cover
Contact Name
Life Science
Contact Email
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Life Science
ISSN : 22526277     EISSN : 25285009     DOI : https://doi.org/10.15294/lifesci
Core Subject : Agriculture,
Life Science publishes original and significant articles on all aspects of Life Sciences (Biology, Genetics, Biological Anthropology, Botany, Medical Sciences, Veterinary Sciences, Biochemical Genetics, Biometry, Clinical Genetics, Cytogenetics, Genetic Epidemiology, Genetic Testing, Evolution and Population Genetics, Immunogenetics and Molecular Genetics). The journal also covers ethical issues. It aims to serve as a forum for life scientists and health professionals.
Articles 219 Documents
Potensi Gunung Ungaran di Desa Ngesrep Balong, Limbangan Kabupaten Kendal Jawa Tengah sebagai Penghasil Tumbuhan Pewarna Alami Kain Batik Kaswinarni, Fibria; Apriliani, Religia; Sulistya Dewi, Endah Rita
Life Science Vol 8 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v8i2.37097

Abstract

Natural coloring plants can produce color after the process of both boiling, destruction, and other processes. Generally, natural dyes obtained from plants in the forest or planted intentionally and then used to color the carvings, sculptures, food, webbing, weaving and other handicraft materials. This research was held in Mount Ungaran, Ngesrep Balong village, Limbangan District, Kendal Regency in May 2018. Natural coloring plants sampling performed at three different of height, there are 600-899, 900-1199, and 1200-1500 above sea level. The method used is exploration and data analysis is qualitatively. The results showed that Mount Ungaran saves the potential as a producer of natural dye batik plants. The types of plants producing natural dyes of batik which found on Mount Ungaran are Cinchona succirubra (kina), Castane argentea (sarangan), Peltophorum pterocarpum (soga), Schima noronhae (puspa), Albizia chinensis (sengon), Pithecolobium lobatum (jengkol), Bischofia javanica (gintungan), Samanea saman (trembesi), Eugenia polyantha (greeting), Chromolaena odorata (kirinyuh/kirinyo), and Terminalia bellirica (joho keling). The parts of plants which used natural dyes are leaves, bark and peel. All parts of the plants produce four basic dominate color, there are yellow, green, brown and blue. The research results are expected to provide a reference for batik crafstman to be able to change over to natural dyes, so it can to reduce environmental pollution. Keywords: Mount Ungaran, batik, natural dyes, Gunung Ungaran, kain batik, pewarna alami tumbuhan. Tumbuhan pewarna alami dapat menghasilkan suatu warna tertentu setelah melalui proses baik perebusan, penghancuran, maupun proses lainnya. Pada umumnya zat warna alam diperoleh dari tumbuhan yang diambil dari hutan atau sengaja ditanam lalu digunakan untuk mewarnai ukiran, patung, makanan, anyaman, tenunan, serta bahan kerajinan lainnya. Penelitian ini dilaksanakan di Gunung Ungaran yang berada di Desa Ngesrep Balong Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal pada bulan Mei 2018. Pengambilan sampel tumbuhan pewarna alami dilakukan di tiga ketinggian yang berbeda, yaitu 600-899 mdpl, 900-1199 mdpl dan 1200-1500 mdpl. Metode yang digunakan adalah eksplorasi, sedangkan analisis data dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gunung Ungaran menyimpan potensi sebagai penghasil tumbuhan pewarna alami kain batik. Jenis-jenis tumbuhan penghasil pewarna alami kain batik yang ditemukan di Gunung Ungaran antara lain Cinchona succirubra (kina), Castanea argentea (sarangan), Peltophorum pterocarpum (soga), Schima noronhae (puspa), Albizia chinensis (sengon), Pithecolobium lobatum (jengkol), Bischofia javanica (gintungan), Samanea saman (trembesi), Eugenia polyantha (salam), Chromolaena odorata (kirinyuh/kirinyo), dan Terminalia bellirica (joho keling). Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai pewarna alami adalah daun, kulit batang dan kulit buah. Semua tumbuhan tersebut menghasilkan empat warna dasar yang mendominasi, yaitu warna kuning, hijau, cokelat, dan biru. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi bagi para pengrajin batik untuk dapat beralih pada pewarna alami sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Kata kunci: Mount Ungaran, batik, natural dyes, Gunung Ungaran, kain batik, pewarna alami tumbuhan.
Karakterisasi Kapang dari Saluran Pencernaan Cacing Nipah (Namalycastis rhodochorde) Asal Desa Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat Yanti, Ari Hepi; Setyawati, Tri Rima; Kurniatuhadi, Rikhsan
Life Science Vol 8 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v8i2.37098

