cover
Contact Name
Rifky Serva Tuju
Contact Email
servatuyu00@gmail.com
Phone
+6282216985878
Journal Mail Official
sttetmpb@gmail.com
Editorial Address
STT Erikson-Tritt Jalan Trikora Sowi 3 Manokwari, Papua Barat
Location
Kab. manokwari,
Papua barat
INDONESIA
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya
ISSN : -     EISSN : 27453766     DOI : https://doi.org/10.53827/lz
LOGON ZOES merupakan wadah publikasi hasil penelitian di bidang teologi, sosial dan budaya bagi pengembangan kekristenan di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi Erikson Trit, Manokwari dan institusi lain yang ingin berkontribusi dengan bidang kajian yang serupa. LOGON ZOES diterbitkan dan dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tirtt Manokwari dengan Focus dan Scope pada bidang: Teologi Biblikal, Teologi Sistematika, Teologi Praktikal, Teologi dan Sosial, Budaya dan Kearifan Lokal.
Articles 67 Documents
Teologi Hosea sebagai Tipologi Konsep Keselamatan dalam Perjanjian Baru Kornelius Sutriono; Donna Crosnoy Sinaga; Yehuda Mandacan
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i2.128

Abstract

Soteriology is one of the most significant doctrines in Christianity. The theological concept of salvation stands as a central focus within Christian theology. Interestingly, the notion of salvation taught in modern Christian theology relies upon the systematic process of interpreting Biblical teachings. Of course, this dependence rests upon the interpreter's perspective regarding a particular scripture or topic within the Bible. Within Christian literature, there is still a scarcity of biblically-centered investigations into the concept of salvation. This study delves into the theological meaning of salvation based on Old Testament literature, specifically the book of Hosea. Employing a qualitative approach that examines religious documents, this research employs textual and intertextual analysis to construct the concept of salvation within the theology of the book of Hosea. Through a thorough investigation of prophetic actions and orations, it is evident that the theology of the book of Hosea serves as a typology of salvation within the New Testament and is even regarded as a doctrine of Christian salvation in the present day. The emphasis on the theology of reconciliation, redemption, and God's grace emerges as primary values within the theology of the book of Hosea. Despite humanity's inclination towards wrongdoing, God steadfastly commits Himself to bestowing grace, forgiveness, and reconciliation upon them. This is the essence of the Christian concept of salvation.Soteriologi merupakan salah satu doktrin terpeting dalam kekristenan. Konsep teologis tentang keselamatan ini merupakan salah satu pusat dalam teologi Kristen. Menariknya, konsep keselamatan yang diajarkan dalam teologi Kristen modern bergantung pada proses sistematisasi ajaran Alkitab. Tentu saja hal ini bergantung pada sudut pandang penafsir tentang suatu teks atau topik kitab. Dalam literatur Kristen, masih jarang ditemukan adanya penyelidikan secara biblika tentang konsep keselamatan. Penelitian ini mengksplorasi makna teologis tentang keselamatan berdasarkan literatur Perjanjian Lama, yaitu kitab Hosea. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang meneliti dokumen keagamaan. Analisis tekstual dan intertekstual digunakan untuk mengkonstruksi konsep keselamatan dalam teolog kitab Hosea.  Melalui penyelidikan mendalam terhadap tindakan dan orasi profetik, ditemukan fakta bahwa teologi kitab Hosea menjadi tipologi keselamatan dalam Perjanjian Baru, bahkan diyakini sebagai doktrin keselamatan Kristen pada masa kini. Penekanan pada teologi rekonsiliasi, penebusan dan anugerah Allah menjadi nilai utama dalam teologi kitab Hosea. Meskipun manusia menetapkan diri pada kejahatan, Allah tetap menetapkan diriNya memberikan anugerah, pengampunan dan pendamaian bagi mereka. Inilah hakikat konsep keselamatan Kristen.
Atonement - God’s Plan for Reconciliation Stephanie Lamour
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i2.127

