cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 164 Documents
Hubungan Pelaksanaan Discharge Planning dengan Tingkat Kecemasan dan Kesiapan Pulang pada Pasien Post Sectio Caesarea Arif Annurrahman; Retno Koeswandari; Wiwin Lismidiati
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.081 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.44271

Abstract

Background: Fear of of post caesarean section (CS) pain and complication can be the sources of fear and anxiety for the mother during the puerperium period. Moreover, the relatively short length of stay for post-CS mothers cannot cover the entire length of care until the mother is cured. Discharge planning can improve patients and their families confidence in performing proper treatment independently after home arrival.Objective: To identify the correlation between discharge planning, anxiety level, and readiness for discharge among post-CS patients in Yogyakarta hospital.Methods: This quantitative research was a descriptive correlational study with cross sectional design. Respondents of this research were both, post elective and emergency CS patients who were hospitalized in a postpartum ward in a hospital in Yogyakarta. Thirty patients participated in this study. Readiness for Hospital Discharge Scale (RHDS), Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), and discharge planning overview questionnaire were used as research instruments in this research. Data were analyzed by Spearman Rank non-parametric correlation test.Results: More than half (70%) of total respondents had low discharge planning quality. Furthermore, most of the respondents (90%) had normal anxiety, and half of total respondents (53,3%) had moderate readiness for discharge. The correlation test showed there was no correlation between discharge planning and anxiety level (r=-0,008; p value = 0,967). However, there was a statistically significant correlation between discharge planning and readiness for discharge (r=0,434; p value = 0,017).Conclusion: There was a statistically significant correlation between discharge planning and readiness for discharge. In contrast, there was not any correlation between discharge planning and anxiety level of post CS patients. ABSTRAKLatar Belakang: Selama periode nifas, rasa takut akan nyeri dan komplikasi post-SC dapat menjadi sumber ketakutan dan kecemasan bagi ibu. Lama rawat inap ibu post SC yang relatif singkat tidak mampu mencakup keseluruhan perawatan sampai ibu sembuh. Pemberian discharge planning dapat meningkatkan kepercayaan diri pasien dan keluarga dalam perawatan mandiri setelah pulang ke rumah.Tujuan penelitian: Mengetahui hubungan gambaran discharge planning pada pasien post SC dengan tingkat kecemasan dan kesiapan pulang pasien di salah satu rumah sakit di Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian adalah semua pasien post SC baik elektif maupun emergensi yang dirawat inap di ruang post partum di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Jumlah responden penelitian adalah 30 orang dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan antara lain Readiness for Hospital Discharge Scale (RHDS), Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), dan kuesioner gambaran discharge planning. Data dianalisis menggunakan uji korelasi non-parametrik Spearman Rank. Hasil: Lebih dari setengah responden (70%) memiliki kualitas discharge planning kurang, mayoritas responden (90%) memiliki kecemasan normal, dan mayoritas responden (53,3%) memiliki kesiapan pulang sedang. Uji korelasi menunjukkan tidak ada hubungan antara discharge planning dengan tingkat kecemasan (r=-0,008; p=0,967), namun ada hubungan discharge planning dengan tingkat kesiapan pulang (r=0,434; p=0,017).Kesimpulan: Terdapat hubungan antara discharge planning dengan tingkat kesiapan pulang namun tidak terdapat hubungan antara discharge planning dengan tingkat kecemasan pasien post SC.
Gambaran Kualitas Tidur Korban Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Purworejo Riani Puspitasari; Sri Mulyani; Sri Warsini
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.689 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.44272