Abstract

Indigenous molds from the gastrovascular cavity of nipah worms have been explored and will be applied to nipah worm cultivation in order to increase growth and production through feed. Appropriate feed formula is expected to increase the growth of worms as in their natural habitat. This study aims to explore and identify the types and characteristics of indigenous fungi from the gastrovascular tract of nipah (Namalycastis rhodochorde) which have the potential as probiotics. Isolation was carried out by pour plate method on the Potato Dextrose Agar medium. Enumeration of molds was carried out according to the Standard Plate Count rules of each sample. The selection of isolates was carried out by determining the colony character unequalities to obtain pure culture. Each pure isolate culture was coded based on the type of sample. Characterization and identification of molds was carried out based on the identification guide book by Samson: Outdoor and Indoor Fungi. The total number of mold colonies obtained from coelomal fluid, intestinal tract, and feces were 7 isolates, 7 isolates and 12 isolates respectively. The results of characterization and identification found eight groups of mold isolates from nipah worms that had similarities with members of the genus Penicillium, Aspergillus, Curvularia, Fusarium, Trichoderma, Cladosporium, and Tritirachium. Keywords: Nipah worm; molds; probiotic; Namalycastis rodhochorde, Cacing nipah; kapang; probiotik; Namalycastis rodhochorde Kapang indigenus dari saluran gastrovaskuler cacing nipah telah dieksplorasi dan akan diaplikasikan pada budidaya cacing nipah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan dan produksi melalui pakan. Formula pakan yang tepat diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan cacing seperti di habitat aslinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi jenis dan karakter fungi indigenus dari saluran gastrovaskuler cacing nipah (Namalycastis rhodochorde) yang berpotensi sebagai probiotik. Isolasi dilakukan dengan metode cawan tuang pada medium Potato Dextrose Agar. Enumerasi kapang dilakukan berdasarkan aturan Plate Count Standart dari setiap sampel. Pemilihan isolat dilakukan dengan melihat ketidaksamaan karakter koloni untuk mendapatkan kultur murni. Setiap kultur murni isolat diberikan kode berdasarkan jenis sampel. Karakterisasi dan identifikasi kapang dilakukan berdasarkan buku panduan identifikasi kapang oleh Samson: Outdoor and Indoor Fungi. Jumlah total koloni kapang yag didapatkan dari cairan coelom, saluran usus, dan feses masing-masing adalah 7 isolat, 7 isolat dan 12 isolat. Hasil karakterisasi dan identifikasi ditemukan delapan kelompok isolat kapang dari cacing nipah yang memiliki kemiripan dengan anggota genus Penicillium, Aspergillus, Curvularia, Fusarium, Trichoderma, Cladosporium, dan Tritirachium. Kata kunci: Nipah worm; molds; probiotic; Namalycastis rodhochorde, Cacing nipah; kapang; probiotik; Namalycastis rodhochorde
Pertumbuhan Cabang Kayu Cemara pada Jarak Tanam yang Berbeda Atmanto, Winastuti Dwi; Winarni, Widaryanti Wahyu; Primardiyatni, Bayu; Danarto, Sri
Life Science Vol 8 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v8i2.37100

