cover
Contact Name
Oramahi
Contact Email
jurnaltengkawang@untan.ac.id
Phone
+6281345001010
Journal Mail Official
jurnaltengkawang@untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Jalan Imam Bonjol Pontianak 78124 Provinsi Kalimantan Barat Telp dan Faks. 0561-767673
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
ISSN : 20878788     EISSN : 27146855     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jt.v13i2
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini merupakan jurnal Teknologi Pengembangan Kehutanan dan Lingkungan yang diterbitkan oleh fakultas kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak Kalimantan Barat. Jurnal ini menyajikan artikel mengenai hasil penelitian perkembangan kehutanan dan lingkungan mutakhir meliputi berbagai konsentrasi ilmu di bidang kehutanan yaitu Biologi, Manajemen Hutan, teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan serta bidang lingkungan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal ini akan ditelaah oleh mitra bestari yang bidangnya sesuai. Jurnal ini diterbitkan setahun dua kali : Januari dan Juli.
Articles 157 Documents
ANALISIS PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DI KHDTK UNIVERSITAS TANJUNGPURA Gusti Hardiansyah; Dwi Yoga Budi Pranoto; Zuhry Haryono; A F Tanjung; Erianto Erianto; Iskandar A M; Sofyan Zainal; Iswan Dewantara
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2023): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v13i2.72475

Abstract

KHDTK at Tanjungpura University is a forest area managed for education, research, and community service. This research objective is to analyze the management of KHDTK. Using field observation methods and interviews with KHDTK managers. The interview technique is carried out through in-depth interviews. Using two levels of analysis (1) qualitative descriptive analysis of management (2) content analysis of statutory regulations related to KHDTK. The results of the analysis explain environmental management through community involvement in the form of MPTS enrichment agroforestry, meeting household needs in the form of utilizing water sources and firewood. Forest management is carried out by planting RHL which expands its use for voluntary carbon and protecting/securing forests from forest and land fires, encroachment/illegal logging. Utilization of forest products in the form of NTFPs such as rattan, bajakah roots, resin, and honey. Funding resource management comes from DIPA funds from the Faculty of Forestry which are divided into research, PKM, KHDTK natural laboratory management, and Cooperation grant funds. The challenge in KHDTK management is the dominance of regulations governing KHDTK administration requirements such as PBPH which is profit-oriented, while KHDTK has special characteristics (cost center). The 10% area utilization limitation for funding investment opportunities seems to be lopsided with the specific aim of training and training which manages the landscape of forest areas requiring capital-intensive investment so that program management runs optimally.Keywords: analysis, KHDTK, Forest area management.AbstrakKHDTK di Universitas Tanjungpura (UNTAN) merupakan kawasan hutan yang dikelola untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis pengelolaan KHDTK. Menggunakan metode observasi lapangan dan wawancara terhadap pengelola KHDTK. Teknik wawancara yang dilakukan melalui indept interview. Menggunakan dua tingkat analisis yaitu (1) analisis deskriptif kualitatif terhadap pengelolaan, dan (2) Analisis isi (content analysis) peraturan perundangan terkait dengan KHDTK. Hasil analisis menjelaskan pengelolaan lingkungan melalui pelibatan masyarakat dalam bentuk agroforestri pengayaan MPTS, pemenuhan kebutuhan rumah tangga berupa pemanfaatan sumber air dan pemanfaatan kayu bakar. Pengelolaan hutan yang dilakukan berupa penanaman RHL yang diperluas pemanfaatannya untuk voluntary karbon dan perlindungan/pengamanan hutan dari karhutla, perambahan/pembalakan liar. Pemanfaatan hasil hutan berupa HHBK seperti rotan, akar bajakah, getah damar, dan madu. Pengelolaan sumberdaya pendanaan bersumber dari dana DIPA Fakultas Kehutanan yang terbagi untuk penelitian, PKM, pengelolaan laboratorium alam KHDTK dan dana hibah Kerjasama. Tantangan pada pengelolaan KHDTK adalah dominannya peraturan yang mengatur persyaratan administrasi KHDTK seperti PBPH yang berorientasi profit, sedangkan KHDTK memiliki karakteristik khusus (cost center). Pembatasan pemanfaatan kawasan 10% untuk peluang investasi pendanaan seakan menjadi timpang dengan tujuan khusus diklat yang mengelola bentang alam kawasan hutan membutuhkan investasi padat modal agar pengelolaan program berjalan optimal. Kata kunci: analisis, KHDTK, Pengelolaan kawasan hutan.
STUDI PEMANFAATAN HHBK SEBAGAI KERAJINAN TANGAN OLEH MASYARAKAT DESA BAGAK KECAMATAN MANYUKE KABUPATEN LANDAK Eascy Chorweti; Lolyta Sisilia; Nurhaida Nurhaida
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 11, No 2 (2021): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v11i2.44172

