cover
Contact Name
Rani Ismiarti Ergantara
Contact Email
ergantararani@yahoo.com
Phone
+62811729009
Journal Mail Official
jurnalrts.ft@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jl Pramukan No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 25414720     EISSN : 2549984X     DOI : ttps://doi.org/10.33024/jrets.v4i1
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains (JRETS) adalah media yang mempublikasikan naskah/tulisan ilmiah orisinil hasil penelitian dan kerekayasaan, ulasan atau komunikasi singkat (review), analisis kebijakan atau catatan penelitian singkat serta pikiran dan pandangan dalam bidang rekayasa, teknologi, dan sains. Terbit 2 kali dalam setahun pada bulan Januari dan Agustus oleh Fakultas Teknik Universitas Malahayati. Naskah/tulisan yang masuk akan diseleksi oleh mitra bestari dan dewan redaksi.
Articles 137 Documents
Uji Eksperimental Pengaruh Campuran Etanol dan Solar Terhadap Daya Indicator dan Emisi Gas Buang Mesin Genset KW 20-388 Erik Tri mahyudi; Untung Surya Dharma; Dwi Irawan
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 10, No 1 (2026): Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v10i1.23204

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan prestasi dan emisi gas buang dari mesin diesel berbahan bakar solar yang telah dicampur etanol. Perbandingan campuran bahan bakar menggunakan enam variasi, mulai dari solar murni, campuran solar dengan etanol sebanyak 5% yang kemudian kami  sebut dengan E5, E7.5, E10, E12.5, E15. Hasil pengujian menunjukkan campuran solar dengan etanol 5% menghasilkan daya indikator rata-rata terbesar diantara variasi yang lain 7.48 kW. Sedangkan pada pengujian emisi gas buang didapatkan hasil variasi campuran solar dengan etanol 5 % menghasilkan opacity terendah diantara variasi yang lain sebesar 16.1% Kata kunci: etanol, solar, emisi gas buang ABSTRACT The aim of this research is to compare the performance and exhaust emissions of diesel engines using diesel fuel mixed with ethanol. The fuel mixture comparison uses six variations, starting from pure diesel, a mixture of diesel with 5% ethanol which we then call E5, E7.5, E10, E12.5, E15. The test results show that the mixture of diesel with 5% ethanol produces the largest average power indicator among the other variations, 7.48 kW. Meanwhile, in the exhaust emission test, the results obtained from the variation of the mixture of diesel with 5% ethanol produce the lowest opacity among the other variations, at 16.1% Keywords: etanol, solar, exhaust gas emission
MODIFIKASI NOZEL UDARA PADA TUNGKU TEMPA BERBAHAN BAKAR OLI SEBAGAI PENUNJANG PRAKTIKUM MAHASISWA Tri Widodo; Nita Pita Sari; M Irfan Kurniawan
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 10, No 1 (2026): Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v10i1.23615

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi pengaruh modifikasi nozel udara pada tungku tempa berbahan bakar limbah oli untuk meningkatkan stabilitas nyala dan capaian suhu puncak dalam konteks praktikum mahasiswa. Dua rancangan diuji, yakni nozel tipe 1 dan tipe 2, dengan perbedaan utama pada keberadaan keluaran udara tambahan yang diarahkan ke permukaan oli. Pengujian meliputi pemantauan suhu benda kerja serta observasi kestabilan pada laju udara terukur yang sama. Hasil menunjukkan nozel tipe 1 mencapai suhu puncak 617°C pada benda kerja, sedangkan nozel tipe 2 mencapai 660°C, yang merefleksikan pemanasan lebih cepat dan stabil. Mekanisme kinerja tipe 2 dipengaruhi oleh aliran udara terarah yang memicu putaran oli dan meningkatkan pencampuran udara–bahan bakar, menghasilkan nyala lebih tinggi dan mudah dikendalikan. Hal ini menegaskan bahwa rekayasa suplai udara merupakan faktor kunci untuk memaksimalkan pemanfaatan limbah oli sebagai bahan bakar alternatif pada tungku tempa pendidikan, sekaligus meningkatkan efektivitas pembelajaran termodinamika dan sistem pembakaran luar di laboratorium.Kata kunci: tungku tempa, limbah oli,  nozel udara, stabilitas nyala, suhu puncak, produk kompor oli
Life Cycle Assessment (LCA) of Natural Fiber Reinforced Polymer Composites for Automotive Interior Panels: A Comparative Study vs. Glass Fiber Composites Fauzi Ibrahim
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 10, No 1 (2026): Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v10i1.24960