Abstract

Casuarina equisetifolia is one type of tree that produces firewood with very good quality, flammable even in green conditions. Plant spacing is one part of the application of silvicultural techniques that are very important in the management of plantations. The use of different plant spacing will have different growth effects on trees. This study seeks to analyze the growth of evergreen stems and branches planted in various spacing. Retrieval of data using a sampling technique with three samples for each treatment. Sources of variation studied were 3 spacing (3x3m, 3x2m, 3x1m), at each spacing that was planted with udang and Belitung evergreen. Thus there is a combination of 6 sources of variation with a total of 18 sample trees. The observed characters are the height and diameter of the tree, the length, and a number of the order of branches, the wet weight of the fir. Environmental data and other supporting data are described qualitatively. The results showed the fir species planted with a spacing of 3x2m produced the highest number of orders, the highest wet weight. Belitung Casuarina equisetifolia planted with a spacing of 3x2m produces the highest average number of order lengths. Keywords: Casuarina equisetifolia, plantations, cemara, jarak tanam, pertumbuhan cabang. Pohon cemara adalah salah satu jenis pohon yang menghasilkan kayu bakar dengan kualitas yang sangat baik, mudah terbakar meskipun dalam kondisi hijau. Pengaturan jarak tanam merupakan salah satu bagian aplikasi teknik silvikultur yang sangat penting dalam pengelolaan hutan tanaman. Penggunaan jarak tanam yang berbeda akan memberikan dampak pertumbuhan yang berbeda pada pohon. Penelitian ini berupaya untuk menganalisis pertumbuhan batang dan cabang cemara yang ditanam dalam berbagai jarak tanam. Pengambilan data menggunakan teknik sampling dengan tiga sampel untuk setiap perlakuan. Sumber variasi yang diteliti adalah 3 jarak tanam (3x3m, 3x2m, 3x1m), pada setiap jarak tanam itu telah ditanam cemara udang dan belitung secara random. Dengan demikian terdapat kombinasi 6 sumber variasi dengan total 18 pohon sampel. Karakter yang diamati adalah tinggi dan diameter pohon, panjang dan jumlah orde cabang, berat basah cemara. Data lingkungan dan data pendukung lainya didiskripsikan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan cemara jenis udang yang ditanam dengan jarak tanam 3x2m menghasilkan rerata jumlah orde, berat basah paling tinggi. Cemara jenis belitung yang ditanam dengan jarak tanam 3x2m menghasilkan rerata jumlah panjang orde paling tinggi. Kata kunci: Casuarina equisetifolia, plantations, cemara, jarak tanam, pertumbuhan cabang
Daya Proteksi Ekstrak Tauge Kacang Hijau terhadap Kualitas Spermatozoa dan Kadar Enzim Superoksida Dismutase Mencit yang Terpapar Transfluthrin Yuliyantika, Yuliyantika; Iswari, Retno Sri; Marianti, Aditya
Life Science Vol 8 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v8i2.37101

Abstract

Transfluthrin is substance contained in mosquito repellent. Transfluthrin can cause free radical establishment. Bean sprout extract contains antioxidants that have a potential to fight free radical. This research aimed to examine the protective power of bean sprout extract on the quality of spermatozoa and mice SOD levels exposed by transfluthrin. Mice were divided into five groups, namely K was the normal control group, K- was a negative control group, K+ was a positive treatment group. KP1 was a group of mice that were given bean sprout extract dose of 25 mg/20gBB, KP 2 was a group of mice which were given bean sprout extract dose of 50 mg/20gBB. The data obtained were analyzed by oneway Anova confidence followed by the LSD test. Spermatozoa motility test results and SOD levels showed that the negative control group was significantly different from the treatment group. The viability, concentration, morphology tests of spermatozoa were not significantly different between the negative control group and the treatment group. It can be concluded that the addition of bean sprouts extracts in mice exposed to transfluthrin was able to protect the motility of spermatozoa and increase the levels of SOD but were less effective at protecting the concentration, viability and morphology in spermatozoa. Keywords: ekstrak tauge, kualitas spermatozoa, SOD transfluthrin Transfluthrin merupakan salah satu bahan aktif yang terkandung di dalam obat nyamuk. Transfluthrin dalam obat nyamuk dapat menyebabkan pembentukan radikal bebas. Ekstrak tauge memiliki kandungan antioksidan yang berpotensi melawan radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji daya proteksi ekstrak tauge kacang hijau terhadap kualitas spermatozoa dan kadar SOD mencit yang terpapar Transfluthrin. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap. Sebanyak 25 ekor mencit jantan galur Balb/c dibagi 5 kelompok, yaitu K: kelompok kontrol normal, K-: kelompok kontrol negatif, mencit di paparan obat nyamuk, K+: kelompok perlakuan positif mencit diberi vitamin E, KP1: kelompok mencit yang diberi ekstrak tauge dosis 25mg/20gBB, KP2: kelompok mencit yang diberi ekstrak tauge dosis 50mg/20gBB. Data yang diperoleh dianalisis dengan Anova satu jalan dengan taraf kepercayaan 95% dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil uji statistik motilitas spermatozoa dan kadar SOD menunjukkan kelompok kontrol negatif berbeda nyata dengan kelompok perlakuan dan uji statistik viabilitas, konsentrasi dan morfologi spermatozoa tidak berbeda nyata antara kelompok kontrol negatif dan kelompok perlakuan. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pemberian ekstrak tauge pada mencit yang dipapar transfluthrin mampu memproteksi motilitas spermatozoa dan meningkatkan kadar SOD tetapi kurang efektif memproteksi konsentrasi, viabilitas dan morfologi spermatozoa. Kata kunci: ekstrak tauge, kualitas spermatozoa, SOD transfluthrin
Aspergillus sp. 3 pada Pengolahan Limbah Cair Batik Kutawaru Cilacap dan Pengaruhnya terhadap Zea mays dan Vigna radiata Dewi, Ratna Stia; Khotimah, Khusnul
Life Science Vol 8 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v8i2.37102

