cover
Contact Name
Reni Suryanti
Contact Email
jpppolbangtanbogor@gmail.com
Phone
+628128822179
Journal Mail Official
renisuryanti@pertanian.go.id
Editorial Address
Bogor Agricultural Develpoment Polytechnic Jln. Aria Surialaga No 1, Pasir Kuda Bogor 16119
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penyuluhan Pertanian
ISSN : 19075893     EISSN : 25990403     DOI : https://doi.org/10.51852/jpp.v16i1.460
This journal contains the results of research related to developing issues in the field of agricultural extension based on the needs of the community or farmer groups. published articles include research articles and literature studies.
Articles 240 Documents
PENGARUH PEMBERIAN EM JAMU UNTUK ITIK GEMBALA TERHADAP PRODUKSI DAN BOBOT TELUR Wahyudi Purnomo; Juju Julaeha
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 1 No 2 (2006)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.096 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v1i2.217

Abstract

Enam puluh ekor itik Karawang berumur 7 bulan dengan rata-rata bobot badan 1,4 kgdipergunakan untuk mengukur pengaruh pemberian EM Jamu terhadap produksi dan bobottelur itik yang digembalakan. Pengkajian dilakukan selama 30 hari di Kecamatan TelagasariKabupaten Karawang, menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua perlakuan dan duaulangan. Masing-masing ulangan terdiri atas 15 ekor itik.Dari tiap perlakuan diperoleh produksi telur 157 butir dengan rata-rata 5,23 butir (P0U1),158 butir dengan rata-rata 5,27 butir (P0U2), 209 butir dengan rata-rata 6,97 butir (P1U1) dan223 butir dengan rata-rata 7,43 butir (P1U2). Sedangkan untuk bobot telur diperolah hasil ratarata63,79 gram (P0U1), 63,61 gram (P0U2), 66,34 gram (P1U1) dan 66,97 gram (P1U2).Hasil analisis statistik menggunakan metode pengolahan data One Way Clasificationpada produksi telur menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata pada jumlah telur untukitik yang diberi EM Jamu dengan itik yang tidak diberi EM Jamu. Begitu juga hasil analisisstatistik terhadap bobot telur menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara ternakitik yang diberi EM Jamu dengan yang tidak diberi EM Jamu.
PENGARUH “UREA MOLASSES BLOCK” (UMB) TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI SUSU (Penelitian di Kabupaten Boyolali) Rizal Krisna; Rizal Krisna; Eep Saepudin
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (36.608 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v2i1.218

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan tambahan (feedsuplement) UMB (urea molases block) terhadap peningkatan produksi susu dan pendapatan.Perlakuan adalah PO : Pakan hijauan (10% Bobot Badan) + konsentrat 1,5 kg (sebagaikontrol), P1 Pakan hijauan (10% Bobot Badan) + konsentrat 1,5 kg + UMB 100 gr/ekor/hari(perlakuan).Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan tambahan UMB dapatmeningkatkan produksi susu sebesar 2,77 liter/ekor/hari dengan kadar lemak sebesar 3.05.Analisis statistik perlakuan Po dan P1 berbeda nyata. Pemberian pakan tambahan berupa UMBdapat meningkatkan produksi susu sehingga dapat meningkatkan pendapatan peternak.
KAJIAN ASPEK EKONOMI KOMODITAS UNGGULAN DI KECAMATAN CARINGIN KABUPATEN SUKABUMI Elih Juhdi Muslihat; Tri Ratna Saridewi
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.037 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v2i1.219

