cover
Contact Name
Simon Simon
Contact Email
charistheo08@gmail.com
Phone
+62895395000168
Journal Mail Official
charistheo08@gmail.com
Editorial Address
Kampus Utama: BG Junction Mall L2/P5, Jl. Bubutan 1-7 Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
ISSN : 28088735     EISSN : 28084454     DOI : -
Fokus dan ruang lingkup jurnal CHARISTHEO: Teologi Kristen Pendidikan Agama Kristen Kepemimpinan Kristen Etika Kristen Sosial dan Keagamaan Misiologi
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2023): September 2023" : 8 Documents clear
Menggagas Gaya Hidup Digital umat Kristiani di Era Society 5.0 Yakobus Adi Saingo
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v3i1.139

Abstract

This study aims to discuss the idea of the lifestyle of digital Christians in the era of society 5.0, using a qualitative method through a literature study approach, namely by collecting information from various scientific literature related to studies on initiating a digital lifestyle of Christians in the era of society 5.0. The results of the study show that even though there are challenges to faith in the era of society 5.0 such as: the existence of unlimited digital information that can be accessed by anyone, the emergence of individualistic and anti-social behavior phenomena, the spread of hoax and misleading news, exploring digital applications as a tool for seeking pseudo-happiness, and developing them. instant lifestyle through the use of digital technology. However, if these challenges are not addressed with a strong foundation of faith, it will lead Christians to behavior that is inconsistent with Christian values. There needs to be a complete and comprehensive understanding between Christianity and society 5.0, which is synonymous with digitalization so that Christian life can still be an example and a blessing to others. There are ideas for a digital lifestyle for Christians that can be developed in the era of society 5.0, including: Utilizing digital technology for evangelism, being selective in using digital technology, namely filtering various digital information obtained first, working with digital technology to be a blessing to each other, while maintaining a lifestyle with integrity in the real world and cyberspace, and being a person who is wise in the use of information technology. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan membahas tentang menggagas gaya hidup digital umat Kristiani di era society 5.0,menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan kajian kepustakaan yaitu dengan mengumpulkan informasi dari berbagai literatur ilmiah yang berkaitan dengan kajian tentang menggagas gaya hidup digital umat Kristiani di era society 5.0. Hasil penelitian mengemukakan bahwa meskipun terdapat tantangan iman di era society 5.0 seperti: adanya informasi digital tanpa batas yang dapat diakses oleh siapapun, munculnya fenomena perilaku individualistis dan anti sosial, beredarnya berita hoaks dan penyesatan, penyalahgunaan aplikasi digital sebagai alat mencari kebahagiaan semu, dan berkembangnya pola hidup serba instan melalui penggunaan teknologi digital. Namun jikalau tantangan-tantangan tersebut tidak disikapi dengan landasan keimanan yang kuat akan dapat menjerumuskan umat Kristen dalam perilaku yang tidak sesuai nilai-nilai Kristiani. Perlu adanya pemahaman yang utuh serta menyeluruh antara Kekristenan dan society 5.0, yang identik dengan digitalisasi sehingga kehidupan umat Kristiani tetap mampu menjadi teladan dan berkat bagi sesamanya. Terdapat gagasan gaya hidup digital umat Kristiani yang dapat dikembangkan di era society 5.0, antara lain: Memanfaatkan teknologi digital untuk penginjilan, menjadi pribadi yang selektif dalam menggunakan teknologi digital yaitu menyaring terlebih dahulu berbagai informasi digital yang diperoleh, berkarya dengan teknologi digital untuk menjadi berkat bagi sesama, tetap menjaga gaya hidup berintegritas dalam dunia nyata maupun dunia maya, serta menjadi pribadi yang bijak dalam penggunaan teknologi informasi.Kata-kata kunci: Digital; Era society 5.0; Gaya Hidup; Umat Kristen
CCM (Counseling, Communitying, Mentoring): Strategi Penggembalaan Terhadap Permasalahan Krisis Identitas Diri pada Remaja Elkana Yehezkiel Pasaribu; Martina Novalina
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v3i1.140

