cover
Contact Name
Addin Kurnia Putr
Contact Email
addinkurniaputri@gmail.com
Phone
+6285725117255
Journal Mail Official
addinkurniaputri@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami No. 36A, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Development and Social Change
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal ini memfokuskan pada hasil penelitian, review teori dan metodologi dan juga review buku dalam perspektif keilmuan sosiologi terutama terkait pokok persoalan pembangunan dan perubahan sosial dalam persepektif nasional maupun internasional, Masyarakat, Komunitas, Kelompok Sosial dan Hubungan antar Kelompok Sosial, Interaksi Sosial, Struktur Sosial, Lembaga Sosial, Pemberdayaan Masyarakat, Metode Penelitian Sosial, Sosiologi Keluarga, Sosiologi Politik, Sosiologi Pendidikan, Sosiologi Ekonomi, Sosiologi Hukum, Sosiologi Agama, Sosiologi Budaya, Sosiologi Perkotaan, Sosiologi Pedesaan, Sosiologi Masalah Sosial, Sosiologi Klinik.
Articles 94 Documents
BODY SHAMING, CITRA TUBUH IDEAL DAN KAUM MUDA KAMPUS: STUDI FENOMENOLOGI TERHADAP MAHASISWA UNS Dian Yustika Sari; Yuyun Sunesti
Journal of Development and Social Change Vol 4, No 2 (2021): Volume 4 no. 2 Oktober 2021
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v4i2.50718

Abstract

Body shaming merupakan perbuatan mengolok-olok tubuh seseorang yang dinilai tidak sesuai dengan kriteria tubuh ideal menurut masyarakat luas. Tuntutan untuk mencapai tubuh ideal ini tidak hanya dirasakan oleh perempuan, namun juga laki-laki, serta dialami oleh berbagai usia, mulai dari usia anak, remaja, hingga dewasa. Meskipun banyak penelitian terdahulu yang menemukan bahwa body shaming terbukti berdampak negatif pada kehidupan sosial dan kesehatan psikologis korban, namun tindak body shaming ini nyatanya masih terus terjadi sampai sekarang. Penelitian ini dilakukan di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), yang mana seorang mahasiswa dituntut untuk dapat menghargai segala perbedaan yang ada, salah satunya perbedaan bentuk fisik seseorang. Namun nyatanya, tindak body shaming ini pun masih terjadi pada mahasiswa UNS. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman body shaming yang dialami oleh mahasiswa UNS. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teori Tubuh Sosial Anthony Synnott dipilih untuk menjelaskan pemaknaan tubuh ideal dan faktor penyebab terjadinya body shaming, serta teori Interaksionisme Simbolik Herbert Blumer dipilih untuk menjelaskan respon korban dalam menghadapi body shaming. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh ideal dimaknai sebagai tubuh yang tinggi dengan berat badan proporsional, berkulit putih atau sawo matang, wajah tidak berjerawat, dan rambut rapih, serta dapat membuat diri sendiri merasa nyaman, memiliki kepercayaan diri, dan pembawaan yang bahagia. Kemudian, faktor penyebab terjadinya body shaming yang dialami oleh mahasiswa UNS yaitu karena adanya konstruksi tubuh ideal dan ketidakpekaan sosial. Selanjutnya, bentuk-bentuk body shaming yang diterima oleh mahasiswa UNS terbagi ke dalam 2 kategori yaitu; (1) Ucapan, dan (2) Ucapan sekaligus tindakan. Kemudian, respon yang diberikan oleh korban body shaming yaitu; (1) Mengabaikan, (2) Melawan pelaku, (3) Menanggapi dengan candaan, dan (4) Memberikan pengertian.
EVALUASI HASIL PROGRAM PEMBERDAYAAN KELOMPOK WANITA TANI DI DESA KALIABU, KECAMATAN MEJAYAN, KABUPATEN MADIUN Didin Dinda Rukmana; Bagus Haryono
Journal of Development and Social Change Vol 1, No 1 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v1i1.20734

