cover
Contact Name
Rifky Serva Tuju
Contact Email
servatuyu00@gmail.com
Phone
+6282216985878
Journal Mail Official
sttetmpb@gmail.com
Editorial Address
STT Erikson-Tritt Jalan Trikora Sowi 3 Manokwari, Papua Barat
Location
Kab. manokwari,
Papua barat
INDONESIA
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya
ISSN : -     EISSN : 27453766     DOI : https://doi.org/10.53827/lz
LOGON ZOES merupakan wadah publikasi hasil penelitian di bidang teologi, sosial dan budaya bagi pengembangan kekristenan di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi Erikson Trit, Manokwari dan institusi lain yang ingin berkontribusi dengan bidang kajian yang serupa. LOGON ZOES diterbitkan dan dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tirtt Manokwari dengan Focus dan Scope pada bidang: Teologi Biblikal, Teologi Sistematika, Teologi Praktikal, Teologi dan Sosial, Budaya dan Kearifan Lokal.
Articles 67 Documents
Sumbangan Martin Luther Terhadap Pendidikan Agama Kristen Adolf Edwin Ratag
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 5, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.389 KB) | DOI: 10.53827/lz.v5i2.96

Abstract

This article discusses the importance of a person in church history. Specifically, the figure appointed was Martin Luther, the Reformer. Not only his actions but also his thoughts have a very significant influence on the development of the world of Christian Religious Education, on world civilization, intellectual efforts, and especially on respect and fear of God, the source of all wisdom. His spiritual journey which is so long and dynamic, to find and experience God's grace is a journey full of meaning; not only shapes his personality and spirituality but is also contained his works. His actions and especially his works that were produced due to the historical struggles of his time have really contributed in no small part to the development of Christian Religious Education. The method used in this research is a literature study. The results of the research found that Luther's contribution to Christian Religious Education included: First, elevating the authority of the Bible to the foremost position and underlies all forms of teaching. Second, efforts to approach the government to get involved in the world of education. Third, pay attention to the development of formal curriculum according to age level. Fourth, encourage parents to develop a home or family-based Christian Religious Education.Artikel ini membahas pentingnya seorang tokoh dalam sejarah gereja. Secara spesifik tokoh yang diangkat ialah Martin Luther, sang Reformator. Bukan hanya sepak terjangnya, tetapi juga pemikirannya benar-benar memberi pengaruh yang sangat signifikan pada perkembangan dunia Pendidikan Agama Kristen, pada peradaban dunia, upaya-upaya pencerdasan dan utamanya pada sikap hormat dan takut pada Tuhan, sang sumber segala hikmat. Perjalanan spiritualnya yang begitu panjang dan dinamis, sampai menemukan dan mengalami anugerah Allah adalah sebuah perjalanan yang sarat dengan makna; bukan hanya membentuk kepribadian dan spiritualitasnya, tetapi juga tertuang dalam karya-karyanya. Sepak terjang dan terlebih karya-karyanya yang dihasilkan oleh karena pergumulan sejarah zamannya benar-benar telah memberikan sumbangan yang tidak sedikit berhubungan dengan perkembangan Pendidikan Agama Kristen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan. Adapun hasil penelitian ditemukan sumbangan Luther terhadap Pendidikan Agama Kristen meliputi: Pertama, mengangkat otoritas Alkitab pada posisi yang terutama dan melandasi segala bentuk pengajaran. Kedua, upaya pendekatan pada pemerintah untuk terlibat dunia Pendidikan. Ketiga, memberi perhatian pada pengembangan kurikulum formal sesuai dengan  tingkat umur. Keempat, mendorong orang tua untuk mengembangkan Pendidikan Agama Kristen yang berbasis rumah atau keluarga.
Pentingnya Pendidikan Agama Kristen Dalam Gereja Di Era Disrupsi Paulus Suyatno
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 5, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.429 KB) | DOI: 10.53827/lz.v5i2.99

