cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285722923393
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Prodi Pengembangan Kurikulum, Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : -
curriculum development; curriculum design; curriculum implementation; curriculum evaluation; instructional development; model of instructional; media of instructional; evaluation of instructional
Articles 295 Documents
Inovasi Pembelajaran Sebagai Upaya Menyelesaikan Problematika Pendidikan Indonesia Anggun Apriliani Zahra Rosyiddin; Riche Cynthia Johan; Dadi Mulyadi
Inovasi Kurikulum Vol 19, No 1 (2022): Inovasi Kurikulum, February 2022
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v19i1.42679

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui problematika pendidikan yang ada di Indonesia selama pandemi COVID-19. Penelitian ini juga ditujukan untuk mengetahui peran inovasi pembelajaran sebagai upaya menyelesaikan problematika pendidikan Indonesia di tengah pandemi COVID-19. Tujuan penelitian ini didasarkan pada segala perubahan semenjak mewabahnya virus COVID-19 yang menyebabkan perubahan pada tatanan sosial dan memberi pengaruh di segala bidang kehidupan, salah satunya bidang pendidikan. Dengan inovasi pembelajaran, problematika pendidikan Indonesia di tengah pandemi COVID-19 dapat teratasi meski tidak sepenuhnya terselesaikan. Namun demikian, diharapkan inovasi pembelajaran dapat berperan baik dalam upaya penyelesaian pendidikan di Indonesia. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa inovasi pembelajaran dapat berperan baik dalam upaya menyelesaikan segala permasalahan pendidikan Indonesia di tengah pandemi COVID-19.Kata Kunci: Inovasi, Pembelajaran, Problematika Pendidikan, Pandemi COVID-19 AbstractThis research was conducted to find out the problems of education in Indonesia during the COVID-19 pandemic. This research is also intended to determine the role of learning innovation as an effort to solve the problems of Indonesian education in the midst of the COVID-19 pandemic. The purpose of this research is based on all the changes since the outbreak of the COVID-19 virus which has caused changes in the social order and has an impact in all areas of life, one of which is in the field of education. With learning innovations, the problems of Indonesian education in the midst of the COVID-19 pandemic will be resolved, although not completely resolved. However, it is hoped that learning innovation can play a good role in efforts to complete education in Indonesia. The method used in this research is a literature study method with a qualitative approach. The results of this study state that learning innovation can play a good role in efforts to solve all Indonesian education problems in the midst of the COVID-19 pandemic.
Model Implementasi Kurikulum Ornstein dan Hunkins: (Modernisme dan Postmodernisme) La Ode Muhammad Safarudin; R. Rusman
Inovasi Kurikulum Vol 18, No 2 (2021): Inovasi Kurikulum, August 2021
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v18i2.36396

Abstract

Model Implementasi Kurikulum Ornstein dan Hunkins: (Modernisme dan Postmodernisme). Implementasi kurikulum adalah realisasi terhadap perencanaan kurikulum yang telah dibuat sebelumnya. Dalam melaksanakan kurikulum, segala macam ide harus dikonseptualisasikan dan diarahkan. Dalam menentukan arah penerapannya, kurikulum memerlukan model-model yang nantinya dapat dijadikan acuan, pedoman atau arahan bagi pergerakan kurikulum ke depan. Allan C. Ornstein dan Francis P. Hunkins dalam bukunya “Curriculum: Foundation, Princiles, and Issues”, edisi ke-7, memaparkan model-model penerapan kurikulum, yang dibagi menjadi dua kategori model, yaitu model yang beraliran modernis dan model beraliran postmodernis. Dalam artikel ini, peneliti akan melihat sejauh mana perbedaan antara kedua jenis kategori model tersebut, dan apa implikasinya bagi implementasi kurikulum di Indonesia. Penulis menggunakan metode studi literatur pada artkel ini, yakni tentang model-model implementasi kurikulum modernisme dan juga postmodernisme. Temuan dalam penelitian ini yaitu terdapat perbedaan di antara model model-model implementasi kurikulum tersebut (aliran modernisme dan aliran postmodernisme), dan juga model-model implemntasi kurikulum tersebut memberikan pengaruh terhadap perjalanan kurikulum di Indonesia.Kata kunci: Model Implementasi Kurikulum Ornstein-Hunkins, Modernisme, Postmodernisme Ornstein and Hunkins Curriculum Implementation Model: (Modernism and Postmodernism). Curriculum implementation is the implementation of the curriculum that has been planned. In implementing the curriculum, all kinds of ideas must be conceptualized and directed. In determining the direction of its application, the curriculum requires models that can later be used as references, guidelines or directions for future curriculum movements. Allan C. Ornstein and Francis P. Hunkins in their book "Curriculum: Foundation, Princiles, and Issues", 7th edition, describe curriculum implementation models, which are divided into two categories of models, namely modernist models and postmodernist models. . In this article, the researcher will look at the extent of the differences between the two types of model categories, and what the implications are for curriculum implementation in Indonesia. The writer used literature study method in this article about models of curriculum implementation of modernism and postmodernism. The findings in this study are that there are differences between the models of curriculum implementation (modernism and postmodernism), and also that these curriculum implementation models give an influence on the course of the curriculum in Indonesia.
Pemanfaatan Big Data dalam Lingkup Pendidikan Ghany Al-Fikri Hergiansa; Shelma Santa Widuri; Angga Hadiapurwa
Inovasi Kurikulum Vol 17, No 2 (2020): Inovasi Kurikulum, August 2020
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v17i2.42928