Abstract

Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi merupakan kecamatan yang berpotensiuntuk pengembangan sektor pertanian berdasarkan sumber daya alamnya. Kecilnya pemilikanlahan yang dimiliki menuntut adanya efisiensi usahatani. Penelitian ini bertujuan (a)mengetahui jenis-jenis komoditas unggulan yang berpotensi untuk dikembangkan, (b)mengetahui kelayakan usahatani komoditas unggulan dan (c) menyusun strategi pengembangankomoditas unggulan.Metode Penelitian yang digunakan adalah analisis deskritif terhadap keunggulankomparatif berdasarkan Location Quotient dan Rasmussen’s dual criterion dan analisiskelayakan usahatani berdasarkan Revenue-Cost Ratio (R/C), produktivitas modal, ukuran sewalahan dan BEP.Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa (a) komoditasunggulan yang berpotensi untuk dikembangkan adalah jagung manis, cabe dan ubi jalar, (b)berdasarkan analisis finansial maka komoditas jagung manis, cabe dan ubi jalar layak untukdiusahakan dan dikembangkan dan (c) strategi pengembangan komoditas unggulan melaluipeningkatan pengetahuan dan keterampilan petani, peningkatan kemampuan dan kesiapanPemda untuk peningkatan modal dan investasi dan perbaikan infrastruktur serta tetap menjagakelestarian lingkungan.
ANALISIS KEBERLANJUTAN USAHATANI SAYURAN DATARAN TINGGI DI KAWASAN AGROPOLITAN PACET, CIANJUR Soesilo Wibowo; Santun R.P. Sitorus; Surjono H. Sutjahjo; Marimin Marimin
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.267 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v2i1.220

Abstract

Program Agropolitan di Indonesia telah dilaksanakan di 98 kabupaten/kota padaberbagai ekosistem, termasuk lahan kering dataran tinggi yang berbasis usahatani sayuran.Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan analisis keberlanjutan usahatanisayuran dataran tinggi (USDT) di Kawasan Agropolitan agar dapat diupayakan pengelolaankawasan agropolitan yang berkelanjutan.Penelitian dilakukan di Kawasan Agropolitan Pacet, Cianjur dengan pendekatan RapfishAnalysis. Berdasarkan analisis diperoleh hasil bahwa pengelolaan USDT di KawasanAgropolitan Pacet, Cianjur belum berkelanjutan karena indeks keberlanjutannya hanya49,98%. Dari 38 atribut yang diteliti, terdapat 18 atribut pada dimensi lingkungan, teknologidan etika, yang berpengaruh penting terhadap pengelolaan USDT di Kawasan Agropolitan.Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya penerapan teknologi mulsa plastik, irigasi tetes,pertanian organik, konservasi kimiawi, minimum tillage, wanatani. Pada aspek lingkungandiperlukan perbaikan penanganan terhadap kondisi hutan, alih fungsi lahan, sumber air,agrowisata, run off dan erosi serta penggunaan pestisida. Sedangkan pada aspek etika/aturanlokal diperlukan penanganan yang lebih baik terhadap penggunaan kompos, aturan pengelolaanhutan, denda materi, kerjasama dan aturan penggunaan pestisida.
KAJIAN PEMASARAN CABAI MERAH (Capsicum annum L.) DI KECAMATAN CIPANAS KABUPATEN CIANJUR Tuteng Rohmansyah; Dradjat Dradjat; Tri Ratna Saridewi
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.327 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v2i1.221

Abstract

Cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan komoditas yang potenisal untukdikembangkan. Kendala utama yang dihadapi petani di Kecamatan Cipanas adalah sistempemasaran melalui tengkulak sehingga harga yang diterima oleh petani sangat tergantung padatengkulak. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mempelajari saluran pemasaran dan margin tataniaga cabai merah dan (2) Mempelajari farmer’share, korelasi pasar cabai merah dan peluangyang dapat diambil oleh petani cabai. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 14 Maret – 16 Mei2006 di Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur, khususnya di 3 desa, yaitu Batulawang, Cilotodan Cimacan. Metode analisis data yang digunakan dalam laporan ini adalah analisis margintataniaga dan analisis korelasi pasar.Hasil yang diperoleh adalah untuk tujuan Pasar Bogor, saluran pemasaran two levelchannel merupakan saluran paling efisien, karena memberikan nilai farmer’s share palingbesar 60%, tetapi pada saluran ini korelasi pasarnya rendah, yaitu hanya 0,294. Korelasi antarapetani dan pasar Cipanas mempunyai nilai yang paling tinggi yaitu 0.639, artinya struktur pasartelah mendekati persaingan sempurna dan pembentukan harga telah terpadu. Solusi untukpetani cabai atau kelompok tani adalah tergabung dalam asosiasi lembaga tataniaga agarmampu menjaga kontinuitas dan kualitas produk.
PENGEMBANGAN AGRIBISNIS MANGGA GEDONG GINCU (Mangifera indica L.) MELALUI PEMBERDAYAAN KELOMPOKTANI DI KECAMATAN PANYINGKIRAN KABUPATEN MAJALENGKA Nani Kurnia; Elih J. Muslihat; Amelia Nani Siregar
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.916 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v2i1.222

