cover
Contact Name
Dewa Gede Sudika Mangku
Contact Email
dewamangku.undiksha@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dewamangku.undiksha@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No. 11 Singaraja - Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal ENMAP
ISSN : 27453731     EISSN : 27453723     DOI : https://doi.org/10.23887/jpss.v2i2.468
JURNAL ENMAP is a journal that facilitates the interests of lecturers, Profesional and the academic community to communicate articles from research results and strengthen the exchange of ideas from academic reviews in the field of geoinformstion, surveying, cartographic, and environmental.The academic articles include research and reviews of studies in Geoinformation, field surveying, environmental, regional issue investigations, resource management, disaster management, remote sensing techniques (RS) and the application of geographical information system (GIS) and in-depth discussion on the development of surveying and mapping tools.
Articles 85 Documents
PERBANDINGAN VERTIKAL DIGITAL TERRAIN MODEL DENGAN PENGUKURAN GNSS METODE RTK-NTRIP (STUDI KASUS : WILAYAH KAMPUS UPI BUMI SILIWANGI) Budi, Bayu Indra; Rahesanita, Dwiyantri; Arifin, Efri Triana Nur; Jalaludin, Agung; Anjarwati, Ari; Nuramelya, Putri Jasmine; Ali, Muhammad Fauzi
Jurnal ENMAP Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi kian berkembang setiap saat. Dalam dunia pemetaan, perkembangan teknologi dapat dirasakan dengan munculnya berbagai metode pemetaan yang semakin modern, salah satunya adalah fotogrametri. Pada fotogrametri dikenal istilah UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau pesawat tanpa awak yang dikendalikan melalui sistem remote. UAV dapat dimanfaatkan untuk pekerjaan pemetaan berskala besar dengan biaya yang relatif murah dan waktu yang cepat. Selain perkembangan wahana, perkembangan perangkat lunak pengolah foto udara juga terus mengalami perkembangan. Sekarang ini, proses pengolahan foto udara dapat dilakukan secara digital, misalnya dengan memanfaatkan software Agisoft Metashape Professional, PCI Geomatica dan Cloud Compare. Penelitian ini akan mengevaluasi mengenai perbandingan ketelitian Digital Terrain Model (DTM) menggunakan software Agisoft Metashape Professional, PCI Geomatica dan Cloud Compare lalu dilanjutkan dengan menguji ketelitian DTM dengan data pengukuran GNSS menggunakan metode RTK-NTRIP, selain itu juga akan membandingkan berbagai variasi bentuk premark. Hasil yang diperoleh terdapat perbedaan nilai Z antara hasil DTM dengan pengukuran RTK-NTRIP. Dari hasil analisis, maka didapatkan software yang memiliki perbedaan rata-rata terkecil yaitu Agisoft Metashape Professional, kemudian PCI Geomatica, dan terakhir Cloud Compare.
