cover
Contact Name
Abd Kholiq
Contact Email
kholiq@unesa.ac.id
Phone
+6285731570404
Journal Mail Official
jifi@unesa.ac.id
Editorial Address
Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya Kampus Ketintang Unesa, Gedung C3 Lantai 1 Jl Ketintang, Surabaya 60321, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Inovasi Fisika Indonesia (IFI)
ISSN : 23024216     EISSN : 28301765     DOI : https://doi.org/10.26740/ifi
Jurnal Inovasi Fisika Indonesia(IFI) is a peer-reviewed journal, ISSN: 2302-4216, which is managed and published by the Department of Physics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA). This journal is accessible to all readers and covers developments and research in physics (Materials Physics, Earth Physics and Instrumentation Physics).
Articles 431 Documents
KARAKTERISTIK NANOKOMPOSIT GO/AgNPs BERBASIS BAHAN ALAM SEBAGAI MATERIAL ANTIBAKTERI Shilvy Ninda Anggraini; Diah Hari Kusumawati
Inovasi Fisika Indonesia Vol. 14 No. 3 (2025): Vol 14 No 3
Publisher : Prodi Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v14n3.p396-403

Abstract

Abstrak Infeksi kulit akibat bakteri seperti Staphylococcus aureus dan Escherichia coli merupakan masalah kesehatan umum di Indonesia, terutama pada individu dengan kondisi medis seperti diabetes. Diperlukan agen antibakteri yang efektif, aman, dan ramah lingkungan. Nanopartikel perak (AgNPs) memiliki kemampuan antibakteri tinggi, namun sering mengalami agregasi yang menurunkan stabilitas dan efektivitasnya. Kombinasi AgNPs dengan graphene oxide (GO) dapat meningkatkan stabilitas dan efektivitas tersebut. Penelitian ini mengembangkan nanokomposit GO/AgNPs berbasis bahan alam, dengan GO disintesis menggunakan metode Hummers termodifikasi dan AgNPs melalui green synthesis. Variasi rasio GO/AgNPs (1:0,4; 1:0,5; 1:0,6; 1:0,7; 1:0,8) menunjukkan potensi peningkatan antibakteri. Aktivitas diuji dengan metode difusi cakram terhadap S. aureus dan E. coli, dengan zona hambat sebagai indikator. Hasil menunjukkan komposit GO/AgNPs mampu menghambat kedua bakteri, dengan efektivitas tertinggi pada rasio 1:0,5, yaitu 94,48% untuk S. aureus dan 94,82% untuk E. coli. Mekanisme antibakteri meliputi pelepasan ion Ag⁺ yang merusak protein dan DNA bakteri, pembentukan ROS yang memicu stres oksidatif, serta interaksi lembaran GO yang mengganggu membran sel. Dibandingkan laporan sebelumnya dengan sintesis konvensional, nanokomposit berbahan alam ini lebih stabil dan efektif akibat distribusi AgNPs yang lebih merata dan pelepasan ion yang lebih terkontrol. Kombinasi GO–AgNPs ini berpotensi besar untuk aplikasi medis, terutama penanganan infeksi kulit secara aman dan berkelanjutan.   Abstract Skin infections caused by bacteria such as Staphylococcus aureus and Escherichia coli are common health issues in Indonesia, particularly among individuals with medical conditions like diabetes. Effective, safe, and environmentally friendly antibacterial agents are needed. Silver nanoparticles (AgNPs) possess strong antibacterial activity but tend to aggregate, reducing their stability and effectiveness. Combining AgNPs with graphene oxide (GO) can improve both stability and performance. This study developed a natural-based GO/AgNPs nanocomposite, with GO synthesized using a modified Hummers method and AgNPs produced through green synthesis. Variations in the GO/AgNPs ratios (1:0.4; 1:0.5; 1:0.6; 1:0.7; 1:0.8) showed potential for enhanced antibacterial activity. Antibacterial performance was tested using the disk diffusion method against S. aureus and E. coli, with inhibition zones as indicators. Results showed that the GO/AgNPs composite could inhibit both bacteria, with the highest effectiveness at a 1:0.5 ratio—94.48% for S. aureus and 94.82% for E. coli. The antibacterial mechanism includes the release of Ag⁺ ions that damage bacterial proteins and DNA, ROS formation that induces oxidative stress, and GO sheet interactions that disrupt cell membranes. Compared to previous studies using conventional synthesis, this natural-based nanocomposite demonstrated higher stability and effectiveness due to more uniform AgNP distribution and more controlled ion release. The GO–AgNPs combination holds strong potential for medical applications, particularly for safe and sustainable skin infection treatment.
DISTRIBUSI UKURAN BUTIR DAN PERMITIVITAS RELATIF KERAMIK TiO2 RUTIL Wilda Kusumaningtyas; Frida Ulfah Ermawati
Inovasi Fisika Indonesia Vol. 14 No. 3 (2025): Vol 14 No 3
Publisher : Prodi Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v14n3.p421-428