Abstract

The Kutawaru written batik industry in Cilacap, Central Java developed rapidly but has the potential in environmental pollution. The wastewater of Kutawaru batik is still treated conventionally and need alternative method to minimize the pollution utilize microorganism agents, such as Aspergillus sp. 3. The purpose of this study was to determine the ability of Aspergillus sp. 3 in reducing the color of batik waste of Kutawaru and to determine the effect of the treatment results of Aspergillus sp. 3 in corn and green beans. The study was conducted by experimental methods. The results showed that isolate of Aspergillus sp.3 was able to reduce the color of Kutawaru written batik wastewater by 76.303% with an average mycelium dry weight of 0.153 g. Aspergillus sp. 3 effect on the growth of corn and green beans. The percentages of germination in corn for batik waste, water and wastewater after fungal treatment were 22%, 100%, 89%, while in green beans were 0,100,100%, respectively. Leaf buds length (cm) corn in batik wastewater, water and wastewater after fungal treatment were 0.2; 4.28; and 1.58, while in green beans were 0 in batik waste, 9.47 in water and 1.29 in waste after fungal treatment. The amount of leaves after fungal treatment on corn was 2 which was the same as the amount in clean water, while on the wastewater did not grow. Aspergillus sp. 3 can reduce the color of batik waste Kutawaru and good effect on plant growth. Keywords: Aspergillus sp. 3; batik waste Kutawaru; Zea mays; Vigna radiata. Industri batik tulis Kutawaru di Cilacap-Jawa Tengah semakin berkembang, namun limbahnya berpotensi mencemari lingkungan. Air limbah batik sementara ini masih diolah secara konvensional. Diperlukan metode lain yang dapat digunakan dalam upaya meminimalisir dampak pencemaran menggunakan agen mikroorganisme, misalnya Aspergillus Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kemampuan jamur Aspergillus sp. 3 dalam menurunkan warna limbah batik tulis Kutawaru dan menentukan pengaruh perlakuan Aspergillus sp. 3 terhadap pertumbuhan tanaman jagung dan kacang hijau. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental. Hasil penelitian menunjukkan isolat Aspergillus sp.3 mampu menurunkan warna limbah batik tulis Kutawaru sebesar 76,303% dengan rata-rata berat kering miselium sebesar 0,12 g. Hasil perlakuan Aspergillus sp. 3 berpengaruh terhadap pertumbuhan jagung dan kacang hijau. Persentase perkecambahan pada jagung untuk limbah batik, air bersih, dan limbah setelah perlakuan sebesar 22%, 100%, 89%, sedangkan pada kacang hijau berturut-turut sebesar 0, 100, 100%. Panjang tunas (cm) pada jagung di limbah batik, air bersih, dan limbah setelah perlakuan berturut-turut 0,2; 4,28; dan 1,58, sedangkan pada kacang hijau 0 pada limbah batik; 9,47 pada air bersih; dan 1,29 pada limbah setelah perlakuan. Jumlah daun jagung setelah perlakuan pada jagung= 2, sama seperti jumlah pada air bersih, sedangkan di limbah tidak tumbuh. Perlakuan Aspergillus sp. 3 dapat menurunkan warna limbah batik tulis Kutawaru dan berpengaruh baik pada pertumbuhan tanaman. Kata kunci: Aspergillus sp. 3; batik waste Kutawaru; Zea mays; Vigna radiata
Pertumbuhan Kalus Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) Varietas Permata F1 dari Jenis Eksplan dan Konsentrasi Sukrosa yang Berbeda secara In Vitro Ulva, Maria; Nurchayati, Yulita; Prihastanti, Erma; Setiari, Nintya
Life Science Vol 8 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v8i2.37103

