cover
Contact Name
Life Science
Contact Email
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Life Science
ISSN : 22526277     EISSN : 25285009     DOI : https://doi.org/10.15294/lifesci
Core Subject : Agriculture,
Life Science publishes original and significant articles on all aspects of Life Sciences (Biology, Genetics, Biological Anthropology, Botany, Medical Sciences, Veterinary Sciences, Biochemical Genetics, Biometry, Clinical Genetics, Cytogenetics, Genetic Epidemiology, Genetic Testing, Evolution and Population Genetics, Immunogenetics and Molecular Genetics). The journal also covers ethical issues. It aims to serve as a forum for life scientists and health professionals.
Articles 219 Documents
Keanekaragaman Spesies Ikan sebagai Bioindikator Kualitas Perairan di Sungai Kaligarang Kota Semarang Aprilliyani, Ela Puji; Rahayuningsih, Margareta
Life Science Vol 9 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i1.47135

Abstract

Kaligarang River Semarang City is one of the rivers with various activities around it. The purpose of this study was to analyze the quality of the waters of the Kaligarang River and the diversity of fish species as bio-indicators in the Kaligarang River, Semarang City. The method of this research was exploration by taking samples at five stations using a fishing net and fishing line. Fish obtained were identified species and counted the number of each species. Kaligarang waters quality is done by testing the parameters of temperature, pH, COD, current speed, and substrate base. The data obtained were analyzed by Margalef Wealth Index (Dmg), Shannon-Wiener diversity (H '), evenness index (E) and Simpson dominance index (C). Water quality measurements are carried out together when sampling. The results showed that there were five species of fish caught namely Oreochromis niloticus (nila), Cichlasoma labiatus (red devil), Barbodes schwanenfeldii (bader), Rasbora agryrataenia (wader), Pterygolichthys pardalis (sapu-sapu). The diversity index of fish species in the Semarang City Kaligarang River is below 3.5 (H '<3.5) and there is a predominant species, Oreochromis niloticus (nila) throughout the observation station. Water quality is within safe limits for temperature and pH parameters, while dissolved oxygen and COD parameters still below the limit Sungai Kaligarang Kota Semarang merupakan salah satu sungai dengan beragam aktivitas di sekitarnya. Tujuan penelitian adalah menganalisis kualitas perairan Sungai Kaligarang dan keanekaragaman spesies ikan sebagai bioindikator di Sungai Kaligarang Kota Semarang. Metode dalam penelitian ini adalah eksplorasi dengan pengambilan sampel di lima stasiun menggunakan jala tebar dan alat pancing. Ikan yang diperoleh diidentifikasi jenis serta dihitung jumlah individunya. Kualitas perairan Kaligarang dilakukan dengan pengujian parameter suhu, pH, COD, kecepatan arus, dan substrat dasar. Data yang diperoleh dianalisis dengan indeks Kekayaan Jenis Margalef (Dmg), keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), indeks kemerataan (E) dan indeks dominansi Simpson (C). Pengukuran kualitas perairan dilakukan bersama saat pengambilan sampel. Hasil penelitian menunjukkan ikan yang tertangkap ada lima spesies yaitu Oreochromis niloticus (nila), Cichlasoma labiatus (red devil), Barbodes schwanenfeldii (bader), Rasbora agryrataenia (wader), Pterygolichthys pardalis (sapu-sapu). Indeks keanekaragaman spesies ikan di Sungai Kaligarang Kota Semarang berada di bawah 3,5 (H’<3,5) dan terdapat spesies yang mendominasi yaitu Oreochromis niloticus (nila) di seluruh stasiun pengamatan. Kualitas perairan dalam ambang batas aman untuk parameter suhu dan pH, sedangkan parameter DO dan COD masih di bawah ambang batas
Komposisi Jenis Burung Pengunjung Ficus spp. di Kawasan Gunung Ungaran Jawa Tengah Febriyanto, Mahendra Noor; Abdullah, Muhammad; Tri Martuti, Nana Kariada; Priyono, Bambang
Life Science Vol 9 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i1.47136

