cover
Contact Name
Siti Aisyah
Contact Email
siti.aisy@gmail.com
Phone
+6287823177983
Journal Mail Official
edusentris_sps@upi.edu
Editorial Address
Pusat Pengembangan dan Publikasi Karya Ilmiah (P3KI) Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Jalan Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung 40154 Jawa Barat - INDONESIA
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Edusentris: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : 23560703     EISSN : 24422592     DOI : DOI: https://doi.org/10.17509/edusentris
Core Subject : Education,
Edusentris, the Journal of Teaching and Education Studies, is published by Center for Development and Publication of Scientific Work, School of Postgraduate Studies, Universitas Pendidikan Indonesia, on March, July and December. It aims to stimulate research, encourage academic exchange, and enhance the professional development for theoretical and practical purposes of scholars and other researchers who are interested in: educational and instructional issues; teaching; schooling; formal and non-formal education; higher and vocational education; educational policies; life-long education.
Articles 164 Documents
PERSEPSI GURU TAMAN KANAK-KANAK (TK) TERHADAP KEMAMPUAN PERKEMBANGAN KOGNITIF BAHASA SEBAGAI ASPEK PENTING DALAM KESIAPAN BERSEKOLAH ANAK (SCHOOL READINESS) Syifa Rohmati Mashfufah; Rudiyanto Rudiyanto; Aan Listiana
Edusentris Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.603 KB) | DOI: 10.17509/edusentris.v6i3.494

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi guru taman kanak-kanak (TK) mengenai pentingnya kesiapan bersekolah anak (school readiness) dalam aspek perkembangan kognitif bahasa. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain fenomenologi. Partisipan dalam penelitian ini adalah 3 (tiga) orang guru TK. Alat pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan observasi lapangan dan dianalisis menggunakan grounded-theory. Berdasarkan penelitian, ditemukan bahwa guru TK memiliki persepsi bahwa penting untuk anak memiliki kesiapan bersekolah dalam perkembangan kognitif bahasa meliputi kemampuan literasi dasar, minat huruf/angka dan memori, serta keterampilan berhitung dasar. Guru meyakini bahwa kemampuan tersebut dipengaruhi oleh kemampuan mendengar dan berbicara sehingga berdampak pada proses membaca, menulis, dan berhitung. Guru juga percaya bahwa kemampuan kognitif bahasa dapat distimulasi melalui kegiatan permainan, bercerita, dan penataan ruang kelas yang berorientasi pada pengenalan literasi/berhitung.
MODEL PEMBELAJARAN INDIGINASI DALAM IPS UNTUK PENGEMBANGAN WAWASAN MULTIKULTUR MAHASISWA Kokom Komalasari; Bunyamin Maftuh
Edusentris Vol 1, No 1 (2014): Maret
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.232 KB) | DOI: 10.17509/edusentris.v1i1.133