Abstract

The theme of atonement is developed through Scripture from its introductory framework in the sacrificial system to its completion in Christ and culmination in his kingdom. This paper approaches the theme of atonement through the framework of biblical theology to trace the development of this theme through four key passages - Leviticus 16:15-19, Psalm 40:6-8, Hebrews 10:1-14, and Revelation 5:9-14. A foundation for understanding atonement is set forth in the sacrificial system which presents atonement as a particular, sacrificial, priestly activity to bring about reconciliation for sin. Psalm 40 develops this idea by explicitly stating the need for obedience and setting forth a type of a kingly, obedient one. Hebrews 10 shows how both Leviticus 16 and Psalm 40 are pointing to Christ - the priest-king who is the perfect, effective, once-for-all sacrifice. Lastly, the allusion to the subjection of all to the reign of Christ (Heb. 10:12-13), points forward to Revelation 5 where reconciled people have access to the presence of the reigning Christ.Tema penebusan dikembangkan di seluruh Kitab Suci dari kerangka awalnya dalam sistem korban hingga penggenapannya di dalam Kristus dan puncaknya di kerajaan-Nya. Artikel ini mendekati tema penebusan melalui kerangka teologi biblika untuk menelusuri perkembangan tema ini dalam empat teks kunci - Imamat 16:15-19, Mazmur 40:6-8, Ibrani 10:1-14, dan Wahyu 5:9-14. Pondasi untuk memahami pendamaian diletakkan dalam sistem korban yang menampilkan pendamaian sebagai kegiatan khusus yang berkorban dari imamat untuk membawa rekonsiliasi bagi dosa. Mazmur 40 mengembangkan gagasan ini secara eksplisit dengan menyatakan perlunya ketaatan dan menggambarkan tipe raja yang taat. Ibrani 10 menunjukkan bagaimana Imamat 16 dan Mazmur 40 menunjuk kepada Kristus-imam-raja yang adalah korban yang sempurna, efektif, dan sekali untuk selamanya. Terakhir, bicara tentang penundukan semua orang pada pemerintahan Kristus (Ibr. 10:12-13), mengarah ke Wahyu 5 di mana orang-orang yang telah didamaikan memiliki akses ke hadirat Kristus yang memerintah.
Relasi Logos Allah Dengan Manusia: Refleksi Mazmur 8:5-6 Samuel Lengkong
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i2.123

Abstract

Suatu hal yang sebenarnya tidak bisa dipisahkan dan harus tetap ada, yakni relasi antara manusia dengan Allah. Namun, fenomena-fenomena yang terjadi, seperti bencana, wabah, kejahatan, dan sebagainya, mengakibatkan bagi sebagian orang atau kelompok tertentu yang tidak mengalami relasi dengan Allah, bahkan seolah-olah menunjukkan Allah dan manusia terpisahkan (trancenden) dan non-relasi. Penelitian ini sangatlah relevan dan sangat urgensi untuk mendapatkan pemahaman yang aktual dan bermanfaat di dalam kehidupan iman Kristen di tengah menghadapi tantangan dan penderitaan. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian kepustakaan (library research). Hasil penelitian ini menemukan bahwa Logos Allah adalah penyataan “Diri Allah” supaya dapat berelasi dengan manusia. Ketertarikan dan keterfokusan Allah terhadap manusia dikarenakan adanya suatu prinsip kesesuaian substansi, yakni Logos Allah di dalam diri manusia. Relasi Logos Allah dengan manusia adalah relasi yang mengikatkan diri manusia dengan Allah, agar manusia mendapatkan kembali kemuliaan dan kuasa Allah yang semula telah diberikan kepada manusia untuk mengekspresikan Allah bagi dunia.
Spiritualitas Wanggameti : Bingkai Eko-Teologia Gereja Kristen Sumba dalam Penolakan Pertambangan Emas di Sumba Fransina Ina Ranggalodu; Tony Tampake
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i2.122