Abstract

This study aims to take an takean inventory of non-timber forest products (NTFPs) that used by the community to make handicrafts and obtains data on how to process non-wood forest products to make handicrafts by the community of Bagak Village, Manyuke District, Landak Regency. The research was conducted exploratory and used survey methods direct interviews, and questionnaires. Inteviews were conducted 37 respondents who were determined by snowball sampling. This research was conducted in January until February 2019 and obtained results that the non-timber forest products were used as a raw material to make handicrafts by the community in Bagak village. Such as bamboo banna, tamaran bark, uwe or rattan, and sekek formed into various kinds of handicraft products. Uwe or rattan is a species of plant that has the highest use value of the 3 other types of NTFPs with 1.62 use value. Processing of NTFPs that used by the community is still in the form of traditional process, where people still take NTFP raw materials directly from the nature. However, the majority of have not to conserve and cultivate NTFPs in their gardens or land. There are 27 respondents or 73% and the other 10 respondents or 27% of all respondents already aware to conserve and cultivate species NTFP types for handicraft in their gardens and fields. The handicrafts produced aregenerally made for personal use and will be sold if there is an order.Keywords: handicrafts, non-timber forest, rattan, utilization,  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang dimanfaatkan masyarakat untuk kerajinan tangan dan memperoleh data tentang cara pengolahan hasil hutan bukan kayu untuk kerajinan tangan oleh masyarakat Desa Bagak, Kecamatan Manyuke, Kabupaten Landak. Penelitian dilakukan secara eksplorasidan menggunakan metode survey, wawancara langsung, dan kuisioner. Wawancara dilakukan terhadap 37 responden yang ditentukan dengan snowball sampling. Penelitian dilakukan pada bulan Januari hingga Febuari 2019 dan diperoleh hasil berupa HHBK yang biasanya diolah masyarakat sebagai bahan baku kerajinan tangan terdiri dari 4 jenis, diantaranya bambu banna, kulit kayu tamaran, uwe atau rotan, dan sekek. Uwe atau rotan merupakan jenis spesies tumbuhan yang memiliki nilai kegunaan tertinggi dari 3 jenis HHBK lainnya dengan nilai kegunaan sebesar 1,62. Pengolahan jenis HHBK yang dimanfaatkan oleh masyarakat masih dalam bentuk pengolahan tradisional dimana masyarakat masih memngambil bahan baku HHBK untuk kerajinan tangan dari alam. Namun, sebagian besar responden belum memiliki kesadaran untuk melakukan konservasi dan membudidayakan HHBK untuk kerajinan tangan di kebun atau lahan mereka yaitu sebanyak 27 orang atau 73%, sisanya sebanyak 10 orang atau 27% dari keseluruhan responden sudah memiliki kesadaran untuk melakukan konservasi dan membudidayakan jenis-jenis HHBK untuk kerajinan tangan di kebun dan lahan mereka. Kerajinan tangan yang dihasilkan umumnya dibuat untuk keperluan pribadi dan akan dijual jika ada pesanan.Kata kunci: hasil hutan bukan kayu, kerajinan tangan, pemanfaatan, rotan. 
PRODUKTIVITAS SERASAH DI LAHAN REHABILITASI MANGROVE KELURAHAN SETAPUK BESAR KOTA SINGKAWANG Herlina Darwati; Destiana Destiana
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 12, No 2 (2022): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v12i2.46004