Abstract

Abstract : This research aimed to evaluate the result of women empowerment program conducted by KWT (Female Farmers Group) in Kaliabu Village, Mejayan Sub District, Madiun Regency. The theory used in this research was Talcott Parson’s Action theory. In this research, social action taken by Kaliabu Village women served to be actors working as farmers or farmer labor get wage, but they still had leisure time to be utilized. To achieve such the objective, KWT (Female Farmers Group) was established in Kaliabu Village as a means of developing rural women’s potency and productivity in order to utilize leisure time with more beneficial activity. This research was taken place in Kaliabu Village, Mejayan Sub District, Madiun Regency. The method employed in this research was evaluation on the result of program with CIPP (Context, Input, Process, Product). This study was a descriptive qualitative research with purposive sampling technique to select the sample. Techniques of collecting data used were observation, interview, and documentation. Data validation was carried out using source triangulation. Technique of analyzing data used was a flow model of analysis encompassing data collection, data reduction, data display, and conclusion. The result of research showed that Kaliabu Village women working as farmers and farmer labors still have leisure time to be utilized to do more productive and beneficial activities. To improve productivity and ability of utilizing leisure time existing, KWT program developed two activity programs: vegetable productive plant cultivation and catfish breeding programs. Thus, there were two programs expected to help improve the productivity of rural community, particularly rural women, in order to develop potency existing inside themselves and their environment.  Keywords: Women, empowerment, female farmer groupAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil program pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh KWT (Kelompok Tani Perempuan) di Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Tindakan Talcott Parson. Dalam penelitian ini, aksi sosial yang diambil oleh Desa Kaliabu adalah menjadi pelaku yang bekerja sebagai petani atau buruh tani untuk mendapatkan upah, tetapi mereka masih memiliki waktu luang yang bisa dimanfaatkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, KWT (Kelompok Tani Perempuan) didirikan di Desa Kaliabu sebagai sarana untuk mengembangkan potensi dan produktivitas perempuan pedesaan dengan memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Penelitian ini dilakukan di Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah evaluasi terhadap hasil program dengan CIPP (Konteks, Input, Proses, Produk). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling untuk memilih sampel. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Validasi data dilakukan menggunakan triangulasi sumber. Teknik analisis data yang digunakan adalah model aliran analisis yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan Desa Kaliabu yang bekerja sebagai petani dan buruh tani masih memiliki waktu luang untuk digunakan melakukan kegiatan yang lebih produktif dan bermanfaat. Untuk meningkatkan produktivitas dan kemampuan memanfaatkan waktu luang yang ada, program KWT mengembangkan dua program kegiatan: budidaya tanaman sayuran produktif dan program pembenihan ikan lele. Dengan demikian, ada dua program yang diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas masyarakat pedesaan, khususnya perempuan pedesaan, untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam diri mereka dan lingkungan mereka.Kata Kunci: Perempuan, pemberdayaan, kelompok tani perempuan
POLA PEMBINAAN SISWA DI SEKOLAH LUAR BIASA/AYAYASAN KESEJAHTERAAN ANAK-ANAK BUTA SURAKARTA DALAM MEMBENTUK KESADARAN SOSIAL, KRETIFITAS DAN KETERAMPILAN Fauzan Dary Setyawan; Rahesli Humsona
Journal of Development and Social Change Vol 2, No 2 (2019): Volume 2 no. 2 Oktober 2019
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v2i2.41664

