cover
Contact Name
Oramahi
Contact Email
jurnaltengkawang@untan.ac.id
Phone
+6281345001010
Journal Mail Official
jurnaltengkawang@untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Jalan Imam Bonjol Pontianak 78124 Provinsi Kalimantan Barat Telp dan Faks. 0561-767673
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
ISSN : 20878788     EISSN : 27146855     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jt.v13i2
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini merupakan jurnal Teknologi Pengembangan Kehutanan dan Lingkungan yang diterbitkan oleh fakultas kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak Kalimantan Barat. Jurnal ini menyajikan artikel mengenai hasil penelitian perkembangan kehutanan dan lingkungan mutakhir meliputi berbagai konsentrasi ilmu di bidang kehutanan yaitu Biologi, Manajemen Hutan, teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan serta bidang lingkungan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal ini akan ditelaah oleh mitra bestari yang bidangnya sesuai. Jurnal ini diterbitkan setahun dua kali : Januari dan Juli.
Articles 157 Documents
JENIS-JENIS BAMBU DI HUTAN ADAT PENYANGGAR KABUPATEN BENGKAYANG PTOVINSI KALIMANTAN BARAT Lolyta Sisillia; Junisa Junisa
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 12, No 1 (2022): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v12i1.48335

Abstract

Many species of bamboo grow in the Penyanggar customary forest area. Identification of bamboo is important to know the characteristics of bamboo that grows in the area. The purpose of this study was to found bamboo species based on their morphological characters at Penyanggar.  Data from identification of bamboo is expected to be used as information in the course of collecting data on the potential of bamboo in the Penyanggar Customary Forest, Bengkayang Regency and information for the community as users, especially those around the Penyanggar Customary Forest so that it is used appropriately. The research was carried out from July to October 2020 in the Penyanggar customary forest. The research was done by using exploration survey and experimental methods by exploring every corner of the location that can represent the bamboo vegetation in the Penyanggar customary forest to collect all species of bamboo to be identified. This study found five genera are Bambusa, Gigantochloa, Dendrocalamus, Schizostachyum, and Thyrsostachys. The identified bamboo species are: B. multiplex, B. vulgaris., B. heterostachya, B. blumeana, G. balui, G. ater, G. hasskarliana, G. levis, G. luteostriata, D. asper, D. hirtellus, S. blumei, S. brachycladum, S. flexuosum, S. latifolium, and T. siamensis.Keywords: bamboo, customary forest, identificationAbstrakBermacam jenis bambu tumbuh di kawasan Hutan Adat Penyanggar. Identifikasi bambu penting untuk mengetahui karakteristik bambu yang tumbuh di kawasan tersebut. Tujuan penelitian untuk mengetahui jenis-jenis bambu di Hutan Adat Penyanggar Kabupaten Bengkayang. Data hasil identifikasi bambu diharapkan dapat sebagai informasi dalam rangka pendataan potensi bambu yang ada di Hutan Adat Penyanggar Kabupaten Bengkayang dan informasi bagi masyarakat sebagai pengguna khususnya yang berada di sekitar Hutan Adat Penyanggar agar tepat dalam pemanfaatannya.  Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2020 di Hutan Adat Penyanggar. Penelitian ini menggunakan metode survey dan eksperimen dengan teknik menjelajah setiap sudut lokasi yang dapat mewakili vegetasi bambu di hutan adat Penyanggar untuk mengoleksi semua jenis bambu yang akan diidentifikasi. Berdasarkan hasil penelitian jenis bambu yang ditemukan di Hutan Adat Penyanggar terdiri atas 5 genus yaitu Bambusa, Gigantochloa, Dendrocalamus, Schizostachyum, dan Thyrsostachys. Spesies bambu yang teridentifikasi, yaitu: B. multiplex, B. vulgaris., B. heterostachya, B. blumeana., G. balui, G. hasskarliana, G. levis, G. luteostriata, D. asper, D. hirtellus, S. blumei, S. brachycladum, S. flexuosum, S. latifolium, dan T. siamensis. Kata Kunci: bambu, hutan adat, identifikasi
STRUKTUR VEGETASI, KOMPOSISI JENIS DAN POTENSI KARBON PADA TEGAKAN HUTAN RAWA GAMBUT DI KECAMATAN BATU AMPAR KABUPATEN KUBU RAYA Mulyadi Mulyadi; Gusti Hardiansyah; M Sofwan Anwari
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 12, No 2 (2022): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v12i2.51818

