cover
Contact Name
-
Contact Email
pawiyatan@ivet.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
pawiyatan@ivet.ac.id
Editorial Address
Jl. Pawiyatan Luhur IV No.16, Bendan Duwur, Kec. Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah 50235
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Pawiyatan
Published by Universitas IVET
ISSN : -     EISSN : 27214702     DOI : -
Core Subject : Social,
Pawiyatan menyediakan sebuah platform untuk para dosen, peneliti, pelajar, praktisi dan akademisi untuk mempromosikan pengetahuan dan kredibilitas pada pendidikan. Jurnal yang diterbitkan dua kali setahun pada bulan januari dan juli berisi artikel-artikel yang terdiri dari makalah penelitian teoritis dan empiris berkualitas tinggi, makalah tinjauan dan pengabdian pada masyarakat.
Articles 207 Documents
Supervisi Edukatif Kolaboratif Secara Periodik Dalam Peningkatan Kinerja Guru MAN 1 Kudus Tahun Pelajaran 2020/2021 Chasnah, Chasnah
Pawiyatan Vol 28 No 02 (2021): PAWIYATAN
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.089 KB)

Abstract

Guru harus mememuhi 3 (tiga) standar kompetensi, yaitu: 1) pengelolaan pembelajaran dan wawasan kependidikan; 2) akademik/vokasional sesuai mata pelajaran; dan 3) pengembangan profesi. Ketiga kompetensi tersebut bertujuan agar guru memiliki kualitas diri dan pembelajaran, yang akhirnya berujung pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan demikian tujuan penelitian adalah mendeskripsikan langkah-langkah supervisi edukatif kolaboratif secara periodik dalam penyusunan rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian prestasi belajar peserta didik yang dapat meningkatkan kinerja guru, salah satunya adalah melalui supervisi edukatif kolaboratif secara peridodik. Desain penelitian digunakan PTK model siklus dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pelaksanaan penelitian Oktober sampai Desember 2021 dengan subyek guru MAN 1 Kudus yang berjumlah 20 orang. Teknik pengumpulan data digunakan dokumentasi dan observasi melalui instrument pada lembar observasi, sedang teknik analisis data digunakan deskriptif persentase. Data yang diperoleh berupa angka dari hasil observasi diolah secara kuantitatif, kemudian dianalisis dan disajikan dalam bentuk kata-kata, sehingga penyajian data merupakan penggabungan kedua teknik analisis, yaitu kuantitatif dan kualitatif (mixed method). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja guru meningkat setelah dilakukan tindakan berupa supervisi edukatif kolaboratif secara periodik dari siklus I ke siklus II. Hasil peningkatan kinerja guru dari siklus I ke siklus II tersebut adalah: 1) penyusunan rencana pembelajaran siklus I diperoleh sebesar 75,55%, pada siklus II meningkat menjadi 91,11%; 2) pelaksanaan pembelajara siklus I diperoleh skor 70,91%, pada siklus II meningkat menjadi 89,10%; 3) penilaian prestasi belajar pada siklus I dicapai skor 83,33%, untuk siklus II meningkat menjadi 95,00%; dan 4) tindak lanjut penilaian prestasi belajar peserta didik pada siklus I diperoleh skor 54,00%, pada siklus II meningkat menjadi 84,00%, sehingga tindakan pada siklus II telah memenuhi indikator keberhasilan yang ditetapkan, yaitu di atas 75%. Kata kunci: supervisi edukatif kolaboratif, periodik, kinerja.