Abstract

Gold mining exploration on Sumba Island occurred in 2007-2015. Worries about negative environmental impacts and uncontrolled social change have led to the rejection of the local community who was assisted by the Sumba Christian Church (GKS). In this context, GKS developed an environmental advocacy attitude for local communities by prioritizing eco-theological principles based on Sumba's local wisdom. This struggle succeeded in pushing the Government of all levels to permanently revoke the gold mining exploration business license on the island of Sumba. It was this success that prompted the conduct of research with the aim of reconstructing the GKS eco-theological principles based on local wisdom in the context of Sumba. The research method used is a qualitative ethnographic method to investigate society and culture by examining human, interpersonal, social and cultural in all its complexity. Based on the research conducted, it was concluded that GKS has developed an eco-theology based on local wisdom by articulating the spirituality of Wanggameti. Wanggameti's spirituality refers to the woven socio-religious meaning of the people of Sumba (Local Wisdom). Wanggameti's spirituality forms the frame of GKS's theological arguments in rejecting gold mining exploration on the island of Sumba. Wanggameti's spirituality is the frame of GKS's eco-theology which is expressed in the ideas, attitudes and actions of GKS in rejecting gold mining exploration in the 2010-2015 period.Ekplorasi pertambangan emas di Pulau Sumba terjadi pada tahun 2007-2015. Kekuatiran akan dampak negatif lingkungan dan perubahan sosial yang tidak terkendali telah mendorong terjadinya penolakan masyarakat lokal yang didampingi oleh Gereja Kristen Sumba (GKS). Dalam konteks ini, GKS mengembangkan sikap advokasi lingkungan bagi masyarakat lokal dengan mengedepankan prinsip-prinsip ekoteologi yang berbasiskan kebijaksanaan lokal Sumba. Perjuangan tersebut berhasil mendorong Pemerintahan semua level untuk mencabut ijin usaha eksplorasi pertambangan emas secara permanen di pulau Sumba. Keberhasilan inilah yang mendorong dilakukannya penelitian dengan tujuan untuk merekonstruksi prinsip-prinsip eko-teologi GKS yang berbasiskan kebijaksanaan lokal dalam konteks Sumba.  Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif etnografi untuk menyelidiki masyarakat dan budaya dengan pengujian manusia, interpersonal, sosial dan budaya dalam segala kerumitannya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, disimpulkan bahwa GKS telah mengembangkan eko-teologi berbasiskan kebijaksanaan lokal dengan mengartikulasi spiritualitas wanggameti. Spiritualitas Wanggameti menunjuk pada tenunan makna sosio-religius masyarakat Sumba  (Local Wisdom). Spiritualitas Wanggameti menjadi bingkai argumentasi teologis GKS dalam penolakan eksplorasi pertambangan emas di pulau Sumba. Spiritualitas Wanggameti menjadi bingkai eko-teologi GKS yang terkepresikan dalam gagasan, sikap dan aksi GKS dalam melakukan penolakan eksplorasi pertambangan emas pada kurun waktu 2010-2015.
Rekonsiliasi Melalui Pembaruan Misi PL dan Pengaruh Sosial Kisah Para Rasul 15 dalam Ekklesia Multikultural Anon Dwi Saputro; Daniel Lindung Adiatma
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 7, No 1 (2024): Pebruari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v7i1.161

