cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 364 Documents
ASPEK PSIKIATRI DALAM UPACARA MEGEDONG-GEDONGAN Saraswati, G. A. Ade Cahayani; Lesmana, Cokorda Bagus Jaya; Ariani, Ni Ketut Putri; Aryani, Luh Nyoman Alit
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8213

Abstract

ABSTRACT Pregnancy is a period of biological, psychological, and social transition that increases women’s vulnerability to mental health disorders, particularly perinatal anxiety and depression. Although various biomedical approaches have been developed, they have not fully addressed the psychosocial and cultural aspects influencing maternal well-being. In Balinese culture, the Megedong-gedongan (Garbha Wedana) ceremony is a pregnancy ritual rich in spiritual and social meaning and involves family and community participation. The purpose of this article is to examine the role of the Megedong-gedongan ceremony on maternal mental health from a cultural psychiatry perspective. The method used is a literature study with a descriptive qualitative approach through a search of scientific journal articles, reference books, and policy documents related to perinatal mental health and cultural practices of pregnancy published between 2016 and 2025. The research stages include identification and selection of literature, critical review of content, grouping themes, and synthesis and interpretation of results within a cultural psychiatry framework. The results indicate that the Megedong-gedongan ceremony acts as a form of social support that includes emotional, informational, and practical support, which has the potential to reduce stress and anxiety levels in pregnant women and increase psychological readiness for childbirth. This study affirms that Megedong-gedongan constitutes a relevant socio-cultural capital for promoting the mental health of pregnant women and has the potential to be integrated into culturally sensitive maternal healthcare approaches. ABSTRAK Kehamilan merupakan masa transisi biologis, psikologis, dan sosial yang meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, khususnya kecemasan dan depresi perinatal. Meskipun pendekatan biomedis telah dikembangkan, aspek psikososial dan budaya belum sepenuhnya terakomodasi. Dalam budaya Bali, upacara Megedong-gedongan (Garbha Wedana) merupakan ritual kehamilan bermakna spiritual dan sosial yang melibatkan keluarga serta komunitas. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengkaji peran upacara Megedong-gedongan terhadap kesehatan mental ibu hamil dari perspektif psikiatri budaya. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui penelusuran artikel jurnal ilmiah, buku rujukan, dan dokumen kebijakan terkait kesehatan mental perinatal dan praktik budaya kehamilan yang terbit dalam rentang tahun 2016–2025. Tahapan penelitian meliputi identifikasi dan seleksi literatur, telaah kritis isi, pengelompokan tema, serta sintesis dan pemaknaan hasil dalam kerangka psikiatri budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa upacara Megedong-gedongan berperan sebagai bentuk dukungan sosial yang mencakup dukungan emosional, informasional, dan praktis, yang berpotensi menurunkan tingkat stres dan kecemasan ibu hamil serta meningkatkan kesiapan psikologis menghadapi persalinan. Penelitian ini menegaskan bahwa Megedong-gedongan merupakan modal sosial-budaya yang relevan untuk promosi kesehatan mental ibu hamil dan berpotensi diintegrasikan dalam pendekatan layanan kesehatan maternal yang sensitif budaya.
GANGGGUAN DEPRESIF ORGANIK PADA WANITA DENGAN KEGANASAN GINEKOLOGI STADIUM LANJUT: SEBUAH SERIAL KASUS Silaen, Rebecca Mutia Agustina; Darmayasa, I Made; Ariani, Ni Ketut Putri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8214

