cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI" : 22 Documents clear
ANALISIS KEANEKARAGAMAN JENIS PADA TEGAKAN MANGROVE DI BLOK HUTAN MONDULAMBI, RPTN KAMBATAWUNDUT, SPTN II LEWA, KAWASAN TAMAN NASIONAL MANUPEU TANAH DARU Sulastri, Clarita Wihelmina; Aji, Irwan Mahakam Lesmono; Wahyuningsih, Endah
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.75910

Abstract

Mangrove ecosystems are vulnerable to changes and shifts in composition of vegetation, due to its dynamic and complex nature. The composition of mangrove vegetation is also influenced by ecosystem reactions in the form of external factors such as ecosystem pressure, tides, and the environmental quality of the ecosystem. To determine the composition of mangrove vegetation, it is necessary to carry out analyse the vegetation, to show the diversity of mangrove species. This study was conducted by analysing vegetation and diversity. The results show that the types of mangrove ecosystem composition in Mondulambi Block, Kambatawundut RPTN, SPTN II Lewa, Manupeu Tanah Daru National Park consisted of 7 families comprising of 9 species i.e: Sonneratia alba, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora mucronata, Excoecaria agallocha, Lumnitzera racemosa, Acanthus illicifolius, Terminalia catappa, Acrostichum aureum, and Derris trifoliata. Indications of moderate diversity based on the Shannon-Wiener Index, respectively for tree, sapling, and seedling growth levels are 1.313, 1.273, and 1.256. Based on Simpson's diversity index indicates a high value, with results of 0.700 at the tree level, 0.674 at the sapling level, and 0.646 at the seedling level. Keywords: Species Diversity, Mangroves, Environmental Quality Index, National Park  AbstrakEkosistem mangrove rentan terhadap perubahan dan pergeseran vegetasi penyusun, hal ini dikarenakan ekosistem ini bersifat dinamis dan kompleks. Susunan vegetasi mangrove turut dipengaruhi reaksi ekosistem berupa faktor eksternal seperti tekanan ekosistem, pasang surut air laut, serta kualitas lingkungan ekosistem tersebut. Untuk mengetahui susunan vegetasi mangrove perlu dilakukan analisis vegetasi, yang menunjukkan keanekaragaman spesies mangrove. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis vegetasi dan keanekaragaman. Hasil penelitian menunjukkan jenis penyusun ekosistem   mangrove di Blok Mondulambi, RPTN Kambatawundut, SPTN II Lewa, Taman Nasional Manupeu Tanah Daru terdiri dari 7 famili dengan 9 jenis, terdiri dari Sonneratia alba, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora mucronata, Excoecaria agallocha, Lumnitzera racemosa, Acanthus illicifolius, Terminalia catappa, Acrostichum aureum, dan Derris trifoliata. Indikasi keanekaragaman sedang berdasarkan Indeks Shannon-Wiener, berturut-turut untuk tingkat pertumbuhan pohon, pancang, dan semai adalah 1,313, 1,273, dan 1,256. Berdasarkan indeks keanekaragaman Simpson mengindikasikan nilai yang tinggi, dengan hasil 0,700 pada tingkat pohon, 0,674 tingkat pancang, dan 0,646 tingkat semai. Kata kunci: Keanekaragaman Jenis; Mangrove; Indeks Kualitas Lingkungan; Taman Nasional
PERSEPSI MASYARAKAT PELADANG BERPINDAH TERHADAP KEBERADAAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI DESA MERBANG KECAMATAN BELITANG HILIR KABUPATEN SEKADAU Hesti, Rifka Kumala; Tamrin, Edi; Iskandar, Iskandar
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.48871