Abstract

This study aims to determine the amount of litter production of the amount of carbon (C-org), nitrogen (N), and phosphorus (P) nutrients in the substrate of rehabilitated mangrove forests in Setapuk Besar Village, Singkawang City. Determination of observation points using the purposive sampling method based on mangrove planting years in 2007, 2010, 2013, and 2016. Mangrove leaf litter collection uses a litter trap measuring 1 m x 1m with a periodic retrieval time of every 2 weeks. Data collection of environmental factors is carried out directly in the field at each observation point. Measurements of substrate nutrient content with parameters C-org, N and P were carried out on substrate samples at each observation point for later analysis in the laboratory. The results showed that the productivity of litter in the mangrove rehabilitation area of Setapuk Besar Village, Singkawang City was 7.41 gbk / m2 / day – 0.917 gbk / m2 / day. The largest productivity came from mangroves in 2007 which contributed 56% of the total annual litter production with the largest component coming from the leaf part of the mangrove plant. The highest amount of carbon (C-org), N and P nutrient content was in the 2007 growing year. which shows the successful rehabilitation of mangrove lands increases the fertility of mangrove substrates.Keywords: Litter production, Mangrove, Rehabilitation, Setapuk AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah produksi serasah jumlah kandungan unsur hara karbon (C-org), nitrogen (N) dan fosfor (P) pada substrat hutan mangrove rehabilitasi di Kelurahan Setapuk Besar Kota Singkawang. Penentuan titik pengamatan menggunakan metode purposive sampling berdasarkan tahun tanam mangrove tahun 2007, 2010, 2013 dan 2016. Pengumpulan serasah daun mangrove menggunakan litter trap berukuran 1 m x 1m dengan waktu pengambilan berkala disetiap 2 minggu. Pengumpulan data faktor lingkungan dilakukan secara langsung dilapangan pada setiap titik pengamatan. Pengukuran kandungan hara substrat dengan parameter C-org, N dan P dilakukan terhadap sampel substrat di setiap titik pengamatan untuk kemudian dianalisis di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan produktifitas serasah di lahan rehabilitasi mangrove Kelurahan Setapuk Besar Kota Singkawang sebesar 7,41 gbk/m2/hari – 0,917 gbk/m2/hari. Produktivitas terbesar berasal dari mangrove tahun tanam 2007 yang menyumbangkan 56% dari total produksi serasah tahunan dengan komponen terbesar yang berasal dari bagian daun tanaman mangrove.  Jumlah kandungan unsur hara karbon (C-org), N dan P tertinggi berada pada tahun tanam 2007. yang menunjukkan berhasilnya rehabilitasi lahan mangrove ini meningkatkan kesuburan substrat mangrove. Kata Kunci : Mangrove, Produktivitas serasah , Rehabilitasi  Setapuk.
IDENTIFIKASI JENIS KANTONG SEMAR (Nepenthes spp) DI HUTAN LINDUNG BERSAMA DESA NIPAH KUNING KABUPATEN KAYONG UTARA M Dirhamsyah; Lolyta Sisillia; Nanda Saputra
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2023): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v13i2.67788