Abstract

Ficus is a genus of woody plants belonged to the family Moraceae. There are about 72 species of Ficus on the Java island. Ficus has many benefits to the ecosystem, which one is the fruit of Ficus is a source of food for many animals (frugivores), especially birds. The purpose of this study was to determine the composition of bird species that visited several species of Ficus in the mount Ungaran. The method used in this research is the observation method. From the results of the preliminary survey, determined 6 species of fig as a sample tree to be observed. Observations were made at 06:00 - 10:00 and 15:00 - 17:00. Based on the results of the study, we found 28 species of birds from 16 families who visited fig. The observations showed four different bird activities, namely only perching, eating fruit, eating insects and eating both fruit and insects. The number of bird species of fig visitors consist of 7 species of birds only perching, 8 species eating insects, 11 species eating fruit and 2 species eating both fruit and insects Ficus merupakan salah satu genus dari tumbuhan berkayu yang termasuk dalam famili Moraceae. Terdapat sekitar 72 jenis Ficus di pulau Jawa. Ficus memiliki banyak manfaat terhadap ekosistem, salah satunya adalah buah dari Ficus merupakan sumber pakan bagi banyak satwa (frugivora) terutama burung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi jenis burung yang mengunjungi beberapa jenis Ficus di kawasan gunung Ungaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengamatan. Dari hasil survei pendahuluan, ditentukan 6 jenis Ficus sebagai pohon sampel untuk diamati. Pengamatan dilakukan pada pukul 06.00 – 10.00 dan 15.00 – 17.00. Berdasarkan hasil penelitian dijumpai 28 jenis burung dari 16 famili yang mengunjungi Ficus. Hasil pengamatan menunjukkan empat aktivitas burung yang berbeda, yaitu hanya bertengger, memakan buah, memakan serangga, serta memakan buah dan serangga. Jumlah jenis burung pengunjung Ficus terdiri atas 7 jenis burung hanya bertengger, 8 jenis memakan serangga, 11 jenis memakan buah, serta 2 jenis memakan buah dan serangga.
Struktur Komunitas Collembola di Perkebunan Kelapa Sawit Desa Jawa Tongah II Kecamatan Hatonduhan Kabupaten Simalungun Silaen, Srinatalia
Life Science Vol 9 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i1.47137

