cover
Contact Name
-
Contact Email
pawiyatan@ivet.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
pawiyatan@ivet.ac.id
Editorial Address
Jl. Pawiyatan Luhur IV No.16, Bendan Duwur, Kec. Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah 50235
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Pawiyatan
Published by Universitas IVET
ISSN : -     EISSN : 27214702     DOI : -
Core Subject : Social,
Pawiyatan menyediakan sebuah platform untuk para dosen, peneliti, pelajar, praktisi dan akademisi untuk mempromosikan pengetahuan dan kredibilitas pada pendidikan. Jurnal yang diterbitkan dua kali setahun pada bulan januari dan juli berisi artikel-artikel yang terdiri dari makalah penelitian teoritis dan empiris berkualitas tinggi, makalah tinjauan dan pengabdian pada masyarakat.
Articles 207 Documents
Pelestarian Budaya Nasional Melalui Kegiatan Tradisional
Pawiyatan Vol 20 No 3 (2013)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah berdasarkan rumusan yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 32 ayat 1 dan 2, maka dapat disimpulkan bahwa pemerintah berkewajiban memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia. Hal ini tentunya dimaksudkan agar kebudayaan nasional Indonesia bisa berada ditengah-tengah peradaban dunia. Kebudayaan nasional Indonesia ikut mewarnai peradaban dunia. Sedangkan disisi lain masyarakat tentunya juga dituntut untuk memelihara budaya daerah. Hal ini disebabkan budaya daerah merupakan kekayaan budaya nasional. Pemerintah menghormati dan memelihara sebagai kekayaan budaya nasional. Pembangunan yang hanya berorientasi pada upaya peningkatan pendapatan perkapita ternyata tidak menjamin adanya pemerataan hasil pembangunan. Seiring dengan kemajuan zaman, tradisi dan kebudayaan daerah yang pada awalnya dipegang teguh, di pelihara dan dijaga keberadaannya oleh setiap suku dan daerah, kini terasa sudah hampir punah. Pada umumnya masyarakat sekarang dengan issu globalisasi merasa gengsi dan malu apabila masih mempertahankan dan menggunakan budaya lokal atau budaya daerah. Kebanyakan masyarakat sekarang lebih memilih untuk menampilkan dan menggunakan kesenian dan budaya modern daripada budaya yang berasal dari daerahnya sendiri yang sesungguhnya justru budaya daerah atau budaya lokallah yang sangat sesuai dengan kepribadian bangsanya. Tanpa mereka sadari bahwa budaya daerah merupakan faktor utama terbentuknya kebudayaan nasional dan kebudayaan daerah yang mereka miliki merupakan sebuah kekayaan bangsa yang sangat bernilai tinggi dan perlu dijaga kelestarian dan keberadaanya oleh setiap individu di masyarakat. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan mengambil lokasi masyarakat di sekitar kota Semarang yang masih menyelenggarakan kegiatan tradisional. Adapun fokus penelitiannya adalah tentang kegiatan tradisional yang masih dilaksanakan masyarakat sekitar kota Semarang termasuk pelestariaannya. Data, sumber data dan nara sumber yang ditentukan dalam penelitian ini meliputi, data primer, data sekunder, orang, kejadian dan dokumen. Teknik pengumpulan data yang dipakai meliputi studi litelatur, observasi dan wawancara dengan teknik analisis data menggunakan Analysis Interactive model dari Miles dan Huberman. Keabsahan data menggunakan teknik ketekunan pengamatan dan triangulasi data. Hasil penelitian adalah: ( a ). Kegiatan tradisional masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat pendukung tradisi yang bersangkutan. Kegiatan tradisional tetap berakar pada budaya nasional, yang berarti bahwa budaya tradisional merupakan sumber kekayaan dari budaya nasional. ( b ). Tradisi suroan, nyadran maupun tradisi kungkum yang dilaksanakan di daerah - daerah tertentu masih tetap bertahan sampai saat ini, karena masyarakat pendukung budaya itu masih tetap menyelenggarakan tradisi itu setiap tahunnya. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut senantiasa melibatkan unsur golongan tua dan golongan muda, sehingga ada tali kesinambungan antara generasi terdahulu dengan generasi berikutnya. ( c ). Upaya pelestarian budaya tradisional dilakukan dengan cara melibatkan generasi muda dalam hal kepanitian, maupun pelaksanaan, sehingga generasi muda tidak sekedar menjadi panitia tetapi juga menjadi pelaku. ( d ) Pelaksanaan kegiatan tradisional memuat nilai-nilai: nilai ketuhanan, nilai sosial, nilai kerukunan, nilai budaya, nilai sejarah, nilai hiburan, nilai pendidikan, dan nilai ilmu pengetahuan. ( e ). Kegiatan tradisional tetap dilaksanakan, dengan tujuan agar masyarakat Indonesia yang majemuk dari sisi budaya tidak kehilangan budaya daerahnya. Sedangkan saran yang direkomendasikan kegiatan tradisional tetap harus mendapat pengarahan dan pengawasan, agar budaya daerah tidak menimbulkan pertentangan antara dua kelompok atau lebih yang berbeda pandangan, agar kegiatan tradisional tidak mengarah pada kegiatan yang bertentangan dengan nilai ketuhanan. Kata Kunci : Tradisional, Pelestarian, Budaya
Pengaruh Pemberdayaan Dan Kompetensi Terhadap Kepuasan Kerja Serta Dampaknya Pada Kinerja Karyawan Fitriati, Radiana
Pawiyatan Vol 28 No 01 (2021): PAWIYATAN
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.675 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengalisis pengaruh pemberdayaan terhadap kepuasan kerja, pengaruh kompetensi terhadap kepuasan kerja karyawan, pengaruh pemberdayaan terhadap kinerja karyawan, pengaruh kompetensi terhadap kinerja karyawan, dan pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 82 karyawan di Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan (RSPAW) Salatiga, yang diambil menggunakan metode simple random sampling. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis jalur dengan bantuan program SPSS versi 22. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pemberdayaan berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja, kompetensi berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja, pemberdayaan berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, kompetensi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, dan kepuasan kerja berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Hasil uji intervening menunjukkan bahwa kepuasan kerja terbukti memediasi pengaruh pemberdayaan dan kompetensi terhadap kinerja karyawan. Kata kunci: Pemberdayaan, Kompetensi, Kepuasan Kerja, Kinerja.
STUDI KOMPARASI HEAT TREATMENT TERHADAP SIFAT-SIFAT MEKANIS MATERIAL RING PISTON BARU DAN BEKAS
Pawiyatan Vol 20 No 1 (2013)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akhir-akhir ini  banyak beredar berbagai macam produk pin piston mulai dari produk orisinil (buatan jepang)  yang biasanya berharga mahal, hingga produk – produk non orisinil yang harganya relatif lebih murah. Harga produk orisinil saat ini sekitar sepuluh kali lipat dari harga produk tiruan. Kualitas produk non orisinil memang perlu dipertanyakan, melihat perbedaan harga yang cukup besar ini. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas dari sifat-sifat mekanis antara material ring piston baru yang berkualitas  original  dengan ring piston bekas pada sepeda motor Honda  supra X yang telah mengalami perlakuan panas dengan proses holding time 1,2, dan 3 jam. Proses heat treatmen dilakukan pada material ring piston sepeda motor honda supra X pada suhu dibawah titik lebur yaitu 900oC kemudian di quenching dengan air garam atau biasa disebut proses austenisasi, yang dilanjutkan dengan proses tempering pada suhu 400oC dengan variasi holding time tersebut diatas.  Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah angka kekerasan ring piston baru 39,94 HRC sementara harga kekerasan yang paling tinggi terjadi pada ring piston bekas  pada holding time 3 jam yaitu 38, 66 HRC sementara dari komposisi kimia terjadi perubahan yang tinggi pada unsur Fe yaitu 92,45 pada ring piston supra X baru dan 93,02 pada ring piston bekas. Kata Kunci : Ring piston, Heat treatment, sifat mekanis
Peningkatan Kemampuan Bercerita Melalui Media E-Learning Pada Peserta Didik Kelas XII IPA-2 Man 2 Kab. Semarang Sarno, Sarno
Pawiyatan Vol 28 No 02 (2021): PAWIYATAN
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.693 KB)

Abstract

Masih adanya sebagian peserta didik kelas XII IPA-2 MAN 2 Kabupaten Semarang yang kemampuannya dalam bercerita termasuk dalam kriteria rendah atau sangat kurang. Oleh sebab itu peneliti sebagai salah satu guru Mapel Bahasa Indonesia di sekolah tersebut bekerjasama dengan guru Bahasa Indonesia yang lain sebagai teman sejawat/kolabolator untuk meningkatkan kemampuan bercerita pada anak, salah satunya melalui penggunaan media e-learning. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah PTK, yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan pemahaman materi tertentu, yaitu kemampuan bercerita pada peserta didik. Subjek penelitian adalah seluruh peserta didik kelas XII IPA-2 yang berjumlah 34 anak, dengan teknik pengumpulan data: dokumentasi, pemberian tugas, dan observasi. Adapun teknik analisis data digunakan analisis deskriptif persentase (DP), dengan cara membandingkan hasil tindakan pada setiap siklus dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Hasil penelitian diperoleh simpulan bahwa: 1) upaya peningkatan kemampuan bercerita yang dilakukan observer bersama kolabolator melalui media e-learning diperoleh skor 15 atau 44,12% dengan kriteria kurang pada pra siklus menjadi 27 atau 79,41% dengan kriteria cukup pada siklus I, kemudian meningkat dan memenuhi indikator keberhasilan pada siklus II dengan perolehan skor 30 atau 88,24% dengan kriteria baik; 2) melalui media e-learning efektif dapat meningkatkan kemampuan bercerita pada peserta didik setelah dilakukan tindakan siklus II, karena 75% < 88,24% > 85% maka hipotesis tindakan: “Melalui media e-lerning dapat meningkatkan kemampuan bercerita bagi peserta didik kelas XII IPA-2 MAN 2 Kabupaten Semarang pada semester genjil tahun ajaran 2020/2021” dapat diterima atau terbukti. Kata kunci: Kemampuan Bercerita, e-learning.
EVALUASI STANDAR SARANA PRASARANA DI SMP NEGERI I BANGUNTAPAN BANTUL YOGYAKARTA
Pawiyatan Vol 22 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SMP Negeri 1 Banguntapan Bantul merupakan salah satu SMP di Yogyakarta yang berstandar nasional dan sedang mempersiapkan diri menjadi SMP rintisan bertaraf internasional. Berdasarkan hasil ujian nasional pada tahun 20014/2015, SMP ini termasuk salah satu SMP yang tingkat kelulusannya belum mencapai 100%. Masih rendahnya tingkat kelulusan SMP tersebut menu njukkan bahwa masih belum tercapainya standar minimum yang telah ditetapkan dalam PPRI Nomor 19 Tahun 2005, salah satunya standar sarana prasarana. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kelengkapan, pemanfaatan, dan pemeliharaan atau perawatan sarana prasarana di SMP Negeri I Banguntapan Bantul. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian evaluasi dengan model evaluasi Tyler (Goal Oriented Evaluation Model). Berdasarkan hasil observasi, secara keseluruhan kelengkapan sarana prasarana SMP Negeri I Banguntapan Bantul Yogyakarta dikatagorikan sangat baik dengan pencapaian skor 3,633. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh bahwa secara keseluruhan pemanfaatan prasarana dikatagorikan baik dengan pencapaian skor 2,72. Artinya, prasarana SMP Negeri I Banguntapan Bantul telah dimanfaatkankan sebagai penunjang proses belajar mengajar dan kegiatan kesiswaan, namun ada beberapa prasarana dan saran yang pemanfaatannya kuang optimal serta kondisinya kurang terawat. Hasil observasi menunjukkan bahwa ada beberapa prasarana dan sarana yang kondisi dan keterawatannya kurang baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) Kelengkapan sarana prasarana SMP Negeri I Banguntapan Bantul Yogyakarta dikatagorikan sangat baik dengan pencapaian skor 3,633. (2) Pemanfaatan prasarana dikatagorikan baik dengan pencapaian skor 2,72, namun ada beberapa prasarana yang pemanfaatannya kurang baik, yaitu ruang laboratorium IPA dan ruang laboratorium bahasa. Sedangkan pemanfaaatan sarana dikatagorikan cukup baik dengan pencapain skor 2. (3) Sarana prasarana yang memiliki kondisi dan perawatan yang baik adalah ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang konseling, tempat ibadah, ruang organisasi kesiswaan, UKS, jamban, gudang, Ruang Tata Boga, Ruang seni musik (band), dan kantin, sedangkan sarana prasarana yang memiliki kondisi dan perawatan yang kurang baik adalah perpustakaan, ruang laboratorium IPA, ruang guru, ruang tata usaha, ruang sirkulasi, dan ruang karawitan.Kata kunci : evaluasi, saran prasarana
TEORI SOSIOKULTURAL VYGOTSKY
Pawiyatan Vol 22 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan pendidikan anak usia prasekolah berbeda dari pendidikan anak usia sekolah dasar awal. Kalau pendidikan bagi anak usia prasekolah bertujuan mengoptimalkan tumbuh kembang anak, maka konsep pendidikan di awal sekolah dasar bertujuan mengarahkan anak agar dapat mengikuti tahapan-tahapan pendidikan sesuai jenjangnya. Selain tentu saja untuk mengembangkan berbagai kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan guna mengoptimalkan kecerdasannya. Di sinilah perbedaan antara pendidikan usia dini dengan pendidikan di sekolah dasar. Hal ini pula yang ingin didedahkan oleh Vygotsky dalam teori sosiokulturalnya. Sebabnya tidak lain karena anak usia dini memiliki ranah dan pemahaman yang berbeda dalam mengapresiasi lingkungan sosialnya dan juga sosial masyarakat pada umumnya.  Kata kunci: Vygotsky, lingkungan, sosial, pendidikan.
Kreativitas Guru Paud Dalam Mengembangkan Media Pembelajaran Melalui Pemanfataan Bahan Alam
Pawiyatan Vol 22 No 3 (2015)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan bermain sambil belajar merupakan kegiatan yang paling menyenangkan untuk anak-anak. Pada usia 4 – 6 tahun atau pada masa pendidikan Taman Kanak-kanak anak-anak sudah sangat membutuhkan alat untuk bermain dalam rangka mengembangkan kemampuannya, bakatnya, minatnya sesuai dengan apa yang ia lihat dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitarnya. Bermain dengan menggunakan alat permainan dapat memenuhi seluruh aspek kebahagiaan anak. Pada saat anak merasakan senang, maka pertumbuhan otak anak pun kian meningkat sempurna sehingga akan makin memudahkan anak dalam melakukan proses pembelajarannya. Oleh karena itu alat permainan ini tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan anak. Pembelajaran anak usia dini dapat berhasil jika kegiatan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan tahapan tumbuh kembang