cover
Contact Name
Moh. Faizur Rohman
Contact Email
faza_veiro@uinsa.ac.id
Phone
+6285749376509
Journal Mail Official
faza_veiro@uinsa.ac.id
Editorial Address
Prodi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya, Jl. Ahmad Yani 117 Surabaya, Jawa Timur 60237
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Maliyah : Jurnal Hukum Bisnis Islam
ISSN : 20884869     EISSN : 25974351     DOI : https://doi.org/10.15642/maliyah.2021.11.2
Kajian-kajian Hukum Ekonomi dan Bisnis Islam, baik berupa artikel konsepsional ataupun hasil penelitian.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 14 No. 2 (2024): Desember 2024" : 6 Documents clear
Produk Kemasan Tanpa Label Halal di Surabaya perspektif Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014, dan Maqāṣid al-Sharī‘ah Sanuri, Sanuri; Ayu Ningtiyas, Mega
Maliyah : Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 14 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Islamic Economic Law Programs, Faculty of Sharia and Law State Islamic University (UIN) of Sunan Ampel Surabaya.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/maliyah.2024.14.2.237-274

Abstract

Abstract: This is a field research that discusses packaging products without the halal label in Surabaya under the perspective Law Number 8 of 1999, Law Number 33 of 2014 and Maqāṣid al-Sharī‘ah. Data collection techniques in this study were carried out using three ways, namely: (1) interviews; (2) observation and; (3) documentation. From all the descriptions presented, the results of this study are as follows: Based on the analysis of the Law No. 8 of 1999 and Law. No. 33 of 2014, the practice carried out by business actors in the modern market of Surabaya has not followed the provisions for halal production in the form of including halal writing on food labels. Whereas, in the perspective of Maqāṣid al-Sharī‘ah, what business actors do is contrary to the principles of monotheism and ta'abbudi (servitude to Allah SWT), because consuming halal and tayyib products is an order for Muslim consumers. In addition, the circulation of products without halal label in Surabaya has the potential to damage some of the joints in Maqāṣid al-Sharī‘ah features such as religion, soul and reason. Keywords: Business actors; halal products; halal label; Maqāṣid al-Sharī‘ah. Abstrak: Penelitian lapangan (field research) yang membahas tentang produk kemasan tanpa lebel halal di Surabaya perpektif Maqāṣid al-Sharī‘ah dan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 33 tahun 2014. Adapun tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tiga cara, yaitu: (1) wawancara; (2) observasi dan; (3) dokumentasi. Dari seluruh uraian yang disajikan, maka hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Berdasarkan analisis UU. No. 8 tahun 1999 dan UU. No. 33 tahun 2014, praktik yang dilakukan oleh para pelaku usaha di pasar modern Surabaya belum mengikuti ketentuan berproduksi secara halal dalam bentuk pencantuman tulisan halal pada label makanan. Sedangkan dalam perspektif Maqāṣid al-Sharī‘ah, apa yang dilakukan oleh para pelaku usaha bertentangan dengan prinsip tauhid dan ta‘abbudī (penghambaan kepada Allah SWT), karena mengkonsumsi produk halal dan tayyib adalah perintah bagi konsumen Muslim. Selain itu, peredaran produk tanpa label halal di Surabaya sangat berpotensi merusak beberapa sendi yang ada dalam fitur-fitur Maqāṣid al-Sharī‘ah seperti agama, jiwa dan akal. Kata Kunci: Pelaku Usha; Produk Halal; Label Halal; Maqāṣid al-Sharī‘ah.
Penyederhanaan Perizinan UMKM sebagai Instrumen Perwujudan Keadilan Sosial dengan Pendekatan Maslahah Mursalah dan Undang-Undang Cipta Kerja Mustofa, Winanda; Murni, Murni
Maliyah : Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 14 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Islamic Economic Law Programs, Faculty of Sharia and Law State Islamic University (UIN) of Sunan Ampel Surabaya.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/maliyah.2024.14.2.213-236