Abstract

Collembola is one of the soil mesofauna which is abundant in the soil which plays a major role in the food chain such as in the decomposition process of organic matter even though the role is played indirectly. The purpose of this study was to determine the evenness index, relative density, the relationship between physical & chemical factors of the environment around PTPN IV Tonduhan. The stages of this research method using random sampling, namely the Pitfal trap. The highest number of species in the Isotomidae family, namely Isotomiella sp. (17 ind) & Folsomides sp. (2ind). The highest number of individuals Isotomiella sp. (14 ind) family Isotomidae. Collembola community composition consists of 3 families & 4 species: Neanuridae (Lobella sp.), Brachystomellidae (Brachystomella sp.) & Isotomidae (Isotomiella sp. & Folsomides sp.), Collembola community structure. The highest density is in the litter location I (16 ind / m2) while the lowest density is in location III (3.56 ind / m2). The highest soil density is in location I (4,538.56 ind / m3) & the lowest density is in location III (789,761 ind / m3). The highest relative density is location III (100%) & the lowest relative density is found in location I (litter, 5.8%) & (soil, 8.9%). The highest Shannon-Wiener diversity index, both litter and soil, were found in location I (litter 1.28) & (soil, 1.38) and the lowest diversity index was found in location III (0). The highest similarity index for Sorensen was location III (75.71%) and the lowest was the comparison between locations II & I (20%). Collembola merupakan salah satu mesofauna tanah yang jumlahnya melimpah di dalam tanah berperan besar dalam rantai makanan seperti dalam proses dekomposisi bahan organik meskipun peranan dilakukan secara tidak langsung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui indeks kemerataan, kepadatan relatif, hubungan faktor fisik & kimia lingkungan sekitar PTPN IV Tonduhan. Tahapan metode penelitian ini menggunakan random sampling yaitu Pitfal trap. Jumlah spesies terbanyak famili Isotomidae yakni Isotomiella sp. (17 ind) & Folsomides sp. (2ind). Jumlah individu terbanyak Isotomiella sp. (14 ind) famili Isotomidae. Komposisi komunitas Collembola terdiri atas 3 famili & 4 spesies: famili Neanuridae (Lobella sp.), Brachystomellidae (Brachystomella sp.) & Isotomidae (Isotomiella sp. & Folsomides sp.), struktur komunitas Collembola Kepadatan tertinggi di serasah lokasi I (16 ind/m2) sedangkan kepadatan terendah di lokasi III (3,56 ind/m2). Kepadatan tertinggi di tanah lokasi I (4.538,56 ind/m3) & kepadatan terendah di lokasi lokasi III (789,761ind/m3). Kepadatan relatif tertinggi lokasi III (100%) & kepadatan relatif terendah ditemukan lokasi I (serasah, 5,8%) & (tanah, 8,9%). Indeks diversitas Shanon-Wiener tertinggi baik serasah maupun tanah sama-sama ditemukan lokasi I (serasah 1,28) & (tanah, 1,38) & indeks diversitas terendah sama-sama ditemukan lokasi III (0). Indeks similaritas Sorensen tertinggi lokasi III (75,71%) & terendah perbandingan antara lokasi II & I (20%).
PKM Perumahan Green Village, Kelurahan Ngijo, Gunungpati dalam Pertanian Perkotaan Dewi, Nur Kusuma; Tri Martuti, Nana Kariada; Hadiyanti, Lutfia Nur; Solichin, Solichin
Life Science Vol 9 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i1.47139

Abstract

Urban agriculture is a part of agriculture that produces, processes and markets agricultural products, especially meeting the daily demands of urban consumers. The purpose of this community service activity is to provide training and urban agricultural assistance for the Green Village community, to support the urban agricultural program being developed by the Semarang City Government and UNNES conservation. Community service activities were carried out at the Green Village Housing, Ngijo Village, Gunungpati District, Semarang, in May-August 2019. The problem solving of community service activities was carried out using a group-based and comprehensive approach method. Meanwhile, to overcome the priority issues faced is carried out by: Training and assistance to grow vegetables that are good and environmentally friendly, provision of seeds and plants that support urban agriculture, and provision of urban agricultural infrastructure. In accordance with the objectives to be achieved, the service activities are as expected. The success in achieving the objectives is shown as follows: coordination is carried out to equalize perceptions of the activities to be carried out. To further increase the capacity of the community in carrying out urban agriculture in their area, training and practice are provided on: planting various types of vegetables. In addition, partners are given various types of vegetable seeds that are easy to breed and cultivate. The conclusions of the activity are: increasing the knowledge and skills of community service partners on how to grow vegetables that are good and environmentally friendly, the availability of seeds and vegetable plants that support the implementation of urban agricultural activities in the community service partner's area, community service partners have carried out urban agricultural sarpras innovations in their areas properly and correctly Pertanian Perkotaan merupakan bagian dari pertanian yang memproduksi, memproses, dan memasarkan produk pertanian, terutama memenuhi permintaan harian konsumen di dalam perkotaan. Tujuan dari kegiatan pengabdian ialah melakukan pelatihan dan pendampingan pertanian perkotaan bagi masyarakat Green Village, untuk mendukung program pertanian perkotaan yang sedang dikembangkan oleh Pemkot Semarang dan konservasi UNNES. Kegiatan pengabdian dilakukan di Perumahan Green Village, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Semarang, pada Bulan Mei- Agustus 2019. Adapun pemecahan masalah dari kegiatan pengabdian dilakukan dengan metode pendekatan berbasis kelompok dan komprehensif. Sedangkan untuk mengatasi persoalan prioritas yang dihadapi dilakukan dengan: Pelatihan dan Pendampingan menanam sayuran yang baik dan ramah lingkungan, penyediaan bibit dan tanaman yang mendukung pertanian perkotaan, serta penyediaan sarpras pertanian perkotaan. Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, maka kegiatan pengabdian telah sesuai dengan yang diharapkan. Keberhasilan pencapaian tujuan ditunjukkan sebagai berikut: koordinasi dilakukan untuk menyamakan persepsi tentang kegiatan yang akan dilakukan. Untuk lebih meningkatkan kapasitas masyarakat dalam melakukan pertanian perkotaan di wilayahnya, diberikan pelatihan dan praktek tentang: penanaman berbagai jenis sayuran. Disamping itu kepada mitra diberikan berbagai jenis bibit sayuran yang mudah dikembang biakan dan dibudidayakan. Simpulan kegiatan ialah: meningkatnya pengetahuan dan keterampilan mitra pengabdian tentang cara menanam sayuran yang baik dan ramah lingkungan, tersedianya bibit dan tanaman sayuran yang mendukung terselenggaranya kegiatan pertanian perkotaan di wilayah mitra pengabdian, mitra pengabdian telah melakukan inovasi sarpras pertanian perkotaan di wilayahnya dengan baik dan benar
Analisis Optimasi Pemanfaatan Melati Gambir (Jasminum grandiflorum L.) di Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara Cahyati, Wahyu Nilam; Rahayu, Enni Suwarsi
Life Science Vol 9 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i1.47140