Abstract

culture. Callus growth is influenced by the type of explant and the composition of the planting medium, one of which is sucrose concentration. The purpose of this study was to obtain the best type of explants for callus culture and find out the optimum sucrose concentration for callus growth. The method used is callus induction in Murashige and Skoog (MS) media, with the treatment of sucrose concentration and explant types. Explants were grown in MS media with the addition of 1 ppm naphthalene acetic acid (NAA) and 1 ppm benzyl amino purine (BAP). This study uses explants in the form of hypocotyl and cotyledons from tomato sprouts in vitro. The design of this study used a completely randomized design (CRD) in 2x4 factorial pattern. The first factor is the type of explants in the form of hypocotyl and cotyledons. The second factor is sucrose concentration which is 10, 20, 30 and 40g/L. The parameters observed were initiation time, wet weight, dry weight and callus morphology. The results showed that the treatment of explant type did not affect the growth of tomato callus, but different concentrations of sucrose in the media significantly affected. Sucrose at 30-40 g/L is a concentration that can stimulate the growth of tomato callus, both in hypocotyl explants and tomato cotyledo. Keywords: in vitro culture, hypocotyl, cotyledons, sucrose, callus, kultur in vitro, hipokotil, kotiledon, sukrosa, kalus. udidaya tanaman tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) dapat dilakukan dengan cara kultur in vitro melalui kultur kalus. Pertumbuhan kalus dipengaruhi oleh jenis eksplan dan komposisi media tanam, salah satunya konsentrasi sukrosa. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh jenis eksplan yang paling baik untuk kultur kalus dan mengetahui konsentrasi sukrosa yang optimum untuk pertumbuhan kalus. Metode yang digunakan adalah induksi kalus dalam media Murashige and Skoog (MS), dengan perlakuan konsentrasi sukrosa dan jenis eksplan. Eksplan ditumbuhkan dalam media MS dengan penambahan Naphthalene Acetic Acid (NAA) 1 ppm dan Benzyl Amino Purin (BAP) 1 ppm. Penelitian ini menggunakan eksplan berupa hipokotil dan kotiledon dari kecambah tomat secara in vitro. Desain penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x4. Faktor pertama adalah jenis eksplan berupa hipokotil dan kotiledon. Faktor kedua adalah konsentrasi sukrosa yaitu 10, 20, 30 dan 40g/L. Parameter yang diamati yaitu waktu inisiasi, berat basah, berat kering, dan morfologi kalus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis eksplan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan kalus tomat, namun konsentrasi sukrosa yang berbeda pada media berpengaruh secara signifikan. Sukrosa sebesar 30 - 40g/L merupakan konsentrasi yang dapat memacu pertumbuhan kalus tomat, baik pada eksplan hipokotil maupun kotiledon kecambah tomat. Kata kunci: in vitro culture, hypocotyl, cotyledons, sucrose, callus, kultur in vitro, hipokotil, kotiledon, sukrosa, kalus
Karakteristik Morfologi dan Perkembangan Testis Itik Alabio (Anas platyrhynchos Borneo) Periode Grower Setiyono, Eko; Bekti, Rini Pamudhi
Life Science Vol 8 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v8i2.37104

