cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 449 Documents
THE EFFECT OF SOCIAL SUPPORT ON THE PSYCHOLOGICAL WELL-BEING OF ADOLESCENTS IN ORPHANAGES Yuli Rahmawati; Nanik Kholifah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11391

Abstract

ABSTRACT Adolescents living in orphanages often experience limited parental affection, low emotional support, and difficulties in adapting to institutional caregiving environments, which may negatively affect their psychological well-being. This study aimed to examine the effect of social support on the psychological well-being of adolescents residing in orphanages. A quantitative correlational design was employed involving 120 adolescents aged 13–18 years as participants. Data were collected using validated and reliable scales measuring social support and psychological well-being. The data were analyzed using simple linear regression. The results indicated a significant positive relationship between social support and psychological well-being (r = 0.344; p = 0.000). Furthermore, social support contributed 11.8% to psychological well-being (R² = 0.118). These findings suggest that higher levels of social support are associated with better psychological well-being among adolescents in orphanages. Therefore, social support plays an important role in enhancing adolescents’ psychological well-being, highlighting the importance of fostering supportive social environments in orphanage settings. ABSTRAK Remaja yang tinggal di panti asuhan sering menghadapi keterbatasan kasih sayang orang tua, dukungan emosional yang kurang, serta tantangan dalam beradaptasi dengan lingkungan pengasuhan institusional. Kondisi tersebut dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan psikologis mereka, seperti munculnya perasaan kesepian, rasa tidak aman, rendahnya harga diri, serta kesulitan dalam menghadapi stres kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial terhadap kesejahteraan psikologis remaja yang tinggal di panti asuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 120 remaja berusia 13–18 tahun yang dipilih sebagai sampel penelitian. Data dikumpulkan menggunakan skala dukungan sosial dan skala kesejahteraan psikologis yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis (r = 0,344; p = 0,000). Selain itu, dukungan sosial memberikan kontribusi sebesar 11,8% terhadap kesejahteraan psikologis (R² = 0,118). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima remaja, maka semakin baik pula kesejahteraan psikologis mereka. Dengan demikian, dukungan sosial merupakan faktor penting dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis remaja di panti asuhan, sehingga lingkungan sosial yang suportif perlu terus dioptimalkan.
PERAN PERSEPSI DUKUNGAN ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN GENERASI Z Vena Theolina Hagnjasaraja; Sri Tiatri; Euginia Sharon Halim; Livia Renata Wibawa
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11547

Abstract

ABSTRACT In the digital era, Generation Z has increasingly entered and dominated the workforce, characterized by adaptability, dynamism, and a strong preference for workplace flexibility. These characteristics require organizations to adjust their human resource management strategies, particularly in providing support that can enhance employee performance. This study aims to examine the effect of perceived organizational support on the work performance of Generation Z employees. A quantitative approach with a correlational design was employed, involving 105 respondents consisting of interns, contract employees, and full-time employees. Data were collected through questionnaires and analyzed using hierarchical multiple linear regression with JASP software. The analysis procedures included assumption testing, model evaluation, and estimation of the influence of the independent variable on the dependent variable. The findings indicate that perceived organizational support has a positive and significant effect on the work performance of Generation Z employees. This suggests that employees who perceive greater organizational support tend to demonstrate better job performance. Therefore, organizations are encouraged to strengthen both emotional and instrumental forms of support in order to sustainably optimize the performance of Generation Z employees. ABSTRAK Pada era digital, Generasi Z mulai mendominasi dunia kerja dengan karakteristik yang adaptif, dinamis, serta cenderung mengutamakan fleksibilitas dalam bekerja. Kondisi ini menuntut organisasi untuk menyesuaikan strategi pengelolaan sumber daya manusia, khususnya dalam memberikan dukungan yang dapat meningkatkan kinerja karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh persepsi dukungan organisasi terhadap kinerja karyawan Generasi Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan 105 responden yang terdiri dari karyawan magang, kontrak, dan full time. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang kemudian dianalisis dengan teknik regresi linear berganda hierarkis melalui perangkat lunak JASP. Tahapan analisis meliputi uji asumsi, pengujian model, dan estimasi koefisien pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi dukungan organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan Generasi Z. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi dukungan organisasi yang dirasakan karyawan, semakin baik kinerja yang ditunjukkan dalam pekerjaan. Oleh karena itu, organisasi disarankan untuk meningkatkan bentuk dukungan, baik emosional maupun instrumental, guna mengoptimalkan kinerja karyawan Generasi Z secara berkelanjutan.
EKSPLORASI STRATEGI REGULASI EMOSI REMAJA MUSLIM MELALUI AKTIVITAS KEAGAMAAN DI MUSLIMEEN SUKSA SCHOOL: Pendidikan berlatar keagamaan Nokia Aisy; Nanik Kholifah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11627

