cover
Contact Name
Life Science
Contact Email
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Life Science
ISSN : 22526277     EISSN : 25285009     DOI : https://doi.org/10.15294/lifesci
Core Subject : Agriculture,
Life Science publishes original and significant articles on all aspects of Life Sciences (Biology, Genetics, Biological Anthropology, Botany, Medical Sciences, Veterinary Sciences, Biochemical Genetics, Biometry, Clinical Genetics, Cytogenetics, Genetic Epidemiology, Genetic Testing, Evolution and Population Genetics, Immunogenetics and Molecular Genetics). The journal also covers ethical issues. It aims to serve as a forum for life scientists and health professionals.
Articles 219 Documents
Etnobotani Tumbuhan Obat yang Dimanfaatkan oleh Masyarakat Desa Samata Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan Wahidah, Baiq Farhatul; Husain, Fadly
Life Science Vol 9 No 2 (2020): November 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i2.47148

Abstract

Traditional medicine has long been known by our ancestors and transmitted from generation to generation. The traditional medicine knowledge is feared will be extinct because it is not well documented. The purpose of this research is to analyze the species of medicinal plants used by the Samata community, Somba Opu District, Gowa Regency, South Sulawesi. Data were collected through interviews with selected informants such as sanro or dukun kampung (traditional healer) and individual who used medicinal plants. Data were also obtained through observation by observing some of the daily activities of the community. In this study found 26 species of plants that are used to treat various diseases: Momordica charantia, Psidium Guadjava, Jatropha curcas ,Citrus aurantifolia swingle, Aneratum conizoides, Kalanchoe blossfeldiana, Anona muricata, Aloe vera, Curcuma zedoaria, Curcuma domestica, Cocos nucifera, Alium sativum, Allium cepa, Ocimum basilicum,Mimosa pudica, Myristica fragrans, Moringa oleifera, Piper betle L., Eugenia aperculata, Alpinia purpurata , Zingiber officinale, Kaempferia galanga L., Musa paradisiacal L., Cucumis sativus L., Carica papaya, Morinda citrifolia. The parts of medicinal plants used are leaves, fruits, tubers and rhizomes. The way of processing in the utilization of medicinal plants as traditional medicineare: boiled, crushed, chewed, grated and squeezed to get the substance, and burned. Medicinal plants can be consumed solelyor combined with other plants or materials. Pengobatan tradisional sudah lama dilakukan oleh nenek moyang kita sejak jaman dahulu dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Tetapi pada umumnya pengetahuan tersebut tidak terdokumentasi sehingga dikhawatirkan akan terkikis seiring dengan perkembangan zaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis jenis- jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Samata, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan informan terpilih seperti dukun kampung, masyarakat pengguna tumbuhan obat, dan mengikuti sebagian aktivitas harian penduduk, serta observasi lapangan. Tercatat 26 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan untuk mengobati berbagai macam penyakit yaitu Momordica charantia, Psidium Guadjava, Jatropha curcas, Citrus aurantifolia swingle, Aneratum conizoides, Kalanchoe blossfeldiana, Anona muricata, Aloe vera, Curcuma zedoaria,Curcuma domestica, Cocos nucifera, Alium sativum, Allium cepa, Ocimum basilicum, Mimosa pudica, Myristica fragrans, Moringa oleifera, Piper betle L., Eugenia aperculata, Alpinia purpurata , Zingiber officinale, Kaempferia galanga L., Musa paradisiaca L., Cucumis sativus L., Carica papaya, dan Morinda citrifolia. Organ tumbuhan obat yang dipergunakan adalah daun, buah, umbi lapis, dan rimpang. Adapun cara pengolahan dalam pemanfaatan tumbuhan obat sebagai obat tradisional yaitu antara lain: direbus, ditumbuk, dikunyaharut lalu diperas, serta dibakar. Ramuan ada yang bersifat tunggal, tetapi lebih banyak dicampur atau dikombinasikan dengan tumbuhan atau bahan lain.
Kekayaan Jenis, Distribusi, dan Hubungan Kekerabatan Bambu di Cagar Alam Kecubung Ulolanang (CAKU) Batang Adriani, Lia Rahmi; Partaya, Partaya
Life Science Vol 9 No 2 (2020): November 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i2.47155