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perlunya pengembangan wawasan multicultural terhadap mahasiswa dalam kegiatan perkuliahan pendidikan IPS pada mata kuliah Kebudayaan Indonesia melalui model pembelajaran indiginasi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Bagaimanakah gambaran konseptual model pembelajaran indiginasi dalam perkuliahan Kebudayaan Indonesia; 2) Bagaimana implementasi model pembelajaran indiginasi dalam perkuliahan Kebudayaan Indonesia; dan 3) Bagaimana pengaruh penerapan model pembelajaran indiginasi terhadap pengembangan wawasan multikultural mahasiswa. Penelitian ini menggunakan desain Research and Development dengan subjek penelitian mahasiswa Program Studi Pendidikan IPS pada mata kuliah Kebudayaan Indonesia tahun akademik 2013/2014. Penelitian ini menemukan bahwa: 1) Konsep pembelajaran indiginasi merupakan strategi untuk menciptakan lingkungan belajar dan merancang pengalaman belajar yang mengintegrasikan budaya asli daerah. Materi perkuliahan berisi kebudayaan etnis/daerah di Indonesia. Media yang digunakan adalah audio visual, model mahasiswa asli daerah, dan pertunjukan budaya daerah, 2) Implementasi pembelajaran indiginasi dilakukan melalui langkah-langkah berikut: a) Perkenalan dan kontrak belajar untuk membangun komitmen “Kelas Berkarakter Multikultur”; b) pembagian kelompok dan penyampaian materi melalui brainstorming dan value clarification, dan analisis nilai; c) Pembelajaran model Indiginasi (group investigation, demonstrasi, modeling, field study, dan analisis nilai budaya); d) melakukan review materi dan refleksi nilai; dan 3) model pembelajaran indiginasi dalam perkuliahan Kebudayaan Indonesia berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan wawasan multikultur mahasiswa sebesar 40,1%.Kata Kunci: Model pembelajaran indiginasi, Pendidikan IPS, wawasan multikultural, pendidikan multikultural.
ONTOLOGI DAN EPISTEMOLOGI KEARIFAN DALAM PENGETAHUAN ORANG-ORANG ARIF DAN IMPLIKASINYA UNTUK BIMBINGAN DAN KONSELING Ridwan Ridwan
Edusentris Vol 1, No 3 (2014): Desember
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.482 KB) | DOI: 10.17509/edusentris.v1i3.149

Abstract

Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui ontologi dan epistemologi kearifan dalam pengetahuan orang-orang arif. Orang arif (‘ârif ) yang dimaksud dibesarkan dalam tradisi Islam (tasawuf) dan berlatar belakang pendidikan pondok pesantren, meskipun kemudian mereka menjadi akademisi dan pejabat pemerintah. Untuk mencapai tujuan dilakukan studi tokoh, melalui wawancara, observasi dan studi dokumen. Tokoh ‘ârif yang distudi meliputi pimpinan pondok pesantren Suryalaya Tasikmalaya, seorang dosen IAIN Walisongo Semarang dan Gubernur NTB. Analisis data dengan reduksi, display data dan menarik simpulan. Hasil studi menunjukkan bahwa tokoh arif memandang kalbu (hati) spiritual sebagai objek kearifan. Tokoh arif pesantren mengetahui bahwa hati memiliki tujuh lapis, dan mengamalkan cara-cara (zikir) untuk meraih kearifan. Sementara arif akademik dan pemerintahan dibaiat oleh tokoh arif pesantren tetapi membahas bahwa kalbu memiliki empat lapis. Mereka juga mengamalkan zikir tertentu untuk mem-berdayakan hati untuk mencapai kearifan. Implikasi temuan studi adalah agar kearifan diwujudkan melalui bimbingan dan konseling dengan alternatif tasawuf akhlaki, yakni tanpa baiat guru. Perlu dikembangkan model bimbingan untuk mengembangkan perilaku arif.Kata kunci: ontologi, epistemologi kearifan, orang arif, bimbingan dan konseling
HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN MEMBACA KRITIS DALAM PEMBELAJARAN PENEMUAN DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA Arief Muttaqiin
Edusentris Vol 2, No 2 (2015): Juli
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.23 KB) | DOI: 10.17509/edusentris.v2i2.165