Abstract

Abstract: Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) play an important role in the Indonesian economy, especially in creating jobs and improving people's welfare. However, the complicated licensing process is often an obstacle to the growth of MSMEs. With the enactment of the Job Creation Law, the government is trying to move the licensing process through a risk-based Online Single Submission (OSS) system. This study aims to analyze the ease of licensing for MSMEs after the enactment of the Job Creation Law with a mashlahah mursalah approach, which emphasizes social welfare and justice. This study uses a normative legal research method with an analysis of regulations and the concept of mashlahah mursalah. Data were collected through document review and analyzed based on a regulatory and conceptualization approach. The results of the study show that the Job Creation Law introduces a risk-based licensing system that facilitates the licensing process for MSMEs. However, its implementation still faces challenges such as lack of socialization and consistency of regional regulations. Ease of licensing for MSMEs can be considered mashlahah mursalah if it provides real benefits to business growth and people's welfare. However, wider socialization and strict supervision are needed to ensure legal certainty and consistency of regulations. So that the ease of licensing can be an effective instrument of social justice for MSMEs. Keywords: Online Single Submission; MSME Licensing; Policy Efficiency; Maslahah Mursalah. Abstrak: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memainkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terutama dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, proses perizinan yang rumit sering menjadi hambatan bagi pertumbuhan UMKM. Dengan diberlakukannya UU Cipta Kerja, pemerintah berupaya menyederhanakan proses perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS) berbasis risiko. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemudahan perizinan bagi UMKM pasca lahirnya UU Cipta Kerja dengan pendekatan mashlahah mursalah, yang menekankan pada kemaslahatan dan keadilan sosial. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan analisis terhadap peraturan perundang-undangan dan konsep mashlahah mursalah. Data dikumpulkan melalui studi dokumen dan dianalisis berdasarkan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UU Cipta Kerja memperkenalkan sistem perizinan berbasis risiko yang memudahkan proses perizinan bagi UMKM. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan seperti kurangnya sosialisasi dan konsistensi regulasi daerah. Kemudahan perizinan bagi UMKM dapat dianggap sebagai mashlahah mursalah jika memberikan manfaat nyata terhadap pertumbuhan usaha dan kesejahteraan masyarakat. Namun, perlu dilakukan sosialisasi yang lebih luas dan pengawasan yang ketat untuk memastikan kepastian hukum dan konsistensi regulasi. Sehingga kemudahan perizinan dapat menjadi instrumen perwujudan keadilan sosial yang efektif bagi UMKM. Kata Kunci: Online Single Submission; Perizinan UMKM; Efisiensi Kebijakan; Maslahah Mursalah.
Law Enforcement Problems in Prosecuting Crime in the Capital Market Qolbi, Muhammad Ainun; Dimyati, Dimyati
Maliyah : Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 14 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Islamic Economic Law Programs, Faculty of Sharia and Law State Islamic University (UIN) of Sunan Ampel Surabaya.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/maliyah.2024.14.2.165-191

Abstract

Abstract: This study focuses on the evolution and challenges of law enforcement within Indonesia's capital market. The capital market plays a pivotal role in the nation's economic development and financial services. The establishment of the Financial Services Authority (OJK) aims to ensure orderly, transparent, and fair financial activities, striving for stability and protecting the interests of consumers. However, despite the market's modernization, the capital market faces growing challenges related to criminal activities. These challenges stem from outdated laws, inadequate law enforcement, and the dynamic nature of market crimes. Such offenses include fraud, market manipulation, insider trading, and unregulated activities like short selling. The paper addresses the need to identify and address the escalating violations and crimes within the capital market, emphasizing the complexities of providing evidence for these modern, technology-driven transactions. Ultimately, the effectiveness of sanctions relies on robust law enforcement to maintain a secure and trustworthy capital market. This analysis discusses the unique characteristics of criminal activities within the capital market, focusing on information as the primary object of these offenses. Perpetrators rely on their market insights rather than physical actions, making detection and proof challenging. Crimes in the capital market entail administrative, criminal, and civil penalties, primarily centered on fraud, market manipulation, and insider trading. The legal framework in Law No. 8 of 1995 on Capital Markets outlines these offenses and their corresponding penalties. Law enforcement mechanisms transition from administrative to civil and finally to criminal sanctions. Ensuring ethical standards within the business realm is crucial, requiring codified regulations to maintain market integrity and protect investors. Keywords: Law Enforcement; Capital Market Crime; Financial Services Authority. Abstrak: Penelitian ini berfokus pada evolusi dan tantangan penegakan hukum di dalam pasar modal Indonesia. Pasar modal memiliki peran penting dalam pengembangan ekonomi dan layanan keuangan nasional. Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bertujuan untuk memastikan kegiatan keuangan yang tertib, transparan, dan adil, dengan berupaya menjaga stabilitas serta melindungi kepentingan konsumen. Namun, meskipun pasar telah mengalami modernisasi, pasar modal menghadapi tantangan yang semakin besar terkait aktivitas kriminal. Tantangan ini berasal dari undang-undang yang sudah usang, penegakan hukum yang kurang memadai, serta sifat dinamis dari kejahatan pasar. Pelanggaran tersebut meliputi penipuan, manipulasi pasar, perdagangan orang dalam, dan aktivitas yang tidak diatur seperti penjualan kosong (short selling). Makalah ini membahas perlunya mengidentifikasi dan mengatasi peningkatan pelanggaran serta kejahatan di dalam pasar modal, dengan menekankan kompleksitas pembuktian dalam transaksi modern yang didorong oleh teknologi. Pada akhirnya, efektivitas sanksi bergantung pada penegakan hukum yang kuat untuk menjaga pasar modal yang aman dan terpercaya. Analisis ini membahas karakteristik unik dari aktivitas kriminal dalam pasar modal, dengan fokus pada informasi sebagai objek utama dari kejahatan tersebut. Pelaku mengandalkan wawasan mereka terhadap pasar daripada tindakan fisik, sehingga deteksi dan pembuktian menjadi sulit. Kejahatan di pasar modal mencakup sanksi administratif, pidana, dan perdata, yang terutama berfokus pada penipuan, manipulasi pasar, dan perdagangan orang dalam. Kerangka hukum dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal mengatur pelanggaran-pelanggaran ini beserta sanksinya. Mekanisme penegakan hukum bertransisi dari sanksi administratif ke perdata dan akhirnya ke pidana. Menjaga standar etika dalam dunia bisnis sangat penting, yang membutuhkan regulasi yang dikodifikasi untuk menjaga integritas pasar dan melindungi investor. Kata Kunci: Penegakan Hukum; Tindak Pidana Pasar Modal; Otoritas Jasa Keuangan.
Zakat Koin Cashback E-Commerce dalam Hukum Islam Soleha, Gladis Mar'atus; Khoiruddin; Nurkholidah, Susi
Maliyah : Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 14 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Islamic Economic Law Programs, Faculty of Sharia and Law State Islamic University (UIN) of Sunan Ampel Surabaya.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/maliyah.2024.14.2.128-148