Abstract

Melati gambir is a commodity of the floriculture sub-sector of Banjarnegara Regency which is only cultivated in Rakit District. In the range of 2012-2017 the population declined, the lower the interest. The purpose of this research is to analyze efforts to optimize the use of melati gambir through the approval of traditional knowledge of the use of melati gambir; comparing it between gender and age; while analyzing factual use. The research was conducted in five villages in Rakit District in March 2018 and August 2019. Data were collected through semi-structured interviews, questionnaires and direct observation, then analyzed with nonparametric tests. The results showed that traditional knowledge about melati gambir was included in the high category with an average score (94%); The level of knowledge of the elderly is higher than that of adults and adolescents. In contrast, there is no difference in the level of knowledge between men and women; melati gambir by the community is low. The most widely used plant organs are flowers (70%). The community only uses 15.79% of the potential benefits that need to be done to optimize the use of melati gambir. Efforts that need to be done are 1) involving universities or research institutions to assess the potential benefits, 2) collaboration with the Banjarnegara Agriculture Office, investors, entrepreneurs and melati gambir traders associations for product development 3, socialization of utilization melati gambir in order to increase interest in melati gambir cultivation with involving government / private institutions Melati gambir merupakan komoditas sub-sektor florikultura Kabupaten Banjarnegara yang hanya dibudidayakan di Kecamatan Rakit. Dalam rentang tahun 2012-2017 populasinya semakin menurun disebabkan rendahnya minat budidaya akibat pemanfaatan yang kurang optimal. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis usaha untuk mengoptimalkan pemanfaatan melati gambir melalui identifikasi pengetahuan tradisional pemanfaatan melati gambir; membandingkannya antar gender dan umur; serta menganalisis pemanfaatan faktual. Penelitian dilakukan di lima desa di Kec. Rakit pada Maret 2018 dan Agustus 2019. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur, angket dan observasi langsung, kemudian dianalisis dengan uji nonparametrik. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan tradisional tentang melati gambir termasuk kategori tinggi dengan rerata skor (94%); Tingkat pengetahuan umur lansia lebih tinggi dibanding umur dewasa dan remaja. Sebaliknya, tidak ada perbedaan tingkat pengetahuan antara laki-laki dan perempuan; Tingkat pemanfaatan secara faktual melati gambir oleh masyarakat tergolong rendah. Organ tanaman yang paling banyak dimanfaatkan adalah bunga (70%). Masyarakat hanya memanfaatkan 15,79% dari potensi manfaat sehingga perlu dilakukan upaya optimasi pemanfaatan melati gambir. Upaya yang perlu dilakukan adalah 1) melibatkan perguruan tinggi atau lembaga penelitian untuk mengkaji potensi manfaat, 2) kerjasama dengan Dinas Pertanian Banjarnegara, investor, usahawan dan asosiasi pedagang melati gambir untuk pengembangan produk serta 3) sosialisasi pemanfaatan melati gambir kepada seluruh lapisan masyarakat di Kecamatan Rakit guna meningkatkan minat budidaya melati gambir dengan melibatkan pemerintah/lembaga swasta.
Kesesuaian Habitat Rusa Timor di PT. Taman Satwa Semarang Nurhayati, Irma; Partaya, Partaya; Priyono, Bambang
Life Science Vol 9 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i1.47141