Abstract

The protected forest Bersama area of Nipah Kuning Village with an area of 2,052 ha is a forest with a landscape that is entirely lowland which has the biological potential to peat swamp forest ecosystem, it was a good ecosystem for the growth Nepenthes. The purpose of this research obtain the type and morphological characteristics of Nepenthes found in the protected forest Bersama area of Nipah Kuning Village, North Kayong Regency. The method used in this study was the survey method, using multiple plots with observations measuring 2m x 2m, which were placed by Purposive Sampling, with a total of 45 plots. Three types of Nepenthes spp were found in the protected forest area of Nipah Kuning Village, North Kayong Regency. The species found were Nepenthes ampullaria Jack, Nepenthes bicalcarata Hook.f and Nepenthes rafflesiana jack. Two of the species Nepenthes found belong to the IUCN Red List, namely Nepenthes ampullaria and Nepenthes rafflesiana which are included in the Least Concern (LC) conservation status or low risk. Nepenthes bicalcarata is included the species with the VU or vulnerable category.Keywords: Identification, Nepenthes, Protected ForestAbstrakHutan Lindung Bersama Desa Nipah Kuning dengan luasan 2.052 ha merupakan kawasan hutan dengan kondisi bentang alam seluruhnya merupakan dataran rendah memiliki potensi kekayaan hayati dengan ekosistem hutan rawa gambut yang merupakan ekosistem yang baik sebagai tempat tumbuh kantong semar. Tujuan penelitian ini memperoleh jenis dan karakteristik morfologi Nepenthes yang ditemukan di Hutan Lindung Bersama Desa Nipah Kuning Kabupaten Kayong Utara. Metode yang digunakan yaitu metode survei, menggunakan petak ganda dengan pengamatan ukuran 2m x 2m, diletakan secara Purposive Sampling dengan jumlah petak sebanyak 45 petak. Tiga spesies Nepenthes yang ditemukan tumbuh di Hutan Lindung Desa Nipah Kuning Kabupaten Kayong Utara yaitu Nepenthes ampullaria Jack, Nepenthes bicalcarata Hook.f dan Nepenthes rafflesiana Jack. Jenis Nepenthes yang ditemukan dua jenis diantaranya tergolong ke dalam daftar IUCN Red List yaitu jenis Nepenthes ampullaria dan Nepenthes rafflesiana termasuk dalam status konservasi Least Concern (LC) atau berisiko rendah. Nepenthes bicalcarata termasuk spesies dengan kategori VU atau rentan. Kata kunci: Identifikasi, Nepenthes, Hutan Lindung
EVALUASI PERTUMBUHAN TANAMAN UJI KETURUNAN MERANTI MERAH (Shorea leprosula) UMUR 12 TAHUN DI AREAL IUPHHK-HA PT. ERNA DJULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Abdurrani muin
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 11, No 2 (2021): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v11i2.46462

