cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2020)" : 9 Documents clear
Konsep Kenajiran di dalam Perjanjian lama dan Perjanjian Baru Refleksi dalam kisah Simson Kusmanto, Fransius
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.991 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i2.92

Abstract

The concept of alienation is the concept where God and humans have a special relationship to carry out His work. Alienation can be done by God himself to a certain person and responded to by the person concerned. People who commit Allah do it voluntarily without coercion from anyone. People who alienation to God do it voluntarily without coercion from anyone. This arises from a person's expression when his life struggle is answered by God. The Bible teaches this, both in the Old Testament and in the New Testament. The concept of alienations in the old covenant and the new covenant reflect Samson's life story. Today, Samson's exile is a lesson for many believers. Therefore to learn how the concept of elienation that exists in the Old Testament and the New Testament and its reflection in the story of Samson, the author uses Review Literature, the author examines using secondary sources through books, magazines or the internet. Based on research carried out, the concept of the elination in the New Testament and the Old Testament is a reflection of the story of Samson. All the abstinence and obligations in the Old and New Testaments are exactly the same as Samson's elination. If obedient it will get blessings and be used by God with extraordinary. If not, it will get harm or curse. The elination of Samson is also a lesson for the lives of believers today, which is still much to do, this can be seen from the lives of believers by dedicating themselves to serving God by distancing themselves from taboos. Everyone who commits alienations with God must do so with commitment and loyalty to God because God uses those who obey Him to the end.Abstrak Konsep kenaziran adalah konsep dimana Allah dan manusia memiliki hubungan khusus untuk melaksanakan karya-Nya. Kenaziran dapat dilakukan oleh Allah sendiri kepada orang tertentu dan diresponi oleh orang yang bersangkutan. Orang yang bernazir kepada Allah melakukannya dengan sukarela tanpa ada paksaan dari siapapun. Hal ini timbul dari ekspresi seseorang ketika pergumulan hidupnya di jawab oleh Allah. Alkitab mengajarkan hal ini, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Konsep nazir dalam perjanjian lama dan perjanjian baru merefleksikan kisah hidup Simson. Saat ini, kenaziran Simson menjadi pelajaran bagi banyak orang percaya. Maka itu untuk mengetahui bagaimana konsep kenaziran yang ada dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta refleksinya dalam kisah Simson, penulis menggunakan Review Literature, penulis mengkaji dengan menggunakan sumber-sumber sekunder yaitu melalui buku-bulku, majalah maupun internet. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, Konsep kenaziran yang ada dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama merupakan refleksi dari kisah Simson. Semua yang menjadi pantangan dan kewajiban dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sama persis dengan kenaziran Simson. Jika taat maka akan mendapat berkat dan dipakai Tuhan dengan luar biasa. Tetapi jika tidak maka akan mendapat celaka atau kutukan. Kenaziran yang dilakukan Simson juga menjadi pelajaran bagi kehidupan orang percaya zaman sekarang, yaitu masih banyak orang yang melakukannya, hal ini terlihat dari kehidupan orang percaya dengan mengabdikan diri melayani Tuhan dengan menjauhkan diri dari pantangan-pantangan yang ada. Setiap orang yang melakukan nazir dengan Allah harus melakukannya dengan komitmen dan kesetiaan kepada Allah sebab Allah memakai orang yang taat kepada-Nya sampai akhir.
Spiritualitas Doa Kontemplatif: Lebih Banyak Diseminarkan Daripada Dipraktikkan (Belajar Dari Praktik Spiritualitas Doa Kontemplatif Model Taize di Gereja Kristen Indonesia Soka Salatiga) Kristiantoro, Sony
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.434 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i2.87

