cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 364 Documents
GANGGUAN BAHASA PSIKOGENIK KING ALOY PADA CANAL YOUTUBE VINDES: KAJIAN PSIKOLINGUISTIK Khanifah, Salsabyla Nurul; Suroso, Eko
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8338

Abstract

This study aims to identify and analyze the types of psychogenic disorders experienced by King Aloy in the YouTube video titled “Aloy Gak Mood Vincent Desta Hesti Enzy Sembah Aloy Supaya Mau Syuting” (Aloy is not in the mood, Vincent Desta Hesti Enzy begs Aloy to film). The method used was qualitative with data collection techniques of observation and note-taking, namely by observing King Aloy's conversations and body movements throughout the video. Based on the results of the analysis, five types of psychogenic tics were found, namely echolalia, echopraxia, coprolalia, autoecolalia, and automatic obedience. The symptom of echolalia was evident when King Aloy repeated words spoken by others, such as “best moment.” Echopraxia appeared when he imitated Desta's bowing gesture. Coprolalia was evident in his spontaneous exclamation of ‘goblok’ (stupid) when he was surprised. Autoecholalia was seen when he repeated his own words, such as “lah, lah” and “padel, padel.” Meanwhile, automatic obedience is seen when he raises his eyebrows or imitates the “Opa Gangnam Style” movement after being commanded or provoked verbally. The results of the study show that King Aloy's echolalia behavior often experiences psychogenic echolalia, namely autoecolalia. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis jenis-jenis gangguan psikogenik latah yang dialami oleh King Aloy dalam tayangan YouTube Vindes berjudul “Aloy Gak Mood Vincent Desta Hesti Enzy Sembah Aloy Supaya Mau Syuting”. Metode yang digunakan ialah kualitatif dengan teknik pengumpulan data simak dan catat, yaitu dengan menyimak percakapan dan gerak tubuh King Aloy selama video berlangsung. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan lima jenis gangguan psikogenik latah, yaitu Ekolalia, Ekopraksia, koprolalia, autoEkolalia, dan automatic obedience. Gejala Ekolalia tampak ketika King Aloy mengulang kata yang diucapkan orang lain, seperti “best moment”. Ekopraksia muncul saat ia menirukan gerakan Desta yang membungkuk. Koprolalia tampak dari ucapan spontan “goblok” ketika terkejut. AutoEkolalia terlihat ketika ia mengulang kata-katanya sendiri seperti “lah, lah” dan “padel, padel”. Sedangkan automatic obedience terlihat ketika ia menaikkan alis atau menirukan gerakan “Opa Gangnam Style” setelah diperintah atau dipancing secara verbal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku latah King Aloy sering mengalami gangguan psikogenik lata yaitu autoEkolalia.
BODY DISSATISFACTION DAN SELF-ESTEEM: STUDI KORELASIONAL PADA PEREMPUAN EMERGING ADULTHOOD Andriona, Joan; Heng, Pamela Hendra; Uranus, Hanna Christina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8405

Abstract

ABSTRACT The increasing phenomenon of body dissatisfaction among women in emerging adulthood is often associated with the development of self-esteem. Body dissatisfaction is defined as a negative perception of body shape or size, accompanied by feelings of discomfort and dissatisfaction with physical appearance, whereas self-esteem refers to an individual’s overall evaluation of self-worth and self-acceptance. This study aimed to examine the relationship between body dissatisfaction and self-esteem levels among women in emerging adulthood. A quantitative correlational approach was employed, involving 338 female participants aged 18–25 years who were selected using purposive sampling. Data were collected using the Body Shape Questionnaire (BSQ-34) and the Indonesian-adapted version of the Rosenberg Self-Esteem Scale. The results indicated a significant negative relationship between body dissatisfaction and self-esteem (r = ?0.496). Additional analyses revealed significant differences in body dissatisfaction and self-esteem based on body mass index (BMI) categories, with the majority of participants falling within the moderate level for both variables. These findings highlight the importance of a healthy and positive body perception in supporting the development of adaptive self-esteem among women in emerging adulthood. Future research is recommended to include other psychological variables or moderating factors to obtain a more comprehensive understanding of the determinants of self-esteem. ABSTRAK Fenomena meningkatnya ketidakpuasan tubuh (body dissatisfaction) pada perempuan usia emerging adulthood kerap dikaitkan dengan pembentukan harga diri (self-esteem). Body dissatisfaction dipahami sebagai persepsi negatif terhadap bentuk atau ukuran tubuh yang disertai rasa tidak nyaman dan ketidakpuasan terhadap penampilan fisik, sedangkan self-esteem merujuk pada penilaian individu terhadap nilai serta penerimaan diri secara keseluruhan. Studi ini bertujuan untuk menguji hubungan antara body dissatisfaction dan tingkat self-esteem pada perempuan emerging adulthood. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan dengan melibatkan 338 partisipan perempuan berusia 18–25 tahun yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen Body Shape Questionnaire (BSQ-34) dan Rosenberg Self-Esteem Scale dalam adaptasi Bahasa Indonesia. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara body dissatisfaction dan self-esteem (r = -0.496). Analisis tambahan juga menemukan perbedaan signifikan body dissatisfaction dan self-esteem berdasarkan kategori indeks massa tubuh (BMI), dengan mayoritas partisipan berada pada kategori tingkat sedang untuk kedua variabel. Temuan ini menegaskan pentingnya persepsi tubuh yang sehat dan positif dalam mendukung pembentukan self-esteem yang adaptif pada perempuan emerging adulthood. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan variabel psikologis lain atau faktor moderator guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai determinan self-esteem.
PSIKOEDUKASI REGULASI EMOSI UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA SISWA SMK X Anggraeni, Nadya Ferdhita; Sholichah, Ima Fitri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8449

