cover
Contact Name
Nitaria Angkasa
Contact Email
lawmuhammadiyah@gmail.com
Phone
+6281272533316
Journal Mail Official
lawmuhammadiyah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ki Hajar Dewantara No.116, Iringmulyo, Metro Timur, Kota Metro. 34111 Prodi Hukum Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Metro
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Muhammadiyah Law Review
ISSN : 2549113X     EISSN : 2580166X     DOI : https://doi.org/10.24127
Core Subject : Social,
The Journal of Muhammadiyah Law Review published by Faculty of Law University of Muhammadiyah Metro – Lampung. The accepted papers are the scientific papers which are the outcomes of either research or thoughts that refers to Law studies. It is published for the readers both regional and global. The Journal of Muhammadiyah Law Review is published into two volumes a year (January and July). As the peer-review of Indonesian Journal, we accept scientific works on islamic studies which are writen both in English and Indonesia. Feel free to send the papers through registering this page. The Review basically contains any novel topics concerning Indonesian laws and legal system. The range of contents covered by the review spans from established legal scholarships and fields of law such as private laws and public laws which include: constitutional and administrative law criminal law international laws concerning Indonesia various approaches to legal studies such as comparative law, law and economics, sociology of law, and legal anthropology Specialized areas of laws including commercial and business laws technology law, and natural resources law
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 144 Documents
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS PELANGGARAN DATA PRIBADI BERBASIS KECERDASAN BUATAN DALAM PERSPEKTIF PERBANDINGAN HUKUM PIDANA (INDONESIA,UNI EROPA DAN SINGAPURA) Abdul Aziz Pamungkas; Yulianto Pamungkas; Javan Agustian Setyagraha; Summarno; Moch. Eka Setiyo Budi Utomo
Muhammadiyah Law Review Journal Vol 10 No 2 (2026): Muhammadiyah Law Review
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/mlr.v10i2.5438

Abstract

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membawa paradoks fundamental di satu sisi mendorong efisiensi dan inovasi, di sisi lain membuka potensi eksploitasi data pribadi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hukum pidana positif Indonesia, yang terdiri atas KUHP Baru (UU No. 1 Tahun 2023), Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), serta Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP No. 27 Tahun 2022), menghadapi tantangan serius dalam mengkonstruksi pertanggungjawaban pidana terhadap pelanggaran data yang dimediasi oleh sistem AI yang bersifat otonom. Penelitian ini bertujuan menganalisis: (1) konstruksi pertanggungjawaban pidana terhadap pelanggaran data pribadi berbasis AI dalam hukum pidana positif Indonesia; dan (2) perbandingan efektivitas penegakan hukum pidana di bidang AI dan data pribadi antara Indonesia dengan Uni Eropa (GDPR dan EU AI Act) serta Singapura (PDPA). Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif-doktrinal dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia mengalami tiga kekosongan regulasi kritis: (a) ketiadaan definisi 'sistem AI' yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana; (b) ambiguitas mens rea dalam pemrosesan data otonom; dan (c) ketidakjelasan mekanisme strict liability korporasi dalam pelanggaran data masif. Dibandingkan dengan rezim hukum UE dan Singapura, konstruksi pidana Indonesia bersifat reaktif dan belum mengadopsi prinsip by-design accountability. Penelitian ini merekomendasikan pembentukan Peraturan Pemerintah turunan UU PDP yang secara eksplisit mengatur tindak pidana berbasis AI, pembentukan Otoritas Pengawas AI independen, serta kodifikasi doktrin vicarious criminal liability korporasi dalam regulasi teknologi digital.
PERLINDUNGAN HUKUM PEMEGANG HAK ATAS TANAH PASCAPUTUSAN INKRACHT TERHADAP ASET PEMERINTAH DAERAH Achmad Aidil Marala
Muhammadiyah Law Review Journal Vol 10 No 2 (2026): Muhammadiyah Law Review
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/mlr.v10i2.5442

