LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya
LOGON ZOES merupakan wadah publikasi hasil penelitian di bidang teologi, sosial dan budaya bagi pengembangan kekristenan di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi Erikson Trit, Manokwari dan institusi lain yang ingin berkontribusi dengan bidang kajian yang serupa. LOGON ZOES diterbitkan dan dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tirtt Manokwari dengan Focus dan Scope pada bidang: Teologi Biblikal, Teologi Sistematika, Teologi Praktikal, Teologi dan Sosial, Budaya dan Kearifan Lokal.
Articles
67 Documents
KESETARAAN PRIA DAN WANITA (GENDER) MENURUT ALKITAB
Yehuda Mandacan
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 2, No 1 (2018): Agustus 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (232.549 KB)
|
DOI: 10.53827/lz.v2i1.11
Masalah gender bukan masalah baru. Masalah perdebatan gender dari para ahli dari waktu ke waktu mewarnai kehidupan manusia menentukan mana yang manusia ciptaan Allah dan mana yang tidak, bukan hanya terdapat antara seluruh makhluk ciptaan Allah tetapi terbawa sampai kepada pribadi manusia baik laki-laki maupun perempuan. Namun Alkitablah yang akan menjadi kunci jawaban bagi setiap pendapat manusia. Sehingga tidak lagi seorang pun mencari jalan untuk menentukan kebenarannya sendiri-sendiri. Sebab Alkitab dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru akan menyatakan kebenaran bahwa baik Laki-laki maupun perempuan adalah setara di hadapan Tuhan sebagai pencipta. Pada pembahasan ini penulis akan melakukan kajian mengenal kesetaraan Gender dalam perspektif Alkitab Pada bab terdahulu penulis telah memaparkan mengenai komunitas masyarakat Arfak secara global yang di dalamnya tercakup mengenai wanita. Adapun tujuan pembahasan dalam bab ini ialah untuk menemukan sebuah landasan biblikal yang merupakan kebenaran hakiki mengenai kesetaraan gender. Namun sebelum melakukan pembahasan secara alkitabiah, penulis akan melakukan kajian singkat berkenaan dengan isu gender yang terus berkembang dewasa ini. Di samping memberikan informasi, pemahaman ini juga guna membandingkan kebenaran yang ada dalam Alkitab. Tentu sebagai orang percaya haruslah mengakui legitimasi Alkitab sebagai otoritas kebenaran tertinggi. Apapun kebenaran yang diajarkan oleh Alkitab haruslah dilakukan secara mutlak sekalipun tembok-tembok budaya sangat menghalangi. Namun perlu dilakukan langkah-langkah dan strategi yang bijak agar tidak melahirkan konfrontasi negatif yang berakhir pada penolakan.
MENGATASI KETIDAK SELARASAN DALAM JEMAAT
Jevri Terok
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 1, No 1 (2017): Agustus 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (141.963 KB)
|
DOI: 10.53827/lz.v1i1.2
Keselarasan sangat dirindukan oleh setiap orang secara khusus dalam berjemaat. Ketidak selarasan dalam jemaat bisa berdampak buruk bagi perkembangan jemaat itu sendiri. Jemaat yang hidup dalam keselarasan karena jemaat sudah menjadikan Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam kehidupan jemaat, sehingga dalam berjemaat ada kebersamaan seperti dalam melakukan doa bersama, jemaat juga melakukan ibadah secara bersama-sama. Untuk mencapai keselarasan dalam jemaat bukan hanya peranan gembala sidang atau pendeta saja namun semua jemaat harus ikut terlibat dalam melakukan kegiatan-kegiatan pelayanan dalam gereja. Kalau jemaat ingin merindukan suatu keharmonisan atau keselarasan dalam berjemaat, maka setiap anggota gereja atau anggota jemaat harus terlibat aktif dalam pelayanan yang telah dipercayakan Allah berdasarkan talentanya masing-masing, begitu pula dalam berjemaat. Apabila setiap anggota jemaat menyadari akan pentingnya tanggung jawab dalam pelayanan, maka keselarasan persatuan yang indah akan terbangun secara bersama-sama untuk melayani Tuhan dengan tujuan agar terjadi suatu pertumbuhan dalam jemaat.