Abstract

The importance of Christian religious education in the church in the era of disruption is a primary need for God's church. Because the era of disruption challenges the church to innovate massively and fundamentally towards a new system. The era of disruption is an era of massive change, thus changing various systems and arrangements in new ways. The church must be ready to face the accelerated pace of technology in the era of disruption. This writing method is qualitative descriptive with literature studies and interviews. The purpose of this writing is for Pastors, administrators, church councils to apply Christian Religious Education in the church in the era of disruption in a progressive, intensive and collaborative manner without helping the growth of faith and loyalty of God's congregation. On the other hand, in the era of disruption, believers' faith grows stronger, tougher, stronger and more mature. The results of the writing are: the need for Christian religious education to be properly introduced to the church in the era of disruption and it is necessary to understand correctly the meaning of the importance of Christian religious education in the church in the era of disruption, both online and offline.Pentingnya Pendidikan Agama Kristen dalam Gereja di era disrupsi adalah sebagai kebutuhan primer bagi gereja Tuhan. Karena diera disrupsi menantang gereja untuk berinovasi secara besar-besaran dan mendasar kearah sistem yang baru. Era disrupsi merupakan era perubahan yang secara masif, sehingga mengubah berbagai sistem dan tatanan ke cara baru. Gereja harus siap menghadapi percepatan lajunya teknologi di era disrupsi. Metode penulisan ini kualitatif diskriptif dengan studi pustaka dan wawancara. Tujuan dari penulisan ini adalah supaya Gembala Sidang, pengurus, majelis gereja menerapkan Pendidikan Agama Kristen dalam gereja di era disrupsi secara progresif, intensif dan berkolaborasi tanpa membantutkan pertumbuhan iman dan kesetiaan jemaat Tuhan. Sebaliknya diera disrupsi tertumbuhan iman orang percaya semakin kokoh, tangguh, kuat dan dewasa. Hasil dari penulisan adalah perlunya Pendidikan agama Kristen   diperkenalkan secara benar kepada gereja di era disrupsi dan perlu dipahami, mengerti dengan benar arti pentingnya Pendidikan agama Kristen dalam gereja diera disrupsi dengan cara daring maupun luring.
Makna Sesamaku Manusia Berdasarkan Lukas 10:25-37 Daniel Siswanto; Janes Sinaga; Micle Edwin Tumundo; Juita Lusiana Sinambela
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 5, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.304 KB) | DOI: 10.53827/lz.v5i2.87

Abstract

"Who is my neighbor?" The scribe's question was motivated by his understanding of "neighborhood" which was only limited to Jews. The Jews in a series of ceremonies made themselves most holy. They do not think about foreigners or other nations other than their own people. This kind of understanding will tend to limit behavior to love others outside of a certain relationship. The purpose of this study is to provide a true and in-depth understanding according to biblical standards regarding the understanding of who is my neighbor. Delivering straightforwardly and clearly the intent and purpose of the Lord Jesus in giving parables according to Luke 10:25-37 as well as the correct view and understanding of who my neighbor is. This study uses a qualitative method by collecting and analyzing from various literature sources such as the Bible, books and journals so as to get a correct understanding of fellow human beings in Luke 10:25-37. In the story of the good Samaritan, Christ wanted to show that true religion does not depend on rules, beliefs, or religious ceremonies, but in performing acts of love and true goodness. The lesson on the parable of the Good Samaritan in the context of “Who is My Neighbor”, gives an understanding to every reader that a fellow human being is not just someone who believes in us.“Siapakah sesamaku manusia?” Pertanyaan seorang ahli Taurat ini dilatarbelakangi oleh adanya pemahamannya tentang “sesamanya manusia” yang hanya terbatas pada orang Yahudi saja. Orang Yahudi dalam suatu rentetan upacara menjadikan diri mereka sendiri paling kudus. Mereka tidak memikirkan orang asing atau bangsa lain selain kaum mereka sendiri. Pemahaman seperti ini akan cenderung membatasi perilaku untuk mengasihi orang lain di luar satu ikatan hubungan tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman yang benar dan mendalam sesuai dengan standard Alkitabiah sehubungan dengan pengertian siapakah sesamaku manusia. Menyampaikan dengan lugas dan jelas akan maksud dan tujuan dari Tuhan Yesus dalam memberikan perumpamaan sesuai Lukas 10:25-37 serta pandangan dan pemahaman yang benar tentang siapakah sesamaku manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan dan menganalisa dari berbagai sumber Pustaka seperti Alkitab, buku dan jurnal sehingga mendapatkan pemahaman yang benar mengenai sesama manusia dalam Lukas 10:25-37. Dalam kisah orang samaria yang baik hati, Kristus ingin menunjukkan bahwa agama yang benar itu bukanlah bergantung pada peraturan, kepercayaan, atau upacara agama, melainkan dalam melakukan perbuatan kasih, dan kebaikkan sejati. Pelajaran perumpaan Orang Samaria Yang Baik Hati dalam konteks “Siapakah Sesamaku Manusia”, memberikan pemahaman kepada setiap pembacanya bahwa sesama manusia bukan hanya seorang yang seiman dengan kita.
Spiritualitas Kristen dalam Menurunkan Tingkat Kecemasan pada Penderita Ansietas Livia Djikoren; Yanto Paulus Hermanto
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 5, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.936 KB) | DOI: 10.53827/lz.v5i2.88