Abstract

ABSTRACT Adolescents aged 13–16 years are in a complex developmental phase characterized by biological, cognitive, and social changes that often lead to academic and social pressures, particularly in religion-based educational environments that integrate academic demands with religious activities. This study aims to understand adolescents’ subjective experiences in regulating emotions when facing academic and social pressures in a religion-based educational institution. The study employed a qualitative descriptive approach using observation, in-depth interviews, and documentation techniques involving adolescents at Muslimmeen Suksa School, Southern Thailand. The data were analyzed using thematic analysis to identify emotional experiences and emotion regulation strategies used by students. The findings revealed that formal and nonformal religious activities, such as religious learning, Qur’an memorization, and routine worship, played an important role in reducing stress, improving self-control, and fostering emotional calmness among adolescents. The emotion regulation that developed was integrative in nature through the combination of spiritual strategies and nonreligious personal coping strategies. This study concludes that the integration of academic and religious education plays an important role in supporting the emotional balance of Muslim adolescents and can serve as a basis for developing educational and emotional assistance programs in integrated educational environments. ABSTRAK Remaja usia 13–16 tahun berada pada fase perkembangan yang kompleks dengan berbagai perubahan biologis, kognitif, dan sosial yang sering kali memunculkan tekanan akademik maupun sosial, terutama dalam lingkungan pendidikan berbasis agama yang memadukan tuntutan akademik dan aktivitas keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman subjektif remaja dalam meregulasi emosi ketika menghadapi tekanan akademik dan sosial di lembaga pendidikan berbasis agama. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap remaja di Muslimmeen Suksa School, Thailand Selatan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pengalaman emosional dan strategi regulasi emosi yang digunakan peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan formal dan nonformal, seperti pembelajaran agama, hafalan Al-Qur’an, dan ibadah rutin, berperan dalam membantu remaja mengurangi stres, meningkatkan kontrol diri, serta menciptakan ketenangan emosional. Regulasi emosi yang berkembang bersifat integratif melalui perpaduan strategi spiritual dan coping personal nonreligius. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi pendidikan akademik dan keagamaan memiliki peran penting dalam mendukung keseimbangan emosi remaja Muslim serta dapat menjadi dasar pengembangan program pendidikan dan pendampingan emosional di lingkungan pendidikan terpadu.
PENGARUH SOSIAL COMPARISON TERHADAP PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DI ERA MEDIA SOSIAL PADA GENERASI Z DI KOTA MEDAN Ferdi Danuarta Sitorus; Nenny Ika Putri Simarmata
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11630

Abstract

ABSTRACT The rapid development of social media has increased social comparison behavior among Generation Z, particularly through exposure to other people's achievements and lifestyles on digital platforms. This condition potentially affects the psychological well-being of adolescents and young adults. This study aimed to examine the influence of social comparison on the psychological well-being of Generation Z in Medan City. This research employed a quantitative approach using a simple linear regression method. The participants were Generation Z individuals aged 13–28 years who actively used social media. Data were collected using a social comparison scale based on Buunk and Gibbons’ theory and a psychological well-being scale based on Ryff’s theory, both of which had been tested for validity and reliability. Data analysis was conducted using SPSS Statistics 20. The findings revealed that social comparison had a negative and significant effect on psychological well-being, with a t-value of 18.004 greater than the t-table value of 1.967 and a significance value of 0.000 (p < 0.05). The R Square value of 0.496 indicated that social comparison contributed 49.6% to psychological well-being. The regression coefficient of −0.962 indicated that higher levels of social comparison were associated with lower levels of psychological well-being. This study concludes that excessive self-comparison through social media can reduce the psychological well-being of Generation Z, particularly in the aspect of purpose in life. ABSTRAK Perkembangan media sosial yang pesat mendorong meningkatnya perilaku social comparison pada Generasi Z, khususnya melalui paparan konten kehidupan dan pencapaian orang lain di berbagai platform digital. Kondisi ini berpotensi memengaruhi psychological well-being remaja dan dewasa awal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh social comparison terhadap psychological well-being Generasi Z di Kota Medan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi linear sederhana. Subjek penelitian merupakan Generasi Z berusia 13–28 tahun yang aktif menggunakan media sosial. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala social comparison berdasarkan teori Buunk dan Gibbons serta skala psychological well-being berdasarkan teori Ryff yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS Statistics 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa social comparison berpengaruh negatif dan signifikan terhadap psychological well-being dengan nilai t hitung 18,004 lebih besar dari t tabel 1,967 dan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05). Nilai R Square sebesar 0,496 menunjukkan bahwa social comparison memberikan kontribusi sebesar 49,6% terhadap psychological well-being. Koefisien regresi bernilai negatif sebesar −0,962 yang menunjukkan bahwa semakin tinggi perilaku social comparison, maka semakin rendah tingkat psychological well-being individu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan media sosial yang disertai kecenderungan membandingkan diri secara berlebihan dapat menurunkan kesejahteraan psikologis Generasi Z, terutama pada aspek tujuan hidup.
ANTARA CINTA DAN LETIH: DINAMIKA COMPASSION FATIGUE PADA SINGLE MOTHER SANDWICH GENERATION SEKALIGUS BREADWINNER DAN FAMILY CAREGIVER Queency Cinta Rachelga Menajang; Rudangta Arianti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11729