Abstract

Bamboo has various benefits, both economically and ecologically. Research on bamboo in CAKU has never been done, it is necessary to do research related to species richness, distribution and kinship relationships. The purposes of this research are to identify species, analyze distribution maps and determine bamboos kinship relationships. Research is useful to provide information of bamboos in CAKU to community, BKSDA of Central Java and other researchers. The data collection used the observation method. Species and number of individual data were analyzed qualitatively and quantitatively, determined descriptions, distribution maps, weights at each OTUs, analyzed Margalef species wealth index, Pearson correlation and Cluster analysis. Types of bamboos found included: Gigantochloa apus, Bambusa blumeana, Bambusa vulgaris var. vulgaris, Bambusa vulgaris var. striata, Gigantochloa atriviolaceae, Dendrocalamus asper, Schizostachyum sp, and Schizostachyum silicatum. The bamboo species wealth indexs in all Phase Alternation Line (PAL) falls into the bad category, because it has a value of <2.5. Eight types of bamboos in CAKU are found in 66 PALs. The largest distribution of bamboo is apus bamboo, and the narrowest are gading and wulung bamboos. The closest bamboos kinship is ampel with gading bamboos, while the furthest is ori bamboo with gading and ampel bamboos Bambu memiliki berbagai manfaat, baik secara ekonomi maupun ekologis. Penelitian mengenai bambu di CAKU belum pernah dilakukan, sehingga perlu penelitian terkait kekayaan jenis, distribusi, dan hubungan kekerabatan bambu. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi jenis, menganalisis peta distribusi, dan menentukan hubungan kekerabatan bambu. Penelitian bermanfaat untuk memberikan informasi terkait bambu di CAKU kepada masyarakat, BKSDA Jawa Tengah, dan peneliti lainnya. Pengambilan data menggunakan metode observasi. Data jenis dan jumlah individu dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif, ditentukan deskripsi, peta distribusi, bobot pada setiap OTUs, dan dianalisis indeks kekayaan jenis Margalef, korelasi Pearson dan analisis Cluster. Jenis bambu yang ditemukan meliputi: Gigantochloa apus, Bambusa blumeana, Bambusa vulgaris var. vulgaris, Bambusa vulgaris var. striata, Gigantochloa atriviolaceae, Dendrocalamus asper, Schizostachyum sp, dan Schizostachyum silicatum. Nilai indeks kekayaan jenis (Dmg) bambu di semua Phase Alternation Line (PAL) masuk ke dalam kategori buruk, karena bernilai < 2,5. Delapan jenis bambu di CAKU ditemukan di 66 PAL dari 92 PAL yang tersedia. Indeks Kekayaan Jenis tertinggi terdapat pada PAL 66, yaitu sebesar 0,868. Distribusi bambu terluas adalah bambu apus, distribusi bambu tersempit adalah bambu gading dan bambu wulung. Hubungan kekerabatan bambu terdekat adalah bambu ampel dengan bambu gading, sedangkan hubungan kekerabatan bambu terjauh adalah bambu ori dengan bambu gading dan bambu ampel
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Produktivitas Karika Dieng (Vasconcellea pubescens A. DC.). Ainun Najib, Mega Rifqi; Rahayu, Enni Suwarsi
Life Science Vol 9 No 2 (2020): November 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i2.47156