Abstract

Timor deer (Cervus timorensis) is one of the endemic animals in Indonesia, whose natural distribution is found in Java, Sulawesi, Maluku and Nusa Tenggara. Timor deer has decreased in population due to habitat loss, habitat degradation, and hunting which causes its status to be vulnerable. Timor deer are conserved ex-situ at the PT. Taman Satwa Semarang. This study aims to assess the suitability of the habitat and welfare level management of Timor deer at PT. Taman Satwa Semarang. This research uses the method of observation and interview methods. Data analysis was carried out descriptively using evaluative comparison method with indicators of habitat suitability and level of animal welfare according to deer breeding requirements, predecessor research and Regulation of the Director General of PHKA Number: P. 6 / IV-SET / 2011. Results of the research on the suitability of the timor deer habitat were seen from the habitat conditions, reproduction and the level of animal welfare. The low birth rate of Timor deer at PT. Taman Satwa Semarang is thought to be due to a lack of feed, sex ratio and absence of marriage management. Animal welfare level at PT. Semarang Animal Park can be categorized as adequate, because there are still animal welfare components that need to be improved by the manager, especially the components that are free from thirst and hunger and free from fear and depression. Rusa timor (Cervus timorensis) merupakan salah satu satwa endemik di Indonesia yang persebaran alaminya terdapat di Pulau Jawa, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Rusa timor mengalami penurunan populasi akibat hilangnya habitat, degradasi habitat, dan perburuan yang menyebabkan statusnya rentan (vulnerable). Rusa timor dikonservasi secara ex-situ di Lembaga Konservasi PT. Taman Satwa Semarang. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji kesesuaian habitat dan manajemen tingkat kesejahteraan rusa timor di PT. Taman Satwa Semarang. Penelitian menggunakan metode observasi dan metode wawancara. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan metode perbandingan evaluatif dengan indikator kesesuaian habitat dan tingkat kesejahteraan satwa menurut syarat penangkaran rusa, penelitian pendahulu dan Peraturan Dirjen PHKA Nomor: P. 6/IV-SET/2011. Hasil penelitian kesesuaian habitat rusa timor dilihat dari kondisi habitat, reproduksi dan tingkat kesejahteraan satwa. Rendahnya angka kelahiran rusa timor di PT. Taman Satwa Semarang diduga akibat kurangnya jumlah pakan, sex-ratio dan tidak adanya manajemen perkawinan. Tingkat kesejahteraan satwa di PT. Taman Satwa Semarang dikategorikan cukup baik, dikarenakan masih terdapat komponen kesejahteraan satwa yang perlu diperbaiki pengelola khususnya komponen bebas dari rasa haus dan lapar serta bebas dari rasa takut dan tertekan
Efek Pemberian Ekstrak Kulit Buah Jeruk Bali (Citrus maxima) terhadap Kadar Glukosa Darah dan Kadar MDA Tikus Hiperglikemia Fadah, Isti; WH, Nugrahaningsih
Life Science Vol 9 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i1.47142