Abstract

Perladangan berpindah merupakan suatu sistem pertanian yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain secara bergantian. Sistem pertanian dengan cara ladang berpindah dapat menjadi salah satu bentuk sistem pertanian yang banyak diminati dari dulu hingga saat ini, salah satunya masih diterapkan di Desa Merbang Kecamatan Belitang Hilir Kabupaten Sekadau untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai persepsi masyarakat peladang berpindah terhadap keberadaan perkebunan kelapa sawit, serta untuk mengetahui hubungan tingkat usia, pendidikan, dan pengetahuan dengan persepsi masyarakat peladang berpindah terhadap keberadaan perkebunan kelapa sawit di Desa Merbang. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik wawancara serta pengisian kuesioner, pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive random sampling dengan jumlah sampel yang telah ditentukan sebanyak 100 kepala keluarga yang melakukan kegiatan perladangan berpindah. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian persepsi petani berpindah terhadap keberadaan perkebunan kelapa sawit di Desa Merbang cenderung positif dengan tingkat persentase (55,00%), positif, netral (35,00%) dan rendah (10,00%). Persepsi masyarakat sangat mempengaruhi perladangan berpindah karena tingkat kebutuhan hidup mereka hanya mengandalkan perladangan berpindah. Tingkat pengetahuan masyarakat penggarap berpindah terhadap keberadaan perkebunan kelapa sawit di Desa Merbang cenderung sedang dengan tingkat persentase (68,00%), dan dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap persepsi. komunitas perladangan berpindah. Sementara itu, pendapatan para penggarap berpindah sangat mempengaruhi persepsi masyarakat. Dengan tingkat pendapatan yang cukup rendah yaitu berkisar Rp. 1.000.000 "“ Rp. 10.000.000 per tahun dengan persentase tarif tinggi (20,00%), sedang (22,00%), dan rendah (58,00%).Kata Kunci : Desa Merbang, Perladangan berpindah, Persepsi masyarakat, dan PertanianAbstractShifting cultivation is an agricultural system that moves from one place to another in rotation. The agricultural system using shifting cultivation can be a form of agricultural system that has been very popular since the past until now, one of which is still applied in Merbang Village, Belitang Hilir District, Sekadau Regency to meet daily life needs. This research aims to obtain information regarding the perception of the displaced farming community towards the existence of oil palm plantations, as well as to find out the relationship between age, education and knowledge level with the perception of the displaced farming community regarding the existence of palm oil. farm in Kampung Merbang. This research uses a survey method with interview techniques and filling out questionnaires, sampling is carried out using purposive random sampling with a predetermined sample size of 100 heads of families who carry out shifting cultivation activities. Data analysis using qualitative descriptive analysis. Based on the results of the study, the shift in farmers' perception towards the existence of oil palm plantations in Kampung Merbang tends to be positive with percentage levels (55.00%), positive, neutral (35.00%) and low (10.00%). The community's perception greatly affects shifting cultivation because their level of livelihood depends only on shifting cultivation. The level of knowledge of the displaced farming community about the existence of palm oil plantations in Kampung Merbang tends to be moderate with a percentage level (68.00%), and it can be concluded that the level of knowledge has a strong influence on perception. shifting cultivation community. Meanwhile, the income of migrant farmers greatly affects the perception of the community. With a fairly low level of income, which is around Rp. 1,000,000 "“ Rp. 10,000,000 per year with high (20.00%), medium (22.00%), and low (58.00%) tariff percentages.Keywoards : Merbang Village, Shifting Cultivation, Community Perception, and Agriculture.
ANALISIS PEMANFAATAN STRATA VERTIKAL VEGETASI OLEH SPESIES BURUNG PADA AGROFORESTRI BERBASIS KOPI DI AREA HUTAN KEMASYARAKATAN KPHL BATUTEGI: STUDI KASUS DI DESA PENANTIAN DAN SINAR BANTEN, KECAMATAN ULUBELU, KABUPATEN TANGGAMUS Arsyan, Chika Jenita; Iswandaru, Dian; Fitriana, Yulia Rahma; Darmawan, Arief
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.67458