PEMETAAN POTENSI SUMBER MATA AIR DI DESA GIRIPURNO, KECAMATAN BUMIAJI, KOTA BATU Saputro, Erwan A.; Kusuma, Meidina R.; Bobsaid, Aiman Anas
Jurnal ENMAP Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Giripurno yang berada di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, memiliki banyak potensi yang masih dapat dioptimalkan, salah satunya air. Desa Giripurno memiliki 12 sumber mata air yang memiliki kegunaannya masing-masing dan masih ada beberapa mata air yang belum maksimal dalam pemanfaatannya. Hal tersebut menjadi perhatian utama untuk dapat menjadikan mata air tersebut sebagai salah satu bahan baku utama dalam produksi air minum dalam kemasan (AMDK). Tujuan dari pemetaan sumber mata air ini dilakukan dalam rangka membangun dan memaksimalkan potensi sumber mata air di Desa Giripurno serta menentukan sumber mata air yang dapat digunakan sebagai bahan baku memproduksi air minum dalam kemasan (AMDK). Metode yang digunakan dalam proses pengambilan data pada pemetaan ini yaitu metode deskriptif dan kualitatif dengan survei lapangan untuk mendapatkan titik sebaran sumber mata air. Hasil dari survei lapangan dan pemetaan yang dilakukan, terdapat 7 sumber mata air yang dapat dioptimalkan dari 12 total sumber mata air. Sumber mata air tersebut tersebar di 4 dusun (Sabrangbendo, Sawahan, Krajan, dan Kedung) dari 6 dusun di Desa Giripurno. Pemanfaatan mata air tersebut diantaranya sebagai MCK, keperluan air bersih, irigasi perkebunan, dan pengolahan air minum. Dari beberapa sumber air yang dipetakan, sumber air Kijan, Umbul, dan Soyi yang memiliki debit diatas 1000 ml/detik. Berdasarkan pemanfaatannya oleh masyarakat Desa Giripurno, sumber mata air Umbul digunakan untuk irigasi perkebunan sedangkan Soyi digunakan untuk kebutuhan MCK. Namun, sumber mata air Kijan belum dioptimalkan kegunaannya oleh warga. Oleh karena itu, sumber mata air Kijan dapat digunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi air minum dalam kemasan (AMDK) pada Desa Giripurno.
PERSEBARAN AIR TERJUN DAN KARAKTERISTIK JALUR TREKKING DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA DI DESA WANAGIRI Yanti, Restu Ade; Bharata, Ida Bagus Arya Yoga; Janah, Lutfiatul; Melianti, Dhita; Nuraini, Lilis
Jurnal ENMAP Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi lereng gunung berapi dan letaknya di hulu DAS menyebabkan terdapat banyak air terjun di Desa Wanagiri. Penelitian ini menggunakan sampling area dengan lokasi di Banjar Bhuana Sari dan Banjar Puncak Manik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan dan mengetahui sebaran air terjun serta memetakan karakteristik lacaknya ke air terjun tersebut. Data dikumpulkan melalui pelacakan lapangan dengan Mobile GPS dan diproses menggunakan Google Earth Pro. Hasil penelitian ini menunjukkan dari persebarannya Banjar Bhuana Sari memiliki 4 objek wisata air terjun yang memiliki keragaman sebaran yang lebih banyak dan Banjar Puncak Manik memiliki 3 objek wisata air terjun yang memiliki keragaman sebaran yang berdekatan. Dari ciri track tracking menuju air terjun, air terjun di Banjar Bhuana Sari memiliki panjang jalur 1153 meter dari pintu masuk terpanjang dan jalur terpendek 955 meter, perbedaan ketinggian terendah 96 meter dan tertinggi 148 meter, serta memiliki kemiringan terendah. sebesar 6,9% dan tertinggi 10,6% dengan relief terendah landai dan tertinggi agak landai, serta waktu tempuh rata-rata 60 menit. Air terjun di Banjar Puncak Manik memiliki panjang lintasan dari posko terpanjang 565 meter dan jalur terpendek 426 meter, perbedaan ketinggian terendah 49 meter dan tertinggi 90 meter dengan kemiringan terendah 19,2% dan tertinggi 25,8 meter. % dan relief terendah adalah kemiringan sedang dan tertinggi. tanjakan terjal, dan waktu tempuh terpendek 30 menit dan terlama 40 menit.Kata Kunci: persebaran, air terjun, trekking