Abstract

Abstract: This study examines the potential of e-commerce cashback coins as zakat objects from an Islamic legal perspective. In the digital era, cashback is an incentive in the form of a virtual money refund after a transaction, generally in the form of coins that can be used for subsequent transactions and have a value equivalent to currency. These cashback coins have economic value and can be considered as assets owned, so it is necessary to review whether these coins meet the requirements for zakat. Using a qualitative approach through literature study, this study describes how cashback coins have the potential to become zakat objects. The results of the analysis show that cashback coins are categorized as income zakat (zakat al-mâl al mustafad). Cashback coins can be subject to zakat if they meet the criteria of nisab and full ownership (tamlik). First, cashback coins are considered full property when the user has control over their use, either for transactions or cashed out. Second, the accumulated value of cashback coins can reach a nisab equivalent to 85 grams of gold or equivalent to one-twelfth of 85 grams of gold, so a significant amount of cashback has the potential to be subject to zakat. With a zakat rate of 2.5% of the total value of the coins collected, the payment mechanism can be done monthly or annually without having to meet the haul requirements. Keywords: Cashback Coins; E-commerce; Zakat.   Abstrak: Penelitian ini mengkaji potensi koin cashback e-commerce sebagai objek zakat dalam perspektif hukum Islam. Di era digital, cashback adalah insentif berupa pengembalian uang virtual setelah transaksi, umumnya dalam bentuk koin yang dapat digunakan untuk transaksi berikutnya dan memiliki nilai setara mata uang. Koin cashback ini memiliki nilai ekonomi dan dapat dianggap sebagai harta yang dimiliki, sehingga diperlukan tinjauan apakah koin ini memenuhi syarat zakat. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka, penelitian ini mendeskripsikan bagaimana koin cashback berpotensi menjadi objek zakat. Hasil analisis menunjukkan bahwa koin cashback dikategorikan sebagai zakat penghasilan (zakat al-mâl al-mustafad). Koin cashback dapat dikenakan zakat apabila memenuhi kriteria nisab dan kepemilikan penuh (tamlik). Pertama, koin cashback dianggap sebagai harta milik penuh ketika pengguna memiliki kontrol atas penggunaannya, baik untuk bertransaksi atau dicairkan. Kedua, akumulasi nilai koin cashback dapat mencapai nisab yang setara dengan 85 gram emas atau setara seperduabelas dari 85 gram emas, sehingga jumlah yang signifikan dari cashback berpotensi diwajibkan zakat. Dengan kadar zakat sebesar 2,5% dari total nilai koin yang terkumpul, mekanisme pembayaran dapat dilakukan bulanan atau tahunan tanpa harus memenuhi syarat haul. Kata Kunci: E-commerce; Koin Cashback; Zakat.
Green Innovation and Islamic Boarding School Financial Performance: a Case Study in Pondok Pesantren Tahfiz Al-Quran (PPTQ) Al Munawaroh M. Nasyah Agus Saputra; Kurnia Cahya Lestari; Muhammad Ala'uddin; Moh. Ya’qub; Fri Haendid Alfiyan
Maliyah : Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 14 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Islamic Economic Law Programs, Faculty of Sharia and Law State Islamic University (UIN) of Sunan Ampel Surabaya.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/maliyah.2024.14.2.149-164