Abstract

Background: Disaster is a life threatening event and may have an impact to the psychological state of the victims. The occurrence of psychological trauma can affect the sleep quality of victims in the aftermath of a disaster.Objective: This research aimed to find out the sleep quality among the victims of landslide disaster in Donorati Village, Purworejo Regency.Methods: This was a descriptive research with cross-sectional design. Instrument used was Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) which had been tested for its validity using Pearson Product Moment Test and also had been tested for its reliability using Alpha Cronbach with alpha value= 0,734. Respondents in this research are 100 landslide disaster victims which were determined using cluster sampling technique. The data analysis used Chi-Square Test and Fisher Test.Results: The victims of landslide disaster in Donorati Village, mainly had good sleep quality (total score PSQI <5). However, there were 40% of respondents who had poor sleep quality (total score PSQI ≥5). There were significant differences in sleep quality seen from home address or the disaster’s severity (p=0,002) and coffee consumption habit (p=0,029).Conclusion: The majority of disaster victims in this research had good sleep quality. Severity area of disaster and drinking coffee habits may affect the victims’ sleep quality. ABSTRAKLatar Belakang: Bencana merupakan serangkaian peristiwa yang dapat mengancam kehidupan masyarakat dan berdampak pada kondisi psikologis korban. Kejadian trauma psikologis dapat memengaruhi kualitas tidur korban pascabencana.Tujuan: Untuk mengetahui gambaran kualitas tidur pascabencana tanah longsor pada masyarakat Desa Donorati Kabupaten Purworejo.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Instrumen yang digunakan adalah Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Instrumen ini telah diuji validitasnya menggunakan uji Pearson Product Moment serta telah melalui uji reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach dengan nilai alpha= 0,734. Responden dalam penelitian ini berjumlah 100 orang korban tanah longsor, dengan teknik cluster sampling. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan uji Fisher.Hasil: Mayoritas responden mempunyai kualitas tidur yang baik (total skor PSQI <5). Namun, sebanyak 40% responden mempunyai kualitas tidur buruk (total skor PSQI ≥5). Terdapat perbedaan kualitas tidur yang signifikan dilihat dari alamat tinggal atau tingkat keparahan bencana dengan nilai p=0,002, dan kebiasaan minum kopi dengan nilai p=0,029.Kesimpulan: Sebagian besar korban bencana pada penelitian ini memiliki kualitas tidur yang baik. Tingkat keparahan bencana dan kebiasaan minum kopi dapat berdampak pada kualitas tidur responden.
Efektifitas Penggunaan Media Audiovisual dan Aplikasi Permitasi Terhadap Pengetahuan dan Kepatuhan Ibu Meminum Tablet Besi Annisa Raufiah Fertimah; Widyawati Widyawati; Sri Mulyani
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.054 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.44276

Abstract

Background: One cause of anemia in pregnancy is mothers’ non-compliance in consuming iron tablet supplement because of the knowledge insufficiencies regarding anemia and the importance of iron tablet consumptions. Knowledge and compliance of pregnant mothers can be improved through health education using appropriate technology and media. Nowadays, health education is pre-dominated by conventional methods. However, audiovisual, and android applications are rarely used.Objective: To identify the effect of audiovisual health education and Pemitasi app (an android application for reminding user to consume iron tablet supplement) toward knowledge about anemia and pregnant mothers’ compliance in taking iron tablet supplement and to determine the correlation between anemia knowledge and compliance in taking iron tablet supplement.Methods: This research was a quasi-experimental design with one group pretest posttest design. The sample of research consisted of 60 pregnant women who received iron tablets and owned an android smartphone. Sample was recruited using consecutive sampling methods. Research instruments were questionnaire and daily iron tablet supplement consumption control form. Data was analyzed using Wilcoxon test and Spearman’s rho correlation test.Results: Result: The mean knowledge score before and after audiovisual media intervention were 75,70 and 91,43. In addition, the mean scores of compliance before and after the Pemitasi app intervention were 79,50 and 93,67. What is more, there were significant results between pre-test and post-test knowledge level (p= 0,001) and compliance (p= 0,001). Also, there was a significant relationship between the knowledge and compliance of pregnant women in consuming iron tablets (p = 0,002).Conclusion: Providing health education using audiovisual media and Pemitasi app improve pregnant women’s knowledge of anemia and their consumption compliance of iron tablets. ABSTRAKLatar Belakang: Salah satu penyebab masalah anemia pada ibu hamil adalah ketidakpatuhan ibu dalam mengonsumsi tablet besi karena kurangnya pengetahuan tentang anemia dan pentingnya mengkonsumsi tablet besi. Pengetahuan dan kepatuhan ibu hamil dapat ditingkatkan melalui pendidikan kesehatan menggunakan teknologi dan media yang tepat. Saat ini, pendidikan kesehatan masih menggunakan metode konvensional. Namun, metode audiovisual dan aplikasi masih jarang dilakukan. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian media audiovisual dan aplikasi Pemitasi (aplikasi android sebagai pengingat minum tablet besi) terhadap pengetahuan tentang anemia dan kepatuhan minum tablet besi pada ibu hamil, serta mengetahui hubungan pengetahuan dengan kepatuhan.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuasi-eksperimental dengan rancangan one group pre-test post-test. Sampel pada penelitian ini sebanyak 60 ibu hamil di salah satu Puskesmas di Kabupaten Bantul yang menerima tablet besi dan memiliki smartphone berbasis android yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner dan format kontrol harian konsumsi tablet besi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil: Hasil rata-rata skor pengetahuan sebelum pemberian media audiovisual sebesar 75,70 dan sesudah perlakuan sebesar 91,43. Hasil rata-rata skor kepatuhan sebelum pemberian aplikasi Pemitasi sebesar 79,50 dan sesudah perlakuan sebesar 93,67. Terdapat perbedaan signifikan antara hasil pre-test dan post-test pada tingkat pengetahuan (p= 0,001) dan kepatuhan (p= 0,001). Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet besi (p= 0,002).Kesimpulan: Pemberian edukasi kesehatan melalui media audiovisual dan aplikasi Pemitasi berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang anemia dan kepatuhan minum tablet besi.
Interrater Reliability Checklist Osce Kateterisasi Urin Di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Hershinta Retno Martani; Intansari Nurjannah
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.122 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.44278