Dampak Dikeluarkannya Edik Milano 313 bagi Kebebasan Gereja
Jon Mister R. Damanik
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 4, No 1: Pebruari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (402.9 KB)
|
DOI: 10.53827/lz.v4i1.23
Church history is not an outdated or outdated writing, but church history has an important role to play. Because in the history of the church there are important parts that can be used as a teaching for the church today. Chrestus is a term for followers of Christ, and Christians are used as an outlet for pleasure when they are persecuted, pitted against hungry animals, used as torches to light the garden, nearly 250 years of persecuted Christians have not been given freedom by the state even if there is a problem -problems like a fire whose cause is Christians because they do not worship their gods so that the gods are angry. The Edik Milan is a decree issued in 313 which greatly influenced the church's freedom to carry out religious activities. The meaning of Edik is: "an order carried out by the ruler." Milan is "the Roman state where Roman rule ruled." With the issuance of this Edict of Milan by Konstantin the Great, the ruler of the Roman empire gave a glimmer of hope in freedom of worship. Events that have occurred in the church in the past are a motivation for the church to keep carrying out the command of the Lord Jesus, namely to make all nations become His disciples. The church exists today because there was a church in the past, hope to continue learning about history because from history there will be a lot to know about what happened in the past as a positive lesson in the present.AbstrakSejarah Gereja bukan suatu tulisan yang tidak berlaku atau yang sudah usang, tetapi sejarah gereja memiliki peranan penting untuk dipelajari. Karena dalam sejarah gereja terdapat bagian-bagian yang penting untuk dapat dijadikan sebagai suatu pengajaran bagi gereja masa kini. Chrestus adalah suatu sebutan untuk pengikut Kristus, dan orang-orang Kristen dijadikan sebagai pelampiasan kesenangan pada saat mereka dianiaya, diadu dengan binatang lapar, dijadikan obor sebagai penerang taman, hampir 250 tahun orang-orang Kristen dianiaya tidak diberikan kebebasan oleh negara bahkan jika ada masalah-masalah seperti kebakaran yang penyebabnya itu adalah orang Kristen karena mereka tidak menyembah dewa mereka sehingga dewa murka. Edik Milan adalah suatu Surat Keputusan yang dikeluarkan pada tahun 313 yang sangat berpengaruh bagi kebebasan gereja untuk melaksanakan kegiatan ibadah-ibadah. Arti Edik adalah: ”perintah yang dilakukan oleh penguasa.” Milan adalah ”negara Roma tempat pemerintahan Romawi berkuasa.” Dengan dikeluarkan Edik Milan ini oleh Konstantinu Agung penguasa kekaisaran Romawi memberikan secercah harapan dalam kebebasan dalam melaksanakan ibadah. Peristiwa yang pernah terjadi pada gereja pada masa dulu adalah suatu motivasi bagi gereja untuk tetap menjalankan perintah Tuhan Yesus yaitu untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid-Nya. Gereja ada pada hari ini karena ada gereja pada masa lalu, harapan teruslah belajar tentang sejarah karena dari sejarah akan banyak diketahui apa yang terjadi pada masa lalu sebagai suatu pembelajaran yang positif pada masa kini.
