Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Campak pada Anak
Gustian Halim, Ricky
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (320.144 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i3.31
Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus campak. Di Indonesia, jumlah kasus penyakit ini meningkat di akhir tahun 2014. Gejala klinis terdiri dari tiga stadium, yaitu stadium prodromal, eksantem, dan konvalesens. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan antibodi IgM campak dalam darah. Tatalaksana bersifat suportif disertai pemberian vitamin A. Komplikasi yang sering menyebabkan kematian pada anak adalah pneumonia. Pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian vaksin.
Vitamin D dan COVID-19: Tinjauan Literatur
Saraswati, Niluh Ayu Sri;
Amanda, Devinqa Adhimah;
Wijaya, Henry
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 2 (2022): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (16.896 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v49i2.1731
Pendahuluan: Penyakit coronavirus (COVID-19) merupakan penyakit infeksi yang dideklarasikan WHO sebagai kasus gawat darurat kesehatan di dunia. Vitamin D diketahui memegang peranan dalam regulasi sistem imun baik pada penyakit infeksi maupun penyakit autoimun, sehinggavitamin D dapat bermanfaat pada tata laksana COVID-19. Metode: Tinjauan literatur COVID-19 dan kaitannya dengan vitamin D; sumber data dari Google Cendekia, PubMed, dan WHO. Hasil: Vitamin D berperan mengendalikan sistem sel imun seperti makrofag, limfosit, neutrofil, dansel dendritik. Selain itu, mekanisme kerja innate dan adaptive immune system diperantarai oleh vitamin D, menghasilkan keseimbangan respons imun untuk meningkatkan respons anti-inflamasi. Simpulan: Vitamin D berkaitan dengan infeksi COVID-19 (dapat mengurangi risiko infeksi,mencegah perkembangan infeksi, dapat menurunkan tingkat keparahan, dan meringankan komplikasi badai sitokin; dengan demikian, dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat infeksi COVID-19.
Application of Pharmacogenomics on Drug Discovery and Development
Yudhani, Ratih Dewi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (599.574 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v41i3.1154
Individual variations in the response to drugs and drug toxicity occur commonly in the clinical setting and in drug development research protocols. Cumulative evidence strongly suggests that genetic polymorphisms in drug metabolizing enzymes, transporters, receptors and other drug targets are contributing to inter-individual differences in the efficacy and toxicity of drugs. Pharmacogenomics refers to the application of genome-wide approaches in order to understand genetic influence on drug response and to develop novel drugs. This application of pharmacogenomics has implications in predicting a patient’s response to medications, reducing adverse events and improving rationality of drug development. Pharmacogenomics profoundly change the way clinical drug trials are conducted, as well as influencing drug development process. This review provides an overview of the pharmacogenomics application on drug discovery and development.Variasi respons individual dan toksisitas terhadap obat sering ditemui di klinik dan selama proses penelitian dan pengembangan obat baru. Beberapa bukti jelas mengindikasikan bahwa polimorfisme genetik pada gen-gen yang meregulasi ekspresi enzim yang terkait dengan metabolisme obat, transporter, reseptor dan target obat yang lain, berperan dalam menentukan perbedaan efikasi dan toksisitas suatu obat di antara individu. Farmakogenomik mengacu pada aplikasi genomik untuk memahami pengaruh genetik pada respons obat dan aplikasinya dalam proses penelitian dan pengembangan obat baru. Farmakogenomik dapat diaplikasikan untuk memprediksi respons individu terhadap pengobatan, mengurangi kejadian yang tidak diinginkan terkait dengan pemberian obat dan meningkatkan rasionalitas dalam proses pengembangan obat. Oleh karena itu, farmakogenomik menyebabkan pergeseran paradigma terkait penelitian dalam rangka penemuan obat baru di tahap preklinik dan bagaimana perancangan uji klinis obat. Tinjauan ini memberi gambaran aplikasi farmakogenomik pada proses penelitian dalam rangka penemuan dan pengembangan obat baru.
Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Skabies dan Personal Hygiene dengan Kejadian Skabies di Puskesmas Selatan 1, Kecamatan Singkawang Selatan
-, Rosa;
Natalia, Diana;
Fitriangga, Agus
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (131.016 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i2.350
Latar Belakang: Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi Sarcoptes scabiei varietas hominis Salah satu faktor penyebab skabies adalah personal hygiene. Tujuan: Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan skabies dan personal hygiene dengan kejadian skabies di Puskesmas Selatan 1 Kecamatan Singkawang Selatan. Metodologi: Penelitian analitik observasional cross-sectional dengan metode simple random sampling. Jumlah sampel 53 orang. Analisis data menggunakan uji Chi Square. Hasil: Sebanyak 24,5% subjek menderita skabies, 86,8% subjek memiliki tingkat pengetahuan skabies baik dan 54,7% subjek memiliki personal hygiene baik. Nilai signifikasi tingkat pengetahuan (p value) sebesar = 0.002 dan personal hygiene (p value) sebesar = 0.008. Simpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan skabies dan personal hygiene dengan kejadian skabies di Puskesmas Selatan 1 Kecamatan Singkawang Selatan. Background: Scabies is dermatological disease caused by infestation and sensitization of Sarcoptes scabiei var. hominis. One of its risk factors is personal hygiene. Purpose: To find correlation between level of knowledge on scabies and personal hygiene with prevalence of scabies in South Singkawang Public Health Center 1. Method: An observational analytical cross-sectional study on 53 respondents chosen with simple random sampling. Data was analyzed using Chi-square test. Results: Scabies was found in 24,5% respondent, 86,8% respondent have good level of knowledge about the disease while 54,7% have a good personal hygiene. Conclusion: The incidence of scabies in South Singkawang Public Health Center 1 is correlated to the level of knowledge on scabies (p 0,002) and their personal hygiene.( p= 0,008).
Grapeseed Effects on Blood Pressure and Plasma Lipid Level
Angeline, Daniela;
Martina, Michelle
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 5 (2019): Pediatri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (490.442 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i5.486
Grape seed is known for its antioxidative and anti-inflammatory properties. This paper discuss its benefits on human, such as reducing blood pressure and plasma lipid level, therefore reducing atherosclerosis risk and subsequently prevent cardiovascular diseases.Biji anggur dikenal karena efek antioksidatif dan anti-inflamasi. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan komponen dalam biji anggur dan manfaatnya bagi manusia, seperti efek menurunkan tekanan darah dan kadar lipid plasma, sehingga dapat mengurangi risiko aterosklerosis dan dapat mencegah penyakit kardiovaskular.
Efektivitas dan Peran Montelukast (LTRA) pada Pasien Asma Kronis
-, Adhitya;
-, Effendi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 12 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (224.357 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i12.695
Asma merupakan penyakit saluran nafas kronik dengan gejala obstruksi akibat respon inflamasi. Pedoman tatalaksana asma saat ini menyatakan kortikosteroid sebagai terapi lini pertama untuk mengontrol penyakit. Namun, kortikosteroid memiliki banyak efek samping. Berdasarkan patofisiologi asma yang beragam, beberapa obat lain dapat digunakan untuk mengontrol asma, salah satunya adalah montelukast yang termasuk golongan Leukotriene Receptor Antagonist (LTRA).Asthma is a chronic respiratory disease with airway obstruction as the main symptom, caused by inflammation responses. Asthma management guidelines state that corticosteroid is the mainstay therapy for asthma. But, corticosteroid has many side effects. Based on the patophysiology of asthma, other drugs can be used to control asthma, one of them is montelukast which belongs to leukotriene receptor antagonist (LTRA) group.
