cover
Contact Name
Rifky Serva Tuju
Contact Email
servatuyu00@gmail.com
Phone
+6282216985878
Journal Mail Official
sttetmpb@gmail.com
Editorial Address
STT Erikson-Tritt Jalan Trikora Sowi 3 Manokwari, Papua Barat
Location
Kab. manokwari,
Papua barat
INDONESIA
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya
ISSN : -     EISSN : 27453766     DOI : https://doi.org/10.53827/lz
LOGON ZOES merupakan wadah publikasi hasil penelitian di bidang teologi, sosial dan budaya bagi pengembangan kekristenan di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi Erikson Trit, Manokwari dan institusi lain yang ingin berkontribusi dengan bidang kajian yang serupa. LOGON ZOES diterbitkan dan dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tirtt Manokwari dengan Focus dan Scope pada bidang: Teologi Biblikal, Teologi Sistematika, Teologi Praktikal, Teologi dan Sosial, Budaya dan Kearifan Lokal.
Articles 67 Documents
Yesus “Naik” atau “Terangkat”?: “Karakter Ilahi yang Tersembunyi” dalam Kisah Yesus Terangkat ke Surga Siburian, Carel Hot Asi; Panggabean, Christian Roy
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 7, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v7i2.174

Abstract

The Ascension story independently appears only in the Gospel of Luke 24:50-51. However, editorially the story also appears in Mark 16:9-20 and Acts 1:6-11. The main issue in this article is the question of Jesus “ascending” or “being taken up” to heaven. The polemic that arises is to question the exact position of Jesus when it is said that He returned to heaven; as a direct subject or as an object. This problem arises because the Greek word used in the three texts above is passive, where all possibilities lead to the conclusion that Jesus is the object who was taken up to heaven. This is even though the current understanding is that Jesus ascended to heaven by His power. Through this article, using the method of analyzing the Greek word “ascending”, a construction of thinking will be built that the power of Jesus being lifted to heaven did not originate from Jesus. Jesus was lifted by a hidden divine character and this indicates that Jesus in Himself did not have the power to lift Himself in His ascension story.Kisah Kenaikan Yesus secara independen hanya muncul dalam Injil Lukas 24:50-51. Namun secara redaksional kisah tersebut juga muncul dalam Markus 16:9-20 dan Kisah Para Rasul 1:6-11. Masalah utama dalam artikel ini adalah perihal Yesus yang “naik” atau “terangkat” ke surga. Polemik yang muncul adalah mempertanyakan sebenarnya bagaimana posisi Yesus saat disebut bahwa Ia kembali ke surga; sebagai subjek langsung atau sebagai objek. Permasalahan ini muncul sebab kata Yunani yang digunakan dalam ketiga teks di atas bersifat pasif, di mana segala kemungkinan merujuk pada kesimpulan bahwa Yesus justru adalah objek yang diangkat ke surga. Padahal selama ini paham yang muncul adalah bahwa Yesus naik ke surga atas kuasa-Nya sendiri. Melalui artikel ini, menggunakan metode analisis kata Yunani “terangkat”, akan dibangun sebuah konstruksi berpikir bahwa kuasa Yesus yang terangkat ke surga tidak berasal dari diri Yesus. Yesus diangkat oleh suatu karakter Ilahi yang tersembunyi dan hal ini justru menandakan bahwa Yesus dalam diri-Nya sendiri tidak memiliki kuasa untuk mengangkat diri-Nya dalam kisah kenaikan-Nya.
Dari Pengasingan ke Stabilitas: Menganalisis Kontribusi Politik dan Keagamaan Zerubabel dan Yosua. Laoly, Nepho Gerson
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 7, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v7i2.186