Abstract

 The core stone district has a peat ground that can potentially absorb co2 gas in the atmosphere and be stored in the plant's body parts. Information on vegetation structure, the composition of the type and potential carbon found in peat bogs in amp-stone bogs is essential to support conservation programs and climate change mitigation. The methods used in this study are done by grid surveying methods, field data collecting by recording all the kinds, diameter, Numbers of individuals and peat depths found in the research path, while for collecting data on tree biomass are done by non-destruktive sampling. Research shows that vegetation was classified as normal. The composition of the main species consists of syzygium lanceolatum, blumeodendron tokbrai, dyera lowii, campnothi macrophylla, agathis sp, calophyllum hosei build, diospyros confertiflora (hiern) bakh, macaranga sp, phoebe sp, dactylocladus stenostachys, uranda secunista prodira, and diospyros areolata king & gamble. Carbon potential stored in degraded peat bogs by 40.39 tons c /ha or equivalent to 148.24 tons of co2 eq/ha. The potential carbon stored in a secondary peat forest of 77.76 tons c /ha or equivalent to 285.37 tons of co2 eq/ha. Carbon potential stored in primary peat forests by 171.29 tons c /ha or equivalent to 628.64 tons of co2 eq/ha.Keywords: peat bog forest, carbon potential, vegetation structure AbstrakKecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya memiliki lahan gambut yang berpotensi dapat menyerap gas CO2 di atmosfer dan disimpan di bagian tubuh tanaman. Informasi mengenai struktur vegetasi, komposisi jenis dan potensi karbon yang terdapat pada hutan rawa gambut di Kecamatan Batu Ampar penting dilakukan untuk mendukung program konservasi dan mitigasi perubahan iklim. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode survei dengan cara jalur berpetak, pengumpulan data di lapangan dengan cara mencatat seluruh jenis, diameter, jumlah individu dan kedalaman gambut yang terdapat di dalam jalur penelitian, sedangkan untuk pengumpulan data biomasa pohon dilakukan dengan metode non-destruktive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur vegetasi tergolong normal. komposisi spesies utama terdiri dari Syzygium lanceolatum, Blumeodendron tokbrai, Dyera lowii, Campnosperma macrophylla, Agathis sp, Calophyllum hosei Ridl, Diospyros confertiflora (Hiern) Bakh, Macaranga sp, Phoebe sp, Dactylocladus stenostachys,Uranda secundiflora, Tetramerista glabra, dan Diospyros areolata King & Gamble. Potensi karbon tersimpan pada hutan rawa gambut terdegradasi sebesar 40,39 ton C/ha atau setara dengan 148,24 ton CO2 eq/ha. Potensi karbon tersimpan pada hutan gambut sekunder sebesar 77,76 ton C/ha atau setara dengan 285,37 ton CO2 eq/ha. Potensi karbon tersimpan pada hutan gambut primer sebesar 171,29 ton C/ha atau setara dengan 628,64 ton CO2 eq/ha.Kata kunci: Hutan Rawa Gambut, Potensi Karbon, Struktur Vegetasi
EKSPLORASI FAMILI ZINGIBERACEAE DI TAMAN WISATA ALAM BANING KOTA SINTANG, KALIMANTAN BARAT Barnabas Gianto; lolyta Sisillia; Yeni Mariani
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2023): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v13i2.70265