Abstract

Abstrak TiO2 rutil adalah salah satu material fungsional yang mempunyai banyak potensi aplikasi, salah satunya adalah sebagai resonator dielektrik microwave. Agar dapat berfungsi sebagai resonator dielektrik, material ini harus memiliki permitivitas relatif yang unggul. Permitivitas relatif dipengaruhi oleh keberadaan fasa utama, fasa sekunder, ukuran butir, serta nilai densitas. Apabila material memiliki fasa tunggal dan densitas tinggi, maka faktor fasa sekunder dapat diabaikan sehingga menyisakan faktor ukuran butir. Tujuan dari makalah ini adalah melaporkan analisis ukuran butir dan permitivitas relatif dari keramik padat fasa tunggal TiO2 rutil melalui uji XRD, SEM, dan VNA. Serbuk rutil disintesis dari pelarutan serbuk logam Ti dengan HCl. Serbuk hasil dikalsinasi pada 800 °C selama 4 jam. Serbuk kristalin dikompkasi menggunakan cylindrical die press berdiameter 12 mm dan hydraulic hand press pada tekanan 10 MPa menghasilkan pelet. Pelet disinter pada 1000 °C ditahan 4 jam sehingga menghasilkan keramik TiO2 rutil. Hasil refinement XRD menunjukkan fasa tunggal TiO2 rutil dengan parameter kisi dan vol. sel satuan yang konsisten terhadap TiO2 rutil (PDF Nomor 21-1276). Hasil SEM memperlihatkan morfologi permukaan yang padat dengan distribusi ukuran butir yang memenuhi kurva normal pada rentang 0,30 - 2,60 µm dan rata-rata ukuran butir yaitu 1,00 ± 0,01 µm. Uji VNA menghasilkan permitivitas relatif sebesar 20,283 pada frekuensi 4-6 GHz.   Abstract Rutile TiO2 exhibits versatile functionality with numerous potential applications, such as serving as a microwave dielectric resonator. To serve this purpose, the material must exhibit a high relative permittivity. The presence of a primary phase, secondary phases, as well as grain size and density, are key factors affecting this property. When the material achieves a single-phase structure with high density, the influence of secondary phases can be disregarded, leaving grain size as a critical factor. This study focuses on presenting the grain size characteristics and relative permittivity of dense single-phase rutile TiO2 ceramics based on XRD, SEM, and VNA analyses. The synthesis of rutile powder involved dissolving metallic Ti powder in HCl and subsequently performing calcination at 800 °C for 4 h. Pellets were produced by compacting the crystalline powder with a 12 mm cylindrical die press and applying a pressure of 10 MPa using a hydraulic hand press. The pellet was sintered at 1000 °C with a 4h dwell, yielding a rutile TiO2 ceramic. XRD refinement confirmed a single-phase rutile structure (PDF No. 21-1276) with consistent lattice parameters and unit cell volume. SEM observations showed a dense microstructure, with the grain size distribution fitting a normal curve, spanning from 0.30 – 2.60  micrometer and an average grain size of 1.00 ± 0.01micrometer. VNA measurements indicated a relative permittivity of 20.283 in the 4–6 GHz frequency range.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOKOMPOSIT Fe3O4-ZnO SEBAGAI MATERIAL FOTOKATALIS DEGRADASI METHYLENE BLUE Solikatul Badriyah; Munasir
Inovasi Fisika Indonesia Vol. 15 No. 1 (2026): Inpress Vol 15 No 1
Publisher : Prodi Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v15n1.p14-20