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara kemampuan membaca kritis bacaan sains yang disisipkan dalam pembelajaran energi di kelas dengan keterampilan berpikir kritis siswa sebagai keterampilan yang dituntut pada abad 21. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional (deskriptif). Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas VII pada salah satu SMP di Kota Cimahi dengan sampel penelitian sebanyak 35 siswa kelas VII tahun pelajaran 2014-2015. Kegiatan membaca kritis disisipkan dalam pembelajaran selama tiga kali pertemuan. Data kemampuan membaca kritis dijaring oleh jawaban siswa melalui pertanyaan dalam bacaan, sedangkan keterampilan berpikir kritis dijaring dengan tes uraian. Kedua data tersebut dianalisis dengan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan membaca kritis dengan kemampuan berpikir kritis siswa pada α=0,05 (sig. 0,047), namun hubungan tersebut berada pada kategori rendah (r=0,339). Dengan demikian, kamampuan membaca kritis perlu dilatihkan atau diterapkan karena memiliki hubungan dengan kemampuan berpikir kritis siswa.Kata-kata kunci: Membaca kritis, berpikir kritis, energi dalam sistem kehidupan ABSTRACT This study aimed to describe the relationship between the ability to read critically scientific readings that are inserted in the energy learning in the classroom with students’ critical thinking skills as the skills required in the 21st century. The method used is correlational research (descriptive). The population in this study was the seventh grade students at one junior high school in Cimahi with a sample of 35 students of class VII 2014-2015 school year. Critical reading activities inserted in the study during three meetings. Data of critical reading ability was captured by the students’ answers from questions in the reading sheet, while critical thinking skills data was enmeshed with the essays question. Both of these data were analyzed by Spearman correlation test. The results showed that there was a significant correlation between critical reading ability with the students’ critical thinking at α = 0.05 (sig. 0.047), but these relations are at a low category (r = 0.339). Thus, critical reading ability need to be trained or applied as it has a relationship with the students’ critical thinking.Key words: Critical Reading, Critical Thinking, Energy in the Life Systems
EFEKTIVITAS KEPEMIMPINAN DI PONDOK PESANTREN Badrud Tamam; Udin Syaefudin Sa'ud
Edusentris Vol 3, No 1 (2016): Maret
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.901 KB) | DOI: 10.17509/edusentris.v3i1.185

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengkaji mengenai efektivitas kepemimpinan dengan menitikberatkan pada aspek pendelegasian wewenang, pengambilan keputusan, dan pengelolaan konflik dalam pengelolaan Pondok Pesantren. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran dan pemahaman yang utuh dan mendalam mengenai pendelegasian wewenang, pengambilan keputusan, dan pengelolaan konflik dalam kepemimpinan di pondok pesantren, serta terumuskannya model kepemimpinan efektif di pondok pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif (naturalistik). Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Wawancara, observasi, dan dokumentasi digunakan sebagai alat pengumpulan data. model interaktif analisis data digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini dengan terdiri dari tiga kegiatan yang reduksi data, display data, dan kesimpulan. Keandalan hasil yang diperoleh dengan empat kriteria yaitu: kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan implementasi kepemimpinan dengan menitikberatkan pada aspek pendelegasian wewenang, pengambilan keputusan, dan pengelolaan konflik di pesantren yang diteliti berjalan tidak efektif. Rekomendasi dari temuan penelitian ini adalah pendelegasian wewenang hendaknya terstruktur dengan baik, melalui aturan-aturan yang jelas. Proses pengambilan keputusan hendaknya mengurangi ketergantungan pada kyai dan dilakukan secara musyawarah dengan kepemimpinan yang bersifat kolektif. Pesantren sebagai organisasi tradisional seyogianya lebih membuka diri sebagai organisasi yang terbuka dan dapat diakses oleh masyarakat. Kata kunci : Efektivitas, Kepemimpinan di Pesantren, Pendelegasian Wewenang, Pengambilan Keputusan, Pengelolaan Konflik ABSTRACTThis study examining leadership effectiveness which emphasizing on delegation of authority, decision making, and conflict management aspects in pondok pesantren management. Research aims are to obtaining description and comprehensive understanding about delegation of authority, decision making, and conflict management aspects in pondok pesantren management; and getting an effective leadership formulation model in pondok pesantren. Qualitative approach was used in this study. Interview, observation, and documentation were used as data collection tools. Interactive model of data analysis was employed to analyze the data in this study with consist of three activities which are data reduction, data display, and conclusion. The reliability of result were obtained with four criteria are: credibility, transferability, dependability, and confirmability. The results of study showed that leadership implementation which emphasizing on delegation of authority, decision making, and conflict management aspects in pesantren Kempek as representation of traditional/salaf pesantren, pesantren Cipasung as semi-modern/trantitional pesantren, and pesantren Darussalam as modern pesantren was implement ineffective. Based on this study findings, the recomendation are: to obtaining an effective leadership, delegation of authority process must be a well structurally system by clearity regulation; decision making process must be enclose depends on kyai (individual figure) and done by deliberation (musyawarah) with collectivelly leadership. Pesantren as traditional organisation must be openned as open organisation and accessable by broad community, so that they able to communicate and contribute positive inputs for educational/learning process development in the pesantren systems. Keyword: Effectiveness, Leadership in Pesantren, Delegation of Authority, Decision Making, Conflict Management
PROGRAM PELATIHAN PENGELOLAAN DIRI (SELF-MANAGEMENT) DENGAN TEKNIK KOGNITIF Ima Ni’mah Chudari
Edusentris Vol 3, No 3 (2016): Desember
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.172 KB) | DOI: 10.17509/edusentris.v3i3.235