PENINGKATAN KEMAMPUAN PERUMUSAN MASALAH DALAM MATA KULIAH PENELITIAN PENDIDIKAN MAHASISWA PTM SEMESTER V IKIP VETERAN MELALUI PROBLEM BASE INSTRUCTION
Pawiyatan Vol 21 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mata kuliah metodologi penelitian dianggap sebagai mata kuliah yang sulit dipahami, khususnya untuk mengidentifikasi masalah dan merumuskannya. Dari refleksi awal menunjukan bahwa 50% siswa mengalami kesulitan dalam hal mengidentifikasi masalah dan merumuskan masalah serta menentukan judul penelitian, 30% cukup baik dan hanya 20% yang mampu mengidentifikasi dan merumuskan masalah penelitian dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan perumusan masalah dalam mata kuliah penelitian pendidikan melalui problem base Instruction. Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas, yang secara siklis dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa: Metode Problem Base Instruction dapat meningkatkan; (1) kemampuan perumusan masalah, terbukti terdapat peningkatan secara klasikal dari 50% pada pra siklus meningkat menjadi 72,22 %  pada siklus I dan 88,89% pada siklus II > indikator keberhasilan kelas 85%; (2) keaktifan mahasiswa, terbukti ada peningkatan keaktifan mahasiswa dari 50% pada pra siklus meningkat menjadi 66,67% pada siklus I, meningkat menjadi 83,33% pada siklus II > indikator keaktifan 80%;(3) Metode Problem Base Instruction dapat dilaksanakan dengan baik oleh dosen pengampu. Terbukti dari 9 (sembilan) kegiatan yang diamati semua dinilai baik (100%) = dengan Indikator 100% Saran. Perlu adanya: (1) contoh proposal selingkung sebagai acuan, mereka memerlukan ATM (Amati acuan, Tiru, Modifikasi); (2) media yang menarik secara tampilan maupun substantif yang berbasis internet untuk menunjukan dan menjelaskan terutama saat konfirmasi; (3) pengaturan waktu tertulis dalam perencanaan dan alarm dalam pelaksanaan; (4) motivasi yang intens dengan menunjukan pentingnya mata kuliah metodologi penelitian. Kata Kunci : Peningkatan, Perumusan Masalah, Problem Base Instruction.
Penggunaan Eceng Gondok Rawa Pening Ambarawa Untuk Cooling Pad Komposit Menggunakan Metode Kompaksi
Pawiyatan Vol 22 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serat alam banyak dimanfaatkan di bidang teknologi material. Serat alam sebagai penguat material komposit. Komposit memiliki sifat ringan, kuat, elastis, dan tangguh. Kekurangan serat alam pada kekuatan yang tidak merata. Jenis serat alam yang banyak dipakai yaitu sisal , flex, hemp, jute, rami, kelapa, dan eceng gondok. Eceng gondok rawa pening memiliki kekuatan tarik yang tinggi yaitu 19 N/mm2 dan tahan temperatur 50oC. Bahan komposit eceng gondok sebagai bahan eksterior mobil, elektronik, dan perlengkapan komputer. Penggunaan serat alam eceng gondok Rawa Pening Ambarawa sudah banyak dimanfaatkan, tetapi untuk perlengkapan komputer belum pernah dilakukan. Pada riset ini, ingin memanfaatkan eceng gondok Rawa Pening untuk pembuatan cooling pad komposit yang tahan beban, ringan, kuat dan temperatur tinggi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa antara serat dan serbuk eceng gondok, pengaruh penamabahn fraksi volume, dan tekanan kompaksi terhadap kekuatan mekanik cooling pad komposit. Metode penelitian ini dengan memvariasi serat dan serbuk eceng gondok, fraksi volume 20, 30, dan 40% penguat, dan tekanan kompaksi. Hasil uji mekanik yang paling baik pada komposisi cooling pad komposit B1 pada tekanan kompaksi 200 Kpa memiliki kekuatan mekanik paling besar yaitu kekuatan tarik 26,5 N/mm2, uji impak 0,002565 J/mm2, dan uji fatik 27,1 Mpa. Bertambahnya kekuatan tekan kompaksi, fraksi volume dan serat eceng gondok meningkatkan kekuatan mekanik cooling pad komposit, sehingga memiliki kwalitas baik. Keyword: eceng gondok, cooling pad, kompaksi, rawa pening, serat.