Abstract

Red meranti (Shorea leprosula) is one of the superior plants in the application of intensive silviculture (SILIN). As a superior plant, PT. Erna Djuliawati has conducted a progeny test for S. leprosula in the IUPHHK-HA area in Central Kalimantan. The aim of this research was to determine the superior seedlot and genetic growth variation of the S. leprosula in the progeny test plot. The object studied was the 30 seedlots of S. leprosula plants in progeny test plot consists divided into 8 blocks, where each seedlot was 4 plants. The data collected consisted of diameter (cm), tree height (m) and percentage of tree life. The results showed that in the progeny test trial plot there were 5 seedlots with superior growth. The results of the analysis of variance on diameter, height and percentage showed a significant difference between the tested seedlots to the properties measured. High heritability values followed by wide genetic diversity indicate that the appearance of these characters is more determined by genetic factors. The value of moderate diameter genetic progress (8.6%) indicates that the diameter character is supported by genetic factors, so that it can facilitate the progress of selection.Keywords : Progeny test, Shorea leprosula, superior dan genetic variation. AbstrakMeranti merah (Shorea leprosula) merupakan salah satu jenis tanaman unggulan dalam penerapan Silvikultur Intensif (SILIN). Sebagai tanaman unggulan, PT. Erna Djuliawati telah melakukan uji keturuan S. leprosula dalam areal IUPHHK-HA di Kalimantan Tengah. Tujuan penelitian  ingin menentukan seedlot yang unggul dan variasi pertumbuhan genetik tanaman uji keturunan S. leprosula dalam plot uji keturunan. Objek yang diteliti adalah tanaman meranti merah dalam plot uji keturunan sebanyak  30 seedlot yang terbagi dalam 8 blok, dimana setiap seedlot  sebanyak 4 tanaman. Data yang dikumpulkan terdiri dari diameter (cm), tinggi pohon (m) dan pesentase hidup pohon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam plot uji coba keturunan terdapat 5 seedlot yang unggul pertumbuhannya. Hasil analisis keragaman (varians) terhadap diameter, tinggi dan persentase menunjukkan adanya perbedaan yang nyata di antara seedlot yang diuji terhadap sifat yang diukur. Nilai heritabilitas yang tinggi diikuti dengan keragaman genetik yang luas menunjukkan penampilan karakter tersebut lebih ditentukan oleh faktor genetik. Nilai kemajuan genetik diameter sedang (8,6 %) mengindikasikan karakter diameter tersebut didukung oleh faktor genetik, sehingga dapat memfasilitasi kemajuan seleksi.Kata kunci : Uji Keturunan, S. leprosula, unggul, dan variasi genetik.
KUALITAS BRIKET ARANG LIMBAH SAGU (Metroxylon sp) MENGGUNAKAN PEREKAT TEPUNG SAGU Sintia Cornelia Gurusinga; Herman Siruru; Jimmy Titarsole
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2023): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v13i1.65011

Abstract

Sago waste is a lignocellulose material that has potential as raw material for charcoal briquettes because of its abundance. This study aims to determine the quality of sago waste charcoal briquettes and determine the effect of sago flour adhesive concentration and the effect of pressure on the quality of sago bark charcoal briquettes based on SNI 01-6235-2000. The study used a Factorial Group Randomized Design with two treatment factors and three repeats for each treatment. The first factor is the concentration of the adhesive (A) and the second factor is pressure (B). The parameters observed are moisture content, flying substance content, ash content, bound carbon content, density and calorific value. The results showed that adhesive concentration and pressure factors had a very real effect on water content, ash content, bound carbon content, flying substance content and calorific value while pressure factors had a real effect on ash content and density. Based on research, ash content, density and calorific value meet SNI standards while water content, flying substance content and bound carbon content do not meet the standards. The best treatment based on calorific value is an adhesive concentration of 5% with a pressure of 1 ton (A1B1).Keywords: Biomass, charcoal briquettes, quality, sago, Waste AbstrakLimbah sagu adalah bahan berlignoselulosa yang berpotensi sebagai bahan baku briket arang karena kelimpahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dari briket arang limbah sagu serta mengetahui pengaruh konsentrasi perekat tepung sagu dan pengaruh tekanan terhadap kualitas briket arang kulit batang sagu berdasarkan SNI 01-6235-2000. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor perlakuan dan tiga ulangan untuk tiap perlakuan. Faktor pertama adalah konsentrasi perekat (A) dan faktor kedua adalah tekanan (B). Parameter yang diamati adalah kadar air, kadar zat terbang, kadar abu, kadar karbon terikat, kerapatan dan nilai kalor. Hasil penelitian menunjukkan faktor konsentrasi perekat dan tekanan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air, kadar abu, kadar karbon terikat, kadar zat terbang dan nilai kalor sedangkan faktor tekanan berpengaruh nyata terhadap kadar abu dan kerapatan. Berdasarkan penelitian kadar abu, kerapatan dan nilai kalor memenuhi standar SNI sedangkan kadar air, kadar zat terbang dan kadar karbon terikat tidak memenuhi standar. Perlakuan terbaik berdasarkan nilai kalor adalah konsentrasi perekat 5% dengan tekanan 1 ton (A1B1).Kata kunci: biomassa, briket arang, kualitas, sagu, Limbah
POLA DISTRIBUSI ABOVEGROUND BIOMASSA TEGAKAN MANGROVE DALAM KAITANYA DENGAN STOKS KARBON DI KAWASAN PESISIR SUNGAI PINYUH KABUPATEN MEMPAWAH KALIMANTAN BARAT Eko Subrata; Gusti Hardiansyah; Rafdinal Rafdinal
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 11, No 1 (2021): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v11i1.41358