Abstract

The growing demand for lightweight and sustainable vehicles is accelerating the adoption of fiber reinforced polymer composites, including natural fiber reinforced polymer (NFRP) systems for interior components. However, environmental benefits are highly dependent on resin selection, manufacturing route, transport distances, and end of life scenarios. This study presents a cradle to grave Life Cycle Assessment (LCA) comparing NFRP and conventional glass fiber reinforced polymer (GFRP) for an automotive interior panel application. A functional unit is defined as one interior panel meeting equivalent stiffness and service life requirements, enabling fair comparison between materials with different fiber density and specific mechanical performance. Life cycle inventory data are compiled from peer reviewed literature and established LCA databases, covering raw material extraction (natural fibers and glass fibers), polymer matrix production, compounding and forming processes, use phase considerations (mass related fuel/energy penalties where applicable), and end of life scenarios including landfill, incineration with energy recovery, and emerging recycling pathways. Environmental impacts are quantified using midpoint indicators (e.g., global warming potential, cumulative energy demand, acidification, eutrophication, and human toxicity), and uncertainty is addressed via sensitivity analysis on key parameters such as fiber content, resin type (petro based vs. bio based), regional electricity mix, and transportation assumptions. The results are expected to identify dominant “hotspots” across the value chain and to clarify conditions under which NFRP offers measurable reductions in greenhouse gas emissions and energy demand relative to GFRP, while also highlighting trade offs related to land use, eutrophication, and end of life emissions. The findings provide design relevant guidance for material selection and process optimization toward lower impact composite interior parts aligned with circular economy strategies.
ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN PERAMALAN DAN PERBANDINGAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ) DAN PERIOD ORDER QUANTITY (POQ) PADA UMKM PRODUK TAHU PAK SUNARYA Sukron Alif Setiawan; Kemas Muhammat Abdul Fatah; R. Agung Efriyo Hadi
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 10, No 1 (2026): Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v10i1.24348

Abstract

Persediaan bahan baku memainkan peran penting dalam menjaga kelancaran proses produksi, terutama untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). UMKM Produk Tahu Pak Sunarya menghadapi tantangan dalam pengelolaan persediaan kedelai karena bahaya permintaan bulanan, yang menyebabkan inefisiensi dalam pengadaan bahan baku dan biaya penyimpanan yang tinggi. Ketidakakuratan dalam menentukan kuantitas dan waktu pemesanan dapat berdampak langsung pada gangguan produksi dan meningkatkan biaya operasional. Studi ini bertujuan untuk menganalisis sistem pengendalian persediaan bahan baku menggunakan metode penyediaan kedelai dan membandingkan dua pendekatan manajemen persediaan: Economic Order Quantity (EOQ) dan Period Order Quantity (POQ). Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi langsung, dan dokumentasi dari September 2023 hingga Agustus 2024. Peramalan permintaan produk dilakukan menggunakan metode Single Exponential Smoothing (SES) untuk mendapatkan prediksi permintaan yang lebih akurat sebagai dasar perhitungan kebutuhan persediaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode EOQ memberikan hasil paling optimal dengan banyaknya pesanan 6.517 kg per pesanan, frekuensi pesanan 7 kali per tahun, dan total biaya persediaan (TIC) sebesar Rp11.778.956 dibandingkan dengan metode POQ yang memiliki TIC sebesar Rp59.643.675 dan metode aktual perusahaan sebesar Rp21.442.266, EOQ lebih unggul dalam efisiensi biaya dan pengadaan. EOQ juga menghasilkan perhitungan Safety Stock sebesar 939 kg dan Reorder Point sebesar 1.427 kg untuk mencegah kekurangan bahan baku. Kesimpulannya, metode EOQ lebih efektif dan efisien untuk diterapkan pada UMKM Produk Tahu Pak Sunarya karena mampu mengurangi biaya persediaan dan menjaga ketersediaan bahan baku. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi UMKM dalam menentukan strategi pengendalian persediaan yang lebih tepat, sistematis, dan berbasis data . 
APLIKASI PROTOTYPE SOLAR PANEL TENAGA SURYA SEBAGAI SUMBER LISTRIK ALTERNATIF PADA AERATOR BUDIDAYA UDANG VANNAME SAAT PLN PADAM Nurjan Didik Purwanto; Dwi Ferdiana; Ririn Ramadani; Ria Fikasa
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 10, No 1 (2026): Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v10i1.25231