Pengembangan Ukm Krupuk Wedi Dan Kacang Tanah Kulit Dengan Mesin Otomatis Di Desa Wedelan Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara
Pawiyatan Vol 22 No 3 (2015)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) telah mencapai 55,2 juta dan memberikan kontribusi sebesar 57 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. UKM Adem Ayem dan UKM Putra Mandiri terletak di desa Wedelan kecamatan Bangsri kabupaten Jepara dan bergerak dalam bidang krupuk wedi dan kacang tanah kulit. UKM ini memiliki peluang yang besar untuk berkembang, tetapi faktor penggorengan yang konvensional, kapasitas rendah, sulitnya memisah pasir dengan produk, dan biaya sablon yang mahal. Faktor lain pada ilmu Manajemen usaha dan strategi pemasaran masih kurang. Modal usaha kecil dan sulitnya mencari pinjaman modal usaha dari bank atau pemerintah, menjadikan UKM sulit berkembang. Metode yang dipakai pada program IbM adalah Memberi pelatihan dan pendampingan membuat mesin penggoreng otomatis, mesin spinner, pelatihan sablon, pelatihan SOP dan K3, memberikan ceramah kewirausahaan, pembukuan, akutansi UKM dan cash flow, strategi pemasaran, perkembangan usaha dan tambahan modal usaha. Hasil penerapan program dengan mesin penggoreng otomatis media pasir dan mesin spinner mengurangi tenaga kerja, bahan bakar, meningkatkan produksi, menghemat waktu, dan produk lebih higienis, pelatihan sablon plastik meningkatkan pendapatan keuangan dan mengurangi ongkos produksi dihitung biaya sablon yang tinggi, Pelatihan manajemen usaha dan strategi pemasaran produk menambah keilmuan dan ketrampilan mitra dalam penggelolaan UKM..Keywords : goreng, krupuk, kacang, sablon, usaha.
PEMILIHAN MEDIA YANG TEPAT DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH
Pawiyatan Vol 23 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran disekolah pada saat ini mulai disesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi, sehingga terjadi perubahan dan pergeseran paradigma pendidikan. Perkembangan yang sangat  pesat tersebut mempercepat aliran ilmu pengetahuan yang menembus batas-batas dimensi ruang dan waktu. Tentu saja hal ini berpengaruh pada kebiasaan dan budaya pendidikan yang dikelola selama ini. Kemajuan dan perkembangan teknologi sudah demikian menonjol sehingga penggunaan alat-alat bantu mengajar berupa media harus disesuaikan dengan kondisi perkembangan zaman saat ini. Selain itu juga harus disesuaikan dengan tuntutan kurukulum baik materi,metode maupun tingkat kemampuan belajar peserta didik agar dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik dan optimal disekolah. Oleh karena itu, guru dituntut untuk menggunakan peralatan-peralatan berupa media dalam pembelajarannya, sehingga dapat memperlancar dan mempermudah peserta didik untuk mencerna dan memahami materi yang diberikan serta pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Media pembelajaran adalah alat yang berfungsi dan digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara peserta didik, guru dan materi pelajaran. Substansi dari  media pembelajaran adalah bentuk wahana yang digunakan untuk menyalurkan pesan, informasi atau bahan pelajaran kepada penerima pesan atau peserta didik. Dapat pula dikatakan bahwa media pembelajaran adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan peserta didik yang dapat merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting karena ketidakjelasan materi yang disampaikan oleh guru dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kesulitan materi yang disampaikan guru kepada peserta didik dapat diatasi dengan bantuan media. Namun peranan media tidak akan terlihat bila pemilihannnya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.karena itu , tujuan pembelajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Apabila