ANALISIS KINERJA JARINGAN IRIGASI DAERAH IRIGASI PADANGKELING BERBASIS EPAKSI DI KABUPATEN BULELENG Purbawa, Gede Bani; Pandawani, Ni Putu; Wiswasta, I Gusti Ngurah Alit; Vipriyanti, Nyoman Utari
Jurnal ENMAP Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji situasi aset jaringan irigasi, menganalisis kinerja jaringan irigasi, dan untuk merumuskan alternatif kebijakan penanganan kerusakan jaringan yang terjadi di daerah irigasi Padangkeling. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kombinasi kualitatif kuantitatif berbasis Elektronik Pengelolaan Aset dan Kinerja Sistem Irigasi (EPAKSI). Pengambilan data dilakukan dengan survei berbasis EPAKSI sepanjang jaringan irigasi primer sampai sekunder melalui tahap survei PAI dan IKSI. Data PAI menunjukkan situasi jaringan irigasi Padangkeling memiliki aset irigasi sebanyak 39 bangunan irigasi dan 2 ruas saluran primer serta 17 ruas saluran sekunder dengan tipikal yang berbeda di setiap ruas. Sedangkan hasil analisis data IKSI menunjukkan kinerja jaringan irigasi Padangkeling secara kualitatif berada pada kondisi ‘jelek’ dengan tingkat kerusakan ‘rusak berat’, dan secara kuantitatif memiliki indeks kinerja dibawah 40% yaitu sebesar 16,68% terhadap indikator prasarana fisik atau sebesar 37,07% terhadap keseluruhan indikator utama fisik dan non fisik sistem irigasi. Berdasarkan kondisi tersebut dirumuskan alternatif kebijakan penanganan kerusakan jaringan irigasi Padangkeling yaitu berupa pemeliharaan berkala yang bersifat perbaikan berat dan penggantian aset. Penanganan kerusakan sistem irigasi merupakan perwujudan dari pembangunan berkelanjutan yaitu untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik serta mendukung pertanian berkelanjutan
IMPLEMENTASI KONSEP EKOWISATA DI WILAYAH PESISIR PANTAI YEH GANGGA, TABANAN-BALI Santosa, Bagus Nugraha Kurnia; Putra, I Gusti Putu Anindya; Wirawan, Komang
Jurnal ENMAP Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pariwisata saat ini menjadi salah satu sektor andalan bagi pemerintah untuk menunjang pembangunan di suatu daerah, salah satunya di Bali.  Saat ini, perkembangan dan pembangunan pariwisata di Bali nampaknya tidak hanya memberikan dampak positif, namun dapat menimbulkan dampak negatif jika tidak direncanakan dengan baik. Melihat hal tersebut, dirasa perlu adanya penataan ruang dan pengembangan konsep ekowisata dalam pembangunan pariwisata di Bali untuk menjaga Bali dan pariwisata di Bali agar mampu terhindar dari dampak negatif tersebut. Konsep ekowisata meupakan konsep kegiatan wisata yang menaruh perhatian besar terhadap kelestarian lingkungan dan keberlangsungan aktivitas sosial budaya pada lokasi wisata. Wilayah Pesisir Pantai Yeh Gangga dipilih sebagai lokasi penelitian ini mengingat adanya aktivitas pariwisata, kegiatan konservasi penyu (tukik), serta adanya aktivitas keagamaan yang masif di wilayah pesisir Pantai Yeh Gangga. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi potensi ekowisata, serta mengidentifikasi pemanfaatan ruang di wilayah pesisir Pantai Yeh Gangga dengan adanya potensi ekowisata. Peneltian ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif. Proses penelitian ini diawali dengan penyusunan asumsi dan aturan berfikir dari teori-teori yang ada terkait ekowisata dan pengumpulan data-data yang terkait dengan penelitian, yang selanjutnya diperdalam melalui pengumpulan data dengan wawancara terhadap narasumber, dan selamjutnya melakuan observasi langsung ke lokasi penelitian. Teknik pengambilan sampel untuk mencari narasumber pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Metode dan teknik analisis data pada peneitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dan analisis evaluatif. Berdasaran hasil penelitian ditemukan bahwa (1) wilayah pesisir Pantai Yeh Gangga sudah memiliki bebrapa potensi ekowisata yaitu potensi ekologi, sosial budaya, dan ekonomi; (2) adanya potensi-potensi eowisata di wilayah pesisir Pantai Yeh Gangga mempengaruhi pemanfaatan ruang di kawasan pesisir Pantai Yeh Gangga.Kata kunci:  Potensi Ekowisata, Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir, Pantai Yeh Gangga