Abstract

This research aims to investigate the role of renewing mission based on the Old Testament in the process of reconciliation within the context of multicultural ecclesia. The primary focus of this research is on the narrative of Acts 15, which provides a framework for understanding how the renewing mission of the Old Testament can be adapted to achieve reconciliation among diverse communities. The author will employ a literature-based approach in exploring the use of the Old Testament in the New Testament (intertextuality). This study explores how a reimagining of the Old Testament mission can strengthen reconciliation and promote intercultural dialogue within the context of multicultural ecclesia. The analysis will also focus on the social impact of this renewing mission, including its effects on social relationships within and outside the ecclesia. The research findings provide insights that the renewing mission rooted in the teachings of the Old Testament, particularly in the interpretation and adaptation of the narrative of Acts 15, plays a significant role in facilitating reconciliation and positively influencing social dynamics within the context of multicultural ecclesia. Acts 15 offers inspiration and strong guidance for modern churches striving to integrate reconciliation, renewing mission, and social influence within the context of multicultural ecclesia. It reflects a genuine call to embody the mission of Christ, bringing transformation, and becoming living witnesses to reconciliation in a world full of diversity.Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki peran pembaruan misi berbasis Perjanjian Lama dalam proses rekonsiliasi di dalam konteks ekklesia multikultural. Fokus utama penelitian ini adalah pada naratif Kisah Para Rasul 15, yang memberikan kerangka kerja untuk memahami bagaimana pembaruan misi Perjanjian Lama dapat diadaptasi untuk mencapai rekonsiliasi di antara komunitas-komunitas beragam. penulis akan menggunakan pendekatan studi kepustakaan dalam literatur penggunaan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru (intertekstual). Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana pemahaman ulang terhadap misi Perjanjian Lama dapat memperkukuh rekonsiliasi dan mempromosikan dialog antarbudaya dalam konteks ekklesia multikultural. Analisis juga akan difokuskan pada pengaruh sosial dari pembaruan misi tersebut, termasuk dampaknya terhadap hubungan sosial di dalam dan di luar ekklesia. Hasil penelitian memberikan wawasan pembaruan misi yang bersumber dari ajaran Perjanjian Lama, khususnya dalam interpretasi dan adaptasi naratif Kisah Para Rasul 15, memiliki peran signifikan dalam memfasilitasi rekonsiliasi dan mempengaruhi positif dinamika sosial dalam konteks ekklesia multikultural. Kisah Para Rasul 15 memberikan inspirasi dan panduan yang kuat bagi gereja-gereja modern yang berjuang untuk mengintegrasikan rekonsiliasi, pembaruan misi, dan pengaruh sosial dalam konteks ekklesia multikultural. Ini adalah cerminan nyata dari panggilan untuk menjalani misi Kristus, membawa transformasi, dan menjadi saksi-saksi hidup rekonsiliasi dalam dunia yang penuh dengan keragaman.
Anting Emas di Jungur Babi: Analisa Penggunaan Kiasan terhadap Pola Perkataan Item-Evaluasi Menurut Amsal 11:22 Aska Aprilano Pattinaja; Hemy Bernard Warikry; Farel Yosua Sualang
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 7, No 1 (2024): Pebruari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v7i1.134

Abstract

Proverbs 11:22 is a unique section of Solomon's Proverbs because it contains a metaphor comparing an immoral woman to a gold ring on a pig's jaw. The debate about this verse is the misinterpretation of this verse as anti-feminist or misogynistic, which implies a misunderstanding of the intended context. There is a gap in the previous research which only discusses the study of the meaning and its embelamatical implications, thus not answering the need for a comprehensive explanation of the figurative context and meaning of the verse. Therefore, to provide the correct interpretation and perspective, this research is conducted in discussing the figurative meaning and analyzing the item-evaluation speech pattern, so as to interpret the figurative meaning of "gold ring in a pig's jaw" as the main factor of character building, as well as correcting the wrong understanding of the misinterpretation of Proverbs 11:22, based on the hermeneutical method of wisdom literature, with an intrepetitive design approach.  This study found three things, namely, first, the figurative element, as an insult to people who live immorally. Second, the element of position, where there is a change in the position of status and appreciation as a result of the decision to live without moral ethics because it rejects wisdom. Third, the element of evaluation, which occurs as a form of judgment due to the decision to live immorally and results in the acceptance of social sanctions. These three elements are interrelated and form a pattern of warning and evaluation of life. The results found are a warning for everyone to act carefully in moral ethics that come from wisdom. Amsal 11:22 merupakan bagian amsal Salomo yang unik karena mengandung kiasan yang menyamakan wanita yang tidak susila dengan cincin emas di jungur babi. Perdebatan yang muncul dalam ayat ini adalah kesalahan penafsiran ayat ini sebagai anti feminim atau misoginis, yang berimplikasi pada pemahaman keliru tentang konteks yang dimaksud. Terdapat kesenjangan penelitian sebelumnya yang hanya membahas kajian makna dan implikasi embelamatiknya sehingga tidak menjawab kebutuhan penjelasan konteks kiasan dan makna ayat secara komprehensif. Oleh sebab itu untuk memberikan interpretasi dan perspektif yang tepat, maka penelitian ini di lakukan dalam membahas makna kiasan dan analisa pola perkataan item-evaluasi, sehingga dapat mengartikan makna kiasan “cincin emas di jungur babi” sebagai faktor utama pembentukan karakter sekaligus meluruskan pemahaman yang keliru atas kesalahan penafsiran dari Amsal 11:22, berdasarkan metode hermeneutika sastra hikmat, dengan pendekatan intrepetative design.  Penelitian ini menemukan tiga hal, yakni pertama, elemen perkataan kiasan, sebagai hinaan bagi orang yang hidup asusila. Kedua, elemen posisi, dimana terjadinya perubahan posisi status dan penghargaan sebagai akibat keputusan untuk hidup tanpa etika moral karena menolak kebijaksanaan (hikmat). Ketiga, elemen evaluasi, yang terjadi sebagai bentuk penilaian akibat keputusan hidup asusila, dan berakibat penerimaan sanksi sosial. Ketiga elemen ini saling berkaitan, yang membentuk pola peringatan dan evaluasi hidup. Hasil yang ditemukan menjadi peringatan bagi semua orang agar bertindak dengan hati-hati dalam etika moral yang bersumber dari kebijaksanaan (hikmat).
Refleksi Tentang Penginjilan, Kristenisasi, dan Moderasi Beragama di Era Modern. Yuni Pancarani
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 7, No 1 (2024): Pebruari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v7i1.150