Abstract

This research aims to (1) know the role of family in everyday life for children and Blind in the SLB/A YKAB Surakarta City. (2) Know the pattern of coaching conducted by SLB/A YKAB Surakarta City for children with the blind in the foundation. (3) Knowing the efforts made to foster social awareness and creativity for the blind child who is in SLB/A-YKAB Surakarta city. This research is a type of qualitative descriptive research. The data collection techniques used are observations not participating and in-depth interviews. This research used Role Theory by Robert Linton. Role Theory is a combination of theory, orientation, and scientific discipline other than psychology. Role theory begins and it is still used in sociology and anthropology (Sarwono, 2002). and then it is also used Social Capital Theory by Fukuyama. This theory consists some elements like trust, reciprocal, social network, social interaction, norm and responsibility. The informant used as a data source in this research is 1 from the party of SLB/A YKAB Foundation, 3 persons SLB/A YKAB, 4 children of blind students who are built in SLB/A YKAB, 1 person in the dorm, 2 parents, 1 people who are around SLB/A YKAB. The informant selection technique is done by purposive sampling technique. The date analysis techniques used consist of four phases: data collection, data reduction, data presentation, and conclusion withdrawal.The results of this research show that (1) SLB/A YKAB Surakarta City provides guidance for students with visual impairments using a trust factor, which is to be parents who give attention and affection like their biological parents. Then the responsibility factor being a teacher who provides knowledge and learning in accordance with their education level. (2) In addition to the social network factor, students are given additional material in the form of Mobility Orientation. (3) And in fostering social awareness in accordance with the factors of social interaction is by inviting students to interact with the surrounding community as in mobility orientation subject, students are invited to leave the school environment and interact with the general public outside the school environment and given additional extracurricular lessons such as music, massage and sports such as tennis.
PERUBAHAN MASYARAKAT PASCA PENGGUNAAN ALAT BERAT PADA PERTAMBANGAN PASIR DI DESA KENINGAR Arif Miftah; Supriyadi Supriyadi
Journal of Development and Social Change Vol 3, No 2 (2020): Volume 3 no. 2 Oktober 2020
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v3i2.45766

Abstract

Pertambangan pasir dengan alat berat yang masuk di Desa Keningar manuai pro dan kontra dalam masyarakat. Konflik antar dua golongan berdampak pada perubahan sub kehidupan masyarakat Desa Keningar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana perubahan masyarakat pasca pertambangan dengan alat berat pada struktur masyarakat, kebudayaan, ekonomi, lingkungan, keamanan ketertiban masyarakat. Serta melihat bagaimana dampak penggunaan alat berat pada sub kehidupan tersebut. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan Naturalistic Inquiry. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan studi dokumenter. Teori konflik Lewis Alfred Coser dan Ralf Dahrendorf digunakan untuk mengkaji bagaimana detail konflik di Keningar itu terjadi, serta mencoba melihat perubahan masyarakat di Keningar. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perubahan struktur masyarakat desa, munculnya kelas menengah baru dan terjadinya deferensiasi sosial dalam profesi. Perubahan budaya meliputi solidaritas masyarakat yang lemah kini menguat kembali, budaya menyimpang dan konsumerisme yang dahulu ada kini menghilang. Kondisi ekonomi masyarakat terkhusus pendapatan mengalami penurunan. Lingkungan alam di Keningar mengalami perubahan, seperti kondisi jalan desa semakin baik, polusi udara dan suara tidak lagi ada. Namun pertambangan dengan alat berat menyisakan kerusakan pada lahan bekas tambang, pengairan masyarakat terganggu dengan menurunnya debit air dan tingkat kejernihan air. Keamanan dan ketertiban masyarakat membaik, berkurangnya truk muatan pasir yang keluar masuk desa memberi rasa aman pengguna jalan, premanisme yang dahulu tumbuh kini tidak lagi ada, kebiasaan minum-minuman keras dan kegiatan prostitusi di lahan tambang tidak lagi ditemukan. Namun kini resiko kecelakaan bagi penambang manual sangat tinggi. Penggunaan alat berat berdampak positif pada perubahan struktur masyarakat dan perekonomian warga. Namun kurang baik pada lingkungan, budaya, keamanan ketertiban masyarakat Desa Keningar.
Modal Sosial dan Kelangsungan Industri (Studi Kasus Peran Modal Sosial dalam Kelangsungan Industri Tenun Lurik ATBM di Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten) Ichwan Pradana Setiaji; R. B. Soemanto
Journal of Development and Social Change Vol 4, No 1 (2021): Volume 4 no. 1 April 2021
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v4i1.47098