Abstract

The Zingiberaceae family is one of the plant families most widely used by the community, both for cooking spices and traditional medicine. Many plants belonging to the Zingiberaceae family have not yet been identified. This research aims to explore and document plant species belonging to the zingiberaceae family in the Baning Sintang natural tourism park area. Data collection was carried out using an exploration method with 5 paths. We found 8 species of plants from the Zingiberaceae family with a total of 41 individuals. These plants belong to 5 genera. The most frequently found genus was Etlingera with 3 species (37.5%) and 29 individuals (70.73%). The most common species was Etlingera coccinea which was found in all observation routes. From the research results, it is proven that the Baning natural tourist park in the city of Sintang has the potential for a diversity of plant species from the Zingiberaceae family.Keywords: Eksplorasi, Jalur, Sintang, Taman Wisata Alam Baning, Zingiberaceae.AbstrakFamili Zingiberaceae merupakan salah satu famili tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, baik untuk bumbu masakan maupun pengobatan tradisional. Tumbuhan anggota famili Zingiberaceae masih banyak yang belum teridentifikasi. Penelitian ini bertujuan mencari dan mendokumentasikan jenis tumbuhan yang termasuk kedalam family zingiberaceae yang ada di kawasan wisata alam Baning Sintang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode ekplorasi dengan 5 jalur. Ditemukan 8 jenis tumbuhan dari famili Zingiberaceae dengan jumlah individu 41. Tumbuhan tersebut yang termasuk kedalam 5 genus. Genus yang paling banyak ditemukan adalah Etlingera dengan jumlah jenis 3 (37,5%) dan individu 29 (70,73%). Jenis yang paling banyak ditemukan adalah Etlingera coccinea yang ditemukan pada semua jalur pengamatan. Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa Taman wisata alam Baning kota Sintang memiliki potensi keanekaragaman jenis tumbuhan dari famili Zingiberaceae.Kata kunci: Eksplorasi, Jalur, Sintang, Taman Wisata Alam Baning, Zingiberaceae.
Pemetaan Kawasan Mangrove di Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat menggunakan Citra Landsat 8 Pada Periode 2017-2019 Rafdinal Rafdinal; Adityo Raynaldo; Eko Subrata
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 11, No 2 (2021): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v11i2.43452

Abstract

Pemetaan kawasan mangrove melalui data citra satelit dapat memberikan informasi terkini mengenai kondisi dan sebaran mangrove yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kawasan mangrove yang berada di tiga kecamatan di Kabupaten Mempawah, yaitu Kecamatan Siantan, Segedong dan Sungai Pinyuh, serta memetakan kondisi eksisting kawasan mangrove saat ini. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan kombinasi pendekatan penginderaan jauh dan survey lapangan. Melalui hasil analisis, luasan mangrove diestimasi sebesar 592,56 di Kecamatan Siantan, 287,91 Ha di Kecamatan Segedong dan 245,25 Ha di Kecamatan Sungai Pinyuh. Nilai indeks vegetasi (Normalized Difference Vegetation Index) berkisar antara 0,20 hingga 0,81, dominan kondisi vegetasi berada dalam kondisi baik dengan nilai indeks vegetasi yang tinggi. Terdapat titik-titik di lokasi yang mengalami degradasi dengan nilai indeks vegetasi berkisar 0,20 hingga 0,61. Kondisi eksisting hutan mangrove di 3 kecamatan dapat dikatakan baik, namun terdapat beberapa titik-titik yang mengalami degradasi atau kerusakan secara parsial.
PEMODELAN SPASIAL KESESUAIAN HABITAT BURUNG ENGGANG GADING (Rhinoplax vigil) DI KAWASAN CAGAR ALAM GUNUNG NYIUT KABUPATEN BENGKAYANG Hendra Budaya Hadikusuma; Siti Latifah; Erianto Erianto
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2023): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v13i1.43042