Abstract

Mangrove ecosystem is one of the largest carbon storage sheds on earth, has enormous environmental benefits in disaster mitigation, as well as a source of livelihood for coastal communities. The purpose of this research is to know the aboveground biomass distribution of mangrove forest stand and to know the potency of carbon reserve of mangrove forest area of Mempawah Regency. The research was conducted from September to October 2017 in mangrove forest of Sungai Pinyuh district of Mempawah Regency. Aboveground biomass measurements are performed in a 50 x 50 m measuring plot, data collection is performed by listing each stand with dbh ? 5 cm and grouping it in diameter classes. Aboveground tree biomass estimation was performed using allometric equations and organic carbon stocks calculated by converting biomass by conversion factor of 0.5. The results showed the biomass value ranged from 32.37 to 55.84 tons / ha with an average value of 40.28 tons / ha. The highest biomass is distributed in diameter class 15-25 cm with the percentage 23.10% and lowest in class diameter> 55 cm with contribution equal to 13.39%. Carbon stock in mangrove stand biomass ranged from 16.18-27.91ton C / ha with average value 20.14 ton C / ha. Avicennia officinalis is an important type with the contribution of carbon reserves of 98.99%.Keywords: aboveground biomass, Carbon stock, mangrove forest, Mempawah Regency.AbstrakEkosistem mangrove merupakan salah satu gudang penyimpanan karbon terbesar di bumi, memiliki manfaat lingkungan yang besar dalam mitigasi bencana, serta sebagai sumber mata pencaharian masyarakat pesisir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi aboveground biomass tegakan hutan mangrove dan mengetahui besarnya potensi cadangan karbon kawasan hutan mangrove Kabupaten Mempawah. Penelitian dilaksanakan dari bulan September hingga Oktober 2017 di hutan mangrove kecamatan Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah. Pengukuran biomassa atas permukaan (aboveground biomass) tegakan dilakukan di dalam petak ukur ukuran 50 x 50 m, pengumpulan data dilakukan dengan mendata tiap tegakan dengan dbh ? 5 cm dan mengelompokkannya dalam kelas-kelas diameter. Pendugaan biomassa aboveground pohon (aboveground tree biomass) dilakukan dengan menggunakan persamaan allometrik (Komiyama et al., 2008) dan stoks karbon organik dihitung dengan mengkonversikan biomassa dengan faktor konversi sebesar 0,5. Hasil menunjukkan nilai biomasa berkisar antara 32,37-55,84 ton/ha dengan nilai rata-rata 40,28 ton/ha. Biomasa tertinggi terdistribusi pada kelas diameter 15-25 cm dengan persentase 23,10% dan terendah pada kelas diameter >55 cm dengan kontribusi sebesar 13,39%. Stoks karbon pada biomasa tegakan mangrove berkisar antara 16,18-27,91 ton C/ha dengan nilai rata-rata 20,14 ton C/ha. Avicennia officinalis merupakan jenis penting dengan kontribusi stoks karbon sebesar 98,99%.Kata kunci: Aboveground biomass, hutan mangrove, Kabupaten Mempawah, Stok karbon.
KARAKTERISTIK EKSTRAK SERBUK GERGAJIAN KAYU TEMBESU (Fagraea fragrans), RENGAS (Gluta renghas) DAN MEDANG (Litsea sp.) SEBAGAI LARVASIDA LALAT RUMAH (Musca domestica) Riana Anggraini; Jauhar Khabibi
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 12, No 1 (2022): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v12i1.53628