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi agribisnis mangga gedong gincu saatini dan menyusun konsep pengembangan agribisnis mangga gedong gincu melaluipemberdayaan kelompoktani di Kecamatan Panyingkiran, Kabupaten Majalengka, provinsiJawa Barat sesuai dengan potensi dan pengembangan wilayah yang dimiliki. Responden dipilihsecara purposive sampling sebanyak 30 orang berasal dari kelompoktani Samaya di DesaPasirmuncang, Kelompoktani Mayasari di Desa Cijurey, dan Kelompoktani Mekar Baru diDesa Jatiserang. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, pengembangan agribisnis manggagedong gincu di Kecamatan Panyingkiran termasuk ke dalam kategori cukup berkembang.Analisis SWOT pengembangan agribisnis ini menghasilkan strategi S-O. Usahatani manggagedong gincu saat ini dinyatakan go project karena nilai Net B/C sebesar 5,2. Hasil analisiskajian pemberdayaan kelompoktani dengan metode Chi-square adalah terdapat hubungan yangsignifikan antara tingkat kemampuan dengan keberdayaan kelompoktani di KecamatanPanyingkiran dimana nilai χ2hitung lebih besar dari χ2tabel (33,34 > 20,1). Semakin tinggi tingkatkemampuan kelompoktani maka semakin tinggi pula keberdayaan kelompoktani tersebut.Analisis korelasi menggunakan Spearman Rank Correlation menyatakan bahwa tingkatkemampuan kelompoktani mempunyai hubungan positif yang cukup kuat terhadapkeberdayaan kelompoktani. Namun bila dianalisis secara parsial, fungsi kelompoktani dan limajurus kemampuan kelompoktani mempunyai hubungan yang relatif lemah terhadapkeberdayaan kelompoktani (masing-masing nilai r = 0,11 dan 0,14), sedangkan dinamikakelompoktani mempunyai hubungan yang cukup kuat dengan keberdayaan kelompok (r =0,40). Konsep untuk strategi dan program pengembangan agribisnis mangga gedong gincumelalui pemberdayaan kelompoktani dapat dilaksanakan secara terpadu pada kelima subsistemagribisnis yang terbagi ke dalam program jangka pendek, program jangka menengah, danprogram jangkan panjang.
BERBAGAI MEDIA KULTUR HIDROPONIK UNTUK PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TOMAT Sri Rahayu Pujiastuti; Amelia Nani Siregar
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.887 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v2i1.223

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan dan produksi tanamantomat pada berbagai media tanam kultur hidroponik. Media tanam yang digunakan adalaharang sekam, zeolit dan pasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saat awalpertumbuhan tidak ada pengaruh jenis media terhadap tinggi tanaman tomat yang ditanamsecara hidroponik pada 5 sampai 6 minggu setelah tanam (MST), juga pada 9 MST. Jenismedia tanam mempengaruhi pertumbuhan (tinggi tanaman tomat) dan produksi (bobotbuah/tanaman). Pertumbuhan tertinggi terjadi pada media arang sekam. Jenis media tanamzeolit tidak berbeda nyata dengan pasir dalam mempengaruhi bobot buah tomat yangdihasilkan, berbeda halnya dengan arang sekam yang memberikan bobot buah/tanaman yangtertinggi. Media arang sekam memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan tanamanyang tentunya menjamin ke fase berikutnya yaitu fase generatif. Walaupun ketiga jenis mediaini sering digunakan sebagai media tanam hidroponik tetapi penggunaan arang sekam dalampercobaan ini memberikan pengaruh terbaik dibandingkan zeolit dan pasir.
MEMBANDINGKAN TILLANDSIA, BROMELIA, KAKTUS DAN SUKULEN PADA MEDIA BATU Dradjat Dradjat
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (35.113 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v2i1.224