Abstract

ABSTRACT Compassion fatigue is an emotional exhaustion that may occur in individuals who continuously provide care and support to family members in need. Although this phenomenon has been widely studied among professional healthcare workers, research on compassion fatigue among informal family caregivers, particularly those in the sandwich generation with multiple caregiving roles, remains limited in Indonesia. This study aims to explore the dynamics of compassion fatigue experienced by an individual who simultaneously acts as a single mother, the primary breadwinner, and a family caregiver. This study employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through observation and semi-structured in-depth interviews with a woman who cares for an elderly parent while also raising financially dependent children. The data were analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The findings indicate that compassion fatigue in the sandwich generation emerges as a result of prolonged role accumulation without adequate social support. This condition leads to emotional exhaustion and reduced psychological well-being, as reflected in moderate to high levels of burnout and secondary traumatic stress based on the ProQOL-V assessment. Overall, the study shows that higher caregiving burden combined with low social support increases vulnerability to compassion fatigue. In conclusion, strengthening social support systems and developing appropriate psychological interventions are essential to reduce the risk of compassion fatigue among sandwich generation caregivers in the Indonesian family context. ABSTRAK Compassion fatigue merupakan kondisi kelelahan emosional yang dapat dialami oleh individu yang secara terus-menerus memberikan perawatan dan dukungan kepada anggota keluarga yang membutuhkan. Meskipun fenomena ini banyak dikaji pada tenaga kesehatan profesional, penelitian mengenai compassion fatigue pada family caregiver informal, khususnya yang berada dalam posisi sandwich generation dengan peran berlapis, masih relatif terbatas di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam dinamika compassion fatigue pada seorang individu yang secara simultan menjalankan peran sebagai single mother, pencari nafkah utama, dan caregiver keluarga. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap seorang perempuan yang merawat orang tua lansia sekaligus mengasuh anak-anak yang masih bergantung secara ekonomi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa compassion fatigue pada sandwich generation muncul akibat akumulasi beban peran jangka panjang yang tidak diimbangi dengan dukungan sosial yang memadai. Kondisi ini berdampak pada kelelahan emosional dan penurunan kesejahteraan psikologis individu, yang ditunjukkan melalui tingkat burnout dan secondary traumatic stress pada kategori sedang hingga tinggi berdasarkan hasil pengukuran ProQOL-V. Temuan ini menegaskan bahwa semakin tinggi beban peran dan semakin rendah dukungan sosial, semakin besar kerentanan individu terhadap compassion fatigue. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan perhatian serius terhadap penguatan dukungan sosial dan pengembangan intervensi psikologis untuk mengurangi risiko compassion fatigue pada sandwich generation, khususnya dalam konteks keluarga di Indonesia.
MENGIDENTIFIKASI CAREER DECISION MAKING SELF-EFFICACY MELALUI MEDIA BOARD GAME INTERAKTIF PADA SISWA SMA Tria Afina Safitri; Jose Febryano Malonda; Siti Amwaliyah Khaeroni; Althaf Martuaraja Situmorang; Widya Risnawaty
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11801