Abstract

Self-identity crisis is a phenomenon that often occurs in adolescents. This is because of the growth phase that they must experience. Self-identity crisis results in destructive behavior such as promiscuity, drinking alcohol, smoking, and others. This article aims to provide alternative solutions to the self-identity crisis experienced by adolescents, taken from the pastoral side using counseling, community, and mentoring strategies. The research approach carried out is qualitative methods, literature studies. The results of the study obtained are adolescents with self-identity crises have the possibility to recover by using CCM (Counseling, Community, Mentoring) strategies that are carried out in synergy. These three strategies are certainly carried out in accordance with the characteristics possessed by adolescents.ABSTRAKKrisis identitas diri adalah fenomena yang kerap kali terjadi pada remaja. Hal ini dikarenakan fase pertumbuhan yang memang harus mereka alami. Krisis identitas diri berakibat kepada perilaku yang merusak seperti pergaulan bebas, minum alkohol, merokok, dan lainnya. Artikel ini bertujuan untuk memberikan alternatif solusi terhadap krisis identitas diri yang dialami oleh remaja, diambil dari sisi penggembalaan dengan menggunakan strategi counselling, community, dan mentoring. Pendekatan penelitian yang dilakukan adalah metode kualitatif, studi pustaka. Hasil penelitian yang didapat adalah remaja dengan krisis identitas diri memiliki kemungkinan untuk pulih dengan menggunakan strategi CCM (Counseling, Community, Mentoring) yang dilakukan secara bersinergi. Ketiga strategi tersebut tentunya dilakukan sesuai dengan karakteristik yang dimiliki oleh remaja.Kata-kata kunci: Krisis identias ; Penggembalaan ; Remaja
Pendidikan Anti Korupsi Berdasarkan Doa Bapa Kami pada Matius 6:11-13 dan Implementasinya pada Pelajaran Pendidikan Agama Kristen Serepina Yoshika Hasibuan
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v3i1.142

Abstract

Corruption prevention needs to be done starting from education. Promoting anti-corruption education must be integrated into all subjects including Christian Religious Education in elementary school. This article aims to understand the meaning of the Our Father's prayer in three phrases namely "forgive us", "give us our sufficient food" and "do not lead us into temptation" in order to underlie anti-corruption education in PAK lessons. This research was conducted using a qualitative analysis method using literature studies specifically the exegesis method to explore the religious and social values contained in the three phrases in the Lord's Prayer. The results of this study indicate that the Lord's Prayer can be implemented as anti-corruption education material in PAK lessons because it teaches the principles of honesty, concern for others, justice and spiritual and social responsibility. So, teacher can implement anti corruption education based on the Lord’s prayer. AbstrakPenanggulangan korupsi perlu dilakukan mulai dari bangku pendidikan. Penggalakan pendidikan anti korupsi wajib diintegrasikan ke semua mata pelajaran termasuk Pendidikan Agama Kristen di sekolah dasar. Artikel ini bertujuan untuk memahami makna doa Bapa Kami dalam tiga frasa yaitu “ampunilah kami”, “berilah kami makanan kami yang secukupnya” dan “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” guna mendasari pendidikan anti korupsi pada pelajaran PAK. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif analisis yang menggunakan studi literatur secara khusus metode eksegesis untuk menggali nilai-nilai religius dan sosial yang terkandung dalam tiga frasa di Doa Bapa Kami. Hasil penelitian ini menunjukkan Doa Bapa Kami dapat diimplementasikan sebagai materi pendidikan anti korupsi pada pelajaran PAK karena mengajarkan prinsip kejujuran, kepedulian dengan sesama, keadilan serta tanggung jawab spiritual dan sosial. Jadi Guru PAK dapat menerapkan pendidikan Anti Korupsi dengan mendasarinya pada pembelajaran Doa Bapa Kami. Kata kunci: Doa Bapa Kami; pendidikan anti korupsi; karakter  
Kiat Membangun Integritas Mahasiswa Kristen di Era Digital Berdasarkan Teladan Daniel Efi Nurwindayani; Lavandya Permata Kusuma Wardhani
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v3i1.143