Abstract

Helmeted Hornbills bird (Rhinoplax Vigil) are increasingly threatened by illegal hunting, trade activities, and deforestation. Rhinoplax Vigil is listed in Appendix I of CITES (endangered and prohibited to be traded), and protected according to Law No. 5 of 1990 concerning Conservation of Biological Resources and their Ecosystems, and PP No. 7 of 1999 concerning Preservation of Plant and Animal Types. We have been protecting its existence or to perform conservation of Helmeted Hornbills is to make spatial modeling habitat suitability of Helmeted Hornbills. Spatial modeling is an activity which makes a spatial model of a phenomenon, spatial modeling can be done using a Geographic Information System (GIS). This study aims to create a spatial model of an Rhinoplax Vigil habitat suitability map in the Nyiut Mountain Nature Reserve area of Bengkayang Regency, West Kalimantan Province. Spatial modeling using ArcMap 10.5 software. The result of interpolation between Rhinoplax Vigil  to height, slope, NDVI, distance from the river, road and settlement shows the level of agreement needed by the Rhinoplax Vigil  , including the dominance of the meeting point on the altitude at an altitude of 500 m above sea level, while the slope shows a slope of 15-25%, NDVI shows a value of 0,3 – 0,4 in a fairly tight vegetation condition, the distance from the river is generally found in the range of 0 - 2 Km. the distance from the road and settlements is precisely the Rhinoplax Vigil  away which is dominant at a distance of 6 - 8 Km. PCA (Principal Component Analysis) analysis results explain that by using two main components can explain the variant as much as 70,676%, the weight of each variable has a value of Y = (2,940 x Fk Settlement) + (2,940 x Fk Road) + (1,300 x Fk Rivers) + (2,940 x Fk Elevation) + (1,300 x FkSlope) + (1,300 x FkNDVI). Validation value of the high suitability has an area of 13,975 hectares with a validation percentage of 87%, for the medium level of suitability has an area of 15,051 hectares with a validation percentage of 10%, while for low suitability shows in an area of 10,391 hectares with validation of 3%. Keywords: GIS, Helmeted Hornbill, Habitat, Spatial Modeling                            AbstrakBurung Enggang (Hornbills helmeted) semakin terancam oleh kegiatan berburu liar,  perdagangan ilegal, dan deforestasi . Burung Rangkong termasuk dalam Lampiran I CITES (terancam punah dan dilarang diperdagangkan), dan dilindungi sesuai dengan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya, dan PP No. 7 tahun 1999 tentang pelestarian jenis tumbuhan dan hewan. Salah satu cara untuk melindungi keberadaan atau melakukan konservasi burung Enggang Gading adalah membuat pemodelan spatial kesesuaian habitat burung Enggang Gading.  Pemodelan spasial adalah kegiatan yang membuat model spasial suatu fenomena, pemodelan spasial dapat dilakukan dengan menggunakan Geographic Information System (GIS). Penelitian ini bertujuan membuat pemodelan spasial peta kesesuaian habitat burung Enggang Gading di wilayah Cagar Alam Gunung Nyiut, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat. Pemodelan spasial menggunakan perangkat lunak ArcMap 10,5. Hasil interpolasi antara data kelas ketinggian (dpal), kelas kemiringan lereng, nilai indeks vegetasi (NDVI), kelas jarak lokasi dari sungai, kelas jarak lokasi dari jalan dan kelas jarak lokasi dari permukiman. Burung Enggang Gading memerlukan habitat dengan ketinggian  500 m di atas permukaan laut, pada kemiringan 15-25%, NDVI menunjukkan nilai 0, 3 – 0, 4 dalam kondisi vegetasi yang cukup rapat , jarak dari Sungai umumnya ditemukan di kisaran 0-2 km jarak dari jalan dan permukiman jarak dari lokasi habitat adalah 6-8 km.Hasil analisis PCA (Principal komponen Analysis) menjelaskan bahwa dengan menggunakan dua komponen utama mempunyai keragaman kumulatifmya 70.676%, bobot setiap variabel memiliki nilai Y = (2.940 x FK Settlement) + (2.940 x FK jalan) + (1.300 x FK sungai) + (2.940 x FK elevasi) + (1.300 x FkSlope) + (1.300 x FkNDVI).Berdasarkan nilai validasi, nilai kesesuaian yang tinggi seluas 13.975 hektar dengan persentase validasi 87%, untuk tingkat menengah kesesuaian luas 15.051 hektar dengan persentase validasi 10%, sedangkan untuk kesesuaian rendah  luas wilayah 10.391 hektar dengan validasi 3%. Kata kunci : SIG, Burung Enggang Gading, habitat, Pemodelan spatial
STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT PINANG JAYA KEMILING DENGAN ANALISIS SWOT siti herawati sitorus; Rahmat Safe’i; Susni Herwanti
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 11, No 1 (2021): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v11i1.42897