Abstract

The use of vegetation stratification is closely related to the availability of food sources in that stratification, so that bird activity in utilizing existing habitat space can change, depending on the appearance of the habitat that provides food and other activity needs, such as for perching, nesting, monitoring prey, shelter, and rest. Habitat use can be described vertically which includes four levels, namely the ground surface and undergrowth (E), shrubs and bushes (D), lower canopy (C), middle canopy (B), and upper canopy (A). This research aims to analyze the abundance of bird species and their relationship in utilizing vertical strata of vegetation by bird species on coffee-based agroforestry land. The research was conducted on coffee-based agroforestry land in Penantian and Sinar Villages, Banten. The coffee-based agroforestry land is in the community forest area (Hkm), utilization block, KPHL Batutegi. Data collection was carried out using the point count method. The results obtained were analyzed quantitatively using the species abundance index and the vertical utilization of the canopy was analyzed descriptively. The research results showed that Penantian Village had 11 bird species from 11 families with a total of 82 individuals and Sinar Banten Village had 12 bird species from 11 families with a total of 87 individuals. The highest species abundance index in Penantian Village is the cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) and the cow swift (Collocalia esculenta) at 39% each. The highest abundance index in Sinar Banten Village is the kutilang cucak (Pycnonotus aurigaster) and cow swallow (Collocalia esculenta) with values of 39% and 34%. This shows that the cucak kutilang and the cow swallow are the birds most often found in the two villages. The vertical strata of vegetation used by various types of birds are canopy stratum C (4-20 m), D (1-4 m) and E (0-1 M), while canopy stratum A (30 m) and B (20-30 m) not found. This describes the condition of the vertical strata of vegetation in coffee-based agroforestry in the two villages which provides food sources, cover for shelter or nesting, and supports other activities only in these three strata.Key words: Agroforestry based-coffee, birds, species abundance, KPHL Batutegi, vertical strata of vegetation.AbstrakPenggunaan stratifikasi vegetasi berhubungan erat dengan ketersediaan sumber pakan pada stratifikasi tersebut, sehingga aktivitas burung dalam memanfaatkan ruang habitat yang ada dapat berubah-ubah, tergantung penampakan habitat yang menyediakan makanan serta kebutuhan aktivitas lain, seperti untuk bertengger, bersarang, mengawasi mangsa, berlindung, dan beristirahat. Penggunaan habitat dapat digambarkan secara vertikal yang meliputi empat tingkat, yaitu permukaan  tanah dan tumbuhan bawah (E), perdu dan semak belukar (D), tajuk bagian bawah (C),   tajuk bagian tengah (B), dan tajuk bagian atas (A). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan jenis burung serta hubungannya dalam memanfaatkan strata vertikal vegetasi oleh spesies burung pada lahan agroforestri berbasis kopi. Penelitian dilakukan di lahan agroforestri berbasis kopi Desa Penantian dan Sinar Banten. Lahan agroforestri berbasis kopi berada di area hutan kemasyarakatan (Hkm), blok pemanfaatan, KPHL Batutegi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode point count. Hasil yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan indeks kelimpahan jenis dan pemanfaatan vertikal tajuk dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan Desa Penantian terdapat 11 jenis burung dari 11 famili dengan total 82 individu dan Desa Sinar Banten terdapat 12 jenis burung darib11 famili dengan total 87 individu. Indeks kelimpahan jenis tertinggi di Desa Penantian adalah cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) dan walet sapi (Collocalia esculenta) masing-masing sebesar 39%. Indeks kelimpahan tertinggi di Desa Sinar Banten yaitu cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) dan walet sapi (Collocalia esculenta) dengan nilai 39% dan 34%. Hal ini menunjukkan bahwa cucak kutilang dan walet sapi adalah burung yang paling sering ditemukan di kedua desa tersebut. Strata vertikal vegetasi yang dimanfaatkan oleh berbagai jenis burung yaitu stratum tajuk C (4-20 m), D (1-4 m) dan E (0-1 M), sedangkan stratum tajuk A (30 m) dan B (20-30 m) tidak ditemukan. Hal ini menggambarkan kondisi starata vertikal vegetasi pada agroforestri berbasis kopi di kedua desa tersebut yang menyediakan sumber pakan, cover untuk berlindung atau bersarang dan pendukung aktivitas lainnya hanya pada ketiga strata tersebut.Kata kunci: Agroforestri berbasis kopi, burung, kelimpahan jenis, KPHL Batutegi, strata vertikal vegetasi.
ETNOBOTANI REMPAH TRADISIONAL YANG DIMANFAATKAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN DUSUN KOPIANG DESA MANDOR KABUPATEN LANDAK KALIMANTAN BARAT Bastian, Aran; Herawatiningsih, Ratna; Widiastuti, Tri
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.50450