anak. Kendalah yang sering dihadapi para guru dalam pembelajaran tersebut biasanya karena keterbatasan biaya dalam penggunaan media pembelajaran. Guru dituntut kreatif dalam pengembangan media pembelajaran dengan memanfaatan bahan-bahan alam sekitar sehingga dapat menekan pengeluaran biaya. Setiap daerah memiliki potensi alam yang luar biasa banyak dan bisa dimanfaatkan untuk pengembangan media pembelajaran dalam pendidikan anak usia dini. Seperti : tanaman, bekas serutan kayu, limbah kayu dari mebel, kulit kerang, maupun bahan-bahan alam lainya. Kreatifitas guru dituntut agar proses pembelajaran dapat berlangsung menyenangkan dan variatif sehingga anak-anak tidak merasa bosan, dengan bervariasinya media yang digunakan dalam pembelajaran anak usia dini, tujuan pembelajaran dapat tercapai. Mengingat terbatasnya biaya operasional lembaga pendidikan tk/paud yang menyebabkan minimnya media yang digunakan dalam pembelajran, maka pemanfaatan bahan-bahan alam dapat menjadi solusi dalam pengembangan media pembelajaran yang murah dan mudah didapat dari lingkungan sekitar tetapi tetap mengutamakan aspek keamanan, kenyamanan, kemudahan, ramah lingkungan dan menyenangkan bagi anak.Kata kunci : krativitas guru, media pembelajaran, dan bahan alam
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
Pawiyatan Vol 23 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekerasan pada istri adalah suatu perlakuan atau situasi yang menyebabkan kualitas aktual seseorang ada di bawah kualitas potensialnya,artinya  ada sebuah situasi yang menyebabkan segi kemampuan atau potensi individu tidak muncul. Situasi yang menyebabkan potensi menjadi terhambat itu bermacam–macam dapat berupa teror–teror berencana yang menyebabkan seorang istri ketakutan dan tertekan, dapat berupa sikap pengekangan, sehingga anggota keluarga tersebut menjadi bodoh, terbelakang dan lain sebagainya. Dengan demikian kekerasan dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan potensi seseorang tidak dapt diakulisasikan. Bentuk-bentuk kekuasaan yang dilakukan oleh suami pada istri digolongkan menjadi 4 (empat) kategori kekerasan, yaitu: (1) kekerasan fisik; (2) kekerasan psikis/emosional; (3) kekerasan seksual; dan (4) kekerasan ekonomi. Seorang istri bisa mengalami salah satu bentuk kekerasan maupun semua bentuk kekerasan tersebut. Akan munculnya  kekerasan suami pada istri ini berawal dari konstruksi sosial yang keliru dimana budaya menetapkan kedudukan laki-laki setingkat lebih tinggi dari pada perempuan. Hal ini dinamakan tatanan sosial yang dilandasi pada sistem yang patriarkhis. Ada juga teori  yang menjelaskan kekerasan suami pada istri ini muncul adanya sisi individual dari suami atau istri yang memicu terjadinya kekerasan seperti: faktor lingkungan, keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi, ras, pecandu alkohol, sakit mental, dan sebagainya. Meskipun sisi individu seseorang juga dapat memicu terjadinya kekuasaan pada istri, namun kerangka yang lebih besar dari munculnya kekerasan   ini adalah faktor tatanan sosial yang patriarkhis. Oleh karena itu upaya yang utama adalah mengurangi mistos-mitos  merugikan perempuan (istri), terutama yang berkaitan dengan kekerasan, perlu dilakukan oleh istri sendiri maupun pihak-pihak lain yang terkait  seperti: masyarakat,  suami, aparat penegak hukum maupun lembaga swadaya yang lain. Kampanye-kampanye untuk mempopulerkan fakta kekerasan juga dipandang perlu agar persoalan seperti ini jangan dipendam sendiri oleh istri dan  dianggap tabu sehingga masyarakat menganggap remeh/tidak penting persoalan ini.  Kata Kunci: Kekerasan, suami pada istri.