Abstract

This study explores the political and religious leadership of Zerubabel and Joshua in post-exilic Judah, focusing on their collaborative efforts to rebuild the Temple and restore national identity. Zerubabel, appointed as governor by the Persian Empire, played a critical role in navigating between Persian authority and local needs, ensuring stability through administrative strategies. Meanwhile, Joshua, as High Priest, re-established religious practices and reinforced spiritual commitments. Their integrated leadership reflects the importance of combining political and religious authority to foster social and spiritual restoration. Additionally, the theological relevance of their actions aligns with covenant renewal and messianic hopes within the Jewish community, highlighting the synergy between governance and faith in achieving long-term stability in the face of external challenges.Penelitian ini mengeksplorasi kepemimpinan politik dan agama Zerubabel dan Yosua di Yehuda pasca-pembuangan, dengan fokus pada upaya kolaboratif mereka untuk membangun kembali Bait Suci dan memulihkan identitas nasional. Zerubabel, yang ditunjuk sebagai gubernur oleh Kekaisaran Persia, memainkan peran penting dalam menyelaraskan antara otoritas Persia dan kebutuhan lokal, memastikan stabilitas melalui strategi administratif. Sementara itu, Yosua, sebagai Imam Besar, membangun kembali praktik-praktik keagamaan dan memperkuat komitmen spiritual. Kepemimpinan mereka yang terintegrasi mencerminkan pentingnya menggabungkan otoritas politik dan agama untuk mendorong pemulihan sosial dan spiritual. Selain itu, relevansi teologis dari tindakan mereka selaras dengan pembaruan perjanjian dan harapan mesianis dalam komunitas Yahudi, yang menyoroti sinergi antara pemerintahan dan iman dalam mencapai stabilitas jangka panjang dalam menghadapi tantangan eksternal.
TUHAN Menyesal Menjadikan Manusia: Korelasi Kejadian 6:6-7 dan Kejadian 2:17 Lengkong, Samuel; Wulus, Mega Sinta
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 7, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v7i2.162

Abstract

The phrase "God regrets" is a theme in the Bible that is often discussed by academics and lay people. This is a topic that needs serious attention from Christian theologians. Various interpretations have been put forward regarding the expression "Allah regrets." Did God fail in creating humans and is God unable to control humans? This article aims to reveal the true meaning of the phrase "God regretted making humans on earth" in Genesis 6:6 and to find the connection between the phrase "God regretted making humans on earth" and Genesis 2:17. This research will become a theological treasure that strengthens and discovers new things regarding the expression "God regretted making humans on earth" in Genesis 6:6 which is linked to Genesis 2:17. The qualitative research method used by researchers is library research. The result of this research is that the expression "it is a shame that God made humans on earth" must be seen from the human nature perspective of Yahweh and the perspective of grace.Ungkapan “Allah menyesal” merupakan salah satu tema dalam Alkitab yang sering menjadi percakapan bagi kalangan akademisi maupun awam. Hal ini merupakan topik yang perlu mendapat perhatian serius dari para teolog Kristen. Beragam interpretasi yang dikemukakan mengenai ungkapan “Allah menyesal.” Apakah Tuhan gagal dalam menciptakan manusia dan apakah Tuhan tidak mampu mengendalikan manusia? Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan makna sebenarnya mengenai ungkapan “Allah menyesal menjadikan manusia di bumi” di dalam Kejadian 6:6 dan untuk menemukan kaitan antara frasa “Allah menyesal menjadikan manusia di bumi” dengan Kejadian 2:17. Penelitian ini akan menjadi khasanah teologi yang lebih menguatkan dan menemukan hal yang baru mengenai ungkapan “Allah menyesal menjadikan manusia di bumi” di Kejadian 6:6 yang dikaitkan dengan Kejadian 2:17. Metode penelitian kualitatif yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian kepustakaan. Hasil penelitian ini adalah bahwa ungkapan “menyesallah TUHAN menjadikan manusia di bumi” harus dilihat dari perspektif sifat kemanusiaan Yahweh dan perspektif kasih karunia.
Karakteristik dan Prinsip Hermeneutika Mazmur Ratapan Tarigan, Winardi
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 7, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v7i2.172