Abstract

Artikel ini membahas tentang peran modal sosial yaitu modal sosial bounding, modal sosial bridging, dan modal sosial linking terhadap kelangsungan industri tenun lurik ATBM di Desa Tlingsing yang dilihat dari aspek kelangsungan modal, kelangsungan SDM, kelangsungan produksi dan kelangsungan pemasaran
WARUNG TEGAL: RELASI KAMPUNG MENYANGGA KOTA JAKARTA (Studi Kasus Pada Warung Tegal di Jakarta Timur) Maflahah Maflahah; Akhmad Ramdhon
Journal of Development and Social Change Vol 1, No 2 (2018): Edisi Oktober 2018
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v1i2.23054

Abstract

Abstract : Low of skills and education background lead Tegal society was unable to access the economic formal sector in urban areas. Then, they choose the informal sectors such as street vendors, pedicab, and others to get money. Warung Tegal is one of to be a solution to keep them alive in the city. Warung Tegal become one of the solution to address this problem, moreover Warung Tegal is does not need high education and specific skills to do. The purpose of this research is to identified how Warung Tegal as a informal sector can stay and keep growing as high as city’s development to be a buffer the economic of the city. Theory that use in this research is Pierre Bourdieu’s social capital. The method that use in this research is qualitative research. The approach that use is case study and the sampling method is purposive sampling. Warung Tegal can be one of solution that can stay and compete in economic of the city. It prove that Warung Tegal can give a economic welfare to Tegal society. It can be seen that there are a lot of warteg with high persistent, mutual cooperation, and high social capital between warteg seller give a power to each other to stay in the city. Although they live in a long term in Jakarta, but they do not forget their hometown. Aplusan is a chance for them to back to their hometown. Tegal that seen as a village and Jakarta as a big city can make a strong bond between them. The conclution is Warung Tegal as a informal sector give a different point of view of city, not just a city that full of luxury but a city that look through informal sector as economic buffer zone.Keywords : City, informal sector, social capital, village, warung tegalAbstrak : Rendahnya keterampilan dan latar belakang pendidikan menyebabkan masyarakat Tegal tidak dapat mengakses sektor formal ekonomi di daerah perkotaan. Kemudian, mereka memilih sektor informal seperti pedagang kaki lima, becak, dan lain-lain untuk mendapatkan uang. Warung Tegal adalah salah satu solusi untuk membuat mereka tetap hidup di kota. Warung Tegal menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini, terlebih lagi Warung Tegal tidak membutuhkan pendidikan tinggi dan keterampilan khusus untuk melakukannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bagaimana Warung Tegal sebagai sektor informal dapat tetap dan terus tumbuh setinggi perkembangan kota untuk menjadi penyangga ekonomi kota. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah modal sosial Pierre Bourdieu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah studi kasus dan metode pengambilan sampel adalah purposive sampling. Warung Tegal dapat menjadi salah satu solusi yang dapat bertahan dan bersaing dalam ekonomi kota. Ini membuktikan bahwa Warung Tegal dapat memberikan kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat Tegal. Dapat dilihat bahwa ada banyak warteg dengan persistensi, kerja sama timbal balik, dan modal sosial yang tinggi antara penjual warteg memberikan kekuatan untuk satu sama lain untuk tinggal di kota. Meskipun mereka hidup dalam jangka panjang di Jakarta, tetapi mereka tidak melupakan kampung halaman mereka. Aplusan adalah kesempatan bagi mereka untuk kembali ke kampung halaman mereka. Tegal yang dilihat sebagai desa dan Jakarta sebagai kota besar dapat membuat ikatan yang kuat di antara mereka. Kesimpulannya adalah Warung Tegal sebagai sektor informal memberikan sudut pandang yang berbeda dari kota, bukan hanya kota yang penuh kemewahan tetapi kota yang melihat melalui sektor informal sebagai zona penyangga ekonomi.Kata Kunci: Kota, sektor informal, modal sosial, desa, warung tegal
PEMBINAAN KENAKALAN ANAK OLEH YAYASAN SINAI DI SUKOHARJO Agustin Fatikasari; Supriyadi Supriyadi
Journal of Development and Social Change Vol 2, No 1 (2019): Volume 2 no. 1 April 2019
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v2i1.41658