Abstract

Abstrak Beberapa tahun terakhir, pencemaran air disebabkan oleh berbagai industri tekstil produksinya menghasilkan limbah yang mengandung zat pewarna methylene blue. Dengan ini diperlukan material semikonduktor (seperti ZnO) yang mampu membantu kinerja fotokatalis untuk mengatasinya. Nanopartikel ZnO mudah rekombinasi pasangan elektron-lubang sehingga diperlukan penambahan  Fe₃O₄ dapat membantu mengurangi rekombinasi muatan dan memperpanjang umur pasangan elektron-lubang, sehingga meningkatkan efisiensi degradasi polutan. Nanokomposit Fe₃O₄-ZnO (FZ) telah berhasil disintesis menggunakan metode hidrotermal sebagai kandidat material fotokatalis untuk degradasi polutan organik. Proses sintesis dilakukan dengan menggabungkan nanopartikel Fe₃O₄ dan prekursor ZnO dalam kondisi reaksi terkontrol. Karakterisasi struktur kristal menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) menunjukkan bahwa nanokomposit FZ memiliki puncak-puncak khas yang merepresentasikan fasa ZnO dan Fe₃O₄, yang mengindikasikan keberhasilan pembentukan komposit. Ukuran kristalit FZ diperoleh sebesar 33,99 nm dan tergolong dalam kategori nanokristal. Analisis gugus fungsi menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) menunjukkan adanya getaran regangan logam–oksigen, yaitu pita serapan Zn–O pada sekitar 440–450 cm⁻¹ dan Fe–O pada sekitar 563 cm⁻¹. Keberadaan kedua gugus ini mengonfirmasi integrasi kedua material dalam struktur nanokomposit. Dengan struktur kristal yang baik dan kehadiran gugus fungsional yang mendukung, nanokomposit Fe₃O₄-ZnO berpotensi dikembangkan sebagai material fotokatalis yang efektif dalam aplikasi pengolahan air limbah yang mengandung zat warna organik.   Abstract In recent years, water pollution has become increasingly severe due to the discharge of dye-containing wastewater from various textile industries, with methylene blue being one of the most common and persistent pollutants. To address this issue, semiconductor materials such as zinc oxide (ZnO) are widely explored for their photocatalytic properties. However, ZnO nanoparticles suffer from rapid recombination of photo-generated electron–hole pairs, limiting their photocatalytic efficiency. To improve charge separation and enhance photocatalytic activity, the incorporation of magnetic Fe₃O₄ nanoparticles into ZnO has been proposed. In this study, Fe₃O₄-ZnO (FZ) nanocomposites were successfully synthesized via a hydrothermal method under controlled reaction conditions. The crystal structure analysis using X-ray Diffraction (XRD) confirmed the formation of a composite material, with diffraction peaks corresponding to both ZnO and Fe₃O₄ phases. The crystallite size of the FZ nanocomposite was determined to be 33.99 nm, indicating the nanocrystalline nature of the material. Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) analysis revealed characteristic metal–oxygen stretching vibrations, with absorption bands at approximately 440–450 cm⁻¹ for Zn–O and around 563 cm⁻¹ for Fe–O, confirming the successful integration of both metal oxides in the composite structure. Based on its crystalline properties and the presence of functional groups that facilitate photocatalytic reactions, the Fe₃O₄-ZnO nanocomposite exhibits great potential as an effective photocatalyst for the degradation of organic dyes in wastewater treatment applications.
DESAIN ANTENA MIKROSTRIP FOLDED DIPOLE PADA JARINGAN SELULAR 5G arnando, steven; Firdaus, Rohim Aminullah Firdaus; Rahmawati, Endah; Khoiro, Muhimmatul; Winarno, Nanang
Inovasi Fisika Indonesia Vol. 14 No. 3 (2025): Vol 14 No 3
Publisher : Prodi Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v14n3.p429-435