Abstract

Abstract: The purpose of this study is to determine the dynamics of the relationship between green innovation and financial performance of Pondok Pesantren Tahfidzul Quran (PPTQ) Al-Munawaroh. More specifically, this study examines how green innovation practices which include products, processes, and organizations contribute to improving the financial performance of PPTQ Al-Munawaroh. This research uses a qualitative case study approach collected through face-to-face interviews, observation and documentary analysis.  The results showed that the green innovation practice mechanism at PPTQ Al-Munawaroh has been running well and developed to change the habits of boarding school residents to care about the environment. The findings indicate that green innovation practices at PPTQ Al-Munawaroh contribute to financial improvement through resource efficiency, especially in operational savings and economic benefits. Keywords: Green Innovation; Financial Performance; Islamic Boarding School; SDGs. Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika hubungan green innovation dan kinerja keuangan Pondok Pesantren Tahfidzul Quran (PPTQ) Al-Munawaroh. Lebih spesifik, penelitian ini mengkaji bagaimana praktik green innovation yang meliputi produk, proses, dan organisasi berkontribusi dalam meningkatkan kinerja keuangan PPTQ Al-Munawaroh. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif yang dikumpulkan melalui wawancara tatap muka, observasi dan analisis dokumenter.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme praktik green innovation di PPTQ Al-Munawaroh telah berjalan dengan baik dan dikembangkan untuk mengubah kebiasaan warga pondok Pesantren untuk peduli pada lingkungan. Temuan menunjukkan bahwa praktik inovasi ramah lingkungan di PPTQ Al-Munawaroh berkontribusi terhadap peningkatan keuangan melalui efisiensi sumber daya, terutama dalam penghematan operasional dan manfaat ekonomi. Kata Kunci: Green Innovation; Kinerja Keuangan; Pondok Pesantren; SDGs. 
Kepatuhan Sharī’ah dalam Fundraising Zakat melalui E-Commerce Elizatun, Elizatun; Zainur Ridho
Maliyah : Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 14 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Islamic Economic Law Programs, Faculty of Sharia and Law State Islamic University (UIN) of Sunan Ampel Surabaya.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/maliyah.2024.14.2.192-212

Abstract

Abstract: Zakat fundraising has been available in e-commerce features. However, with the development of this technology, new challenges arise, especially related to sharī'ah compliance. Where zakat is a religious obligation, its management must also be in accordance with sharī'ah principles. Thus, the background of this study aims to analyze how sharī'ah compliance can be guaranteed in fundraising zakat through e-commerce. This research applies qualitative method with descriptive approach. The data collection is in the form of documentation and interviews. The results of this study show that the basic practice of fundraising zakat through e-commerce is by muzaki choosing the type of zakat that will be submitted to mustahik through amil institutions that have partnered on the platform. After the zakat funds obtained from e-commerce are collected, they will be handed over to zakat institutions to be given to mustahik as stipulated in Islamic sharī'ah. However, in terms of sharī'ah compliance which is seen from the fulfillment of the pillars and conditions of zakat, transparency and accountability, and free from elements of usury, fundraising zakat through e-commerce is not yet in accordance with Islamic principles, which is one of them because the policies between e-commerce are different. So it is necessary to harmonize the regulations of the zakat institution. Keywords: sharī'ah compliance; zakat fundraising; e-commerce. Abstrak: Fundrasing atau penggalangan dana zakat telah tersedia pada fitur-fitur e-commerce. Namun dengan perkembangan teknologi ini, muncul berbagai tantangan baru, terutama terkait kepatuhan sharī’ah. Dimana zakat sebagai kewajiban agama, pengelolaannya juga harus sesuai dengan prinsip-prinsip sharī’ah. Dengan demikian, latar belakang kajian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kepatuhan sharī’ah dapat terjamin dalam fundraising zakat melalui e- commerce. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan datanya berupa dokumentasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini menunujukkan bahwa praktik dasar fundrasing zakat melalui e-commerce yaitu dengan cara muzaki memilih jenis zakat yang akan diserahkan kepada mustahik melalui lembaga amil yang telah bermitra di paltform tersebut. Setelah dana zakat yang diperoleh dari e-commerce tersebut terkumpul, maka akan diserahkan kepada lembaga zakat untuk diberikan pada para mustahik sebagaimana ketentuan dalam sharī’ah Islam. Akan tetapi dalam hal kepatuhan sharī’ah yang dilihat dari terpenuhinya rukun dan syarat zakat, transparansi dan akuntabilitas, serta bebas dari unsur riba, fundrasing zakat melalui e-commerce belum sesuai dengan prinsip Islam, yang mana hal ini salah satunya karena kebijakan antar e-commerce berbeda-beda. Sehingga perlu penyelarasan peraturan dari lembaga zakat. Kata Kunci: kepatuhan sharī’ah; fundraising zakat; e-commerce.

Page 1 of 1 | Total Record : 6