Abstract

Tanaman Tillandsia umumnya tumbuh epifit dan saprofit di pepohonan (batang, cabangdan ranting) seperti tanaman anggrek yang banyak tumbuh di daerah hutan tropis. Akar epifitdan saprofit merupakan andalan untuk menumpang hidup dan melekat pada bagian tanamanlain.Tanaman Tillandsia termasuk famili Bromeliaceae yang sangat efisien dalammemanfaatkan air (WUE tinggi) dan termasuk golongan tanaman yang metabolismenyamenganut sistem CAM (Crassulacean Acid Metabolic). Penelitian ini bertujuan untukmembandingkan pertumbuhan antara tanaman Tillandsia (K1), Kaktus (K2) dan Bromelia (K3)yang masing-masing ditumbuhkan pada media batu (Fl) secara epifit dan saprofit dibandingkandengan media mos dan pakis (F2) masing-masing diperlakukan dengan pupuk profit (P1) dandekastor (P2).Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap)faktorial dengan kombinasi dan perlakuan ulangan sehingga terdapat 180 satuan percobaan.Pengamatan dilakukan terhadap morfologi vegetasi, keadaan fisik fisiologis sehat normalnyatanaman dengan menggunakan skor 0-10 dan interaksi perlakuan dituangkan dalam bentukgrafik.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa media batu universal dapat dijadikan mediatumbuh golongan epifit dan saprofit baik tanaman Tillandsia, kaktus dan Bromelia dengan skormasing-masing 8,20, 7,33 dan 8,10. Pada media ini pertumbuhan tanaman normal seperti padahabitat aslinya. Hasil pengamatan dengan pemberian pupuk yang berbeda menunjukkanpertumbuhan yang baik, dengan skor Tillandsia, kaktus dan Bromelia masing-masing 8,07,5,73 dan 8,70.
UMUR PEMOTONGAN PARUH DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENAMPILAN BURUNG PUYUH R. Eddy Sugiharto; Kenedy Putra
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.343 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v2i1.225

Abstract

dan rata-rata produksi 70 – 75% (HDA). Daya produksi dan daya hidup burung puyuhsangat baik dan tinggi serta tahan terhadap serangan penyakit.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui umur pemotongan paruh yang ideal terhadappenampilan burung puyuh.Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL)(Sumarto, 1991: 42). Pemotongan paruh dilakukan pada umur 3 minggu (P1), umur 4 minggu(P2), umur 5 minggu (P3) dan umur 6 minggu (P4). Jika terdapat perbedaan nyata di antaraperlakuan akan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) sesuai petunjuk Sumarto(1991) dan Sutjikno (1986: 5-10).Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur pemotongan paruh tidak berpengaruh nyataterhadap pertambahan bobot badan, tetapi berpengaruh sangat nyata terhadap konsumsi pakan.Perlakuan 1 (P1) menghasilkan konversi pakan yang paling rendah yaitu 3,361. berdasarkan ujistatistik umur pemtongan paruh tidak berbeda nyata terhadap konversi pakan dan umurpemotongan paruh lebih tua menghasilkan umur mulai bertelur lebih awal.
HUBUNGAN KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI DAN SISTEM SUMBERDAYA DENGAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT PADA DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK (Studi Kasus di Kabupaten Bogor, Lebak dan Sukabumi) Windra Kurniawan; Cecep Kusmana; Sambas Basuni; Aris Munandar
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 2 No 1 (2007)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.392 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v2i1.226

Abstract

Boundary area management is affected by four factors which are natural resources,human resources technology and institutions. The aimed of this research was to analyze therelationship between social economic dan the resource systems with community institutionson boundary area of Halimun Salak Mountain National Park. The result showed that averageof respondents’ age was 44 years with education level was elementary school and junior highschool, income acerage was Rp 172,758.60/capita/month. The ownership of respondents housewas self owner. Mostly the ownership land status of samples was renting with narrow landauthorities. Income average of group members was Rp 412,500.00. The level of accessibilityand management’s rule locally was 76.43%. Meanwhile, the simplicity in implementing ruleslevel was 68.98%. Gradual sanction level was 67.75%. The accountability level of themonitoring staff was 64.97%. Whereas, the level of relationship between resource system andinstitutions management was 63.85%. The level collective commitment to formulate rules was82.11%. The level of adjusting toward the rules gradually to all members was 62.78%. Thelevel of solving disagreement method was 59.22%. The level of controlling capability for theresource purpose was 60.11%. The level of relationship between resource system andinstitutions management was 58.50%. The level of low cost technology appropriateness was36.05%. The time adaptation toward new technology was 1.91 months. The government fundassisting for institutions/groups was Rp 14.533.333,33. Perception on institution had positivecorrelation with education level and distance from their living area.

Page 5 of 24 | Total Record : 240