Abstract

Monitoring the reproductive performance of male Alabio ducks can be done through a characteristic morphological size body and the growth of the testicles. The material used was 48 male Alabio ducks, eight weeks old, and collected 12 tail every four weeks until 20 weeks. The variables observed were morphological characteristics: body weight, chest size, abdomen size, pubis width, liver weight, and HSI; reproductive performance: testicular weight, testicular length, and GSI. Data were analyzed with one-way ANOVA at a 95% confidence level, and correlation analysis was used to test the correlation between parameters. The results showed that the average body weight, chest size, abdomen size, pubis width, liver weight, HSI, testicular weight, testicular length, and GSI were significantly different (p<0.05). Morphologically body weight, chest size, abdomen size, pubis width, liver weight correlate with testicular weight, testicular size, and GSI. Testicular weight, testicular length and GSI had a highest correlations with body weight (r=0.75; r=0.69; and r=0.70) and pubic width (r=0.79; r=0.72 and r=0.77) than the others. While HSI is negative correlation with testicular weight (r=-0.50), testis length (r=-0.51), and GSI (r=-0.46). Thus, it was concluded that the morphological characteristics of body size affect the reproductive performance of male Alabio Ducks. Keywords: Itik Alabio Jantan, Ukuran Morfologi, Testis, GSI, HIS. Pemantauan performan reproduksi itik Alabio jantan dapat dilakukan melalui pendekatan karakteristik ukuran morfologi tubuh dan perkembangan testis itik periode grower. Materi yang digunakan 48 ekor itik Alabio Jantan usia 8 minggu. Data diambil setiap 4 minggu sekali sampai usia 20 minggu, masing-masing 12 ekor. Variabel yang diamati adalah karakteristik morfologi meliputi bobot badan, lingkar dada, lingkar perut, lebar pubis, bobot hati dan hepato somatic indeks (HSI); performan reproduksi meliputi bobot testis, panjang testis, dan gonado somatic indeks (GSI). Data dianalisis dengan Anava satu arah pada tingkat kepercayaan 95%. Keterkaitan antar parameter dianalisis dengan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot badan, lingkar dada, lingkar perut, lebar pubis, bobot hati, HSI, bobot testis, panjang testis dan GSI berbeda nyata (p<0,05). Secara morfologi bobot badan, lingkar dada, lingkar perut, lebar pubis, bobot hati berkorelasi dengan bobot testis, ukuran testis dan GSI. Bobot testis, panjang testis dan GSI memiliki hubungan paling erat dengan bobot badan (r= 0,75; r= 0,69; dan r= 0,70) dan lebar pubis (r= 0,79; r= 0,72 dan; r= 0,77) dibandingkan dengan ukuran morfologi tubuh lainnya. Sedangkan HSI berkorelasi negatif dengan bobot testis (r= -0,50), panjang testis (r= -0,51) dan GSI (r= -0,46). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa karakteristik morfologi ukuran tubuh mempengaruhi performan reproduksi Itik Alabio jantan. Kata kunci: Itik Alabio Jantan, Ukuran Morfologi, Testis, GSI, HIS.
Dominansi Jenis-Jenis Tanaman Sayur Introduksi di Pasar Sayuran Kota Bengkulu Wiryono, Wiryono; Nurliana, Steffanie
Life Science Vol 8 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v8i2.37107