Abstract

ABSTRAK Udang oleh masyarakat Indonesia. Konsumsi udang masyarakat Indonesia mencapai 50%. Indonesia merupakan negara nomor empat sebagai produsen (pengekspor) udang di dunia dengan tujuan ekspor utama ke negara Amerika Serikat yang memiliki tingkat konsumsi udang mencapai 1.134 kg/tahun merupakan salah satu jenis komoditas perikanan yang menjadi sumber protein yang paling digemari Salah satu kendala pengembangan budidaya udang di Indonesia adalah meningkatnya kebutuhan energi listrik tiap tahunnya. Untuk mengatasi hal tersebut, energi terbarukan merupakan solusi bagi kebutuhan listrik untuk operasional budidaya dengan segala kelebihannya. Energi terbarukan yang paling banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik pada budidaya udang adalah energi matahari (surya), energi surya merupakan energi alternatif yang murah, tersedia secara gratis, terutama di daerah tropis. Energi listrik ini digunakan untuk menghidupkan aerator pada kolam budidaya udang, terutama udang Vanname. Salah satu aspek terpenting dalam pengelolaan kualitas air budidaya udang adalah konsentrasi oksigen terlarut yang dibutuhkan bagi ekosistem perairan agar udang tetap hidup sehat dan juga segar, tetapi saat konsentrasi oksigen di bawah 3 mg/L, maka dapat membuat udang stress dan menurunkan daya tahan tubuhnya. Jika konsentrasi oksigen menyentuh angka di bawah 1,5 mg/L maka dalam beberapa jam udang akan mati, karena udang sangat rentan ketika kekurangan oksigen, maka dengan pemanfaatan energi surya sebagai pengganti sumber Listrik alternatif ketika PLN padam, diharapkan dapat membantu mengurangi tingkat kematian udang Vanname. Kata Kunci: udang vanname, peningkatan energi listrik, energi terbarukan, energi surya, pengaruh konsentrasi oksigen terhadap udang vanname. ABSTRACT Solar Panel Prototype Application As An Alternative Electricity Source In Vannamese Shrimp Cultivation Aerators During Pln Power Outages. Shrimp is a fishery commodity that is a popular source of protein for Indonesians. Indonesian shrimp consumption reaches 50%. Indonesia is the fourth-largest shrimp producer (exporter) in the world, with the primary export destination being the United States, where shrimp consumption reaches 1,134 kg per person per year. One of the obstacles to developing shrimp farming in Indonesia is the increasing need for electricity every year. To overcome this, renewable energy is a solution for electricity needs for cultivation operations with all its advantages. The most widely used renewable energy to meet electricity needs in shrimp farming is solar energy, solar energy is a cheap alternative energy, available for free, especially in tropical areas. This electrical energy is used to operate the aerator in shrimp farming ponds, especially Vannamei shrimp. One of the most important aspects in managing the water quality of shrimp farming is the concentration of dissolved oxygen needed for the aquatic ecosystem so that shrimp remain healthy and fresh, but when the oxygen concentration is below 3 mg/L, it can make shrimp stressed and reduce their immune system and if the oxygen concentration touches the number below 1.5 mg/L then within a few hours the shrimp will die, because shrimp are very vulnerable when lacking oxygen, then by utilizing solar energy as a substitute for alternative electricity sources when PLN off, it is hoped that it can help reduce the mortality rate of Vanname shrimp. Keywords: vaname shrimp, increase in electrical energ renewable energy, solar energy, he effect of oxygen concentration on vannamei shrimp.
POTENSI KONSTRUSI TUNNEL RECIPROCAL UNTUK HUNIAN PASCA BENCANA DENGAN PENDEKATAN PARAMETRIK Fasha Nurliansyah Mahendra; Galuh Fajarwati; Maqbul Kamaruddin
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 10, No 1 (2026): Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v10i1.26887