Abstract

Abstrak Artikel penelitian ini membahas tentang antena patch mikrostrip yang dibuat untuk komunikasi nirkabel. Bahan substrat yang digunakan yaitu FR-4 (lossy) dengan permitivitas dielektrik 4,3. Antena ini dirancang dengan menggunakan software CST Studio Suite. Desain antena patch mikrostrip yang ukurannya kecil, mudah difabrikasi, dan biaya yang murah telah dianalisis dalam artikel ini. Dari antena yang diusulkan memiliki return loss -34 dB dengan bandwidth sebesar 268 MHz pada return loss dibawah -10 dB. VSWR terendah pada frekuensi 3,5 GHz yaitu sebesar 1,01868. Antena ini dapat diaplikasikan pada ponsel, dan aplikasi LAN nirkabel.   Abstract This research article discusses microstrip patch antennas designed for wireless communication. The substrate material used is FR-4 (lossy) with a dielectric permittivity of 4.3. This antenna is designed using CST Studio Suite software. The design of the small-sized microstrip patch antenna, which is easy to fabricate and low-cost, has been analyzed in this article. The proposed antenna has a return loss of -34 dB with a bandwidth of 268 MHz at a return loss below -10 dB. The lowest VSWR at a frequency of 3.5 GHz is 1.01868. This antenna can be applied to radar systems, mobile phones, and wireless LAN applications.
Identifikasi Banjir Rob menggunakan Metode Klasifikasi dengan Model Random Forest dan Decision Tree di Pelabuhan Surabaya Tahun 2021-2023 -, kiki syalasyatun masfufah; Setyaningrum, Kartika Dwi Indra; Rahmawati, Endah; Hermanto, Ady
Inovasi Fisika Indonesia Vol. 15 No. 1 (2026): Inpress Vol 15 No 1
Publisher : Prodi Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v15n1.p21-29

Abstract

Abstrak Banjir rob merupakan salah satu jenis bencana hidrometeorologi yang kerap terjadi di wilayah pesisir, terutama akibat kombinasi antara pasang laut tinggi, fase bulan tertentu, dan curah hujan ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi banjir rob di kawasan Pelabuhan Surabaya dengan menggunakan algoritma klasifikasi Random Forest dan Decision Tree. Data yang digunakan meliputi parameter hidrometeorologi seperti fase bulan, pasang surut air laut, dan curah hujan, yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak Surabaya. Sebelum dimodelkan, data melalui tahapan pre-processing berupa normalisasi dan pembobotan untuk menyeragamkan skala antar variabel serta menilai tingkat kontribusi masing-masing parameter. Model dikembangkan dengan pembagian data 80% pelatihan dan 20% pengujian. Hasil evaluasi Random Forest menunjukkan akurasi sebesar 99,96% dan Decision Tree sebesar 99,94% dengan tingkat kesalahan yang sangat rendah. Analisis feature importance menunjukkan bahwa fase bulan dan pasang surut merupakan faktor dominan dalam prediksi banjir rob, sedangkan curah hujan memiliki pengaruh minimal. Temuan ini membuktikan bahwa Random Forest merupakan metode yang efektif dan andal untuk klasifikasi banjir rob serta memiliki potensi untuk diimplementasikan dalam sistem peringatan dini. Penelitian ini juga merekomendasikan integrasi data geografis, seperti informasi kerentanan tanah, morfologi wilayah, dan elevasi permukaan untuk meningkatkan akurasi dan generalisasi model di masa mendatang.   Abstract Tidal flooding is a type of hydrometeorological disaster that often occurs in coastal areas, mainly due to a combination of high tides, certain lunar phases, and extreme rainfall. This study aims to identify the potential for tidal flooding in the Surabaya Port area using Random Forest and Decision Tree classification algorithms. The data used include hydrometeorological parameters such as lunar phases, tides, and rainfall, obtained from the Tanjung Perak Maritime Meteorology Station in Surabaya. Before being modeled, the data went through pre-processing stages such as normalization and weighting to standardize the scale between variables and assess the level of contribution of each parameter. The model was developed by dividing the data into 80% training and 20% testing. The evaluation results of Random Forest showed an accuracy of 99.96% and Decision Tree at 99.94% with a very low error rate. Feature importance analysis showed that lunar phases and tides are the dominant factors in predicting tidal flooding, while rainfall has a minimal influence. These findings prove that Random Forest is an effective and reliable method for tidal flood classification and has the potential to be implemented in early warning systems. This study also recommends the integration of geographic data, such as soil vulnerability information, regional morphology, and surface elevation to improve the accuracy and generalization of future models.
Analisis Pengaruh Massa Jenis Cairan terhadap Frekuensi dan Amplitudo dalam Praktikum Resonansi Menggunakan Wine Glass Haq, Mohammad Roy Thoriqul; Handayani, Riski Dwi; Jannah, Luluk'Atul; Aji, Septiko
Inovasi Fisika Indonesia Vol. 15 No. 1 (2026): Inpress Vol 15 No 1
Publisher : Prodi Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v15n1.p30-38