Abstract

This research aims to describe the utilization of spice plants by the community around the Kopiang Village Forest, Mandor Village, Landak Regency, and to analyze the social factors influencing the utilization of spice plants in Kopiang Village, Mandor, Landak Regency. The research method used is a survey, with data collection through interviews using questionnaires with 44 respondents selected by census from the entire population in Kopiang Village. The collected data is organized in the form of tabulation and documentation, and then processed using the Use Value (UV) formula to determine the value of plant use and the Family Importance Value (FIV) to determine the most frequently used plant families. Data from the interviews are qualitatively analyzed, covering local names, Latin names, parts used, processing methods, and the habitus of spice plants. The research results indicate that the community traditionally utilizes ten types of spice plants, categorized into nine families. Ethnobotanical analysis reveals that the Sengkubak plant (Albertisia papuana becc) has the highest Use Value (UV) of 0.90, while the highest Family Importance Value (FIV) is found in the Menispermae family with a value of 90.90. The Zingiberaceae family is the most commonly used by the community, with two plant types (kancok and engkareh). The most frequently used habitus level is the tree level, with four plant types (asam kandis, daun salam, sengkuang, and belimbing wuluh). The most commonly used part is the leaves (50%), and the most common processing method is cooking.Keywords: Traditional Spice, Ethnobotany, Kopiang VillageAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan tumbuhan rempah oleh masyarakat di sekitar Hutan Dusun Kopiang, Desa Mandor, Kabupaten Landak, serta menganalisis faktor sosial masyarakat yang berpengaruh dalam pemanfaatan tumbuhan rempah di Dusun Kopiang, Desa Mandor, Kabupaten Landak. Metode penelitian yang digunakan adalah survei, dengan pengumpulan data melalui wawancara menggunakan kuesioner kepada 44 responden yang dipilih secara sensus dari seluruh masyarakat di Dusun Kopiang. Data yang diperoleh disusun dalam bentuk tabulasi dan dokumentasi, dan kemudian diolah dengan menggunakan rumus Use Value (UV) untuk menentukan nilai penggunaan tumbuhan serta Family Importance Value (FIV) untuk menentukan keluarga tumbuhan yang paling banyak digunakan. Data dari hasil wawancara dianalisis secara deskriptif kualitatif, meliputi nama lokal, nama latin, bagian yang digunakan, cara pengolahan, dan habitus tanaman rempah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan sepuluh jenis tumbuhan rempah secara tradisional, yang dikelompokkan ke dalam sembilan keluarga. Hasil analisis etnobotani menunjukkan bahwa tumbuhan Sengkubak (Albertisia papuana becc) memiliki nilai Use Value (UV) tertinggi sebesar 0,90, sementara Family Importance Value (FIV) tertinggi terdapat pada keluarga Menispermae dengan nilai sebesar 90,90. Jenis keluarga yang paling banyak digunakan oleh masyarakat adalah Zingiberaceae dengan dua jenis tumbuhan (kancok dan engkareh). Tingkat habitus yang paling banyak digunakan adalah tingkat pohon, dengan empat jenis tumbuhan (asam kandis, daun salam, sengkuang, dan belimbing wuluh). Bagian yang paling banyak digunakan adalah daun (50%), dan cara pengolahan yang paling umum digunakan adalah dengan cara dimasak.Kata Kunci: Rempah Tradisional, Etnobotani, Desa Kopiang
PERILAKU BERTELUR PENYU HIJAU (Chelonia mydas) di PANTAI BELACAN DESA SEBUBUS KECAMATAN PALOH KABUPATEN SAMBAS Damiska, Septi; Munandar, Ari; Darwati, Herlina; Rifanjani, Slamet
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.86751