Abstract

ABSTRACT Cervical and ovarian cancers often give rise to significant psychological impacts, including depressive disorders. In certain conditions, depression emerges as a direct consequence of biological changes resulting from the underlying physical illness. This case series report describes two female patients diagnosed with advanced-stage gynecological malignancies who met the criteria for organic depressive disorder, aiming to illustrate the clinical manifestations, diagnostic process, and management of organic depressive disorder in women with advanced gynecological malignancies. The study utilized data obtained through medical record review, clinical and ancillary examinations, as well as interviews with the patients and their families, which were subsequently analyzed descriptively and narratively. The research stages included case identification, assessment of depression severity using the Hamilton Depression Rating Scale, establishment of the diagnosis, and implementation of pharmacological and non-pharmacological palliative interventions. Both cases fulfilled the criteria for organic depressive disorder and were managed using a comprehensive palliative approach. It is concluded that organic depressive disorder  represents  an  important  complication  of advanced gynecological malignancies and requires holistic management to improve patients’ quality of life. ABSTRAK Kanker serviks dan ovarium sering menimbulkan dampak psikologis yang bermakna, termasuk gangguan depresif. Pada kondisi tertentu, depresi muncul sebagai akibat langsung dari perubahan biologis akibat penyakit fisik yang mendasari. Laporan kasus serial ini menjelaskan dua pasien wanita yang didiagnosis keganasan ginekologi stadium lanjut dan memenuhi kriteria gangguan depresif organik, yang bertujuan untuk menggambarkan manifestasi klinis, proses diagnosis, dan penatalaksanaan gangguan depresif organik pada wanita dengan keganasan ginekologi stadium lanjut, menggunakan data yang diperoleh melalui telaah rekam medis, pemeriksaan klinis dan penunjang, serta wawancara dengan pasien dan keluarga, kemudian dianalisis secara deskriptif dan naratif. Tahapan penelitian meliputi identifikasi kasus, penilaian derajat depresi menggunakan Hamilton Depression Rating Scale, penetapan diagnosis, serta pemberian intervensi paliatif farmakologis dan nonfarmakologis. Kedua kasus memenuhi kriteria gangguan depresif organik dan ditangani dengan pendekatan paliatif komprehensif. Disimpulkan bahwa gangguan depresif organik merupakan komplikasi penting pada keganasan ginekologi stadium lanjut yang memerlukan penatalaksanaan holistik untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
PENTINGNYA PEMAHAMAN ORANG TUA TERHADAP KESEHATAN MENTAL ANAK DI TENGAH KONFLIK KELUARGA Salsabila, Ghaniyya Putri; Achdiani, Yani; Nastia, Gina Indah Permata
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8215

Abstract

ABSTRACT This study examines the crucial role of parental understanding in maintaining children’s mental health amid increasing family conflicts caused by economic pressure, social factors, and cultural changes in Indonesia. The study aims to analyze the impact of family conflict on children’s mental health, including anxiety, depression, and other emotional disorders, as well as to explore the application of democratic parenting as a preventive strategy. A qualitative descriptive approach was employed through a literature review of 20 scientific articles published between 2020 and 2025, using thematic analysis to identify the main themes. The findings indicate that family conflict, such as divorce or unhealthy parenting practices, exacerbates children’s psychological conditions. Conversely, warm and balanced democratic parenting enhances parental awareness of children’s emotional needs. Legal and religious support further strengthens the effectiveness of such interventions. This study concludes that enhancing parental understanding through education and effective communication is a strategic step to prevent the long-term negative effects of family conflict on children’s psychological well-being. ABSTRAK Penelitian ini membahas peran penting pemahaman orang tua dalam menjaga kesehatan mental anak di tengah meningkatnya konflik keluarga yang disebabkan oleh tekanan ekonomi, faktor sosial, dan perubahan nilai budaya di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak konflik keluarga terhadap kesehatan mental anak yang meliputi kecemasan, depresi, dan gangguan emosional lainnya, serta menelaah penerapan pola asuh demokratis sebagai strategi pencegahan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui tinjauan literatur terhadap 20 artikel ilmiah yang diterbitkan pada periode 2020-2025, dengan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola utama. Hasil kajian menunjukkan bahwa konflik keluarga, seperti perceraian atau pola asuh yang tidak sehat, memperburuk kondisi psikologis anak. Sebaliknya, pola asuh demokratis yang hangat dan seimbang terbukti meningkatkan kesadaran orang tua terhadap kebutuhan emosional anak. Dukungan dari aspek hukum dan keagamaan juga memperkuat efektivitas intevensi tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan pemahaman orang tua melalui pendidikan dan komunikasi yang efektif merupakan langkah strategis untuk mencegah dampak jangka panjang konflik keluarga terhadap kesejahteraan psikologis anak.
PERAN MINDFULNESS TERHADAP STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR UNIVERSITAS X JAKARTA Vebiyan, Amanda Diva; Astuti, Niken Widi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8216