Analisis Deskriptif Polah Asuh Orang tua terhadap Perkembangan Moralitas Anak Usia Dini
Fandry Watulingas
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 5, No 1: Pebruari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (485.671 KB)
|
DOI: 10.53827/lz.v5i1.49
Children as the next generation must get the best parenting in the family for the formation of their morality. Parenting itself is a way for parents to educate, teach, and care from an early age to a certain time, including how parents show good exemplary attitudes that can affect the moral development of children. Deviant behavior from teenagers to adults can not be separated from the parenting pattern of parents who are not wise to their children. In this study, the researcher uses a descriptive qualitative methodology that focuses on bibliographic analysis, especially on journal articles that are closely related to the theme or topic being researched by the researcher. This study describes parenting and morality, where parents are the main role holders in parenting for the development of children's morality from an early age. There are four parenting styles used by parents based on the theory put forward by Diana Baumrind, namely: authoritarian parenting, authoritative parenting, neglectful parenting, and pampering parenting. AbstrakAnak-anak sebagai generasi penerus harus mendapatkan pola asuh yang terbaik dalam keluarga untuk pembentukan moralitas mereka. Pengasuhan itu sendiri merupakan cara orang tua mendidik, mengajar, dan merawat sejak dini sampai pada waktu tertentu, termasuk bagaimana orang tua menunjukkan sikap keteladanan yang baik yang dapat mempengaruhi perkembangan moralitas anak. Prilaku yang menyimpang dari anak-anak remaja hingga dewasa tidak lepas dari pola asuh orang tua yang tidak bijaksana terhadap anak-anak mereka. Pada penelitian ini peneliti menggunakan metodologi kualitif deskriptif yang menitik beratkan pada analisis bibliografis khususnya pada tulisan artikel jurnal yang erat kaitannya dengan tema atau topik yang sedang diteliti oleh peneliti. Pada penelitian ini menguraiakan tentang pola asuh dan moralitas, di mana orang tua adalah pemegang peran utama dalam polah asuh untuk pengembangan moralitas anak sejak usia dini. Ada empat pola asuh yang digunakan orang tua berdasarka teori yang dikemukakan Diana Baumrind yaitu: pola asuh otoriter, pola asuh otoritatif, polah asuh lalai dan polah asuh memanjakan.
Keteladanan Kepemimpinan Rasul Paulus Berdasarkan Kisah Para Rasul
Noh Asbanu
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 5, No 1: Pebruari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (409.347 KB)
|
DOI: 10.53827/lz.v5i1.54
Leadership is an inseparable part of human life. Because Paul's example in leadership can be used as a model for leaders in carrying out their role as church leaders. Using descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that the role of Apostle Paul's leadership role in the Book of Acts is the first, dimension of teaching exemplary. Furthermore, the second is the exemplary dimension of the Apostle Paul's way of life for the church. Third, the dimension of faith is exemplary. And fourth, there is a dimension of exemplary love, this is the role of the leader as an actor in imitating Christian love that must always be done. Fifth, the dimension of exemplary perseverance is the role of the leader through the example of perseverance in Christian life which includes indicators of being active in serving, and steadfast in service. AbstrakKepemimpinan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hidup manusia. Sebab keteladanan Paulus dalam kepemimpinan dapat dijadikan model bagi para pemimpin dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin jemaat. Mengunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka maka dapat disimpulkan bahwa peran keteladanan kepemimpinan rasul Paulus dalam Kitab Kisah Para Rasul adalah yang pertama, dimensi keteladanan pengajaran. Selanjutnya yang kedua adanya dimensi keteladanan cara hidup Rasul Paulus bagi jemaat ketiga, dimensi keteladanan iman. dan keempat, adanya dimensi keteladanan kasih hal ini merupakan peran pemimpin sebagai pelaku peneladanan kasih Kristiani harus selalu dilakukan. Kelima, dimensi keteladanan ketekunan adalah peran Pemimpin melalui peneladanan ketekunan hidup Kristiani yang mencakup indikator giat melayani, teguh dalam pelayanan.
Analisis Narative Criticism Kisah Perumpamaan Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin dalam Lukas 16:19-31
Herman Simarmata;
Tri Prasetya
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 5, No 1: Pebruari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1381.031 KB)
|
DOI: 10.53827/lz.v5i1.55
The parable of Lazarus and the rich man provides information for today's believers so that they can respond to everything well, especially those that are directly related to the salvation of eternal life. So that this research can provide meaning for narrative analysis for readers. Using the descriptive method of narrative criticism, it can be concluded that the first is that the narrative about Lazarus and the Rich Man provides an illustration for believers that luxury and abundance do not guarantee someone will receive salvation from God. second is absolute salvation only in the proclamation of Jesus Christ, who accepts and believes to be with Him forever. The third is that while living in this mortal world, have a love for many people as Jesus was willing to empty himself to take on the form of a human just to save all those who believe in Him. AbstrakPerumpamaan tokoh lazarus dan orang kaya memberikan informasi bagi orang percaya masa kini agar dapat menyikapi segala sesuatu dengan baik, apalagi yang berkaitan langsung dengan keselamatan hidup kekal. Sehingga penelitian ini dapat memberikan makna bagi analisi narativ bagi para pembaca. Mengunakan metode dekritif kritik naratif maka dapat disimpulkan bahwa pertama adalah dari narasi tentang Lazarus dan orang kaya memberikan gambaran bagi orang percaya bahwa kemewahan dan kelimpahan tidak menjamin seseorang menerima keselamatan yang dari Allah. kedua adalah keselamatan mutlak hanya ada di dalam pemberitaan tentang Yesus Kristus, yang menerima dan percaya akan bersama dengan Dia selama-lamanya. Ketiga adalah selama hidup dalam dunia yang fana ini, milikilah kasih kepada banyak orang sebagaimana Yesus rela mengosongkan dirinya untuk mengambil rupa menjadi manusia hanya untuk menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya.
