cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
LANGUAGE: Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra
ISSN : 28072316     EISSN : 28071670     DOI : https://doi.org/10.51878/language.v1i2.659
Core Subject : Education, Social,
LANGUAGE: Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Innovation contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Language and Literature Education
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 3 (2024)" : 5 Documents clear
STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA: STUDI DI MTs BUSTANUL ULUM JAYASAKTI MAULIDIN, SYARIF
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v4i3.4390

Abstract

This study aims to analyze the implementation of Indonesian language learning strategies at MTs Bustanul Ulum Jayasakti, focusing on communicative approaches, the use of media technology, and project-based learning. The research method employed is qualitative descriptive with data collection through interviews, observations, and documentation. The results show that these learning strategies have a positive impact on students' speaking and writing skills, although there are challenges such as differences in students' self-confidence, limited technological facilities, and time constraints for completing projects. The use of technology and project-based learning enhances student participation but requires adjustments in time management and facilities. The conclusion of this study emphasizes the importance of improving supporting facilities, better time structuring, and giving special attention to students who have difficulty participating actively. This research provides prospects for further development in the application of technology in learning and the importance of external support in the success of Indonesian language learning. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan strategi pembelajaran Bahasa Indonesia di MTs Bustanul Ulum Jayasakti, dengan fokus pada pendekatan komunikatif, pemanfaatan media teknologi, dan pembelajaran berbasis proyek. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi pembelajaran tersebut memberikan dampak positif terhadap keterampilan berbicara dan menulis siswa, meskipun terdapat kendala seperti perbedaan tingkat percaya diri antar siswa, keterbatasan fasilitas teknologi, dan waktu yang terbatas untuk menyelesaikan proyek. Pembelajaran berbasis teknologi dan proyek meningkatkan partisipasi siswa, tetapi membutuhkan penyesuaian dalam pengelolaan waktu dan fasilitas. Simpulan dari penelitian ini adalah pentingnya peningkatan fasilitas pendukung, waktu yang lebih terstruktur, dan perhatian khusus terhadap siswa yang kesulitan dalam berpartisipasi secara aktif. Penelitian ini memberikan prospek untuk pengembangan lebih lanjut mengenai penerapan teknologi dalam pembelajaran dan pentingnya dukungan eksternal dalam kesuksesan pembelajaran Bahasa Indonesia.
INTEGRASI NILAI KEPEDULIAN SOSIAL DALAM PEMBELAJARAN SASTRA Taufiqi, Achmad Rizal; Subandiyah, Heny; Fanani, Urip Zaenal
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v4i3.5153

Abstract

ABSTRACT Literature learning has great potential to build students' character, especially in instilling the value of social care. This value involves awareness of social conditions and concrete actions to support the common welfare. This research aims to explore strategies for integrating the value of social care in literature learning. Using the literature study method, this research analyzes various relevant theories, concepts, and practices related to integrating social values through literature. The results show that literature can be an effective medium to instill the value of social care, especially through works that raise the themes of justice, solidarity, and life struggles. Integration strategies can be carried out through the selection of relevant literary works, critical analysis of content and moral messages, group discussions, and social literacy projects that involve students in understanding and responding to social issues. This finding confirms that literature learning does not only function as a means of developing aesthetics and language skills, but also as an instrument of character education that can shape young people who are empathetic and care about their environment. Therefore, a more structured and collaborative approach is needed to optimize the role of literature in building social awareness through education. ABSTRAK Pembelajaran sastra memiliki potensi besar untuk membangun karakter peserta didik, khususnya dalam menanamkan nilai kepedulian sosial. Nilai ini melibatkan kesadaran terhadap kondisi sosial dan tindakan konkret untuk mendukung kesejahteraan bersama. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi integrasi nilai kepedulian sosial dalam pembelajaran sastra. Menggunakan metode kualitatif studi kepustakaan, penelitian ini menganalisis berbagai teori, konsep, dan praktik yang relevan terkait pengintegrasian nilai-nilai sosial melalui sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sastra mampu menjadi medium yang efektif untuk menanamkan nilai kepedulian sosial, terutama melalui karya-karya yang mengangkat tema keadilan, solidaritas, dan perjuangan hidup. Strategi integrasi dapat dilakukan melalui pemilihan karya sastra yang relevan, analisis kritis terhadap isi dan pesan moral, diskusi kelompok, serta proyek literasi sosial yang melibatkan peserta didik dalam memahami dan merespons isu-isu sosial. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran sastra tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengembangan estetika dan keterampilan berbahasa, tetapi juga sebagai instrumen pendidikan karakter yang dapat membentuk generasi muda yang empatik dan peduli terhadap lingkungannya. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih terstruktur dan kolaboratif untuk mengoptimalkan peran sastra dalam membangun kepedulian sosial melalui pendidikan.
TOXIC MASCULINITY TOKOH RAMA DALAM FILM PENYALIN CAHAYA; PERSPEKTIF TERRY A KUPERS Faisol, M.; Ahmadi, Anas
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v4i3.5154