Abstract

Abstrak Resonansi merupakan fenomena fisika di mana suatu sistem bergetar dengan amplitudo maksimum ketika mendapat rangsangan pada frekuensi tertentu. Fenomena ini banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang, terutama dalam pembuatan alat musik untuk menghasilkan bunyi yang indah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peristiwa resonansi pada wine glass dengan memfokuskan kajian pada pengaruh massa jenis cairan yang dimasukkan ke dalam gelas. Aplikasi Phyphox digunakan sebagai alat bantu untuk merekam data frekuensi dan amplitudo resonansi secara digital dan real-time. Wine glass dipilih sebagai medium eksperimen karena bentuk dan sifatnya memungkinkan terjadinya resonansi akustik yang dapat diamati secara jelas. Melalui pengujian dengan berbagai cairan yang memiliki perbedaan massa jenis, penelitian ini berupaya mengungkap bagaimana karakteristik fluida memengaruhi perilaku resonansi, terutama dalam kaitannya dengan gelombang bunyi dan amplitudo getaran.   Abstract Resonance is a physical phenomenon in which a system vibrates with maximum amplitude when stimulated at a certain frequency. This phenomenon is widely utilized in various fields, especially in the manufacture of musical instruments to produce beautiful sounds. This research aims to analyze resonance events in wine glass by focusing on the effect of the density of the liquid put into the glass. Phyphox application is used as a tool to record the frequency and amplitude of resonance data digitally and in real-time. Wine glass was chosen as the experimental medium because its shape and properties allow acoustic resonance to be observed clearly. Through testing with various liquids that have different densities, this research seeks to reveal how fluid characteristics affect resonance behavior, especially in relation to sound waves and vibration amplitude.
Analisis Intensitas Pencahayaan Artifisial Auditorium Budi Utomo Berdasarkan SNI 6197:2011 Berbasis Peta Kontur Pratiwi, Dwi Indah Setiyo Pratiwi; Octavia, Nur Afni; Chasanah, Uswatun; Marufah, Asmaul Lutfi
Inovasi Fisika Indonesia Vol. 15 No. 1 (2026): Inpress Vol 15 No 1
Publisher : Prodi Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v15n1.p39-47

Abstract

Abstrak Pencahayaan buatan memiliki peran penting dalam menciptakan kenyamanan visual dan efisiensi energi di ruang tertutup, terutama pada bangunan publik seperti auditorium. Kualitas pencahayaan diukur melalui intensitas cahaya (lux) dan keseragaman distribusi cahaya yang sesuai dengan standar SNI 6197:2011. Standar tersebut menetapkan tingkat pencahayaan minimum sebesar 300 lux dan rasio keseragaman minimal 0,7 untuk ruang dengan aktivitas visual menengah hingga tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebaran intensitas cahaya buatan di Auditorium Budi Utomo Universitas Muhammadiyah Lamongan menggunakan alat ukur lux meter dan perangkat lunak Surfer. Pengukuran dilakukan pada 290 titik dengan jarak antar titik 60 cm dalam kondisi seluruh lampu menyala. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa intensitas cahaya di auditorium berkisar antara 50 hingga 110 lux dengan rata-rata 84,2 lux, masih jauh di bawah standar SNI. Hasil pemetaan menggunakan Surfer memperlihatkan area tengah auditorium memiliki intensitas tertinggi, sedangkan bagian tepi depan dan belakang lebih rendah. Nilai keseragaman pencahayaan (uniformity ratio) sebesar 0,59 menandakan distribusi cahaya belum merata. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pencahayaan auditorium belum optimal, baik dari segi intensitas maupun pemerataan, sehingga dapat menurunkan kenyamanan visual. Diperlukan penambahan titik lampu, penggunaan lampu berefikasi tinggi, dan penataan ulang armatur agar pencahayaan menjadi efisien, merata, dan sesuai standar nasional.   Abstract Artificial lighting plays an important role in creating visual comfort and energy efficiency in enclosed spaces, especially in public buildings such as auditoriums. Lighting quality is measured through light intensity (lux) and uniformity of light distribution according to the SNI 6197:2011 standard. The standard stipulates a minimum lighting level of 300 lux and a uniformity ratio of 0.7 for spaces with moderate to high visual activity. This study aims to analyze the distribution of artificial light intensity in the Budi Utomo Auditorium, Muhammadiyah University of Lamongan using a lux meter and Surfer software. Measurements were conducted at 290 points with a distance between points of 60 cm with all lights on. The measurement results show that the light intensity in the auditorium ranges from 50 to 110 lux with an average of 84.2 lux, still far below the SNI standard. The mapping results using Surfer show that the center area of ​​the auditorium has the highest intensity, while the front and rear edges are lower. The lighting uniformity ratio value of 0.59 indicates that the light distribution is not yet even. This situation indicates that the auditorium's lighting system is suboptimal, both in terms of intensity and distribution, which can reduce visual comfort. Additional lighting points, the use of high-efficiency lamps, and the rearrangement of fixtures are needed to ensure efficient and even lighting and meet national standards.
Analisis Keseragaman Pencahayaan Alami Berdasarkan Rasio Intensitas Minimum dan Rata-Rata di Universitas Muhammadiyah Lamongan Faridhatun; Defta Septiana; Uswatun Chasanah; Asmaul Lutfi Marufah
Inovasi Fisika Indonesia Vol. 15 No. 1 (2026): Inpress Vol 15 No 1
Publisher : Prodi Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v15n1.p68-76