Abstract

Community forest has a very important role in influencing environmental sustainability. Good management at community forest will affect the welfare of the community around the forest. This study aims to determine the strategy of community forest management in Pinang Jaya Kemiling Bandar Lampung. The data were collected with observation, documentation study and deeply interview with community forest farmers. The method of analysis used in this research is descriptive qualitative. The strategy for managing the community forest in Pinang Jaya analyzed with SWOT analysis (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threat). Based on the research, the results of the identification of internal factors, there are two strengths and four weaknesses, Meanwhile, for external factors, there are five opportunities and one threat. The SWOT diagram shows that the position of the Pinang Jaya community forest management strategy lies in quadrant three or diversification strategy by using the power possessed and avoid any available threats. Keywords : Community forest, management at community forest, SWOTAbstrakHutan rakyat memiliki peran yang sangat penting dalam mempengaruhi kelestarian lingkungan. Pengelolaan hutan rakyat yang baik akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pengelolaan hutan rakyat di Pinang Jaya Kemiling Bandar Lampung. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, studi dokumentasi dan wawancara mendalam dengan petani hutan rakyat. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Strategi pengelolaan hutan rakyat di Pinang Jaya dianalisis dengan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threat). Berdasarkan penelitian diperoleh hasil identifikasi faktor internal terdapat dua kekuatan dan empat kelemahan, sedangkan untuk faktor eksternal terdapat lima peluang dan satu ancaman. Diagram SWOT menunjukkan bahwa posisi strategi pengelolaan hutan rakyat Pinang Jaya berada pada kuadran tiga atau strategi diversifikasi dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki dan menghindari ancaman yang ada.Kata Kunci: Hutan rakyat, Pengelolaan Hutan rakyat, SWOT
KEANEKARAGAMAN SERANGGA DALAM KAWASAN HUTAN MANGROVE DI DESA IHAMAHU Hellen Grace Paliama; Fransina S Latumahina; Cornelia M A Wattimena
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 12, No 1 (2022): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v12i1.53861

Abstract

The research was carried out in the mangrove forest area of Ihamahu Village in September 2020. The study aimed to determine the distribution and level of insect diversity and the factors that influence insect diversity in the mangrove forest area. The study was carried out in an area of 500 m using the path method for insect inventory and systematic sampling for vegetation inventory with a width of 20 m and a length of 100 m with a distance between lanes of 20 m. Insect retrieval using exploratory methods using hands (hand collecting), pitfall traps, and bait traps. The results of the study found 73 insects consisting of 5 orders, 5 families with 9 species of insects, and 4 types of mangroves. The insect diversity index value is 2.1 which is classified as moderate, the abundance index value is 0.018 and the dominance index value is 0.124 which is classified as low. Factors thought to influence insect diversity are the microclimate and the availability of mangroves as a food source.Keywords: Diversity, forest, Ihamahu, insects, mangrove.AbstrakPenelitian dilaksanakan dalam kawasan hutan mangrove Desa Ihamahu pada bulan September 2020. Penelitian bertujuan untuk mengetahui penyebaran dan tingkat keanekaragaman serangga serta faktor-faktor yang mempengaruhi keanekaragaman serangga yang berada dalam kawasan hutan mangrove. Penelitian dilaksanakan pada areal seluas 500 m menggunakan metode jalur untuk inventarisasi serangga dan sistematik sampling untuk inventarisasi vegetasi dengan lebar 20 m dan panjang 100 m dengan jarak antar jalur yaitu 20 m. Pengambilan serangga menggunakan metode eksplorasi dengan menggunakan tangan (hand collecting), perangkap sumuran (pit fall trap), dan perangkap umpan (bait trap). Hasil penelitian menemukan 73 ekor serangga terdiri dari 5 ordo, 5 family dengan jumlah jenis serangga 9 jenis dengan 4 jenis mangrove. Nilai indeks keanekaragaman serangga sebesar 2.1 yang tergolong sedang, nilai indeks kelimpahan sebesar 0.018 dan nilai indeks dominansi 0.124 yang tergolong rendah. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi keanekaragaman serangga yakni iklim mikro dan ketersediaan mangrove sebagai sumber makanan. Kata kunci: Hutan, Ihamahu, keanekaragaman, mangrove, serangga.
PROFIL FISIKA DAN KIMIA MINYAK ATSIRI DARI JENIS TUMBUHAN LITSEA DENGAN METODE PENYULINGAN PEREBUSAN Agmi Sinta Putri; Risniyanti Manurung; Enih Rosamah; Harlinda Kuspradini
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2023): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v13i1.59646