Abstract

There are various definitions of prayer, including prayer as a breath of life for believers, and prayer as a means of communicating with God. However, not many of us understand about contemplative prayer. Contemplative prayer is a form of spiritual discipline, and many Christians lack of discipline. As a result of this lack of discipline in spirituality, they become lacking in spiritual insight, often even losing moral strength. Contemplative prayer is more often be discussed in seminars than practiced. Seminars are certainly necessary, but it is more important to practice the discipline of prayer in the lives of believers. For this reason, this article will try to explore the practice of contemplative prayer in the Indonesian Christian Church (GKI) in the city of Salatiga, as well as the forms of prayer spirituality that they practice and possess.AbstrakAda berbagai definisi tentang doa, di antaranya adalah doa sebagai nafas hidup bagi orang percaya, dan doa sebagai sarana berkomunikasi dengan Tuhan. Namun, tidak banyak dari kita yang memahami tentang doa kontemplatif. Doa kontemplatif merupakan salah satu bentuk disiplin spiritual, dan banyak orang Kristen yang kurang dalam disiplin. Akibat kekurangan disiplin dalam spiritualitas ini, mereka menjadi kekurangan wawasan spiritual, bahkan sering kehilangan kekuatan moral. Doa kontemplatif lebih sering diseminarkan daripada dipraktekkan. Seminar tentu perlu, tetapi lebih penting mempraktekkan disiplin doa dalam hidup orang percaya. Untuk itu, tulisan ini akan mencoba mengupas praktik doa kontemplatif di Gereja Kristen Indonesia (GKI) di kota Salatiga, serta bentuk spiritualitas doa yang mereka jalankan dan miliki.
Pengaruh Keuangan keluarga terhadap minat belajar Peserta didik Ermindyawati, Lilis; Tonga, Jois Umbu
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.779 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i2.93

Abstract

Family finances have an important role in education, family background must be considered so that the success of education is achieved optimally. If finances are sufficient, the material environment that students in their families face will be broader. In fact, the family has a very big responsibility and role in giving birth and forming a good and quality generation. Both parents have a duty to face their children where they must meet the needs of their children. Through a qualitative descriptive method with a literature study approach it can be concluded that. parents should pay more attention to the financial situation in the family and parents should improve education in the family environment to educate children about financial management such as managing pocket money, getting used to saving and instilling good attitudes and role models in money management and supporting children's education. And especially with good finances, it will also lead to something good, such as the fulfillment of educational facilities and meeting personal needs.AbstrakKeuangan keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, latar belakang keluarga harus di perhatikan agar keberhasilan pendidikan di capai secara maksimal.  Jika keuangan cukup, lingkungan material yang di hadapi mahasiswa-mahasiswi dalam keluarganya itu akan lebih luas. sesungguhnya keluarga mempunyai tanggung jawab dan peranan yang sangat besar dalam melahirkan dan membentuk generasi yang baik dan berkualitas kedua orang tua memiliki tugas yang di hadapkan anaknya dimana mereka harus memenuhi kebutuhan – kebutuhan anaknya.  Melalui metode deskritif kualitatif dengan pendekatan studi literatur dapat disimpulkan bahwa. orangtua supaya hendaknya lebih memperhatikan keadaan keuangan di keluarga dan hendaknya orang tua meningkatkan pendidikan di lingkungan keluarga untuk mendidik anak tentang pengelolaan keuangan seperti mengelola uang saku, membiasakan untuk menabung dan menanamkan sikap serta teladan yang baik pada anak dalam hal pengelolaan uang dan mendukung pendidikan anak. Dan terlebih dengan keuangan yang baik akan menimbulkan sesuatu yang baik pula, seperti terpenuhinya fasilitas pendidikan dan terpenuhinya kebutuhan pribadi.
Bahasa Roh Dalam Teologi Pantekosta Dan Implikasinya Bagi Hidup Orang Percaya Perangin Angin, Yakub Hendrawan; Yeniretnowati, Tri Astuti
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.373 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i2.88