Abstract

ABSTRACT This study aims to examine the representation of toxic masculinity in the character Rama in the film Penyalin Cahaya (Photocopier, 2021) directed by Wregas Bhanuteja, using a literary psychology approach through the theory of Terry A. Kupers. The film presents various social issues, including sexual violence, power manipulation, and emotional repression within a university setting. This research employs a descriptive qualitative method with content analysis and literature study techniques, focusing on scenes, dialogues, and social relations involving the character Rama as the main object. The findings reveal that Rama embodies multiple aspects of toxic masculinity, such as emotional armoring, fragile self-esteem, competitive masculine culture, objectification of women, displaced aggression, fear of intimacy, and failure to redefine power. Through Kupers’ framework, it is evident that Rama’s behavior is not merely individual, but a reflection of patriarchal structures that demand men suppress emotions and assert dominance. This study concludes that Penyalin Cahaya not only critiques sexual violence but also invites critical reflection on how patriarchal culture shapes men into both agents of domination and victims of toxic constructions of masculinity. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji representasi toxic masculinity pada tokoh Rama dalam film Penyalin Cahaya (2021) karya Wregas Bhanuteja, dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra melalui teori Terry A. Kupers. Film ini menampilkan berbagai isu sosial, termasuk kekerasan seksual, manipulasi kekuasaan, dan represi emosional dalam lingkungan kampus. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi dan studi pustaka, yang difokuskan pada adegan, dialog, dan relasi sosial tokoh Rama sebagai objek utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rama merepresentasikan berbagai aspek maskulinitas toksik seperti emotional armoring, harga diri rapuh, budaya kompetisi, objektifikasi perempuan, pengalihan kekerasan, ketakutan akan intimasi, serta kegagalan dalam melakukan redefinisi kekuasaan. Melalui teori Kupers, ditemukan bahwa perilaku Rama bukanlah sekadar tindakan individual, melainkan cerminan dari struktur patriarkal yang menuntut laki-laki untuk menekan emosi dan mempertahankan dominasi. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa Penyalin Cahaya tidak hanya menyajikan kritik atas kekerasan seksual, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang bagaimana budaya patriarkal membentuk laki-laki menjadi pelaku dominasi sekaligus korban dari konstruksi maskulinitas yang toksik.
KONSEP WAHDATU SYUHUD MENURUT MUHAMMAD SAID RAMADHAN AL BUTHI DALAM SURAH AN NUR AYAT 35 Harahap, Raja Halomoan Sahilun
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v4i3.5156