Association between Bubble Tea Consumption and Prevalence of Acne Vulgaris
Subagio, Devina;
Budiastuti, Asih;
Riyanto, Puguh;
Aryoko Widodo, Yulian Ludovicus
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19]
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (102.984 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i7.1450
Introduction: Acne vulgaris (AV) is one of the most common skin disorders among youth. A cross-sectional study was conducted to analyze the association between bubble tea consumption and the prevalence of acne vulgaris among medical students. Method: Subjects were obtained from consecutive sampling. There were 91 eligible subjects meeting inclusion criteria. Data was collected using questionnaires. Examinations were through observation of photographs of lesions. Chi-square analysis was conducted at a 95% confidence interval (p<0.05). Results: Data were collected from 91 medical students with mean age 19.62+0.98 year-old. The prevalence of acne was 58.2%; mostly in age 20 years (37.7%). There is a significant association between consumption of bubble tea and the prevalence of AV (p<0.001). Conclusion: Bubble tea consumption is associated with prevalence of acne vulgaris.Pendahuluan: Akne vulgaris merupakan salah satu penyakit kulit yang umum dialami pada dewasa muda. Metode: Penelitian observasional cross sectional untuk mengetahui asosiasi konsumsi bubble tea dengan kejadian akne vulgaris. Sampel diambil dengan metode consecutive sampling menghasilkan 91 mahasiswa yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan data primer dengan kuesioner. Pemeriksaan fisik observasi kulit responden dengan foto. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Angka kejadian akne vulgaris adalah 58,2% dengan rata-rata usia 19.62+0.98; usia terbanyak penderita adalah 20 tahun (37,7%). Terdapat asosiasi bermakna antara konsumsi bubble tea dengan kejadian akne vulgaris (p<0,001). Simpulan: Penelitian ini menunjukkan hubungan bermakna antara konsumsi bubble tea dengan kejadian akne vulgaris.
Significance of Lewy Body Formation in Development of Parkinson’s Disease
Sahay, Shivanki;
Sutiono, Dias Rima
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 8 (2018): Alopesia
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (547.081 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i8.625
Parkinson’s disease is a serious neurodegenerative disease characterized by depletion of neurons in the substantia nigra of the basal ganglia. These dying out neurons are found to contain traces of Lewy bodies, an abnormal protein filament of alpha-synuclein and that otherwise play an important role in the nervous system, especially at synapses.Penyakit Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif serius ditandai dengan deplesi neuron di substansia nigra ganglia basalis.Neuron ditemukan mengandung jejak Lewy Bodies, yang merupakan filamen protein abnormal alpha-synuclein.Â
Formulasi Topikal untuk Manajemen Dermatitis Popok pada Bayi
Agustinus, Oktatika Pratiwi;
Wignjosoesastro, Cintyadewi;
Angeline, Daniela
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 3 (2017): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (92.807 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i3.831
Dermatitis popok adalah berbagai jenis erupsi pada area kulit yang tertutup oleh popok. Inflamasi cenderung akut dan dipicu oleh iritasi pada area tersebut. Kondisi lingkungan serta kondisi kulit, baik anatomis maupun fisiologis bayi berperan penting dalam perkembangan dermatitis popok. Artikel ini membahas formulasi topikal untuk pencegahan dan tata laksana dermatitis popok.Diaper dermatitis is an eruption in skin areas covered by nappy or diaper. Inflammation tends to be acute and triggered by irritation. Environment, also anatomy and physiology of neonatal skin has an important role in development of diaper dermatitis. This article discusses topical formulations in the prevention and management of diaper dermatitis.Â
Uji Fungsi Paru pada Muscular Dystrophy
Aphridasari, Jatu;
Harnanda, Dicki
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 1 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (168.379 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v42i1.1052
Muscular dystrophy terdiri atas beberapa tipe, perbedaan tipe muscular dystrophy menyebabkan hasil uji fungsi paru yang berbeda. Komplikasi pada sistem pernapasan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas penderita muscular dystrophy. Pemeriksaan dan analisis fungsi paru perlu dilakukan pada pasien muscular dystrophy pada awal diagnosis dan selama proses perjalanan penyakit. Pemeriksaan tersebut membantu monitoring progresifitas dan perjalanan penyakit, menilai respons terhadap terapi intervensi, dan menentukan prognosis.There are several types of muscular dystrophy with different pulmonary function characteristics. Respiratory complication is a major cause of morbidity and mortality ini muscular dystrophy patients. Lung function test and analysis ought to be performed in patients with the disease as a basic examination for diagnosis and throughout the course of the disease. The test helps to monitor disease progresivity, assess theurapeutic response, and evaluate disease prognosis.