Abstract

Today, many Christians claim to be able to use tongues that are obtained from the Holy Spirit. This has become a polemic in God's church from throughout the history of the church to the present. The problem of using tongues in worship meetings and its interpretation has become an ongoing problem and has not the least caused divisions among churches. Through research with analytical methods on a number of literature reviews, namely by analyzing tongues in Pentecostal theology and its implications for believers, the conclusion is that every believer must return to the correct understanding of the Bible and there must be maturity in fellowship with other Christians in order to function. and the purpose of gifts is devoted to building up God's church and for God's glory.Abstrak Saat ini banyak orang Kristen yang mengaku dapat menggunakan bahasa roh yang didapat dari Roh Kudus, Hal ini menjadi polemik dalam gereja Tuhan dari mulai sepanjang sejarah gereja sampai saat ini. Permasalahan penggunaan bahasa roh dalam pertemuan ibadah dan penafsirannya telah menjadi persoalan yang tidak kunjung selesai dan tidak sedikit menimbulkan perpecahan di antara gereja-gereja. Melalui penelitian dengan metode analisis terhadap sejumlah tinjauan pustaka, yaitu dengan cara menganalisis tentang bahasa roh dalam teologi Pentakosta dan implikasinya bagi orang percaya didapatkan kesimpulan bahwa setiap orang percaya harus kembali kepada pemahaman Alkitab yang tepat dan harus ada kedewasaan dalam bersekutu bersama umat Kristen lainnya agar fungsi dan maksud karunia dicurahkan untuk membangun gereja Tuhan dan bagi kemuliaan Tuhan.
Metode Pembelajaran Pemberian Tugas (Resitasi) Santoso, Antonia Eva Ambarwati
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.833 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i2.97

Abstract

Science and technology are getting faster, the more complex the lessons that must be delivered to students. In this case, the teacher must be able and required to be able to use learning methods properly, in accordance with the objectives, learning materials, tools and evaluation that have been set. Using descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that the advantages of the task-giving method (recitation) are to encourage students to carry out individual or group martial arts activities, train students to be responsible and always take advantage of their spare time. The weakness of the assignment method (recitation) is that the assignment submitted by students is difficult to know whether it is self-made or someone else's work, in group work there tends to be students who are only passive, if it is done too often it will cause boredom, and if the method giving this task is not well prepared it will cause gaps because of individual differences in students.AbstrakIlmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat, maka semakin kompleks pula pelajaran yang harus disampaikan kepada siswa. dalam hal inipun guru harus mampu dan dituntut untuk dapat menggunakan metode pembelajaran secara baik, sesuai dengan tujuan, bahan pelajaran, alat bantu dan evaluasi yang telah ditetapkan. Menggunkan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature, maka dapat disimpulkan bahwa Kelebihan dari metode pemberian tugas (resitasi) yaitu memberi semangat kepada para peserta didik dalam melakukan aktivitas belajar individual atau kelompok, melatih peserta didik untuk bertanggungjawab dan selalu memanfaatkan waktu luang mereka. Adapun kelemahan dari metode pemberian tugas (resitasi) yaitu tugas yang diserahkan oleh peserta didik sulit diketahui apakah itu buatannya sendiri atau buatan orang lain, dalam kerja kelompok cenderung ada siswa yang hanya pasif, jika terlalu sering dilakukan maka akan menimbulkan rasa jenuh, dan bila metode pemberian tugas ini tidak dipersiapkan dengan baik maka akan menimbulkan kesenjangan karena adanya perbedaan individu peserta didik.
Prinsip-Prinsip Penggembalaan Berhati Hamba Menurut 1 Petrus 5:2-3 dan Implikasinya bagi Pertumbuhan Jemaat Baskoro, Paulus Kunto
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.206 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i2.89