Abstract

Karika dieng (Vasconcellea pubescens A. DC) is a plant only grown in Dieng Plateau, the district of Kejajar, Wonosobo Regency, Central Java and has a high economic potential. In the last five years the productivity of karika dieng tends to decline. It is therefore necessary to do research to identify factors affecting the decline in the productivity of karika dieng. This research is a quantitative descriptive study with an explanatory design. The research population is a community in five villages, the district of Kejajar. Samples as much as 108 people were taken in proportional random sampling. Independent variables examined are perception of karika dieng, number of trees owned cultivation techniques that include nursery, fertilization, irrigation, control of crop destruction organisms or the community's pest and the economic value of the karika dieng. Dependent variables are the productivity of the karika dieng each respondent. Data collected with interview and poll techniques. Data was analyzed with multiple linear regression using the SPSS 20.0 application. Results showed simultaneously all the productivity factors studied significantly. Partial factors affecting productivity are the number of trees, seedling techniques, OPT-control techniques, and economic value. Based on these results it is advisable that local governments optimalize community enrollement in improving productivity through socialization; organizing the training, visits to the processing industry, mass-planting, festival procurement and expo; as well as intensification of the karika dieng farmer role Karika dieng (Vasconcellea pubescens A.DC) adalah tanaman yang hanya tumbuh di dataran tinggi Dieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah dan memiliki potensi ekonomi tinggi. Dalam lima tahun terakhir produktivitas karika dieng cenderung menurun. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan produktivitas karika dieng. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain eksplanatori. Populasi penelitian adalah masyarakat di lima desa, Kecamatan Kejajar. Sampel sebanyak 108 orang diambil secara proportional random sampling. Variabel independen yang diteliti adalah: persepsi terhadap karika dieng, jumlah pohon yang dimiliki, teknik budidaya yang meliputi pembibitan, pemupukan, pengairan, pengendalian organisme pengganggu tanaman atau OPT yang dilakukan masyarakat, dan nilai ekonomi karika dieng. Variabel dependen adalah produktivitas karika dieng setiap responden. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara dan angket. Data dianalisis dengan regresi linier berganda menggunakan aplikasi SPSS 20.0. Hasil menunjukkan secara simultan semua faktor produktivitas yang diteliti berpengaruh signifikan. Secara parsial faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas adalah jumlah pohon, teknik pembibitan, teknik pengendalian OPT, dan nilai ekonomi. Berdasar hasil tersebut disarankan pemerintah setempat mengoptimalkan keterlibatan masyarakat dalam peningkatan produktivitas melalui sosialisasi; penyelenggaraan pelatihan, kunjungan ke industri pengolahan, penanaman massal, pengadaan festival dan expo; serta mengintensifikan peran kelompok tani karika dieng
Effects of Light for Callus Induction of Mangrove Plant (Rhizophora Apiculata Bi) by In Vitro I’anatushshoimah, I’anatushshoimah; Nurchayati, Yulita; Prihastanti, Erma; Hastuti, Rini Budi
Life Science Vol 9 No 2 (2020): November 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i2.47157