Peran Guru Pendidikan Agama Kristen Terhadap Misi Kristen: Upaya Aktualisasi Amanat Agung
Meliani Konda Betu;
Yonatan Alex Arifianto
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 5, No 1: Pebruari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2163.675 KB)
|
DOI: 10.53827/lz.v5i1.79
As a Christian religious educator, you have a very important role in the process of increasing the spirituality of students who continue to have faith in Jesus. Moreover, it also educates students to preach the good news. However, the fact is that most teachers of Christian Religious Education have not fulfilled their responsibilities as teachers who have the task of preaching or carrying out the mandate of the Great Commission. In this case, the writer uses descriptive qualitative method with a literature study approach, with the following conclusions. The role of Christian Religious Education teachers in the mission should be one of the main goals in shaping or providing direction to students about their faith and spiritual growth. A Christian Religious Education teacher must also have a personal relationship with the Lord Jesus, because with a relationship with God, every teaching given to students can also be understood and understood by them and also, they can implement it in the lives of students in their lives. The growth of students' faith is a very important element in their lives, where through the growth of faith students can become blessings and witnesses through their lives. AbstrakSebagai pendidik agama Kristen memiliki peran yang sangat penting dalam proses untuk meningkatkan spritualitas naradidik yang berlanjut pada iman kepada Yesus. Terlebih juga mendidik muridnya untuk untuk memberitakan kabar baik. Namun faktanya kebanyakan guru Pendidikan Agama Kristen belum memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang guru yang memiliki tugas dalam memberitakan atau menjalankan mandat amanat agung. Dalam hal ini penulis menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literatur, dengan kesimpulan sebagai berikut, Peran guru Pendidikan Agama Kristen dalam misi harus menjadi salah satu tujuan utamanya dalam membentuk ataupun memberikan arahan kepada para peserta didik tentang pertumbuhan iman dan kerohanian mereka. Seorang guru Pendidikan Agama Kristen juga harus memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus, karena dengan adanya hubungan dengan Tuhan maka setiap ajaran yang diberikan kepada para peserta didi juga dapat dimengerti dan dipahami oleh mereka dan juga mereka dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan para peserta didik dalam kehidupannya. Pertumbuhan iman para peserta didik merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupannya, dimana lewat pertumbuhan iman maka peserta didik dapat menjadi berkat dan saksi lewat kehidupannya.