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat dan distribusi pencahayaan alami di ruang kelas E901 dan E902 Universitas Muhammadiyah Lamongan menggunakan metode peta kontur. Pengukuran intensitas cahaya dilakukan menggunakan lux meter digital pada grid berjarak 60 × 60 cm di seluruh area ruang, dengan kondisi seluruh jendela dibuka untuk memaksimalkan pencahayaan alami. Data hasil pengukuran diolah menggunakan perangkat lunak Surfer untuk menghasilkan peta kontur distribusi iluminansi secara spasial. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa ruang kelas E901 memiliki nilai rata-rata iluminansi sebesar 193,4 lux, sedangkan ruang kelas E902 sebesar 151,2 lux. Kedua nilai tersebut masih berada di bawah standar pencahayaan ruang belajar berdasarkan SNI 6197:2020, yaitu 250–300 lux. Secara spasial, ruang E901 menunjukkan tingkat pencahayaan yang lebih tinggi namun dengan distribusi yang tidak merata, sedangkan ruang E902 memiliki pencahayaan yang lebih seragam tetapi dengan intensitas yang lebih rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orientasi bangunan serta ukuran dan posisi bukaan jendela berpengaruh signifikan terhadap distribusi pencahayaan alami. Oleh karena itu, diperlukan optimalisasi pencahayaan melalui penggunaan elemen reflektif, pengaturan warna interior, serta penerapan sistem pencahayaan hibrida untuk meningkatkan kenyamanan visual ruang kelas..   Abstract This study aims to analyze the level and distribution of natural lighting in classrooms E901 and E902 at Universitas Muhammadiyah Lamongan using the contour mapping method. Light intensity measurements were conducted using a digital lux meter on a 60 × 60 cm grid covering the entire classroom area, with all windows fully opened to maximize daylight penetration. The measured data were processed using Surfer software to generate contour maps representing the spatial distribution of illuminance. The results indicate that classroom E901 has an average illuminance of 193.4 lux, while classroom E902 has an average illuminance of 151.2 lux. Both values are below the recommended illuminance standard for learning spaces according to SNI 6197:2020, which ranges from 250 to 300 lux. Spatially, classroom E901 exhibits higher illuminance levels but with uneven distribution, whereas classroom E902 shows a more uniform light distribution with lower overall intensity. The findings demonstrate that building orientation as well as the size and position of window openings significantly influence the distribution of natural lighting. Therefore, lighting optimization through the use of reflective elements, appropriate interior color selection, and the implementation of hybrid natural–artificial lighting systems is required to enhance visual comfort in classrooms.
PEMODELAN SEMI-EMPIRIK PENGARUH KETEBALAN SIO2 TERHADAP REFLEKTANSI, TRANSMITANSI, DAN ABSORPTANSI CERMIN ALUMINIUM I Wayan Windu Sara
Inovasi Fisika Indonesia Vol. 15 No. 1 (2026): Inpress Vol 15 No 1
Publisher : Prodi Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v15n1.p48-60