Abstract

This study examines the characteristics and hermeneutical principles of the lament psalms in the Book of Psalms. The main problem faced is the complexity of the lament psalms, which are often difficult for modern readers to understand. Therefore, through this study, the author intends to provide a general description of the characteristics and hermeneutical principles that apply to the lament psalms so that interpreters understand a deep understanding of the type of psalm when interpreting. This study uses a qualitative research approach with a literature study of the lament psalms. Data from the investigated literature are then used to understand the characteristics and hermeneutical principles that apply in analyzing and interpreting the texts of the lament psalms. By considering the characteristics and hermeneutical principles of the lament psalms, the interpretation of the text will be more accurate and relevant. This also allows each interpreter to understand how to interpret the lament psalms to find meaning in their context and relevance for today's believers.Penelitian ini mengkaji karakteristik dan prinsip hermeneutika dari mazmur ratapan dalam Kitab Mazmur. Masalah utama yang dihadapi adalah kompleksitas mazmur ratapan yang seringkali sulit dipahami oleh pembaca modern. Oleh sebab itu, melalui penelitian ini, penulis hendak memberikan gambaran umum karakteristik dan prinsip hermenenutika yang berlaku bagi mazmur ratapan, supaya penafsir memahami pemahaman yang mendalam terhadap jenis mazmur tersebut pada saat melakukan penafsirn. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode penelitian kualitatif dengan studi literatur terhadap mazmur ratapan. Data-data dari literatur yang diselidiki, kemudian digunakan sebagai informasi untuk memahami karakteristik serta prinsip hermeneutika yang barlaku dalam melakukan analisis dan interpretasi terhadap teks-teks mazmur ratapan. Dengan mempertimbangkan karakteristik dan prinsip hermeneutika mazmur ratapan, penafsiran yang dilakukan terhadap teks tersebut akan lebih akurat dan relevan. Hal ini juga memungkinkan setiap penafsir bisa memahami dengan baik, bagaimana menginterpretasikan mazmur ratapan agar menemukan makna dalam konteksnya dan relevansinya bagi orang percaya masa kini.
Rumah Kaki Seribu Sebagai Model Pendidikan Karakter Kristiani Berbasis Kearifan Lokal Baransano, Ribka; Tuju, Rifky Serva; Krey, Herman; Ayok, Melkius; Dowansiba, Agustina
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 7, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v7i2.171

Abstract

Character education based on lokal wisdom is an important part in building students' character so that they have Christian character but also love local culture which is almost being eroded by the development of foreign culture which is increasingly in demand by many of today's school children. The biggest problem in Christian character education is the increasing number of Christian children who have characters that do not reflect life as Christian children. The aim of this research is that the Millipede House can become a model for developing Christian character education based on local wisdom which can be used as a Christian Education model because after analysis it turns out that various values of Christian Character Education for the millipede house are found which are in accordance with the Christian character. This research uses a descriptive method, which is a method to obtain information about the status of a symptom that occurs, thus describing the House of Thousand Feet as a Christian Character Education Model based on the local wisdom of the Manokwari Arfak tribe. The conclusion is that, this research means that the millipede house can be used as a model for Christian character education because there are many teaching meanings that match the Christian character contained in the meaning of the millipede house.Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal menjadi bagian penting dalam membangun karakter siswa agar memiliki karakter Kristiani tetapi juga mencintai budaya lokal yang hampir-hampir tergerus oleh perkembangan budaya luar yang semakin diminati oleh banyak anak-anak sekolah masa kini. Masalah terbesar dalam pendidikan karakter Kristiani ialah semakin banyaknya anak-anak Kristen yang memiliki karakter yang tidak mencerminkan kehidupan sebagai anak-anak Kristen. Tujuan dari penelitian ini adalah agar Rumah Kaki Seribu dapat menjadi sesuatu model pengembangan Pendidikan karakter Kristiani berbasis kearifan lokal yang dapat digunakan sebagai sebuah model Pendidikan Kristiani sebab setelah di analisis ternyata ditemukan berbagai nilai-nilai Pendidikan Karakter Kristiani terhadap rumah kaki seribu yang memiliki kesesuaian dengan karakter Kristen. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang mana metode ini untuk mendapatkan informasi tentang status sebuah gejala yang terjadi sehingga menggambarkan Rumah Kaki Seribu sebagai sebuah Model Pendidikan Karakter Kristiani berbasis kearifan lokal suku Arfak Manokwari. Kesimpulannya bahwa Penelitian ini dimaksud agar rumah kaki seribu dapat dijadikan sebuah model pendidikan karakter Kristiani karena banyak makna Pengajaran yang cocok dengan karakter Kristiani yang terdapat di dalam pemaknaan rumah kaki seribu tersebut.
Implikasi Pengajaran Yesus Memakai Anak Kecil Berdasarkan Matius 18:1-11 sebagai Pedoman Pelayanan kepada Generasi ALFA Ratag, Adolf Edwin
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 7, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v7i2.189

