsung, tetapi juga dipengaruhi oleh komunikasi digital yang berlangsung di media sosial. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran media sosial dalam membentuk rasa cinta tanah air pada individu Gen Z melalui berbagai macam konten viral terkait keberagaman budaya Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode scoping review sebagai pendekatan utama. Hasil scoping review menunjukkan bahwa penelitian mengenai nasionalisme dan cinta tanah air di era digital, masih menjadi fokus penting dalam bidang pendidikan, budaya, dan komunikasi. Melalui partisipasi aktif di media sosial, generasi Z dapat ikut melestarikan kebudayaan Indonesia yang beragam, serta memperkuat semangat kebangsaan yang mencerminkan nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam lingkup media sosial.
IMPLIKASI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MORAL KOHLBERG TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA Mardliyah, B. Siti; Bella, Sinta; Jannah, Sabrina Izzatul; Nafisatussa'adah, Nafisatussa'adah; Tarsono, Tarsono
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8080

Abstract

This research is motivated by the persistent challenge of shaping students' authentic religious character, where religious education often results only in ritualistic obedience without a deep internalization of values. This study focuses on analyzing the implications of Lawrence Kohlberg's moral development theory as a strategic foundation for revitalizing the practice of religious character education. Using qualitative methods with a descriptive-analytical literature study approach, this study synthesizes Kohlberg's key works and the psychology of religion literature to build a relevant pedagogical framework. Key findings indicate a significant structural relationship between the level of moral reasoning and the expression of religiosity: the Preconventional stage gives rise to instrumental spirituality based on rewards and punishments, the Conventional stage gives rise to normative obedience to social rules, while the Postconventional stage reflects the autonomous internalization of universal ethical principles. These findings imply the need for an adaptive educational approach, where teaching methods such as moral dilemma discussions are tailored to students' cognitive maturity to foster moral development. It is concluded that Kohlberg's framework serves as a crucial pedagogical roadmap for educators to transform external obedience into a strong and internalized moral-religious commitment, so that the success of character education is highly dependent on the alignment of educational interventions with the stages of students' moral development. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan persisten dalam membentuk karakter religius siswa yang autentik, di mana pendidikan agama sering kali hanya menghasilkan kepatuhan ritualistik tanpa internalisasi nilai yang mendalam. Studi ini berfokus pada analisis implikasi teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg sebagai landasan strategis untuk merevitalisasi praktik pendidikan karakter religius. Melalui metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur deskriptif-analitis, penelitian ini menyintesis karya-karya utama Kohlberg dan literatur psikologi agama untuk membangun kerangka pedagogis yang relevan. Temuan utama menunjukkan adanya hubungan struktural yang signifikan antara tingkat penalaran moral dengan ekspresi religiusitas: tahap Prakonvensional memunculkan spiritualitas instrumental berbasis imbalan dan hukuman, tahap Konvensional melahirkan kepatuhan normatif terhadap aturan sosial, sedangkan tahap Pascakonvensional mencerminkan internalisasi prinsip etika universal secara otonom. Temuan ini mengimplikasikan perlunya pendekatan pendidikan yang adaptif, di mana metode pengajaran seperti diskusi dilema moral disesuaikan dengan kematangan kognitif siswa untuk mendorong perkembangan moral. Disimpulkan bahwa kerangka kerja Kohlberg berfungsi sebagai peta jalan pedagogis krusial bagi pendidik untuk mentransformasi ketaatan yang bersifat eksternal menjadi komitmen moral-religius yang kokoh dan terinternalisasi, sehingga keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung pada keselarasan intervensi edukatif dengan tahapan perkembangan moral peserta didik.  
DAMPAK POLA ASUH DEMOKRATIS SINGLE PARENT TERHADAP PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK DI MAN 1 KOTA PONTIANAK Prasetyo, Dwi Tysna Duta; Kur’ani, Nur; Ramadhan, Riszky
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8117

