cover
Contact Name
Yunardi Kristian Zega
Contact Email
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Phone
+6281213076611
Journal Mail Official
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Editorial Address
Gedung House of Glory Lt.3-4, Jl. Ahmad Yani, Eden Park; Kel. Taman Baloi, Kec. Batam Kota, Kotamadaya Batam, Kepulauan Riau.
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : -
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani dengan ciri Pentakostal-Kharismatika, dengan nomor ISSN: 2685-3485 (online), ISSN: 2685-3515 (print), dikelola dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi REAL, Batam, Kepulauan Riau. Focus dan Scope penelitian DIEGESIS adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru); Teologi Sistematika; Teologi Pastoral; Misiologi; Isu-isu Pentakostal-Kharismatika. DIEGESIS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari semua institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1: Juni 2024" : 5 Documents clear
Konsep Simbol Keagamaan Yang Sakral Menurut Mircea Eliade Dan Relevansinya Bagi Umat Kristiani Dalam Relasi Antar Agama Di Indonesia Bruto, Siprianus; Widyawati, Fransiska; Tangi, Antonius Marius
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.491

Abstract

Incidents of religious harassment are frequently reported in Indonesia, often manifesting as insults or damage to sacred religious symbols, including those of Christianity. This not only disrupts the tranquility of the Christian community but also undermines interfaith relationships. This study explores the thoughts of Mircea Eliade on sacred religious symbols, distinguishing them from the profane, and assesses their relevance to Christians and the development of interfaith relations. The research aims to reinforce Christian understanding of the sacred and profane within their religion and to correlate these concepts with biblical principles. A qualitative approach, specifically a literature review, is employed in this study. The findings suggest that Eliade’s philosophy provides a theoretical framework for comprehending the sanctity of symbols across religions. Each religion has its unique interpretation of the sacred and profane, shaped by its theological and historical context. Sacred elements demand a different level of respect and protection compared to the profane. Eliade’s philosophy aligns with the interpretation of the Scriptures, which also employ symbols to depict the presence of the Holy Trinity. For Indonesian Christians, Eliade’s thoughts are relevant as they encourage religious communities to respect each other’s religious symbols, engage in symbolic dialogues, and strengthen faith experiences and relationships. Eliade’s philosophy can enrich Christians’ understanding of the sanctity of religious symbols. Externally, Christians can apply Eliade’s philosophy to foster respect and build tolerant and inclusive interfaith relationships. Keywords: Mircea Eliade; Symbol; Sacred; Religious Relations; InfidelAbstrak Insiden pelecehan agama sering dilaporkan di Indonesia, seringkali berwujud penghinaan atau kerusakan terhadap simbol-simbol sakral agama, termasuk simbol-simbol milik agama Kristen. Hal ini tidak hanya mengganggu ketenangan komunitas Kristen tetapi juga merusak hubungan antaragama. Studi ini mengeksplorasi pemikiran Mircea Eliade tentang simbol-simbol keagamaan yang sakral, membedakannya dari yang profan, dan menilai relevansinya bagi umat Kristen dan pengembangan hubungan antaragama. Penelitian ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman umat Kristen tentang konsep sakral dan profan dalam agama mereka dan untuk mengaitkan konsep-konsep ini dengan prinsip-prinsip Alkitab. Pendekatan kualitatif, khususnya studi literatur, digunakan dalam penelitian ini. Temuan menunjukkan bahwa filsafat Eliade memberikan kerangka teoritis untuk memahami kesucian simbol di berbagai agama. Setiap agama memiliki interpretasi unik tentang sakral dan profan, yang dibentuk oleh teologi dan konteks historisnya. Elemen-elemen sakral menuntut tingkat penghormatan dan perlindungan yang berbeda dibandingkan dengan yang profan. Filsafat Eliade sejalan dengan interpretasi Kitab Suci, yang juga menggunakan simbol untuk menggambarkan kehadiran Allah Tritunggal. Bagi umat Kristen di Indonesia, pemikiran Eliade relevan karena mendorong komunitas agama untuk saling menghormati simbol-simbol agama masing-masing, melakukan dialog simbolik, dan memperkuat pengalaman dan hubungan iman. Pemikiran Eliade dapat memperkaya pemahaman umat Kristen tentang kesucian simbol-simbol keagamaan. Secara eksternal, umat Kristen dapat menerapkan pemikiran Eliade untuk menunjukkan penghormatan dan membangun hubungan antaragama yang toleran dan inklusif.Kata Kunci: Mircea Eliade; simbol; sakral; relasi agama; kafir
Hakikat Kemiskinan Menurut Montfort Dan Relevansinya Bagi Kehidupan Umat Katolik Di Indonesia Syukur, Yakobus; Firmanto, Antonius Denny
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.523