Abstract

Evangelism and Christianization activities in the modern era face major challenges marked by technological developments, globalization and high religious plurality. Therefore, the main problem that needs to be answered is how evangelization methods can be adapted to utilize digital technology and social media effectively while still maintaining ethics and respecting diversity, as well as how Christianization can be carried out in a multicultural society by respecting local cultural values and building dialogue. inter-religious. Apart from that, the important role of religious moderation in facilitating dialogue and building harmony amidst efforts to evangelize and Christianize is also a problem that needs to be resolved. The aim of this research is to understand the evolution of evangelization methods in the digital era and its ethical implications, explore the dynamics of Christianization in a multicultural context, and analyze the role of religious moderation as a bridge for interreligious dialogue. The research results show that evangelization in the digital era requires an ethical and responsible approach, while Christianization in a multicultural context requires respect for cultural and religious diversity. Religious moderation was found to be a key factor in facilitating interfaith dialogue and building social harmony. The discussion in this research emphasizes that effective Christianization in the modern era must be inclusive, dialogical, and accommodate local cultural values. This research underlines the importance of tolerance, cooperation, education and conflict resolution in building positive inter-religious relations.Kegiatan penginjilan dan kristenisasi di era modern menghadapi tantangan besar yang ditandai oleh perkembangan teknologi, globalisasi, dan pluralitas agama yang tinggi. Oleh karena itu, masalah utama yang perlu dijawab adalah bagaimana metode penginjilan dapat diadaptasikan agar memanfaatkan teknologi digital dan media sosial secara efektif namun tetap menjaga etika dan menghormati keragaman, serta bagaimana kristenisasi dapat dilakukan di masyarakat multikultural dengan menghormati nilai-nilai budaya lokal dan membangun dialog antarumat beragama. Selain itu, pentingnya peran moderasi beragama dalam memfasilitasi dialog dan membangun kerukunan di tengah upaya penginjilan dan kristenisasi juga menjadi masalah yang perlu diselesaikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami evolusi metode penginjilan di era digital beserta implikasi etisnya, mengeksplorasi dinamika kristenisasi dalam konteks multikultural, serta menganalisis peran moderasi beragama sebagai jembatan dialog antaragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penginjilan di era digital memerlukan pendekatan yang etis dan bertanggung jawab, sementara kristenisasi dalam konteks multikultural membutuhkan penghormatan terhadap keragaman budaya dan agama. Moderasi beragama ditemukan sebagai faktor kunci dalam memfasilitasi dialog antaragama dan membangun harmoni sosial. Pembahasan dalam penelitian ini menekankan bahwa kristenisasi yang efektif di era modern harus inklusif, dialogis, dan mengakomodasi nilai-nilai budaya setempat. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya toleransi, kerjasama, pendidikan, dan resolusi konflik dalam membangun hubungan antarumat beragama yang positif.
Warisan Sastra Intertestamental Yahudi bagi Doktrin Trinitas Surat Efesus Paulus Dimas Prabowo
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 7, No 1 (2024): Pebruari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v7i1.158