Abstract

Background: Objective Structured Clinical Examination (OSCE) is one of summative test method for performance-based assessment. One of component that make up an OSCE is assessment instrumen. Whereas checklist is one of OSCE’s component that affect OSCE’s reliability. As long as this checklist was implemented in Nursing Science Program, Faculty of Medicine, UGM, the reliability of urinary catheterization checklist hasn’t been testedObjective: This study aims to assess interrater reliability of OSCE checklist instruments for urinary catheterization in Nursing Science Program, Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada.Methods: This study is a psychometric testing study. Two rater consisted of a fourth-year student and a lecturer who performed measurement on 93 second-year students who was taking the OSCE examination. The measurement result were analyzed using kappa test and percent agreement (PA). Whereas the item’s reliability were analyzed using weighted kappa dan some items which is paradox can be count with Prevalence and Bias Adjusted Kappa-Ordinal Scale (PABAK-OS) to separate the bias and prevalence effect.Results: The results of measurement of the reliability was 0,57, which indicated that the checklist was in the moderate category, and the PA was 78,49%. According to Osborne (2008) and Stemler and Tsai (2008), this checklist reliability considered as acceptable. Meanwhile, the result of measurement of each item indicated various reliabilities. Reliability value on this checklist’s item was around 0,24-0,96. Meanwhile, some factors that affect OSCE’s rating categorized as item and rater.Conclusion: The checklist of urinary catheterization has moderate reliability value and can be used as an instrument for the OSCE assessment. However, there were 9 items that weren’t reliable and must be improved. ABSTRAKLatar belakang: Objective Structured Clinical Examination (OSCE) merupakan salah satu metode penilaian sumatif dalam penilaian berbasis performa. Salah satu komponen yang menyusun OSCE adalah instrumen penilaian. Instrumen checklist merupakan komponen OSCE yang mempengaruhi reliabilitas penilaian tersebut. Selama diterapkan di PSIK FK UGM, reliabilitas checklist kateterisasi urin belum pernah diuji.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interrater reliability checklist OSCE kateterisasi urin di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian psikometri. Dua rater yang terdiri dari mahasiswa tingkat  4 dan seorang dosen menilai performa 93 mahasiswa tahun kedua dalam stase kateterisasi urin saat OSCE. Hasil pengukuran akan dihitung dan diuji menggunakan uji kappa dan Percent Agreement (PA). Sedangkan reliabilitas tiap item kateterisasi urin akan dihitung dengan menggunakan weighted kappa, dan beberapa item yang mengalami paradoks akan dihitung menggunakan Prevalence And Bias Adjusted Kappa-Ordinal Scale (PABAK-OS) untuk menghilangkan efek bias dan prevalensi.Hasil: Hasil dari penghitungan nilai kappa menunjukkan bahwa checklist kateterisasi urin memiliki nilai kappa sebesar 0,57, dan PA sebesar 78,49%. Sedangkan pengukuran item menunjukkan hasil yang bervariasi. Nilai kappa item berada pada kisaran 0,24-0,96. Adapun faktor yang mempengaruhi penilaian OSCE dapat dilihat dari sudut pandang item maupun rater.Kesimpulan: Checklist kateterisasi urin merupakan checklist dengan kategori reliabilitas sedang dan merupakan ceklis yang reliabel. Namun, terdapat 9 item pada checklist tersebut yang memerlukan perbaikan karena reliabilitasnya tidak dapat diterima.
Gambaran Pengetahuan Pencegahan Kanker Serviks dengan Vaksin Human Papillomavirus pada Siswi SMP di Yogyakarta Apriyati Dwi Rahayu; Widyawati Widyawati; Wiwin Lismidiati
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.36 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.44282