Abstract

This research is motivated by the significance of parenting styles in shaping children's psychosocial development, particularly within single-parent families, which frequently contend with emotional, social, and economic challenges. This research focuses on identifying the influence of democratic parenting styles employed by single parents on the psychosocial development of students at MAN 1 Pontianak City. The research employed a quantitative methodology, encompassing instrument development, validity and reliability testing, data collection via questionnaires, and statistical analysis. The statistical analysis included descriptive statistics, normality testing, linearity testing, and simple linear regression. The research sample comprised 32 students raised by single parents. The research findings indicate that the data exhibit a normal distribution and demonstrate a linear relationship between democratic parenting styles and children's psychosocial development. Regression analysis yielded a R value of 0.673 and an R-squared value of 0.453. This indicates that democratic parenting contributes 45.3% to children's psychosocial development, with the remaining variance attributed to other factors. The positive regression coefficient (0.347) and a significance value of 0.000 suggest a positive and significant relationship between the two variables. Consequently, a democratic parenting style has been shown to play a significant role in fostering self-esteem, self-control, social competence, and emotional stability in children of single parents. These findings underscore that a nurturing, communicative parenting style, coupled with clearly defined boundaries, can serve as a protective factor in child development within non-traditional family structures. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pola asuh dalam membentuk perkembangan psikososial anak, terutama pada keluarga single parent yang sering menghadapi masalah emosional, sosial, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bagaimana pola asuh demokratis orang tua tunggal berdampak pada perkembangan psikososial siswa di MAN 1 Kota Pontianak. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, yang mencakup pembuatan instrumen, pengujian validitas dan reliabilitas, pengumpulan data melalui kuesioner, dan analisis statistik, yang mencakup uji normalitas, uji linieritas, uji regresi linier sederhana, dan uji deskriptif. Grup penelitian terdiri dari 32 siswa yang diasuh oleh satu orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang linier antara pola asuh demokratis dan perkembangan psikososial anak. Data juga berdistribusi normal. Ada koefisien regresi positif (0,347) dan nilai signifikansi 0,000, yang menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki pengaruh positif dan signifikan satu sama lain. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa pola asuh demokratis memberikan kontribusi sebesar 45,3% terhadap perkembangan psikososial anak, dengan nilai R = 0,673 dan R Square = 0,453. Oleh karena itu, pola asuh demokratis telah ditunjukkan untuk meningkatkan kepercayaan diri, kontrol diri, kemampuan sosial, dan stabilitas emosional anak-anak yang dibesarkan oleh satu orang tua. Menurut temuan ini, pola asuh yang ramah, komunikatif, dan memberi batasan yang jelas dapat membantu perkembangan anak dalam keluarga yang tidak lengkap.    
HUBUNGAN ANTARA SELF-COMPASSION DENGAN KECEMASAN DALAM PUBLIC SPEAKING PADA MAHASISWA S1 Selly, Selly; Suparman, Meiske Yunithree
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8149

Abstract

Anxiety in public speaking is often experienced by people aged 18 to 25 years. On the other hand, self-compassion is considered a form of defense to reduce anxiety. This study aims to determine the relationship between self-compassion and anxiety in public speaking in undergraduate students. The method used is a non-experimental quantitative with a correlational approach. The sampling technique used purposive sampling and finally obtained 396 student respondents aged 18–25 years. Data were collected through distributing questionnaires using Google Forms to students who have had public speaking experience within 1 year. The correlation test used is the nonparametric Spearman Rank test. The results of the analysis show a positive relationship between self-compassion and anxiety in public speaking in undergraduate students, evidenced by sig. <0.001 (sig. <0.05). The negative correlation coefficient (–0.447) indicates that higher levels of self-compassion are associated with lower scores of public speaking anxiety. On the other hand, the higher the anxiety in public speaking, the lower the self- compassion in students. The results of this study also found that students who are busy with social activities can reduce the risk of anxiety in public speaking. ABSTRAK Kecemasan dalam public speaking sering kali dialami oleh orang dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun. Di sisi lain, self-compassion dianggap sebagai bentuk pertahanan untuk meredakan kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara self-compassion dengan kecemasan dalam public speaking pada mahasiswa S1. Metode yang digunakan adalah kuantitatif non eksperimen dengan pendekatan korelasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan akhirnya didapatkan 396 responden mahasiswa berusia 18–25 tahun. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner menggunakan Google Form kepada mahasiswa yang pernah memiliki pengalaman public speaking dalam 1 tahun. Adapun uji korelasi yang digunakan adalah uji nonparametrik Spearman Rank. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif antara self-compassion dengan kecemasan dalam public speaking pada mahasiswa S1, dibuktikan dengan nilai sig. <0,001 (sig. < 0,05). Korelasi yang bernilai negatif (-0,447) dapat diartikan semakin tinggi self-compassion, maka hal tersebut akan menurunkan skor kecemasan dalam public speaking. Sebaliknya semakin tinggi kecemasan dalam public speaking maka semakin rendah self-compassion pada mahasiswa. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki kesibukan/ kegiatan sosial lebih dapat menurunkan risiko kecemasan dalam public speaking.
HUBUNGAN PENGABAIAN DARI AYAH DENGAN FEAR OF INTIMACY PADA HUBUNGAN ROMANTIS PEREMPUAN DEWASA AWAL Latupono, Sania Alikha Rahmadira; Tiatri, Sri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8196