Abstract

This research aims to explore the nature of poverty according to Montfort and its relevance to the lives of Catholic communities in Indonesia. Poverty is often associated with living in discomfort, injustice, unhappiness, a life of scarcity, and a lack of material wealth to meet one's needs. This common paradigm needs to be examined more deeply using the surgical tool of the nature or spirituality of poverty according to Montfort. The research employs a literature review methodology. The study reveals that Montfort's spirituality of poverty highlights the ability to fulfill responsibilities and live responsibly, especially by engaging with others and paying attention to the needs of many, particularly those who are poor and marginalized. The use of material wealth is emphasized not for worldly pleasures but as a necessary means to support life. The relevance of Montfort's teachings in the context of how Catholics in Indonesia experience their religious life can be seen in three essential attitudes. Firstly, poverty is considered a means to attain holiness. Secondly, poverty is viewed as an effort in service and solidarity. Thirdly, poverty is seen as a means to guide the community towards the virtues of spiritual life. Keywords: God; Catholic church; poverty; humanit; MontfortAbstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hakikat kemiskinan menurut Montfort dan relevansinya bagi kehidupan umat Katolik Indonesia. Kemiskinan kerapkali diidentikkan dengan hidup dalam ketidakadilan, ketidakbahagiaan, hidup yang serba kekurangan, serta hidup yang tidak berharta (hartanya tidak mencukupi kebutuhannya). Paradigma umum ini perlu dikaji lebih dalam dengan menggunakan pisau bedah hakikat atau spiritualitas kemiskinan menurut Montfort. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Kajian ini menemukan bahwa spiritualitas kemiskinan menurut Montfort menunjukkan kesanggupan untuk menjalankan tugas dan hidup secara bertanggung jawab, terlebih terpanggil untuk terlibat dalam hidup dengan orang lain serta menaruh perhatian kepada kebutuhan banyak orang, khususnya bagi mereka yang miskin dan terlantar serta dalam penggunaan harta benda bukan untuk menjadi kesenangan duniawi melainkan diperlukan untuk menunjang hidup. Relevansi ajaran Montfort dalam konteks bagaimana umat Katolik di Indonesia menghayati kehidupan agamanya dapat dilihat dalam tiga sikap penting. Pertama, kemiskinan merupakan sarana menuju kekudusan. Kedua, kemiskinan adalah upaya pelayanan dan solidaritas. Ketiga, kemiskinan adalah sarana untuk menghantar umat kepada keutamaan hidup rohani.Kata Kunci: Allah; gereja katolik; kemiskinan; manusia; Montfort
Kehilangan Hutan, Kehilangan Masa Depan: Krisis Ekologi Dalam Pendekatan Biblis Warwer, Fredrik; Malatuny, Yakob Godlif; Layan, Santy
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.446

Abstract

The destruction of forests in Indonesia has resulted in disasters and threatens the future of humanity on earth. Using forests for personal interests is an action that humans should prohibit. Theological reflection or Christian perspective studies are needed to encourage a contemplative approach to forests. This paper aims to examine the issue of ecological crisis in Indonesia with a biblical approach. A qualitative methodology of literature review approach is used in this article. The research reveals that deforestation continues to be the most significant form of land degradation in Indonesia. Although the Central Bureau of Statistics reported a substantial decrease in deforestation in Indonesia from 2019 to 2020, the country lost 213 million hectares of forest, equivalent to 3.5 times the size of Bali Island, between 2015 and 2020. Therefore, eco theology seeks to critique the Christian tradition to raise public awareness of the ecological crisis and not just concern for the environment. Awareness of forest sustainability should be instilled in the younger generation through planting programs to develop a sense of belonging, appreciation, and responsibility for the forest. This is an expression of gratitude to the Owner, God, while at the same time showing love to others and ensuring the preservation of the planet for future generations. Keywords: Forest Loss, Future Loss, Ecological Crisis, Biblical ApproachKeywords: forest los; future loss; ecological crisis; biblical approach Abstrak Kerusakan hutan di Indonesia mengakibatkan bencana dan mengancam masa depan umat manusia di muka bumi. Pemanfaatan hutan untuk kepentingan pribadi adalah tindakan yang seharusnya dilarang oleh manusia. Dibutuhkan refleksi teologi atau kajian perspektif Kristen untuk mendorong pendekatan kontemplatif terhadap hutan. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji persoalan krisis ekologi di Indonesia dengan pendekatan biblis. Metodologi kualitatif pendekatan tinjauan literatur digunakan dalam artikel ini. Penelitian ini mengungkapkan bahwa deforestasi terus menjadi bentuk degradasi lahan yang paling signifikan di Indonesia. Meskipun Badan Pusat Statistik melaporkan penurunan deforestasi yang signifikan di Indonesia dari tahun 2019 hingga 2020, kenyataannya negara ini kehilangan 213 juta hektar hutan, atau setara dengan 3,5 kali luas Pulau Bali, antara tahun 2015 dan 2020. Oleh karena itu, ekoteologi berusaha untuk mengkritik tradisi Kristen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang krisis ekologi, dan bukan hanya sekedar kepedulian terhadap lingkungan. Kesadaran akan kelestarian hutan harus ditanamkan kepada generasi muda melalui program penanaman, sehingga mereka dapat mengembangkan rasa memiliki, menghargai, dan bertanggung jawab terhadap hutan. Hal ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pemilik, Tuhan, dan sekaligus menunjukkan rasa cinta kasih kepada sesama, serta memastikan kelestarian planet ini untuk generasi mendatang.Kata Kunci: kehilangan hutan; kehilangan masa depan; krisis ekologi; pendekatan biblis
Model Transformasi Terhadap Budaya Sunda Cageur, Bageur, Bener, Pinter jeung Singer Purnama, Jellia Puspa; Hermanto, Yanto Paulus
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.460