Abstract

Since the beginning of agriculture revolution several thousand years ago, human has distributed food plant species far beyond their natural range. The tendency of agriculture practice to plant certain “superior” species and varieties has led to the homogenization of dominant food plant commodities worldwide. Local species and varieties are marginalized with the introduction of exotic species, resulting in the decline of genetic diversity. The objectives of this study were: 1) to determine the species richness of vegetable plants in three traditional markets in Bengkulu City, 2) to know the species composition of the vegetable plants in those markets, and 3) to determine the species similarity index among the three markets. Data were gathered by recording all species of vegetable plants in the markets. The data were, then, analyzed to determine the species richness, species composition and species similarity among the three markets. The results showed that 1) the total number of vegetable plant species in the three markets was 50, consisting of 23 families, 2) the introduced species dominated the composition of vegetable plants, and 3) the similarity index among markets were >90%. These results confirm the tendency that food plant species composition is dominated by few species only, and show that the species composition of vegetable plants among markets in Bengkulu city was highly similar. Keywords: biodiversitas, ethnobotani, ketahanan pangan. Sejak dimulainya revolusi pertanian beberapa ribu tahun yang lalu, manusia telah memperluas penyebaran jenis tanaman pangan sampai jauh dari wilayah sebaran aslinya. Kecenderungan praktek pertanian yang menanam jenis-jenis dan varietas “unggul” menyebabkan terjadinya keseragaman jenis dan varietas tanaman yang mendominasi komoditas tanaman pangan di seluruh dunia. Jenis-jenis dan varietas tanaman lokal banyak yang tersingkir oleh jenis-jenis introduksi, sehingga terjadi penurunan keragaman genetis. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kekayaaan jenis dan komposisi jenis tanaman sayur segar yang terdapat di tiga pasar di Kota Bengkulu. Data jenis sayuran diperoleh dari pencatatan di lapangan. Data diolah untuk menghitung kekayaan jenis tanaman, menentukan dominansi jenis tanaman berdasarkan frekuensi ditemukannya, dan menghitung indeks kemiripan jenis antara ketiga pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) jumlah seluruh jenis tanaman sayur di tiga pasar adalah 50 jenis yang terdiri dari 23 suku; 2) jenis-jenis tanaman yang mendominasi komposisi jenis tanaman sayur di pasar adalah jenis-jenis introduksi, dan 3) indeks kemiripan komposisi jenis tanaman sayur antara pasar > 90%. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi kecenderungan bahwa komposisi jenis tanaman pangan didominasi oleh hanya sedikit jenis tanaman, dan menunjukkan bahwa komposisi jenis tanaman pangan antar pasar di Kota Bengkulu sangat mirip. Kata kunci: biodiversitas, ethnobotani, ketahanan pangan
Pengembangan Budidaya Perikanan Produktif Berkelanjutan Sistem IMTA (Integrated Multi-Trophic Aquaculture) (Studi Kasus di Kep. Karimunjawa, Jepara) Triarso, Imam; P. Putro, Sapto
Life Science Vol 8 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v8i2.37108

Abstract

Indonesia as a maritime country and the largest archipelago in the world whose marine area includes ZEEI (5.8 million km2) or 75% of its total area, and is surrounded by 95,181 km coastline, the aquaculture sector still needs to be developed to the optimum achievement. One of the right solutions towards productive and sustainable cultivation practices is the application of the Tiered Round Floating Nets Karamba (KJABB) with the Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) method. The IMTA system is a cultivation practice with more than one species of biota that have an ecological mutualistic relationship as a food chain in the same area/system at the same time. Cultivation of the IMTA system allows farmers to obtain several cultivation products in the same area without increasing the area of the cultivation. The KJABB-IMTA application has been successfully used for integrated Cantang grouper aquaculture with white snapper, seaweed, starfish and sea cucumbers in the P. Menjangan Besar area, Kep. Karimunjawa, Jepara Regency. In addition to increased productivity, this application has succeeded in suppressing the potential for environmental disturbances, specifically the organic enrichment of aquaculture activities. The aim of this research is to increase national production capacity by developing and applying the IMTA cultivation system in the integrated biomonitoring KJABB to increase productivity, product quality, and create a healthy and sustainable cultivation environment and provide knowledge (transfer of knowledge) in the form of Appropriate Technology to the cultivating community in the Kep area. Karimunjawa through the dissemination of research results and assistance to the community of farmers/SMEs. Keywords: sea cultivation, KJABB and IMTA system, Budidaya laut, KJABB, dan sistem IMTA. Indonesia sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia yang wilayah lautnya termasuk ZEEI (5,8 juta km2) atau 75% total wilayahnya, dan dikelilingi 95.181 km garis pantai, namun sektor perikanan budidaya belum optimal. Salah satu solusi yang tepat menuju praktik budidaya produktif dan berkelanjutan adalah penerapan Karamba Jaring Apung Bulat Bertingkat (KJABB) dengan metode Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA). Sistem IMTA merupakan praktik budidaya dengan lebih dari satu spesies biota yang memiliki hubungan mutualistik secara ekologis sebagai sebagai satu rantai makanan pada area/sistem yang sama dalam waktu yang bersamaan. Budidaya sistem IMTA memungkinkan pembudidaya mendapatkan beberapa produk budidaya pada area yang sama tanpa menambah luasan area budidaya. Aplikasi KJABB-IMTA telah berhasil digunakan untuk budidaya ikan kerapu cantang terintegrasi dengan kakap putih, rumput laut, bintang laut, dan teripang di kawasan P. Menjangan Besar, Kep. Karimunjawa, Kabupaten Jepara. Selain produktivitas meningkat, aplikasi ini telah berhasil menekan potensi gangguan lingkungan, khususnya pengayaan organik dari aktivitas budidaya. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan kapasitas produksi nasional dengan mengembangkan dan mengaplikasikan budidaya sistem IMTA pada KJABB terintegrasi biomonitoring untuk peningkatan produktivitas, kualitas produk, dan terciptanya lingkungan budidaya yang sehat dan berkelanjutan dan memberikan pengetahuan (transfer knowledge) berupa Teknologi Tepat Guna kepada masyarakat pembudidaya di kawasan Kep. Karimunjawa melalui diseminasi hasil penelitian dan pendampingan terhadap masyarakat pembudidaya/UMKM. Kata kunci: sea cultivation, KJABB and IMTA system, Budidaya laut, KJABB, dan sistem IMTA.
Pertumbuhan Akar dan Tunas Stek Batang Tanaman Panca Warna (Hydrangea macrophylla) (Thunb.) Ser pada Media Kultur Cair Kris D, Yermia Dita; Rahayu, Enni Suwarsi; Anggraito, Yustinus Ulung
Life Science Vol 8 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v8i2.37109