Abstract

Background: Lack of knowledge is one of the factors that can lead to an increase in the incidence of cervical cancer. Adolescents knowledge on Human Papillomavirus (HPV) vaccine can improve their attitude towards cervical cancer prevention. Therefore, it is necessary to do research related to knowledge about cervical cancer prevention with the HPV vaccine.Objective: To know the overview of knowledge of cervical cancer prevention with HPV vaccine among female junior high school students in Yogyakarta.Method: This research is a descriptive qualitative research. The respondents were female students of two Junior High School in Yogyakarta. The sample were consisting of 97 students by applying simple random and consecutive sampling techniques. The instrument used in this research was a modified questionnaire from previous research, with the result of the validity and reliability test was 0,463. Data was analyzed using univariate analysis.Results: The results showed that 57 of the respondents (59%) have good knowledge. As many as 33 of total respondents (34%) had good knowledge about the definition of cervical cancer, 67 of the respondents (69%) had good knowledge about the cause of cervical cancer, and 83 of the respondents (86%) had good knowledge of cervical cancer signs and symptoms. In addition, as many as 65 of the respondents (67%) had good knowledge of cervical cancer risk factors and 55 of the respondents (55%) had good knowledge of the HPV vaccine.Conclusion: There are several aspects of cervical knowledge which are in high levels, i.e. cervical cancer causes, risk factors, and symptoms. On the other hand, low levels are gained for knowledge on cervical cancer definition and HPV vaccine delivery. ABSTRAKLatar Belakang: Pengetahuan yang rendah merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan peningkatan kejadian kanker serviks. Pengetahuan remaja tentang vaksin Human Papillomavirus (HPV) dapat meningkatkan perilaku dalam mencegah kanker serviks. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian terkait pengetahuan tentang pencegahan kanker serviks dengan vaksin HPV.Tujuan: Mengetahui gambaran pengetahuan tentang pencegahan kanker serviks dengan vaksin HPV pada siswi SMP di Kota Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Responden dalam penelitian ini adalah siswi pada dua SMP di Kota Yogyakarta. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 97 siswi dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling dan consecutive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang dimodifikasi dari penelitian sebelumnya, dengan hasil uji validitas dan reliabilitas sebesar 0,463. Analisis data dilakukan secara univariat.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum 57 responden (59%) mempunyai pengetahuan yang baik. Sebanyak 33 responden (34%) mempunyai pengetahuan yang kurang terkait definisi kanker serviks, 67 responden (69%) mempunyai pengetahuan yang baik terkait penyebab kanker serviks, dan 83 responden (86%) mempunyai pengetahuan cukup baik terkait tanda dan gejala kanker serviks. Selain itu, sebanyak 65 responden (67%) mempunyai pengetahuan baik terkait faktor risiko kanker serviks dan 55 responden (55%) mempunyai pengetahuan yang baik terkait pemberian vaksin HPV.Kesimpulan: Pengetahuan responden terkait penyebab kanker serviks, faktor risiko kanker serviks, dan tanda gejala kanker serviks sebagian besar berada pada tingkat baik. Sementara pengetahuan responden terkait definisi kanker serviks dan pemberian vaksin HPV berada pada tingkat kurang.
Pengaruh Penggunaan Bantal Menyusui terhadap Perlekatan Ibu-Bayi Selama Menyusui Prillyantika Wismawati; Widyawati Widyawati; Wenny Artanty Nisman
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.614 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.44283

