cover
Contact Name
Yunardi Kristian Zega
Contact Email
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Phone
+6281213076611
Journal Mail Official
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Editorial Address
Gedung House of Glory Lt.3-4, Jl. Ahmad Yani, Eden Park; Kel. Taman Baloi, Kec. Batam Kota, Kotamadaya Batam, Kepulauan Riau.
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : -
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani dengan ciri Pentakostal-Kharismatika, dengan nomor ISSN: 2685-3485 (online), ISSN: 2685-3515 (print), dikelola dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi REAL, Batam, Kepulauan Riau. Focus dan Scope penelitian DIEGESIS adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru); Teologi Sistematika; Teologi Pastoral; Misiologi; Isu-isu Pentakostal-Kharismatika. DIEGESIS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari semua institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2: Desember 2024" : 6 Documents clear
Karunia-Karunia Rohani bagi Pelayanan Gerejawi: Perspektif dari Roma 12:6-8 Priyono, Joko; Pangngaroan, Andarias
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 2: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.552

Abstract

This study aims to investigate the integration of the gifts of the Spirit in the context of ecclesiastical ministry as presented in Romans 12:6-8. This research uses qualitative methods by performing text analysis and contextual interpretation of relevant verses. The research findings show that the gifts mentioned in the text, namely gifts of prophecy, service, teaching, encouragement, contribution, leadership, and mercy, are mutually integrated and complementary in ecclesiastical service. The implications of this study emphasize the importance of acknowledging and developing the gifts of the Spirit in forming a healthy and productive church community in the mission of ministry. Keywords: spiritual gifts; church service; Romans 12:6-8AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki integrasi karunia-karunia Roh dalam konteks pelayanan gerejawi dalam Surat Roma 12:6-8. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan analisis teks dan interpretasi kontekstual terhadap ayat-ayat yang relevan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa karunia-karunia yang disebutkan dalam teks tersebut, yaitu karunia bernubuat, pelayanan, pengajaran, menasihati, memberi sumbangan, kepemimpinan, dan belas kasihan, saling terintegrasi dan saling melengkapi dalam konteks pelayanan gerejawi. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya pengakuan dan pengembangan karunia-karunia Roh dalam membentuk komunitas gereja yang sehat dan produktif dalam misi pelayanan.Kata Kunci: karunia rohani; pelayanan gerejawi; Roma 12:6-8
Merefleksi Konsep Tuhan Menurut Ulangan 6:4 dan Implikasinya dalam Pemahaman Trinitas Marisi, Candra Gunawan; Papay, Alex Djuang; Silaen, Upa; Pasaribu, Jabes
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 2: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.557