Abstract

The green turtle is one of the most intensively exploited members of the turtle family. The purpose of this study was to describe the egg-laying behavior of green turtles (Chelonia mydas) on Belacan Beach Sebubus Village Paloh District Sambas Regency. Research using direct observation method with observation technique is done by noting all behavior seen at each time and its description. Research shows that all types of turtles have almost the same stages of laying eggs, namely emerging to the sea surface and choosing a location to lay eggs, digging holes, laying eggs, closing the nest and closing the hole and disguise the distance. Factors that influence the presence of green turtles going up to the mainland to lay eggs are the tides of sea water, the slope of the coast and the presence or absence of vegetation that can be used as a shelter for their nest.Keywords: Belacan beach, Turtle, Turtle behaviorAbstrakPenyu hijau adalah salah satu anggota keluarga penyu yang paling dieksploitasi secara intensif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perilaku bertelur penyu hijau (Chelonia mydas) di Pantai Belacan Desa Sebubus Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas. Penelitian menggunakan metode observasi langsung dengan teknik observasi yang dilakukan dengan mencatat semua tingkah laku yang dilihat pada setiap waktu dan uraiannya. Penelitian menunjukkan bahwa semua jenis penyu mempunyai tahapan bertelur yang hampir sama, yaitu muncul ke permukaan laut dan memilih lokasi bertelur, menggali lubang, bertelur, menutup sarang dan menutup lubang serta menyamarkan jarak. Faktor yang mempengaruhi keberadaan penyu hijau naik ke daratan untuk bertelur adalah pasang surut air laut, kemiringan pantai dan ada tidaknya vegetasi yang dapat dijadikan tempat berlindung sarangnya.Kata kunci: Pantai Belacan, Penyu, Tingkah laku penyu
PEMANFAATAN DAUN JATI MUDA DAN SABUT KELAPA SEBAGAI PEWARNA ALAMI KAIN KATUN DENGAN FIKSATOR AIR JERUK NIPIS Anwari, Luluatun; Fahriani, Vera Pangni; Wahyuningtyas, Aulia
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.76263

Abstract

Indonesia has the variety of plants that have the potential to provide natural dyes to textiles. One of them is the young leaves of teak tress (Tectona grandis) which contain anthocyanin dye. Coconut fiber waste is also used as a natural dye because it contains tanin dye. Many studies have been carried out on young teak leaves and coconut fiber in fabric dyeing. This research creates a new idea that uses both as natural dyes by soaking coconut fiber in young teak leaf extract. Extraction of young teak leaves is carried out by boiling with a vlot of 1 kg of material / 10 L of solvent at a temperature of 100 °C for 30 minutes. Then the young teak leaf extract is added with coconut fiber and left for 24 hours and 48 hours, until a natural dye solution is obtained. The fabric is dipped in the dye for 5 x 20 minutes. Next, the fabric is dried by air-drying and fixation is carried out with lime juice to bind the dye that has been absorbed into the fabric fibers. The results of this research show that soaking coconut fiber for 24 hours and 48 hours in young teak leaf extract can provide a brighter fabric color intensity, as well as adding lime juice fixator. This research shows that soaking coconut fiber in young teak leaf extract can provide a brighter fabric color intensity, likewise with lime juice fixator. In terms of fabric colour fastness to soap washing, the lime juice fixator gave a good average score (4), one level higher that without fixation which got a fairly good average score (3-4).Keywords: coconut fiber, lime juice fixator, natural dye, young teak leaves.AbstrakIndonesia memiliki ragam tumbuhan yang berpotensi memberikan zat warna alami pada tekstil. Salah satunya adalah daun muda dari pohon jati yang mengandung zat warna antosianin. Limbah sabut kelapa juga dimanfaatkan sebagai pewarna alami karena mengandung zat warna tanin. Daun jati muda dan sabut kelapa sudah banyak dilakukan penelitian dalam pewarnaan kain. Penelitian ini membuat gagasan baru yang memanfaatkan keduanya sebagai pewarna alami dengan cara perendaman sabut kelapa dalam ekstrak daun jati muda. Ekstraksi daun jati muda dilakukan dengan cara perebusan dengan plot 1 kg bahan / 10 L pelarut pada suhu 100 °C selama 30 menit. Kemudian ekstrak daun jati muda ditambahkan dengan sabut kelapa dan didiamkan selama 24 jam dan 48 jam, hingga diperoleh larutan pewarna alami. Kain dicelupkan ke dalam pewarna selama 5 x 20 menit. Selanjutnya kain dikeringkan dengan cara diangin-anginkan dan dilakukan fiksasi dengan air jeruk nipis untuk mengikat zat warna yang telah terserap dalam serat kain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman sabut kelapa selama 24 jam dan 48 jam dalam ekstrak daun jati muda dapat memberikan intensitas warna kain yang semakin terang, begitu juga dengan penambahan fiksator air jeruk nipis. Dalam segi tahan luntur warna kain terhadap pencucian sabun, fiksator air jeruk nipis memberikan nilai rata-rata baik (4), satu tingkat lebih tinggi daripada tanpa fiksasi yang memperoleh nilai rata-rata cukup baik (3-4).Kata kunci: sabut kelapa, fiksator air jeruk nipis, pewarna alami, daun jati muda,  
KEANEKARAGAMAN JENIS IKAN AIR TAWAR KAWASAN BENDUNGAN MEROWI DAN SEKITARNYA DI DESA SEMAYANG KECAMATAN KEMBAYAN KABUPATEN SANGGAU Sri, Muliana; Prayogo, Hari; Widiastuti, Tri
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.52145