Abstract

Background: One of the most common problems in breastfeeding process experienced by post-partum mothers is the wrong breastfeeding position that makes the breastfeeding attachment between mother and baby becomes difficult. Using nursing pillow may help them to achieve the right and optimal breastfeeding attachment.Objective: To know the impact of the use of nursing pillow to the mother and baby’s attachment during breastfeeding process.Method: This study used Pre-Experimental-One Group Pretest Post-test design. The study was conducted from September 2017 until January 2018. The target of the study is breastfeeding mothers who had 7-21 days old babies and live near Umbulharjo 1 and Mantrijeron Primary Health Care. There were 35 respondents taken using consecutive technique. Data collection on the attachment of mothers and infants while breastfeeding is done using the LATCH assessment tool observation sheet. Respondents were given intervention to use nursing pillows for 5-10 minutes. Post-test data collection was carried out 1 week after the intervention. The data were analysed using Wilcoxon Test.Result: Statistically, the use of nursing pillow has significant impact on the breastfeeding attachment (p= 0,000) and each LATCH indicator described as follows: latch (p= 0,000), audible swallowing (p= 0,000), comfort (p= 0,000) and hold (p= 0,014). As for the indicator of type of nipple, the use of nursing pillow gave no significant impact (p= 0,180).Conclusion: The use of nursing pillow bring impact to the four indicator of LATCH but not in type of nipple indicator. ABSTRAKLatar Belakang: Masalah yang sering dialami oleh sebagian besar ibu pasca melahirkan yaitu ibu kesulitan melakukan perlekatan menyusui dengan benar karena posisi menyusui yang salah. Oleh karena itu diperlukan intervensi untuk membantu ibu dan bayi melakukan perlekatan menyusui yang benar dan optimal dengan menggunakan bantal menyusui.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh penggunaan bantal menyusui terhadap perlekatan ibu-bayi selama menyusui.Metode: Penelitian menggunakan Pre-Eksperimental-One Group Pre-test Posttest design. Penelitian ini dilakukan mulai September 2017 - Januari 2018 pada ibu menyusui dengan bayi usia 7-21 hari yang bertempat tinggal di sekitar Puskesmas Umbulharjo 1 dan Mantrijeron. Sebanyak 35 responden diperoleh dengan teknik consecutive sampling. Perlekatan ibu dan bayi saat menyusui dilakukan observasi menggunakan lembar LATCH assessment tool. Responden diberikan intervensi berupa penggunaan bantal menyusui selama 5-10 menit. Pengambilan data post test dilakukan 1 minggu setelah intervensi. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon.Hasil: Penggunaan bantal menyusui berpengaruh secara signifikan terhadap perlekatan menyusui secara umum (p= 0,000) dan di setiap indikator LATCH seperti berikut: latch (p= 0,000), audible swallowing (p= 0,000), comfort (p= 0,000) dan hold (p= 0,014). Sementara pada indikator type of nipple, penggunaan bantal menyusui tidak memberikan dampak yang signifikan (p= 0,180).Kesimpulan: Penggunaan bantal menyusui berpengaruh terhadap perlekatan Ibu-bayi selama menyusui, pada keempat indikator LATCH kecuali indikator type of nipple.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Tentang Rokok dengan Kepatuhan Masyarakat pada Program Rumah Bebas Asap Rokok di Kota Yogyakarta Qonita Miftahul Jannah; Purwanta Purwanta
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.432 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.44293