Abstract

Penelitian ini mengkaji perlindungan hukum bagi pemegang hak atas tanah yang telah memperoleh putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) berkekuatan hukum tetap (inkracht), namun putusan tersebut tidak kunjung dilaksanakan oleh pemerintah daerah karena objek sengketa telah tercatat sebagai aset daerah. Studi kasus diambil dari Putusan PTUN Makassar Nomor 138/G/2022/PTUN.Mks terkait Sertifikat Hak Pakai Nomor 03/Desa Panrannuangku di Kabupaten Takalar. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif-empiris dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, didukung data primer hasil wawancara dengan Kantor Pertanahan dan Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Takalar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hukum preventif dapat diwujudkan melalui enam instrumen, yaitu optimalisasi pendaftaran tanah sistematik, mekanisme pengaduan pertanahan, transparansi penetapan aset daerah, mediasi, integrasi data melalui kebijakan satu peta, serta penguatan pengawasan DPRD dan Inspektorat Daerah. Adapun perlindungan represif dapat ditempuh melalui tujuh mekanisme, meliputi permohonan eksekusi putusan, uang paksa (dwangsom), pembatalan produk hukum pertanahan, jaminan perlindungan bagi pejabat pelaksana putusan, gugatan perbuatan melawan hukum oleh penguasa, pengaduan ke Ombudsman, dan ganti rugi yang layak. Kelemahan utama terletak pada lemahnya sinergi antarinstrumen dan minimnya kesadaran hukum pemegang hak, sehingga diperlukan penguatan koordinasi kelembagaan dan literasi hukum masyarakat.
Mengintegrasikan Peran Ekosistem Dengan Hak Atas Lingkungan Yang Sehat Yana Suryana; Edi Sutikno; Ramli Umar; Syarifuddin Nanti
Muhammadiyah Law Review Journal Vol 10 No 2 (2026): Muhammadiyah Law Review
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/mlr.v10i2.5446

Abstract

This study examines the integration of ecosystem protection with the right to a healthy environment as an essential component of human rights protection in addressing flood disasters in Indonesia. The study is motivated by the increasing frequency of floods caused not only by climate change but also by deforestation, land degradation, and weak spatial planning policies, which threaten fundamental human rights. This research employs a normative legal method using statutory, conceptual, and human rights approaches by analyzing the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia, environmental and disaster management legislation, and relevant international human rights instruments. The findings reveal that ecosystem degradation has significantly increased disaster risks and undermined the rights to life, security, health, housing, and a healthy environment. Consequently, the State bears constitutional obligations to protect, respect, and fulfil these rights through ecosystem-based disaster mitigation, effective environmental law enforcement, protection of vulnerable groups, and comprehensive post-disaster recovery. The study concludes that integrating ecosystem conservation with the protection of environmental rights is essential to strengthening sustainable development, disaster resilience, and the realization of constitutional human rights in Indonesia.
Pengganti Kehamilan Lintas Negara dan Kekosongan Hukum dalam Hukum Keluarga Indonesia: Perlindungan Status Anak dalam Perspektif Hukum Islam, Hukum Perdata Internasional, dan Hak Anak Intan Pelangi; Adhimaz Kondang Pribadi
Muhammadiyah Law Review Journal Vol 10 No 2 (2026): Muhammadiyah Law Review
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/mlr.v10i2.5452

Abstract

Cross border surrogacy presents complex legal issues in Indonesia because no specific rule determines the legal status of a child born through a surrogacy arrangement abroad, while Article 58 of Law Number 17 of 2023 permits assisted reproduction only when an embryo created from a married couple's own gametes is implanted in the wife from whom the ovum originated. Existing discussions commonly separate the permissibility of surrogacy, nasab (lineage), foreign parentage, citizenship, and children's rights. The research gap lies in the absence of an integrated Indonesian framework that distinguishes the invalidity of the adult arrangement from the continuity of the child's legal status. This normative legal study applies statutory, conceptual, case, and functional comparative approaches, comparing Indonesia with France, the United Kingdom, and India. The study identifies four dimensions of legal vacuum: substantive parentage rules, conflict of laws rules, judicial and registration procedures, and inter institutional coordination. Its novelty is a two-track status separation model: an ex ante track that retains prohibition or strict restriction of surrogacy, and an ex post track that guarantees birth registration, nationality assessment, judicial determination of parentage, non-abandonment, maintenance, and access to origin information according to the child's best interests. Thus, protecting the child does not legalise surrogacy; it prevents the rejection of adult conduct from becoming the legal abandonment of the child.