diabaikan, maka media bukan lagi sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efisien. Dalam aspek media pembelajaran sejarah, guru dituntut memiliki kreativitas memilih media pembelajaran yang tepat sehingga kegiatan pembelajaran tampak lebih menarik dan interaktif serta tidak terkesan membosankan. Agar media pembelajaran yang dipilih guru itu tepat, disamping harus memenuhi prinsip-prinsip pemilihan, juga terdapat beberapa faktor dan kriteria yang perlu diperhatikan. Dengan pemilihan Media yang tepat diharapkan kegiatan belajar peserta didik akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik. Akhirnya dapat dipahami bahwa pemilihan media pembelajaran sejarah dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran.Kata Kunci : Pemilihan Media Yang Tepat, Pembelajaran Sejarah     
INOVASI PIPA KATALIS GANDA METODE HYDROCARBON CRACK SYSTEM UNTUK PENGHEMAT BAHAN BAKAR MOBIL TERHADAPPENGHEMATAN BAHAN BAKAR DAN TEMPERATUR MESIN Setiawan, Khanif; sutisna, utis
Pawiyatan Vol 25 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.334 KB)

Abstract

Naiknya harga bahan bakar menjadikan masyarakat lebih tertarik dengan mobil lebih irit. Inovasi telah banyak dikembangkan untuk alat penghemat bahan bakar, diantaranya metode booster, magnetik, elektrolisis, dan power arus. Alat-alat ini dapat meningkatkan performa mesin dan mengurangi konsumsi bahan bakar, tetapi menjadikan mesin over heating, over vibration, over noise dan yang paling parah mengakibatkan mesin pecah. Sehingga penelitian ini ingin mengembangkan pipa katalis HCS ganda yang disusun seri dengan memanfaatkan tekanan gas buang knalpot. Diharapkan riset ini dapat menghemat bahan bakar di atas 65% untuk mobil kijang ekstra tahun 1998 tanpa mempengaruhi performa mesin. Tujuan penelitian ini ingin mengembangkan desain pipa katalis HCS yang dapat menghemat bahan bakar di atas 65% untuk mobil mobil kijang ekstra tahun 1998 tanpa mempengaruhi performa mesin, dan temperature mesin. Hasilnya setelah dipasang pipa katalis HCS ganda pada mobil Kijang Grand Ekstra tahun 1988 waktu penghematan bahan bakar mencapai 62,22% dan penurunan temperatur mesin 15.23% pada pipa katalis HCS ganda dengan panjang 200 mm, volume tabung pertamax 2000 ml, dan kecepatan putaran mesin 2000 rpm.
Implementai Pembinaan Teritorial Dalam Penanggulangan Kemiskinan
Pawiyatan Vol 21 No 1 (2014)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Undang-Undang RI No. 34 Tahun 2004 tentang TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Dalam Pasal 8, salah satu tugas Angkatan Darat adalah “Melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan di darat” atau yang dikenal dengan pembinaan teritorial. Pembinaan teritorial yang pada hakekatnya merupakan setiap usaha dan kegiatan menumbuhkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dengan meningkatkan kepekaan dan daya tangkal setiap ancaman terhadap NKRI. Pembinaan teritorial semestinya juga ikut membuat masyarakat sadar akan berbangsa dan bernegara yang baik. Dalam kondisi sekarang, pembinaan teritorial merupakan alat sistem pertahanan dan keamanan untuk membina agar rakyat waspada terhadap ancaman-ancaman instabilitas. Fungsi teritorial melekat dengan tentara. Salah satu ancaman instabilitas adalah masalah kemiskinan. Kemiskinan merupakan potensi ancaman yang berkembang di masyarakat khususnya ancaman dari sumber daya manusia (SDM) yang berakibat ancaman bagi keutuhan Bangsa dan Negara yang harus diperangi oleh seluruh masyarakat. Implementasi Binter Dalam Penanganan Kemiskinan Melalui Kebijakan Pemerintah. Kebijakan yang ditempuh Provinsi Jawa Tengah dalam rangka penanggulangan kemiskinan yang disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah pada acara