Abstract

Background: If smoking problem is not immediately controlled, it is estimated will increase the mortality rates in Indonesia. Smoke-free zone policy is one of the interventions to control non-communicable diseases caused by smoking, but the practice is not worked as it was planned. There was a decrease in the number of smoke-free households (Rumah Tangga Bebas Asap Rokok/RBAR) in 2012 compared to 2011.Objective: To determine the correlation between knowledge and attitude toward smoking and the RBAR regulation against the public compliance toward the RBAR Program in Yogyakarta.Methods: This study was a correlational analytic study with a cross-sectional study design. The subject of this research was 103 respondents who were adult smokers who lived in several hamlets (Rukun Warga/RW) in Yogyakarta, which had been declared as RBAR areas in 2015. A cluster random sampling technique was applied in this research. A questionnaire which measured knowledge and attitude toward smoking, RBAR regulation, and compliance was distributed among respondents. Gamma Correlation Test was used as data analysis technique.Results: As many as 53,4% of respondents had good knowledge level but disobedient. Some respondents (41,7%) had good or adequate attitude and obedient. There was no statistically significant correlation between knowledge and attitude toward smoking with RBAR regulation (p= 0,113, r= 0,381), knowledge against compliance with RBAR regulation (r=0,366, p=0,150). While attitudes toward smoking and RBAR regulation against compliance with RBAR regulation showed a significant positive correlation (p= 0,008, r= 0,448).Conclusion: There was no statistically significant correlation between knowledge toward smoking and RBAR regulation against compliance with RBAR regulation. There was a statistically significant correlation with moderate strength between attitudes toward smoking and RBAR regulation against compliance with RBAR regulation. ABSTRAKLatar Belakang: Apabila masalah merokok tidak segera dikendalikan, diperkirakan dapat meningkatkan angka kematian di Indonesia. Kebijakan zona bebas rokok merupakan salah satu intervensi dalam pengendalian penyakit tidak menular yang disebabkan oleh rokok, namun praktiknya tidak berjalan sesuai rencana. Bahkan, terjadi penurunan jumlah Rumah Tangga Bebas Asap Rokok (RBAR) pada tahun 2012 dibandingkan tahun 2011.Tujuan: Mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang rokok serta aturan RBAR dengan kepatuhan masyarakat pada Program RBAR di Kota Yogyakarta.Hasil: Sebanyak 53,4% responden berpengetahuan baik namun tidak patuh. Sebagian responden (41,7%) bersikap baik/cukup baik dan patuh. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan antara pengetahuan dan sikap tentang rokok terhadap regulasi RBAR (r=0,381, p=0,113) dan pengetahuan terhadap kepatuhan regulasi RBAR (r=0,366, p=0,150). Sementara sikap tentang rokok dan regulasi RBAR terhadap kepatuhan aturan RBAR menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan (r =0,448, p =0,008).Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasional dengan rancangan studi cross-sectional. Sampel penelitian yakni sejumlah 103 responden perokok dewasa, berdomisili di beberapa RW di Kota Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai Kawasan RBAR pada tahun 2015. Penelitian ini menggunakan teknik cluster random sampling. Kuesioner yang mengukur tingkat pengetahuan, sikap tentang rokok, regulasi RBAR dan kepatuhan RBAR dibagikan kepada responden. Teknik analisis data yang digunakan adalah Uji Korelasi Gamma.Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik antara pengetahuan tentang rokok dan regulasi RBAR dengan kepatuhan terhadap regulasi RBAR. Terdapat hubungan yang signifikan dengan kekuatan korelasi sedang antara sikap tentang rokok dan regulasi RBAR dengan kepatuhan terhadap regulasi RBAR.
Penggunaan Smartphone dalam Mengelola Kadar Glukosa Darah dan Glycated Haemoglobin pada Diabetes Melitus Tipe 2: Literatur Review Latifah Nurul Aziza; Anggi Lukman Wicaksana; Eri Yanuar Akhmad Budi Sunaryo
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.693 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.44297