Abstract

Perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan semakin meningkat. Salah satu perkembangan teknologi yang mulai sering digunakan dalam dunia pendidikan salah satunya adalah Big Data. Seorang pustakawan bernama Fremont Rider yang berasal dari Amerika Serikat tepatnya di Westleyan University pada tahun 1944 telah memperkirakan bahwa volume koleksi universitas di Amerika Serikat tidak akan mencapai 200 juta kopi pada tahun 2040 mendatang. Pada akhirnya, ia memaparkan beberapa isu tentang penggunan data yang cukup besar, kapasitas dalam penyimpanan, dan juga kebutuhan untuk menganalisis data. Pada perkembangan selanjutnya, yaitu pada tahun 1949 seorang ahli matematika dari Amerika Serikat bernama Claude Shannon. Shannon diketahui sebagai ahli teori informasi, Shanon juga berhasil melakukan riset terhadap item-item dengan contoh data fotografi dan punch cards. Peneliatian yang telah berhasil dilakukan oleh Shanon bisa dilihat adalah sebuah item paling besar yaitu The Library of Congress yang mempunyai ukuran 100 teriliun lebih besar dari bit data. Big Data disebutkan kali pertama mulai tahun 1997 oleh Michael Cox yang merupakan peneliti dan rekannya didalam sebuah artikel berjudul Application-controlled demand paging for out-of-core visualization.Kata Kunci: Big Data; Pendidikan; Teknologi. AbstractThe development of technology in the world of education is increasing. One of the technological developments that are often used in the world of education, one of which is Big Data. A librarian named Fremont Rider who came from the United States at Westleyan University in 1944 had estimated that the volume of university collections in the United States would not reach 200 million copies in 2040. In the end, he raised several issues regarding the use of large amounts of data, capacity in storage, and also the need to analyze data. In further developments, namely in 1949 a mathematician from the United States named Claude Shannon. Shannon is known as an information theorist, Shannon has also succeeded in conducting research on items with examples of photographic data and punch cards. The research that has been successfully carried out by Shanon can be seen that the largest item is The Library of Congress which has a size of 100 larger than data bits. Big Data was first mentioned in 1997 by Michael Cox who is a researcher and colleagues in an article entitled Application-controlled demand paging for out-of-core visualization.
Evaluasi kurikulum darurat dalam Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di SDIT-Al’arabi N. Nurlatifah
Inovasi Kurikulum Vol 19, No 2 (2022): Inovasi Kurikulum, August 2022
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v19i2.44227