Abstract

Today's Christian students are in the digital era which is full of integrity challenges. This research wants to describe how to build the integrity of Christian students in the digital era based on the example of the character Daniel. The Christian students in question are Christian students in Surakarta. This research is a theological research using descriptive qualitative method. Data were collected by means of hermeneutic studies from the text of the Bible Daniel chapter 1 and literature. The results of this research are tips for building the integrity of Christian students in the digital era, namely following character education through Christian Religious Education courses on campus, associating in a healthy way through Christian Student Fellowship facilities on campus and religious discipline in order to build spirituality. ABSTRAKMahasiswa Kristen saat ini ada di era digital yang sarat dengan tantangan integritas. Penelitian ini hendak mendeskripsikan kiat membangun integritas mahasiswa Kristen di era digital berdasarkan teladan tokoh Daniel. Mahasiswa Kristen yang dimaksud adalah mahasiswa yang Kristen yang ada di Surakarta. Penelitian ini adalah penelitian teologis dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif.  Data dikumpulkan dengan studi hermeneutik dari teks Alkitab Daniel pasal 1 dan literatur kepustakaan. Hasil penelitian ini adalah kiat membangun integritas mahasiswa Kristen di era digital adalah mengikuiti pendidikan karakter melalui mata kuliah Pendidikan Agama Kristen yang ada di kampus, bergaul secara sehat melalui sarana Persekutuan Mahasiswa Kristen di kampus dan disiplin beribadah dalam rangka membangun spiritualitas. Kata-kata kunci: integritas; mahasiswa Kristen; era digital 
Langit dan Bumi dalam Struktur Chiastik Naratif Wahyu 20:11-21:1 Paulus Dimas Prabowo
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v3i1.138

Abstract

The hope of believers is fixed on a peaceful future life. But the eternal life in the heavens and the earth to come is only understood as the spiritual realm. Many articles have been written about the future heavens and earth with various approaches. In this article, the author attempts to prove that Revelation 20:11-21:1 is a unit of thought with a chiastic structure that can explain the concept of heaven and earth. The theme contained in the chiastic structure becomes a frame in interpreting the concept of heaven and earth in the text. The method to be used is structural analysis supported by the Freytag pyramid concept and exegetical analysis. The results of the study reveal that heaven and earth in 20:11 is a narrative introduction where the disappearance of heaven and earth describes elements of dramatization and destruction of the white throne judgment, while heaven and earth in 21:1 is a resolution of the narrative, where conflict and tension have been resolved and then created a new state, namely the emergence of a new heaven-earth that is both eternal and materiil. Thus, the church and believers are equipped with an understanding that God's work and eternal life in the world to come are comprehensive, which also touches on materiil aspects. Hope for life in the future is increasingly strengthened through a new, clarified heaven-earth concept.  ABSTRAKPengharapan orang percaya tertuju pada kehidupan masa depan yang penuh kedamaian. Namun kehidupan kekal di langit dan bumi yang akan datang hanya dipahami sebagai alam spiritual saja. Banyak tulisan yang diangkat mengenai langit dan bumi yang akan datang dengan beragam pendekatan. ­ Artikel ini penulis berupaya membuktikan bahwa Wahyu 20:11-21:1 merupakan satu unit gagasan dengan struktur chiastik yang dapat menjelaskan konsep langit dan bumi. Tema yang terkandung dalam struktur chiastik menjadi bingkai dalam menafsirkan konsep langit dan bumi dalam teks tersebut. Metode yang akan dipakai adalah analisis struktur yang didukung dengan konsep piramida Freytag dan analisis eksegetik. ­ Hasil penelitian mengungkap bahwa langit dan bumi dalam Wahyu 20:11 merupakan introduksi narasi dimana lenyapnya langit dan bumi mendeskripsikan unsur dramatisasi dan destruksi dari penghakiman tahta putih, sedangkan langit dan bumi dalam 21:1 merupakan resolusi dari narasi, dimana konflik dan ketegangan telah selesai lalu terciptalah keadaan yang baru yakni kemunculan langit-bumi baru yang kekal sekaligus materiil. Dengan demikian, gereja dan orang percaya dibekali dengan pemahaman bahwa karya Tuhan dan kehidupan kekal di dunia yang akan datang bersifat komprehensif, yang juga menyentuh aspek materi. Pengharapan akan hidup di masa mendatang semakin dimantapkan melalui konsep langit-bumi baru yang diperjelas. Kata-kata kunci: langit dan bumi; Wahyu 20:11-21:1; struktur; kiasme; naratif
Kontribusi Guru Pendidikan Agama Kristen Sebagai Orang Tua Kedua (Second Parents) dalam Menata Moral Peserta Didik Ricu Sele; Jepri Mei Anto
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v3i1.152