Abstract

ABSTRACT Early adulthood is a developmental stage marked by the formation of more stable romantic relationships; however, many young women continue to experience discomfort with emotional closeness, known as fear of intimacy. One contributing factor to this condition may be experiences of paternal neglect. This study aims to examine the relationship between paternal neglect and fear of intimacy among early adult women. The research method used in this study is a non-experimental quantitative approach. A total of 136 participants aged 18 to 25 took part in an online survey using purposive sampling. The instruments used were the Multidimensional Neglectful Behavior Scale, Form AS: Adolescent and Adult-Recall, Short Version and the Fear of Intimacy Scale. Data were analyzed using Spearman’s rho correlation and the Kruskal-Wallis test. The results showed a positive and significant relationship between paternal neglect and fear of intimacy (r = .652, p < .001), indicating that higher levels of paternal neglect are associated with higher levels of fear of intimacy. Additionally, romantic relationship status did not significantly differentiate either variable. These findings highlight the crucial role of fathers in emotional and attachment development and demonstrate that experiences of neglect may have long-term effects on young women's ability to form secure intimate relationships. ABSTRAK Dewasa awal merupakan fase ketika individu mulai membentuk hubungan romantis yang lebih stabil, namun sebagian perempuan masih mengalami ketidaknyamanan terhadap kedekatan emosional atau fear of intimacy. Salah satu faktor yang berpotensi mempengaruhi kondisi tersebut adalah pengalaman pengabaian dari ayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengabaian dari ayah dan fear of intimacy pada perempuan dewasa awal. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif non-eksperimental. Sebanyak 136 partisipan berusia 18 sampai dengan 25 tahun mengikuti penelitian ini melalui pengisian kuesioner daring menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Multidimensional Neglectful Behavior Scale, Form AS: Adolescent and Adult-Recall, Short Version dan Fear of Intimacy Scale. Data dianalisis menggunakan korelasi Spearman’s rho dan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara pengabaian dari ayah dan fear of intimacy (r = .652, p < .001), yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat pengabaian dari Ayah, semakin tinggi pula fear of intimacy pada partisipan. Sementara itu, status hubungan romantis tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada kedua variabel. Temuan ini menegaskan pentingnya peran Ayah dalam perkembangan emosional dan kelekatan, serta menunjukkan bahwa pengalaman pengabaian memiliki dampak jangka panjang terhadap kemampuan perempuan dewasa awal dalam membangun hubungan intim yang aman.
HUBUNGAN ATTACHMENT DAN LONELINESS PADA MAHASISWA LDRR: ANALISIS BERDASARKAN VARIASI JARAK FISIK Ramadhan, Asya Afifa Putri; Wibowo, Astri Anggraini Hapsara; Roswiyani, Roswiyani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8197