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berawal dari masih banyaknya siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan karier. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya media pembelajaran yang interaktif untuk membantu mengidentifikasi dan meningkatkan career decision-making self-efficacy (CDMSE) siswa. Namun, penelitian mengenai penggunaan board game sebagai media bimbingan karier masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk menguji efektivitas board game Career Quest dalam meningkatkan CDMSE siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan career decision-making self-efficacy siswa setelah bermain board game Career Quest. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan one-group pretest-posttest design. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan career decision-making self-efficacy siswa setelah bermain board game Career Quest. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan one-group pretest-posttest design. Partisipan penelitian berjumlah 33 siswa SMA berusia 15-16 tahun. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen Tarumanagara Career Decision Self-Efficacy Scale (Tarumanagara CDSES). Analisis data menggunakan Repeated Measures ANOVA dengan koreksi Greenhouse-Geisser. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan board game Career Quest berkontribusi terhadap peningkatan career decision-making self-efficacy siswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa media berbasis permainan dapat menjadi alternatif yang efektif dalam mendukung layanan bimbingan karier di sekolah.Dengan demikian, board game Career Quest dapat digunakan sebagai media interaktif dalam mengembangkan career decision-making self-efficacy pada siswa SMA. ABSTRACT This study was motivated by the fact that many high school students still experience difficulties and uncertainty in making career choices. This condition highlights the importance of interactive learning media to help identify and enhance students’ Career Decision-Making Self-Efficacy (CDMSE). However, research on the use of board games as a career guidance medium remains limited. Therefore, this study was conducted to examine the effectiveness of the Career Quest board game in improving students’ CDMSE. The study employed a quasi-experimental method using a one-group pretest-posttest design. The participants consisted of 33 high school students aged 15–16 years. Data were collected using the Tarumanagara Career Decision Self-Efficacy Scale (Tarumanagara CDSES). Data analysis was conducted using Repeated Measures ANOVA with Greenhouse–Geisser correction. The findings indicate that the use of the Career Quest board game contributed to an improvement in students’ career decision-making self-efficacy. These results suggest that game-based media can serve as an effective alternative for supporting career guidance services in schools. Therefore, the Career Quest board game can be utilized as an interactive medium for developing career decision-making self-efficacy among high school students.
HUBUNGAN PARENT ATTACHMENT DENGAN REGULASI EMOSI PADA PEREMPUAN DEWASA USIA 28-33 YANG BELUM MENIKAH Meilina Dwi Kurniawati; Dewita Karema Sarajar
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11802

Abstract

ABSTRACT This study is motivated by the presence of social pressure and developmental demands experienced by unmarried adult women, which can affect their ability to regulate emotions. The purpose of this study was to determine the relationship between parental attachment and regulation emotion in unmarried women aged 28 to 33 years. This study used a quantitative approach with a correlational design. The subjects in this study were 93 women selected using purposive sampling technique. The instruments used in the study were the Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) scale to measure parental attachment and Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) to measure emotional regulation. Data were analyzed using the Spearman correlation test, with the results showing a positive and significant relationship between parental attachment and emotional regulation (r = 0,0443; p< 0.01). This finding means that the higher the emotional regulation. This study demonstrates the importance of the role of parental attachment to children in helping develop good emotional regulation in adulthood. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi adanya tekanan sosial dan tuntutan tahapan perkembangan pada perempuan dewasa yang belum menikah dan dapat memengaruhi kemampuan regulasi emosi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kelekatan orang tua dengan regulasi emosi pada perempuan usia 28 hingga 33 tahun yang belum menikah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 93 perempuan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah skala Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) untuk mengukur kelekatan orang tua dan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) untuk mengukur regulasi emosi. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dengan hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kelekatan orang tua dengan regulasi emosi (r = 0,443; p < 0,01). Temuan ini berarti semakin tinggi kelekatan orang tua maka semakin tinggi regulasi emosi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pentingnya peran kelekatan orang tua dengan anak dalam membantu mengembangkan regulasi emosi dengan baik pada masa dewasa.
PENGEMBANGAN WORK-RELATED POSITIVE AND NEGATIVE AFFECT SCHEDULE PADA PEKERJA GENERASI Z Widya Sasi Maheswari; Heryanna Wijaya; Celine Yovita; Kadek Erinna Chandra Wijaya; Servia; Rita Markus Idulfilastri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11816