Abstract

ABSTRAK Indonesia merupakan negara yang memiliki intensitas bencana alam yang tinggi. Sebagai negara berkembang, tentunya Indonesia sangat terdampak terutama dalam sisi ekonomi. Dampak ekonomi tersebut dipengaruhi oleh dampak personal dan dampak kerusakan. Dampak personal dapat diselesaikan dengan pemberdayaan masyarakat terhadap tanggap bencana. Sedangkan dampak kerusakan hanya bisa diatasi dengan membangunan shelter sebagai bangunan sementara yang menggantikan bangunan yang hancur. Keberadaan bangunan sementara tersebut merupakan sebuah usaha agar roda perekonomian dapat cepat berputar kembali. BNPB mengungkapkan bahwa masalah yang dihadapi dalam membangun shelter adalah pembangunan yang lambat, dan anggaran yang terbatas. Produksi material di wilayah bencana juga berhenti, sehingga material yang tersedia terbatas. Dalam membangun shelter pasca bencana di Indonesia, Andry Widyowijatnoko yang merupakan seorang arsitek mengusulkan penggunaan struktur tunnel reciprocal frame sebagai shelter pasca bencana. Bangunan tersebut dapat dibangun menggunakan material kayu ataupun bambu yang tersedia di sekitar area bencana. Penelitian ini akan menggali potensi dari tunnel reciprocal untuk mengetahui kemungkinan untuk dikembangkan menjadi hunian tetap bagi korban terdampak, dengan menggunakan pendekatan parametrik untuk melakukan analisis struktur. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk membantu percepatan proses pemulihan pasca bencana. Kata Kunci: bencana, parametrik, pemberdayaan masyarakat, shelter, tunnel reciprocal ABSTRACT The Potential of Reciprocal Tunnel Construction for Post-Disaster Housing with a Parametric Approach. As disasters continue to occur and intensify, Indonesia is significantly affected, particularly in terms of its economy. The economic impacts are influenced by both personal losses and physical damage to infrastructure. Personal impacts can be mitigated through community empowerment and disaster preparedness initiatives. In contrast, the impacts of physical destruction can only be addressed by providing temporary shelters to replace damaged or destroyed buildings. The availability of temporary shelters is essential to accelerate the recovery process and restore economic activities in affected areas. According to the Indonesian National Disaster Management Agency (BNPB), the main challenges in post-disaster shelter construction are the slow construction process and limited funding. In addition, the production and supply of building materials are often disrupted in disaster-affected areas, resulting in material shortages. To address these challenges, Indonesian architect Andry Widyowijatnoko proposed the use of a tunnel reciprocal frame structure as a post-disaster shelter. This structural system can be constructed using locally available materials such as timber or bamboo, making it suitable for emergency conditions. This study aims to explore the potential of the tunnel reciprocal frame system and evaluate its feasibility for further development into permanent housing for disaster-affected communities by employing a parametric approach for structural analysis. The findings are expected to provide a scientific reference for improving post-disaster housing strategies and supporting a faster and more sustainable recovery process. Keywords: disaster, parametric design, community empowerment, shelter, tunnel reciprocal frame.
Biochar as Reinforcement for Composite Materials in the Automotive Industry Fauzi Ibrahim; Ambar Pambudi; Randi Anggit Wibisono
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 10, No 2 (2026): Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v10i2.26436

Abstract

Biochar, also referred to as biocarbon when positioned as an engineering filler, is a carbon-rich solid obtained by thermochemical conversion of renewable biomass and organic waste under oxygen-limited conditions. Its low density, tunable surface chemistry, porous morphology, thermal stability and potential carbon-storage value make it a promising reinforcement for polymer composites in the automotive industry. This article reviews the use of biochar as a reinforcing phase in polypropylene, polylactic acid, polyamide, epoxy and rubber composite systems from an engineering design perspective. The review focuses on the interaction between feedstock, pyrolysis temperature, ash and carbon content, particle-size distribution, interfacial bonding, melt-processing behavior and automotive qualification requirements. Literature evidence shows that biochar can increase tensile and flexural stiffness, improve heat-deflection resistance, reduce smoke and heat release, and provide a mass advantage compared with mineral fillers. However, strength and impact performance are strongly non-monotonic and can degrade when agglomeration, high viscosity, weak wetting or excessive ash content dominate the microstructure. A proposed Automotive Biochar Composite Readiness Index is introduced to compare matrix-specific readiness for interior trim, instrument-panel carriers, under-hood covers, battery-enclosure inserts, rubber compounds and additive-manufactured fixtures. The analysis indicates that near-term implementation is strongest for semi-structural and non-structural parts, whereas crash-critical structures require hybridization, robust CAE material cards and full ageing, fire, fogging, odor and life-cycle assessment. The paper concludes with a qualification roadmap and design rules for translating laboratory biochar composites into automotive-grade materials.