Abstract

Background: Globally, people with diabetes mellitus are increasing in number, mostly type 2 diabetes mellitus (T2DM). There is a specific diabetes management that could prevent severe complication. This diabetes management could be helped by using smartphone application.Objective: To identify the use of a smartphone application on blood glucose level and glycated haemoglobin management in T2DM.Methods: This study was a literature review. The database used in this study were Pubmed, Science Direct, and Cochrane. The literature inclusion criteria were written in English, published between 2008 and 2018, available in free full text, using T2DM as a sample, using smartphone or mobile phone as intervention, provided blood glucose levels and/or glycated haemoglobin as outcomes, and research paper. Books and seminar results were excluded. The study applied PRISMA guidelines to extract and synthesize data.Results: There were three papers that met the requirements as the result of systematic search. The use of smartphone application supported blood glucose and glycated haemoglobin improvement by reducing their level, from bad to moderate condition. The improvement was happened in the presence of several smartphone applications for diabetes education service, feedback, and self-monitoring.Conclusion: The use smartphone application help in managing blood glucose and glycated haemoglobin levels. Nurse and other healthcare staffs could utilize smartphone to control blood glucose and glycated haemoglobin levels by educating and self-monitoring diabetes patient’s condition. ABSTRAKLatar Belakang: Jumlah penyandang diabetes melitus di seluruh dunia terus mengalami peningkatan dengan mayoritas diabetes melitus tipe 2. Diabetes memerlukan adanya manajemen secara tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi. Pemakaian smartphone, dipercaya dapat membantu pengelolaan diabetes.Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui penggunaan smartphone dalam mengelola kadar glukosa darah dan glycated haemoglobin pada penyandang diabetes melitus tipe 2.Metode: Penelitian ini merupakan literature review. Database yang digunakan, yaitu PUBMED, Science Direct, dan Cochrane. Kriteria inklusi literatur meliputi naskah berbahasa Inggris, terbit antara tahun 2008 sampai 2018, tersedia dalam free full text, sampel penelitian adalah penyandang diabetes melitus tipe 2, intervensi berupa penggunaan smartphone atau mobile phone, memiliki luaran kadar glukosa darah dan/atau kadar glycated haemoglobin, dan berupa artikel penelitian. Literatur yang berbentuk buku dan hasil seminar tidak dimasukkan dalam analisis. Penelitian menggunakan panduan PRISMA untuk ekstraksi dan sintesis data.Hasil: Ditemukan hanya ada tiga naskah penelitian yang memenuhi persyaratan berdasarkan pencarian sistematis. Penggunaan smartphone membantu mengelola kadar glukosa darah dan glycated haemoglobin, yaitu dapat membantu menurunkan kadarnya sehingga mengubah dari kategori buruk ke kategori sedang. Perbaikan tersebut terjadi karena adanya aplikasi smartphone dalam bentuk layanan edukasi, umpan balik, dan pemantauan mandiri.Kesimpulan: Penggunaan smartphone membantu mengelola kadar glukosa darah dan glycated haemoglobin. Perawat dan petugas kesehatan dapat memanfaatkan smartphone untuk membantu mengendalikan kadar glukosa darah dan glycated haemoglobin melalui pendidikan dan pemantauan mandiri pada kondisi pasien diabetes.
Hubungan Dukungan Sosial dengan Kecenderungan Depresi Remaja pada 7 Tahun Pasca-Erupsi Gunung Merapi Nurul Hasanah; Sri Hartini; Anik Rustiyaningsih; Carla R Machira
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.433 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.44306

Abstract

Background: Traumatic event can affect victim’s psychological condition, such as adolescent which categorized as vulnerable population, in the form of depression. This hypothetically occurred as the impact of Mount Merapi eruption in 2010. Independent variables for such traumatic condition include gender, age, loss of nearest person, and social support.Objective: To identify the correlation between social support and depression tendency among adolescent after 2010 Merapi Eruption.Method: This quantitative study was conducted using descriptive analytic with cross sectional design. Respondents in this study were 50 adolescents who experienced Mount Merapi Eruption in 2010 and living in huntap (Wukirsari permanent residence village). The questionnaires were used in this research, i.e.: socio-demographic questionnaire, Child Depression Inventory (CDI), and Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Independent t test  was applied to analyze the data.Results: The prevalence of depression tendency was 24%. There were 54% of respondents who received high social support, while 46% received low social support. The depression tendency had a significant relationship with social support (p= 0,01; p <0,05). Gender, age, and loss of the closest person due to eruption did not have a significant relationship with the tendency of depression, respectively with p= 0,57, p= 0,80, p= 0,07 (p> 0,05).Conclusion: Social support was the only variable that had a significant relationship with the tendency of depression in adolescents in huntap (Wukirsari permanent residence village). ABSTRAKLatar Belakang: Kondisi traumatis dapat memengaruhi kondisi psikologis dalam bentuk depresi pada populasi yang rentan seperti anak usia sekolah. Hal ini yang diasumsikan terjadi sebagai dampak letusan Gunung Merapi tahun 2010. Variabel yang memengaruhi kondisi traumatis ini adalah jenis kelamin, umur, kehilangan orang terdekat, cedera fisik dan dukungan sosial.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dukungan sosial dengan kecenderungan depresi pasca-erupsi Merapi tahun 2010.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Responden dalam penelitian ini adalah remaja berjumlah 50 orang, yang mengalami erupsi Merapi tahun 2010, dan tinggal di salah satu hunian tetap (huntap). Penelitian ini menggunakan kuesioner karakteristik responden, kuesioner Child Depression Inventory (CDI) dan kuesioner Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Analisis data menggunakan uji Independent Sample T Test.Hasil: Prevalensi kecenderungan depresi pada remaja di huntap adalah 24%. Berdasarkan jenis kelamin, responden lebih banyak perempuan daripada laki-laki yaitu 33 orang (66%) untuk perempuan dan 17 orang (34%) untuk laki-laki. Dukungan sosial yang diterima oleh remaja di huntap yaitu 54% untuk dukungan sosial tinggi dan 46% untuk dukungan sosial rendah. Kecenderungan depresi memiliki hubungan yang bermakna terhadap dukungan sosial (p= 0,01; p<0,05). Jenis kelamin, umur, kehilangan orang terdekat akibat erupsi tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kecenderungan depresi yaitu dengan nilai p berturut-turut p= 0,57, p= 0,80, p= 0,07 (p> 0,05).Kesimpulan: Dukungan sosial merupakan satu-satunya variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan kecenderungan depresi pada remaja di huntap.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Audiovisual terhadap Konsumsi Energi Populasi Risiko Sindrom Metabolik di Wilayah Kerja Puskesmas Turi Dwi Wahyu Setiyarini; Sri Mulyani; Melyza Perdana
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.74 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.44317