Abstract

MENGEMBANGKAN KECERDASAN INTERPERSONAL ANAK USIA DINI MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MAKE A MATCH Ai Tita Puspitasari; Ocih Setiasih; Ernawulan Syaodih
Edusentris Vol 5, No 3 (2018): Desember
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.785 KB) | DOI: 10.17509/edusentris.v5i3.299

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal anak usia dini melalui pembelajaran kooperatif make a match. Subyek penelitian adalah anak-anak Taman Kanak-kanak Islam kelompok B tahun ajaran 2018-2019 yang berjumlah 15 anak. Metode yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas, dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan kecerdasan interpersonal anak yang dilihat dari peningkatan rata-rata persentase dari siklus I sebesar 54,40%, mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 60,33%, dan kembali meningkat pada siklus III menjadi 78,23%. Penelitian ini menggambarkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif make a match dapat mengembangkan kecerdasan interpersonal anak kelompok B Taman Kanak-kanak.
SIKAP RESPONSIF GURU TAMAN KANAK-KANAK TERHADAP PENDIDIKAN MULTIKULTURAL Ghyna Amanda Putri; Vina Adriany; Euis Kurniati
Edusentris VOL 6, NO 2 (2019): JULI
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.77 KB) | DOI: 10.17509/edusentris.v6i2.465

Abstract

Pendidikan multikultural dianggap sebagai salah satu cara untuk menangani pengaruh dari isu negatif keberagaman, terutama pada anak usia dini. Karena itu, sikap responsif guru tentu saja memiliki peran yang penting untuk menyelenggarakan pendidikan multikultural yang sesuai dengan keberagaman anak di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sikap responsif guru Taman Kanak-kanak (TK) terhadap pendidikan multikultural yang dilakukannya. Dengan menggunakan metode kualitatif dan teknik wawancara, data dari tiga orang guru TK berlatar belakang sekolah berbeda dikumpulkan. Dari hasil tersebut, diketahui bahwa guru merespon keberagaman melalui nilai-nilai agama yang dipercayanya. Walau begitu, hal tersebut bertolak belakang dengan konsep pendidikan multikultural karena guru menganggap bahwa menyamakan identitas anak adalah hal yang baik. 
KAJIAN EGOSENTRISME DAN KEILMIAHAN PADA LIRIK LAGU ANAK INDONESIA DAN BARAT Nafisa Ghanima S.
Edusentris Vol 1, No 2 (2014): Juli
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.589 KB) | DOI: 10.17509/edusentris.v1i2.144