PENINGKATAN PROFESIONALITAS GURU MELALUI PEMBIMBINGAN DAN PENDAMPINGAN DI GUGUS KARTINI KECAMATAN SIDOMUKTI KOTA SALATIGA jatmi, bety dwi
Pawiyatan Vol 25 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.185 KB)

Abstract

BETY DWI JATMI, “Upaya Peningkatan Profesionalitas Guru melalui Pembimbingan dan Pendampingan di Gugus Kartini Kec. Sidomukti Kota Salatiga”, PTS, Dinas Pendidikan Kota Salatiga, 2017. Latar belakang masalah adalah, masih adanya sebagian guru yang melaksanakan proses pembelajaran hanya sekedar sebagai kewajiban belaka, sehingga profesionalitas sebagai seorang guru belum dipahami dan dimaknai secara maksimal. Di sisi lain, pembimbingan dan pendampingan bagi guru sangat diperlukan, karena dapat memper-kuat, memberikan motivasi dan menyeragamkan hasil dan kualitas pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku. Tujuan kegiatan adalah untuk mendapatkan data secara empiris: 1) profesionalitas guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran; 2) proses pembimbingan dan pendampingan bagi para guru di Gugus Kartini Kecamatan Sidomukti; dan 3) proses pembimbingan dan pendampingan dalam meningkatkan profesionalitas guru di Gugus Kartini Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan sekolah (PTS) dengan subjek 10 guru dari 5 (lima) SD yang tergabung dalam Gugus Kartini di Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah lembar observasi dengan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif persentase (DP), sedangkan indikator keberhasilan ditetapkan 75% skor diperoleh secara individu dan 85% skor diperoleh secara keseluruhan. Hasil penelitian diperoleh simpulan: 1) profesionalitas guru SD dalam pelaksanaan proses pembelajaran adalah sangat baik, hal ini didukung dengan perolehan skor rata-rata 77,8 atau sekitar 8 dari 10 guru sebagai subjek; 2) pelaksanaan pembimbingan dan pendampingan oleh Pengawas kepada guru SD adalah sangat baik, hal ini didukung dengan perolehan skor rata-rata sebesar 73,75 atau sekitar 8 dari 10 guru sebagai subjek setelah tindakan pada siklus kedua; dan 3) melalui pembimbingan dan pendampingan dapat meningkatkan profesionalitas guru SD di Gugus Kartini Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga pada semester genap tahun pelajaran 2016/2017, hipotesis tersebut dinyatakan diterima atau terbukti
Strategi Intervensi Konseling Untuk Mengatasi Kecemasan Siswa
Pawiyatan Vol 21 No 1 (2014)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecemasan merupakan reaksi emosional yang ditimbulkan oleh penyebab yang tidak spesifik yang dapat menimbulkan perasaan khawatir, tidak nyaman dan merasa terancam. Timbulnya kecemasan biasanya didahului oleh faktor-faktor tertentu. Demikian pula kecemasan yang di alami oleh para siswa SMP di Kabupaten Magelang yang berakibat pada pesimistik setiap kegiatan yang dilakukan. Sebab-sebab kecemasan ini bisa berupa kurangnya kepercayaan diri, adanya putus asa, frustasi, tidak dapat bertindak secara efektif, dan bahkan hingga sampai pada kegagalan dalam berprestasi. Oleh sebab itu tindakan intervensi konseling model ini dirasa mampu mengurangi dan bahkan menghilangkan rasa kecemasan yang ada pada diri siswa tersebut. Tujuan penelitian ini adalah: (1) membandingkan tingkat kecemasan siswa sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dan strategi konseling berupa Cognitif Restructing (CR) dan Systematic Desensitisasi (SD) dan (2) membandingkan keefektifan intervensi dan strategi konseling berupa Cognitif Restructing (CR) dan Systematic Desensitisasi (SD) yang dikombinasikan dengan tanpa dikombinasikan keduanya untuk menangani kecemasan siswa. Jenis penelitian ini adalah eksperiman dengan menggunakan model pretest-postest control group yaitu untuk membandingkan antara kedua konseling tersebut. Sedangkan sampel penelitian dipilih secara purposive random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah dilakukan Strategi Intervensi Konseling (SIK), dan (2) SIK mampu mengatasi kecemasan pada siswa.Kata Kunci : Intervensi Konseling, Kecemasan