Abstract

Initiation of Rhizophora apiculata BI propagation in vitro can be done by callus culture. Induction of mangrove callus has the problem of browning emergence. The phenomenon of browning can be overcome by limiting the treatment of light. The purpose of this research were to study the effect of light duration on callus growth, to understand the duration of light treatment that can spur the optimal callus growth, and to understand the effect of the light treatment on the browning event. The explants used were leaf grown in Murashige and Skoog (MS) medium with addition of NAA 1 ppm, BAP 0.3 ppm and activated charcoal 12 g / l. The treatments included 24 hour dark treatment, 24 hours light, dark 16 hours light 8 hours, light 8 hours dark 16 hours with 4 repetitions each. The results showed that the light treatment could induce callus formation while 24 hour dark treatment could reduce browning. All explant grown in conditions exposed to light and dark spewn exudate. The best callus growth (0.1939 g) was obtained in the T16G8 treatment (light 16 hours, dark 8 hours) with the time of the emergence of callus 6 DAP. Research about tissue culture with mangrove plants is rarely conducted because of high browning possibility. Thus, the novelty of this research lies upon the process of browning prevention using light duration treatment so browning could be prevented and mangrove culture could produce callus. Inisiasi perbanyakan Rhizophora apiculata BI secara in vitro dapat dilakukan dengan kultur kalus. Induksi kalus mangrove memiliki masalah munculnya kecoklatan. Fenomena pencoklatan bisa diatasi dengan membatasi perawatan cahaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh lama pencahayaan terhadap pertumbuhan kalus, mengetahui lama perlakuan cahaya yang dapat memacu pertumbuhan kalus yang optimal, dan mengetahui pengaruh perlakuan cahaya terhadap kejadian pencoklatan. Eksplan yang digunakan adalah daun yang ditanam pada media Murashige dan Skoog (MS) dengan penambahan NAA 1 ppm, BAP 0,3 ppm dan arang aktif 12 g / l. Perlakuan tersebut meliputi perlakuan gelap 24 jam, terang 24 jam, terang gelap 16 jam 8 jam, terang 8 jam gelap 16 jam dengan masing-masing 4 pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan cahaya dapat menginduksi pembentukan kalus sedangkan perlakuan gelap 24 jam dapat mengurangi pencoklatan. Semua eksplan tumbuh dalam kondisi terpapar eksudat yang dimuntahkan terang dan gelap. Pertumbuhan kalus terbaik (0,1939 g) diperoleh pada perlakuan T16G8 (terang 16 jam, gelap 8 jam) dengan waktu munculnya kalus 6 HST. Penelitian tentang kultur jaringan dengan tanaman mangrove jarang dilakukan karena kemungkinan kecoklatannya tinggi. Dengan demikian, kebaruan dari penelitian ini terletak pada proses pencegahan pencoklatan menggunakan perlakuan durasi yang ringan sehingga pencoklatan dapat dicegah dan kultur mangrove dapat menghasilkan kalus.
Analisis Cemaran Logam Berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) Dalam Daging Ikan Kakap Merah (Lutjanus sp.) Di TPI Kluwut Brebes Haryanti, Endang Tris; Tri Martuti, Nana Kariada
Life Science Vol 9 No 2 (2020): November 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i2.47158

Abstract

Red snapper (Lutjanus sp.) is fish that has a high selling value in TPI Kluwut Brebes and widely consumed by the public. Along with the rapid growth rate of development in all fields, it allows humans to utilize various types of chemicals, one of which is heavy metals for their daily needs. Previous research shows that waters in Indonesia have been contaminated with heavy metals, 2 of which are lead and cadmium. This research was conducted in August 2019 which aims to determine the amount of heavy metal content contained in red snapper meat. Samples used 9 fish weighing ±1 kg/fish taken 3 fish every week and analyzed using Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). The results showed Pb and Cd content that accumulated in red snapper meat in 3 times the repetitionobtained results, 0,0198; 0,0939 and 0,0597 mg/kg for Pb and 0,0540; 0,09535 and 0,0598 mg/kg for Cd. These results indicate Pb and Cd metal content in red snapper meat taken from TPI Kluwut Brebes is still below the quality standard set according Peraturan Kepala BPOM RI No.5 Tahun 2018 is 0,20 mg/kg for Pb and 0,10 mg/kg for Cd. Ikan kakap merah (Lutjanus sp.) merupakan ikan yang memiliki nilai jual yang tinggi di TPI Kluwut Brebes dan banyak dikomsumsi oleh masyarakat. Seiring dengan pesatnya laju pertumbuhan pembangunan disegala bidang, memungkinkan manusia memanfaatkan berbagai jenis bahan kimia salah satunya logam berat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa perairan di Indonesia telah tercemar logam berat, 2 diantaranya timbal (Pb) dan kadmium (Cd). Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2019 bertujuan untuk mengetahui jumlah kadar logam berat yang terkandung dalam daging ikan kakap merah. Sampel yang digunakan sebanyak 9 ekor dengan berat ±1 kg/ekor yang diambil 3 ekor setiap minggu dan dianalisis menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Hasil penelitian menunjukkan kandungan Pb dan Cd yang terakumulasi dalam daging ikan kakap merah dalam 3 kali waktu pengulangan memperoleh hasil yaitu 0,0198; 0,0939 dan 0,0597 mg/kg untuk Pb dan 0,0540; 0,09535 dan 0,0598 mg/kg untuk Cd. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kandungan Pb dan Cd dalam daging ikan kakap merah yang diambil dari TPI Kluwut Brebes masih berada di bawah batas baku mutu yang ditetapkan sesuai Peraturan Kepala BPOM RI No.5 Tahun 2018 yaitu 0,20 mg/kg untuk Pb dan 0,10 mg/kg untuk Cd.
Pengaruh Nikotin dalam Rokok Elektrik Terhadap Kadar MDA dan SOD pada Darah Tikus Nufus, Izzatun; Lisdiana, Lisdiana; Marianti, Aditya; Peniati, Endah
Life Science Vol 9 No 2 (2020): November 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i2.47159