Abstract

The views of certain groups within Christianity include the arguments of Arius (Jehovah's Witnesses), who asserts that although Jesus possesses a special nature, He remains human and therefore should not be regarded as more than merely a "creation," like any other human. There is also a belief known as Jesus Only or Oneness, which resembles the heretical teachings of Sabellianism in a new form. Additionally, Islamic perspectives challenge the Christian belief in the Trinity by suggesting that Christians believe in three gods and interpreting the concept of the Trinity as a practice of tritheism. Deuteronomy 6:4 serves as the primary commandment that requires total commitment from the nation of Israel on a personal level, as well as for contemporary believers in Jesus Christ. The purpose of this research is to analyze Deuteronomy 6:4 to reflect on the meaning of the oneness of God. Through this research, it can also be affirmed that the LORD is the God worthy of worship by every believer, and that only God, and no other gods, deserve human worship. The research is conducted using a qualitative method with an inductive approach, specifically through exegesis and lexical and grammatical analysis of the studied verse, which is then reflected upon with other biblical verses, journals, or books to support the research findings. The results indicate that the doctrine of the Trinity affirms the unity of God in three persons, which is not a contradiction: God has one essence and three persons. The Bible affirms both the oneness of God and the divinity of the Father, the Son, and the Holy Spirit. The Trinity provides boundaries for human speculation about the nature of God. The oneness of God is expressed as His essence or existence, while His diversity is expressed in three persons. In the context of conveying God's laws, the oneness of God has several important implications: 1) When God speaks, there is no one else who can contradict Him. 2) When God promises, there is no one else who can retract it. 3) When God punishes disobedience, there is no one else who can protect against it. 4) The LORD is the only true God, not a god among other gods. Keywords: God is one; Trinity; the only true God; concept of LordAbstrak Pandangan beberapa kalangan umat ‘kristen’ mencakup argumen Arius (saksi Yehuwa) yang menyatakan bahwa meskipun Yesus memiliki sifat yang istimewa, Ia tetap merupakan manusia dan oleh karena itu tidak seharusnya dianggap lebih dari sekadar "ciptaan," seperti halnya manusia lainnya, ada juga pemahaman yang dikenal sebagai Jesus Only atau Oneness, yang menyerupai ajaran sesat Sabelianisme dalam bentuk yang baru. Selain itu, pandangan dari Islam menyerang keyakinan Kristen mengenai Allah Tritunggal dengan anggapan bahwa Kristen meyakini adanya tiga Allah, serta menafsirkan bahwa konsep Tritunggal adalah praktik triteisme. Ulangan 6:4 merupakan hukum utama yang mengharuskan komitmen total dari bangsa Israel secara personal demikian juga bagi orang percaya Yesus Kristus masa kini. Tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk menganalisa Ulangan 6:4 untuk merefleksikan makna Tuhan itu esa, melalui penelitian ini juga dapat menegaskan bahwa TUHAN adalah Allah yang layak disembah oleh setiap orang percaya, hanya Tuhan dan allah yang lain tidak layak mendapatkan penyembahan dari manusia. Penelitian dilakukan dengan Metode Kualitatif dengan pendekatan induktif yakni, eksegesa dan analisa ayat secara leksikal dan gramatikal dari ayat yang diteliti, selanjutnya direfleksikan dengan ayat Alkitab yang lain, jurnal atau buku yang lain untuk mendukung hasil penelitian.  Hasil yang ditemukan, doktrin Trinitas meneguhkan kesatuan Allah di dalam tiga pribadi, bukan merupakan kontradiksi: Allah memiliki satu esensi dan tiga pribadi. Alkitab meneguhkan baik keesaan Allah dan keilahian Bapa, Anak dan Roh Kudus. Trinitas memberikan batasan kepada spekulasi manusia tentang natur Allah. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esesnsiNya atau keberadaanNya, sedangkan keragamanNya diekspresikan dalam tiga pribadi. Dalam konteks penyampaian hukum-hukum Allah, keesaan Allah mempunyai beberapa implikasi yang penting: 1, Kalau Allah berfirman, tidak ada yang lain yang dapat menolaknya. 2, Kalau Allah berjanji, tidak ada yang lain yang dapat menariknya. 3, Kalau Allah menghukum ketidaktaatan, tidak ada yang lain yang dapat melindungi. 4, TUHAN adalah satu-satunya Allah yang benar, bukan Tuhan diantaran tuan yang lain.Kata kunci: Esa; Trinitas; satu-satunya Tuhan; konsep Tuhan
Harmoni Teologi: “Unconditional Election” dan Teologi Kovenan bagi Kehidupan Rohani Jemaat Purwonugroho, Daniel Pesah; Halawa, Iman Kristina; Panggabean, Saut Maruli P.
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 2: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.574

Abstract

This article is designed to explore the theological harmony between the doctrine of "unconditional election" and covenant theology and its implications for the spiritual life of the congregation. "Unconditional election" is the concept where God chooses individuals for salvation without regard to their conditions or efforts. Covenant theology frames the interaction between God and humanity through covenants. The harmonization between the doctrine of "unconditional election" and covenant theology centres on the redemptive work and obedience of Jesus Christ on the cross. This obedience of Jesus Christ results in human salvation without any human effort. It also allows humans to experience the covenant of grace without any human effort. Through a qualitative descriptive research method, the theological harmonization between the doctrine of "unconditional election" and covenant theology will be explored to draw spiritual implications for the congregation. The harmonization of "unconditional election" and covenant theology brings individual spiritual well-being and assurance and fosters communal growth.Keywords: harmony; unconditional election; covenant theologyAbstrak Artikel ini dirangkai guna menelusuri harmoni teologi antara doktrin “unconditional election” dengan teologi kovenan dan implikasinya bagi kehidupan rohani jemaat. “Unconditional election” merupakan konsep dimana Allah memilih manusia untuk diselamatkan dan tidak bergantung dengan kondisi dan daya upaya manusia. Teologi kovenan membingkai interaksi Allah dengan manusia melalui kovenan. Harmonisasi antara doktrin “unconditional election” dan teologi kovenan ini bertitik tumpu di dalam karya penebusan dan ketaatan Yesus Kristus di kayu salib. Ketaatan Yesus Kristus ini membawa dampak manusia mengalami keselamatan tanpa melibatkan sedikitpun usaha manusia. Ketaatan Yesus Kristus juga membuat manusia mengalami kovenan anugerah tanpa adanya usaha manusia sedikitpun. Melalui metode penelitian kualitatif deskriptif beserta pengumpulan data studi pustaka, harmonisasi teologi antara doktrin “unconditional election” dan teologi kovenan akan ditelusuri guna menarik implikasi spiritual bagi jemaat. Harmonisasi “unconditional election” dan teologi kovenan membawa jemaat mengalami kesejahteraan dan kepastian spiritual secara individu dan mendatangkan pertumbuhan secara komunal.Kata Kunci: harmoni; unconditional election; teologi kovenan
Pendampingan Pelayanan Pastoral Pentakostal Kharismatik dalam Menangani Permasalahan Kesehatan Mental Jemaat Duha, Sang Putra Immanuel; Marpaung, Nona Beta
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 2: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.612