Mekanisme Implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka pada Program Studi di Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen
Rifky Serva Tuju;
Dinn Wahyudin;
Laksmi Dewi
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 5, No 1: Pebruari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (834.865 KB)
|
DOI: 10.53827/lz.v5i1.56
Independent Learning Merdeka Campus is designed so that Indonesia has superior Human Resources. MBKM is also designed so that students have the freedom to study in higher education. The MBKM Implementation Mechanism will assist Christian religious universities in implementing the MBKM design from the Ministry of Education and Culture so that a proper and correct MBKM management plan is realized. The MBKM Implementation Mechanism in Study Programs at Christian religious universities can also help Christian religious colleges in preparing MBKM implementation in their respective universities. AbstrakMerdeka Belajar Kampus Merdeka dirancang agar Indonesia memiliki Sumber Daya Manusia yang unggul. MBKM dirancang juga agar pelajar memiliki kemerdekaan dalam belajar di Perguruan Tinggi. Mekanisme Implementasi MBKM akan membantu Perguruan Tinggi keagamaan Kristen dalam menerapkan rancangan MBKM dari Kemendikbud sehingga terwujud-nya sebuah rancangan tata kelola MBKM dengan baik dan benar. Mekanisme Implementasi MBKM pada Program Studi di PT keagamaan Kristen ini juga dapat membantu Sekolah Tinggi keagamaan Kristen dalam menyusun Implementasi MBKM di Perguruan Tinggi masing-masing
Manusia adalah Ciptaan Gambar Allah
Hance Randa
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 5, No 1: Pebruari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (345.382 KB)
|
DOI: 10.53827/lz.v5i1.57
Humans are God's image, created differently from other God’s creations. Humans were created by God in a holy or holy state, meaning that humans were created by God without sin. Man's disobedience to God which gave birth to sin in man. Sin makes humans lose the holiness of God, so that all the descendants of Adam and Eve are called sinful humans. The presence of sin in man does not mean that God no longer cares about man. God still cares about humans because God loves humans very much. God's love is not affected by sin in man. God's love aims to save mankind from destruction and make man get eternal life when man believes in Jesus Christ as his personal Lord and Savior. AbstrakManusia adalah gambar Allah yang diciptakan berbeda dengan ciptaan Allah yang lain. Manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan kudus atau suci, artinya bahwa manusia diciptakan oleh Allah tanpa dosa. Ketidaktaan manusia kepada Allah yang melahirkan dosa dalam diri manusia. Dosa membuat manusia menjadi kehilangan kekudusan Allah, sehingga semua keturunan Adam dan Hawa disebut sebagai manusia berdosa. Kehadiran dosa dalam diri manusia tidak berarti bahwa Allah tidak lagi peduli dengan manusia. Allah tetap peduli dengan manusia karena Allah sangat mengasihi manusia. Kasih Allah tidak terpengaruh dengan dosa yang ada dalam diri manusia. Kasih Allah bertujuan untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan dan menjadikan manusia mendapatkan hidup yang kekal ketika manusia percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya
Pengudusan Bait Allah Menurut 2 Tawarikh 29:3 – 31:1
Luhut P Lumban Gaol
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 5, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (442.289 KB)
|
DOI: 10.53827/lz.v5i2.95
The temple of God is a very strong foundation for the people of Israel because the temple of God talks about the presence of God and also about God's holiness in the life of the Israelites. In the journey of the Israelites from Egypt to the Promised Land, the concept of the Temple of God became very important, therefore the Israelites continued to build the Temple of God, and then dismantled and moved it where they then built the tent. This study discusses the reforms carried out by King Hezekiah when he wanted to remodel the existence of the temple. This was done because there was so much depravity in the faith of the Israelites from the time before Hezekiah's leadership. The purpose of this discussion is to obtain the principles of the reformation carried out and also as a reference in renewal for the congregation at this time. The method used is hermeneutic by investigating relevant library sources. The result was that Hezekiah reformed God's people in the worship of that Lord without compromise. His actions made God's people blessed. Today's servants of God need to convey true teachings and not compromise on idolatry.Bait Allah merupakan dasar yang sangat kental dengan umat Israel, sebab bait Allah berbicara tentang kehadiran Allah dan juga tentang kekudusan Allah dalam kehidupan bangsa Israel. Di dalam perjalanan bangsa Israel dari Mesir sampai ke tanah Perjanjian, konsep Bait Allah menjadi hal yang sangat penting, oleh sebab itu umat Israel tetap membangun Bait Allah tersebut, dan kemudian membongkar dan memindahkan dimana mereka kemudian membangun tenda. Penelitian ini membahas reformasi yang dilakukan oleh raja Hizkia, ketika dia ingin merombak keberadaan Bait Allah tersebut. Hal ini dilakukan kerena begitu banyaknya kebobrokan iman bangsa Israel dari masa sebelum kepemimpinan Hizkia. Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk mendapatkan prinsip-prinsip reformasi yang dilakukan dan juga sebagai rujukan dalam pembaharuan bagi jemaat pada masa sekarang ini. Metode yang digunakan adalah hermeneutik dengan menyelidiki sumber-sumber pustaka yang relevan. Hasilnya adalah Hizkia mereformasi umat Allah dalam penyembahan kepada Tuhan itu dengan tanpa kompromi. Tindakannya membuat umat Allah diberkati. Hamba Tuhan masa kini perlu menyampaikan pengajaran yang benar dan tidak kompromi terhadap penyembahan berhala.