Abstract

Merowi dam is the only dam (reservoir) located in Semayang Village, Kembayan District, Sanggau Regency, West Kalimantan Province. The merowi dam was built using Sanggau APBD funds. This study aimed to obtain data on the diversity of freshwater fish species upstream, downstream and around the Merowi Dam, Semayang Village, Kembayan District, Sanggau Regency. This research used survey method. Determination of stations was purposive sampling, where fish sampling was carried out using the catch per unit effort method (Saputra, 2018). Based on the data and research results, six stations obtained 19 types of freshwater fish belonging to 8 families. The dominance index value of the six stations ranged from (C) = 0.21- 0.33, which means that no fish dominates the other species fish. The value of species diversity from the six stations ranged from (H') = 1.28 "“ 1.74, which means that the species diversity was low. The evenness value of the six stations ranged from (E) = 0.79 "“ 0.88, which means the level of evenness was low. The value of the species richness index (R) = 0.91 "“ 2.23 which means the species richness was low. The value of the similarity index at station I "“ station VI was considered different and was considered to be significantly different.Keywords: Diversity of fish species, Merowi Dam, Semayang Village.AbstrakBendungan merowi merupakan satu-satunya Bendungan (waduk) yang terletak di Desa Semayang, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat. Bendungan Merowi dibangun menggunakan dana APBD Kabupaten Sanggau. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan data keanekaragaman jenis ikan air tawar dihulu, hilir dan sekitar Bendungan Merowi Desa Semayang, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau. Penelitian ini menggunakan metode Survey penentuan stasiun secara purposive sampling, dimana pengambilan sampel ikan dilakukan dengan metode hasil tangkapan per unit usaha ( Saputra, 2018). Berdasarkan data dan hasil penelitian dimana keenam stasiun didapatkan 19 jenis ikan air tawar yang tergolong dalam 8 family. Nilai indeks dominansi dari keenam stasiun berkisaran antara (C) = 0,21 "“ 0,33, yang artinya tidak ada ikan yang mendominansi jenis lainnya. Nilai keanekaragaman jenis dari keenam stasiun berkisaran antara (E) = 0,79 "“ 0,88, yang artinya keanekaragaman jenisnya rendah. Kemerataan jenis dari keenam stasiun berkisar antara (R) = 0,91 "“ 2,23, yang artinya kekayaan jenisnya rendah. Nilai indek kesamaan jenis distasiun I "“ stasiun VI dianggap berbeda dan dianggap berbeda nyata.Kata kunci : Keanekaragaman Jenis Ikan, Bendungan Merowi, Desa Semayang
SIFAT FISIS DAN KEKERASAN PAPAN BLOK DARI BATANG KELAPA SAWIT DAN FINIR JENIS KAYU CEPAT TUMBUH Mangurai, Silvia Uthari Nuzaverra Mayang; Massijaya, Muh Yusram; Hadi, Yusuf Sudo; Hermawan, Dede; Abdillah, Imam Busyra; Munadian, Munadian
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.87749