Abstract

Electric cigarettes are cigarettes that operate with battery power to burn liquids to produce steam. One ingredient of electric cigarettes that is the same as that in tobacco cigarettes is nicotine. Nicotine is a substance that can cause a person to become addicted, so if a person consumes continuously the body can experience oxidative stress. This is indicated by an increase in MDA levels and a decrease in SOD levels. This study aims to determine the effect of nicotine in e-cigarettes on MDA and SOD levels in blood. The study was conducted on 30 male white rats of the Wistar strain divided into 5 groups, namely the control group (-), control (+), KP1 (electric cigarette with nicotine 3mg) and KP2 (electric cigarettes with nicotine 6mg), and KP3 (cigarettes electric with nicotine 9mg) and exposure to cigarette smoke for 30 days. Data were analyzed by non parametric kruskal wallis and Man Whiteney tests for MDA levels and one way anova test and LSD further testing for SOD levels. The results of the statistical analysis showed that MDA and SOD levels in the control group (-) were significantly different from all groups. The conclusion of this study is that nicotine has an effect on increasing MDA levels and decreasing SOD levels. Rokok elektrik merupakan rokok yang beroperasi dengan tenaga baterai untuk membakar cairan sehingga menghasilkan uap. Salah satu kandungan dari rokok elektrik yang sama dengan yang ada di rokok tembakau adalah nikotin. Nikotin merupakan suatu zat yang dapat menyebabkan seseorang menjadi kecanduan, sehingga jika seseorang mengonsumsi terus menerus maka tubuh dapat mengalami stress oksidatif. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan kadar MDA dan penurunan kadar SOD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nikotin dalam rokok elektrik terhadap kadar MDA dan SOD pada darah. Penelitian dilakukan pada 30 ekor tikus putih jantan galur Wistar yang dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol (-), kontrol (+), KP1 (rokok elektrik dengan nikotin 3mg) dan KP2 (rokok elektrik dengan nikotin 6mg), dan KP3 (rokok elektrik dengan nikotin 9mg) dan paparan asap rokok selama 30 hari. Data dianalisis dengan uji non parametric kruskal wallis dan Man Whiteney untuk kadar MDA dan uji one way anova dan uji lanjut LSD untuk kadar SOD. Hasil analisis statistik menunjukkan kadar MDA dan SOD pada kelompok kontrol (-) berbeda nyata dengan semua kelompok. Simpulan dari penelitian ini adalah nikotin berpengaruh pada peningkatan kadar MDA dan penurunan kadar SOD
Pengaruh Ekstrak Kulit Lidah Buaya Terhadap Kadar Gula Darah Dan Gambaran Histopatologi Pankreas Tikus Yang Diinduksi Aloksan Setiadi, Eka; Peniati, Endah; R. Susanti, R. Susanti
Life Science Vol 9 No 2 (2020): November 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i2.47160