Abstract

Anxiety is a mental illness as well as a physical illness, which if not handled properly, will greatly interfere with daily activities and can even threaten a person's life. Therefore, how do Christians respond to anxiety sufferers who have anxiety disorders? Second, what are the methods of increasing Christian spirituality to reduce anxiety levels? Be the formulation of this research problem. The research method used to answer the formulation of this problem is through a qualitative approach with the library research method. The results and discussion of this research show that there are two understandings that must be possessed by Christians, namely talk therapy or psychological counseling; or taking anti-anxiety drugs and by increasing the level of spirituality or spiritual life.Ansietas adalah suatu penyakit mental yang sama halnya dengan penyakit fisik, yang jika tidak ditangani dengan baik, maka akan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan dapat mengancam kehidupan seseorang. Oleh sebab itu bagaimana respon orang Kristen terhadap penderita ansietas yang mengalami gangguan kecemasan? Kedua, bagaimana metode meningkatkan spiritualitas Kristen untuk menurunkan tingkat kecemasan? Menjadi rumusan masalah peneletian ini. Metode penelitian yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah ini adalah melalui pendekatan kualitatif dengan metode library research. Hasil dan pembahasan penelitian ini diperoleh bahwa ada dua pemahaman yang harus dimiliki oleh orang Kristen yakni terapi bicara atau konseling psikologis; atau dengan mengonsumsi obat antikecemasan dan dengan meningkatkan tingkat spiritualitas atau kehidupan kerohanian.  Kata kunci: spiritualitas Kristen, kecemasan, konseling psikologi, hidup spiritualitas
Konsep Jiwa dan Tubuh Manusia Menurut St. Maximos The Confessor Kebajikan Jiwa dan Tubuh Manusia Menuju Pengilahian Ririn Valentina Halawa; Hendi Wijaya
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 1 (2023): Pebruari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i1.100

Abstract

According to Idealistic and Materialistic Opinions, body and spirit are diametrically opposed. The body is the visible physical component of a person, while the soul is the invisible, inner component. While the soul is an essential component of all living things, the body is a connection of substances that serves as the unique basis of the physical body capable of life. According to Maximos, the divine capacity correlates with God becoming human through his love for humans. This study aims to show how the virtues of the human body and soul can approach divinity. This research work uses literature review as its methodology, with the book "Philokalia" as its main source of information. Based on this, the writer tries to engage with the writings of the church fathers in their books, journals and writings. According to research findings, firstly, people have physical and spiritual dimensions. Second, the virtue shown by the soul is higher than that shown by the body. Third, when humans act rightly then humans will become divine like Christ. Based on these three ideas, humans will seek to organize their bodies and souls to direct them in acting morally towards the oneness of God, or Theosis.Menurut Pendapat Idealistis dan Materialistis, tubuh dan roh bertentangan secara diametral. Tubuh adalah komponen fisik seseorang yang terlihat, sedangkan jiwa adalah komponen batiniah yang tidak terlihat. Sementara jiwa adalah komponen penting dari semua makhluk hidup, tubuh adalah koneksi substansi yang berfungsi sebagai dasar unik dari tubuh fisik yang mampu hidup. Menurut Maximos, kapasitas ketuhanan berkorelasi dengan Tuhan menjadi manusia melalui cintanya kepada manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana kebajikan tubuh dan jiwa manusia dapat mendekati ketuhanan. Karya penelitian ini menggunakan tinjauan pustaka sebagai metodologinya, dengan buku "Philokalia" sebagai sumber informasi utamanya. Berdasarkan hal ini, penulis mencoba untuk terlibat dengan tulisan-tulisan para bapa gereja dalam buku, jurnal, dan tulisan mereka. Menurut temuan penelitian, pertama orang memiliki dimensi fisik dan spiritual. Kedua, kebajikan yang ditunjukkan oleh jiwa lebih tinggi daripada yang ditunjukkan oleh tubuh. Ketiga, ketika manusia bertindak benar maka manusia akan menjadi ilahi seperti Kristus. Berdasarkan ketiga gagasan ini, manusia akan berusaha untuk mengatur tubuh dan jiwa mereka untuk mengarahkan mereka dalam bertindak secara moral menuju kesatuan Tuhan, atau Theosis.
Upaya Pelayanan Gereja yang Relevan pada Masa Pasca Pandemi COVID 19 Paipen Wonda
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 1 (2023): Pebruari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i1.114