Abstract

The Sundanese culture, known as cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer, also referred to as Gapura Panca Waluya, is deeply ingrained in the life of the Sundanese community. Unfortunately, Christianity is often perceived as a religion that opposes culture, even compelling individuals to abandon their native traditions. This perception arises because Christianity was introduced to Sundanese lands by European missionaries, who were associated with colonialism, making conversion to Christianity seem like adopting the religion of the colonizers. Through this research, the author aims to answer how the model of transformation for the Sundanese values of cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer can be achieved without opposing them but by transforming the existing understanding to help Sundanese Christians experiencing these cultural values. The data collection and analysis technique employed is a literature review. Through this research, the author hopes to ensure that the Gospel can remain relevant and contextual, especially for the Sundanese community, as God uses culture to communicate His plans and wills. Keywords: Sunda; cageur; bener; pinter; bageurAbstrak Budaya Sunda yaitu cageur, bageur, bener, pinter jeung singer, disebut juga dengan Gapura Panca Waluya merupakan budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Sunda. Sayangnya, kekristenan dianggap sebagai agama yang menentang budaya, bahkan dianggap memaksa seorang untuk meninggalkan budaya asal. Ini disebabkan oleh karena agama Kristen dibawa ke tanah Sunda melalui para misionaris Eropa yang identik dengan penjajah, sehingga memeluk agama Kristen dianggap memeluk agama penjajah. Lewat penelitian ini, penulis bertujuan ingin menjawab bagaimana model transformasi terhadap budaya Sunda cageur, bageur, bener, pinter jeung singer dengan tidak perlu menentang, namun mentransformasikan pengertian yang ada untuk menolong masyarakat Sunda Kristen mengalami nilai budaya tersebut. Adapun teknik pengumpulan dan analisa data menggunakan kajian literatur. Lewat penelitian ini, penulis berharap agar Injil bisa tetap menjadi relevan dan konstekstual khususnya bagi masyarakat Sunda, sebab Allah memakai budaya untuk mengkomunikasikan rencana dan kehendakNya.Kata Kunci: Sunda; cageur; bener; pinter; bageur
Debora Dan Kepemimpinan Perempuan Dalam Konteks Indonesia Taneo, Rolin Ferdilianto Sandelgus
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.472

Abstract

Women are not actually second class citizens in society.  Women can actually lead too.  However, public awareness of choosing women is still low.  Moreover, in the Indonesian political calendar, in 2024 Indonesia will elect leaders both above the executive and legislative branches.  This article is intended to find out the causes of women’s minimal involvement in the Indonesian political arena.  After that, this article will also show the role of women in leading.  This context will be put into dialogue with the story of Deborah in the Bible, who was also a successful female leader.  The result of this dialogue is to provide a leadership perspective that is not gender biased.  The building in this paper uses the literature method, namely by looking at literature that specifically discusses the two topics that are currently in the spotlight, namely the role of Deborah and the contribution of Indonesian women in leading. Keywords: Deborah; women; leadersAbstrakPerempuan sesungguhnya bukan warga kelas dua dalam masyarakat. Perempuan juga sebenarnya bisa memimpin. Hanya saja, kesadaran publik untuk memilih perempuan masih rendah. Apalagi dalam kalender politik Indonesia, tahun 2024 ini Indonesia akan memilih pemimpin baik di atas eksekutif maupun legislatif. Adanya tulisan ini dimaksudkan untuk mencari tahu penyebab keterlibatan perempuan yang minim di arena politik Indonesia. Setelah itu, tulisan ini juga akan menampilkan tentang bagaimana peran perempuan dalam memimpin. Konteks ini akan didialogkan  dengan kisah Debora dalam Alkitab yang juga adalah pemimpin perempuan yang berhasil. Hasil dialog ini yakni memberi suatu perspektif kepemimpinan yang tidak bias gender. Bangunan dalam tulisan ini menggunakan metode kepustakaan yaitu dengan melihat literatur-literatur yang secara khusus membahas kedua topik yang sementara menjadi sorotannya yaitu peran Debora dan kontribusi perempuan Indonesia dalam memimpin.Kata Kunci: Debora; perempuan; pemimpin

Page 1 of 1 | Total Record : 5