Abstract

The pastor of the congresgation is an important figure in the pastor of the church. Adminttedly or not, progressing or not, the church also depends on the pastoral system of the sidng pastors. Besides strongly believing in the Holy Spirit to be a very extraordinary Person in the movement of God’s church. However, a pastor’s heart is an important point fot the growth of God’s church. Is is undeniable that are some shepherds who only make pasture field a place of escape and a place for popularity, not by pastoring with my heart. My heart is an important point in this writing, because this is the essence of a shepherding. In this literature descriptive method, the writer does text excavation and observations using a lot of literature from various book sources. The source of the book is obtained from book or literature and various book sources. The source of the book is obtained from books or literature and various other writing such as the Bible in various language versions, book on pastoral care, leadership, church growth and orther supporting books related to the subejt. In extracting the text, te inductive method will be used. The inductive method is drawing conclusions based on specific circumstances for general needs. With thus method the authos studies 1 Peter 5:2-3 as a whole, then adds from orther books on the principles of pastoral care. The biggest objective in thus paper is Frist, every siding pastor is made aware of the trus function of being a shepherd. Second, shepherding the congregation with a servant’s heart is a pattern in shephersind. Third, the congregation has grown tremendously in its pastoral ministry.AbstrakGembala Sidang menjadi sosok penting dalam sebuah penggembalaan gereja. Diakui atau tidak, maju tidak gereja tergantung juga kepada system penggembalaan gembala siding. Selain sangat percaya Roh Kudus menjadi Pribadi yang sangat luar biasa dalam kegerakan gereja Tuhan. Namun hati seorang gembala menjadi point penting pertumbuhan gereja Tuhan. Tanpa dipungkiri ada beberapa gembala yang hanya menjadikan ladang penggembalaan sebagai tempat pelarian dan tempat untuk popularitas, bukan dengan menggembalakan dengan hati hamba. Hati hamba menjadi point penting penulisan ini, sebab inilah esensi dalam sebuah penggembalaan. Dalam metode diskriptif literatur ini, penulis melakukan penggalian teks dan pengamatan memakai banyak literatur dari berbagai sumber buku.  Sumber buku tersebut didapatkan dari buku-buku atau literatur dan berbagai tulisan yang lain seperti Alkitab dalam berbagai versi bahasa, buku tentang penggembalaan, kepemimpinan, pertumbuhan gereja serta buku-buku pendukung lainnya yang berkaitan dengan pokok bahasan.  Dalam penggalian teks akan di pakai metode induktif.  Metode induktif adalah penarikan kesimpulan berdasarkan keadaan yang khusus untuk diperlukan secara umum. Dengan metode ini penulis mempelajari 1 Petrus 5:2-3 secara keseluruhan, selanjutnya baru menambah dari buku lain mengenai prinsip-prinsip gembala sidang. Tujuan terbesar dalam penulisan ini adalah Pertama, setiap gembala siding disadarkan kembali fungsi yang sesungguhnya menjadi gembala. Kedua, menggembalakan jemaat dengan hati hamba menjadi pola dalam penggembalaan. Ketiga, jemaat makin bertumbuh dengan luar biasa dalam pelayanan penggembalaannya.
Penyesuaian Diri Terhadap Perubahan Fisik Pada Masa Dewasa Madya Laudika, Mariana
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.662 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i2.99