Abstract

English translation. The genus Litsea is a type of essential oil-producing plant found in the Educational Forest Laboratory of the Faculty of Forestry, Mulawarman University, Samarinda. The aim of this work is to examine the physical profile and identified the essential oil components from three types of Litsea (Litsea angulata, L. rubiginosa and L. elliptica). Distillation process of essential oils using a boiled system (water distillation). The physical characteristics of essential oils tested include yield, visual color and refractive index measured by a hand refractometer, as well as chemical profile such as essential oil components through GC-MS analysis. L. angulata obtained the higest rendemen was 0.13%. The essential oils of L. angulata, L. elliptica, and L. rubiginosa gained various colors, that were clear, yellowish, and dark yellow (respectivelly). L. rubiginosa oil has the greatest refractive index value about 1.442. The results of constituent identification by GCMS showed L. angulata oil composed by the main compounds were Cyclohexanemethanol (25.96%); 2-Undecanol (25.54 %); and 7-Octen-ol (14.09 %). The major constituent contained in the L. rubiginosa oils are Tetratetracontane (22.52 %); Spathulenol (10.39 %); and Heptacosane (9.88 %). L. elliptica is dominated by 7- Octen-2ol.2.6-Dimethyl (32.24 %); 2-Undecanol (30.31 %); and 9-Decen-2-ol (17.86%) as the main components. Analysis of chemical compounds with GC-MS showed that these three types of essential oils from Litsea plants are dominated by the monoterpene, alcohol, sesquiterpene, and others group.Keywords: Essential oil, GC-MS, Litsea angulata, Litsea elliptica, Litsea rubiginosa. AbstrakGenus Litsea merupakan jenis tumbuhan penghasil minyak atsiri yang ditemukan di Laboratorium Hutan Pendidikan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda. Tujuan dari riset ini untuk menganalisis sifat fisik dan mengidentifikasi komponen penyusun minyak atsiri dari tiga jenis Litsea (Litsea angulata, L. rubiginosa dan L. elliptica). Proses penyulingan minyak atsiri menggunakan metode rebus (water distillation). Sifat fisik minyak atsiri yang diujikan meliputi rendemen, warna, dan nilai indeks bias yang diukur menggunakan hand refractometer, serta sifat kimia berupa komponen kimia melalui analisis GC-MS. L. angulata memperoleh rendemen tertinggi sebesar 0,13%. Minyak L. angulata, L. elliptica, dan L. rubiginosa menghasilkan warna yang beragam yaitu bening, kekuningan, dan kuning pekat (berturut-turut). Minyak L. rubiginosa mempunyai nilai indeks bias tertinggi yaitu 1,442. Hasil identifikasi senyawa dengan GC-MS menunjukkan minyak L. angulata tersusun atas komponen utama Cyclohexanemethanol (25,96%); 2-Undecanol (25,54 %); dan 7-Octen-ol (14,09 %). Komposisi utama yang terkandung pada minyak L. rubiginosa diantaranya Tetratetracontane (22,52 %); Spathulenol (10,39 %); dan Heptacosane (9,88 %). Minyak L. elliptica didominasi oleh 7- Octen-2ol.2.6-Dimethyl (32,24 %); 2-Undecanol (30,31 %), dan 9-Decen-2-ol (17,86%) sebagai penyusun utama. Analisis komponen kimia menunjukkan bahwa ketiga jenis minyak atsiri tumbuhan genus Litsea ini didominasi dengan kelompok monoterpene, alkohol, seskuiterpen, dan kelompok senyawa lain-lain.Kata kunci: Minyak Atsiri, GC-MS, Litsea angulata, Litsea elliptica, Litsea rubiginosa.
THE INFLUENCE OF CLASSIC AND MODERN TYPES OF JOINT CONSTRUCTION ON THE STRENGTH OF WOOD-BASED PRODUCT Purwanto, Agung Ari; Rahmat, Bahtiar; Widiyanto, Wahyu; Wijayanto, Arip; Muhamad, Soleh; Mulyosari, Desy; Nurmadina, Nurmadina
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2024): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v14i1.75399