Abstract

Diabetes mellitus is caused because the pancreas does not produce enough insulin or insulin resistance occurs. As a result, the concentration of glucose in the blood increases (hyperglycemia). Aloe vera extract (EKLB) contains active compounds (flavonoids, alkaloids, tannins, saponins, and phenolics), which have the potential to reduce blood sugar levels (KGD) and improve the histopathology of rat pancreas. This study aims to determine the effect of aloe vera skin extract on decreasing blood sugar levels and improve histopathology of rat pancreas induced by alloxan. This research is an experimental study using a randomized design complete with Randomized Design Post Test. A total of 25 rats were divided into 5 groups, namely K (-) normal groups who were fed standard food and drink. K (+) positive control group induced by alloxan 120 mg / kgBB. KP I, KP II and KP III were alloxan induced groups of 120 mg / kgBB and were treated with EKLB with doses of 87.5, 175 and 350 mg / kgBB respectively. The treatment was carried out for 28 days. Blood glucose levels were measured on day 0 as preliminary data, then on days 4-7 after induction. On the 29th day measured the KGD of the rat after EKLB treatment and made histopathological preparations for rat pancreas. The KGD data obtained were tested with one way Anova with a 95% confidence level followed by the Tukey HSD test. While the data from pancreatic histopathology observation were tested using Kruskal-Wallis and continued with Mann-Whitney. The results of the statistical test showed that the KGD and pancreatic histopathology picture of the K (+) group were significantly different from the treatment group. In the KP III group had KGD and pancreatic histopathology was not significantly different from K (-). It can be concluded that the administration of aloe vera skin extract for 28 days in hyperglycemic rats had an effect on KGD and histopathology of rat pancreas. Diabetes melitus disebabkan karena pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau terjadi resistensi insulin. Akibatnya konsentrasi glukosa di dalam darah meningkat (hiperglikemia). Ekstrak kulit lidah buaya (EKLB) memiliki kandungan senyawa aktif (flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan fenolik), yang berpotensi menurunkan kadar gula darah (KGD) dan memperbaiki gambaran histopatologi pankreas tikus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak kulit lidah buaya terhadap penurunan kadar gula darah dan memperbaiki gambaran histopatologi pankreas tikus yang diinduksi aloksan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap dengan Post Test Randomized Design. Sebanyak 25 ekor tikus dibagi 5 kelompok, yaitu K (-) kelompok normal yang diberi makan dan minum standar. K (+) kelompok kontrol positif yang diinduksi aloksan 120 mg/kgBB. KP I, KP II dan KP III adalah kelompok yang diinduksi aloksan 120 mg/kgBB dan diberi perlakuan EKLB dengan dosis berturut-turut 87,5, 175 dan 350 mg/kgBB. Perlakuan dilakukan selama 28 hari. Kadar glukosa darah diukur pada hari ke-0 sebagai data awal, kemudian pada hari ke 4-7 setelah induksi. Pada hari ke-29 mengukur KGD tikus setelah perlakuan EKLB dan membuat preparat histopatologi pankreas tikus. Data KGD yang diperoleh diuji dengan one way Anova dengan taraf kepercayaan 95% dilanjut dengan uji Tukey HSD. Sedangkan data hasil pengamatan histopatologi pankreas diuji menggunakan Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan Mann-Whitney. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa KGD dan gambaran histopatologi pankreas kelompok K (+) berbeda nyata dengan kelompok perlakuan. Pada kelompok KP III memiliki KGD dan gambaran histopatologi pankreas tidak berbeda nyata dengan K (-). Dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak kulit lidah buaya selama 28 hari pada tikus hiperglikemia berpengaruh KGD dan gambaran histopatologi pankreas tikus.
Uji Aktivitas Antibakteri Glutathion terhadap Infeksi P. aeruginosa secara In Vitro Elissa, Intan Ayu; Mustikaningtyas, Dewi; Yuniastuti, Ari
Life Science Vol 9 No 2 (2020): November 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i2.47161