ANALISIS KINERJA JARINGAN IRIGASI DAERAH IRIGASI PADANGKELING BERBASIS EPAKSI DI KABUPATEN BULELENG Gede Bani Purbawa; Ni Putu Pandawani; I Gusti Ngurah Alit Wiswasta; Nyoman Utari Vipriyanti
Jurnal ENMAP Vol. 3 No. 1 (2022): Maret, Jurnal ENMAP
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/em.v3i1.43673

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji situasi aset jaringan irigasi, menganalisis kinerja jaringan irigasi, dan untuk merumuskan alternatif kebijakan penanganan kerusakan jaringan yang terjadi di daerah irigasi Padangkeling. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kombinasi kualitatif kuantitatif berbasis Elektronik Pengelolaan Aset dan Kinerja Sistem Irigasi (EPAKSI). Pengambilan data dilakukan dengan survei berbasis EPAKSI sepanjang jaringan irigasi primer sampai sekunder melalui tahap survei PAI dan IKSI. Data PAI menunjukkan situasi jaringan irigasi Padangkeling memiliki aset irigasi sebanyak 39 bangunan irigasi dan 2 ruas saluran primer serta 17 ruas saluran sekunder dengan tipikal yang berbeda di setiap ruas. Sedangkan hasil analisis data IKSI menunjukkan kinerja jaringan irigasi Padangkeling secara kualitatif berada pada kondisi ‘jelek’ dengan tingkat kerusakan ‘rusak berat’, dan secara kuantitatif memiliki indeks kinerja dibawah 40% yaitu sebesar 16,68% terhadap indikator prasarana fisik atau sebesar 37,07% terhadap keseluruhan indikator utama fisik dan non fisik sistem irigasi. Berdasarkan kondisi tersebut dirumuskan alternatif kebijakan penanganan kerusakan jaringan irigasi Padangkeling yaitu berupa pemeliharaan berkala yang bersifat perbaikan berat dan penggantian aset. Penanganan kerusakan sistem irigasi merupakan perwujudan dari pembangunan berkelanjutan yaitu untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik serta mendukung pertanian berkelanjutan
PERBANDINGAN VERTIKAL DIGITAL TERRAIN MODEL DENGAN PENGUKURAN GNSS METODE RTK-NTRIP (STUDI KASUS : WILAYAH KAMPUS UPI BUMI SILIWANGI) Bayu Indra Budi; Dwiyantri Rahesanita; Efri Triana Nur Arifin; Agung Jalaludin; Ari Anjarwati; Putri Jasmine Nuramelya; Muhammad Fauzi Ali
Jurnal ENMAP Vol. 3 No. 1 (2022): Maret, Jurnal ENMAP
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/em.v3i1.44781

Abstract

Perkembangan teknologi kian berkembang setiap saat. Dalam dunia pemetaan, perkembangan teknologi dapat dirasakan dengan munculnya berbagai metode pemetaan yang semakin modern, salah satunya adalah fotogrametri. Pada fotogrametri dikenal istilah UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau pesawat tanpa awak yang dikendalikan melalui sistem remote. UAV dapat dimanfaatkan untuk pekerjaan pemetaan berskala besar dengan biaya yang relatif murah dan waktu yang cepat. Selain perkembangan wahana, perkembangan perangkat lunak pengolah foto udara juga terus mengalami perkembangan. Sekarang ini, proses pengolahan foto udara dapat dilakukan secara digital, misalnya dengan memanfaatkan software Agisoft Metashape Professional, PCI Geomatica dan Cloud Compare. Penelitian ini akan mengevaluasi mengenai perbandingan ketelitian Digital Terrain Model (DTM) menggunakan software Agisoft Metashape Professional, PCI Geomatica dan Cloud Compare lalu dilanjutkan dengan menguji ketelitian DTM dengan data pengukuran GNSS menggunakan metode RTK-NTRIP, selain itu juga akan membandingkan berbagai variasi bentuk premark. Hasil yang diperoleh terdapat perbedaan nilai Z antara hasil DTM dengan pengukuran RTK-NTRIP. Dari hasil analisis, maka didapatkan software yang memiliki perbedaan rata-rata terkecil yaitu Agisoft Metashape Professional, kemudian PCI Geomatica, dan terakhir Cloud Compare.