Abstract

The uneven quality of education in each region is one of the problems in implementing PJJ. It is feared that it will cause the learning process to be ineffective (learning loss). As the number of COVID-19 spreads began to decrease, the government issued a policy of four ministers related to regulations for implementing limited face-to-face meetings with predetermined requirements. The combination of the implementation of the emergency curriculum and the little face-to-face meeting process is expected to minimize learning loss and as a means for the education recovery process. The purpose of writing this article is to (1) find out how the implementation of the emergency curriculum at SDIT Al-'Arabi in terms of planning, implementation, and evaluation; (2) know the obstacles and supporting factors in implementing the emergency curriculum. The research method is qualitative, with data collection through observation and interviews. The research results in planning the emergency curriculum show that teachers simplify KI/KD and adjust lesson plans to the predetermined time allocation. The implementation of learning in the PTMT period is set by shifting or rotating students, and students are evaluated on cognitive, affective, and psychomotor aspects. AbstrakBelum meratanya kualitas pendidikan di setiap daerah menjadi salah satu problematika dalam penyelenggaraan PJJ. Hal tersebut dikhawatirkan akan menyebabkan tidak efektifnya proses pembelajaran (learning loss). Seiring mulai menurunnya angka penyebaran Covid-19, pemerintah mengeluarkan kebijakan empat menteri terkait peraturan diberlakukannya pertemuan tatap muka terbatas dengan persyaratan yang telah ditentukan. Perpaduan antara implementasi kurikulum darurat dan proses pertemuan tatap muka terbatas diharapkan dapat meminimalisir terjadinya learning loss dan juga sebagai sarana untuk proses pemulihan pendidikan. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk: (1) mengetahui bagaimana implementasi kurikulum darurat di SDIT Al-‘Arabi ditinjau dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi; (2) mengetahui hambatan dan faktor pendukung dalam implementasi kurikulum darurat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian dalam perencanaan kurikulum darurat guru melakukan penyederhanaan KI/KD serta pembuatan RPP yang disesuaikan dengan alokasi waktu yang telah ditentukan. Pelaksanaan pembelajaran di masa PTMT siswa di-setting secara shifting atau rotasi, dan evaluasi pada siswa dilakukan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.Kata Kunci: Kurikulum darurat; learning loss; PTMT
Fungsi Manajemen Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Sri Mariam; Dadang Sukirman
Inovasi Kurikulum Vol 18, No 2 (2021): Inovasi Kurikulum, August 2021
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v18i2.36457

Abstract

Pendidikan PAUD ialah pembelajaran berupa bimbingan serta pengetahuan dasar sesuai dengan tingkatan perkembangannya. Dalam proses pembelajaran nya dibutuhkan fungsi manajemen kurikulum yang dilaksanakan secara khusus. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji fungsi manajemen kurikulum yang dilaksanakan di TK. Penelitian ini berangkat dari suatu kasus dalam manajemen kurikulum yakni kurangnya kualifikasi pendidik yang profesional, ketersediaan sarana prasarana, kepala sekolah yang tidak kompeten dalam merumuskan kurikulum dan lain sebagainya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Pengumpulan data berbentuk wawancara serta observasi dan literatur semacam buku, jurnal dari sumber terpercaya. Dalam perencanaan kurikulum Kepala Sekolah dan tenaga kependidikan menyusun tujuan serta kegiatan yang akan dilaksanakan. Muatan pembelajaran meliput nilai agama dan moral, kalimat pujian, sifat Tuhan dan ciptaan-ciptaan-NYA, membiasakan pengenalan benda-benda baru, lingkungan baru dan pembiasaan bertanya, pengenalan anggota tubuh, kebersihan dan makanan bergizi, menyapa guru, berani mengemukakan pendapat. Kegiatan pembelajaran berupa pembelajaran di kelas dan lingkungan. Pengawasan dan evaluasi dilakukan pada proses melaksanakan kurikulum baik ranah sekolah maupun tingkat kelas, sarana prasarana dan evaluasi hasil belajar peserta didik.Kata Kunci : Manajemen Kurikulum, Pendidikan Anak Usia Dini, Taman Kanak-Kanak PAUD education is learning in the form of guidance and basic knowledge according to the level of development. In the learning process, a curriculum management function is needed that is carried out specifically. This article aims to examine the functions of curriculum management implemented in kindergartens. This research departs from a case in curriculum management, namely the lack of professional educator qualifications, the availability of infrastructure, incompetent school principals in formulating curriculum and so on. The study used a qualitative approach and descriptive method. Data collection is in the form of interviews and observations and literature such as books, journals from trusted sources. In planning the curriculum, the principal and education staff prepare goals and activities to be carried out. The learning content includes religious and moral values, sentences of praise, the nature of God and His creations, getting used to the introduction of new objects, new environments and habituation to ask questions, introduction of body parts, cleanliness and nutritious food, greeting teachers, daring to express opinions. Learning activities in the form of learning in the classroom and the environment. Supervision and evaluation is carried out in the process of implementing the curriculum, both at the school and class level, infrastructure facilities and evaluating student learning outcomes.
Pengaruh pembelajaran Bilingual terhadap motivasi belajar siswa kelas rendah Ahmad Baihaqi; Ariga Bahrodin
Inovasi Kurikulum Vol 19, No 2 (2022): Inovasi Kurikulum, August 2022
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v19i2.44105

