Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Deteksi Helicobacter pylori pada Anak Menggunakan Teknik PCR dan Kultur Feces
Sulaksmana, Wayan;
-, Sukardi;
Razak, Abdul;
Mutaqqin, Zainul
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 1 (2014): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (148.715 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v41i1.1172
Latar belakang: Manifestasi klinis infeksi H. pylori pada anak tidak spesifik. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan endoskopik. Pada anak pemeriksaan endoskopi memerlukan ketrampilan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan H. pylori berdasarkan kultur dan pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) primer glmM (UreC) pada feses anak yang dirawat di RSUP Mataram-NTB dengan diagnosis awal diare. Hasil: Dari November 2011-April 2012 diperoleh 35 spesimen feses anak diare yang memenuhi syarat. H.pylori positif pada 9 pasien (25,71%), 3 (16,6%) berusia 0-1 tahun. Kultur feses positif pada 3 (8.57%) kasus. Simpulan: H. pylori dapat dideteksi dengan metode kultur bakteriologi dan PCR. Diperlukan penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar pada populasi anak normal atau dengan gejala gastrointestinal.Background: Clinical manifestations of Helicobacter pylori (H. pylori) infection in children are not specific, and diagnosis through endoscopic examination in children needs special skills. This study aims to determine H. pylori by culture and PCR primers glmM (UreC) in the feces of children diagnosed as diarrhea treated at the Department of Pediatrics, Mataram University, West Nusa Tenggara. Result: From November 2011-April 2012, 35 specimens have been obtained, Nine was positive for H. pylori (25.71%) 3 were from patients aged 0-1 years (16.6%). H. pylori was positive in 3 (8.57%) stool culture and PCR was positive in 9 (25.71%) patients. Conclusion: H. pylori infection can be detected by bacteriological culture and PCR. Detection of HelicobacterÂ
Peran dan Fungsi Pelembap pada Tatalaksana Dermatitis Atopi
Martalova AJ, Adelia;
Saraswati, Putu Dyah Ayu
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (698.492 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i3.368
Dermatitis atopi merupakan inflamasi kulit yang sering terjadi pada berbagai kelompok usia. Defek fungsi barier kulit, genetik, disregulasi sistem imun, dan lingkungan saling berinteraksi sebagai faktor penyebab. Manajemen meliputi perawatan kulit optimal, salah satunya dengan penggunaan rutin pelembap. Makalah ini akan memaparkan peran dan fungsi pelembap dalam dermatitis atopi.Atopic dermatitis is a common skin inflammation in any age group. Many factors, such as skin barrier function defect, genetic, immune system dysregulation, and environment, are related as contributing factors. Management includes optimal skin care, including routine moisturizer use. This article discuss the moisturizer’s role in atopic dermatitis.
Hipertensi Esensial : Diagnosis dan Tatalaksana Terbaru pada Dewasa
Adrian, Steven Johanes;
-, Tommy
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (750.884 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i3.503
Hipertensi merupakan salah satu penyebab terbesar morbiditas penyakit di dunia; penderita hipertensi diperkirakan akan mencapai 1,5 miliar pada tahun 2025 dan kematian dapat mencapai 9,4 juta individu. Hipertensi didefinisikan sebagai kondisi tekanan darah sistolik ≥ 130 mm Hg atau diastolik ≥ 80 mm Hg; 80 – 95% kasus hipertensi esensial. Dua faktor utama berkaitan dengan kasus hipertensi esensial adalah faktor genetik dan lingkungan. Tatalaksana kombinasi non farmakologis dan farmakologis dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti stadium hipertensi, saat mulai pengobatan, jenis obat, target tekanan darah, komorbiditas, kontrol berkala, dan kriteria rujukan.Hypertension causes a considerable morbidity in the world. There will be 1.5 billion hypertensive patients with mortality up to 9.4 million in 2025. Hypertension is defined as systolic blood pressure ≥130 mm Hg or diastolic blood pressure ≥ 80 mm Hg. Approximately 80-95% cases are essential hypertension. The most important factors associated with essential hypertension are genetic and environmental factors. The recommended treatment consists of pharmacological and non-pharmacological methods, considering the stage of hypertension, initiation, class of drugs, blood pressure target, comorbidities, follow-up, and referral criteria.
Efek Kekurangan Energi Protein terhadap Berat Badan dan Berat Usus Halus Tikus Sprague-Dawley
-, Chelsia;
Arundina TT, Agustina;
Armyanti, Ita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (152.98 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i10.711
Kekurangan energi protein (KEP) merupakan masalah dunia, dengan prevalensi 15,1% pada tahun 2012. Pada KEP hampir seluruh organ berkurang massanya sebagai mekanisme kompensasi. KEP menyebabkan atrofi usus halus yang menyebabkan kegagalan pencernaan dan memperparah KEP. Makin lama KEP, berat badan dan berat usus halus tikus Sprague-Dawley makin rendah; penurunan berat tersebut akan berhenti pada suatu saat. Berat badan rendah dikaitkan dengan rendahnya berat usus halus tikus Sprague-Dawley pada KEP.Protein Energy Malnutrition (PEM) is a worldwide problem, with 15.1% prevalence in 2012. In PEM most organs loss mass as mechanism of compensation. PEM leads to small intestine atrophy that cause intestinal failure and worsening PEM. Body weight and small intestine weight of Sprague-Dawley rats are decreasing in PEM. The rates of decreases is smaller over time and stop at a certain point. Low body weight is associated with low small intestine weight of Sprague-Dawley rats with PEM.