Abstract

The intensity of a teacher's meeting with his students at school is very high, it causes a strong psychological bond. One of the psychological bonds that occurs is the role of teachers as parents. This study aims to illustrate how the role of a teacher as a second parent. A teacher can be present as a father or mother to his students. Research was conducted to get an idea of how the role of a teacher as a parent for his students. Research was conducted to get an idea of how the role of a teacher as a parent for his students. This research is qualitative research where researchers use literature sources related to this research including books, journals and other literature sources. The source was used to find descriptive data about a teacher's role as a second parent. It is hoped that this research will contribute to teachers being able to carry out their roles both as educators and second parents for students, so that there is effective communication established in order to achieve educational goals properly and maximally. ABSTRAKSIntensitas pertemuan Seorang guru dengan anak didiknya di sekolah sangat tinggi. Hal itu menyebabkan adanya ikatan psikologis yang kuat. Salah satu ikatan psikologis yang terjadi adalah peran guru sebagai orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana peran seorang guru sebagai orang tua kedua. Seorang guru dapat hadir sebagai ayah atau ibu bagi anak didiknya. Penelitian dilakukan untuk mendapat gambaran bagaimana peran seorang guru sebagai orang tua bagi anak didikanya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dimana peneliti  menggunakan sumber-sumber literatur yang berkaitan dengan penelitian ini antara lain buku, jurnal dan sumber literatur lainnya. Sumber tersebut digunakan untuk menemukan data deskriptif tentang peran seorang guru sebagai orang tua kedua. Kiranya penelitian ini dapat memberi manfaat bagi setiap setiap guru untuk dapat menjalankan perannya baik sebagai pendidik maupun orang tua kedua bagi para siswa-siswinya. Juga bagi peserta didik, orang tua/wali, serta setiap pelaku pendidikan, sehingga ada komunikasi efektif yang terjalin demi tercapainya tujuan pendidikan secara baik dan maksimal. Kata Kunci: Guru, orang tua, pendidikan, efektif, siswa-siswi
Gereja Mula-Mula Menyikapi Perbedaan dan Konflik Berdasarkan Kisah Para Rasul 15:1-34: Sebuah Refleksi bagi Gereja Toraja Mamasa Yulianus Toding
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v3i1.141