Abstract

Hydrangea macrophylla (Thunb.) Ser (panca warna) flowers have an attractive color. This plant is difficult to cut if not treated using root growth regulating substances (ZPTA). The purpose of this study was to analyze the effect of ZPTA concentration, the concentration of nutrient solution and the interaction between ZPTA with nutrient solution to the growth of roots and shoots of H. macrophylla plants in liquid culture media. This study used factorial completely randomized design that consists of two factors, the concentration of nutrients and ZPTA concentration. Each treatment combination consists of four replications. The concentration of nutrient media used was (0 prescription nutrient solution and 1/16 recipe for MS nutrient solution) and the concentration of ZPTA Root Up (0 ppm, 100 ppm, and 200 ppm). The results of the observations were analysed using analysis of variance, if the treatment showed a real effect followed by BNT test. The results showed that the concentration of ZPTA affected the length of the shoot. The nutrient concentration affect the number of roots. The interaction between nutrient concentration and ZPTA affects the length of the shoot. Giving nutrition and ZPTA also affect plant morphology, such as leaf color and root color. Keywords: Hydrangea macrophylla, liquid culture, MS nutrient, The growth of roots and shoots, ZPTA, kultur cair, Nutrisi MS, Pertumbuhan akar dan tunas. Bunga Hydrangea macrophylla (Thunb.) Ser (panca warna) mempunyai warna yang menarik. Tanaman ini sulit untuk distek jika tanpa menggunakan zat pengatur tumbuh akar (ZPTA). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh konsentrasi ZPTA, konsentrasi larutan nutrisi MS dan interaksi antrara ZPTA dengan larutan nutrisi MS terhadap pertumbuhan akar dan tunas tanaman H. macrophylla pada media kultur cair. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri atas dua faktor yaitu konsentrasi nutrisi dan konsentrasi ZPTA. Setiap kombinasi perlakuan terdiri atas empat ulangan. Konsentrasi media nutrisi yang digunakan adalah (0 resep larutan nutrisi dan 1/16 resep larutan nutrisi MS) dan konsentrasi ZPTA Root Up (0 ppm, 100 ppm dan 200 ppm). Hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis varians, dan jika perlakuan menunjukkan perngaruh nyata dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ZPTA berpengaruh terhadap panjang tunas. Konsentrasi nutrisi berpengaruh terhadap jumlah akar. Interaksi antara konsentrasi nutrisi dan ZPTA berpengaruh terhadap panjang tunas. Pemberian nutrisi dan ZPTA juga mempengaruhi morfologi tanaman, seperti warna daun dan warna akar. Kata kunci: Hydrangea macrophylla, liquid culture, MS nutrient, The growth of roots and shoots, ZPTA, kultur cair, Nutrisi MS, Pertumbuhan akar dan tunas.

Page 9 of 22 | Total Record : 219