Tinea Kapitis pada Dua Saudara Kandung
Elisia, Elisia;
Putu Dyah Ayu, Saraswati
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (231.3 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i4.1470
Tinea kapitis banyak ditemukan pada anak-anak yang tinggal bersama dalam satu kelompok ataupun keluarga. Presentasi klinis dari hewan peliharaan sebagai sumber dermatofitosis tidak selalu tampak. Diagnosis tinea kapitis melalui anamnesis, inspeksi kulit kepala, KOH, ataupun kultur. Dilaporkan kasus tinea kapitis pada dua saudara perempuan berusia 3 tahun dan 6 tahun dengan keluhan kebotakan sejak 1 bulan, awalnya tampak bintik merah gatal dan bersisik mengerak; rambut mudah patah dan dicabut. Pemeriksaan KOH positif. Hasil kultur menunjukkan M. canis dan Rhodotorulla. Setelah terapi ketokonazol losion dan ketokonazol sampo selama 2 bulan, didapatkan perbaikan.Tinea capitis can be found among children living together in a group or in a family. Clinical presentation of dermatophytes among pets, dominated by cats and dogs as source of infections is not always established. Tinea capitis can be diagnosed by anamnesis, inspection of the hair and scalp, Wood’s lamp examination, KOH microscopic examination, and culture. Two tinea capitis cases in siblings with baldness since 1 month preceded by red spots progressing into itchy patches, scaling, and crusted. Hair was brittle and broke off easily. KOH microscopic examination were positive. Cultures showed M. canis and Rhodotorulla. Lesions were reduced after two months of therapy with ketoconazole lotion and ketoconazole shampoo.
Fournier’s Gangrene
Surya Djaya, Alfonsus Mario Eri
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 7 (2018): Onkologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (752.125 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i7.646
Fournier’s Gangrene merupakan suatu fasiitis nekrotikans perianal, perineal, serta genital yang progresif dan fatal. Diagnosis bisa ditegakkan dengan gambaran klinis. Prinsip utama penanganan adalah resusitasi adekuat, antibiotik parenteral, serta debridement. Diversi urin maupun fekal, terapi hiperbarik, dan operasi rekonstruksi memperbaiki hasil akhir. Walau penanganan tepat, angka mortalitas cukup tinggi. Beberapa metode prediksi mortalitas meliputi Laboratory Risk Indicator for Necrotizing Fasciitis Score (LRINEC) dan Fournier Gangrene Severity Index (FGSI). Dilaporkan kasus dan penanganan Fournier’s gangrene di rumah sakit tipe C di Jember, Jawa Timur.Fournier’s gangrene is a progressive and fatal necrotizing fasciitis of the perianal, perineal, and genital. Diagnosis is through clinical examination. Main principle of therapy is adequate resuscitation, parenteral antibiotic, and debridement. Urine and fecal diversion, hyperbaric treatment, and reconstructive surgery can improve the outcome. Some scoring system for diagnostic accuracy and mortality predictions are Laboratory Risk Indicator for Necrotizing Fasciitis Score (LRINEC) and Fournier Gangrene Severity Index (FGSI). Mortality rate is still high despite appropriate treatment. Management of Fournier’s gangrene in type C hospital was discussed.
Modalitas Pencegahan Progresivitas School-age Myopia
-, Angelo;
Shinta, Angela;
Halim, Andrew Adiguna
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.295 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i4.854
Miopia merupakan salah satu masalah kesehatan dunia. Banyak peneliti menyimpulkan bahwa progresivitas miopia pada anak usia sekolah terjadi melalui proses form deprivation myopia(FDM). Bukti-bukti penelitian menunjukkan bahwa miopia lebih diakibatkan oleh faktor-faktor lingkungan dibandingkan faktor genetik. Penggunaan kacamata, lensa kontak, ortho-k maupun farmakologis dapat mengurangi perkembangan FDM. Terapi farmakologis menggunakan atropin merupakan cara terbaik menghambat FDM meskipun memiliki sejumlah efek samping.Miopia is one of the world’s greatest health problems. Many researchers concluded that the progression of school-age myopia happens through form deprivation myopia. Due to the fact that myopia is caused more by environmental factors rather than genetic factors, researchers are trying to find the best prevention modalities. Spectacles, contact lens, ortho-k or pharmacologic approach are the modalities to halt the progression of FDM. Atropine can be the best modalities to prevent FDM despite its side effects.