PERSEBARAN AIR TERJUN DAN KARAKTERISTIK JALUR TREKKING DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA DI DESA WANAGIRI Restu Ade Yanti; Ida Bagus Arya Yoga Bharata; Lutfiatul Janah; Dhita Melianti; Lilis Nuraini
Jurnal ENMAP Vol. 3 No. 1 (2022): Maret, Jurnal ENMAP
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/em.v3i1.45382

Abstract

Kondisi lereng gunung berapi dan letaknya di hulu DAS menyebabkan terdapat banyak air terjun di Desa Wanagiri. Penelitian ini menggunakan sampling area dengan lokasi di Banjar Bhuana Sari dan Banjar Puncak Manik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan dan mengetahui sebaran air terjun serta memetakan karakteristik lacaknya ke air terjun tersebut. Data dikumpulkan melalui pelacakan lapangan dengan Mobile GPS dan diproses menggunakan Google Earth Pro. Hasil penelitian ini menunjukkan dari persebarannya Banjar Bhuana Sari memiliki 4 objek wisata air terjun yang memiliki keragaman sebaran yang lebih banyak dan Banjar Puncak Manik memiliki 3 objek wisata air terjun yang memiliki keragaman sebaran yang berdekatan. Dari ciri track tracking menuju air terjun, air terjun di Banjar Bhuana Sari memiliki panjang jalur 1153 meter dari pintu masuk terpanjang dan jalur terpendek 955 meter, perbedaan ketinggian terendah 96 meter dan tertinggi 148 meter, serta memiliki kemiringan terendah. sebesar 6,9% dan tertinggi 10,6% dengan relief terendah landai dan tertinggi agak landai, serta waktu tempuh rata-rata 60 menit. Air terjun di Banjar Puncak Manik memiliki panjang lintasan dari posko terpanjang 565 meter dan jalur terpendek 426 meter, perbedaan ketinggian terendah 49 meter dan tertinggi 90 meter dengan kemiringan terendah 19,2% dan tertinggi 25,8 meter. % dan relief terendah adalah kemiringan sedang dan tertinggi. tanjakan terjal, dan waktu tempuh terpendek 30 menit dan terlama 40 menit.