Abstract

Sawdust extract contains polar compounds that act as insecticides such as saponin, tanin, phenolic, anthraquinones, steroids dan triterpenes. Some of these components are toxic to larvae. Therefore, it is necessary to research the potential of extracts from sawdust as a natural insecticide against house flies (Musca domestica). This study aims to analyze the characteristics and effectiveness of the sawdust extract of Tembesu wood (Fagraea fragrans), rengas (Gluta renghas), medang (Litsea sp.) as larvacides of house flies (M. domestica). The analysis of this research was analyzed using descriptive statistical variables. The main variables observed were the mortality rate of flies and extract levels of extracts of F. fragrans, G. renghas, and Litsea sp. Preliminary results showed that the powder moisture content of Litsea sp., F. fragrans and G. renghas ranged from 12-15%. The yield of the extracts of Litsea sp., F. fragrans and G. renghas was around 2%. G. renghas extract had the most significant mortality at a concentration of 9% and 10% compared to other wood extracts.Keywords: ethanol extract, F. fragrans, G. Renghas, larvacide, Litsea sp.Abstrak Ekstrak serbuk gergaji mengandung senyawa polar yang bertindak sebagai insektisida seperti saponin, tanin, fenolik antraquinon, steroid dan triterpen. Beberapa komponen ini beracun bagi larva. Oleh karena itu, perlu untuk meneliti potensi ekstrak dari serbuk gergaji sebagai insektisida alami terhadap lalat rumah (Musca domestica). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan efektivitas ekstrak serbuk gergaji kayu tembesu (Fagraea fragrans), rengas (Gluta renghas), medang (Litsea sp) sebagai larvasida lalat rumah (M. domestica). Penelitian ini dianalisis menggunakan variabel statistik deskriptif. Variabel utama yang diamati adalah tingkat mortalitas lalat dan kadar ekstrak F. fragrans, G. renghas, dan Litsea sp. Hasil awal menunjukkan bahwa kadar air ekstrak Litsea sp., F. fragrans dan G. renghas berkisar antara 12-15%. Hasil ekstrak Litsea sp., F. fragrans dan G. renghas adalah sekitar 2%. Ekstrak G. renghas memiliki angka kematian terbesar pada konsentrasi 9% dan 10% dibandingkan dengan ekstrak kayu lainnya.Kata kunci: ekstrak etanol, tembesu, rengas, larvasida, medang 
INVENTARISASI KANTONG SEMAR (Nepenthes sp) ENDEMIK DATARAN TINGGI KAWASAN TELAGAH PUTERI DELENG PINTAU GUNUNG SIBAYAK KABUPATEN KARO Syaiful Azhar; Muhammad Iqbal Haitame Tambunan; Irfan Ritonga; Muhajir Syarif Lubis; Dede Kurniawan
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2023): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v13i1.53947