Abstract

Pentecostal-Charismatic churches have a unique approach to pastoral care for congregants facing mental health issues. This approach integrates spiritual, emotional, and communal aspects to respond to mental well-being issues. However, research on the effectiveness of the charismatic pastoral care model in this area is limited. This study aims to evaluate Pentecostal-Charismatic pastoral care in addressing congregational mental health issues. The method used is a qualitative case study with document analysis from various related sources. The formulation of the problem is the extent to which the practice of pastoral care in these churches can address the mental health of the congregation, as well as the challenges faced.  The results showed that charismatic pastoral care plays an important role in addressing mental health issues through three elements: spiritual, emotional, and communal. Spiritually, congregants find strength through faith and prayer. The emotional aspect allows them to share their feelings, while the communal aspect encourages involvement in church activities. However, challenges such as lack of training for pastors and mental health stigma still exist. This research emphasizes the importance of developing a more systematic mentoring model to make the church a safe and supportive place for congregants experiencing mental health issues. Keywords: pastoral care; mental health; pentecostal charismaticAbstrak Gereja-gereja Pentakostal-Kharismatik memiliki pendekatan unik dalam pendampingan pastoral bagi jemaat yang menghadapi masalah kesehatan mental. Pendekatan ini mengintegrasikan aspek spiritual, emosional, dan komunal untuk merespons isu kesejahteraan mental. Namun, penelitian tentang efektivitas model pendampingan pastoral kharismatik di bidang ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelayanan pastoral Pentakostal-Kharismatik dalam menangani masalah kesehatan mental jemaat. Metode yang digunakan adalah studi kasus kualitatif dengan analisis dokumen dari berbagai sumber terkait. Rumusan masalahnya adalah sejauh mana praktik pelayanan pastoral di gereja-gereja ini dapat menangani kesehatan mental jemaat, serta tantangan yang dihadapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendampingan pastoral kharismatik berperan penting dalam mengatasi masalah kesehatan mental melalui tiga elemen: spiritual, emosional, dan komunal. Secara spiritual, jemaat menemukan kekuatan melalui iman dan doa. Aspek emosional memungkinkan mereka berbagi perasaan, sementara aspek komunal mendorong keterlibatan dalam kegiatan gereja. Namun, tantangan seperti kurangnya pelatihan bagi pendeta dan stigma kesehatan mental masih ada. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan model pendampingan yang lebih sistematis untuk menjadikan gereja sebagai tempat yang aman dan mendukung bagi jemaat yang mengalami masalah kesehatan mental.Kata kunci: pendampingan pastoral; kesehatan mental;  pentakostal kharismatik
Kajian Teologis tentang Pembedaan Gender dan Hak Waris Suku Batak Toba serta Implikasinya di Perantauan Simangunsong, Marulam; Gultom, Joni Manumpak Parulian
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 2: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.624