Abstract

The doctrine of the Trinity in the New Testament, especially in Paul's writings, is often thought to have a legacy from Greek culture. However, most of the New Testament writers, including Paul, were first century Jews with Second Temple Period Judaism. Therefore, observations of the doctrine of the Trinity need to look at Jewish intertestamenal literature, including the Apocrypha, Pseudepigrapha, and Qumran Texts which project the thoughts of the Second Temple Period of Judaism. Through thematic and comparative analysis methods, it was found that intertestamental Jewish literature inherited the doctrine of the Trinity in Ephesians in the form of the concept of God as Father, conveying the people as children of God (adopted), the Messiah as Lord and Son of God, the role of Messiah King and Messiah Priest, The dead Messiah, as well as the concept of the Holy Spirit dwelling within the community, provided the impetus for prophecy, as well as being a source of knowledge, guide and protector. Finally, it can be confirmed that Jewish influence is far greater than Greek influence in the doctrine of the Trinity.Doktrin Trinitas di dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam tulisan-tulisan Paulus, sering dianggap memiliki warisan dari budaya Yunani. Namun kebanyakan penulis kitab Perjanjian Baru, termasuk Paulus, merupakan orang-orang Yahudi abad pertama dengan pandangan Second Temple Periode Judaism. Oleh sebab itu, pengamatan terhadap doktrin Trinitas perlu melihat sastra intertestamental Yahudi, meliputi Apokrifa, Pseudepigrafa, dan Teks Qumran yang memproyeksikan pemikiran Second Temple Periode Judaism. Melalui metode analisis tematik dan komparasi, ditemukan bahwa sastra intertestamental Yahudi memberikan warisan terhadap doktrin Trinitas di dalam Surat Efesus berupa konsep Allah sebagai Bapa, pengangkatan umat sebagai anak Allah (adopsi), Mesias sebagai Tuhan dan Anak Allah, peran Mesias Raja dan Mesias Imam, Mesias yang mati, serta konsep Roh Kudus yang berdiam di dalam komunitas, memberi dorongan nubuat, serta sebagai sumber pengetahuan, pembimbing dan pelindung. Akhirnya dapat ditegaskan, bahwa bahwa pengaruh Yahudi jauh lebih besar daripada pengaruh Yunani dalam doktrin Trinitas.
Penanganan Konflik dalam Hubungan Pernikahan sebagai Bentuk Pelayanan Pastoral bagi Keluarga Kristen Franky Franky
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 7, No 1 (2024): Pebruari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v7i1.160