Abstract

The background of this article is the conflict and differences in the Toraja Mamasa Church after the Bikker-Geleijnse. Acts 15:1-34 tells about how the early church resolved conflicts due to differences. This similarity of experience prompted the authors to examine the text of Acts 15:1-34 as reflective material in dealing with differences in the Toraja Mamasa Church after Bikker-Geleijnse. The research method used is narrative criticism. The research question that the author poses is how did the early church respond to conflict and differences as a reflective material for the Toraja Mamasa Church? The author carries out this research by describing the traces of Bikker and Geleijnse's mission in Mamasa, the background of the conflict in the early church, interpreting the text of Acts 15:1-34, and constructing a reflection to resolve conflicts and differences in the Toraja Mamasa Church.The research method used is narrative criticism.  The author finds that the early church faced conflicts and differences with a middle-ground perspective. The church gives freedom to the context of carrying out its own ethnic laws and rules while at the same time emphasizing Christian ethics as a standard of God's holiness. This action then spurred the Toraja Mamasa Church to have a contextual perspective while at the same time respecting the holiness of God. AbstrakLatar belakang artikel ini adalah konflik dan perbedaan di Gereja Toraja Mamasa pasca Bikker-Geleijnse. Kisah Para Rasul 15:1-34 menceritakan tentang bagaimana gereja mula-mula menyelesaikan konflik akibat perbedaan. Kesamaan pengalaman ini mendorong penulis untuk mengkaji teks Kisah Para Rasul 15:1-34 sebagai bahan reflektif menghadapi perbedaan di Gereja Toraja Mamasa pasca Bikker-Geleijnse. Metode penelitian yang digunakan adalah kritik naratif. Pertanyaan penelitian yang penulis ajukan adalah bagaimana gereja mula-mula menyikapi konflik dan perbedaan, sebagai bahan reflektif bagi Gereja Toraja Mamasa? Penulis melaksanakan penelitian ini dengan mendeskripsikan jejak misi Bikker dan Geleijnse di Mamasa, latar belakang konflik dalam gereja mula-mula, menginterpretasi teks Kisah Para Rasul 15:1-34, dan mengonstruksikan sebuah refleksi untuk menyelesaikan konflik dan perbedaan di Gereja Toraja Mamasa. Penulis menemukan bahwa gereja mula-mula menghadapi konflik dan perbedaan dengan perspektif jalan tengah. Gereja memberi kebebasan kepada konteks menyelenggarakan hukum dan aturan etnisnya masing-masing, sekaligus menekankan etika Kristen sebagai standar kekudusan Allah. Tindakan ini kemudian memacu Gereja Toraja Mamasa untuk berwawasan kontekstual, sekaligus menghormati kekudusan Allah. Kata Kunci: konflik gereja, gereja mula-mula, Gereja Toraja Mamasa, sidang di Yerusalem
Penerapan Teori Condito Sine Qua Non dalam Prinsip Apologetika Kristen John Abraham Christiaan; Didit Yuliantono Adi; Tri Hananto; Stefanus Dully; Jerimias Manuhutu
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v3i1.164

Abstract

The idea of writing about this topic originated from observations on social media that several Christian apologists were entangled in the law due to alleged blasphemy cases and the spread of false information when defending the Christian faith. This study aims to find the rule of law's cause and effect in blasphemy, provide insight into the purpose of apologetics, and explain how apologetics does not violate legal or religious norms. The method used in thisresearch is a qualitative method that prioritizes literature studies, collects data through scientific journals, and shares news on social media. The findings suggest that apologetics is a way of defending the faith when it is attacked by others, and it is an obligation for Christians. Apologetics is gentle, non-arrogant, and biblical. The maximum criminal penalty for blasphemy cases is ten years, and there is no equal legal protection between religious minorities and majorities in the application of the "Conditio Sine Qua Non Principle", so to defend it is enough to reveal the truth of God's Word without attacking other people's religions. ABSTRAKIde penulisan topik ini berawal dari pengamatan dimedia sosial ada  beberapa apologet Kristen terjerat hukum akibat dugaan kasus penodaan agama dan penyebaran informasi bohong saat melakukan pembelaan terhadap iman Kristiani. Penelitian ini bertujuan menemukan aturan hukum sebab akibat dalam penodaan agama, memberikan wawasan dan  tujuan apologetika, bagaimana apologetika yang tidak melanggar norma  hukum dan norma agama. Metode yang digunakan pada  penelitian ini adalah metode kualitatif dengan mengutamakan studi kepustakaan, melakukan pengumpulan data melalui jurnal ilmiah, berita di media sosial. Hasil temuan mengemukakan; apologetika adalah suatu cara pembelaan iman yang dilakukan ketika iman Kristen diserang oleh Pihak lain, dan ini merupakan kewajiban bagi orang Kristen. Apologetika dilakukan dengan  lemah lembut, tidak sombong dan Alkitabiah. Sanksi  pidana  maksimal dari kasus penodaan agama adalah sepuluh tahun, dan belum adanya perlindungan hukum yang sama  antara minoritas dan mayoritas beragama dalam penerapan “Asas Conditio Sine Qua Non”, sehingga untuk melakukan pembelaan cukup mengungkap kebenaran Firman Tuhan tanpa menyerang agama orang lain. Kata Kunci : Apologetika, Iman dan Rasa Adil

Page 1 of 1 | Total Record : 8