rakor Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) tanggal 15 Nopember 2010 mencakup: (1)Kebijakan ekonomi, (2)Kebijakan perluasan kesempatan kerja dan berusaha, (3)Kebijakan pengurangan kesenjangan antar wilayah, (4)Kebijakan pemenuhan hak dasar. Target implementasi binter dalam penanggulangan kemiskinan adalah tumbuhnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dengan meningkatkan kepekaan dan daya tangkal setiap ancaman terhadap keutuhan NKRI. Dalam hal ini kemiskinan merupakan salah satu bentuk potensi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan (AGHT) yang berkembang di masyarakat yang mempengaruhi ketahanan wilayah. Untuk mewujudkan target tadi tidak bisa lepas dari target pengentasan kemiskinan itu sendiri. Sasaran implementasi binter dalam penanggulangan kemiskinan adalah pelaku dan pemanfaat langsung penanggulangan kemiskinan, khususnya untuk PNPM-MP di tingkat Kabupaten/Kota sasarannya Kelompok Belajar Perkotaan (KBP), sedangkan ditingkat masyarakat sasarannya angggota BKM/LKM, relawan, Kelompok swadaya Masyarakat (KSM). Sedangkan sasaran penanggulangan kemiskinan sendiri. Monitoring/pemantauan dan evaluasi penanggulangan kemiskinan dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang kondisi kemiskinan dan kinerja kebijakan/program secara obyektif dan sistematik. Monitoring/pemantauan dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam penanggulangan kemiskinan, baik institusi pemerintah maupun non pemerintah, di pusat maupun di daerah termasuk dalam hal ini TNI. Hasil monitoring/pemantauan dan evaluasi oleh berbagai pihak harus diverifikasi dan dikonsolidasi agar menghasilkan informasi yang akurat dan sistematis. Diharapkan dengan monev partisipatif masyarakat dapat tumbuh kesadaran dan partisipasinya yang dapat meningkatkan kepekaan dan daya tangkal setiap ancamanterhadap keutuhan NKRI.Kata Kunci : NKRI, kemiskinan, territorial
Mengatasi Keterlambatan Anak Masuk Sekolah Melalui Konseling Perorangan Pada Peserta Didik Kelas x-ips-2 sma negeri 4 semarang Gitayati, Prih
Pawiyatan Vol 25 No 2 (2018): PAWIYATAN
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.15 KB)

Abstract

Tujuan penelitian: 1) mendeskripsikan faktor penyebab anak terlambat masuk sekolah, 2) pelaksanaan layanan konseling perorangan oleh guru BK; dan 3) pelaksanaan layanan konseling perorangan dalam mengatasi keterambatan anak masuk ke sekolah pada peserta didik di SMA Negeri 4 Semarang. Metode penelitian tindakan kelas menggunakan pendekatan kualitatif yang dikenakan pada subjek kelas X-IPS-2 yang berjumlah 35 anak. Alat pengumpul data adalah dokumentasi dan observasi yang didasarkan pada lembar pedoman observasi yang disusun oleh peneliti setelah mendapatkan persetujuan Kepala sekolah dan guru BK lain sebagai kolaborator. Teknik analisis data digunakan analisis deskriptif persentase yang diinterpretasikan dengan pedoman penilaian yang ditetapkan peneliti. Hasil penelitian diperoleh simpulan: 1) faktor penyebab anak terlambat datang ke sekolah ada berbagai macam, diantaranya kesibukan anak membantu orang tua, transportasi yang tidak lancar, dan pengaruh teman; 2) pelaksanaan layanan konseling perorangan oleh guru BK termasuk baik, hal ini diketahui dari hasil dari pra siklus 91,43% dengan kriteria kurang, kemudian siklus I diperoleh hasil 80,00% dengan kriteria cukup, dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 92,86 dengan kriteria baik, sedang sisanya 5 anak dalam kriteria kurang dilakukan tindakan guru BK berkolaborasi dengan peneliti diperoleh skor 100%, dan 3) pelaksanaan layanan konseling perorangan oleh guru BK dalam mengatasi keterlambatan anak masuk sekolah termasuk efektif, hal ini diperoleh angka sebesar 91,43% dan angka tersebut melebihi ketuntasan yang ditetapkan sebesar 75%.