Abstract

ABSTRACT The essence of tauhid, or the oneness of God, is reflected in human awareness of Allah’s omnipotence experienced through everyday life, which shapes deep faith and love. This awareness leads humans to constantly remember and feel Allah’s presence in their hearts, bringing peace and tranquility in life and death. This essence forms the core of dhikr and the concept of Wahdatu Syuhud as the true meaning of tauhid. This study employs a library research method with a qualitative approach, utilizing primary and secondary sources collected through literature review and documentation. The data are analyzed descriptively and analytically to produce systematic and valid insights. The results reveal three types of humans based on their awareness and belief in divinity. First, those who believe in God based on suggestion and information without critical observation. Second, those who focus on scientific discoveries without acknowledging the existence of God, often driven by egoism and personal interests. Third, those who balance scientific knowledge with religious faith, recognizing their limitations as creations of Allah and making this belief the foundation of their life and worship. The third type is considered the best because they harmoniously integrate reason and heart, making them worthy leaders and caretakers of the universe. ABSTRAK Hakikat tauhid atau pengesaan Tuhan tercermin dalam kesadaran manusia terhadap kemahakuasaan Allah yang dirasakan melalui pengalaman sehari-hari, sehingga membentuk keyakinan dan kecintaan yang mendalam. Kesadaran ini menjadikan manusia selalu mengingat dan merasakan kehadiran Allah dalam hati, yang membawa ketenangan dan ketentraman dalam hidup dan mati. Esensi ini menjadi inti dari zikir dan konsep Wahdatu Syuhud sebagai hakikat tauhid. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, memanfaatkan sumber primer dan sekunder yang dikumpulkan melalui studi pustaka dan dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif dan analitis untuk menghasilkan pemahaman sistematis dan valid. Hasil penelitian mengungkap tiga tipe manusia berdasarkan tingkat kesadaran dan keyakinannya terhadap ketuhanan. Pertama, manusia yang percaya pada ketuhanan berdasarkan sugesti dan informasi tanpa pengamatan kritis. Kedua, manusia yang fokus pada penemuan ilmiah tanpa mengakui keberadaan Tuhan, sering kali didasari egoisme dan kepentingan pribadi. Ketiga, manusia yang mampu menyeimbangkan ilmu pengetahuan dengan keyakinan religius, mengakui keterbatasan diri sebagai ciptaan Allah dan menjadikan keyakinan tersebut sebagai landasan hidup dan pengabdian. Tipe ketiga ini dianggap sebagai manusia terbaik karena mampu memadukan akal dan hati secara harmonis, sehingga layak menjadi pemimpin dan pengelola alam.
RELASI SEMANTIK PARADIGMATIS KOSAKATA DHAPUR KERIS JAWA KOLEKSI PAGUYUBAN MEGALAMAT TUBAN Servianto, Sheril Galih; Adipitoyo, Sugeng; Wahyudi3, Ahmad Rizky
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v4i3.5158

Abstract

ABSTRACT The vocabulary in the domain of traditional Javanese weapons, specifically dhapur or the form of a keris, is part of a distinctive and structured local knowledge system. This study aims to describe the paradigmatic semantic relations among the vocabulary of dhapur keris from the Paguyuban Megalamat Tuban collection and to explain the hyponym-hypernym structures formed within it. A qualitative-descriptive approach was employed, with data collected through direct observation of keris collections and terminology documentation from the community. A total of 34 dhapur keris terms were compiled, consisting of 13 straight keris forms and 21 luk (curved) forms. The data were analyzed using paradigmatic semantic relation theory and componential analysis to uncover the semantic relationships among the vocabulary within one lexical field. Dhapur vocabulary was mapped as a hypernym that encompasses keris shape terms as hyponyms. Each hyponym occupies a more specific semantic position within the lexical hierarchy. The results reveal a fixed, systematic, and exclusive semantic structure in the cultural context of Javanese keris. This study concludes that dhapur vocabulary reflects the conceptual system of Javanese society and holds potential for further development in cultural linguistic studies and the preservation of traditional terminology. ABSTRAK Kosakata dalam ranah senjata tajam tradisional Jawa, khususnya dhapur atau bentuk keris, merupakan bagian dari sistem pengetahuan lokal yang bersifat khas dan terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan relasi semantik paradigmatis antara kosakata dhapur keris Jawa koleksi Paguyuban Megalamat Tuban dan menjelaskan struktur hiponim-hipernim yang terbentuk di dalamnya. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung terhadap koleksi keris serta pencatatan kosakata berdasarkan dokumentasi paguyuban. Sebanyak 34 kosakata dhapur keris berhasil dihimpun, terdiri dari 13 bentuk keris lurus dan 21 bentuk keris luk. Data dianalisis dengan teori relasi semantik paradigmatis dan analisis komponen makna untuk mengungkap hubungan makna antar kosakata dalam satu medan leksikal. Kosakata dhapur dipetakan sebagai hipernim yang menaungi kosakata-kosakata bentuk keris sebagai hiponim. Setiap hiponim menempati posisi makna yang lebih spesifik dalam hierarki sistem leksikal. Hasil penelitian menunjukkan adanya struktur makna yang tetap, sistematis, dan eksklusif dalam konteks budaya keris Jawa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kosakata dhapur mencerminkan sistem konseptual masyarakat Jawa yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut dalam kajian linguistik budaya dan pelestarian terminologi tradisional.

Page 1 of 1 | Total Record : 5