Abstract

The Covid 19 pandemic has gradually experienced positive changes. In several places, they have adapted to a new lifestyle called the new normal era. However, the Covid-19 pandemic still leaves problems for the church. A lot of research has been produced by academics and researchers on how to build the concept of Christian service during the Covid-19 pandemic. Most of the research presents the effectiveness of services through online media. However, the research that has been made has not been able to identify potential problems with internet-based service systems. Mental health issues, apathy towards the church, and changes in religiosity could not be detected in this study. This paper contains an analysis of potential problems in church services in the post-Covid 19 pandemic. Through a literature analysis approach, this research presents the strategies needed by churches in determining relevant services. In addition, this study also conducts a historiographical analysis of the development of church ministry according to Acts 1-6. The purpose of this research is to find formulations of efforts that are relevant for the church in carrying out services in the post-pandemic Covid 19. As a result, the church must rebuild damaged spirituality and pay intensive attention to the congregation to restore enthusiasm for serving God.Pandemi Covid 19 telah berangsur-angsur mengalami perubahan positif. Di beberapa tempat telah beradaptasi dengan pola hidup baru yang disebut era new normal. Namun, pandemi Covid-19 masih menyisakan masalah bagi gereja. Telah banyak penelitian yang dihasilkan oleh para akademisi dan peneliti tentang bagaimana membangun konsep pelayanan Kristen pada masa pandemic Covid-19. Sebagaian besar penelitian menyuguhkan efektifitas pelayanan melalui media online. Namun, penelitian yang telah dibuat belum mampu mengidentifkasi potensi masalah dari sistem pelayanan berbasis internet. Isu kesehatan mental, apatisme terhadap gereja serta perubahan religiusitas tidak mampu dideteksi pada penelitian tersebut. Tulisan ini berisi pemaparan analisis potensi masalah dalam pelayanan gereja pada masa pasca pandemi Covid 19. Melalui pendekatan analisis pustaka, penelitian ini menyuguhkan strategi yang diperlukan gereja dalam menetapkan pelayanan yang relevan. Selain itu, penelitian ini juga melakukan analisis historiografi terhadap perkembangan pelayanan gereja menurut Kisah Para Rasul 1-6. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan rumusan upaya yang relevan bagi gereja dalam melakukan pelayanan pada pasca pandemic Covid 19. Hasilnya, gereja harus membangun kembali kerohanian yang rusak dan memberikan perhatian yang intensif kepada jemaat untuk mengembalikan kegairahan dalam melayani Tuhan.
Kepemimpinan Futuristik dalam Terang Nilai Kekristenan Simon Moshe Maahury
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 1 (2023): Pebruari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i1.115

Abstract

Christian leadership is a continuously evolving field of study, influenced by changes in the model of leadership resulting from the development of Christian culture. Various cases related to ethical issues committed by Christian leaders have become red flags that show that the leadership model implemented is not entirely effective. Various theories have been proposed as alternatives to build a leadership model. However, these theories have not been sufficient to answer the dynamics of Christian leadership. This paper presents the primary qualifications needed by a Christian leader to respond to challenges and needs in the future. The research method is conducted by conducting a literature review and a meditative approach to biblical texts. The results indicate that future leaders must have a tested spirituality that is born of an experience of renewal in Christ.Kepemimpinan Kristen merupakan suatu cabang studi yang terus menerus mengalami pemutakhiran. Seiring dengan perubahan model kepemimpinan yang diakibatkan oleh perkembangan kultur kekristenan. Beragam kasus yang mencuat berhubungan dengan permasalahan etis yang dilakukan oleh para pemimpin Kristen telah menjadi catatan merah yang menunjukkan bahwa model kepemimpinan yang dilakukan belum sepenuhnya efektif. Beragam terori telah dimunculkan sebagai alternatif dalam membangun model kepemimpinan. Namun, teori tersebut belum cukup mampu menjawab dinamika kepemimpinan Kristen. Tulisan ini memaparkan kualifikasi primer yang diperlukan seorang pemimpin Kristen dalam menjawab tantangan dan kebutuhan pada masa mendatang. Metode penelitian dilakukan dengan melakukan tinjauan pustaka dan pendekatan meditatif terhadap teks-teks Alkitab. Hasilnya, pemimpin pada masa mendatang harus memiliki spiritualitas yang teruji. Yaitu suatu entitas yang lahir dari suatu pengalaman pembaharuan budi di dalam Kristus.
Konsep Anugerah dalam Konteks Rahasia Panggilan Orang Bukan Yahudi: Analisis Struktur Logis Efesus 3:1-13 Noor Anggraito; Joel Amadeus Brilian
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 1 (2023): Pebruari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i1.116