Abstract

Abstrak Cermin Aluminium (Al) banyak digunakan pada berbagai aplikasi dan teknologi seperti dekorasi, rekayasa energi baru terbarukan, dan eksplorasi luar angkasa. Namun, penelitian secara numerik yang memodelkan pengaruh lapisan pelindung SiO2 terhadap reflektansi, transmitansi, dan absorptansi cermin Al masih terbatas. Penelitian ini dilakukan secara komputasi menggunakan prinsip Hukum Snellius untuk dinamika antar lapisan dan matriks karakteristik untuk dinamika perambatan gelombang dalam lapisan, sebagai upaya mempelajari pengaruh ketebalan lapisan SiO2 terhadap karakteristik optik cermin Al. Diperoleh bahwa nilai rerata reflektansi cermin Al berkisar ~85%, nilai rerata transmitansi bervariasi dengan nilai ~0,0013%, dan nilai rerata absorptansi sebesar ~15%. Perubahan ketebalan lapisan SiO2 menyebabkan perubahan pola reflektansi, transmitansi, dan absorptansi yang periodik. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peluang rekayasa ukuran ketebalan lapisan SiO2 pada cermin Al untuk memperoleh nilai reflektansi, transmitansi, dan absorptansi yang relevan untuk kebutuhan teknologi maupun sensor optik.   Abstract Aluminum (Al) mirrors are widely employed in various applications and technologies, including decorative coatings, renewable energy engineering, and space exploration. However, numerical studies that explicitly model the influence of protective SiO₂ layers on the reflectance, transmittance, and absorptance of Al mirrors remain limited. This study was conducted computationally by applying Snell’s Law to describe interlayer dynamics and the characteristic matrix method to model wave propagation within each layer, with the aim of investigating the effect of SiO₂ layer thickness on the optical characteristics of Al mirrors. The results show that the average reflectance of the Al mirror is approximately 85%, the average transmittance varies with a value of about 0.0013%, and the average absorptance is around 15%. Variations in the SiO₂ layer thickness induce periodic changes in the reflectance, transmittance, and absorptance spectra. These findings indicate that engineering the SiO₂ layer thickness on Al mirrors offers potential for achieving reflectance, transmittance, and absorptance values tailored to the requirements of optical technologies and sensing applications.
Analisis Kuantitatif Hubungan Jarak–Besar Medan Magnet Menggunakan Sensor PS-2112 Sumanti, Jorji Abigeil; Sasono, Audrey Elysabeth; George, Agnes Lodya; Lumembang, Megastin Massang; Kolibu, Hesky Stevy
Inovasi Fisika Indonesia Vol. 15 No. 1 (2026): Inpress Vol 15 No 1
Publisher : Prodi Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v15n1.p61-67

Abstract

Abstrak Pengukuran medan magnet sering menyimpang dari teori akibat keterbatasan sensor, gangguan medan lingkungan, dan efek ujung solenoida, sehingga akurasi sensor perlu dievaluasi, termasuk dalam pengukuran hubungan jarak–medan magnet. Magnetic Field Sensor PASCO PS-2112 menyediakan akuisisi data digital, namun ketelitiannya tetap harus dibuktikan secara eksperimen. Penelitian ini menganalisis hubungan kuantitatif antara jarak sensor dan kuat medan magnet pada solenoida serta mengevaluasi ketelitian hasil kalibrasinya. Pengukuran dilakukan dengan arus konstan 0,389 A pada kumparan 600 lilitan sepanjang 13,5 cm pada tujuh titik jarak. Hasil menunjukkan pola perubahan B sesuai hukum Biot–Savart, dengan galat relatif rata-rata 13,41% dan R² = 0,984. Sensor PASCO PS-2112 terbukti cukup akurat untuk studi eksperimen medan magnet dalam praktikum dan penelitian pendidikan fisika.     Abstract Magnetic field measurements often deviate from theory due to sensor limitations, environmental magnetic disturbances, and solenoid edge effects, making accuracy evaluation essential, especially for distance–field measurements. The PASCO PS-2112 Magnetic Field Sensor offers digital data acquisition, but its precision must still be experimentally verified. This study analyzes the quantitative relationship between sensor distance and magnetic field strength in a solenoid and evaluates the accuracy of its calibration. Measurements were performed using a constant current of 0.389 A through a 600-turn, 13.5-cm solenoid at seven distance points. The results follow the Biot–Savart law, with an average relative error of 13.41% and R² = 0.984. The PASCO PS-2112 sensor is therefore sufficiently accurate for magnetic field experiments in physics laboratory and educational research settings.