Abstract

Pseudomonas aeruginosa is a gram negative bacterium that is pathogens opportunistic and the cause of nosocomial infections. P. aeruginosa is resistant to antibiotics that are often given. The aim of this study is to prove the presence of antibacterial activity of isolated glutathione from S. cerevisiae on P. aeruginosa infection. The design of this study is a completely randomized design. The variation concentration used was 100%, 75% and 50%. The parameters observed were inhibition zone diameter, turbidity level and the presence or absence of growth in MHA media. The results showed that the diameter of the largest inhibition zone was found at a concentration of 100% which was 7.88 mm and included a moderate inhibition criteria. The clearest solution after 24 hours incubation is a solution with an isolated glutathione concentration of S. cerevisiae 100%. While when inoculated into MHA media, all concentrations still produce P. aeruginosa growth. It means that the isolated glutathione from S. cerevisiae is bacteriostatic. Based on the results of these studies, it can be concluded that the isolation of glutathione from S. cerevisiae has antibacterial activity against P. aeruginosa so that can be used as an alternative treatment for P. aeruginosa infection. Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri gram negatif yang bersifat patogen oportunistik dan penyebab infeksi nosokomial. P. aeruginosa resisten terhadap antibiotik yang sering diberikan. penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya aktivitas antibakteri dari glutathion hasil isolasi dari S. cerevisiae terhadap infeksi P. aeruginosa. Rancangan penelitian ini adalah rancangan acak lengkap. Variasi konsentrasi yang digunakan adalah 100%, 75% dan 50%. Parameter yang diamati adalah diameter zona hambat, tingkat kekeruhan dan ada tidaknya pertumbuhan pada media MHA. Hasil penelitian menunjukan bahwa diameter zona hambat paling luas terdapat pada konsentrasi 100% yaitu 7,88 mm dan termasuk kriteria penghambatan sedang. Larutan yang jernih setelah inkubasi 24 jam adalah larutan dengan konsentrasi glutathion hasil isolasi dari S. cerevisiae 100%. Sedangkan ketika diinokulasikan ke media MHA, semua konsentrasi masih menghasilkan pertumbuhan P. aeruginosa. Hal tersebut berarti glutathion hasil isolasi dari S. cerevisiae bersifat bakteriostatik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa glutathion hasil isolasi dari S. cerevisiae memiliki aktivitas antibakteri terhadap P. aeruginosa. Sehingga, glutathion hasil isolasi dari S.cerevisiae dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan terhadap infeksi P. aeruginosa.
Kadar Bioetanol Kulit Mangga (Mangifera indica) Dengan Perlakuan Enzim Selulase dari Trichoderma reesei dan Aspergillus niger Widyaningrum, Trianik; Parahadi, Masreza
Life Science Vol 9 No 2 (2020): November 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i2.47162

Abstract

The petroleum fuel crisis shows that Indonesia's fossil energy reserves are limited. It is necessary to develop renewable, environmentally friendly and sustainable alternative energy, one of which is bioethanol. One of the basic ingredients of making bioethanol is cellulose material such as mango skin (Mangifera indica). This study aims to determine the levels of mango bioethanol with the treatment of cellulase enzymes from Trichoderma reesei and Aspergillus niger. This study is an experimental study with independent variables, namely the comparison of enzymes from Trichoderma reesei and Aspergillus niger (1: 0, 0: 1, 1: 1, 2: 1, 1: 2, 3: 1, 1: 3) and the dependent variable reducing sugars and bioethanol levels. After treatment with enzymes followed by yeast (Saccharomyces cerevisiae) at a dose of 0.05 grams with a fermentation time of 96 hours then measurement of reducing sugar levels using the DNS method, distillation, and measurement of bioethanol levels using Conway diffusion method. Based on the results of the study it was found that bioethanol levels using enzymes from Trichoderma reesei and Aspergillus niger as well as inoculation with yeast (Saccharomyces cerevisiae) were highest at 8% in the comparison of T.reesei: A.niger 3: 1 and 1: 3 Krisis bahan bakar minyak bumi menunjukkan bahwa cadangan energi fosil yang dimiliki Indonesia terbatas. Perlu dikembangkan energi alternatif yang dapat diperbaharui, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, salah satunya adalah bioetanol. Salah satu bahan dasar pembuatan bioetanol adalah bahan berselulosa seperti kulit mangga (Mangifera indica). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar bioetanol kulit mangga dengan perlakuan enzim selulase dari Trichoderma reesei dan Aspergillus niger. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan variabel bebas yaitu perbandingan enzim dari Trichoderma reesei dan Aspergillus niger (1:0, 0:1, 1:1, 2:1, 1:2, 3:1, 1:3) dan variabel terikat kadar gula reduksi dan kadar bioetanol. Setelah perlakuan dengan enzim dilanjutkan dengan ragi (Saccharomyces cerevisiae) dengan dosis 0,05 gram dengan waktu fermentasi 96 jam kemudian dilakukan pengukuran kadar gula reduksi dengan metode DNS, destilasi, dan pengukuran kadar bioetanol menggunakan metode Conway diffusion.. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kadar bioetanol dengan menggunakan enzim dari Trichoderma reesei dan Aspergillus niger serta inokulasi dengan ragi (Saccharomyces cerevisiae) tertinggi sebesar 8 % pada perbandingan T.reesei:A.niger 3:1 dan 1
Pengendalian Rayap Tanah Coptotermes curvignathus Holmgren Menggunakan Ekstrak Daun Avicennia marina Aflah, Ulin Nikmatul; Subekti, Niken; R. Susanti, R. Susanti
Life Science Vol 10 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v10i1.47164