Abstract

Background: Metabolic syndrome is a risk factor for cardiovascular disease, diabetes type 2, and other complications. Metabolic syndrome prevalence is high in Indonesia. Energy intake is one factor affecting metabolic syndrome which resulting in many life-threatening complications. Health education is needed to prevent it by using audiovisual as the media.Objective: This study aimed to determine the effect of audiovisual health education on energy, protein, carbohydrate, fat, cholesterol, fiber, and sodium intake in population with metabolic syndrome risk in Turi Community Health Center in Yogyakarta.Methods: This research was a quasi-experimental with a non-equivalent pre-test and post-test design. Respondents for this research were 38 in intervention group (audiovisual) and 42 in the control group (booklet). Data collected through questionnaire on food recall 3x24 hour. Data were analyzed using paired t-test and Wilcoxon test to compare pre-test and post-test in one group and then, independent t-test and Mann Whitney to compare intervention and control group.Results: The median score of energy intake before audiovisual health education was given, reached 808 and 851,5 (p>0,5) respectively. While in the control group the median values were 820,2 and 812,5 after the activity (p>0,05). There was no significant difference from the post-test scores of the intervention and control groups (p> 0,05) in terms of energy, protein, carbohydrate, fat, cholesterol, fiber, and sodium.Conclusion: There is no significant effect of audiovisual health education on the intake of energy, protein, carbohydrate, fat, cholesterol, fiber, and sodium in population with risk for metabolic syndrome in Turi Community Health Center in Yogyakarta. ABSTRAKLatar Belakang: Sindrom metabolik merupakan sekumpulan gejala yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit kardiovaskular, diabetes melitus tipe 2 dan komplikasi lainnya. Prevalensi sindrom metabolik di Indonesia cukup tinggi. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap sindrom metabolik adalah konsumsi energi. Pendidikan kesehatan diperlukan untuk mencegah sindrom metabolik yang semakin tinggi dan media audiovisual adalah media yang dinilai efektif untuk mengubah konsumsi energi.Tujuan penelitian: Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan audiovisual terhadap konsumsi energi, protein, karbohidrat, lemak, kolesterol, serat dan sodium pada populasi dengan risiko sindrom metabolik di wilayah kerja Puskesmas Turi.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif berjenis kuasi eksperimental dengan rancangan non-equivalent pre-test dan post-test. Responden berjumlah 38 pada kelompok perlakuan (audiovisual) dan 42 pada kelompok kontrol (booklet). Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner Food Recall 3x24 jam. Analisis bivariat menggunakan uji komparatif paired t-test dan Wilcoxon test untuk membandingkan hasil pre-test dan post-test dalam satu grup dan independent t-test dan Mann Whitney untuk membandingkan kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.Hasil: Nilai tengah skor intake energi sebelum pendidikan kesehatan audiovisual sebesar 808 dan sesudah 851,5 (p>0,05). Sementara pada kelompok kontrol nilai median 820,2 dan 812,5 sesudah kegiatan (p>0,05). Tidak ada perbedaan yang signifikan dari nilai post-test kelompok intervensi dan kontrol (p>0,05) dalam hal energi, protein, karbohidrat, lemak, kolesterol, serat, dan sodium.Kesimpulan: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada pendidikan kesehatan audiovisual terhadap konsumsi energi, protein, karbohidrat, lemak, kolesterol, serat, dan sodium pada populasi dengan risiko sindrom metabolik di wilayah kerja puskesmas Turi.

Page 3 of 17 | Total Record : 164