Abstract

The bilingual learning method is a learning method that uses two languages to deliver curriculum material, with the aim of developing students' competence in foreign languages. Based on observations so far at MI Islamiyah Al-Wathaniyah Mojoanyar with Jombang, the bilingual learning method has been applied for approximately four years. From here, researchers are interested in the effect of bilingual learning methods at MI Islamiyah Al-Wathaniyah Mojoanyar Bareng Jombang on students' learning motivation. This study aims to determine the impact of bilingual learning on students' learning motivation at the school. This research is included in quantitative analysis using ex post facto research. The data was obtained as ordinal data from a questionnaire compiled using a Likert scale. The sample of this study was 34 students, taken randomly using the probability sampling technique from a total population of 170 students in grades 1, 2, and 3 of the bilingual programs. To test the hypothesis, the researcher used the Spearman rank correlation test. The results of this study conclude that bilingual learning affects students' learning motivation at MI Islamiyah Al-Wathaniyah Mojoanyar Bareng Jombang, with a significance value of 0.001 smaller than 0.05. The level of correlation is high and has a positive direction with a correlation coefficient of 0.553. It can be concluded that the more maximally bilingual learning is carried out, the greater the students' motivation to learn. AbstrakMetode pembelajaran bilingual merupakan metode pembelajaran yang menggunakan dua bahasa untuk menyampaikan materi kurikulum, dengan tujuan mengembangkan kompetensi siswa dalam berbahasa asing. Berdasarkan pengamatan selama ini di MI Islamiyah Al-Wathaniyah Mojoanyar Bareng Jombang, metode pembelajaran bilingual sudah diterapkan kurang lebih selama 4 tahun. Dari sinilah, sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh penerapan metode pembelajaran bilingual di MI Islamiyah Al-Wathaniyah Mojoanyar Bareng Jombang terhadap motivasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran bilingual terhadap motivasi belajar siswa di sekolah tersebut. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif dengan menggunakan jenis penelitian ex post facto. Data yang diperoleh berupa data ordinal, diambil dari angket yang disusun menggunakan skala likert. Sampel penelitian ini berjumlah 34 siswa, diambil secara acak menggunakan teknik probability sampling dari total populasi berjumlah 170 siswa kelas 1, 2 dan 3 program bilingual. Untuk menguji hipotesis, peneliti menggunakan uji korelasi rank spearman. Simpulan hasil penelian yaitu terdapat pengaruh pembelajaran bilingual terhadap motivasi belajar siswa di MI Islamiyah Al-Wathaniyah Mojoanyar Bareng Jombang dengan nilai signifikansi 0,001 lebih kecil dari 0,05. Tingkat korelasi pengaruh tinggi dan berarah postif dengan nilai koefisien korelasi berjumlah 0,553. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin maksimal pembelajaran bilingual dilaksanakan maka semakin besar pula motivasi siswa dalam belajar.Kata Kunci: Pembelajaran bilingual; motivasi belajar; sekolah dasar.
Pembuatan Media Pembelajaran dengan Video Based Learning pada Peserta Didik Muhammad Raihan Ramadhan; Nabil Dany Ferdian; Muhammad Rizky Pratama
Inovasi Kurikulum Vol 18, No 1 (2021): Inovasi Kurikulum, February 2021
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v18i1.42676