Abstract

Humans from infancy to late adulthood or the elderly have different characteristics and also have different developmental tasks. Especially individuals at middle adulthood, this age has a prominent character, namely the occurrence of changes in physical and psychological terms, The development of the times is increasingly rapid with increasingly sophisticated technology, makes it easier for humans to do everything even, can change the characteristics inherent in a things become new or can be referred to as updates or modifications. Using descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that there needs to be an adjustment made by people who have reached middle adulthood so that they do not have negative judgments or do not cause unhappiness or resentment towards the changes that occur in that person. It is very important for everyone to adjust themselves to be able to accept the realities of life in a positive way. For believers (Christians), it is necessary to have a scientifically and theologically correct understanding so that they do not view all forms of changes that occur as burdens or problems, but view them as God's plan, so that we can use this life as best as possible to glorify God. Because from the beginning everything has been determined in this way and God also works in all human conditions to bring goodness and teach humans to know God and all His works.AbstrakManusia mulai dari bayi hingga dewasa akhir atau lanjut usia memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan juga memiliki tugas perkembangan yang berbeda-beda pula. Khususnya individu pada usia dewasa madya, usia ini memiliki karakter yang menonjol yaitu terjadinya perubahan dalam hal fisik dan psikis, Perkembangan zaman yang semakin pesat dengan teknologi yang semakin canggih, mempermudah manusia untuk melakukan segala sesuatu bahkan, dapat mengubah ciri-ciri yang melekat pada suatu hal menjadi baru atau dapat disebut dengan istilah perbaharui atau modifikasi. Menggunkan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literatur maka didapat kesimpulan bahwa perlu adanya penyesuaian diri yang dilakukan oleh orang yang telah mencapai usia dewasa madya agar tidak memiliki penilaian negatif atau tidak menyebabkan ketidak bahagiaan atau kekesalan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri orang tersebut. Penyesuain diri sangat penting untuk dilakukan oleh semua orang agar dapat menerima realita kehidupan secara positif. Bagi orang percaya (Kristen), perlu memiliki pemahaman yang benar secara ilmiah dan teologis agar, tidak memandang segala bentuk perubahan yang terjadi sebagai beban atau masalah, tetapi memandang itu sebagai rencana Allah, agar kita menggunakan kehidupan ini sebaik-baiknya untuk mempermuliakan Allah. Karena sejak semula segala sesuatu telah ditetapkan demikian dan Allah juga turut bekerja dalam segala keadaan manusia untuk mendatangkan kebaikan dan mengajarkan manusia untuk mengenal Allah dan segala karya-Nya.
Relevansi Ajaran Kitab Maleakhi tentang Persembahan Persepuluhan Bagi Kehidupan Umat Kristen Masa Kini Pramono, Yonathan Wingit
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.156 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i2.90

Abstract

The tithe offering is still practiced differently today than in many churches. The meaning of tithe is different in terms of meaning and application or because the rules of the organization are different. While the offering of the tithe in the life of believers in the Christian faith today is something that is very little attention, it is therefore necessary to give an explanation and explanation to show the importance and role of this truth as a support for the Church in following God's commandments. This writing has the aim of providing theological exposure in the view of the Bible, theologians. In doing this writing, the method used is qualitative research by collecting primary data from the Bible and secondary data from literature reviews through journals, related books. The conclusion which is in the relevance of the teachings of the Book of Malachi about the tithe offering for the life of Christians today is that giving tithe offerings is a human duty to God, so that there is food in God's house (the Church) which means that there is physical food for the servants because of the duty of God's servants. preaching the word, digging, praying, fasting for service, Paying tithing without faith is futile, tithing cannot be traded as is the case today. It is true that there is no commandment to offer a tithe, but offering your body means more than anything else because it involves the whole of human life.AbstrakPersembahan persepuluhan dalam prakteknya sampai sekarang masih diterapkan secara berbeda dari banyak gereja. Arti persepuluhan dalam pengertian dan penerapan tidak sama atau karena aturan dari organisasi yang berbeda. Sedangkan persembahan persepuluhan di dalam kehidupan orang percaya dalam iman Kristen saat ini adalah sesuatu yang sangat kurang diperhatikan, maka daripada itu perlu diberikan pemaparan dan penjelasan untuk menunjukkan kepentingan dan peranan kebenaran ini menjadi satu pendukung pada Gereja di dalam mengikuti perintah Tuhan. Penulisan ini memiliki tujuan memberikan pemaparan secara teologis dalam pandangan Alkitab, para ahli teologi. Dalam melakukan penulisan ini metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan mengumpulkan data primer dari Alkitab dan data sekunder dari tinjauan pustaka melalui jurnal, buku-buku yang berkaitan. Kesimpulan yang dalam relevansi ajaran Kitab Maleakhi tentang persembahan Persepuluhan bagi kehidupan umat Kristen masa kini adalah memberikan persembahan persepuluhan, merupakan kewajiban manusia kepada Allah, supaya ada makanan dalam rumah Tuhan (Gereja) yang memiliki arti supaya ada makanan jasmani untuk para pelayan karena tugas hamba Tuhan memberitakan firman, menggali, berdoa, puasa untuk pelayanan, Membayar persepuluhan tanpa iman adalah sia-sia, persepuluhan tidak dapat diperdagangkan seperti terjadi pada masa kini. Memang tidak ada perintah mempersembahkan persepuluhan, tetapi mempersembahkan tubuhmu itu berarti lebih dari yang lainnya karena menyangkut seluruh kehidupan manusia.
Metode Penginjilan Paulus dalam Perspektif 1 Korintus 9:19-23 Terhadap Masyarakat Multikultural dan Implikasinya Terhadap Penginjilan di Indonesia Purba, Jhon Leonardo Presley; Saptorini, Sari
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.028 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i2.91