Abstract

ABSTRACT This study aims to develop a contextual Work-Related Positive and Negative Affect Schedule (W-PANAS) instrument for Generation Z employees to measure emotional experiences in the workplace. The background of this research is based on the distinctive emotional dynamics and work-related stress patterns of Generation Z, which require a more contextually relevant affect measurement tool aligned with modern work environments. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The participants consisted of 302 Generation Z workers aged 18–29 years with a minimum of six months of work experience. The developed instrument included 20 items, consisting of 10 positive affect items and 10 negative affect items, measured using a 5-point Likert scale. Data analysis was conducted through item validity testing, reliability testing, and Confirmatory Factor Analysis (CFA) to examine the construct structure of the instrument. The results indicate that the W-PANAS demonstrates good validity and reliability and successfully represents two main affect dimensions, namely positive affect and negative affect in the work context. Therefore, the W-PANAS is considered an appropriate and contextually relevant instrument for assessing the emotional experiences of Generation Z employees in the workplace. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen Work-Related Positive and Negative Affect Schedule (W-PANAS) yang kontekstual bagi pekerja Generasi Z dalam mengukur pengalaman emosional di lingkungan kerja. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada karakteristik Generasi Z yang memiliki dinamika emosional dan tingkat stres kerja yang khas, sehingga memerlukan instrumen pengukuran afek yang lebih relevan dengan konteks pekerjaan modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Partisipan terdiri dari 302 pekerja Generasi Z berusia 18–29 tahun dengan masa kerja minimal enam bulan. Instrumen yang dikembangkan berjumlah 20 butir pernyataan yang terdiri atas 10 item afek positif dan 10 item afek negatif dengan skala Likert 1–5. Proses analisis data dilakukan melalui uji validitas butir, uji reliabilitas, serta analisis faktor konfirmatori (Confirmatory Factor Analysis/CFA) untuk menguji struktur konstruk instrumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa W-PANAS memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang baik serta mampu merepresentasikan dua dimensi utama afek, yaitu afek positif dan afek negatif dalam konteks kerja. Dengan demikian, W-PANAS dinyatakan layak digunakan sebagai instrumen pengukuran pengalaman emosional pekerja Generasi Z di lingkungan kerja secara lebih kontekstual dan relevan.
PARENTING SELF-EFFICACY DAN EMOTION COACHING PADA IBU DENGAN ANAK USIA PRASEKOLAH Dyah Ayu Rahmawati; Niken Fitri Palupi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11972

Abstract

ABSTRACT Emotional development during the preschool years serves as an essential foundation for children's future self-regulation and social competence. One parenting practice that supports emotional development is emotion coaching, which refers to parents’ ability to recognize, accept, and guide children’s emotions constructively. A factor presumed to influence the implementation of emotion coaching is parenting self-efficacy, defined as parents’ belief in their ability to perform parenting tasks effectively. This study aimed to examine the relationship between parenting self-efficacy and emotion coaching among mothers of preschool-aged children. A quantitative correlational design was employed involving 290 mothers with preschool-aged children. Data were collected using the Self-Efficacy for Parenting Task Index (SEPTI) to measure parenting self-efficacy and the emotion coaching subscale of the Maternal Emotional Styles Questionnaire (MESQ) to assess emotion coaching. Data were analyzed using Spearman Rank correlation. The findings revealed no significant relationship between parenting self-efficacy and emotion coaching (p = 0.135; p > 0.05). These results indicate that mothers’ confidence in their parenting abilities is not directly associated with the application of emotion coaching strategies. The findings suggest that other factors, such as emotional knowledge, parenting experiences, child characteristics, and social support, may play a more substantial role in shaping emotion coaching practices among mothers of preschool-aged children. This study contributes to the understanding of factors influencing parental emotional socialization and highlights the need for further research exploring variables beyond parenting self-efficacy. ABSTRAK Perkembangan emosi pada masa prasekolah merupakan fondasi penting bagi kemampuan regulasi diri dan kompetensi sosial anak pada tahap perkembangan berikutnya. Salah satu praktik pengasuhan yang mendukung perkembangan emosi anak adalah emotion coaching, yaitu kemampuan orang tua dalam mengenali, menerima, dan membimbing emosi anak secara konstruktif. Faktor yang diduga berperan dalam penerapan emotion coaching adalah parenting self-efficacy, yaitu keyakinan orang tua terhadap kemampuannya dalam menjalankan tugas pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara parenting self-efficacy dan emotion coaching pada ibu yang memiliki anak usia prasekolah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional yang melibatkan 290 ibu yang memiliki anak usia prasekolah. Data dikumpulkan menggunakan Self-Efficacy for Parenting Task Index (SEPTI) untuk mengukur parenting self-efficacy dan subskala emotion coaching dari Maternal Emotional Styles Questionnaire (MESQ) untuk mengukur emotion coaching. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara parenting self-efficacy dan emotion coaching (p = 0,135; p > 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa keyakinan ibu terhadap kemampuan pengasuhan yang dimilikinya tidak secara langsung berkaitan dengan penerapan strategi emotion coaching. Hasil penelitian menunjukkan kemungkinan adanya faktor-faktor lain, seperti pengetahuan tentang emosi, pengalaman pengasuhan, karakteristik anak, maupun dukungan sosial, yang lebih berperan dalam menentukan praktik emotion coaching pada ibu yang memiliki anak usia prasekolah.