Abstract

Conflict in marriage is inevitable and misunderstandings are a natural part of marriage. On the one hand, conflict in a marriage relationship can be destructive, creating resentment and distrust, disconnection, or violent confrontation.  But, on the other hand, conflict can also be positive, opening up issues for analysis, clarification and improved problem-solving, encouraging spontaneous and open communication so that the relationship between one party and the other can grow for the better. In relation to conflict. Based on the existing problems, specifically related to conflict in marital relationships that have a destructive impact, it is necessary to understand based on a Christian perspective on handling conflict in marital relationships based on the standards of God's Word as a form of pastoral service for every Christian family. To achieve the research objectives described above, the method used is a qualitative method with a descriptive approach through literature study. Through the method used, the results found that the handling of conflict in marital relationships in Christian families are first, the biblical view of the Christian family that must be understood as a preventive step towards conflict in marital relationships; second, pastoral assistance services for conflicted married couples and third, forgiveness as a solution in resolving conflict in marital relationships.Konflik di dalam pernikahan tidak dapat dihindari dan kesalahpahaman adalah suatu bagian yang alami dalam pernikahan. Di satu sisi, konflik dalam hubungan pernikahan dapat berakibat merusak, menciptakan rasa benci dan tidak percaya, pemutusan hubungan, atau konfrontasi dengan kekerasan.  Tapi, di sisi yang lain, konflik juga dapat berakibat positif, dengan membuka permasalahan agar dapat dianalisa, diperjelas dan memperbaiki pemecahan masalah, mendorong komunikasi yang spontan dan terbuka sehingga hubungan antara satu pihak dan yang lainnya dapat tumbuh menjadi lebih baik. Berkaitan dengan konflik. Berdasarkan permasalahan yang ada, secara khusus berkaitan dengan konflik dalam hubungan pernikahan yang berdampak destruktif, maka dibutuhkan pemahaman berdasarkan perspektif Kristen tentang penanganan konflik dalam hubungan pernikahan berdasar standar Firman Tuhan sebagai bentuk pelayanan pastoral bagi setiap keluarga Kristen. metode yang digunakan Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah dipaparkan diatas adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui studi literatur. Melalui metode yang digunakan, maka hasil yang ditemukan bahwa Penanganan Konflik dalam hubungan Pernikahan dalam keluarga Kristen adalah pertama, Pandangan Alkitab mengenai Keluarga Kristen yang harus dipahami sebagai Langkah Preventif terhadap Konflik dalam Hubungan Pernikahan; kedua, Pelayanan Pendampingan Pastoral bagi Pasangan Suami Isteri yang Berkonflik dan ketiga, Pengampunan Sebagai Solusi dalam Penyelesaian Konflik dalam Hubungan Pernikahan.
Peran Kenabian Pentakosta bagi Pemberdayaan Rohani Untuk Perubahan dalam Masyarakat Tuanakotta, Paul Jary; Gultom, Junifrius
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 7, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v7i2.166

Abstract

This research explores the prophetic role within the Pentecostal tradition as a catalyst for social and political engagement, emphasizing responses to contemporary crises such as social inequality, and political authoritarianism. The research examines the biblical foundations of prophecy in both the Old and New Testaments, highlighting the dual nature of prophecy—foretelling and forth-telling—and its implications for justice, compassion, and truth. The study aims to understand how Pentecostal interpretation of prophetic roles inspires civic participation among believers in the context of modern global crises. Through theological literature review and case studies of Pentecostal engagement, the research seeks to uncover how the call for social involvement is interpreted and lived out within Pentecostal communities, addressing questions of how Pentecostalism's dynamic spirituality and emphasis on the Holy Spirit empower believers for transformative social action. The anticipated contribution is both academic and practical, aiming to stimulate further discussion within Pentecostal communities on the role of faith in public life and the potential of religious beliefs to drive positive social change in an increasingly complex and interconnected world.Penelitian ini mengeksplorasi peran kenabian dalam tradisi Pentakosta sebagai katalis bagi keterlibatan sosial dan politik, dengan menekankan respons terhadap krisis kontemporer seperti kesenjangan sosial, dan otoritarianisme politik. Penelitian ini mengkaji dasar-dasar kenabian dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, menyoroti sifat ganda dari nubuatan—memprediksi dan menyatakan—dan implikasinya terhadap keadilan, belaskasihan, dan kebenaran. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana penafsiran Pentakosta mengenai peran kenabian menginspirasi partisipasi masyarakat di kalangan umat beriman dalam konteks krisis global modern. Melalui tinjauan literatur teologis dan studi kasus keterlibatan Pentakosta, penelitian ini berupaya mengungkap bagaimana seruan keterlibatan sosial ditafsirkan dan dihayati dalam komunitas Pentakosta, menjawab pertanyaan tentang bagaimana spiritualitas dinamis Pentakostalisme dan penekanan pada Roh Kudus memberdayakan umat beriman untuk melakukan tindakan sosial yang transformatif. Kontribusi yang diharapkan bersifat akademis dan praktis, bertujuan untuk merangsang diskusi lebih lanjut dalam komunitas Pentakosta mengenai peran iman dalam kehidupan publik dan potensi keyakinan agama untuk mendorong perubahan sosial yang positif di dunia yang semakin kompleks dan saling berhubungan.