Abstract

ABSTRACT Final-year university students often face high levels of academic pressure due to thesis completion demands, complex coursework, and the transition toward entering the workforce. These pressures can trigger academic stress, which negatively impacts psychological well-being and learning performance. This study aims to analyze the role of mindfulness in reducing academic stress among final-year students at University X Jakarta and to identify gender differences in mindfulness and academic stress. Using a quantitative approach with a simple linear regression design, the study involved 410 final-year students aged 20–25. Data were collected online using the Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) and the Perceived Academic Stress Scale (PAS). The analysis included regression assumption tests, simple linear regression, and Independent Samples t-test. The findings indicate that mindfulness has a significant and negative effect on academic stress, with a coefficient of determination (R²) of 0.123, meaning that mindfulness contributes 12.3% to the reduction of academic stress. Additionally, gender differences were observed: male students demonstrated higher mindfulness levels and lower academic stress compared to female students. This study concludes that mindfulness serves as a protective factor in reducing academic stress, although most of the stress variance is influenced by factors beyond mindfulness. These findings highlight the importance of implementing mindfulness-enhancement programs in higher education as a strategy to support the mental well-being of final-year students. ABSTRAK Mahasiswa tingkat akhir sering menghadapi tekanan akademik yang tinggi akibat tuntutan penyelesaian skripsi, beban tugas kompleks, serta persiapan transisi menuju dunia kerja. Tekanan ini berpotensi memicu stres akademik yang berdampak pada kesejahteraan psikologis dan performa belajar. Penelitian ini menganalisis peran mindfulness dalam menurunkan tingkat stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas X Jakarta, serta mengidentifikasi perbedaan tingkat mindfulness dan stres akademik berdasarkan jenis kelamin. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain regresi linear sederhana yang melibatkan 410 mahasiswa tingkat akhir berusia 20–25 tahun. Data dikumpulkan secara daring menggunakan instrumen Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) dan Perceived Academic Stress Scale (PAS), kemudian dianalisis melalui uji asumsi regresi, regresi linear sederhana, dan Independent Samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mindfulness berpengaruh signifikan dan negatif terhadap stres akademik dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,123, yang berarti mindfulness berkontribusi 12,3% dalam menurunkan stres akademik. Selain itu, ditemukan perbedaan berdasarkan jenis kelamin, di mana mahasiswa laki-laki memiliki tingkat mindfulness lebih tinggi dan stres akademik lebih rendah dibandingkan mahasiswa perempuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mindfulness berperan sebagai faktor protektif dalam mengurangi stres akademik, namun sebagian besar varians stres dipengaruhi oleh faktor lain di luar mindfulness. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan program peningkatan mindfulness di perguruan tinggi sebagai strategi mendukung kesehatan mental mahasiswa tingkat akhir.
KEKUATAN KEPEDULIAN: DARI TINDAKAN ALTRUISTIK MENUJU PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA RELAWAN DEWASA AWAL Felicia Lie, Audrey; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8320