Abstract

This article is uniquely focused on examining the Concept of Grace in the context of Gentile calling by paying attention to the logical structure in Ephesians 3:1-13. By looking at this parallel, it will be implicitly drawn that it is the grace from God alone that saves us and calls us to be involved in good works. The type of research in this article is qualitative with a literature study method. The data source that will be studied is the LAI version of Ephesians 3:1-13. The steps for implementing this method go through several processes. The first is data collection, conducting a literature review, then collecting it for research and finally drawing conclusions. Taking into account the basic principles of God's program regarding the calling of the church must be understood as God's secret hidden for centuries. Finally the calling of believers to serve evangelistic missions is a must that absolutely must be obeyed. God's call to give this gift is not based on human kindness but solely on God's infinite love. For this reason, the mission of believers is to imitate the Apostle Paul to give God's grace actively, by only relying on the power of the Holy Spirit.Artikel ini secara unik fokus mengkaji Konsep Anugerah dalam konteks panggilan orang bukan Yahudi dengan memperhatikan struktur Logis dalam Efesus 3:1-13. Dengan melihat kesejajaran inilah yang nantinya akan di tarik implikasi bahwa, Anugerah dari Allah sajalah yang menyelamatkan kita serta memanggil kita untuk terlibat dalam pekerjaan baik. Jenis penelitian artikel ini adalah kualitatif dengan metode studi literatur. sumber data yang akan dikaji adalah surat Efesus 3:1-13 versi LAI. Dalam Langkah-langkah pelaksanaan metode ini melewati beberapa proses. Yang pertama, pengumpulan data, melakukan literatur review, lalu kemudian menuangkan pokok bahasan untuk diteliti dan pada akhirnya menghasilkan kesimpulan. Dengan memperhatikan prinsip dasar Program Allah mengenai panggilan gereja harus dipahami sebagai rahasia Allah yang selama berabad-abad tersembunyi. Maka tugas panggilan orang percaya untuk pelayanan misi penginjilan ini adalah suatu keharusan yang mutlak harus dipatuhi. Panggilan Allah akan kasih karunia ini tidak didasarkan oleh kebaikan manusia namun semata-mata kasih Allah yang tak terbatas. Untuk itu misi orang percaya meneladani Rasul Paulus untuk memberitakan kasih karunia Allah tersebut dengan giat, dengan hanya megandalkan kuasa Roh Kudus.
Penerapan Prinsip Iman dan Pengajaran dalam Amsal 3:1-12 Pada Jemaat Masa Kini Johny Lesnussa; Maria Maspaitella
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 1 (2023): Pebruari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i1.118