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disorder marked by increased blood glucose or hyperglycemia that occurs due to abnormality of insulin secretion, insulin work, or both. Diabetes mellitus condition caused excessive free radicals formation that damage pancreas beta cells. Antioxidant from flavonoid is known to overcome DM by preventing free radicals. Several studies reported that grapefruit rind extract content has antioxidant activity and may reduce the blood glucose level. This study aimed to analyze the effect of grapefruit rind extract to blood glucose and malondialdehyde (MDA) levels of white male rats with hyperglycemia. This study was an experimental study using a pretest-posttest with control group design. As many as 25 white male Wistar strain rats were divided into five treatment groups (the positive control was given metformin 150 mg/kgBB, the negative control was given no treatment, and the grapefruit rind extract treatment was given dosages of 125, 250, and 500 mg/kgBB. The data analysis was carried out using One Way ANOVA and Tukey HSD techniques. The study result shows that grapefruit rind extract provision differs significantly on blood glucose levels, but only slightly different on MDA levels. The study conclusion is that grapefruit rind extract provision on hyperglycemia white male rats causes the blood glucose level decrease, and has no effect on the MDA level. In this study, the effective dosage of grapefruit rind extract to decrease the blood glucose level is the 500 mg/kgBB dosage. Diabetes melitus (DM) adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin ataupun keduanya. Pada kondisi diabetes melitus mudah terjadi pembentukan radikal bebas yang berlebih sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada sel beta pankreas. Antioksidan yang berasal dari flavonoid diketahui dapat berperan mengatasi DM dengan menangkal radikal bebas. Beberapa penelitian melaporkan bahwa kandungan dalam ekstrak kulit buah jeruk bali memiliki aktivitas antioksidan dan dapat menurunkan kadar glukosa darah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efek pemberian ekstrak kulit buah jeruk bali terhadap kadar glukosa darah dan kadar malondialdehyde (MDA) tikus putih jantan yang mengalami hiperglikemia. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pretest and posttest with control group design. Sebanyak 25 ekor tikus putih jantan galur wistar dibagi dalam lima kelompok perlakuan (kontrol positif diberi obat metformin 150 mg/kgBB, kontrol negatif tidak diberi perlakuan, dan perlakuan ekstrak kulit buah jeruk bali dosis 125, 250, dan 500 mg/kgBB. Analisis data menggunakan teknik OneWay ANOVA dan Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kulit buah jeruk bali berbeda secara signifikan pada kadar glukosa darah, namun tidak berbeda signifikan pada kadar MDA. Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian ekstrak kulit buah jeruk bali pada tikus putih jantan hiperglikemia berpengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah dan tidak berpengaruh pada kadar MDA. Pada penelitian ini dosis ekstrak kulit buah jeruk bali yang efektif pada penurunan kadar glukosa darah adalah dosis 500 mg/kgBB
Phytochemical Analysis Of Babadotan Leaves Extract In Flour Beet Control Solechatun, Solechatun; Widiyaningrum, Priyantini
Life Science Vol 9 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i1.47143