Abstract

Emotional intelligence is a crucial competency for vocational high school students in managing academic demands, social interactions, and preparation for entering the workforce. Preliminary findings indicate that many students experience difficulties in recognizing, understanding, and regulating their emotions adaptively. This program aimed to enhance students’ emotional intelligence through emotion regulation psychoeducation delivered in three structured sessions, including emotional awareness, identification of emotional triggers and calming strategies, and management of negative thoughts and emotional responses. The program was implemented at SMK X and involved 31 eleventh-grade TKR students using an educational and participatory approach through learning modules, self-reflection, group discussions, and emotional skill exercises. Program effectiveness was evaluated using a pre-test and post-test design with an emotional intelligence assessment instrument. The results demonstrated an increase in the mean emotional intelligence score from 92.6 prior to the intervention to 101.8 following the intervention. N-Gain Score analysis revealed that most participants showed low to moderate improvement, while a small proportion achieved high improvement. Overall, emotion regulation psychoeducation positively contributed to students’ ability to recognize emotions, understand emotional triggers, and apply more constructive emotional management strategies. These findings suggest that psychoeducational interventions can serve as a practical preventive approach to fostering emotional intelligence and supporting a more adaptive, positive, and supportive school environment. ABSTRAKKecerdasan emosional merupakan kompetensi esensial bagi peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam menghadapi tuntutan akademik, interaksi sosial, dan kesiapan memasuki dunia kerja. Temuan awal menunjukkan bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam mengenali, memahami, dan mengelola emosi secara adaptif. Program ini bertujuan meningkatkan kecerdasan emosional siswa melalui psikoedukasi regulasi emosi yang disusun dalam tiga sesi bertahap, meliputi pengenalan emosi, identifikasi pemicu serta strategi penenangan diri, dan pengelolaan pikiran serta respons emosional negatif. Kegiatan dilaksanakan di SMK X dengan melibatkan 31 siswa kelas XI TKR menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif melalui modul pembelajaran, refleksi diri, diskusi kelompok, dan latihan keterampilan emosional. Evaluasi efektivitas program dilakukan menggunakan desain pre-test dan post-test dengan instrumen kecerdasan emosional. Hasil menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata kecerdasan emosional dari 92,6 sebelum intervensi menjadi 101,8 setelah intervensi. Analisis N-Gain Score mengindikasikan bahwa sebagian besar peserta mengalami peningkatan pada kategori rendah hingga sedang, sementara sebagian kecil mencapai kategori tinggi. Secara keseluruhan, psikoedukasi regulasi emosi berkontribusi positif dalam meningkatkan kemampuan siswa mengenali emosi, memahami pemicu, serta menerapkan strategi pengelolaan emosi secara lebih konstruktif. Program ini berpotensi menjadi intervensi preventif yang aplikatif untuk mendukung perkembangan sosial-emosional siswa dan menciptakan iklim sekolah yang lebih adaptif dan kondusif.
PENGARUH KECEMASAN SOSIAL TERHADAP IMPOSTOR SYNDROME PADA REMAJA AKHIR Adithio, Matthew Joe; Agustina, Agustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8476