Abstract

Juvenile delinquency is getting more worrying in both developed and developing countries over times. Juvenile delinquency is also a problem with which any family often complains. One of attempts to be taken to deal with juvenile delinquency is to conduct rehabilitation or mentoring. This research aimed to analyze the type of juvenile delinquency and its cause, to find out the form of building and the factors supporting and inhibiting the mentoring. This research employed Max Weber’s Social Action theory. This qualitative research with case study was conducted in Sukoharjo. The sampling technique employed was purposive sampling technique. The informant of research consists of Chairperson and Mentors of Children in SINAI Foundation of Sukoharjo, and children who have ever committed delinquency and live in SINAI Foundation. Data was collected through observation, in-depth interview, and documentation. To validate the data, source triangulation was used. Technique of analyzing data used was Miles and Huberman’s interactive analysis model. The result of research showed that type of delinquency committed by children residing SINAI Foundation is non-conform action including escaping from home or foundation and playing truant, and antisocial or asocial action including not paying transportation ticket or cost when going by public transportation and large vehicles crossing the road. The cause of delinquency committed by children residing SINAI Foundation included internal and external factors. Internal factor included wish coming from inside. External factor included family environment, economic condition, and friendship environment. The form of children mentoring conducted by SINAI foundation included mental spiritual building, skill building, and discipline building. The factor supporting the mentor was a belief inside assuming that mentoring the needy children was the form of worship to God and that fellow human beings should help each other. Meanwhile the factors supporting the child to attend the mentoring were the presence of complete and feasible facilities for residence and the fulfilled daily need, the access to education and the presence of friends or relatives living there. The factor inhibiting the Mentor included queer SINAI Foundation resident’s queer behavior and sometimes accident occurring during mentoring or treatment. The factor inhibiting the children attending the mentoring was the Mentor’s resoluteness making them sometimes upset and longing for seeing their parents.
POLA PEMBENTUKAN PADA PERILAKU TOLERANSI BERAGAMA ANAK (Studi Kasus di LKSA Nur Hidayah Kecamatan Laweyan Kota Surakarta) Fathiana Vellayati; Rahesli Humsona
Journal of Development and Social Change Vol 3, No 1 (2020): Volume 3 no. 1 April 2020
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v3i1.41676

Abstract

This study aims to determine the formation of Nur Hidayah LKSA in fostering religious tolerance in children in the community. The theory used in this study is the social practice of Pierre Bourdieu, the formula of social parktik theory is (habitus + capital) x realm. This research is a type of qualitative research with a case study approach. Data collection techniques used are (1) non-participatory observation techniques, namely data collection through nonverbal observations (2) unstructured interview techniques, asking questions jumping from time to time or from one topic to another topic (Slamet, 2006), (3) documentation study, which documented the results of interviews and then made an interview transcript of the recordings and personal notes during the study. The sampling technique in this study used a purposive sample. Data validity uses source triangulation to compare data. Data analysis techniques consist of three activities that occur simultaneously, namely: data reduction, data presentation, drawing conclusions.This study shows that (1) the concept of habitus can be seen through LKSA Nur Hidayah provides the formation of religious tolerance in children given through studies twice a week besides LKSA Nur Hidayah teaches about religious and social life, (2) social capital undertaken LKSA Nur Hidayah can give birth to an open attitude and accept differences, peace and tolerate the inconveniences of life. That is because between the community and LKSA Nur Hidayah trust each other, running the norms that apply in the community. LKSA Nur Hidayah frees her foster children to make friends with anyone, but still maintains her own faith and is not influenced by others, (3) cultural capital that is realized is the community invites orphanage children to mutual cooperation and children join mutual cooperation with the community, ( 4) Symbolic capital is a palebelan or assessment of others, a pretty good citizen education and has a modern mindset so that tolerance can be created between Nur Hidayah LKSA and the community, (5) economic capital is closely related to finance, the obligation of Nur Hidayah LKSA is to finance foster children's schooling and paying caregivers and holding social services.
Pandemic of Covid-19 in Indonesia : Social Politics Perspective Shindy Diah Ayu Lestari
Journal of Development and Social Change Vol 4, No 1 (2021): Volume 4 no. 1 April 2021
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v4i1.44502