Abstract

Church and family are the institutions that contribute the most to Christian faith education. The rapid development of educational facilities also has a negative influence on the faith of the younger generation. Various teachings can influence the younger generation if there is no filtering from the church or parents. The lack of response from the church to issues of religiosity in the younger generation can cause a decline in the quality of faith. This study presents the principles of faith and teaching based on Proverbs 3:1-12. Through a hermeneutical approach, this research produces an exposition that explains the application of the principles of faith and teaching based on Proverbs 3:1-12. The result is that faith in God is the foundation of Christianity and cannot be replaced by human knowledge or secular moral truth. The church is obligated to teach strictly about the principles of the Christian faith so that Christian generations are not easily swayed by various teachings.Gereja dan keluarga adalah lembaga yang paling berkontribusi dalam pendidikan iman Kristen. Berkembangnya sarana pendidikan yang sangat pesat juga memberikan pengaruh negatif terhadap iman generasi muda. Beragam ajaran dapat mempengaruhi generasi muda jika tidak ada penyaringan dari gereja maupun orang tua. Kurangnya respons gereja terhadap permasalahan religiositas generasi muda dapat menyebabkan penurunan kualitas iman. Penelitian ini memaparkan prinsip iman dan pengajaran berdasarkan kitab Amsal 3:1-12. Melalui pendekatan hermeunetis, penelitian ini menghasilkan suatu hasil eksposisi yang menjelaskan  penerapan prinsip iman dan pengajaran berdasarkan Amsal 3:1-12. Hasilnya adalah iman kepada Allah adalah fondasi kekristenan dan tidak dapat digantikan dengan pengetahuan manusia atau kebenaran moralitas sekular. Gereja berkewajiban mengajarkan dengan ketat tentang prinsip-prinsip iman Kristen agar generasi Kristen tidak mudah terombang-ambingkan oleh berbagai macam pengajaran.
Dekonstruksi Budaya pada Gelar Indo’ dalam Masyarakat Adat di Mamasa Debora Tiku Ampulembang; Tony Tampake
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i2.121

Abstract

Mamasa is the district of the province of West Sulawesi which has a custom which it was accepted and implemented by the local society. To oversee the implementation of adat by the local society, fifteen traditional leaders were elected in each region. Some of them were given the title Indo' (Mother) even though they were male. The title Indo' given to traditional leaders is intended so that they become leaders who protect, guard, and ensure peace, tranquility, and the welfare of their society. The pattern of leadership of the traditional leader with the title Indo' describes Mamasa's egalitarian and humanist culture, but this culture later changed into the patriarchal, superior and exclusive culture by  Zendeling Christelijke Gereformeerde Kerk (ZCGK) came to Mamasa as a religious movement. This paper aims to examine the social and cultural impacts arising from deconstruction which makes the values of local wisdom in Mamasa experience changed it. Previously, Mamasa's local wisdom contained egalitarian and humanist values, then with the entry of zending into Mamasa, it shifted into the patriarchal, individualist, and authoritarian culture. In order to be able to conduct research, the method of data collection was carried out by the authors through interviews and document review. One of the results found in the research is that there is a gender bias towards Christian women who are not entrusted with holding ecclesiastical positions in the Toraja Mamasa Church (GTM) either as Pastors, Elders, or as Deacons so that they cannot  participated in ecclesiastical trials at GTM.Mamasa merupakan sebuah kabupaten di propinsi Sulawesi Barat yang memiliki adat di mana adat itu diterima dan dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Untuk mengawasi pelaksanaan adat oleh masyarakat adat, dipilihlah 15 orang ketua adat di masing- masing daerah. Sebagian dari mereka diberi gelar Indo’ (Ibu) kendatipun mereka berjenis kelamin laki- laki. Gelar Indo’ yang diberikan kepada ketua adat dimaksudkan agar mereka menjadi pemimpin yang mengayomi, melindungi dan berusaha menjamin kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan masyarakatnya. Pola kepemimpinan ketua adat yang bergelar Indo’ ini mendeskripsikan budaya Mamasa yang egaliter dan  humanis, namun budaya itu kemudian berubah menjadi budaya patriakhal, superrior, dan eksklusif oleh kedatangan Zendeling Christelijke Gereformeerde Kerk (ZCGK) ke Mamasa sebagai gerakan keagamaan. Tulisan ini bertujuan untuk meneliti dampak sosial dan budaya yang ditimbulkan dari dekonstruksi yang membuat nilai- nilai kearifan budaya di Mamasa mengalami perubahan. Sebelumnya, kearifan lokal Mamasa mengandung nilai yang egaliter dan humanis kemudian dengan masuknya zending ke Mamasa maka berubah menjadi budaya yang patriarki, individualis, dan otoriter. Untuk dapat melakukan penelitian, maka metode pengumpulan data dilakukan oleh penulis melalui wawancara dan telaah dokumen. Salah satu hasil yang ditemukan dalam penelitian adalah adanya bias gender kepada perempuan Kristen yang tidak diberi kepercayaan untuk memegang jabatan gerejawi di Gereja Toraja Mamasa (GTM) baik itu sebagai Pendeta, Penatua, maupun sebagai Diaken sehingga tidak dapat diutus menjadi peserta dalam persidangan gerejawi di GTM.