Abstract

Termite is one type of insect include order Isoptera, that recorded about 200 species in Indonesia and has been identified just 179 species. Economic losses aused of termites in Indonesia have reached billions rupiah each year. One of the control it using the vegetable insecticide, which can be used as an alternative to ontroled insect because it meets the criteria that is safe, cheap, and easy to apply the farmers. One of the ingredients that can be used as an insecticide substitute is the mangrove. Secondary metabolites found in mangroves are alkaloids, phenolics, steroids and terpenoids where the active component is pharmacological, toxic and ecologic. This study aims to determine the effect of mangrove leaf extract of Avecennia marina as a vegetable pesticide against mortality of ground termites Coptotermes curvignathus Holmgren. The design of this study was experimental study with the dose tested 5 different treatments is0% (C-), 0.5%, 1%, 2% and borax 1% (C +) and the different duration is 3 hours, 5 hours, and 7 hours in5 repetitions. Data analysis using factorial test followed by Duncan test. Based on the result of the research, the concentration of 0,5% mangrove leaf extract solution with 3 hours long wood soak can kill the ground termite of Coptotermes curvignathus Holmgren 100% in 3 weeks. Keywords: termites, mangroves, pesticides vegetable rayap, bakau, pestisida nabati Rayap merupakan salah satu jenis serangga dalam ordo Isoptera yang tercatat di Indonesia sekitar 200 jenis dan baru 179 jenis yang sudah teridentifikasi. Kerugian ekonomis akibat rayap di Indonesia telah mencapai milyaran rupiah tiap tahunnya. Salah satu pengendaliannya dengan menggunakan insektisida nabati, yang dapat digunakan sebagai alternatif pengendalian serangga hama karena memenuhi kriteria yaitu aman, murah, dan mudah diterapkan petani. Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagi bahan subtitusi insektisida adalah bakau. Metabolit sekunder yang ditemukan pada bakau-bakauan adalah golongan alkaloid, fenolat, steroid dan terpenoid dimana komponen aktif tersebut bersifat farmakologik, toksik dan ekologik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun bakau Avecennia marina sebagai pestisida nabati terhadap mortalitas rayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren. Rancangan penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan dosis yang diujikan5 perlakuan berbeda yakni 0% (C-), 0,5%, 1%, 2% dan boraks 1% (C+) serta variasi lama rendam kayu 3 jam, 5 jam, dan 7 jam sebanyak 5 kali ulangan. Analisis data menggunakan uji Faktorial dilanjutkan uji Duncan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh konsentrasi larutan ekstrak daun bakau 0,5% dengan lama rendam kayu 3 jam efektif dapat membunuh rayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren sebesar 100% dalam 3 minggu. Keywords: termites, mangroves, pesticides vegetable, rayap, bakau, pestisida nabati

Page 11 of 22 | Total Record : 219