Abstract

The oil palm trunk and fast-growing species was the potential as raw materials for blockboard. The quality of composite board can be reflected by the value of physical and mechanical properties that influenced by the characteristics of veneer, board core and type of adhesive and the method of manufacturing. The aim of this research was to produce block boards from oil palm trunk waste and sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen), manii (Maesopsis eminii Engl.), mangium (Acacia mangium Willd.) veneers as surface layers. The size of the blockboards was 35 x 35 x 2.4 cm3. The adhesives used were phenol formaldehyde (PF) and urea formaldehyde (UF) with glue spread of 200 g ·m-2. The blockboards were made with a pressure of 15 kg ·cm-2 for 10 minutes at 130 oC for PF and 110 oC for UF. The physical and mechanical properties of the boards were tested based on SNI 01-7201, JAS 232 2003 and JIS A 5908-2003 standard. The research results show that the wood veneer species and adhesive types can improved the physical properties and hardness of block board with oil palm trunk core. Moisture content value of the boards had less than 10% and the thickness sweeling had less than 12%. Thickness swelling and delamination were influenced by adhesive types. Block board with PF adhesive have a lower delamination value than bloc board with UF adhesive so it can be used for exterior purposes. The hardness value blockboard fulfil BS standard and recommended for flooring applications.Keywords: adhesives types, blockboard, fast-growing species, oil palm trunk, physical properties and hardnessAbstrakLimbah batang kelapa sawit dan jenis kayu cepat tumbuh mempunyai potensi sebagai bahan baku papan blok. Kualitas papan komposit dapat terlihat dari sifat fisis dan mekanis yang dipengaruhi oleh karakteristik finir, bagian inti papan, jenis perekat, dan metode pembuatannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan sifat fisis dan kekerasan papan blok dari limbah batang kelapa sawit dan sengon, manii, dan mangium finir sebagai lapisan permukaan. Papan blok berukuran 35 x 35 x 2,4 cm3. Perekat yang digunakan adalah fenol formaldehida (PF) dan urea formaldehida (UF) dengan berat labur sebesar 200 g ·m-2. Papan blok dibuar dengan tekanan 15 kg ·cm-2 selama 10 minutes pada suhu 130 oC untuk perekat PF and 110 oC untuk perekat UF. Sifat fisis dan kekerasan diuji berdasarkan standar SNI 01-7201, JAS 232 2003, dan JIS A 5908-2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kayu dan jenis perekat dapat membantu meningkatkan sifat fisis dan kekerasan papan blok dengan inti batang kelapa sawit. Nilai kadar air papan blok dibawah 10% dan pengembangan tebal dibawah 12%. Papan blok dengan perekat PF mempunyai nilai delaminasi lebih kecil dibandingkan papan blok dengan perekat UF dan dapat digunakan sebagai keperluan eksterior. Nilai kekerasan papan blok BKS telah memenuhi Standar British yang direkomendasikan untuk aplikasi lantai.Kata kunci: batang kelapa sawit, jenis kayu cepat tumbuh, jenis perekat, papan blok, sifat fisis dan kekerasan
PENDAPATAN MASYARAKAT DESA SEKITAR HUTAN DARI BUDIDAYA KRATOM (Mitragyna sp) (Studi Kasus Di Desa Nanga Sambus Kecamatan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu) ramdhayani, dewi sri; Roslinda, Emi; M, Iskandar A
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.54117