Abstract

ABSTRACT Social anxiety and impostor syndrome are significant psychological challenges in late adolescence, especially among high school students, where academic demands, social pressures, and the dynamics of identity formation can trigger feelings of inadequacy and fear of failure. The gap between objective achievements and self-evaluation due to impostor syndrome is the main focus of this study, which aims to examine the significance of the role and contribution of social anxiety in predicting impostor syndrome. This study uses a correlational quantitative research design involving 231 high school students categorized as late adolescents, selected using purposive sampling. Data collection was conducted using the Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) and Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS) instruments, then analyzed using simple linear regression. The results of the analysis showed that the regression model was significant with an F (1,229) value of 145.00 and p < 0.001. The correlation coefficient (R) value of 0.623 indicated a strong relationship between the two variables in the model. The coefficient of determination (R²) value of 0.388 indicates that social anxiety contributes 38.8% to the variation in impostor syndrome in late adolescents, while the rest is influenced by other factors. In conclusion, the higher the level of social anxiety experienced, the more vulnerable late adolescents are to experiencing impostor syndrome. ABSTRAK Kecemasan sosial dan impostor syndrome merupakan tantangan psikologis yang signifikan di fase remaja akhir, terutama siswa Sekolah Menengah Atas, di mana tuntutan akademik, tekanan dari lingkungan sosial, dan dinamika pembentukan identitas diri dapat memicu perasaan tidak layak serta ketakutan akan kegagalan. Kesenjangan antara pencapaian objektif dan penilaian diri yang rendah akibat impostor syndrome inilah yang menjadi fokus utama penelitian, sehingga studi ini bertujuan untuk menguji signifikansi peran dan besarnya kontribusi Kecemasan sosial dalam memprediksi impostor syndrome. Studi ini menggunakan desain penelitian kuantitatif korelasional dengan melibatkan 231 siswa SMA yang dikategorikan sebagai remaja akhir, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) dan Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil analisis menunjukkan bahwa model regresi signifikan dengan nilai F(1,229) = 145.00 dan p < 0.001. Nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0.623 menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara kedua variabel dalam model. Secara definitif, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0.388 mengindikasikan bahwa Kecemasan sosial memberikan kontribusi sebesar 38.8% terhadap variasi impostor syndrome pada remaja akhir, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Simpulannya, semakin tinggi tingkat kecemasan sosial yang dialami, semakin rentan remaja akhir menunjukkan gejala impostor syndrome. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pentingnya pengembangan intervensi preventif yang menargetkan pengelolaan kecemasan sosial di lingkungan sekolah untuk mendukung kesehatan mental dan kepercayaan diri remaja.
JENIS KELAMIN SEBAGAI MODERASI DALAM HUBUNGAN KECEMASAN SOSIAL DAN INAUTHENTIC SELF PRESENTATION PADA REMAJA PENGGUNA INSTAGRAM Oktavia Sutarman, Merryn; Agustina , Agustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8520

Abstract

Instagram is frequently used by adolescents as a platform to present themselves and gain social recognition. Inauthentic self-presentation has become a common strategy to construct a positive self-image and avoid negative judgment. This study aims to examine the relationship between social anxiety and inauthentic self-presentation among adolescent Instagram users, as well as to investigate the moderating role of gender. A quantitative correlational method was employed with purposive sampling. The participants consisted of 200 adolescents (97 males and 103 females) who owned Instagram accounts and had uploaded personal content. The instruments used were the Social Anxiety Scale for Social Media Users (SAS-MU) and the Self-Presentation on Facebook Questionnaire (SPFBQ). The results of the correlation analysis indicated a significant positive relationship between social anxiety and inauthentic self-presentation (r = 0.353, p < 0.05). However, the moderation regression analysis revealed that gender did not moderate this relationship (B = 0.089, p = 0.199). In conclusion, higher levels of social anxiety are associated with greater tendencies toward inauthentic self-presentation among adolescents, regardless of gender. ABSTRAK Instagram kerap digunakan remaja sebagai sarana menampilkan diri untuk memperoleh pengakuan sosial. Strategi inauthentic self-presentation pun menjadi umum dalam membentuk citra diri positif dan menghindari penilaian negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecemasan sosial dan inauthentic self-presentation pada remaja pengguna Instagram, serta menguji peran jenis kelamin sebagai variabel moderator. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling. Partisipan berjumlah 200 remaja (97 laki-laki dan 103 perempuan) yang memiliki akun Instagram dan pernah mengunggah konten tentang diri sendiri. Instrumen yang digunakan adalah Social Anxiety Scale for Social Media Users (SAS-MU) dan Self-Presentation on Facebook Questionnaire (SPFBQ). Hasil analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kecemasan sosial dan inauthentic self-presentation (r = 0.353, p < 0.05). Namun, hasil analisis regresi moderasi menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak memoderasi hubungan tersebut (B = 0.089, p = 0.199). Kesimpulannya, semakin tinggi kecemasan sosial, semakin tinggi kecenderungan remaja menampilkan diri secara tidak autentik, tanpa perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan.
HUBUNGAN ANTARA BODY IMAGE DAN PERILAKU KONSUMTIF BERBELANJA PRODUK MAKEUP PADA DEWASA MUDA Ayu Karimatu Zakiyah, Raden; Hendra Heng, Pamela; Christina Uranus, Hanna
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8521

Abstract

Young adults are a group that is in an important stage of development and pays great attention to physical appearance as a form of self-identity and social acceptance. One way to improve physical appearance is through the use of makeup products. This phenomenon encourages consumptive behavior in the purchase of beauty products, which is driven not only by functional needs but also by psychological urges related to body image. Body image is a person's perception, attitude, and evaluation of their physical appearance, which can be positive or negative. This study aims to determine the relationship between body image and consumptive behavior in purchasing makeup products among young adults. The research method used was a quantitative correlational approach. There were 318 young adults aged 18-30 years who used makeup at least three times a week. Data collection was conducted using an online questionnaire based on the Multidimensional Body Self Relations Questionnaire – Appearance Scales (MBSRQ-AS) and a consumptive behavior scale. Data analysis was conducted using correlation tests to determine the relationship between the two variables. The results showed that there was a positive and significant relationship between body image and consumptive behavior in makeup shopping, indicating that the higher the body image score, the higher the tendency for consumptive behavior in purchasing makeup products. These findings indicate that psychological aspects related to body perception and assessment are associated with makeup consumption behavior among young adults. This study is expected to serve as a basis for evaluation in promoting wise consumption awareness and strengthening a healthy body image. ABSTRAK Dewasa muda merupakan kelompok yang berada pada fase perkembangan penting dan memiliki perhatian besar terhadap penampilan fisik sebagai bentuk pencapaian identitas diri serta penerimaan sosial. Salah satu upaya untuk meningkatkan penampilan fisik adalah melalui penggunaan produk makeup. Fenomena ini mendorong munculnya perilaku konsumtif dalam pembelian produk kecantikan, yang tidak hanya didorong oleh kebutuhan fungsional, tetapi juga oleh dorongan psikologis terkait body image. Body image merupakan persepsi, sikap, dan evaluasi seseorang terhadap penampilan tubuhnya, yang dapat bersifat positif maupun negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body image terhadap perilaku konsumtif berbelanja produk makeup pada dewasa muda. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan korelasional. Partisipan berjumlah 318 dewasa muda berusia 18-30 tahun yang menggunakan makeup minimal tiga kali dalam seminggu. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner online yang disusun berdasarkan skala Multidimensional Body Self Relations Questionnaire – Appearance Scales (MBSRQ-AS) dan skala perilaku konsumtif. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara body image dan perilaku konsumtif berbelanja makeup, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai body image, maka semakin tinggi pula kecenderungan perilaku konsumtif dalam pembelian produk makeup. Temuan ini mengindikasikan bahwa aspek psikologis terkait persepsi dan penilaian terhadap tubuh berkaitan dengan perilaku konsumsi produk makeup pada dewasa muda. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dalam meningkatkan kesadaran konsumsi yang bijak serta penguatan body image yang sehat.
HUBUNGAN RESILIENSI DENGAN KUALITAS PERSAHABATAN PADA EMERGING ADULTS DARI KELUARGA BERCERAI Elena Susanto, Jessica; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8707

Abstract

This quantitative study employed a non-experimental correlational design to examine the relationship between resilience and friendship quality among emerging adults from divorced families. Data were collected through online questionnaires distributed to participants who met specific demographic criteria. As the data were not normally distributed, the Spearman correlation test was used for analysis. The results revealed a significant positive relationship between resilience and friendship quality (p = 0.002; r = 0.281). Higher levels of resilience were associated with better friendship quality, although the strength of the correlation was relatively low. These findings underscore the importance of resilience as a protective factor that enables individuals from divorced families to build and maintain healthy social relationships during early adulthood. This study contributes empirical evidence to the psychological understanding of resilience's positive role in navigating the challenges of developmental transition ABSTRAK Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan korelasional non-eksperimental untuk menguji hubungan antara resiliensi dan kualitas pertemanan pada individu emerging adulthood yang berasal dari keluarga bercerai. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring kepada partisipan yang memenuhi kriteria demografis tertentu. Karena data tidak berdistribusi normal, analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara resiliensi dan kualitas pertemanan (p = 0.002; r = 0.281). Semakin tinggi tingkat resiliensi individu, semakin baik kualitas pertemanannya, meskipun kekuatan hubungan berada dalam kategori rendah. Temuan ini menegaskan pentingnya resiliensi sebagai faktor protektif yang memungkinkan individu dengan latar belakang keluarga bercerai membangun dan mempertahankan hubungan sosial yang sehat di masa dewasa awal. Studi ini memberikan kontribusi empiris terhadap pemahaman psikologis mengenai dampak positif resiliensi dalam konteks transisi perkembangan yang penuh tantangan.
HUBUNGAN MINDFULNESS IN COMMUNICATION DAN VOICE BEHAVIOR PADA KARYAWAN OPERASIONAL INDUSTRI FOOD & BEVERAGE DI JAKARTA Salvezza, Sheila; Subroto, Untung
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8708

Abstract

ABSTRACT Communication problems that frequently occur in the workplace can be addressed through mindfulness, particularly mindfulness in communication, which refers to an individual’s ability to be fully present, open, and to respond calmly during the communication process. One aspect of workplace behavior related to mindfulness in communication is voice behavior, defined as employees’ tendency to express ideas or suggestions aimed at encouraging organizational improvement or change. This study aimed to examine whether there is a relationship between mindfulness in communication and voice behavior among employees in the Food & Beverage (F&B) industry in Jakarta. This study employed a non-experimental quantitative approach using purposive sampling as the data collection technique. The instruments used were the Mindfulness in Communication Scale and the Voice Behavior Scale. A total of 246 participants were involved, consisting of employees who were currently or had previously worked as operational employees in the F&B industry in Jakarta, worked in team-based F&B companies rather than individual enterprises, and had a minimum of six months of work experience. The results of the analysis indicated that mindfulness in communication had a positive correlation with voice behavior. These results suggest that higher levels of mindfulness in communication are associated with higher levels of voice behavior among operational employees in the F&B industry in Jakarta. Based on these findings, organizations may develop programs focused on enhancing mindfulness in communication and voice behavior to support better communication and increase employee contributions within the organization. ABSTRAK Permasalahan komunikasi yang sering terjadi di tempat kerja dapat diatasi dengan mindfulness, khususnya mindfulness in communication yang merupakan kemampuan individu untuk hadir secara utuh, terbuka, serta merespons dengan tenang dalam proses komunikasi. Salah satu aspek perilaku di tempat kerja yang berkaitan dengan mindfulness in communication adalah voice behavior, yaitu kecenderungan karyawan untuk menyampaikan ide atau masukan yang bertujuan untuk mendorong perubahan atau perbaikan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara mindfulness in communication dan voice behavior pada karyawan industri Food & Beverage (F&B) di Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan teknik pengambilan data purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Mindfulness in Communication Scale dan Voice Behavior Scale. Partisipan berjumlah 246 karyawan dengan karakteristik sedang atau pernah bekerja sebagai karyawan operasional di industri F&B di Jakarta, bekerja di perusahaan F&B berbasis tim dan bukan usaha perseorangan, serta memiliki pengalaman kerja minimal enam bulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa mindfulness in communication memiliki korelasi positif dengan voice behavior. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa semakin tinggi tingkat mindfulness in communication, maka semakin tinggi pula tingkat voice behavior pada karyawan operasional di industri F&B di Jakarta. Berdasarkan hasil penelitian ini, perusahaan dapat mengembangkan program yang berfokus pada peningkatan mindfulness in communication dan voice behavior untuk mendukung komunikasi yang lebih baik dan meningkatkan kontribusi karyawan dalam organisasi.
HUBUNGAN CODEPENDENCY DENGAN LONELINESS PADA GEN-Z Sanjaya, Selvi; Ninawati, Ninawati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8969