Abstract

Data collection of endemic species in each area requires continuous research, aims to determine the existence of the distribution of endemic species in a particular area, one of them is the pitcher plant (Nepenthes sp.). The purpose of this study was to record the species of pitcher plant endemic to the highlands of North Sumatra which are in the Puteri Deleng Pintau Lake area, on Mount Sibayak. The research was conducted from January to February 2022 using an exploratory method. The tools used in this study included soil testers, hygrometers, compasses, GPS, cameras, stationery, observer tables and reference books while the materials were Nepenthes sp plants which were found along the hiking trails. The results of the study found two species endemik to North Sumatra, namely N. tobaica and N. spectabilis. The finding that there is a shift in the habitat findings of N. spectabilis in the Mount Sibayak area has an impact on the threat to the sustainability of this endemic species in nature.Keywords: Endemik, Gunung Sibayak, Nepentheceace, Telagah Puteri   AbstrakPendataan spesies endemik pada setiap kawasan memerlukan penelitian berkelanjutan, bertujuan untuk mengetahui keberadaan dari penyebaran spesies endemik pada suatu kawasan tertentu, salahsatunya tumbuhan kantong semar (Nepenthes sp.). Tujuan penelitian ini mendata spesies kantong semar endemik dataran tinggi Sumatra Utara yang berada pada kawasan Telagah Puteri Deleng Pintau tepatnya di Gunung Sibanyak. Penelitian dilakukan pada bulan Januari hingga Februari 2022 dengan menggunakan metode eksploratif. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi soiltester, hygrometer, kompas, GPS, kamera, alat tulis, tabel pengamat dan buku referensi sedangkan bahan yaitu tumbuhan Nepenthes sp yang ditemukan disepanjang jalur pendakian. Hasil penelitian ditemukan dua spesies endemik Sumatra Utara yaitu N. tobaica dan N. spectabilis. Temuan bahwa terjadinya pergeseran temuan habitat dari N. spectabilis pada Kawasan Gunung Sibayak yang berdampak pada terancam kelestarian spesies endemik ini di alam.Kata kunci: Endemik, Gunung Sibayak, Nepentheceace, Telagah Puteri  
PENGARUH PROSES BLEACHING TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS KAYU PINUS (Pinus sp.) TERSERANG BLUE STAIN Wijayanto, Arip; Muhamad, Soleh; Nurhanifah, Nurhanifah; Anggiriani, Siska
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2024): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v14i1.73414

Abstract

The weakness of pine wood as a furniture material is that it is easily attacked by blue stain which causes changes in the color of the wood. In previous research, it was reported that bleaching material i.e. sodium hypochlorite 25% had a significant effect on the color change of pine wood affected by blue stain, but the effect on its physical and mechanical properties was not yet known. The aim of this research was to determine the effect of bleaching materials on the physical and mechanical properties of pine wood attacked by blue stain. Bleaching treatment was carried out at three different concentrations, namely a mixture of bleaching material and water 1:1, 1:2, and 2:1. Then the pine woods that has been treated with bleaching were tested for moisture content, density, modulus of elasticity (MOE) and modulus of rupture (MOR)) referring to the BS 372-1957 standard. The test results showed that the bleaching treatment had a significant effect on moisture content, MOE, and MOR, but did not affect density. The moisture content of pine woods attacked by blue stains that were treated with bleaching tended to be higher than the control. Meanwhile, the lowest MOE and MOR values were found in pine wood that was treated with bleaching 2:1.Keywords: bleaching, blue stain, mechanical, pine, physical.AbstrakKelemahan dari kayu pinus sebagai bahan furnitur yaitu mudah terserang blue stain yang menyebabkan terjadinya perubahan warna kayu. Pada penelitian sebelumnya telah dilaporkan bahwa bahan bleaching sodium hipoklorit 25% berpengaruh signifikan terhadap perubahan warna kayu pinus terserang blue stain, namun belum diketahui pengaruh terhadap sifat fisis dan mekanisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisis dan mekanis kayu pinus terserang blue stain yang diberi perlakuan bleaching. Perlakuan bleaching pada kayu pinus terserang blue stain dilakukan pada tiga konsentrasi berbeda yaitu campuran bahan bleaching dan air 1:1, 1:2, dan 2:1. Kemudian kayu pinus yang telah diberi perlakuan bleaching diuji kadar air, kerapatan, modulus of elasticity (MOE) dan modulus of rupture (MOR)) mengacu pada standar BS 372-1957. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan bleaching berpengaruh signifikan terhadap kadar air, MOE, dan MOR, namun tidak beroengaruh terhadap kerapatan. Kayu pinus terserang blue stain yang diberi perlakuan bleaching memiliki kadar air yang lebih tinggi dibanding kontrol. Sedangkan nilai MOE dan MOR yang paling rendah ditemukan pada kayu pinus yang diberi perlakuan bleaching 2:1.   Kata kunci: bleaching, blue stain, fisis, mekanis, pinus.  

Page 9 of 16 | Total Record : 157