Abstract

The people of Nanga Sambus Village use forest products as their source of livelihood in fulfilling their daily lives. The purpose of this study is to calculate community income, assess business feasibility and explain what factors affect people's income from kratom plant cultivation. This research used survey method, sampling technique used purposive sampling method (42 respondents). Data retrieval is done in a structured interview manner. Data analysis used income analysis, R/C Ratio analysis and analysis of factors affecting ZScore income with multiple linear regression equations Zscoreπ. Community income from kratom cultivation is Rp. 10,531, -/kg with an R/C Ratio of 3.29 and multiple linear regression test results ZScore with the equation obtained the calculated F value = 8.170 and the F table value (α 0.05; 35) = 2.37. Factors that affect income, namely the number of plants, tree age, labor, seed prices, production inputs and HOK wages simultaneously have a significant effect on total income kratom cultivation community.Keywords: forest, income, kratomAbstrakMasyarakat Desa Nanga Sambus memanfaatkan hasil hutan sebagai sumber mata pencaharian mereka dalam memenuhi kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menghitung pendapatan masyarakat, menilai kelayakan usaha dan menerangkan faktor apa saja yang mempengaruhi pendapatan masyarakat dari usaha budidaya tanaman kratom. Penelitian ini menggunakan metode survey, teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling (42 responden). Pengambilan data dilakukan dengan wawancara terstruktur. Analisis data menggunakan analisis pendapatan, analisis R/C Ratio dan analisis faktor yang mempengaruhi pendapatan ZScore dengan persamaan regresi linear berganda. Pendapatan masyarakat dari budidaya kratom sebesar Rp.10.531,-/kg dengan R/C Ratio sebesar 3,29 dan hasil uji regresi linear berganda Zscore dengan persamaan diperoleh nilai F hitung = 8,170 dan nilai F tabel (α 0,05 ; 35) = 2,37. Faktor- faktor yang mempengaruhi pendapatan yaitu variabel jumlah tanaman, umur pohon, tenaga kerja, harga bibit, input produksi dan upah HOK secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan total masyarakat budidaya kratom.Kata kunci: hutan, pendapatan, kratom
KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DIURNAL DI RUANG TERBUKA HIJAU KOTA PONTIANAK Wahyudi, Isnu; Erianto, Erianto; Hari Prayogo, Hari Prayogo
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.68487

Abstract

The diversity of bird species in the Diurnal in the Pontianak City Green Open Space is a strong reason for conducting this research, so that later the data from this research is expected to be a reference or policy step for agencies related to the management of Green Open Space as a habitat for wildlife birds. Provide information about the diversity of bird species in the Diurnal in the Pontianak City Green Open Space. The data from this research can be used by the relevant agencies as a database for monitoring and controlling bird species in the Pontianak City Green Open Space. This research was conducted by survey method or field observation technique. The data collection used is by direct survey to the location. The observation location was determined purposively, consisting of seven location points in the Green Open Space in Pontianak City. The results of field observations in 7 (seven) green open spaces in Pontianak City obtained a diversity index value of =3.314186. (H Ì…) belongs to the high category. List of bird species diurnal green open space Pontianak 13 bird species belonging to 10 families (family). Most of the birds found were from the Columbidae and Passeridae families, and the least found were from the Geopeliastria bird species.Keywords: Diversity, Diurnal Bird, Green Open Space.Abstrakkeanekaragaman jenis burung diurnal di Ruang Terbuka Hijau Kota Pontianak menjadi alasan kuat dilakukannya penelitian ini, sehingga nantinya data hasil dari penelitian ini di harapkan menjadi acuan atau langkah kebijakan bagi instansi terkait pengelolaan Ruang Terbuka Hijau sebagai habitat satwa liar burung. Memberikan informasi mengenai keanekaragaman jenis burung diurnal di Ruang Terbuka Hijau Kota Pontianak. Data hasil penelitian ini dapat digunakan oleh instansi terkait sebagai database dalam rangka pemantauan dan pengontrolan jenis jenis burung di Ruang Terbuka Hijau Kota Pontianak. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei atau teknik observasi lapangan. Pengambilan data yang digunakan adalah dengan cara survey langsung kelokasi. Lokasi pengamatan ditentukan secara purposive, terdiri dari tujuh titik lokasi yang ada di Ruang Terbuka Hijau di Kota Pontianak. Hasil pengamatan lapangan di 7 (tujuh) RTH di Kota Pontianak di peroleh nilai indeks keanekaragaman H Ì… =3,314186. (H Ì…) tergolong dalam kategori tinggi. Daftar Jenis burung diurnal ruang terbuka hijau kota Pontianak 13 jenis burung yang tergolong dalam 10 suku (family). Sebagian besar burung yang banyak ditemukan adalah dari family Columbidae dan Passeridae, dan yang paling sedikit ditemukan adalah dari jenis burung Geopeliastria.Kata kunci: Keanekaragaman, Burung Diurnal, Ruang Terbuka Hijau

Page 1 of 3 | Total Record : 22


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue