Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Sel Punca Jaringan Lemak sebagai Anti-aging untuk Kulit Menua Dini karena Paparan Ultra Violet
Irianto, Betty Ekawati Suryaningsih
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (148.853 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v42i8.983
Proses penuaan kulit yang terjadi, baik karena faktor ekstrinsik akibat paparan ultra violet (UV) maupun intrinsik, menimbulkan keluhan kulit keriput. Penelitian kedokteran membuktikan sel punca jaringan lemak mempunyai kandungan beberapa growth factor dan antioksidan superoxide dismutase (SOD); diduga dapat digunakan sebagai terapi anti-aging.Skin aging process occurred because of extrinsic (UV exposure) and intrinsic factor, causes wrinkles. Research showed that fat tissue stem cells consists of growth factors and anti-oxidant superoxide dismutase (SOD), and can be used as anti aging therapy.
Thromboangitis obliterans (TAO) : Diagnosis dan Tatalaksana
Apriliana, Silvia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 12 (2021): General Medicine
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (166.262 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i12.1577
Thromboangitis obliterans (TAO) atau Buerger’s disease merupakan penyakit inflamasi non aterosklerotik yang ditandai dengan oklusi segmental pada pembuluh darah arteri kecil dan sedang serta pembuluh darah vena baik ekstremitas atas maupun bawah. Etiologi TAO masih belum diketahui, tetapi berkaitan erat dengan kebiasaan merokok. Diagnosis berdasarkan riwayat dan gejala klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Penghentian penggunaan tembakau menjadi terapi definitif dan efektif. Terapi lain antara lain dengan obat-obatan, bedah revaskularisasi, terapi endovaskuler, penggunaan sel induk/stem cell, simpatektomi dan stimulasi saraf tulang belakang.Thromboangitis obliterans (TAO) or Buerger’s disease is a non-atherosclerotic inflammatory disease characterized by segmental occlusion; commonly affects small and medium-sized arteries and veins in upper and lower extremities. The etiology of TAO is still unknown, but closely related to smoking. Diagnosis is based on clinical features with a compatible history, physical examination, laboratory test and imaging. There is no standard therapy for this disease. Tobacco use cessation is the definitive and effective therapy. Other therapies include drugs, revascularization surgery, endovascular therapy, use of stem cells, sympathectomy and spinal cord stimulation.Â
Faktor-faktor Prognostik Bangkitan Neonatus
Andreas, Scorpicanrus Tumpal;
Utama, Ida Bagus Eka
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 9 (2020): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (103.533 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i9.910
Bangkitan neonatus (neonatal seizures) sangat berhubungan dengan mortalitas dan morbiditas di ruang perawatan perinatologi. Mekanisme penting bangkitan neonatus antara lain: peningkatan eksitabilitas, penurunan efektivitas inhibisi neurotansmiter pada otak imatur, konfigurasi kanal ion, peranan neuropeptida. Penyebab merupakan faktor utama prognosis. Berat badan lahir, skor APGAR, pemeriksaan neurologis saat bangkitan, ultrasonografi otak (USG), keberhasilan terapi antikonvulsan dan adanya status epileptikus juga mempengaruhi prognosis.Neonatal seizures were strongly associated with perinatal mortality and morbidity. Mechanisms of neonatal seizures include increased neonatal excitability, reduced effectiveness of neurotransmitter inhibition in immature brain, ion channel configuration, role of neuropeptides. Etiology was a major factor in prognosis. Besides birth weight, APGAR score, neurological examination during seizures, brain ultrasonography (USG), anticonvulsant therapy and the presence of status epilepticus affect the prognosis.
Reversible Cerebral Vasoconstriction Syndrome : Kegawat-daruratan Neurologis dengan Gejala Nyeri Kepala Hebat
Setiawan, Michael
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (763.447 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v41i7.1122
Reversible cerebral vasoconstriction syndrome merupakan salah satu penyebab nyeri kepala akut berat yang penting dan potensial mengancam jiwa. Sindrom yang makin banyak dikenali ini mempunyai gejala karakteristik nyeri kepala hebat (thunderclap headache) berulang, dengan atau tanpa defisit neurologis; pada pemeriksaan angiografi dijumpai vasokonstriksi segmental pembuluh darah otak yang membaik dalam 3 bulan. Hampir 80% penderita memiliki faktor presipitasi. Sindrom ini sering dijumpai pada wanita, berhubungan dengan kehamilan dan paparan terhadap beberapa jenis obat. Hiperaktivitas simpatis mungkin berperan besar pada patogenesis RCVS. Untuk menegakkan diagnosis dibutuhkan gambaran karakteristik strings and beads pada angiografi serebral yang membaik dalam 3 bulan. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan obat penyekat kanal kalsium seperti nimodipine mungkin efektif untuk pengobatan sindrom ini, sedangkan kortikosteroid mungkin merugikan. Sebagian besar pasien RCVS dapat pulih tanpa gejala sisa, rekurensi terjadi pada sebagian kecil pasien, beberapa pasien dilaporkan meninggal.Reversible cerebral vasoconstriction syndrome (RCVS) is an important cause of acute severe headache and potentially has dire life-threatening consequences. This increasingly recognised syndrome is characterised by recurrent severe headaches (thunderclap headache), with or without neurological deficits, and segmental constriction of cerebral arteries that resolves within 3 months. Up to 80% of sufferers have identifiable triggers. RCVS has clear female predominance, and is associated with pregnancy and exposure to certain drugs. The pathogenesis of RCVS remains unknown; sympathetic hyperactivity may play a role. Diagnosis requires demonstration of the characteristic ‘strings and beads' appearance on cerebral angiography with resolution within 3 months. Recent trials showed calcium channel blockers, such as nimodipine may be effective for RCVS, but corticosteroid appears to be harmful. Most RCVS patients recover without sequelae; however relapse has been reported in a small proportion of patients, and mortality has been noted in some case reports.
Pengaruh Protein RPGRIP1L pada Pembentukan Silia Primer sebagai Kandidat Target Terapi Gen Penyakit Siliopati
Williantarra, Ivanna
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (650.134 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i3.187
Silia primer yang pada mulanya dianggap sebagai organel tanpa fungsi khusus ternyata kini diketahui merupakan pusat koordinasi berbagai jalur transduksi sinyal sel. Salah satu penyakit siliopati dengan manifestasi klinis terberat adalah sindrom Meckel (MKS) dan sindrom Joubert (JBTS). Kedua sindrom ini disebabkan oleh absennya protein RPGRIP1L pada zona transisi silia primer. Penelitian ini bertujuan melihat pentingnya peran RPGRIP1L dalam ciliogenesis. RPGRIP1L diredam ekspresinya dan diperiksa pengaruhnya terhadap (1) frekuensi ciliogenesis, (2) tingkat ekspresi protein pada jalur sinyal Hedgehog dan (3) lokalisasi protein silia primer lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa absennya RPGRIP1L menurunkan frekuensi ciliogenesis hingga 46%. Turunnya frekuensi ciliogenesis ini bukan disebabkan karena turunnya tingkat ekspresi protein silia primer, melainkan kesalahan lokalisasi; hanya protein yang terlibat pada proses awal ciliogenesis sebelum pembentukan zona transisi yang terlokalisasi dengan tepat tanpa adanya RPGRIP1L. Tidak terekrutnya protein di silia primer mengindikasikan fungsi RPGRIP1L sebagai perancah bagi protein-protein silia primer lainnya. Selain itu, tanpa adanya RPGRIP1L, aksonema tidak dapat tumbuh dari sentriol walaupun protein selubung sentriol, CP110, telah dilepaskan oleh TTBK2.
Peran Kopeptin Serum pada Anak dengan Pneumonia
-, Carolina;
Dalimunthe, Wisman
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (205.855 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i8.452
Pneumonia masih merupakan masalah kesehatan utama pada anak. Kopeptin merupakan rantai glikopeptida-asam amino dari prekursor hormon vasopresin arginin (AVP) yang juga dikenal sebagai hormon anti diuretik (ADH). Pada anak dengan pneumonia, dijumpai peningkatan kadar kopeptin serum yang berhubungan dengan tingkat keparahan pneumonia dan komplikasinya. Penelitian lanjutan terkait peran kopeptin sebagai uji diagnostik dan prediktor prognostik pneumonia pada anak masih dibutuhkan.Pneumonia remains as the major cause of health problem in children. Copeptin is an amino acids-glycopeptides precursor of arginine vasopressin (AVP), also known as anti-diuretic hormone. Children with pneumonia have increased level of serum copeptin which correlates with the severity and complications of pneumonia. Further investigations regarding the role of copeptin as diagnostic test and predictor of prognostic in childhood pneumonia are warranted.Â
Epidemiologi dan Karakteristik Pasien Luka Bakar di RSUD Cibabat dalam Periode 5 Tahun (2015 – 2020): Studi Retrospektif
Haryono, Winsen;
Wibianto, Anastasia;
Noer Hidayat, Taufiq Sakti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (100.596 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i4.1361
Latar belakang: Luka bakar merupakan kasus kompleks dan memerlukan tatalaksana komprehensif. Di Indonesia, data epidemiologi kasus luka bakar jarang dilaporkan. Metodologi: Studi retrospektif non-random consecutive sampling data rekam medis RSUD Cibabat dalam periode 5 tahun (Maret 2015 - Juni 2020). Uji statistik menggunakan Pearson Chi-Square. Hasil: Jumlah pasien luka bakar 524 orang, terbanyak dewasa (>18 tahun) dengan etiologi terbanyak adalah api (180 = 34,4%). Pada anak-anak (≤18 tahun) lebih sering disebabkan air panas (143 = 27,3%). Simpulan: Pasien luka bakar lebih banyak pada dewasa. Api sebagai etiologi tersering pada dewasa, sedangkan pada anak-anak terutama oleh air panas.Background: Burn injury is a complex case and requires comprehensive management. In Indonesia, epidemiological data on burn injury cases are still rarely reported. Method: Retrospective non-random consecutive sampling study on medical records data from Cibabat Regional Hospital in a period of 5 years (March 2015 - June 2020). Data was analyzed with Pearson Chi-Square. Results: A total of burn injury patients were 524 patients; mostly adult (>18 years), mostly caused by open flame (180 = 34,4%). Among children (≤18 years) the cause was mostly scald (143 = 27,3%). Conclusion: Most burn injury patients were adults. Open flame was the major etiology in adults, while scald was the main etiology in children.
Dual Loyality (Loyalitas Ganda)
Paranadipa M, Mahesa
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (61.448 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i10.592
Makin berkembangnya pemahaman individu akan hak-hak asasi yang dimiliki mendorong kebebasan untuk menuntut dan menjalankan hak-hak tersebut. Hak mendasar untuk memperoleh kesejahteraan menjadi dasar pula untuk memperoleh pekerjaan dan profesi yang diinginkan. Dalam memperoleh pekerjaan atau profesi tersebut, seseorang bisa menjalankan lebih dari satu pekerjaan atau profesi sekaligus.
Sirenomelia “The Mermaid Syndrome “ - Kasus Serial
Sutopo, Mediana;
Uli, Tiarma
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (818.857 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i5.799
Sirenomelia adalah kelainan kongenital yang jarang, angka kejadiannya 0,8 – 1 kasus / 100.000 kelahiran. Sirenomelia bersifat lethal dan biasanya bayi meninggal setelah lahir akibat kelainan kongenital multipel. Etiologi dan patogenesis sirenomelia masih belum diketahui, diduga akibat defek formasi embrional saat pembentukan regio kaudal. Dalam satu tahun kami menemukan 2 kasus sirenomielia. Pada kasus pertama didapatkan gambaran ultrasonografi hipoplasia thorak dan anhidramnion. Pada kasus kedua didapatkan gambaran horseshoe kidney, tidak tampak vesika urinaria, anhidramnion dan penumpukan long bones daerah caudal (femur, tibia dan fibula). Kedua kasus dirujuk dalam keadaan lanjut (trimester dua dan tiga), Jila diketahui dini (pada trimester satu), dapat dilakukan terminasi kehamilan dini pervaginam sehingga dapat mengurangi morbiditas ibu.Sirenomelia is a rare congenital disorder, the incidence is 0.8-1 case/100,000 births. Sirenomelia is lethal, the baby usually die after birth due to multiple congenital anomaly. The etiology and pathogenesis of sirenomelia is suspected due to a defect in the embryonic formation of the caudal region. We found two cases of sirenomielia in a year. The first case was found with thoracic hypoplasia and anhidramnion. The second case was found with horseshoe kidney, without clear bladder appearance, anhidramnion and piled long bones the caudal region (femur, tibia and fibula ). Both cases were referred to our hospital in second and third trimesters of pregnancy. Identification in early stage can reduce maternal morbidity by earlier vaginal termination of pregnancy.
Peranan Alergen Tungau Debu Rumah (Der p 1 dan Der p 2) dalam Reaksi Alergi
Natalia, Diana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 4 (2015): Alergi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.194 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v42i4.1018
Tungau debu rumah (TDR) merupakan aeroalergen tersering yang mensensitasi reaksi alergi pada 50% pasien dengan riwayat alergi. Alergen Dermatophagoides pteronyssinus dan Dermatophagoides farinae telah diidentifikasi sebagai alergen hirup yang dapat berperan sebagai faktor risiko timbulnya asma dan reaksi inflamasi di paru dengan dilepaskannya sitokin, kemokin, dan mediator lainnya. Alergen Dermatophagoides pteronyssinus dengan aktivitas protease (Der p I) dan aktivitas enzim yang belum diketahui (Der p 2) menyebabkan deskuamasi pada sel epitel saluran nafas dan menghasilkan sitokin-sitokin pro-inflamasi IL-6 dan IL-8.House dust mite (HDM) is one of the most common source of aeroallergens and more than 50% of allergic patients are sensitized to these allergenic molecules. House dust mite aeroallergens (HDM) Dermatophagoides pteronyssinus and Dermatophagoides farinae cause allergy reaction in asthma patients and induce an inflammatory response in the lungs due to the release of cytokines, chemokines and additional mediators. HDM components of Dermatophagoides pteronissinus with protease activity (Der p 1) and unknown enzymatic activity (Der p 2) induce desquamation in a human airway-derived epithelial cell line and induced the release of IL6 and IL-8.Â