Abstract

This study aimed to examine the relationship between altruism and psychological well-being (PWB) among early adult volunteers. Altruism refers to the tendency to help others voluntarily, while PWB includes six core dimensions: self-acceptance, positive relations, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal growth. A total of 138 volunteers aged 20–40 years from Community X were selected using purposive sampling. Data were collected using the Self-Report Altruism Scale and the Indonesian-adapted version of the Ryff Psychological Well-Being Scale. Spearman's rho correlation was used due to non-normal data distribution. The results showed that most participants had moderate to high levels of altruism and PWB. However, altruism was not significantly associated with overall PWB (r = 0.041; p = 0.635), except for the autonomy dimension, which showed a significant positive correlation (r = 0.192; p = 0.024). These findings suggest that altruistic behavior does not necessarily enhance general psychological well-being but does contribute to a sense of independence in decision-making. This study expands the understanding of the dynamics between volunteering and well-being within a collectivist cultural context. Future research is recommended to explore potential mediators such as empathy and prosocial motivation, as well as to broaden the scope and sectors of volunteer activities. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara altruisme dan psychological well-being (PWB) pada volunteer dewasa awal. Altruisme adalah kecenderungan membantu secara sukarela, sedangkan PWB mencakup enam aspek utama: penerimaan diri, relasi positif, autonomy, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Sebanyak 138 volunteer berusia 20–40 tahun dari Komunitas X dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui Self-Report Altruism Scale dan Ryff Psychological Well-Being Scale versi Indonesia. Analisis Spearman's rho digunakan karena data tidak berdistribusi normal. Hasil menunjukkan sebagian besar partisipan memiliki tingkat altruisme dan PWB sedang hingga tinggi. Namun, altruisme tidak berhubungan signifikan dengan PWB secara keseluruhan (r = 0,041; p = 0,635), kecuali pada dimensi autonomy yang menunjukkan hubungan positif signifikan (r = 0,192; p = 0,024). Temuan ini mengindikasikan bahwa perilaku altruistik tidak serta merta meningkatkan kesejahteraan psikologis secara umum, tetapi berkontribusi pada aspek kemandirian dalam pengambilan keputusan. Studi ini memperluas pemahaman mengenai dinamika volunteering dan kesejahteraan dalam konteks budaya kolektivis. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi peran mediator seperti empati, motivasi prososial, serta memperluas konteks dan sektor kegiatan kerelawanan.
HUBUNGAN BODY IMAGE DENGAN SELF-PRESENTATION PADA DEWASA AWAL PENGGUNA INSTAGRAM Simon, Sevilla; Agustina, Agustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8321

Abstract

Instagram, as a visual-based social media platform, encourages users to present themselves attractively, often influenced by their perception of body image. This study aims to examine the relationship between body image and self-presentation among young adult Instagram users. A total of 263 participants aged 18–25 were selected through purposive sampling. The instruments used were the Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire (MBSRQ) to measure body image and the Presentation of Online Self Scale (POSS) to measure self-presentation. Data analysis using Spearman's correlation revealed a significant negative relationship between body image and self-presentation (? = –0.371, p < 0.001). This indicates that individuals with a more positive body image tend to engage less in intense and inauthentic self-presentation on social media. These findings suggest that a positive body perception plays an important role in shaping a more authentic digital self. The study highlights the importance of promoting healthy body image education to support more mindful and balanced use of social media among young adults. ABSTRAK Instagram sebagai media sosial visual mendorong penggunanya untuk menampilkan diri secara menarik, sering kali dipengaruhi oleh persepsi terhadap tubuh atau body image. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body image dan self-presentation pada dewasa awal pengguna Instagram. Sebanyak 263 partisipan berusia 18–25 tahun dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire (MBSRQ) untuk mengukur body image dan Presentation of Online Self Scale (POSS) untuk mengukur self-presentation. Analisis data menggunakan korelasi Spearman menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara body image dan self-presentation (? = –0.371, p < 0.001). Artinya, semakin positif body image individu, semakin rendah kecenderungan mereka menampilkan diri secara intens dan tidak autentik di media sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi positif terhadap tubuh berperan dalam membentuk representasi diri yang lebih autentik. Implikasi penelitian ini menggarisbawahi pentingnya edukasi terkait body image sehat untuk mendorong penggunaan media sosial yang lebih sadar dan seimbang.
PENGARUH STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR YANG MENYUSUN SKRIPSI DI UNIVERSITAS SWASTA DAN NEGERI Regina Halim, Angelina; Yunithree Suparman, Meiske
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8322