Abstract

ABSTRACT Long-distance romantic relationships (LDRR) are becoming increasingly common among students and often cause emotional challenges due to limited face-to-face interaction. This study aims to examine the relationship between attachment (anxiety & avoidance) and loneliness in students who are in LDRR. This study used a quantitative method with a correlational design and involved 406 students in Indonesia aged 18-25 years who had been in an LDRR for at least 3 months. Data were collected through an electronic questionnaire containing the Experiences in Close Relationship-Revised (ECR-R) scale and the Social and Emotional Loneliness Scale for Adults-Short Version (SELSA-S) with a Likert scale. The results showed a significant positive correlation between attachment and loneliness (r? (406) = 0.526, p < 0.05), where attachment tendencies were associated with higher levels of loneliness. In addition, a Kruskal-Wallis test was conducted on the physical distance category, and the results showed variations in the mean rank of attachment and loneliness in different distance categories. The very far distance category (>1000 km) had a mean rank score of 223.02 for attachment and 222.25 for loneliness. The minimal category (80 km) showed a mean rank score of 211.16 for attachment and 225.16 for loneliness. These findings indicate that physical distance can exacerbate emotional challenges in LDRR, particularly in individuals with insecure attachment. ABSTRAK Hubungan romantis jarak jauh atau long-distance romantic relationship (LDRR) menjadi fenomena yang semakin umum di kalangan mahasiswa dan kerap memicu tantangan emosional akibat adanya keterbatasan interaksi tatap muka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara attachment (anxiety & avoidance) dengan loneliness pada mahasiswa yang menjalani LDRR. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan 406 mahasiswa di Indonesia, berusia 18-25 tahun yang menjalin LDRR selama minimal 3 bulan. Data dikumpulkan melalui kuesioner elektronik yang memuat skala Experiences in Close Relationship-Revised (ECR-R) serta Social and Emotional Loneliness Scale for Adults-Short Version (SELSA-S) dengan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara attachment dan loneliness (r? (406) = 0.526, p < 0.05), di mana kecenderungan attachment berhubungan dengan tingginya tingkat loneliness. Selain itu, uji beda Kruskal-Wallis dilakukan pada kategori jarak fisik, hasil menunjukkan adanya variasi mean rank attachment dan loneliness pada kategori jarak yang berbeda. Kategori jarak sangat jauh (>1000 km) dengan skor mean rank 223.02 pada attachment dan 222.25 pada loneliness. Kategori minimal (80 km) menunjukkan skor mean rank 211.16 pada attachment dan 225.16 pada loneliness. Temuan ini menunjukkan bahwa jarak fisik dapat memperkuat tantangan emosional dalam LDRR, khususnya pada individu dengan insecure attachment.
TRADISI CHENG BENG DAN IMPLIKASINYA DALAM PERSPEKTIF PSIKIATRI BUDAYA Aditya, Mikael; Lesmana, Cokorda Bagus Jaya; Ariani, Ni Ketut Putri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8212

Abstract

ABSTRACT Cheng Beng tradition is an ancestral ritual performed by the Chinese community, aiming to maintain a spiritual connection with ancestors and preserve cultural values and Chinese ethnic identity. The background of this tradition is rooted in the importance of honoring ancestors in Chinese culture, which is carried out through rituals such as prayers, grave cleaning, and offering sacrifices. This study aims to analyze the psychological and social significance of the Cheng Beng tradition and its implications from a cultural psychiatry perspective. The research method employed is a literature review, examining various sources related to the Cheng Beng tradition, symbolism theory, and psychological motivation in cultural practices. The research stages involve collecting data from journals, books, and related articles, which are analyzed to understand the psychological, social, and spiritual aspects embedded in this tradition. The findings suggest that the Cheng Beng tradition strengthens cultural identity, enhances family solidarity, and fulfills spiritual and emotional needs. The Cheng Beng tradition is not merely a cultural ritual but also a practice with profound meaning in the lives of the Chinese community, serving as a form of ancestor veneration as well as a mechanism for maintaining mental health and strengthening family relationships. From the perspective of cultural psychiatry, this tradition functions as a symbolic space that helps individuals and families maintain psychological balance and ensure the continuity of cultural values across generations. ABSTRAK Tradisi Cheng Beng adalah ritual penghormatan leluhur yang telah lama dilaksanakan oleh masyarakat Tionghoa, yang bertujuan untuk menjaga hubungan spiritual dengan leluhur serta melestarikan nilai-nilai budaya dan menjadi identitas etnis Tionghoa. Latar belakang dari tradisi ini terkait dengan pentingnya menghormati leluhur dalam budaya Tionghoa, yang dilakukan melalui ritual sembahyang, pembersihan makam, dan pemberian persembahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna psikologis dan sosial dari tradisi Cheng Beng, serta implikasinya dalam perspektif psikiatri budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review yang mengkaji berbagai sumber mengenai tradisi Cheng Beng, teori simbolisme, dan motivasi psikologis dalam praktik budaya. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data dari jurnal, buku, dan artikel terkait, yang dianalisis untuk memahami aspek psikologis, sosial, dan spiritual yang terkandung dalam tradisi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Cheng Beng berfungsi untuk memperkuat identitas budaya, meningkatkan solidaritas keluarga, dan memenuhi kebutuhan spiritual serta emosional. Tradisi Cheng Beng tidak hanya sekadar ritual budaya, tetapi juga merupakan praktik yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Tionghoa sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus mekanisme pemeliharaan kesehatan mental dan penguatan relasi keluarga. Dalam perspektif psikiatri budaya, tradisi ini berperan sebagai ruang simbolik yang membantu individu dan keluarga menjaga keseimbangan psikologis serta kesinambungan nilai-nilai budaya lintas generasi.