Abstract

Perkembangan kultural anak muncul melalui proses interpsikologis—yaitu antara anak dan lingkungan sekitarnya dan intrapsikologis di dalam diri anak tersebut. Proses intrapsikologis tersebut selanjutnya akan menjadi bagian perkembangan kognitif anak. Apa dan bagaimana anak-anak belajar tentang dunia sangat ditentukan oleh alat budaya apa yang mereka pakai. Karya seni dan bahasa adalah salah satu contoh alat budaya menurutVygotsky yang berperan penting dalam perkembangan kognitif anak.Lagu anak—sebagai karya seni bahasa—membawa muatan ekspresif bagi anak-anak untuk mengkonseptualisasikan pikiran mereka.Lagu ‘Topi Saya Bundar’ dan ‘Baa Baa Black Sheep’ mengekspresikan aspek kognitif yang berbeda.‘Topi Saya Bundar’ merupakan perwujudan pembicaraan egosentrisme atau private speech anak sebagai bentuk ketidakmatangan kognitif menurut teori Piaget, sedangkan ‘Baa Baa Black Sheep’ merupakan perwujudan operasi formal yang ilmiah terhadap fenomena alam—dalam hal ini ‘domba’. Piaget dan Vygotsky memiliki pandangan kontradiktif dalam menilai aspek egosentrisme dan dampak sosiokulturalnya pada anak. Melalui ancangan linguistik kognitif, 15 lagu anak Indonesia (era 80an) dan Barat (dari Nursery Rhyme) akan dikaji secara mendalam menggunakan aspek-aspek fungsional wacana dalam analisis wacana (discourse analysis) dari Halliday (Counthard, 1998) untuk menunjukkan adanya muatan egosentrisme dan keilmiahan pada lirik lagu tersebut.Kata Kunci: egosentrisme, lagu anak, nursery rhyme
PENERAPAN PERMAINAN MATEMATIKA KREATIF DALAM MENINGKATKAN NUMBER SENSE ANAK TAMAN KANAK-KANAK Mirawati Mirawati
Edusentris Vol 2, No 1 (2015): Maret
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edusentris.v2i1.160

Abstract

Artikel ini membahas tentang penelitian terkait penerapan permainan matematika kreatif dalam meningkatkan number sense anak taman kanak-kanak. Isu yang melandasi tulisan ini adalah implementasi pembelajaran matematika yang dianggap kurang tepat karena pembelajaran yang diberikan cenderung menggunakan pendekatan akademik dan tidak disesuaikan dengan karakteristik, kebutuhan, serta minat anak sehingga menimbulkan kurangnya kemampuan anak dalam memahami konsep matematika termasuk number sense. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan dengan desain penelitian Kemmis & Taggart dengan subjek penelitian yaitu anak kelompok A di TK Laboratorium Percontohan UPI. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif dengan teknik thematic analysis. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan respon positif yang diberikan oleh anak ketika permainan matematika kreatif dilaksanakan. Kemampuan number sense anak terlihat mengalami peningkatan terutama dalam aspek korespondensi satu ke satu dan menyebutkan serta membandingkan banyak benda. Faktor yang dapat mempengaruhi pelaksanaan permainan matematika kreatif dalam penelitian ini yaitu media yang digunakan dalam pembelajaran dan tahapan pembelajaran yang sesuai dengan tahapan number sense anak TK.Kata kunci: Number Sense, Permainan Matematika KreatifABSTRACT This article discusses the application of creative math game for improving children’s number sense in kindergarten. Issues underlying in this paper is the implementation of learning mathematics that was considered less appropriate because learning is given to tend to use an academic approach and not tailored to the characteristics, needs, and interests of children, causing a lack of children’s ability to understand mathematical concepts, including number sense. This research using action research methods with Kemmis & Taggart design. Participants in this research are children in group A TK Laboratorium Percontohan UPI. Data collected through observation, interviews and documentation. Analysis of the data used is the qualitative data analysis with thematic analysis technique. The results from this study showed positive response given by children when implemented creative math game. Number sense abilities of children appear to be rising, especially in one-to-one correspondence aspects and mentioned as well as comparing many objects. Factors in this study that may affect the implementation of creative math game in this research that the media used in teaching and learning stages corresponding to the stages of number sense kindergarten children.   Keyword: Number Sense, Creative Math Game

Page 7 of 17 | Total Record : 164