Abstract

In the second half of the twentieth century, global security issues have quickly transformed into what is defined nowadays as non-traditional security issues, such as the recent Covid-19 pandemic which impacted the whole world. It has changed the paradigm of life in almost every sector including sensitive matters such as religious activities that have been mentioned as a human right previously.  Different cultural backgrounds means that the current circumstances cannot be handled the same way for every country. Eastern countries with their high social interactions caused faster initial spreading mostly from the mobilization. Specific matter like “mudik” during pandemic that happened near Ramadhan is another challenging issue for Indonesia, as the highest populated Moslem country. Using the problems arising from the progression of pandemic in Indonesia, the present work aim to assess the major difficulties faced by the country in order to establish a set of short and long term plans that should be addressed to improve the preparedness against such pandemics and correct the current flaws that created difficulties to develop an optimal response. Governmental decisions should be quick, clear and follow a solid strategy to ensure the population is aware that the cases are continuing to increase and apply the effects of the social distancing measures that have been put in place. Not only healthcare, but economic, social and political issues need to be planned  during and after pandemic to build solid and better foundations for future development of the Republic of Indonesia.
Pemaknaan Simbolis Tradisi Kupat Syawalan di Desa Jimbung Kabupaten Klaten Ovy Novakarti; Hartmantyo Pradigto Utomo
Journal of Development and Social Change Vol 4, No 2 (2021): Volume 4 no. 2 Oktober 2021
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v4i2.55276

Abstract

Jurnal ini mengeksplorasi pemaknaan simbolis warga Jimbung tentang Kupat Syawalan. Eksplorasi difokuskan pada ketupat sebagai significant symbol melalui empat peristiwa, yaitu gunungan ketupat, pembagian ketupat, pembuatan ketupat, dan lomba makan ketupat. Eksplorasi bertujuan untuk memahami ragam pemaknaan (meaning) Kupat Syawalan sebagai bentuk interaksi personal dengan nilai-nilai sosial dalam sebuah tradisi. Jurnal ini menerapkan tiga elemen perspektif psikologi sosial George Herbert Mead: significant symbol, meaning dan social self. Serta mengaplikasikan desain metode studi kasus single-case untuk memahami secara holistik situasi dan kondisi nilai-nilai sosial Kupat Syawalan. Terdapat dua temuan dari eksplorasi pemaknaan simbolis warga Jimbung. Pertama, pemaknaan simbolis melalui glorifikasi dan popularisasi dari tradisi Kirab dalam Kupat Syawalan yang memiliki orientasi eksternal bagi penonton. Kedua, pemaknaan simbolis yang didasarkan pada solidaritas dari tradisi non-Kirab sebagai orientasi internal antar warga. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tradisi Kupat Syawalan dimaknai secara dinamis oleh warga Jimbung dengan merujuk pada keragaman impuls sosial melalui pemaknaan personal sebagai respons terhadap struktur nilai-nilai sosial (social self).

Page 6 of 10 | Total Record : 94