Model Pemberdayaan Perempuan Dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan Masyarakat Agribisnis Di Kawasan Bandungan
Pawiyatan Vol 20 No 3 (2013)
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini  bertujuan untuk mendeskripsikan tentang bagaimana aksesibilitas kaum perempuan dalam bidang agribisnis dalam meningkatkan ketahan pangan di Kawasan Bandungan serta bagaimana kondisi social capital mempengaruhi aksesibilitas perempuan dalam bidang agribisnis di Kawasan Bandungan. Metode penelitian yang digunakan dalam tahap ini adalah metode penelitian kualitatif. Teknik sampling yang digunakan adalah purposif sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara terstruktur, observasi dan dokumentasi. Untuk memeriksa keabsahan data dilakukan pengujian atau pengukuran validitas internal dan eksternal, serta menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pemberdayaan perempuan masih bersifat partial belum terintegasikan atau  berkembang di lembaga/intitusi kemasyarakatan yang ada di  Bandungan.  Tingkat aksesibilitas perempuan dalam bidang agribisnis menonjol dalam beberapa kegiatan yaitu perawatan tanaman, memanen dan kegiatan pasca panen sampai kegiatan pemasaran. Aksesibilitas perempuan dalam sumberdaya dan pendapatan relatif seimbang, hanya pada pengelolaan pemanfaatan biaya produksi dan kebutuhan hidup lebih dominan perempuan. Akses pemanfaatan waktu luang bagi perempuan  relatif rendah, karena dominasi kegiatan domestik. Struktur social capital masyarakat agribisnis di Kawasan Bandungan masuk dalam type outward looking, dilihat dari unsur kepercayaan, norma-norma dan jaringan antar individu, maka ukuran modal sosial atau social capital masyarakat di Kawasan Bandungan relatif besar. Model yang direkomendasikan yaitu suatu model pemberdayaan perempuan bidang agribisnis dengan  penekanan pada penguatan dan revitalisasi kelembagaan atau institusi /social capital yang  tumbuh dan berkembang, baik bidang ekonomi, social budaya, agama, dan politik, sehingga tercipta sistem koordinasi kelembagaan yang kondusif, partisipatif dan pasar bersaing bersahabat, sehingga diharapkan berpeluang meningkatkan aksesibilitas perempuan. Kondisi ideal yang terbentuk diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas perempuan agribisnis baik dalam aspek kegiatan atau aktifitas, sumberdaya, pendapatan, kepemimpinan dan waktu luang, sehingga keberdayaan perempuan dan ketahanan pangan dapat masyarakat meningkat.  Kata Kunci : pemberdayaan, social capital
Studi Deskriptif Faktor Yang Memengaruhi Kesulitan Belajar Mahasiswa Sayekti, Sri; Redjeki, Sri; Handayani, Dwi Asih Kumala
Pawiyatan Vol 27 No 02 (2020): PAWIYATAN
Publisher : Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.463 KB)

Abstract

Kesulitan belajar merupakan keadaan dimana mahasiswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Mahasiswa program studi bimbingan dan konseling, baik mahasiswa yang bekerja maupun yang tidak bekerja memiliki kesulitan belajar dalam mengikuti perkuliahan. Tujuan penelitian: mendeskripsikan bentuk kesulitan belajar, mendeskripsikan factor kesulitan belajar, mendeskripsikan upaya mengatasi kesulitan belajar. Hasil analisis deskriptif terhadap tiga variabel, Variabel Bentuk kesulitan belajar: Kesulitan memotivasi diri 55,8%, Kesulitan memahami kelebihan dan kekurangan 48,8%, Kesulitan memiliki stategi belajar yang baik 46,5%. Variabel Faktor kesulitan belajar: Pengguna media sosial yang berlebihan (eksternal) 48,8%, Motivasi belajar yang kurang mendukung (internal) 44,2%, Kesulitan mempelajari materi kuliah (internal) 39,5%. Variabel Upaya mengatasi kesulitan belajar: Meningkatkan kedisiplinan belajar 75,6%, Bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan dosen 73,3%, Teman kuliah sebagai sharing dalam mengatasi kesulitan belajar 72,1%. Simpulan: (1) Bentuk kesulitan belajar memperoleh nilai tertinggi ada 3, (a) Kesulitan memotivasi diri, (b) Kesulitan memahami kelebihan dan kekurangan, (c) Kesulitan memiliki stategi belajar yang baik. (2) Faktor kesulitan belajar: faktor Internal (7 indikator), dan faktor eksternal (5 indikator). (3) Upaya mengatasi kesulitan belajar memperoleh nilai tertinggi adalah: (a) Meningkatkan kedisiplinan belajar, (b) Bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan dosen, dan (c) Teman kuliah sebagai sharing dalam mengatasi kesulitan belajar. Kata Kunci: Kesulitan belajar, Mahasiswa

Page 9 of 21 | Total Record : 207