Abstract

This paper discusses the Jesus’ opinion regarding the personality of a little children. This discussion is considered very important not only in relation to how to develop an appropriate curriculum for Christian Education services, but it is also very important in relation to how to “treat” a little children. Also how to educate and rise a little children. Knowing and understanding the uniqueness and needs of a little children will help parents and educators (Sunday school teacher or caregivers) to teach and educate a little children to the truth; and guiding little children to know and accept Jesus as his personal Lord and Savior. In turn, it can help a little children who has known and accepted Jesus as Lord and Savior to grow and have a character that is more like Christ.Karya tulis ini membahas tentang pandangan Tuhan Yesus Kristus tentang pribadi seorang anak kecil. Pembahasan ini dianggap sangat penting bukan hanya berhubungan dengan bagaimana mengembangkan sebuah kurikulum yang tepat guna bagi pelayanan Pendidikan Agama Kristen (PAK), tetapi juga sangat penting berhubungan dengan bagaimana cara “memperlakukan” seorang anak. Juga bagaimana mendidik dan membesarkan seorang anak. Mengetahui dan memahami keunikan dan kebutuhan seorang anak kecil akan menolong orang tua dan para pendidik (guru dan atau pengasuh sekolah Minggu) untuk mengajar dan mendidik seorang anak kecil kepada kebenaran; dan membibing seorang anak untuk mengenal dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi. Pada gilirannya dapat menolong seorang anak kecil yang telah mengenal dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat untuk bertumbuh dan memiliki karakter yang semakin serupa dengan Kristus.
Kepemimpinan Persahabatan bagi Generasi Z Berdasarkan Perspektif Yohanes 15:14-17 Angelina, Claudia; Priyono, Joko
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 7, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v7i2.173

Abstract

This research aims to develop a model of friendship leadership that focuses not only on authority, but also on personal relationships and active engagement between leaders and followers based on John 15:14-17. The method used in this research is a qualitative method with analysis of the biblical text in Greek and theological commentary, focusing on the historical, linguistic, and theological context of John 15:14-17 to explore the implications of the value of friendship for Gen Z church leadership. The discussion of John 15:14-17 emphasizes that friendship with Jesus is active through obedience, involves transformation from servant to friend with access to the divine plan, entails responsibility to bear fruit, and is characterized by effective love and prayer in line with Christ's will. This research contributes to theological development by emphasizing the importance of relational aspects in ecclesial leadership, particularly through the concept of friendship based on love and sacrifice, which is relevant to creating authentic and inclusive relationships, especially for Generation Z.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model kepemimpinan persahabatan yang tidak hanya berfokus pada otoritas, tetapi juga pada hubungan personal dan keterlibatan aktif antara pemimpin dan pengikut yang didasarkan pada Yohanes 15:14-17. Metode yang digunakan dalampenelitian ini adalah metode kualitatif dengan analisis teks Alkitab dalam bahasa Yunani dan komentar teologis, berfokus pada konteks historis, linguistik, dan teologis Yohanes 15:14-17 untuk mengeksplorasi implikasi nilai persahabatan bagi kepemimpinan gerejawi Gen Z. Hasil pembahasan Yohanes 15:14-17 menekankan bahwa persahabatan dengan Yesus bersifat aktif melalui ketaatan, melibatkan transformasi dari hamba menjadi sahabat dengan akses pada rencana ilahi, mengandung tanggung jawab untuk berbuah, dan ditandai oleh kasih serta doa yang efektif selaras dengan kehendak Kristus. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teologi dengan menekankan pentingnya aspek relasional dalam kepemimpinan gerejawi, khususnya melalui konsep persahabatan berlandaskan kasih dan pengorbanan, yang relevan untuk menciptakan hubungan autentik dan inklusif, terutama bagi Generasi Z.