Abstract

This study found that the type of educational institution, whether public or private university, does not significantly affect the academic stress levels of final-year students completing their thesis. Although students from public universities had higher academic stress scores (59.2) compared to those from private universities (57.3), the linear regression test showed no statistically significant difference (R² = 0.00668; p = 0.189). The study involved 260 students who completed the Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) questionnaire to measure academic stress levels. The results indicate that other factors, such as resilience and social support, play a more dominant role in influencing academic stress. These findings highlight the importance of psychological support programs and stress management in educational institutions to assist students in coping with academic challenges during the final stages of their studies. ABSTRAK Penelitian ini menemukan bahwa jenis institusi pendidikan, baik universitas negeri maupun swasta, tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat stres akademik mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi. Meskipun mahasiswa dari universitas negeri menunjukkan skor stres akademik yang lebih tinggi (59,2) dibandingkan mahasiswa dari universitas swasta (57,3), hasil uji regresi linear menunjukkan bahwa perbedaan ini tidak signifikan secara statistik (R² = 0,00668; p = 0,189). Penelitian ini melibatkan 260 mahasiswa yang mengisi kuesioner Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) untuk mengukur tingkat stres akademik. Hasil menunjukkan bahwa faktor lain, seperti resiliensi dan dukungan sosial, lebih dominan dalam mempengaruhi stres akademik. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya program dukungan psikologis dan manajemen stres di institusi pendidikan untuk membantu mahasiswa menghadapi tantangan akademik pada tahap akhir studi.
KESADARAN PENGASUHAN DIGITAL, MENINGKATKAN EFISIENSI IBU BEKERJA: PERAN WORK–LIFE BALANCE DAN DIGITAL PARENTAL SELF EFFICACY DALAM PENGGUNAAN PERANGKAT DIGITAL ANAK Rizki Fauziah, Alia; Sri Handayani, Nita; Julianti, Annisa; Mardianti, Mardianti; Konradus, Natalia
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8324

Abstract

The rapid development of digital technology requires parents, especially working mothers, to possess awareness and the ability to manage technology use efficiently, while balancing professional and parenting roles. This study aims to examine the influence of work-life balance and digital parental self-efficacy on digital parental awareness, specifically in the subdimension of efficient technology use. A quantitative research approach with an online survey was conducted with 182 working mothers who have children aged 5–15 years and are actively using gadgets or the internet. The results show that work-life balance and digital parental self-efficacy have a positive and significant effect on digital parental awareness in the efficient use of technology (R² = 0.239, F = 28.151, p < 0.01). These findings reveal that 23.9% of the variance in efficient digital awareness can be explained by these two variables. A balance between work and personal life supports mothers' involvement in overseeing their children's technology use, while digital self-efficacy enhances their ability to manage technology in a safe and productive manner. This study underscores the importance of programs that enhance work-life balance and digital self-efficacy training for working mothers in the digital age. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital memerlukan orang tua, terutama ibu bekerja, untuk memiliki kesadaran dan kemampuan dalam mengelola penggunaan teknologi secara efisien, sambil menyeimbangkan peran profesional dan pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dan efikasi diri orang tua digital (digital parental self-efficacy) terhadap kesadaran orang tua digital, khususnya pada subdimensi penggunaan teknologi yang efisien (efficient use). Metode penelitian kuantitatif dengan survei daring melibatkan 182 ibu bekerja yang memiliki anak usia 5–15 tahun dan aktif menggunakan gawai atau internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan kehidupan kerja dan efikasi diri digital memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kesadaran digital orang tua dalam penggunaan teknologi yang efisien (R² = 0.239, F = 28.151, p < 0.01). Temuan ini mengungkapkan bahwa 23,9% variasi dalam kesadaran digital yang efisien dapat dijelaskan oleh kedua variabel tersebut. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi mendukung keterlibatan ibu dalam mengawasi penggunaan teknologi oleh anak, sementara efikasi diri digital meningkatkan kemampuan ibu dalam mengelola teknologi dengan cara yang aman dan produktif. Penelitian ini menegaskan pentingnya program yang dapat meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja dan pelatihan efikasi diri digital bagi ibu bekerja di era digital.
HUBUNGAN ANTARA SELF-CONFIDENCE DENGAN TINDAKAN ACADEMIC DISHONESTY PADA MAHASISWA PENGGUNA CHATGPT Viviana, Tasya; Kartasasmita, Sandi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8336