IMPLEMENTASI KONSEP EKOWISATA DI WILAYAH PESISIR PANTAI YEH GANGGA, TABANAN-BALI Bagus Nugraha Kurnia Santosa; I Gusti Putu Anindya Putra; Komang Wirawan
Jurnal ENMAP Vol. 3 No. 1 (2022): Maret, Jurnal ENMAP
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/em.v3i1.45521

Abstract

Pariwisata saat ini menjadi salah satu sektor andalan bagi pemerintah untuk menunjang pembangunan di suatu daerah, salah satunya di Bali.  Saat ini, perkembangan dan pembangunan pariwisata di Bali nampaknya tidak hanya memberikan dampak positif, namun dapat menimbulkan dampak negatif jika tidak direncanakan dengan baik. Melihat hal tersebut, dirasa perlu adanya penataan ruang dan pengembangan konsep ekowisata dalam pembangunan pariwisata di Bali untuk menjaga Bali dan pariwisata di Bali agar mampu terhindar dari dampak negatif tersebut. Konsep ekowisata meupakan konsep kegiatan wisata yang menaruh perhatian besar terhadap kelestarian lingkungan dan keberlangsungan aktivitas sosial budaya pada lokasi wisata. Wilayah Pesisir Pantai Yeh Gangga dipilih sebagai lokasi penelitian ini mengingat adanya aktivitas pariwisata, kegiatan konservasi penyu (tukik), serta adanya aktivitas keagamaan yang masif di wilayah pesisir Pantai Yeh Gangga. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi potensi ekowisata, serta mengidentifikasi pemanfaatan ruang di wilayah pesisir Pantai Yeh Gangga dengan adanya potensi ekowisata. Peneltian ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif. Proses penelitian ini diawali dengan penyusunan asumsi dan aturan berfikir dari teori-teori yang ada terkait ekowisata dan pengumpulan data-data yang terkait dengan penelitian, yang selanjutnya diperdalam melalui pengumpulan data dengan wawancara terhadap narasumber, dan selamjutnya melakuan observasi langsung ke lokasi penelitian. Teknik pengambilan sampel untuk mencari narasumber pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Metode dan teknik analisis data pada peneitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dan analisis evaluatif. Berdasaran hasil penelitian ditemukan bahwa (1) wilayah pesisir Pantai Yeh Gangga sudah memiliki bebrapa potensi ekowisata yaitu potensi ekologi, sosial budaya, dan ekonomi; (2) adanya potensi-potensi eowisata di wilayah pesisir Pantai Yeh Gangga mempengaruhi pemanfaatan ruang di kawasan pesisir Pantai Yeh Gangga.
PEMETAAN POTENSI SUMBER MATA AIR DI DESA GIRIPURNO, KECAMATAN BUMIAJI, KOTA BATU Erwan A. Saputro; Meidina R. Kusuma; Aiman Anas Bobsaid
Jurnal ENMAP Vol. 3 No. 1 (2022): Maret, Jurnal ENMAP
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/em.v3i1.46215

Abstract

Desa Giripurno yang berada di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, memiliki banyak potensi yang masih dapat dioptimalkan, salah satunya air. Desa Giripurno memiliki 12 sumber mata air yang memiliki kegunaannya masing-masing dan masih ada beberapa mata air yang belum maksimal dalam pemanfaatannya. Hal tersebut menjadi perhatian utama untuk dapat menjadikan mata air tersebut sebagai salah satu bahan baku utama dalam produksi air minum dalam kemasan (AMDK). Tujuan dari pemetaan sumber mata air ini dilakukan dalam rangka membangun dan memaksimalkan potensi sumber mata air di Desa Giripurno serta menentukan sumber mata air yang dapat digunakan sebagai bahan baku memproduksi air minum dalam kemasan (AMDK). Metode yang digunakan dalam proses pengambilan data pada pemetaan ini yaitu metode deskriptif dan kualitatif dengan survei lapangan untuk mendapatkan titik sebaran sumber mata air. Hasil dari survei lapangan dan pemetaan yang dilakukan, terdapat 7 sumber mata air yang dapat dioptimalkan dari 12 total sumber mata air. Sumber mata air tersebut tersebar di 4 dusun (Sabrangbendo, Sawahan, Krajan, dan Kedung) dari 6 dusun di Desa Giripurno. Pemanfaatan mata air tersebut diantaranya sebagai MCK, keperluan air bersih, irigasi perkebunan, dan pengolahan air minum. Dari beberapa sumber air yang dipetakan, sumber air Kijan, Umbul, dan Soyi yang memiliki debit diatas 1000 ml/detik. Berdasarkan pemanfaatannya oleh masyarakat Desa Giripurno, sumber mata air Umbul digunakan untuk irigasi perkebunan sedangkan Soyi digunakan untuk kebutuhan MCK. Namun, sumber mata air Kijan belum dioptimalkan kegunaannya oleh warga. Oleh karena itu, sumber mata air Kijan dapat digunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi air minum dalam kemasan (AMDK) pada Desa Giripurno.