Abstract

Tribolium castaneum is one of the warehouse insects that attack post-harvest products. More flour beetles are found in processed post-harvest products such as wheat flour and rice flour. this is because wheat flour has a higher protein content. This study aims to determine the effect of Ageratum conyzoides leaf extract in controlling flour beetles. The design of this study is a complete one-way random design. This study uses 5 different concentrations. Namely 0%, 25%, 50%, 75% and 100%. Babadotan leaf extract was macerated using 96% ethanol. There are 10 flour beetles. To determine the effect of babadotan leaf extract, this observation was carried out using a Y-olfactometer. In addition to knowing what anti-insecta compounds contained in babadotan leaf extract, the extract was analyzed by phytochemical analysis by GC-MS method. The results of the analysis of the effects of babdotan leaf extract were analyzed by Anova one-way statistics and advanced LSD test. One-way Anova results showed a difference in the effect of the concentration of babadotan leaf extract. increasing the amount of concentration shows different effects of repellent. Based on the results of the study, the use of 100% babadotan leaf extract concentration gives a high repellent effect in controlling flour beetles. Kumbang tepung (Tribolium castaneum) adalah salah satu serangga gudang yang menyerang produk pasca panen. Kumbang tepung lebih banyak ditemukan pada produk pasca panen yang sudah diolah seperti tepung gandum dan tepung beras. hal ini dikarenakan tepung gandum memiliki kandungan protein yang lebih tinggi. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dari ekstrak daun babadotan dalam mengendalikan kumbang tepung. Rancangan penelitian ini adalah rancangan acak lengkap satu arah. Penelitian ini menggunakan 5 konsentrasi yang berbeda. Yaitu 0%;25%;50%;75% dan 100%. Esktrak daun babadotan di maserasi dengan menggunakan etanol 96%. Kumbang tepung yang digunakan sebanyak 10 ekor. Untuk mengetahui efek dari ekstrak daun babadotan maka pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan olfaktometer bentuk Y. Selain itu untuk mengetahui senyawa anti insecta apa yang terkandung dalam ekstrak daun babadotan, maka ekstrak di analisis fitokimia dengan metode GC-MS. Hasil analisis efek ekstrak daun babdotan dianalisis statistika Anova satu arah dan uji lanjut BNT. Hasil Anova satu arah menunjukkan adanya perbedaan pengaruh konsentrasi ekstrak daun babadotan. pertambahan jumlah konsentrasi menunjukkan efek repelen yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan konsentrasi ekstrak daun babadotan seesar 100% memberikan efek repelen tinggi dalam mengendalikan kumbang tepung
Kemelimpahan Penggerek Batang Padi (Lepidoptera : Pyralidae dan Noctuidae) di Sawah Organik dan Anorganik Hadi, Mochamad
Life Science Vol 9 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i1.47144

Abstract

Rice stem borer is an insect pest (plant pests) that occurs throughout the year and is widespread in rice fields in Indonesia. The rice stem borer caterpillar (PBP) feeds on the growing point of the vegetative phase of the plant, causing symptoms of sundep. PBP caterpillars also eat the base of rice grains (generative phase), causing symptoms of outsides. PBP insects belong to the order Lepidoptera and the families Pyralidae and Noctuidae. Organic agriculture is considered to be more profitable than inorganic agriculture because the selling value of its products is higher, as well as because it does not use synthetic fertilizers and pesticides. Research on the abundance of PBP in organic rice fields using various methods is still not widely carried out. The research objective was to assess the abundance of PBP in organic and inorganic rice fields using various methods. The research was carried out on organic and inorganic rice fields with a rice-paddy-rice cropping pattern, by installing light traps, malaise traps diagonally and using a sweep net for adult PBP and making a square plot for adult PBP and eggs. The results showed that at the egg stage 2 PBP species were found, namely Scirpophaga incertulas (yellow PBP) and Sesamia inferens (pink PBP). Whereas in the adult stage, 4 PBP species were found, namely Schirpophaga incertulas, Schirpophaga innotata (white PBP), Sesamia inferens, Chilo auricilius (shiny PBP). In general, the most dominant and abundant type of PBP was yellow PBP, while other types of PBP were found in small numbers and occasionally. Penggerek batang padi adalah serangga OPT (organisme pengganggu tanaman) yang terdapat sepanjang tahun dan menyebar luas di persawahan di Indonesia. Ulat penggerek batang padi (PBP) memakan titik tumbuh tanaman fase vegetatif sehingga menimbulkan gejala sundep. Ulat PBP juga memakan pangkal bulir padi (fase generatif) sehingga menyebabkan gejala beluk. Serangga PBP termasuk dalam ordo Lepidoptera dan familia Pyralidae dan Noctuidae. Pertanian organik dinilai lebih menguntungkan dibanding pertanian anorganik karena nilai jual produknya lebih tinggi, juga karena tidak menggunakan pupuk dan pestisida sintetik. Penelitian kemelimpahan PBP di sawah organik dengan berbagai metode masih belum banyak dilakukan. Tujuan penelitian adalah mengkaji kemelimpahan PBP di sawah organik dan anorganik dengan menggunakan berbagai metode. Penelitian dilakukan pada sawah organik dan anorganik dengan pola tanam padi-padi-padi, dengan memasang light trap, Malaise trap secara diagonal dan menggunakan sweep net untuk PBP dewasa serta membuat plot kuadrat untuk PBP dewasa dan telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada stadia telur ditemukan 2 spesies PBP yaitu Scirpophaga incertulas (PBP kuning) dan Sesamia inferens (PBP merah jambu). Sedangkan pada stadia dewasa ditemukan 4 spesies PBP yaitu Schirpophaga incertulas, Schirpophaga innotata (PBP putih) , Sesamia inferens, Chilo auricilius (PBP berkilat). Secara umum jenis PBP yang paling dominan dan melimpah adalah PBP kuning, sedangkan jenis PBP yang lain, dijumpai dalam jumlah yang sedikit dan kadang-kadang
Optimasi Jenis dan Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh Serta Pencahayaan untuk Pertumbuhan Plantlet Phalaenopsis sp. Secara In Vitro Wakidah, Koriatun; Rahayu, Enni Suwarsi
Life Science Vol 9 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i1.47145