Abstract

Codependent relationships are patterns in which individuals rely excessively on the needs and approval of others, to the point of neglecting their own personal needs. This condition can contribute to feelings of worthlessness, which in turn increases the risk of loneliness. loneliness is widely experienced by Generation Z, with more than half of its members reported feeling lonely across various social relationship contexts. This study aims to examine the relationship between codependency and loneliness among Generation Z. A quantitative approach with a correlational survey design was used. The participants consisted of 404 Generation Z individuals recruited through online sampling techniques. The instruments used were the Spann-Fischer Codependency Scale and the UCLA loneliness Scale Version 3, both of which had been adapted into Indonesian. Data were analyzed using Pearson’s Product-Moment Correlation. The results showed a significant positive relationship between codependency and loneliness among Generation Z (r = 0.503; p < 0.05). These findings indicate that the higher an individual's level of codependency, the higher their level of loneliness. ABSTRAK Codependent relationship merupakan pola hubungan ketika individu secara berlebihan bergantung pada kebutuhan dan persetujuan orang lain, sehingga mengabaikan kebutuhan personalnya sendiri. Kondisi ini dapat berkontribusi pada munculnya perasaan tidak berharga yang kemudian meningkatkan risiko loneliness. Fenomena loneliness banyak dialami oleh Generasi Z, dengan lebih dari setengah anggotanya dilaporkan merasakan kesepian dalam berbagai konteks hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara codependency dengan loneliness pada Generasi Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei korelasional. Partisipan berjumlah 404 orang Generasi Z yang diperoleh melalui teknik sampling daring. Instrumen yang digunakan yaitu Spann-Fischer Codependency Scale dan UCLA loneliness Scale Version 3 yang telah diadaptasi ke bahasa Indonesia. Teknik analisis data yang digunakan adalah Pearson Product-Moment Correlation. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara codependency dengan loneliness pada Generasi Z (r = 0,503; p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat codependency individu, semakin tinggi pula tingkat loneliness yang dialaminya.  
HUBUNGAN REGULASI EMOSI DENGAN STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA DALAM PROSES PENYUSUNAN TUGAS AKHIR Angela, Fiona Ria; Murti, Heru Astikasari Setya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8970

Abstract

Academic stress is a prevalent issue among university students, with prevalence rates in Indonesian ranging from 36.7% to 71.6%. This study aims to examine the relationship between emotion regulation and academic stress levels among students at Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) during the undergraduate thesis writing process. This study employed a quantitative non-experimental method with a correlational design, involving 200 students recruited via snowball sampling technique. Emotion regulation was measured using the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), while academic stress was measured using the Perception of Academic Stress Scale (PASS). The results indicated a significant but very weak positive relationship between emotion regulation and academic stress (r = 0.178; p = 0.012; R² = 0.032). This suggests that emotion regulation accounts for only 3.2% of the variance in academic stress, implying that other factors play a more dominant role. These findings indicate that in the context of thesis writing, emotion regulation alone is insufficient to serve as an effective stress buffer. Therefore, psychological interventions should not solely focus on emotion regulation but also on reducing the stressors themselves, for instance, through improving supervision quality and enhancing task management processes. ABSTRAK Stres akademik merupakan persoalan umum yang sering dialami oleh mahasiswa, dengan angka prevalensi mencapai 36,7% - 71,6% di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menguji bagaimana hubungan antara regulasi emosi dan tingkat stres akademik pada mahasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dalam proses penyusunan tugas akhir. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional, melibatkan 200 mahasiswa yang dikumpulkan menggunakan teknik snowball sampling. Pengukuran variabel regulasi peneliti menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) sedangkan stres akademik diukur menggunakan Perception of Academic Stress Scale (PASS). Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan positif yang signifikan, namun sangat lemah antara regulasi emosi dan stres akademik (r = 0,178; p = 0,012; R² = 0,032). Hal tersebut menunjukan bahwa regulasi emosi hanya memberikan sumbangan efektif sebesar 3,2% terhadap tingkat stres akademik, sementara faktor lain memiliki peran yang lebih dominan. Temuan ini mengindikasikan bahwa dalam situasi penyusunan tugas akhir, regulasi emosi semata tidak berpengaruh besar sebagai peredam stres. Oleh karena itu intervensi secara psikologis alangkah lebih baik tidak hanya berfokus pada regulasi emosi, tetapi juga pada pengurangan sumber stresor, misalnya melalui peningkatan pada kualitas bimbingan serta proses manajemen tugas yang lebih baik.