Abstract

Dalam pelaksanaan pembelajaran di dunia pendidikan, masalah yang dating akan terus terjadi dan harus kita cari solusinya agar dapat diatasi. Permasalahan yang diakibatkan karena kurangnya kejelasan tentang materi yang diajarkan kepada peserta didik. Salah satu solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan media. Media dalam pembelajaran ini merupakan media yang dapat menyalurkan pesan sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar-mengajar pada peserta didik. Adapun jenis dari media pembelajaran diantaranya adalah media visual, media audio, media audiovisual, media berbasis komputer, dan media sederhana. Untuk mengatasi masalah pendidikan terutama pada peserta didik yang memiliki kemampuan belajar visual maupun auditif dapat diatasi dengan menggunakan media video pembelajaran. Video pembelajaran sendiri adalah sebuah media yang dapat menampilkan suatu objek yang bergerak bersamaan dengan suara yang dihasilkan. Dalam pembuatan video pembelajaran terdapat hal-hal yang harus diperhatikan agar sebuah media tersebut layak untuk dapat diberikan kepada peserta didik dari mulai menganalisis kebutuhan dan karakteristik peserta didik, menentukan kompetensi yang akan dicapai, merumuskan butir materi, membuat garis besar pengembangan media, membuat media, evaluasi dan revisi media. Media pembelajaran dengan basis Video learning juga berjalan seiring perkembangan arus zaman yang ada saat ini. Hal tersebut mendukung siswa serta menarik para pengajar untuk mempelajari hal baru demi terlaksananya keefisienan serta keefektifan dalam belajar.Kata Kunci: Media Pembelajaran; Masalah Pendidikan; Video Pembelajaran; Karakteristik Peserta Didik AbstractIn the implementation of learning in the world of education, the problems that come are going to keep coming and we have to figure out the solutions to solve them. The issues that result from the lack of clarity about the material that is taught to the learners. One solution that can be solve the problem by using media. Media in learning, is a medium that can be a channel for the message that can foster the creation of learning to teach to learners. As for the kinds of learning media, they include visual media, audio media, audiovisual media, computer-based media, dan simple media. For education problems, especially in learners with both visual and auditory learning skills, can be overcome by using study videos. The self-study video is a medium that can display an object that moves together with the appropriate sound. In the making of a study video there are matters to take into account so that a medium is worthy to be given to learners from beginning to analyze the needs and characteristics of learners, determining competence to be achieved, formulating material articles, creating media development outlines, creating media, assessing, and revision of media. The instructional media with video-based learning is also runs along with the current of era development. It also support students and attract teachers to learn something new in order to conduct the efficiency and the effectiveness of learning.
Pengaruh Aplikasi Pembelajaran dan Teori Behavioristik terhadap Efektivitas Pembelajaran Siswa Jurusan Keagamaan Muhammad Rizal Al Hafizh; Fauziah Fatah
Inovasi Kurikulum Vol 19, No 1 (2022): Inovasi Kurikulum, February 2022
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v19i1.42874

Abstract

Dalam proses belajar mengajar tentunya seorang pendidik mengharapkan terciptanya pembelajaran yang efektif di mana pembelajaran berjalan sesuai rencana dan tujuan pembelajaran dapat tercapai sebagaimana yang telah di tentukan. Di era digital seperti saat ini penggunaan media pembelajaran dijadikan sebagai salah satu metode yang biasa digunakan pendidik untuk meningkatkan efektivitas serta hasil belajar siswa. Salah satu contoh media pembelajaran yang umum digunakan adalah media pembelajaran berbasis aplikasi mobile learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh aplikasi pembelajaran dan teori behavioristik terhadap efektivitas pembelajaran siswa jurusan keagamaan. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan subjek sebanyak 31 siswa MA jurusan keagamaan dan metode penelitian kepustakaan yang dianalisis dari berbagai sumber yang relevan. Berdasar penelitian yang telah dilakukan dengan menyebarkan angket kepada 31 subjek dan mengumpulkan data-data dari berbagai sumber yang relevan maka, hasil dari penelitian ini ialah terdapat keterkaitan penggunaan aplikasi mobile learning dengan menerapkan teori behavioristik terhadap efektivitas pembelajaran siswa jurusan keagamaan.Kata Kunci: Aplikasi Pembelajaran; Belajar Efektif; Jurusan Keagamaan; Siswa MA ; Teori Behavioristik; AbstractIn the teaching and learning process, an educator will definitely expects the creation of effective learning that goes according to plan and learning objectives can be achieved as determined. In the current digital era, learning media is used as one of the methods commonly used by educators to improve the effectiveness and student learning outcomes. One example of learning media that is commonly used is learning media based on mobile learning applications. This study aims to identify the effect of learning applications and behavioristic theory on the learning effectiveness of students majoring in religion. The method used is a quantitative method with a subject of 31 MA students majoring in religion and library research methods analyzed from various relevant sources. Based on the research that has been done by distributing questionnaires to 31 subjects and collecting data from various relevant sources, the results of this study are that there is a link between the use of mobile learning applications by applying behavioristic theory to the learning effectiveness of students majoring in religion.
Pemanfaatan Model Computer Support Collaborative Learning Anissa Indri Ayuningtias AS; Dinn Wahyudin; Dadang Sukirman
Inovasi Kurikulum Vol 19, No 1 (2022): Inovasi Kurikulum, February 2022
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v19i1.42668