Abstract

This study aims to examine the relationship between self-confidence and academic dishonesty among university students who use ChatGPT. Amid the increasing use of Artificial Intelligence (AI) in academia, concerns have arisen regarding its potential misuse. Using a correlational quantitative approach, data were collected from 104 students through purposive sampling. Two standardized instruments were used to measure self-confidence and academic dishonesty. The results indicated that students had high levels of self-confidence and low tendencies toward academic dishonesty. A significant negative relationship was found between the two variables (r = -0.287, p = 0.003), particularly in the grades and studying dimensions. No gender differences were observed in self-confidence, but a significant difference was found in academic dishonesty between male and female students. This study offers important insights into the protective role of self-confidence against unethical behavior in AI usage and supports the need for implementing digital ethics policies in higher education. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara self-confidence dan academic dishonesty pada mahasiswa pengguna ChatGPT di perguruan tinggi. Di tengah meningkatnya pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam dunia akademik, muncul kekhawatiran terkait potensi penyalahgunaannya. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, data dikumpulkan dari 104 mahasiswa melalui teknik purposive sampling. Pengukuran dilakukan dengan dua skala terstandarisasi: skala self-confidence dan skala academic dishonesty. Hasil analisis menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki tingkat self-confidence yang tinggi dan kecenderungan academic dishonesty yang rendah. Terdapat hubungan negatif signifikan antara kedua variabel (r = -0.287, p = 0.003), terutama pada dimensi grades dan studying. Tidak ditemukan perbedaan self-confidence berdasarkan gender, namun terdapat perbedaan signifikan dalam academic dishonesty antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Studi ini memberikan kontribusi penting dalam memahami peran self-confidence sebagai faktor pelindung terhadap perilaku tidak etis dalam penggunaan AI, serta mendorong penerapan kebijakan etika digital dalam pendidikan tinggi.
GAMBARAN KESEPIAN PADA DEWASA AWAL PENGGUNA MEDIA SOSIAL Muliani, Agnes; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8337

Abstract

Loneliness is a subjective emotional experience commonly encountered during early adulthood, particularly amid the increasing use of social media as a means of social interaction. This study aims to describe the level of loneliness among early adult social media users. A quantitative approach with a descriptive cross-sectional design was employed. The participants consisted of 391 early adults aged 18–23 years who actively used social media for more than three hours per day, selected through purposive sampling. Data were collected online using the UCLA Loneliness Scale version 3, which has demonstrated good validity and reliability, and were analyzed descriptively. The results showed that the majority of participants experienced moderate loneliness (76.0%), followed by high loneliness (13.9%) and low loneliness (12.1%). Furthermore, no significant differences in loneliness levels were found based on gender, age, participant status, duration of social media use, or the type of social media platform used. These findings indicate that loneliness in early adulthood is a subjective psychological experience that is relatively evenly distributed among social media users, highlighting the importance of fulfilling emotional needs and the quality of social relationships during this developmental stage. ABSTRAK Kesepian merupakan pengalaman emosional subjektif yang umum dialami individu pada fase dewasa awal, khususnya di tengah meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sarana interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat kesepian pada individu dewasa awal pengguna media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif cross-sectional. Partisipan berjumlah 391 individu dewasa awal berusia 18–23 tahun yang aktif menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring dengan menggunakan UCLA Loneliness Scale versi 3 yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas partisipan berada pada kategori kesepian sedang (76,0%), diikuti kategori kesepian tinggi (13,9%) dan kesepian rendah (12,1%). Selain itu, tidak ditemukan perbedaan tingkat kesepian yang signifikan berdasarkan jenis kelamin, usia, status partisipan, durasi penggunaan, maupun platform media sosial yang digunakan. Temuan ini menunjukkan bahwa kesepian pada dewasa awal merupakan pengalaman psikologis yang bersifat subjektif dan relatif merata di kalangan pengguna media sosial, sehingga pemenuhan kualitas hubungan sosial tetap menjadi aspek penting dalam fase perkembangan ini.