Hereditary Breast Ovarian Cancer (HBOC) Syndrome
Wulandari, Catharina Endah
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 11 (2014): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (157.903 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v41i11.1070
Secara teori kanker disebabkan oleh mutasi genetik yang berperan dalam proses proliferasi sel. Sekitar 5-10% mutasi genetik tersebut dapat diturunkan ke generasi berikutnya, menyebabkan “kanker herediterâ€. Salah satu bentuk kanker herediter yang banyak ditemukan adalah Hereditary Breast Ovarian Cancer (HBOC) syndrome yang ditandai peningkatan risiko terutama untuk kanker payudara, kanker ovarium, dan onset usia lebih muda. HBOC juga meningkatkan risiko kanker yang berkaitan yaitu kanker prostat, kanker pankreas, dan melanoma. HBOC berhubungan erat dengan mutasi gen BRCA1 dan BRCA2. Kedua gen tersebut termasuk dalam kelas gen tumor suppressor yang berperan penting dalam patofisiologi kanker payudara dan ovarium. Identifikasi individu yang memiliki predisposisi HBOC sangat penting untuk menentukan tatalaksana berikutnya. Penggalian data mengenai riwayat kanker pada keluarga merupakan teknik yang cost-effective untuk mengidentifikasi kanker herediter. Artikel ini membahas sindrom HBOC, diagnosis sampai tatalaksana penurunan risiko untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas terkait sindrom HBOC.Cancer is theoretically caused by genetic mutation in cell proliferation. Approximately 5-10% of these genetic mutations can be inherited to the next generation, causing “hereditary cancerâ€. One of the most common type of hereditary cancer is Hereditary Breast Ovarian Cancer (HBOC) syndrome. It is characterized by increased risk of breast and ovarian cancer development and early onset. HBOC also increases risk of other related cancer such as cancer of prostate, pancreas and melanoma. HBOC has close relationship with BRCA1 and BRCA2 gene mutation. Both are tumor suppressors that have important role in breast and ovarian cancer development. Identification of individual with predisposition for HBOC syndrome is very important. Family history is the most cost-effective method to identify hereditary cancer. This article discuss HBOC syndrome, its diagnosis and risk management to decrease mortality and morbidity rate related to HBOC syndrome.Â
Sindrom Pseudoeksfoliatif
-, Roveny
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 7 (2016): Kulit
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i7.82
Sindrom pseudoeksfoliatif merupakan kelainan sistemik dengan manifestasi okuler, disebabkan produksi abnormal substansi protein fibrilar di jaringan okuler. Mekanisme patofisiologi pasti belum diketahui, diduga berhubungan dengan mutasi genetik. Umumnya penderita sindrom pseudoeksfoliatif tidak menunjukkan gejala khas sebelum berkomplikasi menjadi glaukoma pseudoeksfoliatif. Terapi spesifik sindrom pseudoeksfoliatif belum tersedia, sehingga lebih difokuskan pada pemantauan rutin tekanan intraokuler.
Hypnosis for Pain Alleviation: Placebo or Nocebo?
Rima Sutiono, Dias;
Putra Gunawan, Jeremy;
Devina, Astrella;
Sindjaja, Wibi;
Pavita, Jesslyn
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (492.779 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i2.527
The use of hypnosis to alleviate pain had started to gain recognition. In the assessed papers, application of hypnosis has included childbirth, surgeries, and chronic pain. In childbirth, the use of self-hypnosis can reduce the use of analgesics from 78% to 45% of cases. The satisfaction of hypnobirthing—birth using hypnosis—reaches 96%. Hypnosis can decrease the use of anesthesia drugs during surgery, promotes healing, decreases bleeding and hospital stay. Hypnosis can alleviate pain and reduce the use of over the counter painkillers; also showed benefits for non-cardiac chest pain relief while also reduces medication. Currently, hypnosis had been the most prominent application for labour pain relief. There is a demand for more studies of bioinformatics and neuroscience.Penggunaan hipnosis untuk mengurangi rasa sakit sudah mulai mendapat pengakuan. Banyak pustaka menjelaskan penerapan hipnosis pada proses melahirkan, operasi, dan nyeri kronis. Pada proses melahirkan, self-hypnosis dapat mengurangi penggunaan analgesik dari 78% menjadi 45% kasus. Kepuasan hypnobirthing – kelahiran menggunakan hipnosis - mencapai 96%. Hipnosis dapat mengurangi penggunaan obat anestesi, mempromosikan penyembuhan, mengurangi perdarahan dan lama rawat di rumah sakit pasca-operasi. Hipnosis bisa mengurangi penggunaan obat penghilang nyeri; juga menunjukkan manfaat untuk penderita nyeri dada non-jantung selain mengurangi konsumsi obat. Saat ini, aplikasi hipnosis yang paling menonjol untuk nyeri persalinan. Diperlukan studi bioinformatika dan neuroscience lebih lanjut.