Abstract

Paul was the most successful and greatest missionary in the history of Christianity, his evangelistic ministry covered a wide area, so Paul met various multicultural community groups in the first century. This study aims to study the methods of the apostle Paul's evangelism in the perspective of 1 Corinthians 9: 19-23 on the multicultural society of the first century and its implications for contemporary evangelism in Indonesia. This research is a qualitative descriptive study with a hermeneutic and literature study approach. Through this research, the writer tries to answer research problems by looking for literature sources that are correlated and relevant to the research problem. Thematic and exegetical approaches are used to describe the theological-historical foundation of the Apostle Paul's method of evangelism in the perspective of 1 Corinthians 9: 19-2, then describe the implications for contemporary evangelism in Indonesia. The result of this research is that the contextual evangelism method "be the same as" Paul used in the multicultural society of the first century is very relevant to be applied in evangelism today in Indonesia. Indonesia is a multicultural country, so a cross-cultural contextual evangelism approach is very appropriate to do to reach Unreached People Groups, which are still widely available in Indonesia. This needs to be done in order to carry out the Great Commission of the Lord Jesus in Matthew 28: 18-20, so that all ethnic groups hear the gospel of salvation and become disciples of the Lord Jesus Christ.AbstractPaulus merupakan misionaris tersukses dan terbesar dalam sejarah Kekristenan, pelayanan penginjilannya meliputi wilayah yang luas, sehingga Paulus bertemu dengan berbagai kelompok masyarakat multikultural abad pertama. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian metode penginjilan rasul Paulus dalam perspektif 1 Korintus 9:19-23 terhadap masyarakat multikultural abad pertama dan implikasinya terhadap penginjilan masa kini di Indonesia. Penelitian ini merupakan kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literature dan hermeneutik. Melalui penelitian ini penulis berusaha menjawab permasalahan penelitian dengan mencari sumber-sumber literatur yang berkorelasi dan relevan dengan masalah penelitian. Pendekatan tematis dan eksegesis digunakan untuk mendeskripsikan landasan teologis-historis metode penginjilan Rasul Paulus dalam perspektif 1 Korintus 9:19-2, selanjutnya mendeskripsikan implikasinya terhadap penginjilan masa kini di Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa metode penginjilan kontekstual “menjadi sama seperti” yang digunakan Paulus pada masyarakat multikultural abad pertama sangat relevan untuk diterapkan dalam penginjilan pada masa kini di Indonesia. Indonesia merupakan negara multikultural, sehingga pendekatan penginjilan kontekstual lintas budaya sangat tepat dilakukan untuk menjangkau Unreached People Group yang masih banyak terdapat di Indonesia. Hal ini perlu dilakukan dalam rangka menjalankan Amanat Agung Tuhan Yesus dalam Matius 28:18-20, agar semua suku bangsa (etnis) mendengar Injil keselamatan dan menjadi murid Tuhan Yesus Kristus.

Page 1 of 1 | Total Record : 9