Abstract

In furniture products, joints represented susceptible areas where damage or structural issues might arise. Consequently, selecting the appropriate joint technique was crucial to reduce the likelihood of failures in furniture joint connections. The objective of this study was to furnish insights into the failure patterns under diagonal compression loads for various wood joints (both traditional and contemporary) constructed with a Medium-Density Fiberboard (MDF). The chosen joint techniques included Dowel (D), tongue and groove (T), Minifix (M), and Insert nut (N). Two compression test scenarios were implemented to evaluate the performance of each joint under external loads. The findings revealed that the Insert nut (N) joint emerged as the most preferable method, demonstrating resilience against the highest external loads and ease of installation, particularly suitable for knock-down furniture items. Conversely, the minifix joint (M) is not recommended due to its intricate construction process, and the compression test results indicated that it exhibited the lowest resistance to external loads.Keywords: Furniture, knock-down, properties, compression test.AbstrakDalam produk furnitur, sambungan merupakan area yang rentan terhadap kerusakan atau masalah struktural yang mungkin timbul. Oleh karena itu, pemilihan teknik sambungan yang tepat sangat penting untuk mengurangi kemungkinan kegagalan dalam sambungan furnitur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan wawasan tentang pola kegagalan di bawah beban kompresi diagonal untuk berbagai jenis sambungan kayu (baik yang tradisional maupun kontemporer) yang dibuat dengan Medium-Density Fiberboard (MDF). Teknik sambungan yang dipilih meliputi Dowel (D), tongue and groove (T), Minifix (M), dan Insert nut (N). Dua skenario uji kompresi diterapkan untuk mengevaluasi kinerja setiap sambungan di bawah beban eksternal. Temuan menunjukkan bahwa sambungan Insert nut (N) muncul sebagai metode yang paling disukai, menunjukkan ketahanan terhadap beban eksternal tertinggi dan kemudahan pemasangan, khususnya cocok untuk furnitur yang dapat dirakit. Sebaliknya, sambungan minifix (M) tidak disarankan karena proses konstruksi yang rumit, dan hasil uji kompresi menunjukkan bahwa sambungan ini menunjukkan resistensi terendah terhadap beban eksternal.Kata kunci: Furnitur, knock-down, properti, uji tekan.
MODAL SOSIAL MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN TEMBAWANG DI DESA PALOAN KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK anasia melia; emi roslinda; hari prayogo
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 12, No 1 (2022): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v12i1.44316

Abstract

The management of tembawang by the community in Paloan Village has been carried out for generations. It is important to know social capital in the management of tembawang because tembawang is still maintained by the community even though commercially it does not provide anything significant to people's income. This study aims to examine and assess the characteristics of individuals in the community, examine the condition of social capital community in tembawang management, measure and analyze the relationship between individual characteristics and the elements of social capital, between social capital and its constituent elements and between social capital and tembawang management. in Paloan Village. This research was conducted by field observations, direct interviews with respondents and assisted by questionnaires that have been prepared as well as literature studies by collecting secondary data from various agencies and the results of previous studies related to the research. The level of social capital of the community was analyzed using the value interval equation. While the relationship of social capital was analyzed using the Sperman Rank coefficient test. The results showed that the level of social capital of the Paloan Village community was in the "medium" category. The relationship of community social capital in the management of tembawang has a "weak direction" relationship. This shows that the relationship of social capital is significantly related to the management of tembawang.  Keywords: Community, Management of tembawang, Social capital.AbstrakPengelolaan tembawang oleh masyarakat di Desa Paloan telah dilakukan secara turun temurun. Pentingnya untuk mengetahui modal sosial dalam pengelolaan tembawang karena tembawang masih tetap dipertahankan keberadaannya oleh masyarakat walaupun secara komersial tidak memberikan sesuatu yang signifikan terhadap pendapatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menilai karakteristik individu pada masyarakat, mengkaji kondisi modal sosial masyarakat dalam pengelolaan tembawang, mengukur dan menganalisis hubungan antara karakteristik individu dengan unsur-unsur modal sosial, antara modal sosial dengan unsur-unsur pembentuknya dan antara modal sosial dengan pengelolaan tembawang di Desa Paloan. Penelitian ini dilakukan dengan observasi lapangan, wawancara langsung dengan responden dan dibantu dengan kuesioner yang telah disusun serta studi pustaka dengan mengumpulkan data sekunder dari berbagai instansi dan hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian. Tingkat modal sosial masyarakat dianalisis menggunakan persamaan selang nilai. Sedangkan hubungan modal sosial dianalisis menggunakan uji koefisien Peringkat Sperman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat modal sosial masyarakat Desa Paloan dalam kategori “sedang”. Hubungan modal sosial masyarakat dalam pengelolaan tembawang memiliki hubungan yang “searah lemah”. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan modal sosial berhubungan nyata dalam pengelolaan tembawang. Kata Kunci: Masyarakat, Modal sosial, Pengelolaan Tembawang

Page 10 of 16 | Total Record : 157