Abstract

Model pembelajaran computer support collaborative learning (CSCL) merupakan sebuah metode pembelajaran yang dinilai dapat lebih memaksimalkan motivasi pembelajaran di perguruan tinggi. Akan tetapi, pada model pembelajaran CSCL masih diperlukan adanya inovasi agar pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat lebih efisien. Tujuan dari penelitin ini adalah untuk melihat pemanfaatan dan efektivitas dari penggunaan model pembelajaran CSCL di perguruan tinggi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan dekriptif dengan pengumpulan data sekunder yakni metode kepustakaan. Penelitian ini akan menjelaskan secara singkat mengenai penerapan model pembelajaran CSCL di perguruan tinggi termasuk di dalamnya dibahas tentang model pembelajaran, model pembelajaran kolaboratif, definisi dan manfaat model pembelajaran CSCL dan pengaruhnya terhadap hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran computer supported collaborative learning dianggap lebih memiliki efek bagi mahasiswa jika dibandingkan dengan model konvensional karena dapat menciptakan suasana kelas yang lebih aktif. Mahasiswa juga dapat melakukan lebih banyak kolaborasi dengan mahasiswa lainnya sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif.Kata Kunci: Pembelajaran Kolaboratif; CSCL; Perguruan Tinggi; AbstractThe computer support collaborative learning (CSCL) learning model is a method that is considered to be able to maximize learning motivation in higher education. However, in the CSCL learning model, innovation is still needed so that the implementation of learning activities can be more efficient. The purpose of this study was to see the utilization and effectiveness of the use of the CSCL learning model in universities. The research method used is a descriptive approach with secondary data collection or literature review method. This study will briefly explain the application of the CSCL learning model in higher education including the learning model, collaborative learning model, definitions and benefits of the CSCL learning model and its effect on learning outcomes. The results showed that the application of the computer supported collaborative learning was considered to have more effect on students when compared to the conventional model because it could create a more active classroom atmosphere. Students can also collaborate more with other students so that the learning process can take place more effectively.
Studi literatur terhadap kurikulum yang berlaku di Indonesia saat pandemi COVID-19 Lenny Sapitri
Inovasi Kurikulum Vol 19, No 2 (2022): Inovasi Kurikulum, August 2022
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v19i2.44229

Abstract

Indonesia has been hit by a pandemic caused by the COVID-19 virus that has spread since 2020. The impact of the COVID-19 pandemic is one of the for Indonesian education to transform the curriculum. The curriculum itself is essential in the world of education, where education is the spearhead of the success of a country. This article aims to describe the curriculum applied in Indonesia during the pandemic in detail and as an additional source of information, insight, and knowledge for educators who are implementers and determinants of the success of curriculum implementation in the field. The research method used is descriptive qualitative through literature study by reviewing books, articles, journals, and other sources of information relevant to the applicable curriculum in Indonesia. This study found that during the pandemic, education units in Indonesia were given the freedom to determine the three existing curricula, namely the 2013 curriculum, the emergency curriculum (simplified 2013 curriculum), and the Kurikulum Merdeka. This freedom is granted so that the education unit is free to determine the curriculum according to the conditions in its school and to provide the government time to conduct socialization and training to teachers, principals, and school supervisors regarding the Kurikulum Merdeka. AbstrakIndonesia dilanda pandemi yang disebabkan oleh virus COVID-19 yang sudah menyebar sejak tahun 2020. Dampak dari adanya pandemi COVID-19 salah satunya bagi pendidikan Indonesia mengalami transformasi kurikulum. Kurikulum sendiri merupakan hal yang sangat esensial dalam dunia pendidikan, dimana pendidikan menjadi ujung tombak kesuksesan dari suatu negara. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan kurikulum yang berlaku di Indonesia saat pandemi secara rinci dan sebagai sumber tambahan informasi, wawasan dan pengetahuan bagi pendidik yang menjadi implementator dan penentu kesuksesan pelaksanaan kurikulum di lapangan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi literature dengan telaah buku, artikel, jurnal, dan sumber informasi lainnya yang relevan dengan kurikulum yang berlaku di Indonesia. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa saat pandemi, satuan pendidikan di Indonesia diberikan kebebasan menentukan tiga kurikulum yang ada yaitu kurikulum 2013, kurikulum darurat (kurikulum 2013 yang disederhanakan) dan kurikulum merdeka belajar. Pemberian kebebasan tersebut diberikan agar satuan pendidikan leluasa dalam menentukan kurikulum yang sesuai dengan kondisi di sekolahnya serta memberikan waktu kepada pemerintah untuk melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah terkait kurikulum merdeka.Kata Kunci: Kurikulum 2013; Kurikulum Darurat; Kurikulum Merdeka; Pandemi COVID-19

Page 7 of 30 | Total Record : 295