Abstract

Moon orchid is on of many oriental plant that have high economic value. Orchid seeds are difficult to germinate in the conventional way. Germination can be through plant tissue culture. Orchid growth produced by tissue cultures is enhanced by plant hormones and light intensity. The purpose of the reserch was to analyze the effects of the concentration of Napthalene acetic acid (NAA), Benzyl Amino Purin (BAP) and light intensity of the growth of the Phalaenopsis sp. This research was carried out using group randomized factorial design with three factors: light intensity (3400 lux, 4400 lux dan 5400 lux), NAA concentration (0.5 ppm; 1 ppm; 1.5 ppm) and BAP concentration (1 ppm; 1.5 ppm; 2 ppm) in Vacin and Went (VW) media and each bottle contained 5 plantlets and repeated as many as 2 repetitions. The parameters observed were the number of leaves, length, leaf width, number of roots, root length and level of chlorophyll of the leaf. Data were analyzed with three-way Anova and Duncan's Multiple Range Test. The results showed that The conentration of NAA hormone has significant effects on total chlorophyll levels. The conentration of BAP hormone does not significantly affect the growth of the plantlet. The light intensity was significant to the leaf width and the chlorophyll content. The interaction of 0.5 ppm NAA, 2 ppm BAP and light intensity 4400 lux produced the largest leaf. NAA 0,5 ppm was optimum to the chlorophyll content. The light intensity at 4400 lux was significant to the leaf width and the chlorophyll content. Anggrek bulan adalah salah satu tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Biji anggrek sulit berkecambah dengan cara konvensional. Perkecambahan dapat dilakukan melalui kultur jaringan tanaman. Pertumbuhan anggrek hasil kultur jaringan tanaman ini dipengaruhi oleh hormon pertumbuhan dan intensitas cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi Napthalene acetic acid (NAA), Benzyl Amino Purin (BAP) dan intensitas cahaya terhadap pertumbuhan anggrek Phalaenopsis sp. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok tiga faktor yaitu intensitas cahaya (3400 lux, 4400 lux dan 5400 lux), konsentrasi NAA (0,5 ppm; 1 ppm; 1,5 ppm) dan konsentrasi BAP (1 ppm; 1,5 ppm; 2 ppm) dalam media Vacin and Went (VW) dan setiap botol berisi 5 plantlet dan diulang sebanyak 2 ulangan. Parameter yang diamati adalah jumlah daun, panjang daun, lebar daun, jumlah akar, panjang akar, dan kadar klorofil total daun. Data dianalisis dengan Anava tiga jalur dan Duncan’s Multiple Range Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi hormon NAA berpengaruh signifikan terhadap kadar klorofil total, hormon BAP tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan, intensitas cahaya berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan lebar daun dan kadar klorofil total. Interaksi 0,5 ppm NAA, 2 ppm BAP pada intensitas cahaya 4400 lux berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan lebar daun. Hormon NAA 0,5 ppm optimal terhadap kadar klorofil total, intensitas cahaya 4400 lux optimal terhadap pertumbuhan lebar daun, dan kadar klorofil total anggrek bulan

Page 10 of 22 | Total Record : 219