Abstract

The Batak Toba tribe applies a patrilineal kinship system passed down from generation to generation. And if, in the current context, gender differentiation and inheritance rights that are more dominant for men than women are still rigidly applied, it is not following the position of women as God's creatures who are equal to men. In addition, this does not follow human rights. The study aims to explain gender differentiation and the granting of actual inheritance rights in a theological study. This study provides a practical solution for customary leaders in the community to adapt and adjust Biblical values. The research method uses a qualitative ethnographic approach. The results are [1] The Bible explicitly provides gender equality and inheritance rights to men and women based on the love of God the Father. [2] The patrilineal kinship system should undergo significant adaptation and value adjustments in the diaspora. [3] The church guides church members and is socialized to the leaders of clan holders in the diaspora. Keywords: Toba Batak; gender; female; Parents; patrilinealAbstrak Suku Batak Toba menerapkan sistem kekerabatan secara patrilineal turun-temurun dengan pembedaan gender dan hak waris yang lebih dominan kepada anak laki laki daripada perempuan. Penerapan secara kaku tentu tidak sesuai dengan kedudukan perempuan sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang setara dengan laki laki. Selain itu tidak sesuai dengan hak azasi manusia itu sendiri. Tujuan penelitian adalah menjelaskan dalam kajian teologis tentang pembedaan gender dan pemberian hak waris yang sebenarnya dan kontektualisasi penerapannya kepada masyarakat suku ini yang tinggal di perantauan. Penelitian ini memberikan solusi praktis kepada masyarakat tersebut untuk beradaptasi dan melakukan penyesuaian nilai secara Alkitabiah.  Penelitian dengan pendekatan kualitatif etnografi. Hasil nya adalah [1] Alkitab secara tegas memberikan kesetaraan gender dan hak waris kepada laki laki dan perempuan berdasarkan kasih Allah Bapa. [2] Sistem kekerabatan patrilineal sebaiknya perlu mengalami adaptasi dan penyesuain nilai yang significant di perantauan. [3] Gereja memberi pembinaan kepada warga gereja dan disosialisasikan kepada para pimpinan pemegang marga di perantauan.Kata kunci: Batak Toba; gender; Perempuan; Orangtua; patrilineal
Pantekostalisme dalam Studi Agama: Merekonstruksi Sejarah Sosio-Intelektual di Indonesia Tambunan, Elia; Debataraja, MC Reonald
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 2: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.628

Abstract

Some say that there is no Pentecostal theology, there is only biblical theology by previous academics, that is the main problem in this article. According to the author, the argument built on the framework and work of postcolonial studies epistemology actually reveals things related to Pantecost in Indonesia (including theology) for the emergence of something distinctive, local, and original, which is then named Pantecostalism as a technical umbrella term. So that, this article is not the same as the previous researcher. This qualitative research paper is a social history approach with a source analysis method. We collected apart from primary, empirical, observational, interview, as well as literature studies, whether it is by academics working in the Pentecostal field including social media on various platforms, website pages or non-Pantecostal but as a secondary source for the sake of building the solidity of the decipherment of the writing. This paper presents the findings of a new intellectual orientation on Pantecostal studies in Indonesia that should not be equated with studying global Pentecostalism, because Pantecostalism, although it has a historicality from a socio-intellectual perspective, has its own distinction so that it is appropriate to be included as an inherent part of the study of religion. Keywords: Indonesia; pantecostalism; socio-intellectual; study of religionAbstrak Tak sedikit yang mengatakan, tidak ada teologi Pantekosta, yang ada ialah teologi alkitabiah saja oleh para akademisi sebelumnya, itulah masalah utama dalam tulisan ini. Oleh penulis, argumentasi yang dibangun berdasarkan kerangka pikir dan kerja epistemologis postcolonial studies justru menampakkan hal-hal sekaitan dengan Pantekosta di Indonesia (termasuk teologi) demi munculnya sesuatu hal yang khas, yang lokal, dan yang asali, yang kemudian dinamai dengan Pantekostalisme sebagai payung istilah secara teknis. Sehingga, tulisan ini tidak sama dengan peneliti sebelumnya. Tulisan penelitian kualitatif ini pendekatan sejarah sosial dengan metode analisis sumber. Kami mengumpulkan data selain dari sumber primer, empiris, observasi, wawancara, juga dengan kajian literatur, apakah itu oleh akademisi yang bekerja di ladang Pantekosta termasuk media sosial berbagai platform, laman website maupun yang bukan Pantekosta namun sifatnya sebagai sumber sekunder demi terbangunnya soliditas uraian tulisan. Tulisan ini menampilkan temuan kebaruan orientasi intelektual terkait studi Pantekosta di Indonesia yang tidak boleh, tidak perlu disama-samakan dengan studi global Pentekostalisme karena Pantekostalisme meskipun memiliki pertalian historisitas dari sisi sosio-intelektual tetapi memiliki distingsi tersendiri sehingga tepat dimasukkan sebagai bagian inheren studi agama.Kata-Kata Kunci: Indonesia; pantekostalisme; sosio-intelektual; studi agama

Page 1 of 1 | Total Record : 6